Catatan Domba Betina: long time no see

Sabtu, 05 Juli 2014

long time no see

long time no see....
Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan wanita yang satu itu.
Saat ini wanita itu berada di hadapanku dengan keadaan yang sangat menyedihkan.
Aku melihatnya dari kejauhan setelah akhirnya aku menyapanya dengan senyum mengembang. Entahlah mengapa aku melakukan hal seperti itu; menyapanya.
Ia tersenyum kaku ketika aku menyapanya di antara riuh orang lalu-lalang.
'apa kabar?' tanyaku. Dia hanya menjawab 'baik. Kamu apa kabar?' dengan senyum yang bisa aku tebak, senyum yang dipaksakan.
Wanita itu tak berubah selalu memasang topeng baik dihadapanku. Aku bisa melihat senyumnya dipaksakan, aku memang bukan ahli psikologis tapi aku bisa membaca mimik wajahnya sedikit.
Saat aku melihat senyumnya yang dipaksakan itu aku seperti terlempar ke masa lampau. Aku masih mengingatnya dengan baik hingga saat ini.
Dulu saat aku mencintai seseorang laki-laki dan dia menyuruhku untuk kalah.
Di saat aku sangat mencintai laki-laki itu, dia menyuruhku untuk berhenti mencintai dan menyuruhku pergi dari kehidupan laki-laki itu.
Dia berbicara karma terus menerus di telingaku, dia bercerita tentang laki-laki itu dengan bangganya karena dia telah memilikinya lebih dahulu.
Dia mengeluarkan kata-kata yang tak pantas dikeluarkan dari mulut seorang wanita berwajah lugu seperti dia. Meski dia mengeluarkan kata-kata itu di belakangku tapi aku tahu, aku bisa mendengar dan membacanya dengan baik.
Ah, sudahlah kejadian masa lalu itu telah aku kubur rapat. Meski pada awalnya aku harus berjalan tertatih untuk meninggalkan semuanya tapi saat ini aku sudah berada di posisi yang bahagia. Berbanding terbalik dengan wanita itu.

satu cangkir kopi panas tersedia di meja. Akhirnya aku bisa mengajak wanita itu berbincang di salah satu coffee shop. Dia tidak memesan karena dia tidak suka kopi. Ah, payah sekali wanita itu.
Duduk berdua saling berhadapan seperti ini, lagi dan lagi membawaku ke kejadian masa lalu saat aku bersimpuh berjanji padanya untuk meninggalkan laki-laki itu. 'bodoh' dengan reflek aku menggelengkan kepalaku saat mengingat kejadian itu.
Aku tidak bertanya tentang kisahnya dengan laki-laki itu tapi dia yang sedari tadi hanya tertunduk itu mulai bercerita. Bercerita tentang kisah cintanya dengan laki-laki itu kandas. Tak ku sangka dia mengeluarkan air matanya di hadapanku. Air mata yang sama yang aku keluarkan dulu. Air mata dari setiap rasa kecewa dan air mata harapan agar semua kembali seperti semula tapi tak bisa. Aku mengelus punggung lengannya sambil bertanya dalam hati "Mengapa semuanya bisa berbalik menimpamu? ini seperti yang aku alami 3 tahun lalu."
Aku menghela nafas panjang karena aku tak bisa menemui jawabannya, aku hanya bisa mendengar setiap keluh kesah wanita itu dan mengatakan "mungkin sudah jalan Tuhan." . Aku kembali teringat dahulu aku pernah berkata sendiri "Biarkan dia memiliki laki-laki itu, dia akan kehilangan laki-laki itu tetapi aku tidak." Apa ini jawabannya??

Dia terus berkata "Aku sangat mencintai laki-laki itu tapi aku harus menjauh dari kehidupannya karena dia telah memilih wanita yang lain lagi." . Dan pada akhirnya dia berhenti menangis dan bergegas pergi. Di saat keadaannya sangat menyedihkan seperti itu wanita itu masih saja angkuh kepadaku seperti itu. Aku hanya ingin berteman dengannya sejak dulu, sejak kejadian aku berjanji kepadanya untuk meninggalkan laki-laki itu.
Aku menatap cangkir kopiku yang masih penuh karena tak sempat ku minum demi mendengarkan kisah cinta wanita itu. Mataku memandang sebuah buku catatan kecil di meja, mungkin milik wanita itu. Aku melihat ke sekitar apakah wanita itu masih ada atau tidak dan akhirnya aku membuka catatan itu.

Ini seperti buku harian wanita itu. Dia menulis tentang laki-laki itu dan kecintaannya terhadap laki-laki itu. Dia menulis semua kenangan bersama laki-laki itu dan dia menulis betapa hancurnya perasaannya ketika semua kisah cinta itu berakhir. Mataku berkaca-kaca bukan karena tulisan yang ia tulis tapi karena aku mengingat kejadian yang sama yang menimpaku dulu dengan laki-laki yang sama.
Aku menutup catatan kecil milik wanita itu. Sudah hampir 9 bulan mereka berpisah tapi wanita itu masih mengharapkan laki-laki itu. Bodoh sekali. Aku ingin sekali menariknya dan berkata "kamu harus move on dari laki-laki itu. Kejar kebahagiaanmu sendiri." . Ah, mana mungkin untuk berteman denganku saja wanita itu masih sulit menerimaku sebagai teman. "Bertemanlah denganku karena kita berdua adalah korban dari laki-laki itu", ah, kalimatku terlalu kasar. "Would you be my friend??" Hanya itu yang ingin aku ucapkan pada wanita itu sejak lama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar