When We
First Met
“Tuhan
mempertemukan untuk sebuah alasan”
Malam itu takdir
Tuhan mempertemukan aku dan kamu di sebuah tempat baru. Malam itu Tuhan sudah
menggariskan untuk aku dan kamu bertemu. Selepas isya aku datang ke tempat
perkumpulan komunitas yang akhir-akhir ini sedang diminati banyak anak muda,
komunitas pecinta alam. Dua minggu dari malam ini aku akan mendaki gunung,
pendakianku yang ketiga bersama teman kampus. Tujuanku datang ke komunitas itu
adalah untuk mengambil kaos, jujur saja aku belum masuk sebagai anggota komunitas
itu. Aku hanya memesan kaos pendakian di sana dan malam itu aku dan teman
kuliahku yang memang sudah bergabung di komunitas tersebut datang untuk
mengambil kaos yang katanya sudah jadi. Sesampainya di tempat komunitas pecinta
alam (yang setelahnya aku tahu biasa disebut Basecamp), tidak terlalu ramai di
sana hanya ada ketua komunitas itu dan dua orang yang belum ku kenal namanya.
Aku masuk mengikuti temanku, menyalami satu persatu orang yang ada di sana.
Namun kaos yang akan aku ambil itu belum ada di Basecamp, ternyata kaos
tersebut masih ada di percetakan.
“Yaudah ayo, kita
ambil dulu di percetakan kaosnya.” Kata salah satu orang yang bertanggung jawab
atas pemesanan kaos itu, Indra namanya.
“Dimana? Ayo aja
gue mah.” Temanku mengiyakan.
“Tapi berdua aja
ya, biar kita satu motor aja.” Kembali Indra menambahkan. Mendengar Indra
berbicara seperti itu otomatis aku yang akan tetap tinggal di Basecamp untuk
menunggu.
“Lo gak apa-apa
kan di sini?” Tanya temanku,
“Gak apa kok.
Biar gue tunggu sini aja.” Ada rasa canggung sebetulnya jika aku harus menunggu
di Basecamp dengan orang-orang yang baru aku kenal.
“Gue gak lama
kok, Cuma ngambil terus balik ke sini lagi.” Temanku memastikan.
“Oke.”
Temanku dan Indra
pun pergi setelah pamit. Ada hening yang cukup lama, hanya terdengar suara
televisi yang sedang menayangkan acara talkshow. Aku pun tak banyak berbicara
karena bingung juga membuka obrolan apa. Dalam hening percakapan dan suara tv
sebuah motor memasuki halaman Basecamp. Seseorang datang yang kemudian
memarkirkan motornya. Memasuki basecamp dengan mengucap salam. Aku kompak
menjawab salam tersebut. Mukamu agak heran melihatku yang mungkin menurutmu terlihat
asing. Kamu mengulurkan tanganmu dan akupun menyambutnya seraya menyebuutkan
namaku. Kamu malam itu baru saja pulang kerja, karena pakaianmu begitu formal
malam itu; celana bahan, kemeja dan jam tangan hitam di lengan kirimu. Kamu
mengeluarkan sebungkus nasi bebek yang kemudian kamu serahkan ke teman-teman di
sana untuk dimakan bersama. Aku ditawari namun aku hanya mengangguk “Iya,
silakan.”
Kamu duduk di
sebrang kananku, yang lain sibuk makan nasi bebekmu, aku sibuk menonton tv.
Sesekali kamu bertanya tentang adega-adegan di tv yang tidak kamu mengerti atau
tentang kalimat yang terlewat.
“Tadi dia bilang
apa? Itu kenapa?” Aku hanya menjelaskannya singkat.
“Kha, si Ayra ini
jomblo loh.” Kata ketua komunitas itu tiba-tiba, membuat aku menoleh ke
arahnya.
“Oh ya?? Sama
dong gue juga jomblo.” Kamu menjawab. Aku lagi-lagi hanya tersenyum, entahlah
kalimat-kalimat serasa susah sekali diucapkan malam itu, karena aku merasa
canggung.
“Yaudah sama Ayra
aja nih, Kha.” Ketua komunitas itu melanjutkan.
“Jangan dulu deh
Om, gue masih belum bisa serius soalnya.” Kamu menjawab seperti itu.
Aku menatapmu, “Sama
Om, aku juga belum siap untuk serius.” Aku balas menjawab.
Tak berapa lama temanku
dan Indra datang setelah mengambil kaos. Akhirnya aku bernafas lega, aku
sedikit aman karena temanku sudah datang. Kaos pun dicek kuantitas dan
kualitasnya, takut-takut ada yang reject. Kamu ikut untuk mengecek dan banyak
bertanya “mau naik kemana? Kapan?” . Setelah selesai megecek aku dan temanku
pamit untuk pulang.
Malam itu 12 Mei 2015 aku, Ayra Ramsha untuk kali pertama bertemu dengan kamu, Ahmad
Sakha. Sebuah pertemuan yang sudah menjadi rencanaNya, sebuah pertemuan yang
begitu terasa biasa saja tapi apakah akan ada pertemuan-pertemuan berikutnya?
Aku tidak tahu.