Sore itu kami mulai melangkahkan kaki melewati
pohon-pohon dan jalan setapak. Menuju pos 1 rute-nya tidak begitu sulit, jalan
landai dan masih cukup bagus. Beberapa kali kami berhenti karena kelelahan
berjalan. Maklum kami belum terbiasa berjalan sejauh ini. Hari semakin lama
semakin gelap namun perjalanan masih teramat jauh. Barulah sampai di pos 2
pukul 17.00 yang saat itu sudah gelap dan angin berhembus dingin sekali. Kami
memutuskan berhenti di pos 2. Tak hanya kami yang beristirahat disana, ada
beberapa pendaki lain yang sedang beristirahat pula. Berbincang dengan pendaki
lain dan beberapa pendaki yang ingin turun. Menurut informasi yang didapat
bahwa dari pos 2 menuju pos 3 adalah rute yang paling panjang dan rute menanjak
sekitar 60 derajat. Dengan rute perjalanan seperti itu dan langitpun sudah
mulai gelap menjadi tantangan bagi kami saat itu. Tak ingin membuang waktu
banyak kami mempersiapkan peralatan lighting, dari senter hingga headlamp.
Mengganti batre yang baru agar cahaya yang dihasilkan terang sehingga tidak
menggangu perjalanan kami saat itu. Setelah alat penerangan dibagikan satu
persatu kami siap untuk berjalan menuju pos 3. Aku sendiri memakai headlamp dan
senter yang aku genggam.
“Semangat mas dan mba.” Para pendaki lain memberi
semangat kepada kami.
Kami
berjalan menyusuri jalan setapak yang penuh dengan pasir dan bebatuan besar.
Terkadang kami menemui batang pohon yang tumbang yang memaksa kami harus
melangkah lebih ekstra hati-hati. Fokus pada jalan karena suasana pada saat itu
sangat gelap, angin malam berhembus dingin sekali sampai menembus tulang namun kami
harus tetap terus bergerak agar tidak kedinginan. Benar apa yang dikatakan
orang-orang tentang trek menuju pos 3 sangat curam, tak jarang kami harus
saling berpegangan tangan untuk membantu memanjat di trek yang sangat curam.
Sering kali aku merangkak untuk menanjak atau jika trek turunan aku kerap kali
jongkok meraba permukaan tanah berpasir dengan kakiku. Tak ada pemandangan yang
indah saat itu, aku tak melihat apapun selain jalan setapak dan pohon-pohon di
samping kananku, ranting pohon yang berserakan, di samping kiri ku terdapat
jurang, bebatuan di samping kananku. Pencahayaan pun harus tetap menyala dengan
baik untuk membantu perjalanan kami malam itu.
“Astagfirullah.” Aku berteriak begitu keras dan
refleks. Aku terjatuh karena tak melihat ada batu. Untung saja aku tak
terperosok ke dalam jurang yang saat itu mulut jurang sudah berada di ujung
kakiku.
“Kenapa lo is?” “Are you okay?” Teriakan mereka
hampir bersamaan melihat aku yang sudah jatuh duduk di bawah.
“Gapapa kok.” Kataku sambil mencoba berdiri dibantu
uluran tangan temanku.
“Hati-hati yaa guys. Fokus. Konsentrasi. Kalau capek
bilang.” Kata Irwan memberi instruksi kepada kami.
“Ayo. Udah bisa lanjut lagi kan?” Tanya Irwan padaku
“Sip.” Aku meyakinkan
“Udah pake senter 2 masih aja jatuh.” Lanjut Irwan
meledek
“Hahaha. Iya ilang fokus tadi.” Aku menjawab sambil
tertawa kecil
Setelah
insiden jatuhnya aku kami melanjutkan perjalanan kembali dengan lebih
berhati-hati. Tapi memang perjalanan menuju pos 3 sungguh sangat banyak
tantangannya. Kejadian jatuhnya aku kembali terulang, tak hanya aku namun semua
juga merasakan jatuh entah karena tersandung batu atau ranting pohon. Kondisi
kami saat itu sudah sangat lelah dan kondisi jalan yang sangat gelap. Tak
berapa lama setelah puluhan kali menanjak terlihat samar pos 3. Selter pos 3
sudah tidak berbentuk bangunan, karena pos 3 sudah ambruk. Hanya atap yang
terbuat dari seng yang masih ada disana. Kami tak beristirahat disana selain
kondisi pos yang tidak memungkinkan untuk kami beristirahat dan sudah hampir
malam. Kami takut banyak menghabiskan waktu di jalan karena angin malam saat
itu berhembus sangat kencang. Langkah demi langkah kami tapaki kembali malam
itu namun tempat tujuan belum juga muncul dipelupuk mata kami. Berkali kami
beristirahat karena terlalu lelah berjalan, tak ada pemandangan indah, tak ada
awan-awan cumulus yang menyambut, semua gelap pekat hanya cahaya dari senter
dan suara-suara anjing hutan dan jangkrik yang terdengar. Kami memutuskan untuk
berhenti untuk menyeduh teh dan memasak mi gelas, itu kami lakukan dipinggir
jalan jalur pendakian yang memang agak luas. Membongkar dan menyalakan kompor
lalu kami duduk melingkar saling menghangatkan diri. Beberapa pendaki melewati
kami dan berkata
“Semangat kalian. Sudah dekat dengan pos 4.” Mereka
yang lewat selalu saling memberi semangat. Adapula yang bertanya mengapa kami
membuat mi di tengah perjalanan seperti itu, apa boleh buat ini kami lakukan
karena perut kami kompak meminta diberi makan.
“Dingiiiin.” Kata Nova tangannya bergetar kedinginan.
“Ini minum kuah mi-nya biar anget.”
“Kita gak bisa banyak diam kayak gini, makin
dingin.” Kataku yang terus menggerak-gerakan jemari tangan yang sudah mulai
agak mati rasa.
“Please genggam tangan gue.” Kata Nova kepadaku, aku
menggenggamnya erat.
“Kita pelukan yuk, Nov.” Kataku meminta
“Lo kedinginan juga?”
“Bangeeeeeet.” Tak perlu menunggu waktu kami berdua
berpelukan. Sementara Irwan merapikan peralatan masak kembali, karena makanan
kami sudah dengan cepat kami lahap.
Kami
melanjutkan perjalanan kembali dengan tenaga yang baru kami isi seadanya. Iya
benar apa kata pendaki lain pos 4 memang tak begitu jauh dari tempat kami
beristirahat.
“Denger gak?” Kataku berseru yang saat itu memang
posisi aku berjalan diurutan kedua dari depan.
“Denger apa?” Ada yang menjawab
“Suara air. Kayaknya Ranu Kumbolo udah deket nih!.”
Mereka dengan kompak diam dan mencoba mendengar suara air yang terkena angin.
“Semangaaaat guys! Ini kita udah turun menuju ranu
kumbolo.” Lagi Irwan memberi semangat kepada kami semua
“Ranu Kumbolo kami datang.” Ervan setengah
berteriak. Aku mengucap syukur berkali dalam hati. Jalur trek menuju pos 4
memang tak terjal saat menuju pos 3. Masih ada jalan menanjak tapi tak terlalu
tajam, lebih banyak jalan menurun dan itu membutuhkan keseimbangan.
“Nah ini pos 4.” Kata Feby yang saat itu berada
dibarisan depan
“Itu banyak tenda camp dibawah.” Kataku berseru
sambil menunjuk ke arah perkemahan.
“Iya tapi kita lewat mana nih? Kanan atau kiri?”
Kami ragu dan tak ada rombongan pendaki dibelakang kami.
“Udah kanan aja.” Kata Irwan memberi saran
“Tapi ini terjal loh.”
“Udah gapapa, pelan-pelan. Ini kita ngejar waktu
udah malam banget ini.” Kata Irwan lagi
Feby
dan Ervan berjalan mendahului karena bertugas mencari tempat dan memasang
tenda. Aku berjalan sendiri menyusuri jalan menurun yang begitu sangat terjal.
Nova dan Irwan dibelakang, Irwan membimbing Nova turun. Aku mau menangis
rasanya saat itu, hatiku sesak, kesal. Mungkin efek dari lelah, kakiku sudah
tak kuat menopang badanku padahal saat itu sangat dibutuhkan keseimbangan. Feby
dan Ervan sudah jauh dibawahku, sedangkan Nova dan Irwan masih jauh diatasku.
Aku berkali teriak memanggil nama Feby namun ia hanya menoleh dan berkata “Ayo
lu bisa!” . Aku hampir mengeluarkan air mata saat itu, aku lelah, aku tak kuat
lagi berjalan. Aku ingin menyerah saja disitu namun mereka terus memberiku
semangat dan akhirnya aku sampai di bawah dengan selamat. Kami segera mencari
lahan untuk mendirikan tenda. Aku dan Nova tak mencari aku langsung duduk
menghadap danau Ranu Kumbolo yang malam itu tak begitu terlihat indah namun aku
bisa merasakan suara air yang disebabkan oleh angin malam yang berhembus. Aku
lirik jam tanganku tepat pukul 22.00 kami sampai di Ranu Kumbolo. Nova
menghampiri dan langsung duduk disebelahku.
“Tiduran yuk, Mus.” Panggilnya dengan panggilan
akrabku ‘Mus’
“Ayo.” Kami tak peduli alas apa yang kami tiduri
saat itu, kami hanya butuh istirahat dan sedikit rebahan.
“Kita sampe juga Mus.” Ucapnya
“Iya. Subhanallah ya langitnya.”
“Iya bagus banget. Sumpah!”
Ratusan
bahkan jutaan bintang malam itu menyambut kedatangan kami di Ranu Kumbolo. Aku
merasakan merinding luar biasa saat itu, bukan karena dingin atau apa. Namun
aku takjub melihat pemandangan langit malam itu. Jutaan bintang bertebaran dilangit
yang pekat, begitu terang. Aku merasakan dekat sekali dengan langit sepertinya
bintang itu bisa aku raih dengan jemari tanganku ini. Berkali aku ucap syukur
dan memuji Sang Maha Kuasa atas segala ciptaanNya yang begitu sangat luar
biasa.
“Kita sampe juga. Alhamdulillah.” Kataku yang saat
itu masih tiduran diatas pasir dan rumput kering sambil berpegangan tangan
dengan Nova dan menatap langit.
“Iya, Gue gak nyangka kita bisa sampe sini. Lo
pengen nangis gak?”
“Gue udah nangis nih, gue takjub banget sama
semuanya. Sama perjuangan kita dan terutama sama ini pemandangan yang kita liat
sekarang.” Jujur aku menangis saat itu, air mataku deras mengalir.
“Kemarin banyak yang ngeremehin gue. Kalo gue gak
kuat naik gunung. Tapi sekarang gue bisa tunjukin ke mereka kalo gue bisa. Gue
sampe Ranu Kumbolo.”
“Iya bener banget. Banyak yang bilang gue gak kuat
karena gue ashma, gue diremehin banget. Tapi sekarang gue disini, di danau
tertinggi di pulau Jawa.” Kataku terisak. Aku memang punya riwayat penyakit
ashma, bahkan pada saat pemeriksaan sebelum berangkat mendaki-pun aku sempat
diragukan oleh dokter yang memeriksaku. Namun kali ini aku bisa membuktikan
pada mereka semua yang sempat meremehkanku sebelum aku berangkat.
“Ini indah banget, sumpah demi apapun.”
“Ini pengalaman luar biasa yang bisa kita ceritain
ke suami, anak dan cucu kita nanti.”
“Iya bener banget lo. Gue mau ceritain ini ke
semuanya. Ke anak-anak gue, ke cucu-cucu gue. Semuanya.”
Air mata terus mengalir tak henti pula terus berucap
syukur kepada Sang Pencipta alam semesta ini
“Nov, bintang jatuh!” Kataku berseru sambil menunjuk
ke arah bintang jatuh.
“Iya, gue liat. Make a wish!” Dengan segera kami
make a wish. Tak begitu percaya dengan mitos yang satu itu ‘ketika bintang
jatuh ucapkanlah permohonanmu. Niscaya akan terkabul’ . Entah darimana mitos
itu berasal tapi kami masih saja melakukan. Berharap dikabulkan seperti bunyi
mitos itu. Aku dan Nova masih terbaring diatas rumput kering tak peduli angin
malam yang semakin kencang berhembus. Bercerita banyak dan meluapkan
kebahagiaan yang kami rasakan saat itu.
“Hoy, cewek-cewek. Bisa bantu kita masak air
hangat?” Kata Feby. Aku dan Nova segera beranjak dan menoleh, ternyata tenda
sudah berdiri. Barang-barang masih berserakan diluar. Ervan bertugas merapikan
dalam tenda. Aku dan Nova memasak air untuk kami minum. Sementara Irwan dan
Feby membereskan perlengkapan yang diluar. Angin malam semakin terasa kencang
dan dingin.
“Gue dingin gak kuat!” Kataku
“Udah buruan deketin aja tangannya ke kompor biar
anget.” Kata Irwan
Aku dan Nova mendekatkan telapak tangan ke
pinggir-pinggir kompor mini yang kami bawa saat itu. Sungguh itu tidak ada efek
yang berarti. Aku masih saja kedinginan.
“Tendanya udah rapi belum. Mau masuk please, gak
kuat lagi.” Kata Nova dan aku menyetujuinya dengan anggukan.
“Udah. Yaudah cewek-cewek dulu yang masuk ganti
pakaian kalian semua. Pake jaket atau apapun yang bisa menghangatkan tubuh
kalian.” Irwan kembali memberi instruksi. Irwan memang paling dewasa diantara
kami dan dia juga sedikit banyak memiliki pengalaman naik gunung meskipun
semeru belum ia jamahi tapi ia sudah tahu caranya naik gunung, jadilah ia
sebagai pemimpin dari perjalanan kami. Aku dan Nova segera masuk ke dalam tenda
mengganti pakaian kami yang basah karena keringat setelah ± 8jam berjalan kaki.
Perlu diketahui mendaki sampai Ranu Kumbolo jika dilakukan oleh mereka-mereka
yang telah terbiasa mendaki hanya menghabiskan waktu 5-6 jam. Tak apa kami
sedikit lambat karena ini pengalaman pertama kami. Jaket berlapis kami kenakan
tak lupa kaos kaki dan sarung tangan tebal. Setelah selesai aku dan Nova
kembali keluar bergantian dengan laki-laki yang berganti baju. Kembali aku dan
Nova memasak air untuk kebutuhan minum kami. Setelah mereka selesai berganti
pakaian hangat bersamaan dengan air yang sudah mendidih yang segera dimasukan
ke dalam termos kecil yang kami bawa. Kami berlima segera masuk ke tenda, duduk
melingkar dan mulai kami membuka makanan yang kami beli di Ranu Pani sore tadi.
Nasi dan sayur kari yang sudah dingin itu tidak lagi menarik di mataku dan di
mata mereka.
“Ya ampun nasinya.” Salah satu dari kami mengeluh
melihat kondisi nasi yang sudah lembek dan dingin ketika dibuka bungkusnya.
Sungguh aku pun mengeluh di dalam hati melihat nasi yang sudah seperti itu.
“Udah dimakan aja biar gak masuk angin. Nikmatin.”
Kata Irwan
“Iya dimakan aja. Lagi pula kita kan belum makan
nasi. Terakhir makan nasi pagi di warung pelangi di Tumpang.” Aku kembali
mengingatkan. Jika harus memilih mungkin aku tidak memilih makan tapi apa daya
perut sudah memanggil minta diisi nasi. Orang Indonesia wajar harus bertemu
nasi dulu baru dianggap sebagai makan.
“Iya belum basi ini ayo kita makan!” Nova berseru
Malam
itu kita duduk melingkar menikmati makanan yang sudah dingin bersama teh
hangat. Udara dingin semakin malam semakin menusuk, angin semakin kencang
seakan menggoyangkan tenda kami. Suara riuh jangkring dan serangga tonggeret bersahutan
dan suara deru air danau terdengar jelas. Langkah kaki dan suara-suara manusia
terdengar semakin dekat, ya mereka para pendaki yang baru sampai dan mendirikan
tenda di sebelah tenda kami.
“Mungkin itu para pendaki lain baru sampai.” Kata
Feby dan sedikit melihat keluar tenda
Setelah
merapikan makanan dan minuman kami mengatur kembali tata letak tas dan peralatan
lainnya agar tenda kami nyaman untuk ditiduri. Membersihkan alas dan
mengeluarkan sleeping bag. Kami hanya
membawa 2 sleeping bag maka itu kami
harus saling berbagi. Malam kian semakin larut kami sudah membagi posisi tidur
masing-masing. Irwan, aku, Ervan, Nova dan Feby. Begitulah urutan kami tidur di
malam pertama di Ranu Kumbolo. Lampu tenda sudah dimatikan dan saatnya
memejamkan mata. Di dalam tenda kami sudah gelap namun suara ramai di luar
masih terdengar jelas. Diantara kami tidak ada yang langsung tidur pulas
kecuali Ervan. Meskipun sudah berada di posisi tidur masing-masing tapi kami
masih sibuk ngobrol berempat hingga rasa lelah dan kantuk menggerogoti mata
kami dan kami tidur malam itu ditemani udara dingin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar