Satu bulan lebih aku menjalani pengobatan untuk kesembuhanku, berkali aku bolak-balik rumah sakit untuk kontrol jahitan dan lainnya. Satu bulan pula kamu tidak pernah bertanya bagaimana keadaanku dan aku tidak terlalu memikirkan itu, aku kepikiran namun ah sudahlah kesehatanku sendiri jauh lebih penting, walalu aku juga butuh dukungan dari orang-orang terdekat.
Setelah keadaanku sudah lebih baik kamu sempat mengirimiku pesan sekali berkata, "Makanya cepet sembuh nanti kita makan bareng." Aku hanya mengamininya.
Bulan Desember 2016 keadaanku sudah jauh lebih baik, aku sudah berani keluar, berani main, sudah normal kembali. Aku diundang ke acara Talkshow di salah satu kampung swasta di Jakarta Selatan, aku menjadi perwakilan dari komunitas pecinta alam untuk hadir di acara tersebut, karena beberapa anggota komunitas pecinta alam berhalangan hadir. Aku datang bertiga dengan Mba Dewi, Bang Musa dan aku. Ternyata di sana sudah ada Ka Tika juga turut hadir, jadi kami berempat. Acara talkshow ini ternyata seharian penuh. Mba Dewi dan Bang Musa kemudian pamit pulang pukul 12.00 karena harus bekerja. Jadilah aku dan Ka Tika berdua saja. Tak lama setelah session kedua dibuka handphone-ku berbunyi chat masuk dan itu ternyata kamu.
"Share location dong. Aku mau nyusul ke sana. Telat gak?"
"Gak sih, pembicara intinya belum keluar kok."
"Yaudah nanti nyusul, masih di kantor soalnya."
"Oke."
Sekitar 45 menit dari chat terakhir itu, kamu mengirimi aku pesan kembali.
"Udah sampai nih, di mana?"
"Masuk aja. Dari pintu masuk ke kiri."
"Nengok deh ke belakang."
Aku menoleh mencari kamu di antara banyaknya peserta talkshow hari itu, ternyata kamu sudah berdiri di barisan kursiku. Kamu mengambil kursi di sebelah Ka Tika karena memang hanya di sana yang kosong.
"Hai." Sapamu padaku sambil tersenyum.
Sudah lama aku yakinkan hatiku sendiri bahwa aku telah melupakan kamu, tetapi begitu kamu muncul, aku menyangkal semua pernyataan itu di dalam hati. Aku masih menyayangimu.
Suara itu, aku merindukannya. Aku ingin menangis haru tapi aku tahan. Kamu menatapku, seakan menunggu jawaban, tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Aku sibuk mengatur degup jantungku sendiri.
Kamu mengenakan kemeja jeans biru, celana bahan hitam dan jam tangan hitam di lengan kirimu.
Mata itu masih sama, masih membuat aku jatuh hati.
Aku tak banyak berbicara, aku sibuk mendengar para pembicara berbicara topik pembahasaan atau lebih tepanya aku pura-pura sibuk mendengar. Karena jujur saja aku canggung sekali.
Kamu berkali mengajak aku berbicara, menepuk kakiku agar aku menoleh padamu, karena suaramu dan suara mikrofon beradu aku harus mencondongkan badanku ketika berbicara padamu. Kamu mengeluarkan sekotak kue bolu kemudian menarik tas-ku mencoba memasukkannya di sana tetapi tidak muat. Kamu terus saja mengajak aku berbicara, menepuk-nepuk kaki-ku agar aku kembali menoleh, bertanya pertanyaan yang menurutku tidak penting "Tas baru? Beli berapa harganya?". Mungkin Ka Tika yang berada di tengah agak terganggu melihat kita.
"Tadi ke sini naik apa?" kamu bertanya setelah kembali menepuk kakiku
"Gojek. Kenapa?"
"Gapapa, nanti pulang sama siapa?"
"Gak tau. Ya, gojek lagi."
"Bareng elo aja." Sahut ka Tika padamu.
"Dia suruh order dulu." kamu menjawab.
"Iya, aku naik gojek aja." kamu dan ka Tika tertawa karena apa yang aku jawab tidak nyambung, yang aku dengar adalah "Dia suruh order gojek aja."
"Hahahaha, bukan gitu. Maksudnya kamu suruh order ke Sakha dulu kalau mau bareng dia." Ka Tika menjelaskan.
"Oh gitu.. Yaudah aku order via apa nih? Whatsapp atau BBM?"
"Whatsapp aja." kamu menjawab dengan senyum
Acara talkshow itu selesai pukul 17.00 aku, kamu dan Ka Tika memutuskan untuk makan bakso dulu di depan kampus tersebut. Ada warung bakso dan mie ayam, kami mengambil kursi agak belakang. Aku memesan bakso, kamu memesan mie ayam kalau tidak salah. Kamu duduk di depanku, Ka Tika di samping kiriku. Banyak obrolan yang terjadi saat makan itu, aku menceritakan tentang kejadia kecelakaanku, aku menceritakan tentang pekerjaan. Banyak sekali cerita yang kami bagikan bertiga. Kamu terkadang sibuk dengan ponselmu, entah pesan siapa yang kamu balas, aku tidak ingin tahu. Aku mengambil fotomu diam-diam dari tempatku duduk. Hari sudah malam dan kami memutuskan untuk pulang. Kamu beranjak terlebih dahulu untuk membayar meninggalkan tas-mu di meja. Aku bergegas dan melihat tas-mu masih tergeletak maka aku berniat membawanya. Aku bawa tas-mu kemudian kamu sadar aku membawa tas-mu,
"Eh iya tas. Duh. Berat kan tas-nya?"
"Agak berat tapi gak berat banget."
Aku dan kamu keluar menuju motormu, Ka Tika menuju motonya sendiri.
"Tas aku digendong kamu ya di belakang."
"Iya, sini gapapa." Aku mengulurkan tangan untuk mengambil tas kamu, tapi kamu malah memakaikannya untukku.
"Berat gak?"
"Gak kok."
"Pakai peci dulu biar berkah." Katamu memulai ritual sebelum mengenakan helm adalah memakai peci. Aku tertawa.
Langit malam minggu di Selatan Jakarta saat itu gerimis tipis. Tidak membuat basah namun menambah kehangatan pertemuan kita. Setelah sekian lama, ternyata perasaan itu masih sama untuk kamu.
Dengan sedikit ragu, aku beranikan diri untuk berpegangan denganmu di atas motor di bawah gerimis langit Selatan Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar