Setelah kita sampai di tempat camp ternyata di sana tenda sudah berdiri tegak dan beberapa teman yang lain sedang bersiap memasak untuk makan malam. Tendaku dan tendamu jelas terpisah, tendamu tepat di sebelah tendaku. Aku memutuskan untuk merapikan tenda dan membersihkan diri dengan berganti pakaian, karena pakaian yang aku kenakan pada saat mendaki sudah basah oleh keringat. Kamu mungkin melakukan demikian dan membantu yang lain memasak, aku tidak tahu pasti karena aku sibuk di dalam tenda.
Gerimis tipis masih menemani kami semua di area camp hingga malam, kadang berhenti kadang gerimis datang. Kami berkumpul di depan tenda untuk menikmati makan malam dan ribuan bintang di langit. Saat malam hari langit cerah dengan mata telanjang pun kami bisa menikmati bintang-bintang di atas sana. Dinginnya malam itu bercampur dengan rasa lelah membuat diriku ingin segera tidur, akhirnya aku putuskan untuk tidur tak ikut begadang hingga malam dengan teman-teman yang lain. Lagipula kami semua harus bangun subuh hari untuk mengejar sunrise di puncak sana.
Suara alarm dan suara-suara pendaki lain yang lewat di depan tenda kami membuat kami semua terbangun dan bersiap untuk memulai pendakian ke puncak. Segala peralatan ditinggal, aku hanya membawa diri dan botol minum. Aku tidak bersama denganmu pada saat mendaki pagi buta itu, kamu terlebih dahulu di atas sana. Aku tertinggal jauh di belakang dikawal oleh seorang senior pendakian. Aku lemah pagi itu, aku lebih banyak meminta untuk break. Semakin tinggi oksigen yang aku hirup semakin tipis yang membuat aku sedikit sulit bernafas, ditambah perutku kosong. Aku sempat muntah di jalur pendakian, untung saja seniorku itu sabar menghadapiku yang lemah ini. Sempat aku ingin menyerah padahal gunung ini pernah aku daki sebelumnya tapi kali ini fisikku tidak fit, namun berkat dorongan positif dari seniorku akhirnya aku berhasil mencapai puncak. Aku mencari teman-teman yang lain yang sudah sampai lebih dulu di atas sana.
Takjub aku melihat matahari terbit di atas puncak gunung gede, walau ini bukan pertama kalinya tapi rasanya selalu seperti pertama kali. Sungguh indah ciptaan Tuhan.
Suasana di puncak pagi itu cukup ramai, para pendaki sibuk mengabadikan gold moment ini, tak terkecuali aku. Kondisi fisikku membaik setelah sampai di puncak, jadilah aku bersemangat mengabadikan moment ini. Aku dan kamu pun banyak mengambil foto berdua. Koleksi foto berdua kita semakin banyak saja. Bahkan terkadang aku sadar bahwa di waktu-waktu tertentu kita lebih sering sibuk berdua ketimbang bergabung dengan yang lain. Mungkin ini adalah matahari terbit terindah yang aku nikmati bersama kamu.
Hari semakin siang dan kami semua memutuskan untuk turun kembali ke tenda bersiap makan siang dan kembali pulang. Setelah sampai di tenda kembali sebelum bersiap untuk kembali pulang, kami memutuskan untuk bermain-main di sekitar camp. Kemudian kami makan siang dan bersiap merapikan tenda dan keril-keril untuk siap turun gunung. Kami saling membantu melipat tenda.
Aku membantu melipat tenda di lahan kosong yang tidak begitu jauh dengan tempat camp. Kamu sibuk membantu dan sibuk dengan kameramu. Setelah aku selesai membantu melipat tenda di lahan sebelah, aku kembali ke tempat kita nge-camp. Kemudian kamu berkata, "Gue kira lu di sana ketawa-ketawa sama pendaki lain.". Aku bingung dengan pernyataanmu, "maksudnya?" tanyaku bingung.
"Iya, tadi gue kira lu ngapain di sana sama pendaki lain ketawa-ketawa." katamu menjelaskan
"Oh, bukan pendaki lain kok itu teman kita, bantuin lipet tenda."
"Iya kirain sama pendaki lain."
Semuanya sudah rapi dan kami semua sudah siap untuk turun gunung, tidak lupa kami berdoa untuk keselamatan turun gunung.
Saat turun gunung ini aku dan kamu tidak banyak bersama, aku lebih dulu jalan sedangkan kamu jauh tertinggal di belakang. Aku jalan lebih dulu ditemani salah seorang teman laki-laki lain, laki-laki ini memang dulu dekat denganku dan saat ini aku menjaga jarak darinya namun ia masih terus berusaha untuk mendekati. Di sepanjang jalur pendakian turun ini aku terus menerus melihat ke belakang mencari kamu. Entah kenapa perasaanku saat itu khawatir, aku berpikir saat itu kamu sakit karena cideramu itu.
"Kenapa sih liat ke belakang terus?" tanya laki-laki itu
"Gapapa." Aku menjawab dan meneruskan langkah. Kerap laki-laki itu mengulurkan tangan untuk membantuku turun, namun aku terus menjawab "Bisa sendiri kok. Makasih."
Di sela-sela istirahat di pinggir jalur pendakian laki-laki itu mengajak kembali meneruskan perjalanan, aku berkata "yang belakang masih lama ya? aku nunggu yang belakang aja deh."
Mungkin laki-laki itu sedikit emosi denganku kemudian dia berkata "Ngapain sih nunggu yang belakang? Mereka masih lama kita jalan duluan aja."
"Tapi Sakha itu cidera. Kakinya pasti sakit." Aku akhirnya menjawab
"Ya kalau dia cidera juga ada yang lain bantuin." jawab laki-laki itu sedikit agak keras
"Kalau dia sendirian gimana? Gak ada yang tau kalau kaki dia sakit?"
"Pasti tau. Yaudah terserah sekarang kamu mau lanjut jalan lagi atau nunggu di sini sendirian?" ucap laki-laki itu sembari jalan meninggalkanku. Saat itu aku coba melawan egoku sendiri, aku mulai kembali berjalan meneruskan perjalanan. Namun di tengah-tengah perjalanan aku tidak menemukan laki-laki itu. 'oh, beneran aku ditinggal' batinku dan saat itu hutan sepi sekali tidak ada pendaki lain yang lewat, aku terus menguatkan diri untuk berani. Tak berapa lama laki-laki itu muncul kembali yang membuat aku sedikit lega.
"Kita harus ngejar waktu, jangan sampai gelap di hutan ini bahaya. Jangan khawatir, kalau dia cidera pasti dibantu sama yang lain." ucap laki-laki itu pada akhirnya.
Aku tiba di pos terakhir sudah sedikit lagi sampai di basecamp bawah. Di sana aku duduk beristirahat menunggu teman-teman yang lain termasuk menunggu kamu. Akhirnya setelah beberapa saat kamu datang, benar saja dugaanku bahwa kakimu sakit. Kamu datang dengan kaki yang hampir diseret, dipunggungmu tidak ada tas.
"Sakit ya?" kataku saat kamu mulai mendekat
"Iyaa kakinya." jawabmu lesu.
"Tasnya mana?" tanyaku kembali
"Itu dibawain sama Bang Tirta."
"Yaudah nanti pelan-pelan aja, udah deket kok."
Melanjutkan perjalanan setelah lumayan beristirahat di pos terakhir. Kita kembali beriringan, aku kembali membantumu berjalan. Hingga perumahan penduduk sudah mulai terlihat.
Rumah-rumah di sana begitu asri dengan halaman yang banyak lahan untuk berkebun.
"Aku nanti kalau udah nikah atau udah tua mau tinggal di desa-desa kayak gini aja." kataku
"kenapa? adem yaa?"
"Iya adem, udah pusing sama macet dan ruwetnya Jakarta."
"Iya sih, enak ya rumahnya ada lahan buat berkebunnya."
