Catatan Domba Betina

Jumat, 12 Oktober 2018

Cerita Perjalanan : Pertama Kali ke Bali

Dulu kalau diajak liburan ke Bali gue selalu jawab "Gak mau ah, mau ke Lombok aja." setelah ke Lombok ada yang nanya lagi "Masa udah ke Lombok, gak ke Bali?" dengan angkuh gue menjawab "Mau sih ke Bali, tapi ke Ubud aja. Gamau pantai-pantai." . Gue mengatakan itu di saat gue belum sama sekali pergi ke Bali dan gue hanya melihat Bali dari media sosial. Itu sama aja kayak orang ditanya "Kok lo gak doyan makanan itu?","ya gak doyan.","Lo udah coba emang?","Belum coba sih tapi pasti gak enak.". Nah! itu sama banget kayak gue ngomong ke Bali tapi gak mau ke pantai padahal gue belum pernah ngerasain pantai Bali secara langsung kayak gimana. Hahahaha.

Di bulan Juli 2018 ini gue ada kesempatan liburan ke Bali bareng Mama dan adik gue. Setelah minggu malam gue habiskan menonton konser Sheila on 7 di Bintaro Xchange, pulang dari sana gue langsung bersiap untuk packing karena besok malam gue harus terbang ke Bali.

Senin, 9 Juli 2018.
Setelah maghrib gue berangkat ke Bandara Internasional Soekarno Hatta, kali ini gue terbang pakai Air Asia dengan penerbangan pukul 22.35 WIB. Malam banget yaa, mungkin itu adalah penerbangan terakhir hari itu. Setelah check in kemudian gue langsung menunggu di tempat boarding cukup lumayan lama akhirnya gue take off malam itu. Gue gak suka terbang malam, gue gak bisa liat awan. Huhuhu. Jakarta - Bali hanya memakan waktu sekitar 2 jam dengan pesawat (gue kayaknya harus cium tangan ke penemu pesawat. Canggih! 2 jam aja udah pindah pulau. haha)

Selasa, 10 Juli 2018
Pukul 2 dini hari waktu Bali (WITA) gue tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Sepi banget, mungkin ramai dari rombongan gue doang kali ya. Bandara I Gusti Ngurah Rai ini bagus banget, baru sampai udah berasa Bali banget karena gambar pemandangan yang diletakan di beberapa spot itu bagus banget. Setelah memuaskan hasrat berfoto-foto di Bandara kemudian gue dan rombongan tak tahu arah mau kemana.
Fyi, gue ke Bali ini pakai jasa travel dan jujur aja sih agak kecewa di awal dengan travel ini. Bayangin gue sampai bandara jam 2 pagi dan harus nunggu jam 6 pagi untuk dijemput. Alhasil dini hari itu gue tidur menggembel di lantai bandara. Gue dan adik gue sih gak masalah ya tidur di lantai tanpa alas gitu. Nah, mama gue ini yang kasihan. Akhirnya Mama tidur di bangku tunggu.

Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali - 10 Juli 2018
Waktu sholat subuh pun tiba gue menunaikan ibadah sholat subuh di mushola bandara dan setelah sholat gue bersih-bersih seperti gosok gigi dan cuci muka karena gak mungkin juga mandi di toilet bandara, bisa diamuk. Hahahaha.
Pukul 6 pagi waktu setempat (karena Bali termasuk WITA bukan WIB) bus travel belum juga menjemput dan seluruh rombongan sudah mulai gelisah sekaligus lelah.
Pukul 7 pagi bus datang dan mengangkut seluruh peserta rombongan untuk sarapan pagi, yang bisa dikatakan itu bukan sarapan pagi melainkan brunch (breakfast+lunch) karena kalau dibilang sarapan sudah siang, dibilang makan siang belum waktunya.
Bus melaju ke daerah Bedugul atau Kabupaten Tabanan yang kurang lebih memakan waktu sekitar 1 jam. Daerah Tabanan ini cuacanya seperti di puncak karena memang merupakan daerah dataran tinggi jadi udaranya pun cukup dingin. Perjalanan kali ini dipandu oleh seorang gadis Bali dengan kulit eksotis serta berpakaian lengkap khas Bali, gue memanggilnya Mbok karena panggilan perempuan di Bali memang Mbok sedangkan laki-laki dipanggil Bli.
Sepanjang perjalanan rombongan diperkenalkan tentang daerah Bali, pembagian daerah atau kabupatennya dan jujur saja gue lupa bagian-bagian daerah Bali ini. (Boleh silakan google sendiri kalau penasaran)

Tiba jugalah gue di Rumah Makan Saras di Jl. Raya Bedugul, Kabupaten Tabanan. Rumah makan yang terletak dipinggir jalan yang kalau kata gue mirip banget sama jalanan di puncak Bogor. Di sinilah gue menyantap sarapan gue yang sudah gue tahan rasa laparnya dari pagi buta. Hehehehe.

Rumah Makan Saras. Jl. Raya Bedugul, Kab. Tabanan Bali


Setelah sarapan gue dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan ke destinasi wisata pertama yaitu wisata foto Wanagiri Hidden Hill. Spot foto yang lagi kekinian ini (yang menurut gue di kota-kota wisata banyak banget) berada di pinggir jalan. Ada beberapa spot foto dengan latar pemandangan Bali yang menakjubkan gunung dan danau. Pas banget hari itu cerah dan dengan membayar tiket masuk sebesar Rp 10.000,- gue udah puas bisa foto di beberapa spot fotonya, ya walau harus antri sih.

Ayunan gantung merupakan salah satu spot foto di Wanagiri Hidden Hill
Walau saat itu cuaca cerah namun udara di sana cukup dingin, angin berhembus dan cukup membuat tubuh kedinginan ditambah sudah jam makan siang. Setelah puas berfoto di Wanagiri Hidden Hill gue melanjutkan perjalanan ke Ulun Danu Bedugul. Lokasinya tidak begitu jauh dari Wanagiri ini, pun sama-sama dataran tinggi jadi suhu dingin masih terus menyelimuti. Selama ini gue salah, gue kira Bali itu panas karena banyak pantai, tapi kali ini gue bener-bener ngerasain sisi yang beda dari Bali, gue ngerasain dinginnya Bali.

Gue makan siang masih di daerah Bedugul, sayang banget gue lupa nama restaurat tempat gue makan itu. Tapi yang jelas restaurant ini punya view yang keren banget yaitu danau beratan. Siang itu udara cukup dingin, danau beratan ditutupi kabut tipis, perahu-perahu lalu lalang di danau itu mengajak pengunjung untuk berkeliling danau. Walau sempat agak kecewa karena keluar dari jadwal seharusnya yang seharusnya mengunjungi Pura Ulun Danu tapi sayang sekali siang itu jadwal ke Pura Ulun Danu ditiadakan. Namun, gue tetap bersyukur sih bisa nikmatin makan siang dengan pemandangan yang indah.


salah satu view di restaurant tempat gue makan


Setelah makan siang gue dan rombongan kembali bergegas ke tujuan selanjutnya yaitu Joger. Pusat oleh-oleh khas Bali terutama kaos-kaos lucu dengan beragam kalimat-kalimat menarik! Seru sekali mengunjungi Joger ini. Setiap pengunjung akan ditempeli stiker untuk dapat masuk ke dalam, di sana menjual berbagai macam oleh-oleh tapi yang paling khas dari Joger ya itu kaos dengan kalimat-kalimat uniknya. Gue gak terlalu banyak belanja di sini karena gue gak pengen uang gue habis di hari pertama karena masih ada waktu dua hari di Bali. Hehehehe


Hari sudah semakin sore dan badan rasanya sudah ingin diistirahatkan, sore itu setelah berbelanja di Joger gue dan rombongan menuju J Boutique Hotel. Hotel ini adalah tempat menginap gue selama gue di Bali, lokasinya sangat dekat dari Bandara I Gusti Ngurah Rai dan dekat dengan Pantai Kuta. Menempati kamar dengan extra bed karena gue bertiga dalam satu kamar; nyokap, adik gue & gue. Fasilitas kamar hotel cukup lengkap yaitu televisi, AC, wifi, water heater, termos listrik dan peralatan mandi yang lengkap. Cuma air mineral aja sih yang berbayar. Hahahaha
Akhirnya gue memutuskan untuk mandi dan beristirahat sambil menunggu jam makan malam tiba.

Sangat sangat kecewa karena makan malam yang sudah dijadwalkan ternyata terlambat malam itu. Ohya, untuk makan malam gue dan rombongan memang tidak dapat free dari Hotel. Makan malam disediakan oleh agen perjalanan dalam bentuk nasi box yang ternyata malam itu telat diantarkan. Semua rombongan kecewa tentu saja dan berakhir pada mencari makan sendiri di luar hotel.
Malam itu untuk mengurangi rasa kecewa akhirnya gue memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri Bali bareng nyokap dan adik gue. Gue buka maps ternyata jarak hotel tempat gue menginap tidak terlalu jauh dari Pantai Kuta, akhirnya gue pun memutuskan untuk berjalan kaki.
Malam itu gue melihat Bali seperti apa yang digambarkan otak gue sejak lama, begitu ramai bule-bule berjalan kaki mengenakan celana pendek, tangtop dan kaca mata, dari yang rambutnya pirang sampai berkulit gelap semua ada, mereka ramah tentu saja karena beberapa kali gue bertegur sapa dengan mereka. Jalanan Bali yang tidak begitu luas yang dihiasi bar-bar atau resto di kanan kiri jalan yang tentu saja dipenuhi oleh wisatawan asing maupun lokal untuk menghabiskan malam. Gue merasa malam itu benar-benar berada di Bali.

By the way, pada akhirnya gue gak sampai ke Pantai Kuta. Gue kelelahan berjalan kaki baru setengah jalan menuju ke sana, ah payah sekali kalah sama bule-bule itu yang lebih kuat berjalan kaki. Gue kembali ke Hotel dengan menggunakan jasa taxi online. Ohya, di Bali sudah ada ojek online jadi kita tidak perlu khawatir berpergian ke sana.

Sesampainya di Hotel tentu saja gue langsung beristirhata untuk perjalanan esok hari...
Goodnight...

Sabtu, 06 Oktober 2018

#CeritaEis : Membuat Surat Keterangan Sehat di Puskesmas

Tahun 2018 pendaftaran CPNS kembali dibuka dan aku adalah salah satu dari ribuan orang yang mendaftar. Hahahaha. Surat keterangan sehat dan buta warna adalah salah satu syarat dokumen yang harus aku lengkapi di instansi yang aku daftar.

Hari ini hari Sabtu, aku datang pukul 07.45 pagi ke Puskesmas Ciputat untuk membuat Surat Keterangan Sehat. Untuk bertanya informasi aku bertanya ke Satpam yang jaga karena di sini Satpam merangkap sebagai pusat informasi. Setelah mendapat arahan dari Bapak Satpam kemudian aku mengambil nomor antrian, nomor antrian dibagi dua yaitu Umum & BPJS. Aku menekan tombol yang Umum, keluarlah nomor dari mesin nomor antrian. Aku mendapat nomor antrian A063 dan aku lihat yang sekarang sedang dilayani di loket pendaftaran adalah A007. Baiklah aku harus menunggu.
 
 
 

 


 
 

 


Setelah menunggu sekitar 1 jam lamanya, nomor antrianku dipanggil. Aku menyerahkan foto copy KTP & Kartu Keluarga kepada petugas pendaftaran yang kemudian ditanya mau ke bagian apa. Aku menjawab ingin membuat surat sehat, kemudian petugas memberi nomor antrian kembali untuk aku menunggu di Poli Umum. Aku mendapatkan nomor antrian E022. Tidak sampai 20 menit aku menunggu, nomor antrianku sudah dipanggil ke dalam ruangan Poli Umum. Ada dua dokter jaga saat itu, keduanya laki-laki. Pembuatan surat kesehatan ini mudah dan cepat sekali, aku hanya ditimbang berat badan, diukur tinggi badan dan dicek tensi darah. Kemudian dokter menulis surat keterangan yang menyatakan bahwa aku sehat dan tidak buta warna yang kemudian surat itu harus aku berikan ke loket pelayanan surat keterangan sehat untuk diberikan Cap Puskesmas.





Selesai. Gampang dan GRATISSSSS.


Cheers,
Euis Safitri Mustika.

#CeritaEis : Membuat SKCK

Meskipun kalian-kalian merasa bahwa selama hidup tidak pernah melakukan tindakan kriminalitas tapi Catatan Kepolisian ini tetap harus dibuat untuk membuktikan bahwa kalian itu BAIK. Heeuuuu.
Apalagi untuk kebutuhan melamar pekerjaan karena ada beberapa perusahaan yang menyertakan SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) sebagai salah satu syarat kelengkapan dokumen.

Ini adalah pengalaman pertamaku membuat SKCK. Aku udah bekerja kurang lebih 3 tahun tapi baru kali ini aku ingin melamar di tempat lain dan syarat dokumennya itu ada SKCK. Jadilah, aku bertanya kepada beberapa teman yang memang sudah pernah membuat SKCK dan mencari tahu dari internet. Setelah mencari tahu ternyata beberapa dokumen kelengkapan harus disiapkan. Aku sendiri berdomisili di Tangerang Selatan. Aku melihat di website Polres Tangsel (www.restangsel.id) beberapa kelengkapan dokumennya, antara lain sebagai berikut :
  1. Membawa surat pengantar dari Kelurahan sesuai domisili
  2. Membawa foto copy KTP/SIM
  3. Membawa foto copy akta kelahiran
  4. Membawa foto copy kartu keluarga
  5. Membawa foto berwarna terbaru ukuran 4x6 sebanyak 6 lembar 
Kemudian aku meyiapkan semua dokumen tersebut. Aku pergi ke Ketua RT tempatku tinggal untuk meminta surat pengantar yang kemudian diteruskan ke Ketua RW. Setelah mendapat surat pengantar dari RT RW aku pergi ke Kelurahan.

Di Kelurahan aku datang pukul 8 pagi dan disambut oleh anak SMK yang sedang PKL, aku menjelaskan maksud kedatanganku untuk membuat surat pengantar ke Polsek untuk pembuatan SKCK. Prosesnya pun tidak lama sebetulnya tapi karena waktu itu pejabat yang berwenang tanda tangan di surat pengantar itu belum datang jadi aku harus menunggu beberapa menit.
Pembuatan surat pengantar dari Kelurahan tidak dikenakan biaya administrasi apapun. GRATIS.

Surat Pengantar sudah jadi kemudian aku bergegas pergi ke Polsek Ciputat (karena domisili-ku di Ciputat). Untuk pembuatan SKCK di Polsek Ciputat sudah ada petunjuk di ruang mana atau bisa tanya ke Polisi yang jaga untuk membuat SKCK. Siang itu sudah cukup ramai orang yang membuat SKCK. Aku mengantri di loket menyerahkan semua dokumen yang kemudian ditanyakan oleh petugas apakah sudah lengkap kemudian aku menjawab sudah lengkap, barulah aku diberikan selebar kertas form yang harus aku isi. Di Polsek Ciputat disediakan meja dan alat tulis untuk mengisi form tersebut. Cara mengisi form-nya juga sudah ada contoh di meja jadi tinggal diikuti saja sesuai contoh.
Form yang harus diisi itu berupa data diri dan ciri-ciri fisik. Setelah semua diisi jangan lupa untuk menempelkan foto di form tersebut (khusus ini aku kena tegur karena belum menempelkan foto di form).

Form yang sduah diisi kemudian digabungkan dengan dokumen persyaratan yang dibawa. Daaaannnn ternyata oh ternyata Surat Pengantar dari Kelurahan tidak dibutuhkan. Aku pun ditanya untuk keperluan apa membuat SKCK, aku menjawab untuk melamar pekerjaan, dan ditanya kembali apakah aku melamar di Swasta atau Pemerintah, aku menjawab Swasta. Dari sini aku baru tahu bahwa kalau untuk melamar pekerjaan di Swasta pembuatan SKCK dilakukan di Polsek sedangkan untuk pekerjaan pemerintah seperti PNS pembuatan dilakukan di Polres.

Pembuatan SKCK dikenakan biaya Rp 30.000,- dibayar cash saat itu juga. Setelah membayar dan meyerahkan semua dokumen, aku menunggu sekitar kurang lebih 20 menit dan namaku dipanggil oleh petugas bahwa SKCK ku sudah jadi yang berlaku hingga 6 bulan ke depan. Gampang bangeeeet kan??? :)

Pembuatan SKCK mudah sekali jika kita membawa dokumen sesuai dengan peraturan yang berlaku. Ini adalah info yang aku dapatkan dari papan pengumuman di Polsek Ciputat.

Persyaratan dokumen pembuatan SKCK :
  1. Foto Copy KTP
  2. Foto Copy Akta Kelahiran
  3. Foto Copy Kartu Keluarga
  4. Pas Photo ukuran 4x6 background Merah sebanyak 4 lembar
*untuk perpanjang SKCK ditambah dengan membawa SKCK lama
Pelayanan pembuatan SKCK di Polsek Ciputat dibuka setiap Senin - Jum'at.



Cheers,
Euis Safitri Mustika

Kamis, 23 Agustus 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (21)

Ada satu keingina dalam hidup yang ingin sekali aku dapatkan yaitu punya medali hasil lari maraton. Aku sekarang ini lagi gila-gilanya olah raga lari, tak ayal aku pun ingin sekali memiliki medali dari hasil keringat olah ragaku.

Siang itu aku dapati notifikasi dari grup pecinta alam yang ternyata kamu mengirimkan info tentang olah raga marathon 5K yang bertema Happy Run. Aku pun mendaftar sesuai dengan infromasi dari diberikan. Tak lama kamu pun mengirimi aku pesan pribadi yang isinya sama seperti di grup whatsapp iu.
"Aku udah daftar." Balasku
"Sama doong. Aku juga."
"Horeeee, nanti ramean yaa."
"Iyaaa, ini si Yudi juga ikutan."
"Ohya? Bang Yudi ikutan? Yess rame."

Pengambilan racepack dilakukan 3 hari, namun aku memutuskan untuk mengambilnya pada hari Sabtu 6 Mei 2017.
"Nanti ngambil racepack yaa jangan lupa." katamu di whatsapp
"Bertiga kan sama Bang Yudi?"
"Iya berangkat bertiga nanti kita naik busway aja."
"Oke deh sip."

Setelah agak siangan kamu mengirimi pesan lagi
"Si Yudi gak jadi ikut, dia mau nganter istrinya."
"Trus kita berdua doang?"
"Iya. Yudi nitip aja katanya."
Deg! Aku kaget begitu tahu bahwa kita hanya akan pergi berdua.

Siang itu aku dan kamu bersepakat untuk bertemu di pull busway jurusan Kota.
"Gak usah dijemput ya?" katamu
"Iya gak usah, muter-muter kamunya. Langsung ketemu di pull aja."
Aku diantar ojek online, aku mengenakan celana merah dan cardigan abu. Aku tak melihat kamu saat itu, entah sudah datang atau belum kamu. Aku kembali mengirimi chat
"Aku udah sampai. Kamu dimana?"
"Aku udah sampai juga. Di belakang parkir motor."
"Aku tunggu di haltenya yaa."
Dan kamu pun menghampiri. Kamu mengenakan kaos hitam, celana hitam, tas punggung, tak lupa jam tangan hitam yang selalu melekat di lengan kirimu. Rambutmu selalu terlihat rapi.
"Udah daritadi?"
"Gak baru aja." Aku menjawab singkat, jujur saja entah kenapa kamu selalu membuat jantungku memiliki ritme yang lebih cepat dari biasanya.
"Rapi banget sih?" protesmu
"Rapi apa sih? Kayak gini doang dibilang rapi." jawabku penuh pembelaan.

Setelah bertanya pada petugas akhirnya kita masuk ke dalam bus jurusan Kota. Kita duduk bersebelahan dan banyak bercerita saat itu. Dan saat di tengah perjalanan ada seorang wanita baru naik dan berdiri di depan kita, lalu kamu berdiri memberikan tempat dudukmu untuk wanita itu. Aku tersenyum saat melihat sikapmu, aku senang sekali melihat pemandangan seperti itu. Kamu pun sadar bahwa aku tersenyum untukmu, kamu pun membalas senyumanku dan berdiri di depanku, sempat aku tawarkan agar tas-mu aku yang pegang saja agar tidak berat namun kamu menolak. "Tidak apa-apa." katamu.

Setelah wanita itu turun kemudian kamu kembali duduk di sebelahku, seperti biasa kita bertukar cerita tentang apa saja dan bahkan berbagi headset berdua mendengarkan salah satu acara radio favorit kita di setiap hari Sabtu.
Sore itu Jakarta mendung dan hujan rintik-rintik sudah mulai turun.
"Dikit lagi sampe nih. Dua halte lagi" kataku
"Kamu hapal banget."
"Ya gimana yaa, tiap hari lewat sini."
 Kita turun di halte Gelora Bung Karno kemudian setelah itu kita harus mencari tempat pengambilan race packk yang jujur saja kita tidak tahu tempatnya. Akhirnya kita masuk dari pintu 4 di samping FX Sudirman. Setelah masuk lewat pintu 4, saat itu sepi sekali dan tidak banyak lampu yang menyala namun masih ada petugas parkir yang berjaga.
"Tunggu sini dulu, aku tanya sama tukang parkir." kamu pun meyebrang menuju pos jaga parkir. tak sampai dua menit kamu kembali
"Bisa kok lewat sini, tinggal lurus aja tapi agak lumayan jaraknya. Gapapa?"
"Gapapa."
Akhirnya kita menyusuri komplek GBK malam itu.
"Aku pengen pipis." katamu
"Hah? Pipis?" tanyaku agak terkejut.
"Iya, gak tahan nih."
"ah, aku gak tahu toilet di sini di mana."
"Kamu tunggu sini yaa, aku pipis di pohon situ aja."
"Serius?" memang saat itu agak gelap di sebelah kanan jalan dan banyak pepohonan., setelah aku mengiyakan kamu pun pergi. Ah, kenapa sih kamu selalu kebelet pipis saat bersamaku dan ini kedua kalinya aku menungguimu pipis di pohon.

Dan kita pun sampai di tempat pengambilan race pack, setelah agak lama mengantri kita mendapatkan satu buah tas yang berisi kaos dan nomor BIB. Niat hati ingin segera pulang namun hujan turun dengan deras saat itu, kita mengurungkan niat untuk pulang dan memilih menunggu hujan reda. Hanya ada satu bangku kosong di sana yang kemudian kamu menyilakan aku duduk di sana.
"Duduk deh di situ dulu." katamu
"Kamu duduk di mana?" tanyaku
"Gampang." Kemudian aku duduk di kursi merah itu dan kamu duduk di lantai. Kamu mengeluarkan buku bacaan dari dalam tas-mu.
"Lupa, aku lagi baca ini sekarang." kamu menunjukan salah satu buku yang sedang kamu baca.
"Aku lagi baca ini." aku pun membawa buku bacaan di dalam tas-ku dan menunjukannya padamu.
Akhirnya malam itu kita larut dalam buku bacaan masing-masing dengan suara hujan sebagai musik latarnya. Sesekali kamu menunjukan kalimat-kalimat bagus yang kamu baca kepadaku.

Hari sudah semakin malam dan hujan belum berhenti juga.
"Aku bawa payung di tas." kataku
"Mau pulang sekarang?"
"Iya, udah gak terlalu deras kayak tadi."
"Yaudah, mana payungnya? buka aja sekarang, kita terobos aja hujannya."
Aku mengeluarkan payung berwarna pink dari tas-ku
"Haduuh, warnanya pink lagi." katamu
"Kenapa? malu?"
"Gapapa.. hahaha"

Kamu pun memegang payungku dan kita mulai keluar dari tempat racepack menuju halte Gelora Bung Karno. Berjalan berdua denganmu dengan payung di tangan kananmu dan tangan ku melingkar di tangan kirimu, berjalan beriringan menghindari genangan-genangan air sambil berbicara apa saja, bercanda dan bernyanyi.
Kamu berhenti melangkah, aku pun. Di bawah pohon rindang kamu menatapku, lampu jalan menyala seadanya tak begitu terang, orang lalu lalang pun tak ada, kemudian kamu menyingkirkan payung dari atas kepala kita.
"Kenapa?" tanyaku bingung
"Udah gak ujan ya." tanganmu sambil menadah ke langit merasakan air hujan, aku melihat ke langit memastikan apakah benar hujan sudah berhenti. Secepat kilat kamu menendang batang pohon dengan keras sehingga air hujan yang menggantung di rantingnya bergoyang dan jatuh ke kepalaku, kemudian kamu berlari sambil tertawa.
"Ihhhh, reseeeee." teriakku sambil mengejar kamu.
"Hahahaha.."
"Jahat. Basah tauuu."
"Hahahaha.. iseeeeng." aku mencubit perutmu beberapa kali.

Kita melanjutkan perjalanan kembali menuju halte
"Gak ada yang kayak kita nih." katamu
"Kayak kita gimana?"
"Iyaa, jalan ujan-ujan pake payung berdua di malam minggu."
"Hahaha, iya gak ada." jawabku sambil nengok kanan kiri karena memang komplek GBK malam itu tidak ramai orang.
Kamu kembali menghentikan langkah, aku pun.
"Kamu lihat deh gedung-gedung perkantoran itu." katamu sambil menunjuk gedung-gedung tinggi penghias kota Jakarta.
"Iya, kenapa?"
"Dulu kamu pernah bilang pas masih kuliah kalau kamu ingin sekali bekerja di gedung tinggi, kerja di kantoran"
"Hahaha iyaa." aku sambil tersenyum malu karena mengingat salah satu mimpi itu.
"Mimpimu sudah terwujud. Kamu udah berhasil kerja di gedung itu."
"Iya, alhamdulillah." betapa percakapan itu mulai menyentuhku, betapa kita harus percaya akan mimpi kita, apapun itu.
Kita kembali melanjutkan langkah menuju halte.

Malam itu malam minggu dan hujan rintik masih turun di langit Jakarta. Halte GBK masih ramai penumpang yang menunggu bis-nya datang. Kita pun menunggu di antrian. Kamu menyuruhku untuk membaca buku di halte sambil menunggu bus tiba, aku menggeleng tidak mau membaca. Kita berdiri sambil berhadapan dan kamu membetulkan jilbab ku yang berantakan.
"Dada kamu kelihatan." ucapmu sambil menutupi dadaku dengan hijabku. Aku buru-buru membetulkannya sendiri sambil berucap terima kasih.
Wanita selalu terkesan dengan hal kecil dan sederhana seperti itu.

Setelah menunggu agak lama akhirnya bus kita datang. Penuh. Tak ada kursi kosong malam itu, mau tidak mau kita berdiri selama perjalanan.
Kembali aku mengeluarkan ponsel dan mulai menyalakan radio untuk menghilangkan rasa bosan. Berbagi headset berdua denganmu sambil mendengarkan acara radio favorit kita yang memang terus mengudara sepanjang hari Sabtu.
Sang penyiar berkata malam itu "Kalau ada cewek yang suka denger lagu-lagu genre rock atau hardcore gini tuh keren yaa. She's the one pokoknya." dan kamu menatapku yang berdiri di sebelahmu dan berbisik "you're the one, special." . Aku tersenyum karena paham apa maksud ucapanmu karena acara radio yang kita dengarkan adalah acara musik rock dan sejenisnya.
Kemudian penyiar radio tersebut memutar lagu Only One - Yellowcard. Tanpa aku sadari aku menyanyikannya dengan suara pelan dan kamu pun. Ternyata kita hapal lagu itu. Akhirnya kita bernyanyi bersama di tengah macetnya Jakarta, beberapa orang melihat kita yang mendadak duet di TransJakarta. Hahahaha.

Kamu menggantungkan kedua tanganmu di pegangan bus sambil menghadapku, menatapku dalam tanpa berkata apapun. Aku selalu saja kalah kalau harus beradu tatap denganmu.
Bus malam itu semakin ramai penumpang yang naik, memaksa kita untuk terus bergeser ke arah belakang bus, sebelah tanganmu di belakang ku mencoba untuk melindungiku dan tubuhku dengan aman bersandar di dadamu.
Setelah beberapa lama ada satu bangku kosong dan kamu menyuruhku untuk duduk lebih dulu, kamu masih tetap berdiri. Kemudian ada bangku kosong lagi yang agak jauh dariku, aku buru-buru memberi tahumu agar kamu duduk di sana. Kamu pun akhirnya duduk di sana.
Perjalanan semakin dekat sampai di tujuan, bangku di sebelahmu kosong dan kamu menyuruhku untuk pindah di sebelahmu, aku menggeleng tanda tidak mau. Namun, akhirnya aku pindah juga ke sebelahmu.
"Sana, di sana aja. Tadi gak mau pindah."
"Hahaha.. Enggak ah. Di sini aja." jawabku.

Sudah hampir tengah malam ketika kita tiba di halte tujuan akhir.
"Aku ambil motor dulu, kamu tunggu sini ya." katamu dan berlalu mengambil motor di parkiran belakang.
"Ayooo." ajakmu setelah mengambil motor.
"Kita makan dulu yaa, aku laper banget." kataku sambil naik ke motormu.
"Iya, mau makan apa?"
"Makan apa aja yang penting nasi. Pinggir jalan aja seketemunya."

Setelah berputar-putar mencari tempat makan karena kamu beberapa kali menolak beberapa tempat yang aku tunjuk dan hari sudah semakin malam akhirnya kita memutuskan untuk makan pecel ayam di dekat rumahku.
Tak ada yang makan di tempat malam itu hanya ada aku dan kamu yang makan. Karena lapar makanan yang disajikan tak lama untuk dihabiskan.
"Yaudah yuk. Udah setengah 12 malam nanti kamu dicariin. Aku bayar dulu." Katamu sambil menuju penjual dan membayar makan malam itu.

Kamu mengantarku sampai depan gang rumah, seperti biasa seusai permintaanku.
"Kamu hati-hati yaa, nanti kabarin kalau udah sampai rumah. Makasih udah dianter." kataku dan kamu mengiyakan kemudian berlalu pulang.


you're my only one
there's just no one like you do
you're my only one....
there's just no one, no one like you
you're my only one...

-yellowcard

Rabu, 22 Agustus 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (20)

Setelah kita sampai di tempat camp ternyata di sana tenda sudah berdiri tegak dan beberapa teman yang lain sedang bersiap memasak untuk makan malam. Tendaku dan tendamu jelas terpisah, tendamu tepat di sebelah tendaku. Aku memutuskan untuk merapikan tenda dan membersihkan diri dengan berganti pakaian, karena pakaian yang aku kenakan pada saat mendaki sudah basah oleh keringat. Kamu mungkin melakukan demikian dan membantu yang lain memasak, aku tidak tahu pasti karena aku sibuk di dalam tenda.

Gerimis tipis masih menemani kami semua di area camp hingga malam, kadang berhenti kadang gerimis datang. Kami berkumpul di depan tenda untuk menikmati makan malam dan ribuan bintang di langit. Saat malam hari langit cerah dengan mata telanjang pun kami bisa menikmati bintang-bintang di atas sana. Dinginnya malam itu bercampur dengan rasa lelah membuat diriku ingin segera tidur, akhirnya aku putuskan untuk tidur tak ikut begadang hingga malam dengan teman-teman yang lain. Lagipula kami semua harus bangun subuh hari untuk mengejar sunrise di puncak sana.

Suara alarm dan suara-suara pendaki lain yang lewat di depan tenda kami membuat kami semua terbangun dan bersiap untuk memulai pendakian ke puncak. Segala peralatan ditinggal, aku hanya membawa diri dan botol minum. Aku tidak bersama denganmu pada saat mendaki pagi buta itu, kamu terlebih dahulu di atas sana. Aku tertinggal jauh di belakang dikawal oleh seorang senior pendakian. Aku lemah pagi itu, aku lebih banyak meminta untuk break. Semakin tinggi oksigen yang aku hirup semakin tipis yang membuat aku sedikit sulit bernafas, ditambah perutku kosong. Aku sempat muntah di jalur pendakian, untung saja seniorku itu sabar menghadapiku yang lemah ini. Sempat aku ingin menyerah padahal gunung ini pernah aku daki sebelumnya tapi kali ini fisikku tidak fit, namun berkat dorongan positif dari seniorku akhirnya aku berhasil mencapai puncak. Aku mencari teman-teman yang lain yang sudah sampai lebih dulu di atas sana.

Takjub aku melihat matahari terbit di atas puncak gunung gede, walau ini bukan pertama kalinya tapi rasanya selalu seperti pertama kali. Sungguh indah ciptaan Tuhan.
Suasana di puncak pagi itu cukup ramai, para pendaki sibuk mengabadikan gold moment ini, tak terkecuali aku. Kondisi fisikku membaik setelah sampai di puncak, jadilah aku bersemangat mengabadikan moment ini. Aku dan kamu pun banyak mengambil foto berdua. Koleksi foto berdua kita semakin banyak saja. Bahkan terkadang aku sadar bahwa di waktu-waktu tertentu kita lebih sering sibuk berdua ketimbang bergabung dengan yang lain. Mungkin ini adalah matahari terbit terindah yang aku nikmati bersama kamu.

Hari semakin siang dan kami semua memutuskan untuk turun kembali ke tenda bersiap makan siang dan kembali pulang. Setelah sampai di tenda kembali sebelum bersiap untuk kembali pulang, kami memutuskan untuk bermain-main di sekitar camp.  Kemudian kami makan siang dan bersiap merapikan tenda dan keril-keril untuk siap turun gunung. Kami saling membantu melipat tenda.
Aku membantu melipat tenda di lahan kosong yang tidak begitu jauh dengan tempat camp. Kamu sibuk membantu dan sibuk dengan kameramu. Setelah aku selesai membantu melipat tenda di lahan sebelah, aku kembali ke tempat kita nge-camp. Kemudian kamu berkata, "Gue kira lu di sana ketawa-ketawa sama pendaki lain.". Aku bingung dengan pernyataanmu, "maksudnya?" tanyaku bingung.
"Iya, tadi gue kira lu ngapain di sana sama pendaki lain ketawa-ketawa." katamu menjelaskan
"Oh, bukan pendaki lain kok itu teman kita, bantuin lipet tenda."
"Iya kirain sama pendaki lain."
Semuanya sudah rapi dan kami semua sudah siap untuk turun gunung, tidak lupa kami berdoa untuk keselamatan turun gunung.

Saat turun gunung ini aku dan kamu tidak banyak bersama, aku lebih dulu jalan sedangkan kamu jauh tertinggal di belakang. Aku jalan lebih dulu ditemani salah seorang teman laki-laki lain, laki-laki ini memang dulu dekat denganku dan saat ini aku menjaga jarak darinya namun ia masih terus berusaha untuk mendekati. Di sepanjang jalur pendakian turun ini aku terus menerus melihat ke belakang mencari kamu. Entah kenapa perasaanku saat itu khawatir, aku berpikir saat itu kamu sakit karena cideramu itu.
"Kenapa sih liat ke belakang terus?" tanya laki-laki itu
"Gapapa." Aku menjawab dan meneruskan langkah. Kerap laki-laki itu mengulurkan tangan untuk membantuku turun, namun aku terus menjawab "Bisa sendiri kok. Makasih."
Di sela-sela istirahat di pinggir jalur pendakian laki-laki itu mengajak kembali meneruskan perjalanan, aku berkata "yang belakang masih lama ya? aku nunggu yang belakang aja deh."
Mungkin laki-laki itu sedikit emosi denganku kemudian dia berkata "Ngapain sih nunggu yang belakang? Mereka masih lama kita jalan duluan aja."
"Tapi Sakha itu cidera. Kakinya pasti sakit." Aku akhirnya menjawab
"Ya kalau dia cidera juga ada yang lain bantuin." jawab laki-laki itu sedikit agak keras
"Kalau dia sendirian gimana? Gak ada yang tau kalau kaki dia sakit?"
"Pasti tau. Yaudah terserah sekarang kamu mau lanjut jalan lagi atau nunggu di sini sendirian?" ucap laki-laki itu sembari jalan meninggalkanku. Saat itu aku coba melawan egoku sendiri, aku mulai kembali berjalan meneruskan perjalanan. Namun di tengah-tengah perjalanan aku tidak menemukan laki-laki itu. 'oh, beneran aku ditinggal' batinku dan saat itu hutan sepi sekali tidak ada pendaki lain yang lewat, aku terus menguatkan diri untuk berani. Tak berapa lama laki-laki itu muncul kembali yang membuat aku sedikit lega.
"Kita harus ngejar waktu, jangan sampai gelap di hutan ini bahaya. Jangan khawatir, kalau dia cidera pasti dibantu sama yang lain." ucap laki-laki itu pada akhirnya.

Aku tiba di pos terakhir sudah sedikit lagi sampai di basecamp bawah. Di sana aku duduk beristirahat menunggu teman-teman yang lain termasuk menunggu kamu. Akhirnya setelah beberapa saat kamu datang, benar saja dugaanku bahwa kakimu sakit. Kamu datang dengan kaki yang hampir diseret, dipunggungmu tidak ada tas.
"Sakit ya?" kataku saat kamu mulai mendekat
"Iyaa kakinya." jawabmu lesu.
"Tasnya mana?" tanyaku kembali
"Itu dibawain sama Bang Tirta."
"Yaudah nanti pelan-pelan aja, udah deket kok."
Melanjutkan perjalanan setelah lumayan beristirahat di pos terakhir. Kita kembali beriringan, aku kembali membantumu berjalan. Hingga perumahan penduduk sudah mulai terlihat.
Rumah-rumah di sana  begitu asri dengan halaman yang banyak lahan untuk berkebun.
"Aku nanti kalau udah nikah atau udah tua mau tinggal di desa-desa kayak gini aja." kataku
"kenapa? adem yaa?"
"Iya adem, udah pusing sama macet dan ruwetnya Jakarta."
"Iya sih, enak ya rumahnya ada lahan buat berkebunnya."
"Iya, aku juga pengen berkebun. Udah tua di rumah aja terus berkebun."
"Emang kamu betah tinggal di desa gini? Trus bisa emang berkebun?"
"Betah doong. Ya belajar kan kalau berkebun."
"Hahahaha, yaudah nanti di sini aja dipinggiran Jakarta. Aku seneng acara TV yang gimana ya yang ada orang bikin sesuatu tapi bermanfaat bagi banyak orang gitu."
Lalu obrolan kita kembali kemana-mana dan tangan kita tak lepas terus saling menggenggam
"Tas kamu sini biar aku yang bawa." katamu meminta.
"Gak usah, aku kuat kok. Udah mau sampai juga."
"Gapapa sini aku yang bawa. Udah banyak penduduk di bawah sana. Masa ceweknya yang bawa tas, aku gak bawa, gitu nanti kata orang-orang di bawah sana." katamu
"Hahahaha... kamu kuat emang? udah gak sakit?" 
"Kuat." Akhirnya aku menyerahkan tasku untuk dibawakan kamu sampai ke basecamp.

Semuanya sudah kembali ke basecamp sudah selesai membersihkan diri, mengisi perut tinggal menunggu mobil jemputan untuk kembali membawa kami semua pulang. Waktu itu ada bencana alam longosr di daerah puncak yang menyebabkan kemacetan total yang berimbas pada telatnya mobil jemputan datang. Mobil jemputan datang sudah tengah malam.

Kami semua sampai di Jakarta hampir pagi, kami tiba di basecamp pecinta alam. Tak mungkin aku pulang dini hari begitu, maka aku putuskan untuk menginap beberapa jam di sana.
"Kamu nginep?" tanyamu
"Iya, udah gak ada angkutan juga jam segini. Kamu?"
"Aku juga besok pagi aja. Bareng?"
"Iya bareng yaa."
"Bangunin aku jam 6 yaa."
"Oke."

Ternyata pagi itu kamu bangun lebih dulu dan kemudian aku baru terbangun
"Pulang sekarang?" tanyaku
"Iya. Kamu pulang sekarang gak?"
"Iya pulang juga."
"Ayoooo."
Akhirnya aku bersiap tanpa cuci muka langsung naik motormu dan kamu mengantarku sampai depan gang rumah, seperti biasa, seperti permintaanku.


Perjalanan ini membuat aku begitu terkesan.
Ada rasa bahagia yang terus melekat di sana; di hatiku.
Perjalanan ini mungkin akan selalu aku ingat.
Bersamamu aku tak ingin berakhir.

Cerita Perjalanan : Festival Seba Baduy 2018

Jumat sore saya mendapat chat dari seorang teman yang mengajak saya untuk melihat Festival Seba Baduy di alun-alun kota Serang pada hari Sabtu, 21 April 2018. Tanpa banyak berfikir saya pun mengiyakan ajakan teman saya tersebut karena ini adalah salah satu kesempatan luar biasa untuk mengetahui tentang budaya dari suku baduy.
Setelah saling berkomunikasi tentang di mana dan pukul berapa kami bertemu akhirnya kami memutuskan untuk bertemu di Stasiun Tigaraksa. Teman saya ini bernama Rahmat dan kebetulan dia tinggal di Balaraja, jadilah kami memutuskan untuk bertemu di Stasiun Tigaraksa.

Sabtu, 21 April 2018
Pagi-pagi sekali saya sudah bersiap untuk berangkat ke Stasiun Jurangmangu untuk mengejar kereta jurusan Stasiun Rangkasbitung jam 06.00 pagi. Saya meminta izin untuk pergi Serang pagi itu dan minta tolong untuk diantar ke Stasiun pagi itu. Seperti biasa yang rela mengantar saya ke Stasiun pagi-pagi adalah Mama. Namun dalam perjalanan menuju Stasiun Jurangmangu Mama berubah pikiran, Mama minta ikut ke Serang pagi itu. Saya tak sanggup menolak maka saya iyakan permintaan Mama, tak lupa saya mengabari Rahmat bertanya apakah tidak keberatan jika Mama saya ikut ke Serang dan teman saya itu pun tak masalah dengan itu.
Saya dan Mama membeli tiket PP St.Jurangmangu - St. Rangkasbitung, menunggu di peron 2  untuk kedatangan KRL Rangkasbitung. Suasana stasiun pagi itu sudah cukup ramai.
Stasiun Jurangmangu pada pagi hari
Saat KRL sudah mendekati Stasiun Tigaraksa saya mengabari Rahmat agar naik segera ke KRL yang akan tiba tak lupa saya memberi tahu di gerbong berapa saya dan Mama berada. Setelah melalui drama main cari-carian akhirnya kami bertemu. Perjalanan kali ini saya, Mama, Rahmat dan satu temannya, Erry namanya.
Pukul 09.00 kami tiba di Stasiun Rangkasbitung, untuk menuju Serang kami harus berganti ke kereta api ekonomi KA. Merak dengan tiket Rp 3.000,-/orang kami kemudian menuju St. Serang. Mama mengaku bahwa ini adalah perjalanan pertama menaiki kereta api.

Sebelum adzan dhuzur berkumandang kami sudah tiba di Stasiun Serang dengan bermodal bertanya dengan penduduk setempat kami akhirnya naik angkutan umum menuju pendopo dengan ongkos Rp 4.000,-/orang. Di pendopo ratusan masyarakat dari suku baduy sudah berkumpul dan baru saya tahu ternyata acaranya belum dimulai.










Mungkin belum banyak yang mengetahui apa itu Seba Baduy.
Seba Baduy adalah kegiatan rutin tahunan suku baduy, baik baduy dalam maupun baduy luar yang memberikan hasil panen mereka ke Bapak Gede atau pemerintah kota atau kepala daerah sebagai bentuk rasa syukur. Suku Baduy ini berbondong-bondong berjalan kaki ratusan kilometer untuk bertemu Gubernur Banten di Alun-Alun Serang. Sebetulnya ada 3 titik pertemuan yaitu Lebak, Pandeglang & Serang. Nah, yang saya datangi ini adalah acara puncak dari serangkaian acara Seba Baduy.

Ternyata acara baru dimulai setelah dzuhur, maka itu kami berjalan berkeliling di Alun-Alun Serang. Serang hari itu panas sekali atau mungkin lokasi dekat dengan pantai, entah.
Di halaman Alun-Alun Serang banyak yang sedang melakukan gladi bersih untuk acara nanti, selain itu berdiri stand-stand makanan & minuman, stand kerajinan khas suku baduy dan pameran foto tentang keindahan Banten. Sudah pukul 1 siang namun acara belum tampak dimulai, kami memutuskan untuk makan siang di warung pinggir jalan.
Setelah makan siang kami kembali lagi ke Alun-Alun dan nampaknya acara pawai pun akan segera dimulai. Pawai ini terdiri dari marching band, tari-tarian khas Banten, pakaian yang mencerminkan kekayaan Banten dan juga sekaligus menyambut kedatangan puluhan ribu masyarakat Baduy yang akan tiba di Serang.

Namun sangat disayangkan acara molor hingga dua jam lebih lamanya. Saya melihat para peserta pawai sudah kelelahan menunggu dan bersiap, masyarakat Baduy pun sudah banyak berdatangan, hanya karena pejabat terkait belum datang maka acara pawai belum dimulai.
Saya agak kesal saat itu karena saya pribadi pun mengejar waktu untuk pulang, tadinya kami sudah ingin menyerah dan pulang saja tapi kami masih bersabar kalau 30 menit kemudian acara pawai belum dimulai juga kami memutuskan untuk pulang.

Dan ternyata Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kami untuk melihat pawai tersebut, tak berapa lama acara pun akhirnya dimulai. Saya bersiap dengan kamera dan berdiri dipinggir jalan.
Pawai diawali oleh kumpulan motor-motor antik kemudian disusul oleh para penari dan pawai kostum, yang terakhir dan bikin merinding adalah masyarakat baduy yang begitu banyak berdatangan, berjalan tanpa alas kaki. Mereka semua berjalan menuju Alun-Alun Serang.
Setelah acara pawai selesai kami memutuskan untuk pulang. Kereta Api KA Merak dijadwakan tiba di Stasiun Serang pukul 4 sore dan KRL Rangkasbitung - Jurangmangu dijadwalkan pukul 6.30 malam.

Walau tidak bisa menyaksikan acara puncak Seba Baduy tapi hati ini merasa bahagia sudah punya kesempatan untuk melihat pawai seba baduy secara langsung. Indonesia begitu kaya akan budaya :)

"Saling berbagi adala wujud rasa syukur terbaik."


Marching Band
 -Euis Safitri Mustika-

Minggu, 03 Juni 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (19)

Seperti yang kamu katakan di grup bahwa aku melakukan persiapan untuk mendaki gunung itu benar karena akhir bulan April 2017 kembali komunitas pecinta alam mengadakan open trip pendakian gunung Gede untuk merayakan anniversary ke-empat komunitas pecinta alam tersebut. Tentu saja kita sudah mendaftarkan diri untuk ikut open trip kali ini dan merupakan pendakian kedua kita.

28 April 2017 hari itu adalah hari Jum'at, semua persiapan mendaki sudah aku siapkan dari minggu lalu karena aku tidak punya waktu menyiapkan di hari biasa karena bentrok dengan pekerjaanku. Aku terburu-buru mengejar waktu selepas pulang kerja aku langsung bersiap. Double check dengan mengingat-ingat apa saja yang sudah dan apa saja yang takut tertinggal. Setelah semua dirasa sudah tidak ada yang tertinggal aku pamit meminta izin dan do'a Mama. Aku kemudian berangkat naik ojek ke basecamp pecinta alam. Sesampainya di sana peserta lain sudah berkumpul, mungkin saat itu aku yang paling akhir datang. Kamu pun sudah ada di sana.
"Ah, Ayra lama nih. Tinggal juga nih." Kata salah seorang panitia peserta
"Duuh, maaf yaa baru pulang kerja. Ini juga keburu-buru belum makan." keluhku.
"Yah yaudah makan dulu, mobilnya belum dateng kok." aku bernafas lega. Sebelum pergi ke warung pecel lele di depan gang, aku berkenalan dengan peserta lain karena memang kali ini banyak sekali peserta yang belum aku kenal sebelumnya.

Mobil travel tiba sekitar pukul 21.00 malam, seluruh peserta pendakian memasuki mobil. Aku duduk di kursi kedua dari belakang, kamu duduk tepat di belakangku. Aku duduk dengan teman perempuanku, hanya aku dan dia yang menjadi peserta perempuan di pendakian kali ini.
"Hey, gue duduk sini ya?" Pinta salah satu peserta lain yang melihat kursi di sebelahku kosong
"Iya, silakan." dan kemudian kami bercakap bertanya pertanyaan mendasar 'rumah di mana?','kuliah di mana?'. Aku mudah akrab dengan orang lain, hingga tak terasa aku asyik ngobrol kemudian kamu menggangu dengan mecolek-colek kepalaku.
"Apa siiih?" aku menoleh
"Minuuum." katamu
"Niiih." aku memberikan botol berisi air putih. Dan kemudian aku, teman perempuanku dan kamu mengobrol. Lampu mobil dimatikan, mobil terus melaju menuju Puncak Bogor. Aku sudah lelah bercerita.
"Ka, aku tidur ya." kataku kepada teman perempuanku
"Iya tidur aja silakan." kemudian aku mengenakan headset dan mencoba memejamkan mata, tapi aku tahu saat kamu menyentuh pipiku dari sela-sela kursi. Kamu menyentuh pipiku dan bergumam "Yah beneran tidur yaa.", saat itu aku merasakan sentuhan tanganmu dan mendengar ucapanmu.
Saat sudah sebentar lagi sampai Puncak Bogor aku terbangun karena kaget ponselku jatuh ke kolong kursi, aku mencoba mengambilnya dan membangunkan teman di samping kanan kiri ku.
"Kenapa Ra?"
"Handphone jatuh ka ke bawah. Maaf yaa." Aku mencari namun tidak ada.
"Cari apa?" tanya kamu sambil menyembulkan kepalamu dari kursi belakang
"handphone."
"gak ada handpone."
"masa gak ada? jelas-jelas jatuh tadi aku denger, nih copot headset-nya."
"cari yang bener." katamu sambil senyum-senyum dan aku mulai curiga
"kamu pasti kan yang ngumpetin."
"ngumpetin gimana sih? aku daritadi tidur."
"bohong, ayo mana hp aku." kataku sambil berdiri dari kursiku menghadap kursimu
"gak ada tuh, gak ada. cari aja nih di tas aku." aku merebut tas pinggangmu dan mencarinya dan tidak ada.
"cari dulu yang bener. Lihat kanan-kiri" katamu dan aku melihat ponsel ku ada di selipan atas kursi
"Nah ini dia, Ih, masa jatuhnya di bawah tiba-tiba ada di atas. Gak masuk akal. Pasti kamu." Aku menyerangmu dengan cubitan kecil di perut dan lenganmu, malam itu aku membuat keributan di kursi mobil belakang.

Hampir tengah malam kami semua tiba di basecamp pendakian, udara dingin menusuk tulangku.
"Semua tidur ya. Benar-benar tidur karena besok pagi kita semua harus mendaki, kita butuh tenaga ekstra untuk besok."
Di ruangan yang cukup luas beralas karpet hijau aku merebahkan diri setelah makan. Untuk kali pertama kamu tidur tepat di sebelahku. Aku mengenakan jaket serta kaos kaki lengkap dengan sarung tangan karena udara dini hari itu sangat dingin dan tidur hanya beralaskan karpet tipis. Beberapa kali kaki kita beradu, beberapa kali kakiku menindih kakimu. toe to toe
"Kamu dingin ya?"
"Iya."
"Nih, jaketnya pake aja." katamu menyerahkan jaketmu
"kamu gak pake?"
"Gak usah." Akhirnya aku tertidur dan ternyata ada yang menyelimutiku lagi entah siapa yang jelas aku merasakan saat kain menutupi sebagian tubuhku.

***

Adzan subuh berkumandang, aku melaksanakan dua rakaat. Aku melepaskan jaket dan kembali mengembalikannya padamu, kamu masih tertidur. Aku menatap dirimu yang sedang tertidur pulas di sebelahku. Aku sudah segar karena sudah cuci muka dan gosok gigi.
"Hey, bangun sholat subuh dulu." kataku sambil mengguncang pelan tubuhmu
"Hmmmm." kamu menjawab sambil mengubah posisi tidurmu, kemudian memunggungiku
"Yee, susah banget disuruh sholatnya." Aku masih duduk di sebelahmu merapikan tasku
Setelah 10 menit kamu kembali mengubah posisi tidurmu kembali menghadapku.
"Jam berapa?" tanyamu
"6." jawabku singkat
"aku belum sholat."
"daritadi dibangunin 'hmmm','hmmm' doang." kemudian kamu beranjak dan melaksanakan sholat di waktu yang sudah agak telat.

***

Pendakian di mulai pukul 6.30 pagi, setelah sarapan pagi di warung nasi basecamp pendakian kami semua mulai melangkah menyusuri hutan. Pendakian kedua kita dimulai sekarang. Kamu membawa kamera mirrorlens yang mudah untuk dibawa. Pendakian awal tentu saja kita terpisah, aku di depan, kamu tertinggal di belakang hanya pada saat-saat break saja kita bertemu.
"Sakit nih." keluhmu saat kita sedang beristirahat sejenak
"Apanya yang sakit?" Tanyaku
"Kaki aku."
"kenapa emang?"
"kemarin malam kan aku main futsal trus ya gitu."
"seperti yang udah-udah?"
"iya. baru berasa sekarang." Seperti yang sudah aku ketahui sebelum-sebelumnya kamu memang senang berolah raga, futsal salah satunya dan cidera saat futsal kerap kali kamu alami. Sebelum melakukan pendakian kamu memang bilang sedang futsal namun aku tidak tahu kalau kamu cidera.
"Itu bahu kamu kenapa?" aku melihat perban di bahu kananmu.
"Gapapa ini mah. luka kecil doang."
"hmmm." kemudian kita kembali meneruskan perjalanan. Saat itu kita sudah mulai kembali berjalan beriringan, seperti layaknya sebuah perjalanan nampaknya tidak lengkap jika tidak berfoto bersama. Kita mengambil foto bersama dan kali kedua kamu merangkul pundakku. Beberapa kali mengambil foto selfi berdua.
Berjalan beriiringan berdua, bahkan kita tidak tahu rombongan kita ada di mana, di jalur pendakian hanya ada aku dan kamu, hanya kita. Aku berjalan pelan-pelan mengimbangi kakimu yang sakit. Aku tahu kakimu pasti sangat nyeri saat itu, tapi kamu menahannya.

***

Saat mendaki kita hanya berdua, entah rombongan yang lain di mana. Aku dan kamu beberapa kali ambil waktu untuk beristirahat sejenak. Kamu melihat cincin di jariku.
"Dari siapa itu cincin?" tanyamu agak ketus
"Beli sendiri ini."
"Kirain tunangan."
"Hahahaha."
"Aku baru ada uang 30 juta tapi sama temenku belum dibalikin, kalau udah dibalikin udah cukup untuk ngelamar kamu mah." Aku diam mendengar pernyataanmu dan aku yakin tidak salah mendengar karena suasana hutan siang itu tidak ramai.
"Aamiin. Biar cincinnya pindah nih ke jari manis." kataku sambil menunjukan jari manisku
"Kok jari manis?"
"Kan orang lamaran cincinnya di jari manis."
"Gak mau aku mah, aku maunya di jempol. Jadi pas nanti kita foto jempolnya yang bentuk 'oke' gitu."
"Hahahaha. kamu ada-ada aja." aku tertawa mendengar alasanmu
"Yaudah ayuk lanjut lagi nanti keburu sore." ajakmu sembari meraih tanganku untuk melanjutkan pendakian.

Aku sepanjang jalan dengan sabar menuntunmu berjalan karena kerap kali kamu mengeluh sakit, setiap pijakan yang agak tinggi aku berusaha untuk menopang tubuhmu.
"Aku pingin pipis." katamu
"Hah? Pipis?" kataku kaget,karena aku hanya berdua dengan kamu tidak mungkin sekali aku mengantarmu mencari semak untuk pipis
"iya. Di atas sana kali ya?" katamu sambil menunjuk pepohonan.
"Nah iya coba kamu naik ke atas sana, aku tunggu sini ya. Hati-hati, numpang-numpang." dengan langkah yang tertatih kamu naik menuju pepohonan yang agak rindang yang jarang dilalui oleh pendaki. Ini adalah momen pertamaku menunggui laki-laki pipis dan di hutan. Aneh sekali rasanya.
"Sudah selesai?" tanyaku setelah melihatmu kembali turun menujuku, kamu mengangguk sembari hati-hati menuruni akar-akar pohon. Aku mengulurkan tanganku karena terlalu tinggi untukmu turun dan hampir saja aku dan kamu jatuh berdua kalau saja aku tidak seimbang dan memelukmu.
Kabut turun dan gerimis mengikuti, kamu bersigap untuk menyuruhku memakai jas hujan, kamu pun memakainya juga. Kita sudah siap dengan jas hujan yang telah dikenakan baru beberapa langkah seorang panitia memanggil kita berdua.
"Ayra, Sakha." kita berdua menoleh berbarengan
"Hey, Bang Tirta."
"Yang lain mana?"
"Gatau bang, daritadi kita berdua doang belum lihat yang lain." jawabku
"Ini udah jam makan siang, lu berdua harus makan dan ini dua bungkus nasi buat kalian."
"Makasih bang." kataku sambil menerima nasi bungkus dari Bang Tirta
"Mau makan sekarang?" tanyamu
"Nanti aja ya, jalan dulu aja.. Kita daritadi berhenti terus." jawabku
"Bang, kita lanjut jalan lagi ya." pamitmu kepada Bang Tirta
"Iya, jalannya agak cepet ya udah mau ujan nih soalnya. Gue nungguin yang lain dulu masih banyak yang di bawah."
"Oke deh, kita duluan ya Bang." kita pun pamit dan melanjutkan pendakian.

***
Tenaga mulai habis dan perlu diisi oleh nasi. Aku dan kamu akhirnya memutuskan untuk membuka nasi bungkus dari Bang Tirta. Dipinggir jalur pendakian aku dan kamu makan siang, pendaki lalu lalang melihat kita, sesekali menyapa dan berbasa-basi menawari makan.
Membuka nasi bungkus, memakannya di bawah gerimis di jalur pendakian bersama kamu. Setelah selesai makan, sampah nasi bungkus kami simpan kembali di tas dan kembali mendaki yang tinggal sedikit lagi sampai di tempat camp.

Tempat camp sudah semakin dekat, kita sudah memasuki lahan luas penuh dengan bunga abadi, edelweis. Ah, senang sekali rasanya melihat lahan luas membentang dengan udara sejuk. Kamu mengambil gambar dengan kameramu, aku sibuk dengan kamera ponselku. Kamu mengajak selfie kembali, mengambil banyak gambar berdua. Ternyata di sana rombongan kami sebagian sudah sampai. Ada yang beristirahat, ada yang lanjut menuju tenda, ada yang sibuk mengabadikan pemandangan. Aku dan kamu sibuk berdua, bergantian minta difoto.

Surya kencana memang luas sekali, dari tempat aku berfoto ke tenda tempat kami semua bermalam cukup jauh. Angin berhembus kencang, keringat di baju sudah basah, aku ingin segera berganti pakaian agar tidak masuk angin. Aku dan kamu memutuskan untuk menuju tenda, lagi dan lagi kita berjalan berdua beriiringan sambil sesekali berfoto.
Saat berjalan itu kamu menatap mataku, dalam dan lama. Aku pun membalas tatapan itu, dalam dan agak lama karena jujur saja aku tidak mampu kalau bertatapan lama denganmu.
Kamu tersenyum setelah menatap dalam mataku, aku menunduk kemudian tersipu.

***

Ada yang berdesir saat kamu menggengam tanganku saat itu.
Ada yang hangat saat kamu menatap dalam mataku
Hatiku.. Hatiku yang merasakan itu semua.

Sabtu, 02 Juni 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (18)

Hari ini adalah hari minggu tanggal 23 April 2017 tapi aku sepagian ini sudah berada di kereta menuju Universitas Indonesia. Bukan untuk olah raga pagi atau sekedar jalan-jalan melainkan untuk bekerja. Iya, bekerja di hari minggu karena kantorku sedang ada event dengan komunitas pecinta buku di sana, awal ditawari untuk lembur dengan project event seperti itu sungguh aku tidak menolak, dengan senang hati aku lakukan walau di hari Minggu seperti ini.

Hampir seharian aku di sana dan tentu saja aku selalu berkabar dengan kamu. Seperti biasa perbincangan kita selalu ke sana ke mari apa saja tentu dibahas. Sampai akhirnya aku dan kamu membahas kaos, saat itu sudah pukul 15.00 aku sudah berada di kereta menuju rumah. Chat kamu mengejutkanku, kamu bertanya "Sayang gak?", karena kita sedang membahas kaos maka itu aku kira kamu masih membahas kaos tapi kamu membalas lagi
"Sayang gue gak?" Aku diam saat membaca pesanmu itu
"Sayang gue gak?" aku membalas hanya copy paste dari chat kamu
"Kok dibalikin?" kamu membalas lagi
"Pengen nanya aja." Aku kembali bertanya, malah jadi aku yang bertanya.
"Sayanglah." kamu membalas
"Tapi...?" aku membalas kembali memastikan
"Gak ada tapinya." kamu membalas, yang membuat aku diam. Suasana kereta sore itu ramai tapi saat aku membaca pesanmu itu aku seperti berada di ruang kosong kedap suara, hening, hanya ada aku, pikiranku dan gawai-ku.
"Yakin?" aku membalas lagi, aku tak tahu harus membalas apa
"Yakin. Belah aja dada aku." Kamu membalas, aku tertawa.
"Coba sini aku belah. Mau aku pastiin. Hahaha."
"Pusing."
"Kenapa kamu sakit?" aku membalas
"Pusing pokoknya. Nanti aja kalau udah serius, aku bilang."
"Bilang apa? Kapan seriusnya?" sungguh aku tak mengerti maksud kamu, aku pun membalas dengan kalimat sebisaku.
"Bilang kalau  pacarannya jangan lama-lama abis itu nikah aja. Kapan ya seriusnya? Nah itu dia."
"Abis kuliah, selesaiin dulu kuliah kamu." balasku.
"Gak juga. Lihat kemauan Bunda dulu. Liat kondisi keluarga juga."
"Emang Bunda maunya gimana?"
"Gak tahu, belum diomongin sama Bunda."
"Berani ngomonginnya?"
"Berani. Emang kenapa?"
"Gapapa."


Untuk kali pertama kita berbicara serius meskipun singkat. Kamu adalah laki-laki yang tidak cukup pandai mengungkapkan sesuatu. Tapi, itu sudah lebih dari cukup bagiku.
I don't know should I happy or doubt

Kamu selalu hadir dalam setiap do'aku
Di setiap sholat wajib atau sholat sunnah atau bahkan ketika aku tidak sedang melakukan apa-apa tapi hatiku berdo'a.
Ada namamu yang aku titipkan kepada pemilik alam semesta, Allah SWT.
"Ya Allah, jika dia memang sesuai dengan ketetapan dan ridho Engkau, ku mohonkan untuk dipertemukan dalam bingkai yang halal, mohon untuk gerakan  hatinya, ringankan langkahnya untuk segera menujuku dan mudahkanlah segalanya."

Entah kapan, karena kamu pun belum bisa menjanjikan.
- Dari aku yang selalu berdo'a untuk setiap usaha yang kita jalani.

Sabtu, 14 April 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (17)

SEPATU || Selalu bersama tak bisa bersatu
8 April 2017 saat itu komunitas pecinta alam mengadakan acara syukuran hari jadi yang ke empat tahun. Aku masih bimbang akan datang atau tidak karena aku ada acara lain.
"Bukunya sudah aku bawa." kamu mengirimi aku pesan, aku memang ingin meminjam bukumu dan karena belum sempat bertemu kali ini adalah saat yang tepat untuk bertemu di acara syukuran.
"Aku usahain dateng, tapi aku telat kayaknya." benar saja aku telat, aku datang saat acara resmi sudah selesai tinggal obrolan-obrolan santai.
"Sini deh." panggilmu menggiringku untuk masuk ke dalam. Kamu mengambil tasmu dan mengeluarkan buku yang ingin aku pinjam. 
Aku duduk berhadapan denganmu, kamu memberikan dua buku.
"Nah ini." kataku senang dengan mata berbinar memegang buku itu.
"Bentar ada lagi satu lagi."
"Emang ada ada tiga? kayaknya cuma dua seri."
"Yang ini beda." kamu memberikan satu novel dengan sampul biru
"The Pilot's Woman; Tinggallah di hatiku selamanya." aku membacakan judul novel tersebut sambil tersenyum dan menjawab dalam hati 'aku akan.'
"Aku kan gak minjam ini?" lagi-lagi apa yang aku ucapkan selalu tidak sesuai dengan apa yang aku katakan di hatiku
"Ya gapapa, dibaca aja ya."
"Oke. Kamu punya juga novel beginian."
"Punya satu. Bentar-bentar, aku belum tanda tangani buku-buku aku." kemudian kamu menggoreskan tanda tanganmu ke buku-bukumu.
"Aku pinjam dulu ya." kataku sambil tersenyum
"Iya, bawa aja."
"Nanti pulang sama siapa?"
"Gak tau, ojek paling." aku paling tidak bisa meminta atau merengek kepada siapapun untuk minta diantar, aku merasa tidak enak hati.
"Nanti bareng aku saja."
"Oke. Udah ah keluar, gak enak yang lain pada ngumpul di luar semua." kemudian aku keluar lebih dulu

***
Nampaknya tidak bisa jika datang ke basecamp jika pulang cepat pasti tengah malam baru pulang
"Ayra pulang diantar Sakha kan?" tanya salah seorang
"Gak tau. Hehehe." kataku sambil nyengir
"Sakha, lu balik sama Ayra. Anter dia sampai rumahnya. Oke." pinta salah seorang itu
"Hmmm, gimana yaa?" katamu bercanda. 

"ayo pulang yuk, sudah jam 12 malam. aku nanti berubah jadi labu." pintaku sambil berbicara pelan
"Hayuuk." kemudian kamu beranjak dan mengenakan jaket birumu.

Tengah malam angin malam berhembus kencang sekencang pertanyaan-pertanyaan teman-teman yang bertanya tentang hubungan kita, tentang kita, tentang sejauh apa kita dekat.
Aku sudah pernah bertanya padamu mengenai hal ini, bahwa aku sering sekali mendapati pertanyaan dari teman-teman kita. Namun saat itu kamu hanya menjawab "sudah tidak usah dibahas." bodohnya aku mengiyakan. Dua kali aku bertanya dan kamu pun menjawab dengan jawaban yang sama.

***
Sejak malam itu pertanyaan kembali bermunculan.
Kalian pacaran?
Kalian deket banget deh.
Kalian menjalin hubungan apa sih?
Aku selalu menjawab tidak ada perasaan atau hubungan apa-apa. Maaf aku berbohong masalah perasaan. Tapi aku juga bingung mau menjawab apa tentang hubungan ini.

Hari ini aku tersadar, mungkin memang tidak ada aku di hatimu.
Mungkin memang perasaanku  ini tak berbalas,
Mungkin memang aku tidak pernah nampak di matamu,
Aku sadar kini bahwa aku akan mundur. 
Perlahan mundur, perlahan hilang.
Berat meninggalkan sesuatu yang memang sudah terbiasa ada.
Tapi aku harus bisa.

20 April 2017
Dari aku yang sedang berupaya membiasakan diri tanpa kamu.

Jumat, 13 April 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (16)

Malam minggu kali ini aku habiskan berkumpul di kedai kopi bersama teman-teman kampusku. Efek kafein membuat mataku masih tetap segar walau jam sudah menunjukan hampir pukul 12 malam. Layar ponselku masih menyala, kita masih balas membalas chat. Kamu mengatakan ingin lari pagi besok dan kemudian kita bersepakat akan melakukan lari pagi esok hari. Olah raga bersama sudah menjadi wacana lama yang sering kita bicarakan namu tidak pernah terwujud.

Akhirnya 5 Maret 2017, aku bangun pagi sekali tidak mandi hanya cuci muka dan gosok gigi, aku mengganti pakaian, ku kenakan kaos berwarna merah marun dan celana training, ku kenakan sepatu lariku kemudian aku minta tolong diantar Mama ke tempat lari di mana ternyata kamu sudah sampai terlebih dahulu pagi itu. Aku diantar Mama melalui pintu belakang sedangkan kamu sudah menunggu di parkiran depan. Kamu mengirimi aku pesan berkata "buruan","lama banget","aku di parkiran sendirian nih." . Aku jadi ingat pertemuan kita saat di kantin kampus waktu itu, kamu juga menghujaniku dengan pesan yang bernada serupa. Kamu tidak senang menunggu, ya?
Untuk sampai di parkiran pintu depan, aku harus berjalan kira-kira 1km. Saat itu aku sudah berjalan cepat namun kamu terus menerus menghujani aku pesan, sudah 500m lagi aku sampai di parkiran depan.
"Iya, sebentar lagi aku tiba." balasku singkat dari sekian banyak pesanmu
"Aku hitung 1 menit dari sekarang." balasmu, aku hanya membaca. kemudian benar saja kamu menghitung 
"60"
"59"
"58" aku membaca pesanmu dan langsung berlari sekencang mungkin untuk sampai di parkira depan. Baru kali itu aku berlari kencang sekali dengan perasaan berbunga, seperti sedang mengejar sesuatu yang menyenangkan. Kamu. Dan benar saja aku tiba sebelum satu menit hitunganmu berakhir, dengan keringat yang sudah mengucur aku menemuimu.
"Ah, belum apa-apa udah keringetan duluan. Gara-gara kamu nih. Aku lari tahu."
"Gapapa, pemanasan."
"Yaudah yuk lari lagi."
"Tunggu, anter ke motor dulu."
"Ngapain lagi?"
"Naro jaket." Aku pun membuntuti mu hingga ke parkiran.
"Kamu hadap sana dulu."
"Mau ngapain sih?"
"Buka jaket."
"Yaelah, ntar juga keliatan-keliatan juga."
"Hahahaha.. Iya sih." kamu tertawa, kamu pun membuka jaketmu. Aku tertegun melihatmu, tertegun melihat otot lenganmu, pagi itu kamu mengenakan kaos basket tanpa lengan. Ternyata kita mengenakan warna baju yang senada, yang bahkan kita tidak janjian sebelumnya.
"Ayooo kita lari, lewat jalur yang mana dulu nih?" katamu membuyarkan lamunanku.
"Lewat sini aja." kataku gagap.

Jika kebanyakan orang yang aku lihat jika olah raga berdua, mereka kerap kali bukan lari justru berjalan sambil ngobrol santai atau bermanja-manja atau bermanis-manis ria atau berpegangan tangan. Lain halnya dengan kita, kita betul-betul berolah raga.
"kamu duluan deh larinya."
"Oke."
"Ntar juga kesusul sama aku." aku sudah melesat maju. Bensar saja, aku didahului kamu. Kamu sudah jauh melesat di depan. Satu puteran di tempat kita olah raga jaraknya 5km. Kamu lebih dahulu sampai finish, aku masih jauh tertinggal di belakang.
"Aku udah sampai tempat finish yaa."
"kamu cepet banget sih."
"Aku tunggu kamu di tempat tadi ya." Pesanmu tak aku balas, aku meneruskan lariku yang tertinggal jauh di belakang. Kamu kembali mengirimi aku pesan "masih jauh?"
Tak berapa lama aku tiba di finish, ada kamu sedang pedinginan.
"Lama banget sih kamu. Aku udah abis makan lontong sayur 2 piring."
"Masa? Ya wajar aku lama. Aku kan 6km, kamu 5km."
"6km dari mana?"
"Aku kan lewat jalur yang itu dua kali, pas pergi sebelum nyamper kamu aku udah lari 1km."
"Hahahahaha. alasan. Yaudah nyari minum yuk."
Akhirnya setelah berlari kita memutuskan untuk duduk di pinggiran danau sambil makan bubur kacang hijau. Kamu memotretku diam-diam kemudian dikirim ke grup dengan caption "persiapan untuk nanjak bulan depan".
"kamu kirim fotoku ke grup?"
"Iya, kenapa emang?"
"Gapapa sih. Itu kan keringetan banget fotonya."
"Hahahaha."

Pagi itu selain menghabiskan semangkuk bubur kacang hijau, kita habiskan waktu untuk bertukar cerita, bercanda dan berfoto. Setelahnya kamu mengantar aku pulang, tentu tidak sampai rumah. Hanya sampai depan gang, aku selalu meminta demikian.

"lari-mu cepat sekali seperti orang yang ingin mengambil doorprize" -Dari aku yang selalu menyukai matamu.