Catatan Domba Betina: Putih Abu-abu

Minggu, 04 Agustus 2013

Putih Abu-abu

 


 
           Salah satu benda paling menarik di kamarku adalah sebuah seragam SMA yang masih tergantung rapi dengan balutan plastik di dinding kamarku. Bukan hanya sekedar seragam SMA biasa tapi seragam SMA hasil kelulusanku tahun 2010 yang penuh coretan spidol warna-warni. 3 tahun menggantung di dinding dekat gantungan koleksi tas ku yang berantakan karena terus bertambah sedangkan gantungannya tak berubah.
            Masa-masa paling indah itu masa SMA, kebanyakan orang mengatakan seperti itu dan aku setuju dengan pernyataan itu. Putih abu-abu adalah warna paling sakral di masa itu, hampir setiap hari mengenakan seragam putih abu-abu. Merasa percaya diri mengenakan seragam putih abu-abu karena itu merupakan suatu identitas tersendiri menjadi seorang anak SMA. Jujur aku bersekolah di sekolah kejuruan SMK ya setara dengan SMA, kejuruan yang aku ambil saat SMK adalah Administrasi Perkantoran atau Sekretaris. Pelajaran yang didapat banyak sekali dari mengurus surat-surat dinas sampai mengatur jadwal perjalanan seorang pimpinan atau bahkan kerap kali mendapatkan pelajaran table manner dan beauty class. Ah, kebanyakan wanita ingin sekali bersolek tapi tidak denganku saat itu. Cuek. Karena jurusanku sebagian besar diminati oleh perempuan jadi di kelas hanya ada 3 orang jagoan laki-laki. Faktanya kelas yang dipenuhi perempuan apalagi yang masih terbilang ABG lebih sulit diatur dan berisik. Kelasku sangat terkenal berisiknya namun sangat tinggi tingkat solidaritasnya. Tak tahu apa arti solidaritas zaman SMA itu apa, pernah satu kali satu kelas tak ikut mata pelajaran tambahan MTK dan dihukum lari keliling lapangan basket 5 kali putaran. Gila. Ya itulah zaman SMA. Saat dimana lebih asyik main ketimbang belajar, lebih asik ngerumpi ketimbang denger penjelasan guru, lebih asyik liatin cowok-cowok main basket ketimbang harus ngeliat buku PR. Realita.
            Peraturan demi peraturan lebih diketatkan pada setiap sekolah tak terlewati di sekolahku dulu. Peraturan mengenakan seragam putih abu-abu yang penuh dengan aturan, mengenakan kaus kaki yang tingginya hampir setara dengan kaus kaki pemain sepak bola, atau sepatu yang harus serba hitam setiap harinya. Jika seragam putih abu-abu sudah tidak layak dipakai terkadang harus rela digunting oleh guru bimbingan konseling yang kerap kali merazia kelas per kelas dengan jadwal yang tak tentu. Atau bahkan ketika datang terlambat gerbang sudah ditutup harus rela dipulangkan dan menulis nama pada buku besar catatan poin. Semua kenangan masih melekat rapi dalam ingatanku semasa SMA dulu. Tak selamanya masa SMA itu adem ayem, tenang dan biasa aja itu justru tak menarik. Ya, kenangan paling indah ya masa-masa dihukum, masa-masa dimana kebodohan yang dulu dilakukan dan sekarang ditertawakan. Bodoh. Meskipun tak selalu melulu tentang dihukum tapi sekali dua kali itu pernah terjadi.
            Beranjak ke kelas 3 semakin dewasa dan semakin rajin belajar. Apa lagi kalau bukan tentang UN yang membuat galau seluruh siswa/i kelas 3 di seluruh penjuru negeri ini. Masih setia dengan seragam abu-abu ini, selalu menemani sampai dititik penghujung akhir SMA. Seragam abu-abu ini menemani saat berangkat dan pulang meski panas atau bahkan hujan selalu setia dipakai, menjadi saksi saat mendapatkan pelajaran di kelas dan menjadi saksi saat UN betapa peluh gugupku mengalir lembut saat itu; putih abu-abu setia menemani. 3 tahun bukan perjalanan yang singkat, itu perjalanan panjang yang dilalui penuh dengan perjuangan. Saat 3 tahun ditentukan hanya dalam waktu 4 hari UN itu sangat tidak masuk di akal. Menunggu waktu kelulusan di depan layar komputer sungguh membuat tidak nafsu makan saat itu, memutuskan untuk berkumpul di depan sekolah bersama teman-teman lainnya. Dan saat yang ditunggu tiba ketika aku melihat nama dan nomor pesertaku ada dalam daftar dan nyatakan lulus. Hanya satu kata LULUS yang ditunggu dengan segala harap. Tangis dan teriakan bahagia sangat dominan saat itu, pelukan hangat dan sujud syukur dilakukan. Bahagia. Seperti kebanyakan anak SMA lainnya kelulusan hari itu dirayakan dengan corat-coret seragam SMA, bukannya aku tidak sayang padamu seragam putih abu-abu tapi ini wujud kebahagiaanku saat itu. Aku ingin kamu sedikit memiliki warna lain selain putih dan abu. Puluhan coretan kata lucu, pesan singkat dan tanda tangan digoreskan di seragamku. Indahnya. Sekarang tiap kali melihat seragam putih abu-abu yang masih menggantung rasanya ingin kembali ke masa-masa itu. Terkadang kita ingin kembali ke masa lalu dimana banyak kebahagiaan terjadi disana tapi kita sendiri tahu bahwa waktu tidak bisa diulang atau mundur kembali. Yang kita bisa lakukan hanya mengenang dan belajar dari kejadian masa lalu tersebut.





#CeritaDariKamar #Day4
@eishafitri


Tidak ada komentar:

Posting Komentar