Liburan long weekend kali ini aku diajak berlibur oleh saudara sepupuku. Awalnya aku menolak karena aku tidak punya uang untuk pergi. Tetapi sepupuku mengatakan tak usah khawatir masalah uang. Akhirnya akupun mengiyakan ajakannya.
Kami pergi hari minggu pagi. Aku, sepupuku, pacarnya, tante, om, anaknya dan teman kerja om.
Kami berenam meluncur ke daerah Bogor. Karena sempat lupa jalan menuju curug nangka beberapa kali kami bertanya dengan penduduk sekitar. Kami pergi ke curug nangka atas usulan dari om dan tanteku yang sudah pernah kesana sebelumnya.
Akhirnya pukul 12.00 siang kami sampai di curug nangka. Tak seperti yang ada dibayanganku. Aku berpikir bahwa kami akan menginap di villa atau hostel atau semacamnya. Tempat wisata siang itu cukup ramai pengunjung. Banyak warung-warung yang menjual makanan. Curug nagka adalah tempat wisata air terjun di daerah Bogor.
Kami pun menuju salah satu warung dimana om dan tante ku sudah mengenal dengan si pemilik warung. Bisa ditebak kami akan menginap di warung tersebut. Sungguh di luar dugaanku sebelumnya. Kami masuk ke warung tersebut dan bertemu dengan pemilik warung yang biasa dipanggil "emak" itu. Ternyata pemilik warung itu sudah tua sekali, seorang nenek yang sudah lanjut usia menjaga warung seorang diri. Keadaan warungpun jauh dari kata mewah bahkan jauh dari kata nyaman. Hanya bilik-bilik bambu dan tanah, tidak ada tembok, tidak ada ubin, tidak ada kamar mandi yang layak. Sedih sekali rasanya membayangkan si emak sendirian tidak ada yang membantu.
Kami duduk di bale bambu luar karena saat itu ada yang menginap tapi akan pulang sore itu. Barang-barang kami sudah dinaikan ke kamar atas. Jangan membayangkan sebuah kamar mewah. Tangga yang terbuat dari bambu dan di atas pun dari bambu, tidak ada kasur empuk hanya sprei sebagai alas dan banyak debu yang menempel. Karena cuaca cukup bagus siang itu setelah istirahat sebentar melepas lelah kami pun memutuskan untuk naik ke atas air terjun. Ternyata lumayan jauh juga menuju air terjunnya, beda dari curug-curug lain di gunung bunder yang jaraknya lebih mudah dan dekat. Di sini Jalannya pun bebatuan dan satu arah, jadi harus bergantian antara yang naik dan yang turun. Suara serangga tonggeret menemani perjalannku membuat aku rindu akan perjalananku menapaki kaki gunung semeru enam bulan silam. Setelah sampai di atas banyak pengunjung yang mandi di bawah air terjun. Awalnya aku tidak ingin basah-basahan tapi akhirnya aku mandi di bawah air terjun. Dingiiiiin~
Hari semakin sore dan badan semakin menggigil akhirnya kami turun ke bawah menuju warung emak untuk mandi dan berganti pakaian. Jujur aku tidak mandi karena kamar mandinya hanya bilik-bilik bambu dan kucuran air gunung, aku tidak bisa mandi dengan tenang jika keadaannya seperti itu. Aku hanya berganti pakaian, mencuci muka dan gosok gigi. Sepupu ku pun sama.
Di warung emak juga masak dan kita bebas mengambil apa saja asal jangan lupa dicatat di kertas apa saja yang kita makan. Kami tidak tega menyuruh emak ini itu untuk makan kami, jika ingin makan mi kami memasak sendiri atau minum kopi kami membuatnya sendiri. Kami membiarkan emak istirahat. Tapi emak kerap kali menolak, ia ingin tetap melayani kami.
Ternyata di curug nangka banyak juga yang camping mendirikan tenda. Suasana malam, suara serangga dan melihat tenda-tenda berdiri dengan lampu temaram di dalamnya lagi-lagi mengingatkanku pada perjalanan luar biasa ke surganya gunung semeru, aku rindu.
Angin malam semakin kencang berhembus, mata kantuk setengah mati tapi tidak bisa tidur dengan nyaman. Aku beberapa kali pindah, aku bingung ingin tidur dimana. Di atas aku tidak betah, di kamar belakang aku tidak betah juga. Akhirnya aku tidur di bale tengah dengan emak, tante dan sepupuku. Laki-laki di bale depan. Tidurpun aku tidak nyenyak, terdengar suara air yang berasal dari gunung itu, suara-suara binatang malam lainnya. Oh iya saat kami disana ada satu orang agak stres kata emak, itu juga bikin kami semua takut dengan orang itu, karena orang itu juga tidur di warung emak. Aku tidur dengan menggunakan headset mendengarkan lagu sekencang mungkin agar bisa tidur dan berharap waktu segera cepat berputar agar cepat datang pagi.
Pagi pun tiba, kami sudah bangun semua. Udara sejuk menyambut pagi kami, nyanyian merdu dari burung-burung yang berkicau serta suara air yang begitu membuat suasana menjadi sangat alami.
Kami hanya makan gorengan sebagai sarapan pagi setelah itu kami memutuskan untuk naik ke atas lagi untuk mandi di bawah air terjun lagi.
Setelah menikmati dinginnya air terjun dan banyak sekali monyet di sana dan perutpun sudah mulai lapar meminta diisi nasi akhirnya kami memutuskan untuk turun. Setelah mandi kami pun sarapan atau lebih tepatnya menggabungkan makan pagi dengan makan siang, karena saat itu hari sudah siang.
Kami memutuskan pulang pukul 16.00 . Sambil menunggu sore kami habiskan di warung emak sambil membersekan barang-barang kami dan tak lupa menghitung apa saja yang kami beli di warung emak. Saat kami bersiap pulang wajah emak tampak begitu sedih, mungkin emak merasa kesepian lagi. Sedih melihat orang tua yang sudah renta seperti itu hidup sendiri mengurus warungnya, emak pernah cerita bahwa ia pernah ditipu oleh pelanggannya sampai 700ribu. Miris sekali mendengarnya.
Kami pun pulang pukul 16.00 ditemani rintik hujan. Semoga emak panjang umur dan selalu. Aamiin
Sebuah perjalanan jauh dari kata mewah mengajarkan begitu banyak arti hidup bagiku
- Belajar bersyukur apapun keadaan kita
- Semangat hidup tidak boleh pudar. Emak yang tua renta saja masih begitu semangat untuk hidup
- Jangan selalu melihat ke atas, lihatlah ke bawah dan mulailah untuk berbagi kepada sesama
-@eishafitri-
Kami hanya makan gorengan sebagai sarapan pagi setelah itu kami memutuskan untuk naik ke atas lagi untuk mandi di bawah air terjun lagi.
Setelah menikmati dinginnya air terjun dan banyak sekali monyet di sana dan perutpun sudah mulai lapar meminta diisi nasi akhirnya kami memutuskan untuk turun. Setelah mandi kami pun sarapan atau lebih tepatnya menggabungkan makan pagi dengan makan siang, karena saat itu hari sudah siang.
Kami memutuskan pulang pukul 16.00 . Sambil menunggu sore kami habiskan di warung emak sambil membersekan barang-barang kami dan tak lupa menghitung apa saja yang kami beli di warung emak. Saat kami bersiap pulang wajah emak tampak begitu sedih, mungkin emak merasa kesepian lagi. Sedih melihat orang tua yang sudah renta seperti itu hidup sendiri mengurus warungnya, emak pernah cerita bahwa ia pernah ditipu oleh pelanggannya sampai 700ribu. Miris sekali mendengarnya.
Kami pun pulang pukul 16.00 ditemani rintik hujan. Semoga emak panjang umur dan selalu. Aamiin
Sebuah perjalanan jauh dari kata mewah mengajarkan begitu banyak arti hidup bagiku
- Belajar bersyukur apapun keadaan kita
- Semangat hidup tidak boleh pudar. Emak yang tua renta saja masih begitu semangat untuk hidup
- Jangan selalu melihat ke atas, lihatlah ke bawah dan mulailah untuk berbagi kepada sesama
-@eishafitri-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar