Catatan Domba Betina: Oktober 2013

Rabu, 30 Oktober 2013

Perbedaan yang membuat kita SATU II


Dua hari setelah acara marathon film di rumah Lala, Tian mengirimi aku pesan teks yang berisi bahwa ia mengajakku makan malam bersama keluarganya. Aku sangat terkejut membaca pesan itu, apa yang harus aku persiapkan untuk bertemu kedua orang tua dan adiknya. Tian berkata waktu itu “apa adanya dirimu saja. Cukup.”
Sesuai dengan janji yang ia katakan di pesan teks tersebut bahwa ia akan menjemputku pukul 18.30 setelah magrib. Usai melaksanakan ibadah 3 rakaat aku bersiap karena Tian sudah dalam perjalanan menjemputku. Tepat waktu, ya dia salah satu laki-laki yang selalu tepat waktu. Aku dan dia tak membuang waktu banyak langsung menuju rumah Tian, karena makan malam yang dijanjikan pukul 19.30. Syukur tidak terlambat malam itu. Ibu Tian yang membukakan pintu malam itu diiringi senyum manisnya, mungkin beliau agak terkejut karena aku datang mengenakan jilbab. Tak berapa lama ayah Tian keluar mempersilahkan aku masuk dan duduk di ruangan keluarga, ruangan dimana mereka menghabiskan waktu menonton televisi bersama. Adiknya Tian pun ikut bersama disana, seperti biasa seorang adik terkadang bersikap dingin terhadap orang baru yang masuk dalam keluarganya. Aku merasakan hal itu, adik Tian bersikap agak dingin.
Seperti biasa pertemuan pertama pasti diawali dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar lalu diteruskan dengan pertanyaan agak mengintrogasi. Selalu seperti itu. Malam itu kedua orang tua Tian memang banyak bertanya namun suasana yang diciptakan tidak membuat tegang, jadi aku masih dengan santai namun sopan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.
“Ayo kebanyakan ngobrol kapan kita makannya nih.” Ibu Tian berkata
“Oh, iya. Papa sampe keasyikan ngobrol.”
“Ayo! Kita ke meja makan. Kita makan malam bersama.”
            Aku duduk di sebelah Tian, di depanku ibu Tian dan di depan Tian adiknya. Ayah Tian sebagai kepala keluarga memimpin makan malam. Mereka berdo’a dengan cara mereka dan aku berdo’a dengan caraku.
“Ian ini.....” aku berkata kepada Tian dengan berbisik namun belum sempat aku meneruskan kalimatku Tian sudah menjawab seakan tahu apa yang ingin aku katakan
“halal kok.” Bisiknya di telingaku
Tidak sekali atau dua kali aku diajak makan bersama keluarganya, entah lah ini sudah kali keberapa aku makan bersama keluarga Tian. Namun malam ini berbeda dari malam pertama aku makan malam bersama keluarganya. Seperti biasa setelah makan dan membersihkan meja makan aku duduk di ruang tamu, orang tua Tian sudah izin untuk naik ke atas, sementara Tian masih berada di ruang tengah bersama adiknya. Aku sedikit mendengar apa yang Tian bicarakan dengan adiknya, karena ruangan depan dan ruang tengah tak begitu jauh jaraknya ditambah suara adiknya agak keras.
“Ka, lo yakin mau serius sama cewek itu?” Tanya adiknya
“Kenapa nanya gitu?”
“Ka, dia beda sama kita.”
“Kalau beda kenapa? Salah?” Tian tahu dengan pasti yangdikatakan adiknya itu tentang perbedaan agama
“Ka, agama kita kuat. Lo gak boleh ninggalin agama lo demi dia.”
“Hey, siapa yang mau ninggalin agama kita. Gue bilang jangan bahas ini saat ada dia. Mama Papa juga gak pernah bahas kok.”
“Iya awalnya Mama Papa setuju tapi gue yakin mereka juga gak akan setuju pada akhirnya.”
“Ah, ngomong apa sih lo dek!”
“Gue gak suka ka lo pacaran sama gadis berjilbab itu.”
“Ssstt... Jangan kenceng-kenceng kalo dia denger gimana.”
“Biar aja. Kalopun dia mau lepas jilbabnya dan masuk agama kita gara-gara cinta sama lo. Gue yakin ketika dia udah gak cinta sama lo, lo bakal ditinggalin gitu aja. Agama aja bisa dia tinggalin, gimana lo ka yang Cuma manusia biasa.”
“Tutup mulut lo dek!” Suara Tian meninggi. Aku mendengar semua percakapan Tian dan adiknya. Aku sakit sekali mendengarnya. Mataku berkaca sungguh sulit menahan bulir air yang akan keluar dari sudut mataku. Dadaku sesak. Aku segera mengambil tas dan beranjak menuju pintu dan keluar rumah Tian tanpa pamit. Tuhan, mengapa masih ada orang yang tidak bisa menerima perbedaan ini. Aku terus berjalan di halaman menuju pagar rumah Tian tak peduli gerimis turun, Tian setelah percakapan dengan adiknya langsung pergi ke ruang depan  dan mendapatkan aku tak ada di ruang depan. Dia berlari ke halaman depan melihatku keluar dengan tergesa, dia terus mengejarku hingga akhirnya ia meraih tanganku. Aku tak sempat menyeka air mataku karena tanganku sudah ia genggam. Aku tak menoleh ke arahnya, aku hanya menunduk. Dia menarik bahuku halus hingga kami saling berhadapan namun aku tetap menunduk.
“Maafin ucapan adikku. Aku tahu kamu denger semua makanya kamu langsung pergi.”
“......” Aku masih menunduk dan menangis, dia masih memegangi kedua bahu ku
“Lihat mataku, aku mohon.” Akhirnya aku menatap matanya
“Aku gak suka lihat kamu nangis.” Dia melanjutkan kalimatnya sambil menghapus air mataku
“Kita beda Ian.” Aku membuka suara dengan lirih
“Kita sama.”
“Beda. Kata-kata adikmu menyadarkan aku bahwa kita memang benar-benar beda.”
“Denger aku. Tuhan Cuma ada satu di dunia ini. Cuma cara kita menyembah saja yang beda. Kita sama-sama makhluk ciptaan Tuhan. Gak ada yang beda.”
“Ian, agama itu sesuatu yang sakral. Bagi keluargamu agamamu itu penting, begitu juga bagi keluargaku agama yang aku percaya itu penting. Bahkan untuk menikah di negara ini saja sulit jika kita beda agama. Aku gak bisa deket lagi sama kamu.”
“Aku sayang kamu. No matter what.” Dia langsung memelukku. Pelukan hangat yang tak pernah aku rasakan sebelumnya dari dia.
“Kamu tahu magnet kan?” Tanya dia sambil melepaskan pelukannya
“Tahu. Apa hubungannya dengan kita?” Kataku heran
“Magnet punya 2 buah kutub yang berbeda. Jika didekatkan kutub yang berbeda mereka baru bisa nempel. Sama kayak kita karena kita beda makanya kita dekat. Ngerti yang aku bilang?”
Aku menggangguk pasti. Dia tersenyum sambil mengelus lembut kepalaku.
“Kita jalani apa yang kita yakini.” Gerimis malam ini menjadi saksi betapa perbedaan jangan dijadikan alasan sebuah perpisahan.


-@eishafitri-

Minggu, 13 Oktober 2013

Perbedaan yang Membuat Kita SATU


Aku punya teman dekat laki-laki (lagi) . Ya, hanya sebatas teman saja tak lebih. Dia laki-laki yang sangat berbeda, bukan dari agama tapi maksudku ia berbeda dari laki-laki lain, ia tak seperti laki-laki lain yang pernah aku kenal sebelumnya. Dia sangat menghormatiku, dia sangat memperhatikanku, dia sangat melindungiku, aku mulai merasa nyaman di dekatnya. Aku dan dia memang berbeda agama, Tuhan hanya satu tapi hanya saja aku dan dia percaya kepada kepercayaan yang berbeda.
Ia menggenggam rosario merapalkan do’a dihadapan Tuhannya, aku melihatnya dari pintu salah satu gereja di Jakarta. Menunggu dia berdo’a hingga selesai, sejak aku mengenalnya itu bukan salah satu hal yang tabu lagi. Terkadang dia juga menemaniku beribadah di masjid, melihatku sujud dihadapan Tuhanku. Sebuah toleransi agama yang indah. Aku menggenggam tasbih dan dia menggenggam rosario.
Siang itu aku menemaninya berdo’a di gereja seperti biasa, tak terasa kumandang adzan dzuhur memanggilku yang sedang duduk sambil membaca novel terbaru di halaman gereja. Suara adzan memang terdengar samar namun aku masih bisa mendengar, aku lirik sekitarku dan melihat jam tangan “sudah waktunya sholat.” Ucapku. Tapi dia nampaknya belum selesai berdo’a, aku menutup novelku dan beranjak dari kursi di taman itu. Aku berjalan keluar taman gereja itu menuju masjid yang letaknya tak jauh dari gereja tempat dimana dia berdo’a tanpa memberi dia kabar, sungguh aku tak mau mengganggu ibadahnya.
Aku tunaikan ibadah sholat dzuhur ku di masjid  indah itu, ornamen yang sangat indah, catnya putih bersih dan banyak kaligrafi yang sungguh membuat aku selalu berucap “subhanallah. Maha Suci Allah.” . 4 rakaat telah aku kerjakan, lalu aku menengadahkan kedua tanganku lalu berdoa. Terasa seperti ada yang memperhatikan gerak-gerikku, aku menoleh ke belakang. Dia, laki-laki itu sedang duduk di halaman depan masjid memperhatikan ke arahku seraya tersenyum. Aku rapikan jilbabku, lalu keluar menghampirinya.
“Kamu udah selesai?” tanya ku
“Udah dong, kalo belum aku gak disini. Berdo’a apa kamu? Serius banget kayaknya.”
“hehehe. Ada deh.”
“Do’ain aku gak?”
“Aku berdo’a yang baik-baik.”
“sama dong! Aku juga tadi berdoa yang baik-baik.”
“kamu ikutin aja. Yuk, ah.” Kataku sambil berjalan keluar dari halaman masjid.
“Kok kamu tau aku di masjid?”
“Iya, tadi aku nanya satpam yang di depan gereja katanya kamu tadi sempat nanya dia ya letak masjid dimana. Kamu udah makan?”
“belum.”
“Kita makan siang dulu yuk.”
                                                            ***

“Rambutmu kelihatan tuh.” Sambil menunjuk beberapa helai rambut poni yang keluar dari jilbabku
“Ah, iya. Makasih.” Kataku sambil membetulkannya dengan jari tanganku.
“Ini rumahnya kan?” tanyanya dia padaku, yang siang itu kami berdua membuat janji dengan teman-teman lain untuk berkumpul menonton dvd bersama.
“Iya bener ini kok alamatnya.”
“Tapi kok sepi ya?”
“Ya mungkin anak-anak yang lain belum datang, maklum Indonesia.”
“Telat?? Kenapa hal buruk seperti telat dibudayakan sih.”
“hahaha. Yaudah kita coba tekan bel-nya aja.”
“oke.”
            Aku memencet bel 2 kali dan akhirnya dibukakan.
“Cari siapa ya?” tanya pekerja rumah tangga di rumah itu
“Kita cari Lala mba. Ada?” Dia menjawab
“Oh temennya mba Lala. Sudah ditunggu, silahkan masuk.”
“Terima kasih mba.”
“Motornya dimasukin garasi saja mas-nya disini.”
“Iya Mba.” Dia menjawab lagi.
           Aku menunggu dia sampai selesai parkir motornya di garasi. Sebelum akhirnya masuk bersama ke rumah Lala.
“Langsung ke atas saja mas dan mbak-nya.” Ucap pekerja rumah tangga itu
“Iya mba.” Jawabnya
            Aku dan dia menaiki anak tangga
“La, ini gue Tian udah sampe nih.” Katanya sambil setengah berteriak
“Hussh, kamu di rumah orang teriak-teriak.” Kataku
“Abis, tamu dateng gak disambut.” Gerutunya
“Hei, kalian berdua sampe juga di rumah gue.” Sapa Lala dengan mengejutkan. Panjang umur sekali, abis diomongin muncul tiba-tiba.
“Hai La..” Sapaku sambil cipika-cipiki
“Halo, Lala..” Dia menyapa sambil melambaikan tangan
“Susah gak cari rumah gue?” tanya Lala
“Ah, daerah sini gue paham kok La.” Dia menjawab
“Anak-anak belum dateng?” Tanyaku
“Bentar lagi kok. Lagi pada di mini market depan komplek.”
“Ngapain? Emang gak ada snack disini?” Tanyanya cuek, aku sedikit menyenggol lengannya
“Hahahaha. Ada kok Tian snack. Cuma gak ada soft drinknya, gue lupa beli. Makanya gue titip anak-anak.” Tawa Lala pecah.
            Aku dan Dia duduk di sofa tepat didepan tv beserta home theather di lantai 2 rumah Lala. Tak lama teman lain sampai dan sebelum acara “marathon film” dimulai diawali dengan acara basa-basi alias menanyakan pertanyaan-pertanyaan dasar. “udah lama sampe?” dan sebagainya.
“Jangan ditempatin ya.” Kataku sebelum meninggalkan tempat duduk
“Iya nyonya Christian.” Celetuk salah seorang teman. Suara ramai ledekan pun pecah.
“Udah, udah. Kita mau nonton apa nih?” Tanyanya mencoba mengalihkan pembicaraan
“Film romance aja ya.” Pinta salah satu teman perempuan. Setelah meminta film romance terdengar beberapa suara beda pendapat. Antara romance, komedi dan horor. Sebuah hal yang biasa setiap kali ingin menonton film bersama. Setiap orang punya selera masing-masing, dan kita gak bisa memaksakan selera orang lain untuk selalu sama dengan selera kita. Saat itu aku tak ikut berdebat, aku hanya mendengarkan karena aku membantu Lala menyiapkan minuman di meja yang tak jauh dari tempat dimana kita semua akan menonton. Bagiku film apa saja tak masalah dan akhirnya suara perdebatan itu mulai hilang. Ya, akhirnya memutuskan untuk mengawali film pertama dengan film drama romance. Bukankah kita harus menghormati pendapat atau selera orang lain? sebuah toleransi yang luar biasa.
            Suara film telah dimulai sudah terdengar, aku dan Lala membawa beberapa toples snack ringan menunju sofa empuk dan mulai bergabung.
“Aku udah nonton film ini belum sih?” Tanya Tian padaku
“500 days of summer??” Iya film yang diputar sekarang 500 days of summer. Film keluaran beberapa tahun silam
“Belum.” Jawabku kemudian
“Yakin??” Tanyanya lagi
“Iya, belum.” Jawabku memastikan
“Ian, kok lo nanya udah nonton film ini apa belum sih?” Tanya Hadi, salah seorang teman
“Iya soalnya setiap film gue tonton selalu bareng sama dia.” Kata Tian sambil melirik dan menyenggol lenganku.
“wuuuuuuu..” Teriakan-teriakan seperti anak SMA muncul lagi.
“Udah, silent please. Filmnya udah mulai.” Kataku sambil meletakan jari telunjuk di ujung bibir.
                                                            ***

            3 judul film sudah kami tonton semua. Teman laki-laki semuanya tertidur di sofa, bekas makanan berantakan dimana-mana. Aku beranjak dari sofa, namun Tian tertidur di bahu ku, aku angkat kepalanya dengan hati-hati mengambil bantal, mencoba mengganti bahuku dengan sebuah bantal. Aku mulai membereskan bekas makanan yang berantakan dan gelas-gelas yang sudah kosong isinya.
“Udah biar si mbak aja yang beresin.” Ucap Lala
“Gak usah La, biar kita-kita aja. Kasihan pembantu lu udah dapet kerjaan banyak.” Jawab teman perempuanku yang lain. Aku setuju namun hanya menganggukan kepala.
            Pekerjaan akan terasa ringan apabila dikerjakan bersama-sama. Pepatah kuno itu memang benar adanya.
“Lu udah jadian ya sama Tian?” Tanya teman perempuanku saat kami sedang asyik mencuci gelas dan pirin kosong di dapur rumah Lala
“......” Aku tak menjawab hanya tersenyum
“Cieeee, dia beneran udah nembak lu?”
“Nembak??”
“Iya nembak, ‘mau jadi pacar gue?’ kayak gitu.”
“Gak.”
“Loh??”
 “Hmm, gini ya. Menurut gue pacaran orang dewasa itu gak pake tembak menembak segala. Kayak anak SMP deh lo.”
“Loh, gimana caranya kita bisa tau kalo dia beneran suka, eh maksud gue sayang sama kita?”
“Lo kan udah dewasa, lo tau pasti cara bedain orang yang perhatian sama kita. Tuhan juga udah kasih kita hati supaya kita juga bisa merasakan hal seperti cinta.”
“Maksudnya?”
“Misalnya dia tiap hari anter jemput lo, nganter kesana kemari, telponin lo tiap waktu karena khawatir, sms-sms romantis, jalan bareng, berbagi cerita, dsb.”
“Dan lo ngerespon itu?”
“Iya gue respon. Karena ya gue sayang juga sama dia.”
“Dia bilang sayang sama lo?”
“He said everything. Love, miss, and a thousand sweet words.”
“Kalo Cuma kata-kata sih gampang. Lo gak takut di PHP-in?”
“Gak sama sekali. Karena gue sayang makanya gue yakin. Lagipula kata-kata yang dia ucapkan sesuai kok sama perilaku yang dia buat ke gue.”
“Tapi kan dia gak nembak lu.”
“Kenapa harus nunggu ada yang nembak dulu sih? Kalo sama-sama cocok ya jalanin aja. Ngalir aja.”’
“Berarti itu HTS.”
“HTS itu suka dipake sama oknum playboy, jadi kalo lagi ke gap jalan sama cewek lain bilangnya ‘gak ada hubungan apa-apa.”
“Oh, TTM?”
“Bukan. TTM itu semacan ada komitmen diawal kalo kita tetap teman tapi masih bisa pacaran sama orang lain. Gak jauh dari HTS-lah.”
“Kalo nanti lo digantungin gimana?”
“Kalau sudah saling menyadari sama-sama sayang, gue rasa gak ada istilah gantung-menggantung. Ini kan soal hati bukan jemuran.”
“Hahaha. Bisa aja lo. Kalo tiba-tiba Tian ninggalin lo gimana?”
“Semua pasti ada resikonya. Orang pacaran juga pasti ada potensi buat putus kan? Dan cara putusnya macem-macem. Ada yang ditinggalin gitu aja, ada yang baik-baik, ada yang ngilang. Ya intinya kalo gak mau patah hati ya gak usah jatuh cinta.”
“Gilaaaaa. Kata-kata lo kebanyakan baca novel. Tapi gue setuju sih. Trus kalian kan gak pake ritual nembak. Gimana cara ngitung anniversary-nya? Udah berapa tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, detik?
“Hahahahaha... Lo mau pacaran atau mau jualan kalender. Masih pacaran mah gak usah itung kuantitas waktu yang penting tuh kualitas hubungan. Kalo mau itung anniv sih nanti aja pas lo udah nikah, jelas kan tanggalnya?”
“Hahahaha... bener juga kata-kata lo. Duh, lo lucu banget deh. Jadi kalian jalanin dulu nih?”
“Iya, jalanin dulu. Sejauh ini sih cocok-cocok aja. Ya, seperti yang gue bilang tadi semua pasti ada resikonya.”
“Goodluck ya. Gue do’ain yang terbaik untuk lo berdua.”
“Amin.”
            Sungguh yang aku takutkan bukan Tian tidak mengungkapkan perasaannya, sungguh aku sangat yakin Tian menyayangiku dengan tulusnya. Namun yang aku ragukan adalah tentang perbedaan agama aku dan dia. Itu saja.
                        


-bersambung.....
@eishafitri