Catatan Domba Betina: April 2018

Sabtu, 14 April 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (17)

SEPATU || Selalu bersama tak bisa bersatu
8 April 2017 saat itu komunitas pecinta alam mengadakan acara syukuran hari jadi yang ke empat tahun. Aku masih bimbang akan datang atau tidak karena aku ada acara lain.
"Bukunya sudah aku bawa." kamu mengirimi aku pesan, aku memang ingin meminjam bukumu dan karena belum sempat bertemu kali ini adalah saat yang tepat untuk bertemu di acara syukuran.
"Aku usahain dateng, tapi aku telat kayaknya." benar saja aku telat, aku datang saat acara resmi sudah selesai tinggal obrolan-obrolan santai.
"Sini deh." panggilmu menggiringku untuk masuk ke dalam. Kamu mengambil tasmu dan mengeluarkan buku yang ingin aku pinjam. 
Aku duduk berhadapan denganmu, kamu memberikan dua buku.
"Nah ini." kataku senang dengan mata berbinar memegang buku itu.
"Bentar ada lagi satu lagi."
"Emang ada ada tiga? kayaknya cuma dua seri."
"Yang ini beda." kamu memberikan satu novel dengan sampul biru
"The Pilot's Woman; Tinggallah di hatiku selamanya." aku membacakan judul novel tersebut sambil tersenyum dan menjawab dalam hati 'aku akan.'
"Aku kan gak minjam ini?" lagi-lagi apa yang aku ucapkan selalu tidak sesuai dengan apa yang aku katakan di hatiku
"Ya gapapa, dibaca aja ya."
"Oke. Kamu punya juga novel beginian."
"Punya satu. Bentar-bentar, aku belum tanda tangani buku-buku aku." kemudian kamu menggoreskan tanda tanganmu ke buku-bukumu.
"Aku pinjam dulu ya." kataku sambil tersenyum
"Iya, bawa aja."
"Nanti pulang sama siapa?"
"Gak tau, ojek paling." aku paling tidak bisa meminta atau merengek kepada siapapun untuk minta diantar, aku merasa tidak enak hati.
"Nanti bareng aku saja."
"Oke. Udah ah keluar, gak enak yang lain pada ngumpul di luar semua." kemudian aku keluar lebih dulu

***
Nampaknya tidak bisa jika datang ke basecamp jika pulang cepat pasti tengah malam baru pulang
"Ayra pulang diantar Sakha kan?" tanya salah seorang
"Gak tau. Hehehe." kataku sambil nyengir
"Sakha, lu balik sama Ayra. Anter dia sampai rumahnya. Oke." pinta salah seorang itu
"Hmmm, gimana yaa?" katamu bercanda. 

"ayo pulang yuk, sudah jam 12 malam. aku nanti berubah jadi labu." pintaku sambil berbicara pelan
"Hayuuk." kemudian kamu beranjak dan mengenakan jaket birumu.

Tengah malam angin malam berhembus kencang sekencang pertanyaan-pertanyaan teman-teman yang bertanya tentang hubungan kita, tentang kita, tentang sejauh apa kita dekat.
Aku sudah pernah bertanya padamu mengenai hal ini, bahwa aku sering sekali mendapati pertanyaan dari teman-teman kita. Namun saat itu kamu hanya menjawab "sudah tidak usah dibahas." bodohnya aku mengiyakan. Dua kali aku bertanya dan kamu pun menjawab dengan jawaban yang sama.

***
Sejak malam itu pertanyaan kembali bermunculan.
Kalian pacaran?
Kalian deket banget deh.
Kalian menjalin hubungan apa sih?
Aku selalu menjawab tidak ada perasaan atau hubungan apa-apa. Maaf aku berbohong masalah perasaan. Tapi aku juga bingung mau menjawab apa tentang hubungan ini.

Hari ini aku tersadar, mungkin memang tidak ada aku di hatimu.
Mungkin memang perasaanku  ini tak berbalas,
Mungkin memang aku tidak pernah nampak di matamu,
Aku sadar kini bahwa aku akan mundur. 
Perlahan mundur, perlahan hilang.
Berat meninggalkan sesuatu yang memang sudah terbiasa ada.
Tapi aku harus bisa.

20 April 2017
Dari aku yang sedang berupaya membiasakan diri tanpa kamu.

Jumat, 13 April 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (16)

Malam minggu kali ini aku habiskan berkumpul di kedai kopi bersama teman-teman kampusku. Efek kafein membuat mataku masih tetap segar walau jam sudah menunjukan hampir pukul 12 malam. Layar ponselku masih menyala, kita masih balas membalas chat. Kamu mengatakan ingin lari pagi besok dan kemudian kita bersepakat akan melakukan lari pagi esok hari. Olah raga bersama sudah menjadi wacana lama yang sering kita bicarakan namu tidak pernah terwujud.

Akhirnya 5 Maret 2017, aku bangun pagi sekali tidak mandi hanya cuci muka dan gosok gigi, aku mengganti pakaian, ku kenakan kaos berwarna merah marun dan celana training, ku kenakan sepatu lariku kemudian aku minta tolong diantar Mama ke tempat lari di mana ternyata kamu sudah sampai terlebih dahulu pagi itu. Aku diantar Mama melalui pintu belakang sedangkan kamu sudah menunggu di parkiran depan. Kamu mengirimi aku pesan berkata "buruan","lama banget","aku di parkiran sendirian nih." . Aku jadi ingat pertemuan kita saat di kantin kampus waktu itu, kamu juga menghujaniku dengan pesan yang bernada serupa. Kamu tidak senang menunggu, ya?
Untuk sampai di parkiran pintu depan, aku harus berjalan kira-kira 1km. Saat itu aku sudah berjalan cepat namun kamu terus menerus menghujani aku pesan, sudah 500m lagi aku sampai di parkiran depan.
"Iya, sebentar lagi aku tiba." balasku singkat dari sekian banyak pesanmu
"Aku hitung 1 menit dari sekarang." balasmu, aku hanya membaca. kemudian benar saja kamu menghitung 
"60"
"59"
"58" aku membaca pesanmu dan langsung berlari sekencang mungkin untuk sampai di parkira depan. Baru kali itu aku berlari kencang sekali dengan perasaan berbunga, seperti sedang mengejar sesuatu yang menyenangkan. Kamu. Dan benar saja aku tiba sebelum satu menit hitunganmu berakhir, dengan keringat yang sudah mengucur aku menemuimu.
"Ah, belum apa-apa udah keringetan duluan. Gara-gara kamu nih. Aku lari tahu."
"Gapapa, pemanasan."
"Yaudah yuk lari lagi."
"Tunggu, anter ke motor dulu."
"Ngapain lagi?"
"Naro jaket." Aku pun membuntuti mu hingga ke parkiran.
"Kamu hadap sana dulu."
"Mau ngapain sih?"
"Buka jaket."
"Yaelah, ntar juga keliatan-keliatan juga."
"Hahahaha.. Iya sih." kamu tertawa, kamu pun membuka jaketmu. Aku tertegun melihatmu, tertegun melihat otot lenganmu, pagi itu kamu mengenakan kaos basket tanpa lengan. Ternyata kita mengenakan warna baju yang senada, yang bahkan kita tidak janjian sebelumnya.
"Ayooo kita lari, lewat jalur yang mana dulu nih?" katamu membuyarkan lamunanku.
"Lewat sini aja." kataku gagap.

Jika kebanyakan orang yang aku lihat jika olah raga berdua, mereka kerap kali bukan lari justru berjalan sambil ngobrol santai atau bermanja-manja atau bermanis-manis ria atau berpegangan tangan. Lain halnya dengan kita, kita betul-betul berolah raga.
"kamu duluan deh larinya."
"Oke."
"Ntar juga kesusul sama aku." aku sudah melesat maju. Bensar saja, aku didahului kamu. Kamu sudah jauh melesat di depan. Satu puteran di tempat kita olah raga jaraknya 5km. Kamu lebih dahulu sampai finish, aku masih jauh tertinggal di belakang.
"Aku udah sampai tempat finish yaa."
"kamu cepet banget sih."
"Aku tunggu kamu di tempat tadi ya." Pesanmu tak aku balas, aku meneruskan lariku yang tertinggal jauh di belakang. Kamu kembali mengirimi aku pesan "masih jauh?"
Tak berapa lama aku tiba di finish, ada kamu sedang pedinginan.
"Lama banget sih kamu. Aku udah abis makan lontong sayur 2 piring."
"Masa? Ya wajar aku lama. Aku kan 6km, kamu 5km."
"6km dari mana?"
"Aku kan lewat jalur yang itu dua kali, pas pergi sebelum nyamper kamu aku udah lari 1km."
"Hahahahaha. alasan. Yaudah nyari minum yuk."
Akhirnya setelah berlari kita memutuskan untuk duduk di pinggiran danau sambil makan bubur kacang hijau. Kamu memotretku diam-diam kemudian dikirim ke grup dengan caption "persiapan untuk nanjak bulan depan".
"kamu kirim fotoku ke grup?"
"Iya, kenapa emang?"
"Gapapa sih. Itu kan keringetan banget fotonya."
"Hahahaha."

Pagi itu selain menghabiskan semangkuk bubur kacang hijau, kita habiskan waktu untuk bertukar cerita, bercanda dan berfoto. Setelahnya kamu mengantar aku pulang, tentu tidak sampai rumah. Hanya sampai depan gang, aku selalu meminta demikian.

"lari-mu cepat sekali seperti orang yang ingin mengambil doorprize" -Dari aku yang selalu menyukai matamu.

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (15)

Seperti harapanku pada malam itu yag tidak ingin malam berakhir, ternyata kita kembali dekat sejak pertemuan acara talkshow yang lalu itu. Komunikasi kita kembali membaik. Banyak hal yang sudah kita bagi, banyak hal yang ternyata memiliki kesamaan salah satunya adalah selera musik. Ada beberapa band dan penyanyi yang ternyata sama-sama kita favorit kan. Musik adalah bahasa yang universal, kita bisa membahas musik dengan siapa saja, menjadi pembuka obrolan pun bisa.
Ada salah satu grup musik Indonesia yang menjadi favorit aku dan baru aku tahu juga ternyata kamu pun menyukai grup musik tersebut. Hari itu kamu mengirimi aku sebuah video musik grup tersebut.
"Itu siapa yang nonton? Aduh, itu pemain gitarnya keren banget." Aku bertanya penuh semangat
"maukah kau tuk menjadi pilihanku, menjadi yang terakhir dalam hidupku. Maukah kau tuk menjadi yang pertama yang selalu ada di saat ku membuka mata." kamu tidak menjawab pertanyaanku, kamu justru mengirim lirik lagu grup musik yang kita suka.
'jika itu sebuah pertanyaan maka aku akan menjawab "ya", namun jika itu hanya sebuah pernyataan aku pun aka tetap menjawab "ya". Selama itu denganmu, aku pun mau.' jawabku dalam hati saat menerima pesanmu. Namun, sungguh tidak aku ungkapkan seperti itu. Aku hanya membalas dengan melanjutkan lirik lagu tersebut.

Tahun sudah berganti, tahun kedua aku mengenal kamu. Sudah satu tahun ternyata.
Januari 2017 aku pergi berlibur ke Lombok. Liburanku kali ini ditemani oleh kamu, ditemani melalui chat.
"Besok aku berangkat ke Lombok." kataku
"Mau ikuuuut." katamu
"Ayoo, ikut. Jalan-jalan."
"Mau jalan-jalan yang jauh."
"Eh, jangan deh. Nanti diomelin bunda." kataku meledek.
Hari pertama jadwal ku di Lombok cukup banyak, sore hari aku mengunjungi pantai. Aku iseng mnegirimimu foto aku sedang di pantai. Perbedaan jam antara Lombok - Jakarta adalah 1 jam dan aku tahu pasti jam segini kamu masih di kantor.
"gak terasa yaa, kamu udah kemana-mana, aku masih kerja aja." balasmu.
Hari-hari berikutnya selama aku di Lombok kita terus berkabar. Aku bercerita tentang salah satu budaya Lombok, tentang tradisi menculik sebelum menikah.
"Jadi di sini kalau mau nikah, perempuannya harus diculik dulu semalam atau beberapa hari. Terus kalau sudah menikah, diarak keliling kampung pakai baju pengantin."
"Diculik dulu?" tanyamu heran.
"Iya."
"Kamu mau gak aku culik?" tanyamu. Ah, lagi-lagi aku tidak membalas serius meski hatiku ingin.`.
Kamu juga sering mengirimi aku chat dengan hanya berkata "Pulang".
'Sejauh apapun aku pergi, kamu adalah rumah.' batinku.
Setelah landing pesawat tiba di Jakarta, lagi kamu mengirimi aku pesan "sudah sampai belum?","sudah di rumah?" . Aku menjawab "sudah landing, lagi nunggu koper isinya oleh-oleh buat kamu."
Bagaimana tidak aku mengirimimu oleh-oleh khas Lombok, kalau perjalananku selalu ada kamu yang aku kabari. Aku meminta alamat kantormu untuk untuk aku kirim paket oleh-oleh. Aku memberikan sarung, kali pertama aku membelikan laki-laki sarung sebagai hadiah. Dan ada beberapa oleh-oleh kecil lain yang aku selipkan. Semoga sarung itu bisa menemani ibadahmu.