"Iya, aku juga pengen berkebun. Udah tua di rumah aja terus berkebun."
"Emang kamu betah tinggal di desa gini? Trus bisa emang berkebun?"
"Betah doong. Ya belajar kan kalau berkebun."
"Hahahaha, yaudah nanti di sini aja dipinggiran Jakarta. Aku seneng acara TV yang gimana ya yang ada orang bikin sesuatu tapi bermanfaat bagi banyak orang gitu."
Lalu obrolan kita kembali kemana-mana dan tangan kita tak lepas terus saling menggenggam
"Tas kamu sini biar aku yang bawa." katamu meminta.
"Gak usah, aku kuat kok. Udah mau sampai juga."
"Gapapa sini aku yang bawa. Udah banyak penduduk di bawah sana. Masa ceweknya yang bawa tas, aku gak bawa, gitu nanti kata orang-orang di bawah sana." katamu
"Hahahaha... kamu kuat emang? udah gak sakit?"
"Kuat." Akhirnya aku menyerahkan tasku untuk dibawakan kamu sampai ke basecamp.
Semuanya sudah kembali ke basecamp sudah selesai membersihkan diri, mengisi perut tinggal menunggu mobil jemputan untuk kembali membawa kami semua pulang. Waktu itu ada bencana alam longosr di daerah puncak yang menyebabkan kemacetan total yang berimbas pada telatnya mobil jemputan datang. Mobil jemputan datang sudah tengah malam.
Kami semua sampai di Jakarta hampir pagi, kami tiba di basecamp pecinta alam. Tak mungkin aku pulang dini hari begitu, maka aku putuskan untuk menginap beberapa jam di sana.
"Kamu nginep?" tanyamu
"Iya, udah gak ada angkutan juga jam segini. Kamu?"
"Aku juga besok pagi aja. Bareng?"
"Iya bareng yaa."
"Bangunin aku jam 6 yaa."
"Oke."
Ternyata pagi itu kamu bangun lebih dulu dan kemudian aku baru terbangun
"Pulang sekarang?" tanyaku
"Iya. Kamu pulang sekarang gak?"
"Iya pulang juga."
"Ayoooo."
Akhirnya aku bersiap tanpa cuci muka langsung naik motormu dan kamu mengantarku sampai depan gang rumah, seperti biasa, seperti permintaanku.
Perjalanan ini membuat aku begitu terkesan.
Ada rasa bahagia yang terus melekat di sana; di hatiku.
Perjalanan ini mungkin akan selalu aku ingat.
Bersamamu aku tak ingin berakhir.
Semuanya sudah kembali ke basecamp sudah selesai membersihkan diri, mengisi perut tinggal menunggu mobil jemputan untuk kembali membawa kami semua pulang. Waktu itu ada bencana alam longosr di daerah puncak yang menyebabkan kemacetan total yang berimbas pada telatnya mobil jemputan datang. Mobil jemputan datang sudah tengah malam.
Kami semua sampai di Jakarta hampir pagi, kami tiba di basecamp pecinta alam. Tak mungkin aku pulang dini hari begitu, maka aku putuskan untuk menginap beberapa jam di sana.
"Kamu nginep?" tanyamu
"Iya, udah gak ada angkutan juga jam segini. Kamu?"
"Aku juga besok pagi aja. Bareng?"
"Iya bareng yaa."
"Bangunin aku jam 6 yaa."
"Oke."
Ternyata pagi itu kamu bangun lebih dulu dan kemudian aku baru terbangun
"Pulang sekarang?" tanyaku
"Iya. Kamu pulang sekarang gak?"
"Iya pulang juga."
"Ayoooo."
Akhirnya aku bersiap tanpa cuci muka langsung naik motormu dan kamu mengantarku sampai depan gang rumah, seperti biasa, seperti permintaanku.
Perjalanan ini membuat aku begitu terkesan.
Ada rasa bahagia yang terus melekat di sana; di hatiku.
Perjalanan ini mungkin akan selalu aku ingat.
Bersamamu aku tak ingin berakhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar