Catatan Domba Betina: Juli 2014

Selasa, 08 Juli 2014

Cinta Monyet

Pagi ini aku menghabiskan waktuku dengan niat awal mengecat kamar tapi entah mengapa tumpukan tas yang tergantung di tembok kamarku terlihat mengganggu pandangan mata.
Aku raih tas-tas yang menggantung yang jumlahnya sudah cukup banyak itu; entah sepuluh atau berapa aku tak menghitungnya.
Aku bersihkan debu yang menempel di tas-tas itu, bahkan ada yang aku cuci karena tak pernah aku pakai padahal kondisinya masih sangat bagus. Sayang sekali.
Pagi ini aku membongkar kamar lebih tepatnya mencari-cari pekerjaan. Sungguh seusai subuh di bulan Ramadan ini membuat aku tak memiliki banyak aktivitas di pagi hari. Tak bisa melanjutkan tidur juga.
Aku membongkar kamarku tanpa sengaja aku menemukan sebuah surat dan catatan kecil. Surat itu aku temukan di dalam catatan kecilku. Catatan itu adalah buku harianku tahun 2006. Ya, itu sudah 8 tahun yang lalu. Aku membuka buku catatan harianku yang lalu itu. Membaca halaman demi halaman. Aku dibuat tersenyum pagi itu. Betapa tidak, tulisanku kala itu amat sangat lucu, polos dan anak-anak sekali. Maklum tahun 2006 aku masih di kelas 2 SMP. Kertas surat itupun sudah lusuh dan agak menguning tapi tulisannya masih jelas terbaca. Ada beberapa surat sebenarnya di dalam catatan harianku itu. Yang membuat aku tersenyum bahagia adalah surat dari sahabat-sahabatku yang saat ini masih tetap jadi sahabatku. Dalam surat itu berbunyi "best friends forever" dan ini sudah berlangsung delapan tahun dan semoga terus selamanya.
Tak hanya itu isi catatan harianku itu berisi nama seorang laki-laki. Saat aku kelas 1 SMP aku menyukai seorang laki-laki, dia adalah kakak kelasku namanya RENDI RISMANTO. Lucu sekali membaca cerita itu lagi. Entah keajaiban datang dari mana waktu dulu itu, aku menyukai kak Rendi dan berhasil dekat dengannya walau kita dekat saat dia sudah lulus dan menjadi anak SMA. Aku tak ingat pasti kapan dan bagaimana kita saling menukar nomor ponsel waktu itu, yang aku ingat saat itu aku masih kelas 2 SMP dan dia sudah kelas 1 SMA. Kita saling bertukar pesan singkat dan telpon kala itu. Ah, lucu sekali jika aku mengingatnya. Dan untuk pertama kalinya aku pergi berdua dengan laki-laki saat kelas 2 SMP! Ah, ini mungkin terlalu terburu-buru sebagai anak remaja. Tapi aku pastikan aku sangat gugup saat mengiyakan ajakan dia pergi. Aku-pun diyakinkan sahabat-sahabatku agar tetap mau dan menjaga diri, sederet nasihat sudah aku terima dari mereka.
Aku masih ingat saat itu aku menunggu dia di depan sekolahku, kemudian dia datang menjemput dengan sepeda motornya. Kami berdua pergi ke Hero Pamulang (saat ini sudah tidak ada) di sana aku di traktir main timezone dan es krim. Oh, Tuhan betapa sangat menyenangkan saat itu walau hanya main games, makan es krim dan lihat buku di gramedia. Hanya sekedar itu setelahnya memang dasar anak remaja yang masih labil jiwanya. Ka Rendi berkali-kali mengucap kata cinta tapi kami tak memutuskan untuk berpacaran karena aku tahu aku masih belum cukup umur, aku hanya kagum saja. Dia suka datang ke sekolahku yang membuat cewek-cewek SMP teriak histeris dan memandang kagum. Aku tak lagi berhubungan dengan dia sampai sekarang.
Gara-gara buku catatan harianku delapan tahun silam itu aku jadi teringat. Apa kabar dia?? Yang aku tahu kabarnya tahun lalu dia sudah menjadi sarjana sastra disalah satu universitas di Bandung dan sudah memiliki kekasih yang serius. Atau mungkin sekarang dia sudah menikah???

@eishafitri

Sabtu, 05 Juli 2014

long time no see

long time no see....
Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan wanita yang satu itu.
Saat ini wanita itu berada di hadapanku dengan keadaan yang sangat menyedihkan.
Aku melihatnya dari kejauhan setelah akhirnya aku menyapanya dengan senyum mengembang. Entahlah mengapa aku melakukan hal seperti itu; menyapanya.
Ia tersenyum kaku ketika aku menyapanya di antara riuh orang lalu-lalang.
'apa kabar?' tanyaku. Dia hanya menjawab 'baik. Kamu apa kabar?' dengan senyum yang bisa aku tebak, senyum yang dipaksakan.
Wanita itu tak berubah selalu memasang topeng baik dihadapanku. Aku bisa melihat senyumnya dipaksakan, aku memang bukan ahli psikologis tapi aku bisa membaca mimik wajahnya sedikit.
Saat aku melihat senyumnya yang dipaksakan itu aku seperti terlempar ke masa lampau. Aku masih mengingatnya dengan baik hingga saat ini.
Dulu saat aku mencintai seseorang laki-laki dan dia menyuruhku untuk kalah.
Di saat aku sangat mencintai laki-laki itu, dia menyuruhku untuk berhenti mencintai dan menyuruhku pergi dari kehidupan laki-laki itu.
Dia berbicara karma terus menerus di telingaku, dia bercerita tentang laki-laki itu dengan bangganya karena dia telah memilikinya lebih dahulu.
Dia mengeluarkan kata-kata yang tak pantas dikeluarkan dari mulut seorang wanita berwajah lugu seperti dia. Meski dia mengeluarkan kata-kata itu di belakangku tapi aku tahu, aku bisa mendengar dan membacanya dengan baik.
Ah, sudahlah kejadian masa lalu itu telah aku kubur rapat. Meski pada awalnya aku harus berjalan tertatih untuk meninggalkan semuanya tapi saat ini aku sudah berada di posisi yang bahagia. Berbanding terbalik dengan wanita itu.

satu cangkir kopi panas tersedia di meja. Akhirnya aku bisa mengajak wanita itu berbincang di salah satu coffee shop. Dia tidak memesan karena dia tidak suka kopi. Ah, payah sekali wanita itu.
Duduk berdua saling berhadapan seperti ini, lagi dan lagi membawaku ke kejadian masa lalu saat aku bersimpuh berjanji padanya untuk meninggalkan laki-laki itu. 'bodoh' dengan reflek aku menggelengkan kepalaku saat mengingat kejadian itu.
Aku tidak bertanya tentang kisahnya dengan laki-laki itu tapi dia yang sedari tadi hanya tertunduk itu mulai bercerita. Bercerita tentang kisah cintanya dengan laki-laki itu kandas. Tak ku sangka dia mengeluarkan air matanya di hadapanku. Air mata yang sama yang aku keluarkan dulu. Air mata dari setiap rasa kecewa dan air mata harapan agar semua kembali seperti semula tapi tak bisa. Aku mengelus punggung lengannya sambil bertanya dalam hati "Mengapa semuanya bisa berbalik menimpamu? ini seperti yang aku alami 3 tahun lalu."
Aku menghela nafas panjang karena aku tak bisa menemui jawabannya, aku hanya bisa mendengar setiap keluh kesah wanita itu dan mengatakan "mungkin sudah jalan Tuhan." . Aku kembali teringat dahulu aku pernah berkata sendiri "Biarkan dia memiliki laki-laki itu, dia akan kehilangan laki-laki itu tetapi aku tidak." Apa ini jawabannya??

Dia terus berkata "Aku sangat mencintai laki-laki itu tapi aku harus menjauh dari kehidupannya karena dia telah memilih wanita yang lain lagi." . Dan pada akhirnya dia berhenti menangis dan bergegas pergi. Di saat keadaannya sangat menyedihkan seperti itu wanita itu masih saja angkuh kepadaku seperti itu. Aku hanya ingin berteman dengannya sejak dulu, sejak kejadian aku berjanji kepadanya untuk meninggalkan laki-laki itu.
Aku menatap cangkir kopiku yang masih penuh karena tak sempat ku minum demi mendengarkan kisah cinta wanita itu. Mataku memandang sebuah buku catatan kecil di meja, mungkin milik wanita itu. Aku melihat ke sekitar apakah wanita itu masih ada atau tidak dan akhirnya aku membuka catatan itu.

Ini seperti buku harian wanita itu. Dia menulis tentang laki-laki itu dan kecintaannya terhadap laki-laki itu. Dia menulis semua kenangan bersama laki-laki itu dan dia menulis betapa hancurnya perasaannya ketika semua kisah cinta itu berakhir. Mataku berkaca-kaca bukan karena tulisan yang ia tulis tapi karena aku mengingat kejadian yang sama yang menimpaku dulu dengan laki-laki yang sama.
Aku menutup catatan kecil milik wanita itu. Sudah hampir 9 bulan mereka berpisah tapi wanita itu masih mengharapkan laki-laki itu. Bodoh sekali. Aku ingin sekali menariknya dan berkata "kamu harus move on dari laki-laki itu. Kejar kebahagiaanmu sendiri." . Ah, mana mungkin untuk berteman denganku saja wanita itu masih sulit menerimaku sebagai teman. "Bertemanlah denganku karena kita berdua adalah korban dari laki-laki itu", ah, kalimatku terlalu kasar. "Would you be my friend??" Hanya itu yang ingin aku ucapkan pada wanita itu sejak lama.