Catatan Domba Betina: Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (15)

Jumat, 13 April 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (15)

Seperti harapanku pada malam itu yag tidak ingin malam berakhir, ternyata kita kembali dekat sejak pertemuan acara talkshow yang lalu itu. Komunikasi kita kembali membaik. Banyak hal yang sudah kita bagi, banyak hal yang ternyata memiliki kesamaan salah satunya adalah selera musik. Ada beberapa band dan penyanyi yang ternyata sama-sama kita favorit kan. Musik adalah bahasa yang universal, kita bisa membahas musik dengan siapa saja, menjadi pembuka obrolan pun bisa.
Ada salah satu grup musik Indonesia yang menjadi favorit aku dan baru aku tahu juga ternyata kamu pun menyukai grup musik tersebut. Hari itu kamu mengirimi aku sebuah video musik grup tersebut.
"Itu siapa yang nonton? Aduh, itu pemain gitarnya keren banget." Aku bertanya penuh semangat
"maukah kau tuk menjadi pilihanku, menjadi yang terakhir dalam hidupku. Maukah kau tuk menjadi yang pertama yang selalu ada di saat ku membuka mata." kamu tidak menjawab pertanyaanku, kamu justru mengirim lirik lagu grup musik yang kita suka.
'jika itu sebuah pertanyaan maka aku akan menjawab "ya", namun jika itu hanya sebuah pernyataan aku pun aka tetap menjawab "ya". Selama itu denganmu, aku pun mau.' jawabku dalam hati saat menerima pesanmu. Namun, sungguh tidak aku ungkapkan seperti itu. Aku hanya membalas dengan melanjutkan lirik lagu tersebut.

Tahun sudah berganti, tahun kedua aku mengenal kamu. Sudah satu tahun ternyata.
Januari 2017 aku pergi berlibur ke Lombok. Liburanku kali ini ditemani oleh kamu, ditemani melalui chat.
"Besok aku berangkat ke Lombok." kataku
"Mau ikuuuut." katamu
"Ayoo, ikut. Jalan-jalan."
"Mau jalan-jalan yang jauh."
"Eh, jangan deh. Nanti diomelin bunda." kataku meledek.
Hari pertama jadwal ku di Lombok cukup banyak, sore hari aku mengunjungi pantai. Aku iseng mnegirimimu foto aku sedang di pantai. Perbedaan jam antara Lombok - Jakarta adalah 1 jam dan aku tahu pasti jam segini kamu masih di kantor.
"gak terasa yaa, kamu udah kemana-mana, aku masih kerja aja." balasmu.
Hari-hari berikutnya selama aku di Lombok kita terus berkabar. Aku bercerita tentang salah satu budaya Lombok, tentang tradisi menculik sebelum menikah.
"Jadi di sini kalau mau nikah, perempuannya harus diculik dulu semalam atau beberapa hari. Terus kalau sudah menikah, diarak keliling kampung pakai baju pengantin."
"Diculik dulu?" tanyamu heran.
"Iya."
"Kamu mau gak aku culik?" tanyamu. Ah, lagi-lagi aku tidak membalas serius meski hatiku ingin.`.
Kamu juga sering mengirimi aku chat dengan hanya berkata "Pulang".
'Sejauh apapun aku pergi, kamu adalah rumah.' batinku.
Setelah landing pesawat tiba di Jakarta, lagi kamu mengirimi aku pesan "sudah sampai belum?","sudah di rumah?" . Aku menjawab "sudah landing, lagi nunggu koper isinya oleh-oleh buat kamu."
Bagaimana tidak aku mengirimimu oleh-oleh khas Lombok, kalau perjalananku selalu ada kamu yang aku kabari. Aku meminta alamat kantormu untuk untuk aku kirim paket oleh-oleh. Aku memberikan sarung, kali pertama aku membelikan laki-laki sarung sebagai hadiah. Dan ada beberapa oleh-oleh kecil lain yang aku selipkan. Semoga sarung itu bisa menemani ibadahmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar