Ini merupakan salah satu resolusi yang aku tulis di malam pergantian tahun 2015. Aku menulis wishes list yang ingin aku capai tahun ini atau selama aku hidup. Salah satu dari sekian banyak keinginan-keinganku adalah pergi ke Indonesia bagian barat (provinsi manapun) dan aku ingin sekali naik pesawat Citilink.
Liburanku kali ini tidak direncanakan secara panjang karena aku juga tidak menyangka akan ke liburan awal tahun. Karena niat awalku adalah ke Lombok namun sempat aku urungkan karena budget-nya cukup besar. Pada suatu sore mama masuk kamarku dan menawariku untuk pergi ke Belitung, tak perlu banyak pikir aku langsung mengiyakan dan mama meminta foto copy KTP-ku untuk memesan tiket pesawat. Aku bertanya pesawat apa yang digunakan, karena yang aku tahu hanya Sriwijaya Air, Citilink, Garuda Indonesia yang ada penerbangan ke sana. Mama bilang Citilink, aku tersenyum lebar. Tanggal 23 Januari 2015 aku dijadwalkan berangkat, berarti 2 minggu lagi. Aku sengaja tak menceritakan tentang liburan ini kepada teman-teman, hingga tinggal beberapa hari lagi aku dirundung kecemasaan, aku takut jadwal liburanku kali ini bentrok dengan jadwal kuliah tambahan. Sampai akhirnya aku bercerita kepada teman aku akan pergi liburan itupun tak memberi tahu tujuannya ke mana.
Tanggal 23 Januari 2015 jam 02.30 dini hari aku sudah bangun dan bersiap untuk berangkat ke Bandara Internasional Soekarno Hatta (CGK) . Pukul 04.00 aku sudah dalam perjalanan menuju Bandara karena aku mendapat jadwal penerbangan pertama pukul 05.55. Kantuk masih menyelimuti dan hujan deras sekali. Aku hanya berharap saat take off cuaca sudah cerah. Karena masih subuh seperti itu perjalanan menuju Bandara yang biasanya jika siang hari memakan waktu 2 jam, ini hanya 45 menit. Lancar sekali. Bandara sepagi itu sudah banyak aktivitas, aku melaksanakan sholat subuh di mushola Bandara. Setelah sholat dan aku langsung masuk ruang tunggu pesawat, karena liburan kali ini aku memakai jasa travel (Senopati Tour & Travel) maka tiket sudah ditukar dengan boarding pass jadi aku bisa langsung menunggu hingga jam keberangkatan. Tak repot harus menukar tiket boarding.
Pukul 05.55 seperti yang sudah dijadwalkan aku masuk ke dalam pesawat. Namun, dalam perjalanan menuju pesawat tepatnya saat di depan pintu pesawat kakiku bergetar hebat, jantungku berdetak tak karuan, ibu-ibu yang berada di depanku terus berdzikir. Aku teringat akhir tahun 2014 kecelakaan pesawat AirAsia yang menewaskan seluruh penumpang dan sampai sekarang masih dalam tahap pencarian. Aku mengucap dzikir dan basmallah dalam hati dan masuk ke dalam pesawat dengan disambut senyum manis sang pramugari. Tak peduli semanis apapun senyum pramugari itu jujur saja aku takut. Aku duduk terpisah jauh dari mama. Mama ada di 22E, aku ada di 12E. Ya, 12E tepat di dekat pintu darurat. Seperti biasa pramugari memberi arahan tambahan untuk penumpang yang duduk di dekat pintu darurat. Hatiku langsung mencelos mendengar penjelasan pramugari "Jika ada teriakan evacuate, tarik tuas pintu darurat pastikan tidak ada api di luar lalu bantu penumpang lain untuk keluar. Apakah anda bersedia membantu?" Pikiranku melayang-layang semoga tak terjadi apa-apa karena penerbangan ini hanya sebentar hanya 45 menit. Sabuk pengaman sudah aku kencangan, gerimis sudah reda dan pesawat siap take off. Pemandangan luar biasa pagi itu cukup cerah, kaptain sempat memberitahu tentang cuaca pagi itu. Aku merasa aman. Saat landing agak tak mulus karena landasan udara di Bandara ini tak cukup luas tapi aku masih aman. Alhamdulillah. Pukul 07.00 aku tiba di Bandar Udara H. AS. Hanandjoedin Tanjung Pandan. Selamat pagi Belitung! Negeri Laskar Pelangi :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar