Catatan Domba Betina: Cerita Perjalanan : Hari Pertama di Belitung

Sabtu, 31 Januari 2015

Cerita Perjalanan : Hari Pertama di Belitung

acara penyambutan

makanan khas belitong LAKSE

quote yang ada di SMAN 1 Manggar

luas sekali halaman sekolah SMAN 1 MANGGAR



view di Restoran Fega

Restoran Fega



memanjakan mata di restoran fega

with Mama
Pukul 07.00 aku sudah tiba di Bandar Udara H. AS. Hanandjoedin Tanjung Pandan, Belitung. Karena liburan kali ini aku menggunakan jasa travel maka selama di sini aku dipandu oleh seorang pemandu wisata atau tour guide. Rian, begitu sang pemandu wisata memperkenalkan diri dengan logat Belitung. Aku memanggil dengan sebutan abang karena tidak mungkin aku memanggil "Mas" karena aku tidak sedang berada di tanah Jawa. Hehehe.
Dari Bandara aku langsung diajak berkeliling kota Tanjung Pandan melalui jalan Jend. Sudirman, konon jalan ini terpanjang di Belitung sekitar 107Km. Terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara Jl. Jend. Sudirman Belitung dengan Jl. Jend. Sudirman Jakarta, di Jl. Jend. Sudirman Belitung tidak ditemui macet sedikitpun, jalan lancar sekali. Selama perjalanan aku diajari bahasa Belitung, masyarakat Belitung menyebut Belitung itu dengan sebutan Belitong. Oke, mulai sekarang aku akan menulis dengan kata Belitong saja. Ternyata cuaca tak beda jauh dengan Jakarta, di sini juga sedang musim penghujan. Perjalananku diiringi hujan. Ternyata tujuan pertama adalah sarapan pagi, aku diajak makan makanan khas Belitong yaitu Mie Belitong dan minuman jeruk kunci. Mini bus terparkir di salah satu warung sederhana yang menyediakan mie belitong. Mie belitong ini adalah mi yang dicampur dengan irisan mentimun, toge, emping, udang dan disiram dengan kuah udang yang sangat kental. Enak sekali dimakan saat hujan seperti ini ditambah dengan minuman jeruk kuncinya. Yang jadi juara adalah sambalnya yang super duper pedas, aku lupa nama tempat makannya apa. Tak perlu waktu lama untuk menghabiskan satu piring mie belitong ini, aku langsung bergegas untuk tujuan selanjutnya. Ah, aku orang Indonesia sekali kalau belum ketemu nasi namanya belum makan. Hahaha.

Tujuan kedua setelah sarapan adalah Kota Manggar atau sering disebut dengan 1001 kedai kopi. Di sepanjang jalan banyak sekali kedai atau warung-warung kopi. Perjalanan dari Tanjung Pandan menuju Kota Manggar sekitar satu setengah jam. Di Kota Manggar ini aku mengunjungi SMAN 1 Manggar, sayang sekali saat itu hujan jadi acara penyambutan yang seharusnya dilakukan di halaman sekolah harus pindah ke aula sekolah. Setelah acara penyambutan yang diisi dengan tari-tarian selamat datang dan tarian tradisonal lainnya adalah jamuan. Bukan jamuan makan besar tapi makanan khas belitong. Sekilas aku melihat seperti kue putu mayang hanya saja saat aku lihat kuahnya kok santan? Ternyata itu bukan putu mayang itu adalah Lakse. Makanan khas belitong yang dibuat dari tepung beras dan kuahnya kuah santan ikan tenggiri. Serius, ini enak. Kuahnya gurih sekali. Aku cukup lama di SMAN 1 Manggar, setelah cukup puas berkeliling melihat-lihat sekolahnya dan selesai melaksanakan sholat dzuhur kembali perjalanan dilanjutkan.

Tujuan ketiga adalah makan siang. Wah, tidak terasa waktu sudah siang dan langit masih saja mendung dan gerimis. Aku santap makan siang di Restoran Fega. Dari luar nampak biasa saja tapi saat sudah masuk ke dalam luar biasa viewnya. Sambil menunggu makanan siap aku mengabadikan beberapa foto di sana. Restoran dengan view danau di belakangnya, tempat makannya unik ada saung dan ada berupa sebuah kapal pesiar. Untuk pemandangan top deh! Makanannya pun enak ada ikan bakar, cumi tepung, tumis kangkung, baso ikan. Memang makanannya semua adalah hewan laut. Perut kenyang dan pemandangan begitu indah lalu rasa kantuk datang tapi perjalanan harus dilanjutkan.

Perjalanan dilanjutkan menuju Kota Gantung tapi seperti biasa masyarakat belitong menyebutnya Gantong. Perjalanan melewati Pantai Serdang, aku pikir aku akan mampir di pantai itu tapi ternyata tidak. Dalam perjalanan Abang Rian menjelaskan bahwa sebagian besar rumah masyarakat belitong atapnya terbuat dari seng. Konon, itu sudah ada dari zaman belanda karena agar siang hari tidak bisa tidur siang karena atap seng yang panas dan memilih bekerja ketimbang tidur siang. Benar, aku memperhatikan rumah-rumah di sana beratapkan seng dan uniknya rumah mereka tidak melebar ke samping melainkan memanjang ke belakang. Abang Rian banyak menjelaskan tentang belitong dan dia juga memberitahu rumah kediaman sang politisi Yusril Izha Mahendra, rumahnya megah sekali. Tak berapa lama mini bus berhenti dan ternyata berhenti di rumah kediaman orang tua Ahok Gubernur DKI Jakarta. Rumahnya juga megah sekali. Aku masuk ke halaman rumahnya, rumahnya dikunci tapi jendela dibiarkan terbuka. Aku mengintip sedikit, sepi sekali. Di halaman samping rumah beliau ada Pondok Batik De'Simpor. Di sini ada seorang ibu yang sedang membatik, di sini juga menjual koleksi kain-kain batik khas belitong, makanan dan souvenir. Waktu sudah semakin sore dan tujuan selanjutnya adala Museum Kata Andrea Hirata yang merupakan museum sastra pertama di Indonesia. :)


di depan pintu rumah bapak Ahok

inilah rumah kediaman bapak Basuki Tjahaja Purnama a.k.a Ahok


seorang ibu yang sedang membatik

beberapa kain batik yang sedang dijemur

abaikan sendal jepit merahku /;p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar