Salah
satu benda paling menarik di kamarku adalah sebuah seragam SMA yang masih
tergantung rapi dengan balutan plastik di dinding kamarku. Bukan hanya sekedar
seragam SMA biasa tapi seragam SMA hasil kelulusanku tahun 2010 yang penuh
coretan spidol warna-warni. 3 tahun menggantung di dinding dekat gantungan
koleksi tas ku yang berantakan karena terus bertambah sedangkan gantungannya
tak berubah.
Masa-masa paling indah itu masa SMA,
kebanyakan orang mengatakan seperti itu dan aku setuju dengan pernyataan itu.
Putih abu-abu adalah warna paling sakral di masa itu, hampir setiap hari
mengenakan seragam putih abu-abu. Merasa percaya diri mengenakan seragam putih
abu-abu karena itu merupakan suatu identitas tersendiri menjadi seorang anak
SMA. Jujur aku bersekolah di sekolah kejuruan SMK ya setara dengan SMA,
kejuruan yang aku ambil saat SMK adalah Administrasi Perkantoran atau
Sekretaris. Pelajaran yang didapat banyak sekali dari mengurus surat-surat
dinas sampai mengatur jadwal perjalanan seorang pimpinan atau bahkan kerap kali
mendapatkan pelajaran table manner dan beauty class. Ah, kebanyakan wanita
ingin sekali bersolek tapi tidak denganku saat itu. Cuek. Karena jurusanku
sebagian besar diminati oleh perempuan jadi di kelas hanya ada 3 orang jagoan
laki-laki. Faktanya kelas yang dipenuhi perempuan apalagi yang masih terbilang
ABG lebih sulit diatur dan berisik. Kelasku sangat terkenal berisiknya namun
sangat tinggi tingkat solidaritasnya. Tak tahu apa arti solidaritas zaman SMA
itu apa, pernah satu kali satu kelas tak ikut mata pelajaran tambahan MTK dan
dihukum lari keliling lapangan basket 5 kali putaran. Gila. Ya itulah zaman
SMA. Saat dimana lebih asyik main ketimbang belajar, lebih asik ngerumpi
ketimbang denger penjelasan guru, lebih asyik liatin cowok-cowok main basket
ketimbang harus ngeliat buku PR. Realita.
Peraturan demi peraturan lebih
diketatkan pada setiap sekolah tak terlewati di sekolahku dulu. Peraturan
mengenakan seragam putih abu-abu yang penuh dengan aturan, mengenakan kaus kaki
yang tingginya hampir setara dengan kaus kaki pemain sepak bola, atau sepatu
yang harus serba hitam setiap harinya. Jika seragam putih abu-abu sudah tidak
layak dipakai terkadang harus rela digunting oleh guru bimbingan konseling yang
kerap kali merazia kelas per kelas dengan jadwal yang tak tentu. Atau bahkan
ketika datang terlambat gerbang sudah ditutup harus rela dipulangkan dan
menulis nama pada buku besar catatan poin. Semua kenangan masih melekat rapi
dalam ingatanku semasa SMA dulu. Tak selamanya masa SMA itu adem ayem, tenang
dan biasa aja itu justru tak menarik. Ya, kenangan paling indah ya masa-masa
dihukum, masa-masa dimana kebodohan yang dulu dilakukan dan sekarang
ditertawakan. Bodoh. Meskipun tak selalu melulu tentang dihukum tapi sekali dua
kali itu pernah terjadi.
Beranjak ke kelas 3 semakin dewasa
dan semakin rajin belajar. Apa lagi kalau bukan tentang UN yang membuat galau
seluruh siswa/i kelas 3 di seluruh penjuru negeri ini. Masih setia dengan
seragam abu-abu ini, selalu menemani sampai dititik penghujung akhir SMA.
Seragam abu-abu ini menemani saat berangkat dan pulang meski panas atau bahkan
hujan selalu setia dipakai, menjadi saksi saat mendapatkan pelajaran di kelas
dan menjadi saksi saat UN betapa peluh gugupku mengalir lembut saat itu; putih
abu-abu setia menemani. 3 tahun bukan perjalanan yang singkat, itu perjalanan
panjang yang dilalui penuh dengan perjuangan. Saat 3 tahun ditentukan hanya
dalam waktu 4 hari UN itu sangat tidak masuk di akal. Menunggu waktu kelulusan
di depan layar komputer sungguh membuat tidak nafsu makan saat itu, memutuskan
untuk berkumpul di depan sekolah bersama teman-teman lainnya. Dan saat yang
ditunggu tiba ketika aku melihat nama dan nomor pesertaku ada dalam daftar dan
nyatakan lulus. Hanya satu kata LULUS yang ditunggu dengan segala harap. Tangis
dan teriakan bahagia sangat dominan saat itu, pelukan hangat dan sujud syukur
dilakukan. Bahagia. Seperti kebanyakan anak SMA lainnya kelulusan hari itu
dirayakan dengan corat-coret seragam SMA, bukannya aku tidak sayang padamu
seragam putih abu-abu tapi ini wujud kebahagiaanku saat itu. Aku ingin kamu
sedikit memiliki warna lain selain putih dan abu. Puluhan coretan kata lucu,
pesan singkat dan tanda tangan digoreskan di seragamku. Indahnya. Sekarang tiap
kali melihat seragam putih abu-abu yang masih menggantung rasanya ingin kembali
ke masa-masa itu. Terkadang kita ingin
kembali ke masa lalu dimana banyak kebahagiaan terjadi disana tapi kita sendiri
tahu bahwa waktu tidak bisa diulang atau mundur kembali. Yang kita bisa lakukan
hanya mengenang dan belajar dari kejadian masa lalu tersebut.
#CeritaDariKamar #Day4
@eishafitri


Tidak ada komentar:
Posting Komentar