Jam
tangan sebagai alat penunjuk waktu di kamarku. Kamarku tak memiliki jam dinding
khusus yang menggantung indah di dinding. Bukankah di ponsel memiliki penunjuk
waktu juga? Iya memang ada, namun entah kebiasaan atau apa tiap aku melihat jam
di ponsel aku harus mencocokannya lagi dengan jam tanganku ini.
Aku senang sekali memberi nama pada
setiap benda kesayanganku di kamar. Aku senang mereka menjadi bagian dalam
keseharianku, maka dari itu aku beri nama. Aku menamainya “SILVESTER” . Karena
jam tanganku berwarna silver tentu saja. Aku menemukan Silvester 3 tahun lalu,
aku masih ingat tanggal 10 Juli 2010 di salah satu pusat perbelanjaan daerah
Jakarta Selatan. Aku memiliki ingatan yang baik. Silvester pada saat itu
tertata rapi di etalase toko yang menjual berbagai macam jam. Ia nampak
bercahaya sendirian, hingga akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam toko
tersebut. Layaknya seorang pembeli aku melihat-lihat koleksi jam tangan yang
lain. oh iya saat itu aku tak sendirian, aku ditemani sahabatku sejak SMP. Sahabatku
itu memberiku saran “ini saja lucu” , “atau ini warnanya bagus” , “atau yang
itu lagi ada potongan harga” . Aku masih dengan seksama melihat kumpulan jam
tangan di dalam etalase dan lagi mataku tertuju pada jam tangan besi berwarna
silver. “Ini saja koh.” Aku mengatakan kepada penjaga toko yang memang berparas
oriental seperti orang China. Setelah dicoba, keinginanku untuk memiliki jam
tangan itu semakin kuat dan dengan segera aku selesaikan transaksi
pembayarannya kepada si penjaga toko. Aku membelinya dengan uang dari gaji
pertamaku bekerja, jadilah Silvester ini salah satu benda kesayanganku.
Baterai Silvester habis setelah 2
tahun kebersamaanku dengannya. Saat itu aku malas untuk mengganti baterainya
dengan segera, aku takut Silvester mati karena baterai habis atau memang benar
rusak. Namun, aku masih tetap lingkarkan Silvester di pergelangan tangan kiri
ku kemanapun meskipun mati dan tak berfungsi. Acara keluarga di akhir pekan
membuat aku menangis karena Silvester yang aku tinggal di atas meja ruang tamu
rumah saudara ku tiba-tiba menghilang. Karena aku menangis seluruh keluarga
yang hadir saat acara keluarga mencari-cari Silvester ke tiap sudut ruangan di
rumah itu. Namun, Silvester tidak ditemukan. Pencarianpun berhenti karena tak ada
satupun yang berhasil menemukannya. “Sudahlah, jam tangan mati aja jangan
ditangisin.” Ibu ku berucap saat itu. Aku diam saja sambil sesekali menyeka air
mataku. Tak berapa lama Silvester ditemukan oleh sepupuku didalam tumpukan rak
sepatu. Ah, aku langsung meraihnya, mengusap debu dan melingkarkan kembali di
pergelangan tangan kiri ku. Kalau ingat kejadian itu aku malu, betapa aku
bersikap seperti anak kecil saat itu.
Kini Silvester sudah 3 tahun
menemaniku dan baterainya sudah aku ganti setelah acara keluarga waktu itu. Tak
hanya kejadian saat acara keluargaku itu saja aku dipisahkan, bahkan baru-baru
ini aku bertukar jam tangan dengan seorang teman dan Silvester menginap di
pergelangan tangan yang lain selama 4 hari. Betapa hampanya pergelangan kiri
ku. Kosong. Silvester sudah menjadi bagian dari keseharianku. Mandi, makan,
berwudhu, berpergian bahkan tidur aku masih lingkarkan ia di pergelangan kiri
ku. Terkadang sesuatu yang sudah biasa
melekat dan dekat jika dipisahkan akan terasa sangat kehilangan dan kesepian.#CeritaDariKamar #Day3
@eishafitri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar