SEPATU || Selalu bersama tak bisa bersatu
8 April 2017 saat itu komunitas pecinta alam mengadakan acara syukuran hari jadi yang ke empat tahun. Aku masih bimbang akan datang atau tidak karena aku ada acara lain.
"Bukunya sudah aku bawa." kamu mengirimi aku pesan, aku memang ingin meminjam bukumu dan karena belum sempat bertemu kali ini adalah saat yang tepat untuk bertemu di acara syukuran.
"Aku usahain dateng, tapi aku telat kayaknya." benar saja aku telat, aku datang saat acara resmi sudah selesai tinggal obrolan-obrolan santai.
"Sini deh." panggilmu menggiringku untuk masuk ke dalam. Kamu mengambil tasmu dan mengeluarkan buku yang ingin aku pinjam.
Aku duduk berhadapan denganmu, kamu memberikan dua buku.
"Nah ini." kataku senang dengan mata berbinar memegang buku itu.
"Bentar ada lagi satu lagi."
"Emang ada ada tiga? kayaknya cuma dua seri."
"Yang ini beda." kamu memberikan satu novel dengan sampul biru
"The Pilot's Woman; Tinggallah di hatiku selamanya." aku membacakan judul novel tersebut sambil tersenyum dan menjawab dalam hati 'aku akan.'
"Aku kan gak minjam ini?" lagi-lagi apa yang aku ucapkan selalu tidak sesuai dengan apa yang aku katakan di hatiku
"Ya gapapa, dibaca aja ya."
"Oke. Kamu punya juga novel beginian."
"Punya satu. Bentar-bentar, aku belum tanda tangani buku-buku aku." kemudian kamu menggoreskan tanda tanganmu ke buku-bukumu.
"Aku pinjam dulu ya." kataku sambil tersenyum
"Iya, bawa aja."
"Nanti pulang sama siapa?"
"Gak tau, ojek paling." aku paling tidak bisa meminta atau merengek kepada siapapun untuk minta diantar, aku merasa tidak enak hati.
"Nanti bareng aku saja."
"Oke. Udah ah keluar, gak enak yang lain pada ngumpul di luar semua." kemudian aku keluar lebih dulu
***
Nampaknya tidak bisa jika datang ke basecamp jika pulang cepat pasti tengah malam baru pulang
"Ayra pulang diantar Sakha kan?" tanya salah seorang
"Gak tau. Hehehe." kataku sambil nyengir
"Sakha, lu balik sama Ayra. Anter dia sampai rumahnya. Oke." pinta salah seorang itu
"Hmmm, gimana yaa?" katamu bercanda.
"ayo pulang yuk, sudah jam 12 malam. aku nanti berubah jadi labu." pintaku sambil berbicara pelan
"Hayuuk." kemudian kamu beranjak dan mengenakan jaket birumu.
Tengah malam angin malam berhembus kencang sekencang pertanyaan-pertanyaan teman-teman yang bertanya tentang hubungan kita, tentang kita, tentang sejauh apa kita dekat.
Aku sudah pernah bertanya padamu mengenai hal ini, bahwa aku sering sekali mendapati pertanyaan dari teman-teman kita. Namun saat itu kamu hanya menjawab "sudah tidak usah dibahas." bodohnya aku mengiyakan. Dua kali aku bertanya dan kamu pun menjawab dengan jawaban yang sama.
***
Sejak malam itu pertanyaan kembali bermunculan.
Kalian pacaran?
Kalian deket banget deh.
Kalian menjalin hubungan apa sih?
Aku selalu menjawab tidak ada perasaan atau hubungan apa-apa. Maaf aku berbohong masalah perasaan. Tapi aku juga bingung mau menjawab apa tentang hubungan ini.
Hari ini aku tersadar, mungkin memang tidak ada aku di hatimu.
Mungkin memang perasaanku ini tak berbalas,
Mungkin memang aku tidak pernah nampak di matamu,
Aku sadar kini bahwa aku akan mundur.
Perlahan mundur, perlahan hilang.
Berat meninggalkan sesuatu yang memang sudah terbiasa ada.
Tapi aku harus bisa.
20 April 2017
Dari aku yang sedang berupaya membiasakan diri tanpa kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar