Catatan Domba Betina: Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (16)

Jumat, 13 April 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (16)

Malam minggu kali ini aku habiskan berkumpul di kedai kopi bersama teman-teman kampusku. Efek kafein membuat mataku masih tetap segar walau jam sudah menunjukan hampir pukul 12 malam. Layar ponselku masih menyala, kita masih balas membalas chat. Kamu mengatakan ingin lari pagi besok dan kemudian kita bersepakat akan melakukan lari pagi esok hari. Olah raga bersama sudah menjadi wacana lama yang sering kita bicarakan namu tidak pernah terwujud.

Akhirnya 5 Maret 2017, aku bangun pagi sekali tidak mandi hanya cuci muka dan gosok gigi, aku mengganti pakaian, ku kenakan kaos berwarna merah marun dan celana training, ku kenakan sepatu lariku kemudian aku minta tolong diantar Mama ke tempat lari di mana ternyata kamu sudah sampai terlebih dahulu pagi itu. Aku diantar Mama melalui pintu belakang sedangkan kamu sudah menunggu di parkiran depan. Kamu mengirimi aku pesan berkata "buruan","lama banget","aku di parkiran sendirian nih." . Aku jadi ingat pertemuan kita saat di kantin kampus waktu itu, kamu juga menghujaniku dengan pesan yang bernada serupa. Kamu tidak senang menunggu, ya?
Untuk sampai di parkiran pintu depan, aku harus berjalan kira-kira 1km. Saat itu aku sudah berjalan cepat namun kamu terus menerus menghujani aku pesan, sudah 500m lagi aku sampai di parkiran depan.
"Iya, sebentar lagi aku tiba." balasku singkat dari sekian banyak pesanmu
"Aku hitung 1 menit dari sekarang." balasmu, aku hanya membaca. kemudian benar saja kamu menghitung 
"60"
"59"
"58" aku membaca pesanmu dan langsung berlari sekencang mungkin untuk sampai di parkira depan. Baru kali itu aku berlari kencang sekali dengan perasaan berbunga, seperti sedang mengejar sesuatu yang menyenangkan. Kamu. Dan benar saja aku tiba sebelum satu menit hitunganmu berakhir, dengan keringat yang sudah mengucur aku menemuimu.
"Ah, belum apa-apa udah keringetan duluan. Gara-gara kamu nih. Aku lari tahu."
"Gapapa, pemanasan."
"Yaudah yuk lari lagi."
"Tunggu, anter ke motor dulu."
"Ngapain lagi?"
"Naro jaket." Aku pun membuntuti mu hingga ke parkiran.
"Kamu hadap sana dulu."
"Mau ngapain sih?"
"Buka jaket."
"Yaelah, ntar juga keliatan-keliatan juga."
"Hahahaha.. Iya sih." kamu tertawa, kamu pun membuka jaketmu. Aku tertegun melihatmu, tertegun melihat otot lenganmu, pagi itu kamu mengenakan kaos basket tanpa lengan. Ternyata kita mengenakan warna baju yang senada, yang bahkan kita tidak janjian sebelumnya.
"Ayooo kita lari, lewat jalur yang mana dulu nih?" katamu membuyarkan lamunanku.
"Lewat sini aja." kataku gagap.

Jika kebanyakan orang yang aku lihat jika olah raga berdua, mereka kerap kali bukan lari justru berjalan sambil ngobrol santai atau bermanja-manja atau bermanis-manis ria atau berpegangan tangan. Lain halnya dengan kita, kita betul-betul berolah raga.
"kamu duluan deh larinya."
"Oke."
"Ntar juga kesusul sama aku." aku sudah melesat maju. Bensar saja, aku didahului kamu. Kamu sudah jauh melesat di depan. Satu puteran di tempat kita olah raga jaraknya 5km. Kamu lebih dahulu sampai finish, aku masih jauh tertinggal di belakang.
"Aku udah sampai tempat finish yaa."
"kamu cepet banget sih."
"Aku tunggu kamu di tempat tadi ya." Pesanmu tak aku balas, aku meneruskan lariku yang tertinggal jauh di belakang. Kamu kembali mengirimi aku pesan "masih jauh?"
Tak berapa lama aku tiba di finish, ada kamu sedang pedinginan.
"Lama banget sih kamu. Aku udah abis makan lontong sayur 2 piring."
"Masa? Ya wajar aku lama. Aku kan 6km, kamu 5km."
"6km dari mana?"
"Aku kan lewat jalur yang itu dua kali, pas pergi sebelum nyamper kamu aku udah lari 1km."
"Hahahahaha. alasan. Yaudah nyari minum yuk."
Akhirnya setelah berlari kita memutuskan untuk duduk di pinggiran danau sambil makan bubur kacang hijau. Kamu memotretku diam-diam kemudian dikirim ke grup dengan caption "persiapan untuk nanjak bulan depan".
"kamu kirim fotoku ke grup?"
"Iya, kenapa emang?"
"Gapapa sih. Itu kan keringetan banget fotonya."
"Hahahaha."

Pagi itu selain menghabiskan semangkuk bubur kacang hijau, kita habiskan waktu untuk bertukar cerita, bercanda dan berfoto. Setelahnya kamu mengantar aku pulang, tentu tidak sampai rumah. Hanya sampai depan gang, aku selalu meminta demikian.

"lari-mu cepat sekali seperti orang yang ingin mengambil doorprize" -Dari aku yang selalu menyukai matamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar