Catatan Domba Betina: Maret 2018

Senin, 26 Maret 2018

Pertanyaan yang Akan Aku Tanyakan Setelah Kamu Pergi

1. Apa kamu masih mencintaiku?
2. Adakah lagu yang mengingatkanmu tentang aku?
3. Apa kamu masih ingat kapan pertama kali kamu mengenalku dan atau pertama kali aku mengenalmu?
4. Apa kamu masih ingat kapan dan dimana dan bagaimana aku dan kamu pertama kali bertemu?
5. Apa kamu merasakan perasaan yang sama dengan apa yang aku rasakan saat menjelang kita berjumpa pertama kali?
6. Apa kamu merasakan perasaan yang sama dengan yang aku rasakan di setiap pertemuan-pertemuan kita selanjutnya? Apakah dadamu berdebar?
7. Apakah tidak apa-apa jika aku bertanya tentang apakah kau ingat ini dan apakah kau ingat itu, tentang kita?
8. Apa kamu masih menyimpan semua pemberian dariku?
9. Apa kamu bahagia denganku?
10. Apa kamu masih sering merindukanku?
11. Atau sekedar memikirkanku?
12. Apakah ada yang salah dari caraku mencintaimu?
13. Apakah kamu pernah sekedar membayangkan bagaimana seandainya aku dan kamu menikah?
14. Jika aku dan kamu menikah, apakah anak-anak kita akan lebih mirip denganku atau denganmu?
15.  Apa di waktu mendatang aku dan kamu masih dapat bertemu?
16.  Jika aku sudah mendapatkan kita yang baru, apakah kamu akan cemburu?
17.  Jika kamu sudah menjadi kita yang lain, apakah kamu akan mencintai dia lebih dari kamu mencintai aku?
18.  Apakah hatimu terluka saat ini?
19.  Jika kamu pergi ke tempat-tempat yang pernah aku dan kamu datangi bersama, apakah kamu akan teringat kepadaku?
20.  Apakah kamu masih memimpikanku?
21.  Apakah kamu masih mengharap pesan singkat di sepanjang hari dariku atau telpon?
22.  Apakah kamu masih menyimpan dengan rapi ingatan tentang aku?
23.  Apa yang kamu rasakan saat ini?
24.  Apa kamu masih mencariku?
25.  Jika aku tidak menghubungimu, apakah kamu akan gusar lalu menghubungiku lebih dulu?
26.  Apakah kamu akan menceritakan kepada anakmu yang lucu-lucu nanti, cerita tentang aku dan kamu?
27.  Jika aku dan kamu menikah, apakah aku akan menjadi istri yang baik?
28.  Apakah aku akan jadi istri yang baik untuk pasanganku yang bukan kamu?
29.  Apakah aku akan mendapatkan kamu yang lebih baik atau sama atau bahkan tidak lebih baik dari kamu?
30.  Apa kamu akan membantuku mendapatkan kita yang baru untuk aku sebaik kita yang dulu?
31. Apa kamu masih menginginkanku?
32. Apa kamu masih ingat hal-hal kecil tentang aku?
33. Apa kamu masih dan akan masih menyimpan foto-foto kita?
34. Apakah kamu masih akan membaca tulisan-tulisanku tentang kamu?
35. Apakah kamu mengizinkan aku menulis tentangmu?
36. Apakah kamu mengenang aku seperti aku mengenang kamu?
37. Apakah kamu menikmati waktu denganku seperti aku menikmati waktu denganmu?
38. Apakah kamu segera melupakan aku?
39. Apakah kamu menyesal bertemu denganku?
40. Apakah kamu akan merindukan kita?
41. Apakah kamu ingat saat kita berjalan di bawah hujan dengan payung yang sama?
42. Apakah saat ini aku terlintas dalam pikiranmu?
43. Apakah kamu sudah makan?
44. Apakah kamu tidur larut malam lagi?
45. Apakah kamu akan bersepeda ke rumahku lagi?
46. Apakah kamu ingat kamu pernah berkata "kalau uangnya ada, ini cukup untuk melamar kamu."
47. Kamu tidak bisa mengatakan sesuatu perihal perasaan secara langsung Kamu merasa bersalah saat itu, apa kamu ingat?
48. Apakah kamu ingat kita pernah tertidur bersebelahan dan kaki kita sering bertemu karena dingin?
49. Apakah kamu ingat kita pernah saling menggenggam tangan?
50. Apakah kamu masih ingat semuanya?
52. Apakah kamu masih ingat lagu yang kita nyanyikan berdua?
53. Apakah kamu pernah merasa cemburu tiap aku dekat dengan laki-laki lain? Karena terkadang aku merasa cemburu tiap kali kamu dekat dengan perempuan lain.



:')

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (14)

10 Desember 2016 menjadi pertemuan kita setelah sekian lama kita tak bertukar kabar. Malam minggu kali ini basah oleh hujan dan masih meyisakan gerimis tipis. Kamu menyalakan motormu dan aku sudah duduk di belakangmu. Kita menyusuri jalanan Lenteng Agung malam ini.
"Kamu gak pegangan?" Katamu saat sudah beberapa menit kita menyusuri jalan.
"Pegangan? Oke." Aku memegang pundakmu. 
"Nih aku udah pegangan." kataku sambil tertawa.
"Ya, gak di pundak juga."
"Baiklah." Aku melingkarkan lenganku pada pinggangmu dengan gerakan ragu. "Haruskah aku melakukannya?" pikirku.
Ternyata saat perjalanan pulang itu suasana lebih cair dari saat kamu datang pertama ke acara talkshow itu, saat perjalanan pulang aku lebih bisa mengatur ritme detak jantungku.
Banyak obrolan tercipta saat perjalanan pulang tersebut. Apapun menjadi pembahasaan. Bahkan aku sering mendengar tawamu. Aku rindu itu.
"Speedo meter motormu mati?" kataku
"Iya nih mati. Kenapa? Aku terlalu ngebut ya?"
"Iya tadi agak kenceng. Tapi gapapa sih."
"Pegangan makanya."
"Iya, ini juga pegangan."

"kamu nanti mau nikah sama siapa?" kamu bertanya tiba-tiba, jika saja aku memiliki keberanian lebih dan sedikit menyingkarkan gengsiku aku akan menjawab "kamu." sayangnya aku terlalu pengecut untuk mengatakan itu.
"Gak tau, belum kelihatan jodohnya." aku menjawab demikian, jawaban yang tidak sesuai dengan kata hatiku.

"Aku mau beli mobil ah." kamu terlalu banyak pernyataan atau pertanyaan random malam itu
"Ngapain beli mobil?"
"Biar gak kena gerimisan kayak gini."
"Daripada beli mobil mending beli rumah."
"Iya sih, tapi aku juga mau punya mobil." Dan saat motor sudah memasuki wilayah dekat rumahmu jalanan agak padat oleh kendaraan.
"Yah macet." keluhmu
"Nah, gak usah beli mobil makanya nanti kamu nambah-nambahin bikin macet jalanan."
"Iya yaa? Yaudah gak jadi deh ntar makin macet."
"Iya gak usah."

Ternyata gerimis semakin deras.
"Kamu kebasahan gak?" tanyamu
"Gak. Kan kehalangan kamu. Makasih yaa udah menghalangi hujan jadi badan aku gak basah."
"Mana coba aku pegang, beneran gak basah." Tanganmu kemudian memegang kepalaku, mengelusnya.
"Basah dikit."
"Basah kamu itu. Aku gak bawa jas hujan. Gak bawa helm juga."
"Gapapa ini mah gak deras banget kok."
"Aku nih basah banget. Pegang deh." kemudian tanganku menyentuh bagian depan tubuhmu.
"Iya basah banget. Lepek."

Kita berhenti karena lampu merah. Perempatan jalan yang sudah dekat dengan tempat tujuan. Kamu bersandar ke belakang dengan lengan di paha kiri-ku.
"Yah, udah mau sampe. Cepet banget sih sampenya." katamu
"Iya, cepet banget ya."
"Padahal aku tahu kamu masih kangen aku kan?"
"Iya, aku masih kangen kamu." Akhirnya kalimat itu meluncur dari mulutku
"Sudah ratusan purnama kita gak ketemu." tambahku
"Hahahaha." kamu tertawa
"Bisa dijadiin FTV nih kisah kita malam ini."
"Kira-kira apa judulnya?"
"Apa ya? Malam minggu di bawah gerimis berdua."
"Kepanjangan."
"Hahahaha. Oh ya, berhenti di warung makaroni dulu ya. Aku mau jajan."
"Oke." kemudian motormu memasuki pelataran parkir warung makaroni.
Aku memesan makaroni dan aku tidak tahu kamu diam-diam memotretku kemudian kamu share di grup komunitas pecinta alam dengan caption "Mau ke basecamp tapi nganter Ayra beli ini dulu.", banyak yang berkomentar "Anter sampai rumah yaaa."

Aku tidak langsung pulang malam itu, aku ada janji untuk berkumpul dengan teman-teman kampus. Aku memintamu untuk mengantar hanya sampai kampus. Temanku belum datang,
"Aku tunggu sampai temanmu datang menjemput kamu.", aku menawari kamu untuk ikut berkumpul tapi kamu memilih untuk ke basecamp makan durian. hehehe
Kamu banyak menatap mataku saat itu, aku dibuat salah tingkah oleh tatapan itu. Tak berapa lama temanku datang menjemput dan aku pamit denganmu.

Rasanya aku ingin malam itu tidak pernah berakhir.

Minggu, 25 Maret 2018

Aku Beruntung Pernah .......

1. Aku beruntung akhirnya bisa merasakan lagi cinta yang dalam setelah luka masa lalu, cinta kepadamu
2. Aku beruntung pernah dipikirkanmu
3. Aku beruntung pernah berbincang ditelpon denganmu
4. Aku beruntung pernah mendapatkan "aku kangen kamu" darimu
5. Aku beruntung pernah menjadi orang yang paling kamu tunggu kabarnya
6. Aku beruntung pernah menjadi orang terdekat dalam hidupmu selain keluargamu
7. Aku beruntung pernah menjadi penampung untuk inspirasi yang muncul dari kehadiranmu
8. Aku beruntung pernah menjadi keseharianmu
9. Aku beruntung pernah menjadi tujuanmu menempuh jarak yang begitu jauh
10. Aku beeruntung pernah berpergian jauh berdua denganmu
11. Aku beruntung pernah menjadi orang yang membuatmu berkata "Iya, aku bahagia"
12. Aku beruntung pernah menjadi tujuanmu saat kamu sedang sedih
13. Aku beruntung pernah menggenggam tanganmu
14. Aku beruntung pernah menjadi orang yang kamu mimpikan
15. Aku beruntung pernah mendapat kalimat rindu dan sayang darimu
16. Aku beruntung pernah melihat dirimu tertidur dan terbangun di sebelahku
17. Aku beruntung pernah merasakan pelukan
18. Aku beruntung pernah memiliki waktumu
19. Aku beruntung pernah menikmati matahari terbit dan terbenam berdua denganmu
20. Aku beruntung pernah menikmati sinar bulan dan bintang berdua denganmu
21. Aku beruntung pernah berjalan di bawah gerimis dengamu
22. Aku beruntung pernah menikmati hujan berdua denganmu dengan buku bacaan masing-masing
23.Aku beruntung pernah berbagi headset berdua dengamu menikmati lagu bersama
24. Aku beruntung pernah memelukmu di atas motor
25. Aku beruntung pernah ditatap sedalam itu denganmu, walau pada akhirnya aku yang kalah karena tidak kuat melihat matamu
26. Aku beruntung pernah lari pagi berdua denganmu, itu kali pertama aku berolah raga berdua dengan laki-laki yang aku sukai
27. Aku beruntung pernah dihujani chat yang hanya berisi hitungan detik 1,2,3 dst karena aku lambat berlari.
28. Aku beruntung pernah diantar jemput olehmu
29. Meskipun semuanya kini hanya menjelma menjadi kata "PERNAH", aku tetap merasa beruntung.



Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (13)

Satu bulan lebih aku menjalani pengobatan untuk kesembuhanku, berkali aku bolak-balik rumah sakit untuk kontrol jahitan dan lainnya. Satu bulan pula kamu tidak pernah bertanya bagaimana keadaanku dan aku tidak terlalu memikirkan itu, aku kepikiran namun ah sudahlah kesehatanku sendiri jauh lebih penting, walalu aku juga butuh dukungan dari orang-orang terdekat.

Setelah keadaanku sudah lebih baik kamu sempat mengirimiku pesan sekali berkata, "Makanya cepet sembuh nanti kita makan bareng." Aku hanya mengamininya.

Bulan Desember 2016 keadaanku sudah jauh lebih baik, aku sudah berani keluar, berani main, sudah normal kembali. Aku diundang ke acara Talkshow di salah satu kampung swasta di Jakarta Selatan, aku menjadi perwakilan dari komunitas pecinta alam untuk hadir di acara tersebut, karena beberapa anggota komunitas pecinta alam berhalangan hadir. Aku datang bertiga dengan Mba Dewi, Bang Musa dan aku. Ternyata di sana sudah ada Ka Tika juga turut hadir, jadi kami berempat. Acara talkshow ini ternyata seharian penuh. Mba Dewi dan Bang Musa kemudian pamit pulang pukul 12.00 karena harus bekerja. Jadilah aku dan Ka Tika berdua saja. Tak lama setelah session kedua dibuka handphone-ku berbunyi chat masuk dan itu ternyata kamu.
"Share location dong. Aku mau nyusul ke sana. Telat gak?"
"Gak sih, pembicara intinya belum keluar kok."
"Yaudah nanti nyusul, masih di kantor soalnya."
"Oke."

Sekitar 45 menit dari chat terakhir itu, kamu mengirimi aku pesan kembali.
"Udah sampai nih, di mana?"
"Masuk aja. Dari pintu masuk ke kiri."
"Nengok deh ke belakang."
Aku menoleh mencari kamu di antara banyaknya peserta talkshow hari itu, ternyata kamu sudah berdiri di barisan kursiku. Kamu mengambil kursi di sebelah Ka Tika karena memang hanya di sana yang kosong.

"Hai." Sapamu padaku sambil tersenyum.
Sudah lama aku yakinkan hatiku sendiri bahwa aku telah melupakan kamu, tetapi begitu kamu muncul, aku menyangkal semua pernyataan itu di dalam hati. Aku masih menyayangimu.
Suara itu, aku merindukannya. Aku ingin menangis haru tapi aku tahan. Kamu menatapku, seakan menunggu jawaban, tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Aku sibuk mengatur degup jantungku sendiri.
Kamu mengenakan kemeja jeans biru, celana bahan hitam dan jam tangan hitam di lengan kirimu.
Mata itu masih sama, masih membuat aku jatuh hati.
Aku tak banyak berbicara, aku sibuk mendengar para pembicara berbicara topik pembahasaan atau lebih tepanya aku pura-pura sibuk mendengar. Karena jujur saja aku canggung sekali.
Kamu berkali mengajak aku berbicara, menepuk kakiku agar aku menoleh padamu, karena suaramu dan suara mikrofon beradu aku harus mencondongkan badanku ketika berbicara padamu. Kamu mengeluarkan sekotak kue bolu kemudian menarik tas-ku mencoba memasukkannya di sana tetapi tidak muat. Kamu terus saja mengajak aku berbicara, menepuk-nepuk kaki-ku agar aku kembali menoleh, bertanya pertanyaan yang menurutku tidak penting "Tas baru? Beli berapa harganya?". Mungkin Ka Tika yang berada di tengah agak terganggu melihat kita.
"Tadi ke sini naik apa?" kamu bertanya setelah kembali menepuk kakiku
"Gojek. Kenapa?"
"Gapapa, nanti pulang sama siapa?"
"Gak tau. Ya, gojek lagi."
"Bareng elo aja." Sahut ka Tika padamu.
"Dia suruh order dulu." kamu menjawab.
"Iya, aku naik gojek aja." kamu dan ka Tika tertawa karena apa yang aku jawab tidak nyambung, yang aku dengar adalah "Dia suruh order gojek aja."
"Hahahaha, bukan gitu. Maksudnya kamu suruh order ke Sakha dulu kalau mau bareng dia." Ka Tika menjelaskan.
"Oh gitu.. Yaudah aku order via apa nih? Whatsapp atau BBM?"
"Whatsapp aja." kamu menjawab dengan senyum


Acara talkshow itu selesai pukul 17.00 aku, kamu dan Ka Tika memutuskan untuk makan bakso dulu di depan kampus tersebut. Ada warung bakso dan mie ayam, kami mengambil kursi agak belakang. Aku memesan bakso, kamu memesan mie ayam kalau tidak salah. Kamu duduk di depanku, Ka Tika di samping kiriku. Banyak obrolan yang terjadi saat makan itu, aku menceritakan tentang kejadia kecelakaanku, aku menceritakan tentang pekerjaan. Banyak sekali cerita yang kami bagikan bertiga. Kamu terkadang sibuk dengan ponselmu, entah pesan siapa yang kamu balas, aku tidak ingin tahu. Aku mengambil fotomu diam-diam dari tempatku duduk. Hari sudah malam dan kami memutuskan untuk pulang. Kamu beranjak terlebih dahulu untuk membayar meninggalkan tas-mu di meja. Aku bergegas dan melihat tas-mu masih tergeletak maka aku berniat membawanya. Aku bawa tas-mu kemudian kamu sadar aku membawa tas-mu,
"Eh iya tas. Duh. Berat kan tas-nya?"
"Agak berat tapi gak berat banget."
Aku dan kamu keluar menuju motormu, Ka Tika menuju motonya sendiri.
"Tas aku digendong kamu ya di belakang."
"Iya, sini gapapa." Aku mengulurkan tangan untuk mengambil tas kamu, tapi kamu malah memakaikannya untukku.
"Berat gak?"
"Gak kok."
"Pakai peci dulu biar berkah." Katamu memulai ritual sebelum mengenakan helm adalah memakai peci. Aku tertawa.


Langit malam minggu di Selatan Jakarta saat itu gerimis tipis. Tidak membuat basah namun menambah kehangatan pertemuan kita. Setelah sekian lama, ternyata perasaan itu masih sama untuk kamu.
Dengan sedikit ragu, aku beranikan diri untuk berpegangan denganmu di atas motor di bawah gerimis langit Selatan Jakarta.

Kamis, 08 Maret 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (12)

Pada hari di mana aku memilih mundur.
Aku tiada lagi bisa berbicara apa saja denganmu,
Aku tiada lagi bisa mendengar segala cerita hidupmu,
Aku tiada lagi bisa melihat teduh matamu; sepasang mata yang begitu aku sukai.
Pada hari di mana aku memilih mundur,
rindu-rindu kian menumpuk di celah hatiku yang kosong tanpa dirimu.
Pada hari di mana aku memilih mundur,
Aku hanya membohongi diri sendiri. Sebab, hingga saat ini
aku masih saja mencintaimu.

24 September 2016
Di rumah saat hujan turun. Untukmu. 


Satu minggu setelah aku benar-benar ingin mundur tetapi masih ada peperangan di hati, aku mengalami kecelakan hebat. Hebat, karena aku tidak pernah mengalami kecelakan sampai seperti itu. Aku mendapatkan 13 jahitan di kening kananku, gigiku patah, tulang lunak dekat hidungku patah, saraf di pipiku putus. Aku baru tersadar ketika sudah berada di rumah sakit setelah pingsan dan ditolong orang ke rumah sakit. Cahaya lampu rumah sakit yang pertama kali ku lihat saat membuka mata saat itu, ku lihat bayang-bayang orang tuaku di pinggir kasur, aku belum bisa melihat jelas saat itu. Kamar rumah sakit saat itu penuh dan aku tidak mendapatkan kamar, oleh karena itu aku hanya rawat jalan dengan setiap minggu aku kontrol ke rumah sakit.
Satu bulan aku bed rest, tidak masuk kerja. Jangan bekerja, untuk membalikan badan saja aku tidak bisa, untuk urusan makan dan ke toilet aku meminta bantuan orang tuaku. Itu adalah hari paling down dalam hidupku. Aku sempat berpikir apakah akan lama aku hidup?
Namun aku bersyukur, banyak teman-teman datang menjengukku. Setiap hari rumahku ramai banyak yang datang menjenguk.
Sampai komunitas pecinta alam itu datang beramai-ramai dengan anggota lainnya. Dengan keadaan yang belum begitu baik aku melihat kesekelilingku dan tidak mendapati kamu. Kamu tidak datang dengan mereka. Kamu kemana?? Aku rindu. Tahukah kamu mengenai keadaanku? Kamu kemana? Aku rindu.


Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (11)

Suatu waktu aku pernah menghadiahimu sebuah gambar sebagai hadiah kelulusan S1-mu, di gambar itu aku tuliskan "I'm Lucky to Have A Best Friend Like You. Happy Graduation, Ebi." kemudian kamu bertanya "Why are you feel lucky to have me?" . Aku menjawab jujur saat itu, "I dont know, i just feel lucky to know you, to meet you, to talk about any silly stuffs, to share anything else."

Mungkin kamu tidak menyadarinya dibalik kalimat "I'm Lucky tO haVe a bEstfriend like yoU" ada kalimat "I Love U" yang tersembunyi. Today, we just bestfriend. But someday, we dont know what future brings. Thank you for always beside me.

Awal Juni 2016 kamu mengejutkanku di chat, kamu memberi tahu bahwa kamu lulus tes seleksi mahasiswa S2. Aku bangga sekali denganmu, kamu begitu bersemangat mengejar pendidikanmu. Aku tidak akan menyangka akan secepat ini kamu lulus. Karena beberapa waktu lalu kamu hanya memamerkan formulir S2 itu padaku. Untuk segala cita-citamu, untuk segala mimpi dan harapanmu aku selalu mendokan yang terbaik dan i always here for you when you up or down.

Tak terasa sudah setengah tahun pula kita dekat, aku tak pernah tahu kemana langkah kaki kita akan menuju. Akankah masih dalam jalan yang sama? Semoga langkah ini tetap beriiringan hingga batasnya.


11 Juni 2016 kamu memberitahuku bahwa Mbah-mu di kampung wafat tapi kala itu kamu tidak bisa ikut melihat, hanya Bunda dan adik mu yang pulang. Aku tahu kamu bersedih dan aku hanya bisa mengatakan jangan putus untuk mendoakan.

Untuk hari-hari selanjutnya komunikasi kita kembali naik turun, entah apa lagi, entah karena apa. Dan aku sudah kembali menyerah.
"Aku memilih mundur. Tampaknya tak ada lagi harapan. Tak ada lagi jalan. Semua berhenti seperti titik mengakhiri sebuah kalimat."
"Gak keluar rumah, makan juga ogah-ogahan. Kamu lagi gak dikejar-kejar polisi kan?"
"Kaka keganggu ada aku di sini?"
"Kok keganggu. Khawatir iya. Orang gak bakal ada yang bantu kalau kamu gak ngomong."
"Semuanya ngebingungin banget."
"Karena temenmu itu? Kamu kalau udah ngomongin temenmu yang satu itu, matamu itu langsung bercahaya, nyawa kamu itu langsung kayak tiba-tiba nambah dua aja. Aku gak nemuin cahaya yang sama ketika kamu ceritain temen kamu yang lain."
"Aku seneng dia ngomong gitu tapi..."
"Tapi tetap aja kan kamu patah hati?"
"Aku mau kabur aja ke Timbuktu ketemu Donald Bebek."
"Kok ke Timbuktu? Ya ini hidup, kamu harus berani. Kamu harus berani hadapi. Kamu harus berani jujur sama diri kamu sendiri, kamu harus berani jujur sama orang yang kamu sayang. Gak setiap dongeng bisa happy ending, apalagi realita."

Minggu, 04 Maret 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (10)

Selama satu minggu itu aku tak bertukar kabar denganmu, beberapa bulan ke belakang komunikasi kita memang berantakan. Aku selalu berusaha menyibukan diri, aku selalu berusaha untuk tidak terpaku padamu, aku selalu berusaha untuk membunuh perasaan-perasaan itu. Senin - Jum'at aku habiskan untuk bekerja, sementara Sabtu aku menyibukkan diri dengan mengambil kelas kursus bahasa Inggris di belakang kampusku. Aku pernah mengatakannya padamu bahwa aku mengambil kursus, kebetulan saat itu kita sedang bertukar kabar seadanya.

28 Mei 2016 seperti biasa aku sudah berangkat dari rumah menuju tempat kursus mengenakan baju cokelat terusan dengan aksen garis-garis horizontal. Hari itu aku memenuhi janji bertemu dengan seorang teman, kebetulan dia adalah junior di kampus namun usia kita sama. Dia ingin meminjam buku puisi karya Aan Mansyur, saat itu film AADC2 sedang booming sekali. Buku puisi itu sudah ku masukan ke dalam tas sebelum aku berangkat kursus hari ini. Saat kelas sudah 15 menit lagi selesai ponselku berdering tanda pesan masuk, ternyata itu dari Dio.
"Ayra, udah selesai belum kelasnya? Gue udah di kampus nih." Aku dan Dio kenal sejak aku di semester 5 dan Dio di semester 3. Dari pertemuan yang gak disengaja akhirnya kita berteman.
"Gue 15 menit lagi kelar, Di. Bentar ya. Lu tunggu di mana?"
"Gue masih di warung depan sih. Biar gue yang nyamperin lu nanti. Kabarin kalau udah kelar ya."
"Oke."

Ponselku berdering kembali tanda pesan masuk, aku kira Dio ternyata kamu.
"Lagi di mana?" Kamu bertanya di chat
"Kursus."
"Udah selesai?"
"Belum. 15 menitan lagi selesai. Kenapa?"
"Aku lagi di kampus nih, temenin dong. Lagi urus-urus administrasi."
"Yaudah ntar aku ke sana."
"Buruan yaa."
"Ya nanti belum selesai kelasnya."
"Oke, aku tunggu."

Kelas akhirnya bubar tepat sesuai perkiraanku. Aku langsung memberi kabar Dio bahwa aku sudah selesai, aku memintanya untuk menunggu di swalayan sebelah kampus. Aku berjalan kaki menuju swalayan dan ternyata Dio sudah berdiri di samping motor gedenya. Aku dan Dio mengobrol di swalayan itu, aku asyik mengobrol dengan Dio ponsel ku kembali berdering, kamu menghujaniku dengan pesan-pesan.
"Di mana?","Lama banget.","Buruan.","Aku sendirian nih di kantin."
Aku membalas "Iya sebentar plis sebetar 10 menit lagi. Aku ketemu temen ini."
"Buruan, temennya aja sekalian ajak ke sini." Tak ku balas lagi karena aku tidak enak Dio terus menerus mengajak ngobrol. Aku memberikan buku puisi itu pada Dio, Dio dengan sigap membukanya kemudian membacakan sebait puisi itu
"Bandara dan Udara memisahkan New York dan Jakarta......." Dio membacakan puisi itu, aku hanya tersenyum kaku sambil bergumam di dalam hati 'Aduh Dioooo, gue lagi buru-buru ini ditungguin'.

Kamu mengirimi ku pesan singkat lagi, dengan nomor yang lain.
"Hape aku yang satu lowbat. Ke sini aja. Buruan kamu. Aku di kantin sendirian."

"Lu langsung pulang Ra?" Tanya Dio setelah membaca sebait puisi Aan Mansyur tadi.
"Gak, gue mau ketemu temen gue di kantin. Ikut yuk, ngobrol di dalem aja." aku menawari
"Mau sih, tapi gue pake celana pendek malu kalau ke dalem kampus begini."
"Cuek aja sih. Hehehe."
"Lu kayaknya buru-buru ya? Ditungguin? Yaudah. Bukunya gue pinjem dulu ya. Nanti gue kabarin kalau sudah selesai."
"Okeeee. Gue duluan yaa. Bye." Aku langsung berlari ke arah kampus tak sempat menunggui Dio menyalakan motor gedenya.

Aku berlari menuju kantin sambil mengetik "Masih di kantin?", kamu hanya membalas "Masih. Buruan." Betapa aku sangat bersemangat sekali untuk bertemu kamu hari itu. Walau sore itu kantin ramai sekali oleh mahasiswa-mahasiswa aku dengan mudah mengenalimu, kamu duduk membelakangi dari arah datangku. Aku langsung duduk di kursi di depanmu. Kamu terkejut dengan kehadiranku yang tanpa suara menyapa atau menepuk bahu.
"Maaf telat. Lama yaaa? tadi ketemu temen dulu di luar." kataku membuka percakapan
"Lamaaaa banget. Mana temennya?"
"Pulang, dia pakai celana pendek masa masuk kampus. Kamu belum pesan apa-apa dari tadi?"
"Belum, nungguin kamu. Temenin aku makan, aku yang traktir hari ini."
"Yesss. Kamu pesen apa?"
"Aku pesen mie soto aja pakai telur sama jus alpukat. Kamu pesan apa?"
"Aku pesen minum aja."
"Gak makan?"
"Gak, aku masih kenyang tadi makan dulu sebelum kursus. Yaudah aku pesenin dulu ya."

Hari itu kamu mengenakan kemeja kotak-kotak hijau tosca dengan merk terkenal yang aku baca di saku kemejamu, kamu terlihat bagus mengenakan kemeja itu. Kamu memakai celana bahan dan sepatu fantofel. Jam tangan hitam melingkar dengan beberapa gelang di lengan kirimu. Rambutmu agak sedikit gondrong, mungkin kamu tidak sempat mencukurnya. Mata itu, masih sama masih membuat aku jatuh cinta. Suara beratmu, suara tawamu. Kamu duduk tepat di hadapanku, kita hanya dipisahkan dua gelas minuman dan satu mangkuk mie instan.

"Mau gak?" kamu memecakan lamunanku, bukan lamunan tapi memecah perhatianku yang sedang dengan saksama memperhatikanmu. Kamu mengeluarkan bubuk putih dari toples kecil yang kamu bawa.
"Itu apa?"
"Vitamin." Kamu kemudian mencampuri bubuk putih itu ke dalam jus alpukatmu.
"Biar apa?"
"Biar sehat. Namanya kreatin. Orang yang fitness minum ini." kamu menjelaskan.
"Apa rasanya?" Aku penasaran
"Gak ada." Kemudian kamu menyodorkannya padaku, aku coba minumanmu yang sudah dicampur.
"Iya gak ada rasanya."
Kamu bercerita tentang keperluan yang kamu lakukan di kampus hari itu, kamu mengurusi segala adminitrasi mengenai kelulusanmu, ijazah dsb. Kemudian kamu mengeluarkan satu map yang berisi formulir untuk melanjutkan kuliah S-2.
"Kamu mau daftar S-2?" Aku bertanya sambil membolak-balikan formulir itu.
"Niatnya sih tapi gak tau. Ya, ambil aja dulu formulirnya."
"Bagus-bagus. Aku juga mau tapi belum nih."
"Yaudah bareng aja."
"Target S-2 aku tahun 2017. Jadi nanti aja. Hahahaha."
  
Di antara riuhnya kantin sore itu aku masih bisa mendengar suara renyah tawamu. Menikmati matamu yang mulai menghilang ketika sedang tertawa.
"Kamu tadi naik apa pas berangkat?"
"Angkot. Naik apa lagi. Hehehe"
"Udah sore nih. Pulang yuk. Temen-temen kuliahku pada ngajak ngumpul di coffee shop."
"Ikut dong." Kataku iseng
"Jangan ah, langsung pulang aja."
"Oke. Aku nebeng sampai depan gerbang ya."
 Kemudian kita berdua berjalan menuju parkiran namun adzan magrib berkumandang.
"Mending sholat dulu." Aku memberi saran, kemudian kita menuju mushola di dekat parkiran. Saat itu aku sedang berhalangan. Aku menunggumu di luar sambil membaca buku. Setelah kamu selesai melaksanakan kewajibanmu, kamu menghampiriku yang sedang larut dengan buku bacaanku. Kamu sampai menarik bukuku karena aku tidak mengetahui kedatanganmu.

Kita pun kembali ke parkiran menuju motormu, kamu menyalakan mesin motormu dan kemudian aku duduk di belakangmu. Di depan gerbang aku minta turun karena tadi aku hanya minta diantar hanya sampai gerbang, namun kamu menolak.
"Kita ngumpul sama teman-temanku dulu.", aku terkejut mendengar pernyataanmu namun aku turut senang. Karena lokasinya tidak jauh dari kampus jadilah kita menjadi orang pertama yang datang di sana. Kamu memesan kopi hitam, aku memesan es cokelat. Kali ini kita hanya dipisahkan oleh dua cangkir minuman, malam itu malam minggu cukup cerah. Kamu duduk di hadapanku kemudian seperti kebiasaanmu, kamu menyodorkan sebelah headsetmu untuk kita dengarkan lagu favoritmu bersama. Kamu bilang bahwa kamu sedang menyukai lagu itu. Kadang jemari kita bertemu saling bersentuhan. Oh, bahagia sekali aku malam itu. Sampai akhirnya teman-temanmu mulai berdatangan satu persatu. Ada tiga orang temanmu yang datang malam itu, teman-temanmu menyenangkan. Lucu. Aku suka sekali mendengar kalian ketika bercanda. Ada temanmu yang bertanya padaku "Pacarnya Ebi?", Aku menggeleng halus namun tersenyum malu-malu. "Jangan mau sama Ebi, pacarnya banyak." kemudian tawa mereka pecah.

"Pulang yuk. Udah jam 9 nanti dicariin. Kan dari siang." Kamu mengajakku pulang
"Baru jam 9." kataku keceplosan malam itu. Kemudian suara teman-temanmu menyaut ramai "Tuuuh ditantangin baru jam 9 katanya."
"Oke, kalau ditantangin." Kamu menjawab. Aku hanya tertawa.
Pukul 23.00 kami semua memutuskan untuk pulang. Aku sudah duduk di atas motormu dan temanmu memberi pesan "Jangan mau kalau diajak belok lagi yaa." . Aku tertawa dan mengiyakan.
Hari itu, aku bahagia bisa bertemu dan mengenal teman-teman kampusmu. Aku sepertinya tidak bisa menghilangkan perasaan ini. Aku kembali jatuh, jatuh padamu.


Sabtu, 03 Maret 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (9)

Benar saja moment wisudamu kemarin membuat aku baper sampai saat ini. Sudah dua hari berlalu namun aku masih dibuat senyum, aku masih merasa bahagia. Berkali aku melihat foto-foto kita berdua saat wisuda kemarin itu, dengan noraknya aku pun memposting foto-foto kita berdua ke semua aku media sosialku, aku ingin mereka tahu bahwa aku bahagia dan begitu banyak orang yang beranggapan bahwa aku dan kamu sedang menjalin hubungan. Namun kebahagiaanku tidak bersambut, kamu tidak memposting sama sekali foto kita berdua di akun sosial mediamu, kamu hanya mengirim foto kita berdua di grup pecinta alam. Kamu justru memposting foto-foto dengan teman-temanmu, kamu mengganti foto profil dengan teman-teman perempuanmu, tak sekalipun aku nampak di akun media sosialmu. Di saat itulah aku merasa postinga foto-foto berdua yang aku unggah ke semua akun media sosial ku itu berlebihan.
"Dia aja gak update, gue semangat banget update sana-sini." pikirku begitu. Karena pikiran itu aku hapus postingan-postingan foto kita berdua di akun sosial mediaku. Ingat saja pernyataan dia beberapa waktu lalu "Just friend, oke?"
Hari ini juga kamu memberi kabar bahwa kamu akan berlibur katamu tunggu saja fotonya nanti. Kamu tidak memberi tahu dengan detail kemana dan dengan siapa? Ah, aku ini berhak apa untuk mengetahui semuanya. Namun aku juga dirundung rasa penasaran.

Sejak kamu memberi tahuku tentang liburan itu, pesanku hanya menggantung tanpa balasan. Genap satu minggu kita tak bertukar kabar sama sekali. Jika ada yang mengatakan bahwa seorang yang jatuh cinta itu adalah peneliti yang mahir itu benar adanya. Rasa penasaran itu terjawab, dugaanku benar aku tahu dari sosial media kalau kamu benar berlibur dengan seorang perempuan. Dari sosial media juga aku tahu nama wanita itu, aku tahu wanita itu lulusan universitas mana, aku tahu hobi wanita itu, aku tahu. Kalian berlibur ke kepulauan seribu. Aku tahu kamu menyukai wanita itu, aku tahu dengan jelas dari setiap psotinganmu. Dari sosial media juga aku tahu perempuan itu sudah memiliki kekasih, tapi aku tidak tahu sudah sejauh mana hubungan perempuan itu dengan kekasihnya dan sejauh mana hubungan kalian berdua.

Seminggu itu aku tak mengatakan apa-apa, aku hanya simpan semua sendiri, aku tak berniat untuk bertanya kepadamu. Seminggu tak berkabar membuat aku rindu kamu. Aku seperti kehilangan sesuatu dalam diriku, aku rindu bertukar kabar denganmu. Ingin aku memulai lebih dahulu dengan mengirimimu pesan, namun aku takut pesannku tak dibalas hanya dibaca seperti seminggu lalu. Aku terlalu pengecut.

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (8)

Setelah pernyataanmu tentang kita bahwa kita hanya sebatas teman, komunikasi kita tidak selancar dulu, kita sudah jarang bertukar kabar atau lebih tepatnya aku yang menarik diri. Aku menahan diriku untuk tidak mengabarimu dan kamu pun juga tidak berusaha mencariku. Postingan-postinganmu pun sudah semakin terbuka perihal perempuan lain, kamu posting dinner berdua, kamu posting hadiah cokelat saat kamu lulus sidang skripsi dan banyak lagi postinganmu tentang perempuan yang belum aku ketahui siapa. Jadi aku juga semakin menarik diri dan tahu diri. Aku tahu, aku sadar bahwa aku tidak ada di sana; di hatimu.

Komunikasi kita memang berantakan tapi kita tidak benar-benar kehilangan kontak, kita masih memberi kabar namun seadanya, sepentingnya saja. Selama satu bulan komunikasi kita seperti itu. Hingga kamu memberi tahuku perihal acara wisuda kamu yang akan sebentar lagi dilaksanakan. Aku langsung mengatur jadwalku untuk menghadiri wisudamu, aku mengambil izin kerja dari kantor.

28 April 2016 hari ini kamu di wisuda, sebelumnya kamu bingung membawa orang tuamu gimana, siapa saja yang turut serta kamu ajak walau pada akhirnya hanya Bunda dan Ayah yang kamu ajak. Siang itu cukup cerah, aku membalas pesanmu saat kamu bertanya aku sudah sampai kampus atau belum. Aku menjawab bahwa aku sudah di kampus menunggumu di luar karena saat itu prosesi pemindahan tali toga belum selesai. Aku tidak menyiapkan apapun, aku hanya membawa tiga tangkai bunga mawar untukmu. Sebelum adzan dzuhur berkumandang acara hari itu selesai, seluruh wisudawan keluar dari auditorium, keadaan di sana penuh sesak. Aku putuskan untuk jalan memutar dan dengan radarku aku bertemu kamu di depan lift. Pertemuan yang tanpa harus bertanya "di mana". Aku langsung mengulurkan tanganku memberi ucapan selamat dan memberi mawar merah itu untukmu. Kamu menyambut tanganku dengan senyum lebar dan mata sipitmu itu. Kamu langsung bercerita tentang prosesi di dalam tadi dan menggiringku keluar untuk berfoto. Aku tak melihat Bunda - Ayah mu saat itu, katamu sudah duluan pulang. Kamu bersemangat sekali hari itu, aku gugup sekali. Debar-debar jantungku tak karuan. Setelah di luar ternyata tidak ada yang bisa dimintai bantuan untuk mengambil foto kita. Kamu memutuskan untuk wefie saja mengenakan ponselmu. Saat kita asyik wefie ada temanmu yang datang menghampiri memberi ucapan selamat, kamu menyambutnya antusias namun setelah itu kamu justru meminta bantuan dia untuk mengambil foto kita berdua. Saat foto itu diambil kamu berdiri di sebelah kiriku, aku dengan sadar kamu merangkulku untuk pertama kali. Dengan sentuhan yang ragu-ragu kamu merangkulku, aku merasakannya yang menbuat jantungku semakin berdebar kencang dan untuk kali pertama itu foto berdua kita di moment bahagiamu. Setelah puas berfoto kamu berdiri di depanku saling berhadapan di pikuknya orang lalu-lalang, kamu dengan lembut menyentuh pipiku berusaha menyingkirkan kotoran di pipiku. Kedua mata kita bertemu, ada hening seketika, ada rasa hangat di hatiku. Aku bahagia hari itu, sebahagia kamu yang sudah menjadi sarjana.

Hari itu aku bangga sekali melihatmu. Aku tahu perjuangamu menyelesaikan pendidikanmu. Tidak mudah memang menyelesaikan kuliah dengan sembari bekerja. Aku bangga.

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (7)

Empat bulan berlalu, begitu banyak pertanyaan-pertanyaan dalam benakku yang menggantung belum menemukan jawaban.
Empat bulan berlalu, aku pun mulai ingin bercerita ke sana dan ke sini mengenai pertanyaan-pertanyaan yang dengan liar terus ada dalam benakkku. Walau aku tahu jawabannya harus aku yang menemukan tapi aku ingin solusi dari seorang teman.
Aku tipikal orang yang jarang sekali bercerita apalagi kalau sudah urusan asmara, aku lebih banyak mendengarkan orang bercerita ketimbang aku yang bercerita. Namun kali ini aku putuskan untuk bercerita kepada seorang sahabat yang ku percaya.
"Jadi lu udah deket selama 4 bulanan nih?" tanya sahabatku, aku mengangguk lesu.
"Selama 4 bulan ini dia intens ngabarin lu?"
"Iya."
"Pertemanan kalian udah gak wajar."
"Nah itu yang gue maksud. Gue kayaknya udah keburu baper deh sama dia."
"Kalo gue jadi lu, gue juga baper kali. Dia udah nyaman sama lu, buktinya dia intens ngabarin lu."
"Terus?"
"Temen cowok lu kan banyak, ada yang seintens dia ngabarin lu?"
"Gak ada, cuma dia doang. Temen cowok gue emang sejibun tapi ya emang temen biasa doang."
"Lu ngasih-ngasih perhatian ke dia?"
"Ya ngasih sih, abisnya gue gimana yaaa jelasinnya."
"Iya gue paham, trus dia ngasih perhatian balik?"
"Jarang. Gue pernah ngasih perhatian terus dia bilang 'jangan segitunya, aku gak biasa.' . Jleb gak sih lu."
"Aneh juga ya, susah ditebak. Mending lu tanya deh kalian menjalin apa sebenernya."
"Gue nanya duluan?"
"Iyaaaaa."
"Gilaaa, gak lah tengsin gue. Kalau jawabannya enak sih gapapa, kalau jawabannya 'just friend' bisa nangis bombay."
"Lebih cepat lebih baik lu tau perasaan dia ke lu gimana."
"Gue pertimbangkan deh buat tanya."
"Daripada lu bingung sendiri apa jawabannya, jawabannya bukan di gue tapi ada di dia."

Duh, itu solusi yang paling berat yang harus aku jalanin. Aku terus berfikir untuk apakah aku bertanya atau sebaiknya tidak. 
Aku pernah melaksanakan shalat istikharah untuk memilih kamu daripada laki-laki yang sedang dekat denganku juga, Allah kemudian memberi jawaban. Allah jauhkan laki-laki lain itu dan kemudian mendekatkan kamu. Saat ini aku kembali bimbang, Allah harus menjadi tujuanku kembali untuk menemukan kamu.

Hal yang membuat aku penasaran setengah mati adalah postingan-postingan di akun sosial media kamu yang berisi "with you", "with KAMU" . Entah siapa itu. Aku penasaran dan itu menguatkanku untuk bertanya.

"Mie Aceh di sana enak loh." Katamu di chat saat kita sedang membicarakan tentang kuliner
"Iya, kata temen-temenku enak di sana. Aku belum pernah."
"Yaudah nanti kita makan mie aceh itu yaaa."
"Oke."

Percakapan itu hanya wacana. Aku melihat postinganmu di Path update lokasi di warung mie aceh yang kita bicarakan di chat, tentu dengan -KAMU- . Beberapa jam setelah aku lihat postinganmu itu aku mengirimimu chat. "Curang udah ke sana duluan.","Gak kok itu cuma lewat aja ngecek buka atau tutup." katamu memberi penjelasan.

Aku menemukan "KAMU" yang lain lagi di postingan-mu saat check-in di Pizza Hut. Namun kamu bilang kamu tidak ke Pizza Hut, kamu hanya delivery order ke kantormu.

Aku kembali menemukan "KAMU" saat kamu pergi ke Bogor. Lagi kamu bilang "Itu hanya fake biar Path aku rame. Aku emang ke Bogor tapi aku pergi rame-rame sama temen-temen."

Aku iyakan semua pernyataan kamu, karena aku tidak berhak untuk mencemburuimu, tidak berhak untuk mencurigaimu. Sampai suatu hari kamu mengirimi aku pesan yang cukup serius. Ini adalah percakapan serius pertama kita.
"Apa kamu masih ngarepin aku?" Kamu bertanya serius, meskipun hanya melalui chat tapi aku tahu kamu sedang serius.
"Kita biasa aja kan? Tapi kamu beda." Kamu melanjutkan kalimatmu. Aku tahu kemana percakapan ini mengarah.
"Iya maaf mungkin aku terlalu berlebihan. Iya kita biasa saja." Aku membalas, hingga akhirnya kamu berkata "Just friend. Kita sahabatan. Aku masih tahapan seleksi, pilihanku banyak"
Sebuah pernyataan yang sungguh membuat aku sedih dan lega dalam waktu yang bersamaan. Ternyata selama ini perasaan itu hanya tumbuh di satu sisi, hanya di sisiku. Harapan aku yang menyakitiku. Jadi mulai sekarang aku harus pergi membawa semua perasaan yang sudah muncul perlahan dan sudah mulai berkembang. Kamu memberi jawaban sebelum aku berikan pertanyaan.
Aku salah, aku malu, aku ingin pergi.

Kamis, 01 Maret 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (6)

Aku kira komunikasi atau kedekatanku dengan kamu berakhir seiring selesainya open trip ke Gunung Pangrango, ternyata dugaanku salah. Kita (maaf aku menyebut aku dan kamu sebagai kita) masih tetap bertukar kabar melalui chat, walau kita tidak bertemu tapi kita bertemu di chat setiap hari tanpa terputus. Apa saja dibicarakan musik, acara tv atau pertanyaan mendasar seperti "sedang apa","sudah pulang?". Kamu memang suka lama dalam membalas chat, mungkin karena kamu memang sibuk bekerja, tapi selama apapun kamu dipastikan membalas. Setelah tahu kebiasaan kamu yang lama membalas saat sedang bekerja, aku pun mengerjakan hal lain tidak melulu menunggu. Toh, kamu saat senggang atau tidak sibuk membalas pesanku dengan cepat.

Karena kelancaram komunikasi kita, maka perhatian-perhatian kecil sudah mulai agak sering dilontarkan. Dan kamu sudah masuk tahap menggodaku dengan memanggil 'sayang', walau aku tahu itu hanya bercanda tapi aku cukup senang membacanya namun aku belum begitu yakin makanya aku menanggapinya biasa saja. Sampai suatu hari kamu mengirimiku pesan bertanya tentang laki-laki yang sedang dekat denganku. Aku memang sedang dekat dengan laki-laki lain tapi hatiku justru tergerak kepadamu.
"Kenapa emang?" tanyaku saat kamu bertanya tentang laki-laki lain
"Ya gapapa sih, kepo namanya kepengen tahu. Kalau gue tau kan, gue bisa berhenti berharap sama lu." Balasmu ditambahi dengan emoticon sedih. 

Aku kira kamu akan menjauh karena aku menanggapinya biasa saja waktu itu tapi ternyata tidak. Januari, Februari, Maret kita masih terus bertukar kabar. Aku mulai menggunakan hati, aku mulai memberi perhatian. Kamu sering mengirimiku foto di mana kamu berada, foto makanan yang kamu makan, foto apapun. Seolah-olah aku harus turut merasakan walau hanya melalui foto. Salah satu contohnya saat kamu menghadiri undangan pernikahan temanmu, kamu mengirimi aku foto dengan caption "Cowok semua kan?" padahal saat itu aku tidak bertanya, aku tidak mencurigainya pergi bersama wanita.
Perempua mana yang tidak terbawa perasaannya saat ada laki-laki yang begitu detail memberi kabar. Apakah teman seperti itu?

7 Maret 2016 salah satu anggota komunitas PA menikah, pada tanggal ini juga kita bertemu kembali setelah 4 bulan tidak bertemu hanya didekatkan oleh chat. Aku telat datang siang itu dan aku sempat diledek oleh teman-teman karena itu kali pertama mereka melihat aku menggunakan make-up. Kamu tersenyum melihatku, aku malah berfikir 'apa aneh aku berdandan seperti ini?'.
"Diantar siapa?" kamu bertanya
"Diantar Mama tadi." aku menjawab sambil menunduk, kelemahanku adalah tidak bisa mengatur degup jantungku sendiri ketika berhadapan denganmu..
Hari itu kamu beberapa kali mengambil gambarku dengan ponselmu atau dengan ponselku. Disadari atau tidak kita lebih asik berdua, ngobrol ataupun bercanda.

Sudah 4 bulan kita dekat, sudah 4 bulan kita saling berbagi cerita, setelah 4 bulan kita bertemu kembali. Setelah 4 bulan pula begitu banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu, namun belum pernah sampai ke telingaku hanya sampai diujung bibirku. Tertahan.