Catatan Domba Betina: Agustus 2018

Kamis, 23 Agustus 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (21)

Ada satu keingina dalam hidup yang ingin sekali aku dapatkan yaitu punya medali hasil lari maraton. Aku sekarang ini lagi gila-gilanya olah raga lari, tak ayal aku pun ingin sekali memiliki medali dari hasil keringat olah ragaku.

Siang itu aku dapati notifikasi dari grup pecinta alam yang ternyata kamu mengirimkan info tentang olah raga marathon 5K yang bertema Happy Run. Aku pun mendaftar sesuai dengan infromasi dari diberikan. Tak lama kamu pun mengirimi aku pesan pribadi yang isinya sama seperti di grup whatsapp iu.
"Aku udah daftar." Balasku
"Sama doong. Aku juga."
"Horeeee, nanti ramean yaa."
"Iyaaa, ini si Yudi juga ikutan."
"Ohya? Bang Yudi ikutan? Yess rame."

Pengambilan racepack dilakukan 3 hari, namun aku memutuskan untuk mengambilnya pada hari Sabtu 6 Mei 2017.
"Nanti ngambil racepack yaa jangan lupa." katamu di whatsapp
"Bertiga kan sama Bang Yudi?"
"Iya berangkat bertiga nanti kita naik busway aja."
"Oke deh sip."

Setelah agak siangan kamu mengirimi pesan lagi
"Si Yudi gak jadi ikut, dia mau nganter istrinya."
"Trus kita berdua doang?"
"Iya. Yudi nitip aja katanya."
Deg! Aku kaget begitu tahu bahwa kita hanya akan pergi berdua.

Siang itu aku dan kamu bersepakat untuk bertemu di pull busway jurusan Kota.
"Gak usah dijemput ya?" katamu
"Iya gak usah, muter-muter kamunya. Langsung ketemu di pull aja."
Aku diantar ojek online, aku mengenakan celana merah dan cardigan abu. Aku tak melihat kamu saat itu, entah sudah datang atau belum kamu. Aku kembali mengirimi chat
"Aku udah sampai. Kamu dimana?"
"Aku udah sampai juga. Di belakang parkir motor."
"Aku tunggu di haltenya yaa."
Dan kamu pun menghampiri. Kamu mengenakan kaos hitam, celana hitam, tas punggung, tak lupa jam tangan hitam yang selalu melekat di lengan kirimu. Rambutmu selalu terlihat rapi.
"Udah daritadi?"
"Gak baru aja." Aku menjawab singkat, jujur saja entah kenapa kamu selalu membuat jantungku memiliki ritme yang lebih cepat dari biasanya.
"Rapi banget sih?" protesmu
"Rapi apa sih? Kayak gini doang dibilang rapi." jawabku penuh pembelaan.

Setelah bertanya pada petugas akhirnya kita masuk ke dalam bus jurusan Kota. Kita duduk bersebelahan dan banyak bercerita saat itu. Dan saat di tengah perjalanan ada seorang wanita baru naik dan berdiri di depan kita, lalu kamu berdiri memberikan tempat dudukmu untuk wanita itu. Aku tersenyum saat melihat sikapmu, aku senang sekali melihat pemandangan seperti itu. Kamu pun sadar bahwa aku tersenyum untukmu, kamu pun membalas senyumanku dan berdiri di depanku, sempat aku tawarkan agar tas-mu aku yang pegang saja agar tidak berat namun kamu menolak. "Tidak apa-apa." katamu.

Setelah wanita itu turun kemudian kamu kembali duduk di sebelahku, seperti biasa kita bertukar cerita tentang apa saja dan bahkan berbagi headset berdua mendengarkan salah satu acara radio favorit kita di setiap hari Sabtu.
Sore itu Jakarta mendung dan hujan rintik-rintik sudah mulai turun.
"Dikit lagi sampe nih. Dua halte lagi" kataku
"Kamu hapal banget."
"Ya gimana yaa, tiap hari lewat sini."
 Kita turun di halte Gelora Bung Karno kemudian setelah itu kita harus mencari tempat pengambilan race packk yang jujur saja kita tidak tahu tempatnya. Akhirnya kita masuk dari pintu 4 di samping FX Sudirman. Setelah masuk lewat pintu 4, saat itu sepi sekali dan tidak banyak lampu yang menyala namun masih ada petugas parkir yang berjaga.
"Tunggu sini dulu, aku tanya sama tukang parkir." kamu pun meyebrang menuju pos jaga parkir. tak sampai dua menit kamu kembali
"Bisa kok lewat sini, tinggal lurus aja tapi agak lumayan jaraknya. Gapapa?"
"Gapapa."
Akhirnya kita menyusuri komplek GBK malam itu.
"Aku pengen pipis." katamu
"Hah? Pipis?" tanyaku agak terkejut.
"Iya, gak tahan nih."
"ah, aku gak tahu toilet di sini di mana."
"Kamu tunggu sini yaa, aku pipis di pohon situ aja."
"Serius?" memang saat itu agak gelap di sebelah kanan jalan dan banyak pepohonan., setelah aku mengiyakan kamu pun pergi. Ah, kenapa sih kamu selalu kebelet pipis saat bersamaku dan ini kedua kalinya aku menungguimu pipis di pohon.

Dan kita pun sampai di tempat pengambilan race pack, setelah agak lama mengantri kita mendapatkan satu buah tas yang berisi kaos dan nomor BIB. Niat hati ingin segera pulang namun hujan turun dengan deras saat itu, kita mengurungkan niat untuk pulang dan memilih menunggu hujan reda. Hanya ada satu bangku kosong di sana yang kemudian kamu menyilakan aku duduk di sana.
"Duduk deh di situ dulu." katamu
"Kamu duduk di mana?" tanyaku
"Gampang." Kemudian aku duduk di kursi merah itu dan kamu duduk di lantai. Kamu mengeluarkan buku bacaan dari dalam tas-mu.
"Lupa, aku lagi baca ini sekarang." kamu menunjukan salah satu buku yang sedang kamu baca.
"Aku lagi baca ini." aku pun membawa buku bacaan di dalam tas-ku dan menunjukannya padamu.
Akhirnya malam itu kita larut dalam buku bacaan masing-masing dengan suara hujan sebagai musik latarnya. Sesekali kamu menunjukan kalimat-kalimat bagus yang kamu baca kepadaku.

Hari sudah semakin malam dan hujan belum berhenti juga.
"Aku bawa payung di tas." kataku
"Mau pulang sekarang?"
"Iya, udah gak terlalu deras kayak tadi."
"Yaudah, mana payungnya? buka aja sekarang, kita terobos aja hujannya."
Aku mengeluarkan payung berwarna pink dari tas-ku
"Haduuh, warnanya pink lagi." katamu
"Kenapa? malu?"
"Gapapa.. hahaha"

Kamu pun memegang payungku dan kita mulai keluar dari tempat racepack menuju halte Gelora Bung Karno. Berjalan berdua denganmu dengan payung di tangan kananmu dan tangan ku melingkar di tangan kirimu, berjalan beriringan menghindari genangan-genangan air sambil berbicara apa saja, bercanda dan bernyanyi.
Kamu berhenti melangkah, aku pun. Di bawah pohon rindang kamu menatapku, lampu jalan menyala seadanya tak begitu terang, orang lalu lalang pun tak ada, kemudian kamu menyingkirkan payung dari atas kepala kita.
"Kenapa?" tanyaku bingung
"Udah gak ujan ya." tanganmu sambil menadah ke langit merasakan air hujan, aku melihat ke langit memastikan apakah benar hujan sudah berhenti. Secepat kilat kamu menendang batang pohon dengan keras sehingga air hujan yang menggantung di rantingnya bergoyang dan jatuh ke kepalaku, kemudian kamu berlari sambil tertawa.
"Ihhhh, reseeeee." teriakku sambil mengejar kamu.
"Hahahaha.."
"Jahat. Basah tauuu."
"Hahahaha.. iseeeeng." aku mencubit perutmu beberapa kali.

Kita melanjutkan perjalanan kembali menuju halte
"Gak ada yang kayak kita nih." katamu
"Kayak kita gimana?"
"Iyaa, jalan ujan-ujan pake payung berdua di malam minggu."
"Hahaha, iya gak ada." jawabku sambil nengok kanan kiri karena memang komplek GBK malam itu tidak ramai orang.
Kamu kembali menghentikan langkah, aku pun.
"Kamu lihat deh gedung-gedung perkantoran itu." katamu sambil menunjuk gedung-gedung tinggi penghias kota Jakarta.
"Iya, kenapa?"
"Dulu kamu pernah bilang pas masih kuliah kalau kamu ingin sekali bekerja di gedung tinggi, kerja di kantoran"
"Hahaha iyaa." aku sambil tersenyum malu karena mengingat salah satu mimpi itu.
"Mimpimu sudah terwujud. Kamu udah berhasil kerja di gedung itu."
"Iya, alhamdulillah." betapa percakapan itu mulai menyentuhku, betapa kita harus percaya akan mimpi kita, apapun itu.
Kita kembali melanjutkan langkah menuju halte.

Malam itu malam minggu dan hujan rintik masih turun di langit Jakarta. Halte GBK masih ramai penumpang yang menunggu bis-nya datang. Kita pun menunggu di antrian. Kamu menyuruhku untuk membaca buku di halte sambil menunggu bus tiba, aku menggeleng tidak mau membaca. Kita berdiri sambil berhadapan dan kamu membetulkan jilbab ku yang berantakan.
"Dada kamu kelihatan." ucapmu sambil menutupi dadaku dengan hijabku. Aku buru-buru membetulkannya sendiri sambil berucap terima kasih.
Wanita selalu terkesan dengan hal kecil dan sederhana seperti itu.

Setelah menunggu agak lama akhirnya bus kita datang. Penuh. Tak ada kursi kosong malam itu, mau tidak mau kita berdiri selama perjalanan.
Kembali aku mengeluarkan ponsel dan mulai menyalakan radio untuk menghilangkan rasa bosan. Berbagi headset berdua denganmu sambil mendengarkan acara radio favorit kita yang memang terus mengudara sepanjang hari Sabtu.
Sang penyiar berkata malam itu "Kalau ada cewek yang suka denger lagu-lagu genre rock atau hardcore gini tuh keren yaa. She's the one pokoknya." dan kamu menatapku yang berdiri di sebelahmu dan berbisik "you're the one, special." . Aku tersenyum karena paham apa maksud ucapanmu karena acara radio yang kita dengarkan adalah acara musik rock dan sejenisnya.
Kemudian penyiar radio tersebut memutar lagu Only One - Yellowcard. Tanpa aku sadari aku menyanyikannya dengan suara pelan dan kamu pun. Ternyata kita hapal lagu itu. Akhirnya kita bernyanyi bersama di tengah macetnya Jakarta, beberapa orang melihat kita yang mendadak duet di TransJakarta. Hahahaha.

Kamu menggantungkan kedua tanganmu di pegangan bus sambil menghadapku, menatapku dalam tanpa berkata apapun. Aku selalu saja kalah kalau harus beradu tatap denganmu.
Bus malam itu semakin ramai penumpang yang naik, memaksa kita untuk terus bergeser ke arah belakang bus, sebelah tanganmu di belakang ku mencoba untuk melindungiku dan tubuhku dengan aman bersandar di dadamu.
Setelah beberapa lama ada satu bangku kosong dan kamu menyuruhku untuk duduk lebih dulu, kamu masih tetap berdiri. Kemudian ada bangku kosong lagi yang agak jauh dariku, aku buru-buru memberi tahumu agar kamu duduk di sana. Kamu pun akhirnya duduk di sana.
Perjalanan semakin dekat sampai di tujuan, bangku di sebelahmu kosong dan kamu menyuruhku untuk pindah di sebelahmu, aku menggeleng tanda tidak mau. Namun, akhirnya aku pindah juga ke sebelahmu.
"Sana, di sana aja. Tadi gak mau pindah."
"Hahaha.. Enggak ah. Di sini aja." jawabku.

Sudah hampir tengah malam ketika kita tiba di halte tujuan akhir.
"Aku ambil motor dulu, kamu tunggu sini ya." katamu dan berlalu mengambil motor di parkiran belakang.
"Ayooo." ajakmu setelah mengambil motor.
"Kita makan dulu yaa, aku laper banget." kataku sambil naik ke motormu.
"Iya, mau makan apa?"
"Makan apa aja yang penting nasi. Pinggir jalan aja seketemunya."

Setelah berputar-putar mencari tempat makan karena kamu beberapa kali menolak beberapa tempat yang aku tunjuk dan hari sudah semakin malam akhirnya kita memutuskan untuk makan pecel ayam di dekat rumahku.
Tak ada yang makan di tempat malam itu hanya ada aku dan kamu yang makan. Karena lapar makanan yang disajikan tak lama untuk dihabiskan.
"Yaudah yuk. Udah setengah 12 malam nanti kamu dicariin. Aku bayar dulu." Katamu sambil menuju penjual dan membayar makan malam itu.

Kamu mengantarku sampai depan gang rumah, seperti biasa seusai permintaanku.
"Kamu hati-hati yaa, nanti kabarin kalau udah sampai rumah. Makasih udah dianter." kataku dan kamu mengiyakan kemudian berlalu pulang.


you're my only one
there's just no one like you do
you're my only one....
there's just no one, no one like you
you're my only one...

-yellowcard

Rabu, 22 Agustus 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (20)

Setelah kita sampai di tempat camp ternyata di sana tenda sudah berdiri tegak dan beberapa teman yang lain sedang bersiap memasak untuk makan malam. Tendaku dan tendamu jelas terpisah, tendamu tepat di sebelah tendaku. Aku memutuskan untuk merapikan tenda dan membersihkan diri dengan berganti pakaian, karena pakaian yang aku kenakan pada saat mendaki sudah basah oleh keringat. Kamu mungkin melakukan demikian dan membantu yang lain memasak, aku tidak tahu pasti karena aku sibuk di dalam tenda.

Gerimis tipis masih menemani kami semua di area camp hingga malam, kadang berhenti kadang gerimis datang. Kami berkumpul di depan tenda untuk menikmati makan malam dan ribuan bintang di langit. Saat malam hari langit cerah dengan mata telanjang pun kami bisa menikmati bintang-bintang di atas sana. Dinginnya malam itu bercampur dengan rasa lelah membuat diriku ingin segera tidur, akhirnya aku putuskan untuk tidur tak ikut begadang hingga malam dengan teman-teman yang lain. Lagipula kami semua harus bangun subuh hari untuk mengejar sunrise di puncak sana.

Suara alarm dan suara-suara pendaki lain yang lewat di depan tenda kami membuat kami semua terbangun dan bersiap untuk memulai pendakian ke puncak. Segala peralatan ditinggal, aku hanya membawa diri dan botol minum. Aku tidak bersama denganmu pada saat mendaki pagi buta itu, kamu terlebih dahulu di atas sana. Aku tertinggal jauh di belakang dikawal oleh seorang senior pendakian. Aku lemah pagi itu, aku lebih banyak meminta untuk break. Semakin tinggi oksigen yang aku hirup semakin tipis yang membuat aku sedikit sulit bernafas, ditambah perutku kosong. Aku sempat muntah di jalur pendakian, untung saja seniorku itu sabar menghadapiku yang lemah ini. Sempat aku ingin menyerah padahal gunung ini pernah aku daki sebelumnya tapi kali ini fisikku tidak fit, namun berkat dorongan positif dari seniorku akhirnya aku berhasil mencapai puncak. Aku mencari teman-teman yang lain yang sudah sampai lebih dulu di atas sana.

Takjub aku melihat matahari terbit di atas puncak gunung gede, walau ini bukan pertama kalinya tapi rasanya selalu seperti pertama kali. Sungguh indah ciptaan Tuhan.
Suasana di puncak pagi itu cukup ramai, para pendaki sibuk mengabadikan gold moment ini, tak terkecuali aku. Kondisi fisikku membaik setelah sampai di puncak, jadilah aku bersemangat mengabadikan moment ini. Aku dan kamu pun banyak mengambil foto berdua. Koleksi foto berdua kita semakin banyak saja. Bahkan terkadang aku sadar bahwa di waktu-waktu tertentu kita lebih sering sibuk berdua ketimbang bergabung dengan yang lain. Mungkin ini adalah matahari terbit terindah yang aku nikmati bersama kamu.

Hari semakin siang dan kami semua memutuskan untuk turun kembali ke tenda bersiap makan siang dan kembali pulang. Setelah sampai di tenda kembali sebelum bersiap untuk kembali pulang, kami memutuskan untuk bermain-main di sekitar camp.  Kemudian kami makan siang dan bersiap merapikan tenda dan keril-keril untuk siap turun gunung. Kami saling membantu melipat tenda.
Aku membantu melipat tenda di lahan kosong yang tidak begitu jauh dengan tempat camp. Kamu sibuk membantu dan sibuk dengan kameramu. Setelah aku selesai membantu melipat tenda di lahan sebelah, aku kembali ke tempat kita nge-camp. Kemudian kamu berkata, "Gue kira lu di sana ketawa-ketawa sama pendaki lain.". Aku bingung dengan pernyataanmu, "maksudnya?" tanyaku bingung.
"Iya, tadi gue kira lu ngapain di sana sama pendaki lain ketawa-ketawa." katamu menjelaskan
"Oh, bukan pendaki lain kok itu teman kita, bantuin lipet tenda."
"Iya kirain sama pendaki lain."
Semuanya sudah rapi dan kami semua sudah siap untuk turun gunung, tidak lupa kami berdoa untuk keselamatan turun gunung.

Saat turun gunung ini aku dan kamu tidak banyak bersama, aku lebih dulu jalan sedangkan kamu jauh tertinggal di belakang. Aku jalan lebih dulu ditemani salah seorang teman laki-laki lain, laki-laki ini memang dulu dekat denganku dan saat ini aku menjaga jarak darinya namun ia masih terus berusaha untuk mendekati. Di sepanjang jalur pendakian turun ini aku terus menerus melihat ke belakang mencari kamu. Entah kenapa perasaanku saat itu khawatir, aku berpikir saat itu kamu sakit karena cideramu itu.
"Kenapa sih liat ke belakang terus?" tanya laki-laki itu
"Gapapa." Aku menjawab dan meneruskan langkah. Kerap laki-laki itu mengulurkan tangan untuk membantuku turun, namun aku terus menjawab "Bisa sendiri kok. Makasih."
Di sela-sela istirahat di pinggir jalur pendakian laki-laki itu mengajak kembali meneruskan perjalanan, aku berkata "yang belakang masih lama ya? aku nunggu yang belakang aja deh."
Mungkin laki-laki itu sedikit emosi denganku kemudian dia berkata "Ngapain sih nunggu yang belakang? Mereka masih lama kita jalan duluan aja."
"Tapi Sakha itu cidera. Kakinya pasti sakit." Aku akhirnya menjawab
"Ya kalau dia cidera juga ada yang lain bantuin." jawab laki-laki itu sedikit agak keras
"Kalau dia sendirian gimana? Gak ada yang tau kalau kaki dia sakit?"
"Pasti tau. Yaudah terserah sekarang kamu mau lanjut jalan lagi atau nunggu di sini sendirian?" ucap laki-laki itu sembari jalan meninggalkanku. Saat itu aku coba melawan egoku sendiri, aku mulai kembali berjalan meneruskan perjalanan. Namun di tengah-tengah perjalanan aku tidak menemukan laki-laki itu. 'oh, beneran aku ditinggal' batinku dan saat itu hutan sepi sekali tidak ada pendaki lain yang lewat, aku terus menguatkan diri untuk berani. Tak berapa lama laki-laki itu muncul kembali yang membuat aku sedikit lega.
"Kita harus ngejar waktu, jangan sampai gelap di hutan ini bahaya. Jangan khawatir, kalau dia cidera pasti dibantu sama yang lain." ucap laki-laki itu pada akhirnya.

Aku tiba di pos terakhir sudah sedikit lagi sampai di basecamp bawah. Di sana aku duduk beristirahat menunggu teman-teman yang lain termasuk menunggu kamu. Akhirnya setelah beberapa saat kamu datang, benar saja dugaanku bahwa kakimu sakit. Kamu datang dengan kaki yang hampir diseret, dipunggungmu tidak ada tas.
"Sakit ya?" kataku saat kamu mulai mendekat
"Iyaa kakinya." jawabmu lesu.
"Tasnya mana?" tanyaku kembali
"Itu dibawain sama Bang Tirta."
"Yaudah nanti pelan-pelan aja, udah deket kok."
Melanjutkan perjalanan setelah lumayan beristirahat di pos terakhir. Kita kembali beriringan, aku kembali membantumu berjalan. Hingga perumahan penduduk sudah mulai terlihat.
Rumah-rumah di sana  begitu asri dengan halaman yang banyak lahan untuk berkebun.
"Aku nanti kalau udah nikah atau udah tua mau tinggal di desa-desa kayak gini aja." kataku
"kenapa? adem yaa?"
"Iya adem, udah pusing sama macet dan ruwetnya Jakarta."
"Iya sih, enak ya rumahnya ada lahan buat berkebunnya."
"Iya, aku juga pengen berkebun. Udah tua di rumah aja terus berkebun."
"Emang kamu betah tinggal di desa gini? Trus bisa emang berkebun?"
"Betah doong. Ya belajar kan kalau berkebun."
"Hahahaha, yaudah nanti di sini aja dipinggiran Jakarta. Aku seneng acara TV yang gimana ya yang ada orang bikin sesuatu tapi bermanfaat bagi banyak orang gitu."
Lalu obrolan kita kembali kemana-mana dan tangan kita tak lepas terus saling menggenggam
"Tas kamu sini biar aku yang bawa." katamu meminta.
"Gak usah, aku kuat kok. Udah mau sampai juga."
"Gapapa sini aku yang bawa. Udah banyak penduduk di bawah sana. Masa ceweknya yang bawa tas, aku gak bawa, gitu nanti kata orang-orang di bawah sana." katamu
"Hahahaha... kamu kuat emang? udah gak sakit?" 
"Kuat." Akhirnya aku menyerahkan tasku untuk dibawakan kamu sampai ke basecamp.

Semuanya sudah kembali ke basecamp sudah selesai membersihkan diri, mengisi perut tinggal menunggu mobil jemputan untuk kembali membawa kami semua pulang. Waktu itu ada bencana alam longosr di daerah puncak yang menyebabkan kemacetan total yang berimbas pada telatnya mobil jemputan datang. Mobil jemputan datang sudah tengah malam.

Kami semua sampai di Jakarta hampir pagi, kami tiba di basecamp pecinta alam. Tak mungkin aku pulang dini hari begitu, maka aku putuskan untuk menginap beberapa jam di sana.
"Kamu nginep?" tanyamu
"Iya, udah gak ada angkutan juga jam segini. Kamu?"
"Aku juga besok pagi aja. Bareng?"
"Iya bareng yaa."
"Bangunin aku jam 6 yaa."
"Oke."

Ternyata pagi itu kamu bangun lebih dulu dan kemudian aku baru terbangun
"Pulang sekarang?" tanyaku
"Iya. Kamu pulang sekarang gak?"
"Iya pulang juga."
"Ayoooo."
Akhirnya aku bersiap tanpa cuci muka langsung naik motormu dan kamu mengantarku sampai depan gang rumah, seperti biasa, seperti permintaanku.


Perjalanan ini membuat aku begitu terkesan.
Ada rasa bahagia yang terus melekat di sana; di hatiku.
Perjalanan ini mungkin akan selalu aku ingat.
Bersamamu aku tak ingin berakhir.

Cerita Perjalanan : Festival Seba Baduy 2018

Jumat sore saya mendapat chat dari seorang teman yang mengajak saya untuk melihat Festival Seba Baduy di alun-alun kota Serang pada hari Sabtu, 21 April 2018. Tanpa banyak berfikir saya pun mengiyakan ajakan teman saya tersebut karena ini adalah salah satu kesempatan luar biasa untuk mengetahui tentang budaya dari suku baduy.
Setelah saling berkomunikasi tentang di mana dan pukul berapa kami bertemu akhirnya kami memutuskan untuk bertemu di Stasiun Tigaraksa. Teman saya ini bernama Rahmat dan kebetulan dia tinggal di Balaraja, jadilah kami memutuskan untuk bertemu di Stasiun Tigaraksa.

Sabtu, 21 April 2018
Pagi-pagi sekali saya sudah bersiap untuk berangkat ke Stasiun Jurangmangu untuk mengejar kereta jurusan Stasiun Rangkasbitung jam 06.00 pagi. Saya meminta izin untuk pergi Serang pagi itu dan minta tolong untuk diantar ke Stasiun pagi itu. Seperti biasa yang rela mengantar saya ke Stasiun pagi-pagi adalah Mama. Namun dalam perjalanan menuju Stasiun Jurangmangu Mama berubah pikiran, Mama minta ikut ke Serang pagi itu. Saya tak sanggup menolak maka saya iyakan permintaan Mama, tak lupa saya mengabari Rahmat bertanya apakah tidak keberatan jika Mama saya ikut ke Serang dan teman saya itu pun tak masalah dengan itu.
Saya dan Mama membeli tiket PP St.Jurangmangu - St. Rangkasbitung, menunggu di peron 2  untuk kedatangan KRL Rangkasbitung. Suasana stasiun pagi itu sudah cukup ramai.
Stasiun Jurangmangu pada pagi hari
Saat KRL sudah mendekati Stasiun Tigaraksa saya mengabari Rahmat agar naik segera ke KRL yang akan tiba tak lupa saya memberi tahu di gerbong berapa saya dan Mama berada. Setelah melalui drama main cari-carian akhirnya kami bertemu. Perjalanan kali ini saya, Mama, Rahmat dan satu temannya, Erry namanya.
Pukul 09.00 kami tiba di Stasiun Rangkasbitung, untuk menuju Serang kami harus berganti ke kereta api ekonomi KA. Merak dengan tiket Rp 3.000,-/orang kami kemudian menuju St. Serang. Mama mengaku bahwa ini adalah perjalanan pertama menaiki kereta api.

Sebelum adzan dhuzur berkumandang kami sudah tiba di Stasiun Serang dengan bermodal bertanya dengan penduduk setempat kami akhirnya naik angkutan umum menuju pendopo dengan ongkos Rp 4.000,-/orang. Di pendopo ratusan masyarakat dari suku baduy sudah berkumpul dan baru saya tahu ternyata acaranya belum dimulai.










Mungkin belum banyak yang mengetahui apa itu Seba Baduy.
Seba Baduy adalah kegiatan rutin tahunan suku baduy, baik baduy dalam maupun baduy luar yang memberikan hasil panen mereka ke Bapak Gede atau pemerintah kota atau kepala daerah sebagai bentuk rasa syukur. Suku Baduy ini berbondong-bondong berjalan kaki ratusan kilometer untuk bertemu Gubernur Banten di Alun-Alun Serang. Sebetulnya ada 3 titik pertemuan yaitu Lebak, Pandeglang & Serang. Nah, yang saya datangi ini adalah acara puncak dari serangkaian acara Seba Baduy.

Ternyata acara baru dimulai setelah dzuhur, maka itu kami berjalan berkeliling di Alun-Alun Serang. Serang hari itu panas sekali atau mungkin lokasi dekat dengan pantai, entah.
Di halaman Alun-Alun Serang banyak yang sedang melakukan gladi bersih untuk acara nanti, selain itu berdiri stand-stand makanan & minuman, stand kerajinan khas suku baduy dan pameran foto tentang keindahan Banten. Sudah pukul 1 siang namun acara belum tampak dimulai, kami memutuskan untuk makan siang di warung pinggir jalan.
Setelah makan siang kami kembali lagi ke Alun-Alun dan nampaknya acara pawai pun akan segera dimulai. Pawai ini terdiri dari marching band, tari-tarian khas Banten, pakaian yang mencerminkan kekayaan Banten dan juga sekaligus menyambut kedatangan puluhan ribu masyarakat Baduy yang akan tiba di Serang.

Namun sangat disayangkan acara molor hingga dua jam lebih lamanya. Saya melihat para peserta pawai sudah kelelahan menunggu dan bersiap, masyarakat Baduy pun sudah banyak berdatangan, hanya karena pejabat terkait belum datang maka acara pawai belum dimulai.
Saya agak kesal saat itu karena saya pribadi pun mengejar waktu untuk pulang, tadinya kami sudah ingin menyerah dan pulang saja tapi kami masih bersabar kalau 30 menit kemudian acara pawai belum dimulai juga kami memutuskan untuk pulang.

Dan ternyata Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kami untuk melihat pawai tersebut, tak berapa lama acara pun akhirnya dimulai. Saya bersiap dengan kamera dan berdiri dipinggir jalan.
Pawai diawali oleh kumpulan motor-motor antik kemudian disusul oleh para penari dan pawai kostum, yang terakhir dan bikin merinding adalah masyarakat baduy yang begitu banyak berdatangan, berjalan tanpa alas kaki. Mereka semua berjalan menuju Alun-Alun Serang.
Setelah acara pawai selesai kami memutuskan untuk pulang. Kereta Api KA Merak dijadwakan tiba di Stasiun Serang pukul 4 sore dan KRL Rangkasbitung - Jurangmangu dijadwalkan pukul 6.30 malam.

Walau tidak bisa menyaksikan acara puncak Seba Baduy tapi hati ini merasa bahagia sudah punya kesempatan untuk melihat pawai seba baduy secara langsung. Indonesia begitu kaya akan budaya :)

"Saling berbagi adala wujud rasa syukur terbaik."


Marching Band
 -Euis Safitri Mustika-