Catatan Domba Betina: Oktober 2018

Jumat, 12 Oktober 2018

Cerita Perjalanan : Pertama Kali ke Bali

Dulu kalau diajak liburan ke Bali gue selalu jawab "Gak mau ah, mau ke Lombok aja." setelah ke Lombok ada yang nanya lagi "Masa udah ke Lombok, gak ke Bali?" dengan angkuh gue menjawab "Mau sih ke Bali, tapi ke Ubud aja. Gamau pantai-pantai." . Gue mengatakan itu di saat gue belum sama sekali pergi ke Bali dan gue hanya melihat Bali dari media sosial. Itu sama aja kayak orang ditanya "Kok lo gak doyan makanan itu?","ya gak doyan.","Lo udah coba emang?","Belum coba sih tapi pasti gak enak.". Nah! itu sama banget kayak gue ngomong ke Bali tapi gak mau ke pantai padahal gue belum pernah ngerasain pantai Bali secara langsung kayak gimana. Hahahaha.

Di bulan Juli 2018 ini gue ada kesempatan liburan ke Bali bareng Mama dan adik gue. Setelah minggu malam gue habiskan menonton konser Sheila on 7 di Bintaro Xchange, pulang dari sana gue langsung bersiap untuk packing karena besok malam gue harus terbang ke Bali.

Senin, 9 Juli 2018.
Setelah maghrib gue berangkat ke Bandara Internasional Soekarno Hatta, kali ini gue terbang pakai Air Asia dengan penerbangan pukul 22.35 WIB. Malam banget yaa, mungkin itu adalah penerbangan terakhir hari itu. Setelah check in kemudian gue langsung menunggu di tempat boarding cukup lumayan lama akhirnya gue take off malam itu. Gue gak suka terbang malam, gue gak bisa liat awan. Huhuhu. Jakarta - Bali hanya memakan waktu sekitar 2 jam dengan pesawat (gue kayaknya harus cium tangan ke penemu pesawat. Canggih! 2 jam aja udah pindah pulau. haha)

Selasa, 10 Juli 2018
Pukul 2 dini hari waktu Bali (WITA) gue tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Sepi banget, mungkin ramai dari rombongan gue doang kali ya. Bandara I Gusti Ngurah Rai ini bagus banget, baru sampai udah berasa Bali banget karena gambar pemandangan yang diletakan di beberapa spot itu bagus banget. Setelah memuaskan hasrat berfoto-foto di Bandara kemudian gue dan rombongan tak tahu arah mau kemana.
Fyi, gue ke Bali ini pakai jasa travel dan jujur aja sih agak kecewa di awal dengan travel ini. Bayangin gue sampai bandara jam 2 pagi dan harus nunggu jam 6 pagi untuk dijemput. Alhasil dini hari itu gue tidur menggembel di lantai bandara. Gue dan adik gue sih gak masalah ya tidur di lantai tanpa alas gitu. Nah, mama gue ini yang kasihan. Akhirnya Mama tidur di bangku tunggu.

Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali - 10 Juli 2018
Waktu sholat subuh pun tiba gue menunaikan ibadah sholat subuh di mushola bandara dan setelah sholat gue bersih-bersih seperti gosok gigi dan cuci muka karena gak mungkin juga mandi di toilet bandara, bisa diamuk. Hahahaha.
Pukul 6 pagi waktu setempat (karena Bali termasuk WITA bukan WIB) bus travel belum juga menjemput dan seluruh rombongan sudah mulai gelisah sekaligus lelah.
Pukul 7 pagi bus datang dan mengangkut seluruh peserta rombongan untuk sarapan pagi, yang bisa dikatakan itu bukan sarapan pagi melainkan brunch (breakfast+lunch) karena kalau dibilang sarapan sudah siang, dibilang makan siang belum waktunya.
Bus melaju ke daerah Bedugul atau Kabupaten Tabanan yang kurang lebih memakan waktu sekitar 1 jam. Daerah Tabanan ini cuacanya seperti di puncak karena memang merupakan daerah dataran tinggi jadi udaranya pun cukup dingin. Perjalanan kali ini dipandu oleh seorang gadis Bali dengan kulit eksotis serta berpakaian lengkap khas Bali, gue memanggilnya Mbok karena panggilan perempuan di Bali memang Mbok sedangkan laki-laki dipanggil Bli.
Sepanjang perjalanan rombongan diperkenalkan tentang daerah Bali, pembagian daerah atau kabupatennya dan jujur saja gue lupa bagian-bagian daerah Bali ini. (Boleh silakan google sendiri kalau penasaran)

Tiba jugalah gue di Rumah Makan Saras di Jl. Raya Bedugul, Kabupaten Tabanan. Rumah makan yang terletak dipinggir jalan yang kalau kata gue mirip banget sama jalanan di puncak Bogor. Di sinilah gue menyantap sarapan gue yang sudah gue tahan rasa laparnya dari pagi buta. Hehehehe.

Rumah Makan Saras. Jl. Raya Bedugul, Kab. Tabanan Bali


Setelah sarapan gue dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan ke destinasi wisata pertama yaitu wisata foto Wanagiri Hidden Hill. Spot foto yang lagi kekinian ini (yang menurut gue di kota-kota wisata banyak banget) berada di pinggir jalan. Ada beberapa spot foto dengan latar pemandangan Bali yang menakjubkan gunung dan danau. Pas banget hari itu cerah dan dengan membayar tiket masuk sebesar Rp 10.000,- gue udah puas bisa foto di beberapa spot fotonya, ya walau harus antri sih.

Ayunan gantung merupakan salah satu spot foto di Wanagiri Hidden Hill
Walau saat itu cuaca cerah namun udara di sana cukup dingin, angin berhembus dan cukup membuat tubuh kedinginan ditambah sudah jam makan siang. Setelah puas berfoto di Wanagiri Hidden Hill gue melanjutkan perjalanan ke Ulun Danu Bedugul. Lokasinya tidak begitu jauh dari Wanagiri ini, pun sama-sama dataran tinggi jadi suhu dingin masih terus menyelimuti. Selama ini gue salah, gue kira Bali itu panas karena banyak pantai, tapi kali ini gue bener-bener ngerasain sisi yang beda dari Bali, gue ngerasain dinginnya Bali.

Gue makan siang masih di daerah Bedugul, sayang banget gue lupa nama restaurat tempat gue makan itu. Tapi yang jelas restaurant ini punya view yang keren banget yaitu danau beratan. Siang itu udara cukup dingin, danau beratan ditutupi kabut tipis, perahu-perahu lalu lalang di danau itu mengajak pengunjung untuk berkeliling danau. Walau sempat agak kecewa karena keluar dari jadwal seharusnya yang seharusnya mengunjungi Pura Ulun Danu tapi sayang sekali siang itu jadwal ke Pura Ulun Danu ditiadakan. Namun, gue tetap bersyukur sih bisa nikmatin makan siang dengan pemandangan yang indah.


salah satu view di restaurant tempat gue makan


Setelah makan siang gue dan rombongan kembali bergegas ke tujuan selanjutnya yaitu Joger. Pusat oleh-oleh khas Bali terutama kaos-kaos lucu dengan beragam kalimat-kalimat menarik! Seru sekali mengunjungi Joger ini. Setiap pengunjung akan ditempeli stiker untuk dapat masuk ke dalam, di sana menjual berbagai macam oleh-oleh tapi yang paling khas dari Joger ya itu kaos dengan kalimat-kalimat uniknya. Gue gak terlalu banyak belanja di sini karena gue gak pengen uang gue habis di hari pertama karena masih ada waktu dua hari di Bali. Hehehehe


Hari sudah semakin sore dan badan rasanya sudah ingin diistirahatkan, sore itu setelah berbelanja di Joger gue dan rombongan menuju J Boutique Hotel. Hotel ini adalah tempat menginap gue selama gue di Bali, lokasinya sangat dekat dari Bandara I Gusti Ngurah Rai dan dekat dengan Pantai Kuta. Menempati kamar dengan extra bed karena gue bertiga dalam satu kamar; nyokap, adik gue & gue. Fasilitas kamar hotel cukup lengkap yaitu televisi, AC, wifi, water heater, termos listrik dan peralatan mandi yang lengkap. Cuma air mineral aja sih yang berbayar. Hahahaha
Akhirnya gue memutuskan untuk mandi dan beristirahat sambil menunggu jam makan malam tiba.

Sangat sangat kecewa karena makan malam yang sudah dijadwalkan ternyata terlambat malam itu. Ohya, untuk makan malam gue dan rombongan memang tidak dapat free dari Hotel. Makan malam disediakan oleh agen perjalanan dalam bentuk nasi box yang ternyata malam itu telat diantarkan. Semua rombongan kecewa tentu saja dan berakhir pada mencari makan sendiri di luar hotel.
Malam itu untuk mengurangi rasa kecewa akhirnya gue memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri Bali bareng nyokap dan adik gue. Gue buka maps ternyata jarak hotel tempat gue menginap tidak terlalu jauh dari Pantai Kuta, akhirnya gue pun memutuskan untuk berjalan kaki.
Malam itu gue melihat Bali seperti apa yang digambarkan otak gue sejak lama, begitu ramai bule-bule berjalan kaki mengenakan celana pendek, tangtop dan kaca mata, dari yang rambutnya pirang sampai berkulit gelap semua ada, mereka ramah tentu saja karena beberapa kali gue bertegur sapa dengan mereka. Jalanan Bali yang tidak begitu luas yang dihiasi bar-bar atau resto di kanan kiri jalan yang tentu saja dipenuhi oleh wisatawan asing maupun lokal untuk menghabiskan malam. Gue merasa malam itu benar-benar berada di Bali.

By the way, pada akhirnya gue gak sampai ke Pantai Kuta. Gue kelelahan berjalan kaki baru setengah jalan menuju ke sana, ah payah sekali kalah sama bule-bule itu yang lebih kuat berjalan kaki. Gue kembali ke Hotel dengan menggunakan jasa taxi online. Ohya, di Bali sudah ada ojek online jadi kita tidak perlu khawatir berpergian ke sana.

Sesampainya di Hotel tentu saja gue langsung beristirhata untuk perjalanan esok hari...
Goodnight...

Sabtu, 06 Oktober 2018

#CeritaEis : Membuat Surat Keterangan Sehat di Puskesmas

Tahun 2018 pendaftaran CPNS kembali dibuka dan aku adalah salah satu dari ribuan orang yang mendaftar. Hahahaha. Surat keterangan sehat dan buta warna adalah salah satu syarat dokumen yang harus aku lengkapi di instansi yang aku daftar.

Hari ini hari Sabtu, aku datang pukul 07.45 pagi ke Puskesmas Ciputat untuk membuat Surat Keterangan Sehat. Untuk bertanya informasi aku bertanya ke Satpam yang jaga karena di sini Satpam merangkap sebagai pusat informasi. Setelah mendapat arahan dari Bapak Satpam kemudian aku mengambil nomor antrian, nomor antrian dibagi dua yaitu Umum & BPJS. Aku menekan tombol yang Umum, keluarlah nomor dari mesin nomor antrian. Aku mendapat nomor antrian A063 dan aku lihat yang sekarang sedang dilayani di loket pendaftaran adalah A007. Baiklah aku harus menunggu.
 
 
 

 


 
 

 


Setelah menunggu sekitar 1 jam lamanya, nomor antrianku dipanggil. Aku menyerahkan foto copy KTP & Kartu Keluarga kepada petugas pendaftaran yang kemudian ditanya mau ke bagian apa. Aku menjawab ingin membuat surat sehat, kemudian petugas memberi nomor antrian kembali untuk aku menunggu di Poli Umum. Aku mendapatkan nomor antrian E022. Tidak sampai 20 menit aku menunggu, nomor antrianku sudah dipanggil ke dalam ruangan Poli Umum. Ada dua dokter jaga saat itu, keduanya laki-laki. Pembuatan surat kesehatan ini mudah dan cepat sekali, aku hanya ditimbang berat badan, diukur tinggi badan dan dicek tensi darah. Kemudian dokter menulis surat keterangan yang menyatakan bahwa aku sehat dan tidak buta warna yang kemudian surat itu harus aku berikan ke loket pelayanan surat keterangan sehat untuk diberikan Cap Puskesmas.





Selesai. Gampang dan GRATISSSSS.


Cheers,
Euis Safitri Mustika.

#CeritaEis : Membuat SKCK

Meskipun kalian-kalian merasa bahwa selama hidup tidak pernah melakukan tindakan kriminalitas tapi Catatan Kepolisian ini tetap harus dibuat untuk membuktikan bahwa kalian itu BAIK. Heeuuuu.
Apalagi untuk kebutuhan melamar pekerjaan karena ada beberapa perusahaan yang menyertakan SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) sebagai salah satu syarat kelengkapan dokumen.

Ini adalah pengalaman pertamaku membuat SKCK. Aku udah bekerja kurang lebih 3 tahun tapi baru kali ini aku ingin melamar di tempat lain dan syarat dokumennya itu ada SKCK. Jadilah, aku bertanya kepada beberapa teman yang memang sudah pernah membuat SKCK dan mencari tahu dari internet. Setelah mencari tahu ternyata beberapa dokumen kelengkapan harus disiapkan. Aku sendiri berdomisili di Tangerang Selatan. Aku melihat di website Polres Tangsel (www.restangsel.id) beberapa kelengkapan dokumennya, antara lain sebagai berikut :
  1. Membawa surat pengantar dari Kelurahan sesuai domisili
  2. Membawa foto copy KTP/SIM
  3. Membawa foto copy akta kelahiran
  4. Membawa foto copy kartu keluarga
  5. Membawa foto berwarna terbaru ukuran 4x6 sebanyak 6 lembar 
Kemudian aku meyiapkan semua dokumen tersebut. Aku pergi ke Ketua RT tempatku tinggal untuk meminta surat pengantar yang kemudian diteruskan ke Ketua RW. Setelah mendapat surat pengantar dari RT RW aku pergi ke Kelurahan.

Di Kelurahan aku datang pukul 8 pagi dan disambut oleh anak SMK yang sedang PKL, aku menjelaskan maksud kedatanganku untuk membuat surat pengantar ke Polsek untuk pembuatan SKCK. Prosesnya pun tidak lama sebetulnya tapi karena waktu itu pejabat yang berwenang tanda tangan di surat pengantar itu belum datang jadi aku harus menunggu beberapa menit.
Pembuatan surat pengantar dari Kelurahan tidak dikenakan biaya administrasi apapun. GRATIS.

Surat Pengantar sudah jadi kemudian aku bergegas pergi ke Polsek Ciputat (karena domisili-ku di Ciputat). Untuk pembuatan SKCK di Polsek Ciputat sudah ada petunjuk di ruang mana atau bisa tanya ke Polisi yang jaga untuk membuat SKCK. Siang itu sudah cukup ramai orang yang membuat SKCK. Aku mengantri di loket menyerahkan semua dokumen yang kemudian ditanyakan oleh petugas apakah sudah lengkap kemudian aku menjawab sudah lengkap, barulah aku diberikan selebar kertas form yang harus aku isi. Di Polsek Ciputat disediakan meja dan alat tulis untuk mengisi form tersebut. Cara mengisi form-nya juga sudah ada contoh di meja jadi tinggal diikuti saja sesuai contoh.
Form yang harus diisi itu berupa data diri dan ciri-ciri fisik. Setelah semua diisi jangan lupa untuk menempelkan foto di form tersebut (khusus ini aku kena tegur karena belum menempelkan foto di form).

Form yang sduah diisi kemudian digabungkan dengan dokumen persyaratan yang dibawa. Daaaannnn ternyata oh ternyata Surat Pengantar dari Kelurahan tidak dibutuhkan. Aku pun ditanya untuk keperluan apa membuat SKCK, aku menjawab untuk melamar pekerjaan, dan ditanya kembali apakah aku melamar di Swasta atau Pemerintah, aku menjawab Swasta. Dari sini aku baru tahu bahwa kalau untuk melamar pekerjaan di Swasta pembuatan SKCK dilakukan di Polsek sedangkan untuk pekerjaan pemerintah seperti PNS pembuatan dilakukan di Polres.

Pembuatan SKCK dikenakan biaya Rp 30.000,- dibayar cash saat itu juga. Setelah membayar dan meyerahkan semua dokumen, aku menunggu sekitar kurang lebih 20 menit dan namaku dipanggil oleh petugas bahwa SKCK ku sudah jadi yang berlaku hingga 6 bulan ke depan. Gampang bangeeeet kan??? :)

Pembuatan SKCK mudah sekali jika kita membawa dokumen sesuai dengan peraturan yang berlaku. Ini adalah info yang aku dapatkan dari papan pengumuman di Polsek Ciputat.

Persyaratan dokumen pembuatan SKCK :
  1. Foto Copy KTP
  2. Foto Copy Akta Kelahiran
  3. Foto Copy Kartu Keluarga
  4. Pas Photo ukuran 4x6 background Merah sebanyak 4 lembar
*untuk perpanjang SKCK ditambah dengan membawa SKCK lama
Pelayanan pembuatan SKCK di Polsek Ciputat dibuka setiap Senin - Jum'at.



Cheers,
Euis Safitri Mustika