Dua
hari setelah acara marathon film di rumah Lala, Tian mengirimi aku pesan teks
yang berisi bahwa ia mengajakku makan malam bersama keluarganya. Aku sangat
terkejut membaca pesan itu, apa yang harus aku persiapkan untuk bertemu kedua
orang tua dan adiknya. Tian berkata waktu itu “apa adanya dirimu saja. Cukup.”
Sesuai dengan janji yang ia katakan di pesan teks
tersebut bahwa ia akan menjemputku pukul 18.30 setelah magrib. Usai
melaksanakan ibadah 3 rakaat aku bersiap karena Tian sudah dalam perjalanan
menjemputku. Tepat waktu, ya dia salah satu laki-laki yang selalu tepat waktu.
Aku dan dia tak membuang waktu banyak langsung menuju rumah Tian, karena makan
malam yang dijanjikan pukul 19.30. Syukur tidak terlambat malam itu. Ibu Tian
yang membukakan pintu malam itu diiringi senyum manisnya, mungkin beliau agak
terkejut karena aku datang mengenakan jilbab. Tak berapa lama ayah Tian keluar
mempersilahkan aku masuk dan duduk di ruangan keluarga, ruangan dimana mereka menghabiskan
waktu menonton televisi bersama. Adiknya Tian pun ikut bersama disana, seperti
biasa seorang adik terkadang bersikap dingin terhadap orang baru yang masuk
dalam keluarganya. Aku merasakan hal itu, adik Tian bersikap agak dingin.
Seperti biasa pertemuan pertama pasti diawali dengan
pertanyaan-pertanyaan mendasar lalu diteruskan dengan pertanyaan agak
mengintrogasi. Selalu seperti itu. Malam itu kedua orang tua Tian memang banyak
bertanya namun suasana yang diciptakan tidak membuat tegang, jadi aku masih
dengan santai namun sopan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.
“Ayo
kebanyakan ngobrol kapan kita makannya nih.” Ibu Tian berkata
“Oh,
iya. Papa sampe keasyikan ngobrol.”
“Ayo!
Kita ke meja makan. Kita makan malam bersama.”
Aku duduk di sebelah Tian, di
depanku ibu Tian dan di depan Tian adiknya. Ayah Tian sebagai kepala keluarga
memimpin makan malam. Mereka berdo’a dengan cara mereka dan aku berdo’a dengan
caraku.
“Ian
ini.....” aku berkata kepada Tian dengan berbisik namun belum sempat aku meneruskan
kalimatku Tian sudah menjawab seakan tahu apa yang ingin aku katakan
“halal
kok.” Bisiknya di telingaku
Tidak sekali atau dua kali aku diajak makan bersama
keluarganya, entah lah ini sudah kali keberapa aku makan bersama keluarga Tian.
Namun malam ini berbeda dari malam pertama aku makan malam bersama keluarganya.
Seperti biasa setelah makan dan membersihkan meja makan aku duduk di ruang
tamu, orang tua Tian sudah izin untuk naik ke atas, sementara Tian masih berada
di ruang tengah bersama adiknya. Aku sedikit mendengar apa yang Tian bicarakan
dengan adiknya, karena ruangan depan dan ruang tengah tak begitu jauh jaraknya
ditambah suara adiknya agak keras.
“Ka,
lo yakin mau serius sama cewek itu?” Tanya adiknya
“Kenapa
nanya gitu?”
“Ka,
dia beda sama kita.”
“Kalau
beda kenapa? Salah?” Tian tahu dengan pasti yangdikatakan adiknya itu tentang
perbedaan agama
“Ka,
agama kita kuat. Lo gak boleh ninggalin agama lo demi dia.”
“Hey,
siapa yang mau ninggalin agama kita. Gue bilang jangan bahas ini saat ada dia.
Mama Papa juga gak pernah bahas kok.”
“Iya
awalnya Mama Papa setuju tapi gue yakin mereka juga gak akan setuju pada
akhirnya.”
“Ah,
ngomong apa sih lo dek!”
“Gue
gak suka ka lo pacaran sama gadis berjilbab itu.”
“Ssstt...
Jangan kenceng-kenceng kalo dia denger gimana.”
“Biar
aja. Kalopun dia mau lepas jilbabnya dan masuk agama kita gara-gara cinta sama
lo. Gue yakin ketika dia udah gak cinta sama lo, lo bakal ditinggalin gitu aja.
Agama aja bisa dia tinggalin, gimana lo ka yang Cuma manusia biasa.”
“Tutup
mulut lo dek!” Suara Tian meninggi. Aku mendengar semua percakapan Tian dan
adiknya. Aku sakit sekali mendengarnya. Mataku berkaca sungguh sulit menahan
bulir air yang akan keluar dari sudut mataku. Dadaku sesak. Aku segera
mengambil tas dan beranjak menuju pintu dan keluar rumah Tian tanpa pamit.
Tuhan, mengapa masih ada orang yang tidak bisa menerima perbedaan ini. Aku
terus berjalan di halaman menuju pagar rumah Tian tak peduli gerimis turun,
Tian setelah percakapan dengan adiknya langsung pergi ke ruang depan dan mendapatkan aku tak ada di ruang depan.
Dia berlari ke halaman depan melihatku keluar dengan tergesa, dia terus
mengejarku hingga akhirnya ia meraih tanganku. Aku tak sempat menyeka air
mataku karena tanganku sudah ia genggam. Aku tak menoleh ke arahnya, aku hanya
menunduk. Dia menarik bahuku halus hingga kami saling berhadapan namun aku
tetap menunduk.
“Maafin
ucapan adikku. Aku tahu kamu denger semua makanya kamu langsung pergi.”
“......”
Aku masih menunduk dan menangis, dia masih memegangi kedua bahu ku
“Lihat
mataku, aku mohon.” Akhirnya aku menatap matanya
“Aku
gak suka lihat kamu nangis.” Dia melanjutkan kalimatnya sambil menghapus air
mataku
“Kita
beda Ian.” Aku membuka suara dengan lirih
“Kita
sama.”
“Beda.
Kata-kata adikmu menyadarkan aku bahwa kita memang benar-benar beda.”
“Denger
aku. Tuhan Cuma ada satu di dunia ini. Cuma cara kita menyembah saja yang beda.
Kita sama-sama makhluk ciptaan Tuhan. Gak ada yang beda.”
“Ian,
agama itu sesuatu yang sakral. Bagi keluargamu agamamu itu penting, begitu juga
bagi keluargaku agama yang aku percaya itu penting. Bahkan untuk menikah di
negara ini saja sulit jika kita beda agama. Aku gak bisa deket lagi sama kamu.”
“Aku
sayang kamu. No matter what.” Dia langsung memelukku. Pelukan hangat yang tak
pernah aku rasakan sebelumnya dari dia.
“Kamu
tahu magnet kan?” Tanya dia sambil melepaskan pelukannya
“Tahu.
Apa hubungannya dengan kita?” Kataku heran
“Magnet
punya 2 buah kutub yang berbeda. Jika didekatkan kutub yang berbeda mereka baru
bisa nempel. Sama kayak kita karena kita beda makanya kita dekat. Ngerti yang
aku bilang?”
Aku
menggangguk pasti. Dia tersenyum sambil mengelus lembut kepalaku.
“Kita
jalani apa yang kita yakini.” Gerimis malam ini menjadi saksi betapa perbedaan
jangan dijadikan alasan sebuah perpisahan.
-@eishafitri-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar