Catatan Domba Betina: Jam Tangan

Sabtu, 03 Agustus 2013

Jam Tangan


Jam tangan sebagai alat penunjuk waktu di kamarku. Kamarku tak memiliki jam dinding khusus yang menggantung indah di dinding. Bukankah di ponsel memiliki penunjuk waktu juga? Iya memang ada, namun entah kebiasaan atau apa tiap aku melihat jam di ponsel aku harus mencocokannya lagi dengan jam tanganku ini.
            Aku senang sekali memberi nama pada setiap benda kesayanganku di kamar. Aku senang mereka menjadi bagian dalam keseharianku, maka dari itu aku beri nama. Aku menamainya “SILVESTER” . Karena jam tanganku berwarna silver tentu saja. Aku menemukan Silvester 3 tahun lalu, aku masih ingat tanggal 10 Juli 2010 di salah satu pusat perbelanjaan daerah Jakarta Selatan. Aku memiliki ingatan yang baik. Silvester pada saat itu tertata rapi di etalase toko yang menjual berbagai macam jam. Ia nampak bercahaya sendirian, hingga akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam toko tersebut. Layaknya seorang pembeli aku melihat-lihat koleksi jam tangan yang lain. oh iya saat itu aku tak sendirian, aku ditemani sahabatku sejak SMP. Sahabatku itu memberiku saran “ini saja lucu” , “atau ini warnanya bagus” , “atau yang itu lagi ada potongan harga” . Aku masih dengan seksama melihat kumpulan jam tangan di dalam etalase dan lagi mataku tertuju pada jam tangan besi berwarna silver. “Ini saja koh.” Aku mengatakan kepada penjaga toko yang memang berparas oriental seperti orang China. Setelah dicoba, keinginanku untuk memiliki jam tangan itu semakin kuat dan dengan segera aku selesaikan transaksi pembayarannya kepada si penjaga toko. Aku membelinya dengan uang dari gaji pertamaku bekerja, jadilah Silvester ini salah satu benda kesayanganku.
            Baterai Silvester habis setelah 2 tahun kebersamaanku dengannya. Saat itu aku malas untuk mengganti baterainya dengan segera, aku takut Silvester mati karena baterai habis atau memang benar rusak. Namun, aku masih tetap lingkarkan Silvester di pergelangan tangan kiri ku kemanapun meskipun mati dan tak berfungsi. Acara keluarga di akhir pekan membuat aku menangis karena Silvester yang aku tinggal di atas meja ruang tamu rumah saudara ku tiba-tiba menghilang. Karena aku menangis seluruh keluarga yang hadir saat acara keluarga mencari-cari Silvester ke tiap sudut ruangan di rumah itu. Namun, Silvester tidak ditemukan. Pencarianpun berhenti karena tak ada satupun yang berhasil menemukannya. “Sudahlah, jam tangan mati aja jangan ditangisin.” Ibu ku berucap saat itu. Aku diam saja sambil sesekali menyeka air mataku. Tak berapa lama Silvester ditemukan oleh sepupuku didalam tumpukan rak sepatu. Ah, aku langsung meraihnya, mengusap debu dan melingkarkan kembali di pergelangan tangan kiri ku. Kalau ingat kejadian itu aku malu, betapa aku bersikap seperti anak kecil saat itu.
            Kini Silvester sudah 3 tahun menemaniku dan baterainya sudah aku ganti setelah acara keluarga waktu itu. Tak hanya kejadian saat acara keluargaku itu saja aku dipisahkan, bahkan baru-baru ini aku bertukar jam tangan dengan seorang teman dan Silvester menginap di pergelangan tangan yang lain selama 4 hari. Betapa hampanya pergelangan kiri ku. Kosong. Silvester sudah menjadi bagian dari keseharianku. Mandi, makan, berwudhu, berpergian bahkan tidur aku masih lingkarkan ia di pergelangan kiri ku. Terkadang sesuatu yang sudah biasa melekat dan dekat jika dipisahkan akan terasa sangat kehilangan dan kesepian.






#CeritaDariKamar #Day3
@eishafitri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar