Catatan Domba Betina: Danau Tertinggi di Pulau Jawa Bagian II

Kamis, 15 Mei 2014

Danau Tertinggi di Pulau Jawa Bagian II


Sore itu kami mulai melangkahkan kaki melewati pohon-pohon dan jalan setapak. Menuju pos 1 rute-nya tidak begitu sulit, jalan landai dan masih cukup bagus. Beberapa kali kami berhenti karena kelelahan berjalan. Maklum kami belum terbiasa berjalan sejauh ini. Hari semakin lama semakin gelap namun perjalanan masih teramat jauh. Barulah sampai di pos 2 pukul 17.00 yang saat itu sudah gelap dan angin berhembus dingin sekali. Kami memutuskan berhenti di pos 2. Tak hanya kami yang beristirahat disana, ada beberapa pendaki lain yang sedang beristirahat pula. Berbincang dengan pendaki lain dan beberapa pendaki yang ingin turun. Menurut informasi yang didapat bahwa dari pos 2 menuju pos 3 adalah rute yang paling panjang dan rute menanjak sekitar 60 derajat. Dengan rute perjalanan seperti itu dan langitpun sudah mulai gelap menjadi tantangan bagi kami saat itu. Tak ingin membuang waktu banyak kami mempersiapkan peralatan lighting, dari senter hingga headlamp. Mengganti batre yang baru agar cahaya yang dihasilkan terang sehingga tidak menggangu perjalanan kami saat itu. Setelah alat penerangan dibagikan satu persatu kami siap untuk berjalan menuju pos 3. Aku sendiri memakai headlamp dan senter yang aku genggam.
“Semangat mas dan mba.” Para pendaki lain memberi semangat kepada kami.
            Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang penuh dengan pasir dan bebatuan besar. Terkadang kami menemui batang pohon yang tumbang yang memaksa kami harus melangkah lebih ekstra hati-hati. Fokus pada jalan karena suasana pada saat itu sangat gelap, angin malam berhembus dingin sekali sampai menembus tulang namun kami harus tetap terus bergerak agar tidak kedinginan. Benar apa yang dikatakan orang-orang tentang trek menuju pos 3 sangat curam, tak jarang kami harus saling berpegangan tangan untuk membantu memanjat di trek yang sangat curam. Sering kali aku merangkak untuk menanjak atau jika trek turunan aku kerap kali jongkok meraba permukaan tanah berpasir dengan kakiku. Tak ada pemandangan yang indah saat itu, aku tak melihat apapun selain jalan setapak dan pohon-pohon di samping kananku, ranting pohon yang berserakan, di samping kiri ku terdapat jurang, bebatuan di samping kananku. Pencahayaan pun harus tetap menyala dengan baik untuk membantu perjalanan kami malam itu.
“Astagfirullah.” Aku berteriak begitu keras dan refleks. Aku terjatuh karena tak melihat ada batu. Untung saja aku tak terperosok ke dalam jurang yang saat itu mulut jurang sudah berada di ujung kakiku.
“Kenapa lo is?” “Are you okay?” Teriakan mereka hampir bersamaan melihat aku yang sudah jatuh duduk di bawah.
“Gapapa kok.” Kataku sambil mencoba berdiri dibantu uluran tangan temanku.
“Hati-hati yaa guys. Fokus. Konsentrasi. Kalau capek bilang.” Kata Irwan memberi instruksi kepada kami.
“Ayo. Udah bisa lanjut lagi kan?” Tanya Irwan padaku
“Sip.” Aku meyakinkan
“Udah pake senter 2 masih aja jatuh.” Lanjut Irwan meledek
“Hahaha. Iya ilang fokus tadi.” Aku menjawab sambil tertawa kecil
            Setelah insiden jatuhnya aku kami melanjutkan perjalanan kembali dengan lebih berhati-hati. Tapi memang perjalanan menuju pos 3 sungguh sangat banyak tantangannya. Kejadian jatuhnya aku kembali terulang, tak hanya aku namun semua juga merasakan jatuh entah karena tersandung batu atau ranting pohon. Kondisi kami saat itu sudah sangat lelah dan kondisi jalan yang sangat gelap. Tak berapa lama setelah puluhan kali menanjak terlihat samar pos 3. Selter pos 3 sudah tidak berbentuk bangunan, karena pos 3 sudah ambruk. Hanya atap yang terbuat dari seng yang masih ada disana. Kami tak beristirahat disana selain kondisi pos yang tidak memungkinkan untuk kami beristirahat dan sudah hampir malam. Kami takut banyak menghabiskan waktu di jalan karena angin malam saat itu berhembus sangat kencang. Langkah demi langkah kami tapaki kembali malam itu namun tempat tujuan belum juga muncul dipelupuk mata kami. Berkali kami beristirahat karena terlalu lelah berjalan, tak ada pemandangan indah, tak ada awan-awan cumulus yang menyambut, semua gelap pekat hanya cahaya dari senter dan suara-suara anjing hutan dan jangkrik yang terdengar. Kami memutuskan untuk berhenti untuk menyeduh teh dan memasak mi gelas, itu kami lakukan dipinggir jalan jalur pendakian yang memang agak luas. Membongkar dan menyalakan kompor lalu kami duduk melingkar saling menghangatkan diri. Beberapa pendaki melewati kami dan berkata
“Semangat kalian. Sudah dekat dengan pos 4.” Mereka yang lewat selalu saling memberi semangat. Adapula yang bertanya mengapa kami membuat mi di tengah perjalanan seperti itu, apa boleh buat ini kami lakukan karena perut kami kompak meminta diberi makan.
“Dingiiiin.” Kata Nova tangannya bergetar kedinginan.
“Ini minum kuah mi-nya biar anget.”
“Kita gak bisa banyak diam kayak gini, makin dingin.” Kataku yang terus menggerak-gerakan jemari tangan yang sudah mulai agak mati rasa.
“Please genggam tangan gue.” Kata Nova kepadaku, aku menggenggamnya erat.
“Kita pelukan yuk, Nov.” Kataku meminta
“Lo kedinginan juga?”
“Bangeeeeeet.” Tak perlu menunggu waktu kami berdua berpelukan. Sementara Irwan merapikan peralatan masak kembali, karena makanan kami sudah dengan cepat kami lahap.
            Kami melanjutkan perjalanan kembali dengan tenaga yang baru kami isi seadanya. Iya benar apa kata pendaki lain pos 4 memang tak begitu jauh dari tempat kami beristirahat.
“Denger gak?” Kataku berseru yang saat itu memang posisi aku berjalan diurutan kedua dari depan.
“Denger apa?” Ada yang menjawab
“Suara air. Kayaknya Ranu Kumbolo udah deket nih!.” Mereka dengan kompak diam dan mencoba mendengar suara air yang terkena angin.
“Semangaaaat guys! Ini kita udah turun menuju ranu kumbolo.” Lagi Irwan memberi semangat kepada kami semua
“Ranu Kumbolo kami datang.” Ervan setengah berteriak. Aku mengucap syukur berkali dalam hati. Jalur trek menuju pos 4 memang tak terjal saat menuju pos 3. Masih ada jalan menanjak tapi tak terlalu tajam, lebih banyak jalan menurun dan itu membutuhkan keseimbangan.
“Nah ini pos 4.” Kata Feby yang saat itu berada dibarisan depan
“Itu banyak tenda camp dibawah.” Kataku berseru sambil menunjuk ke arah perkemahan.
“Iya tapi kita lewat mana nih? Kanan atau kiri?” Kami ragu dan tak ada rombongan pendaki dibelakang kami.
“Udah kanan aja.” Kata Irwan memberi saran
“Tapi ini terjal loh.”
“Udah gapapa, pelan-pelan. Ini kita ngejar waktu udah malam banget ini.” Kata Irwan lagi
            Feby dan Ervan berjalan mendahului karena bertugas mencari tempat dan memasang tenda. Aku berjalan sendiri menyusuri jalan menurun yang begitu sangat terjal. Nova dan Irwan dibelakang, Irwan membimbing Nova turun. Aku mau menangis rasanya saat itu, hatiku sesak, kesal. Mungkin efek dari lelah, kakiku sudah tak kuat menopang badanku padahal saat itu sangat dibutuhkan keseimbangan. Feby dan Ervan sudah jauh dibawahku, sedangkan Nova dan Irwan masih jauh diatasku. Aku berkali teriak memanggil nama Feby namun ia hanya menoleh dan berkata “Ayo lu bisa!” . Aku hampir mengeluarkan air mata saat itu, aku lelah, aku tak kuat lagi berjalan. Aku ingin menyerah saja disitu namun mereka terus memberiku semangat dan akhirnya aku sampai di bawah dengan selamat. Kami segera mencari lahan untuk mendirikan tenda. Aku dan Nova tak mencari aku langsung duduk menghadap danau Ranu Kumbolo yang malam itu tak begitu terlihat indah namun aku bisa merasakan suara air yang disebabkan oleh angin malam yang berhembus. Aku lirik jam tanganku tepat pukul 22.00 kami sampai di Ranu Kumbolo. Nova menghampiri dan langsung duduk disebelahku.
“Tiduran yuk, Mus.” Panggilnya dengan panggilan akrabku ‘Mus’
“Ayo.” Kami tak peduli alas apa yang kami tiduri saat itu, kami hanya butuh istirahat dan sedikit rebahan.
“Kita sampe juga Mus.” Ucapnya
“Iya. Subhanallah ya langitnya.”
“Iya bagus banget. Sumpah!”
            Ratusan bahkan jutaan bintang malam itu menyambut kedatangan kami di Ranu Kumbolo. Aku merasakan merinding luar biasa saat itu, bukan karena dingin atau apa. Namun aku takjub melihat pemandangan langit malam itu. Jutaan bintang bertebaran dilangit yang pekat, begitu terang. Aku merasakan dekat sekali dengan langit sepertinya bintang itu bisa aku raih dengan jemari tanganku ini. Berkali aku ucap syukur dan memuji Sang Maha Kuasa atas segala ciptaanNya yang begitu sangat luar biasa.
“Kita sampe juga. Alhamdulillah.” Kataku yang saat itu masih tiduran diatas pasir dan rumput kering sambil berpegangan tangan dengan Nova dan menatap langit.
“Iya, Gue gak nyangka kita bisa sampe sini. Lo pengen nangis gak?”
“Gue udah nangis nih, gue takjub banget sama semuanya. Sama perjuangan kita dan terutama sama ini pemandangan yang kita liat sekarang.” Jujur aku menangis saat itu, air mataku deras mengalir.
“Kemarin banyak yang ngeremehin gue. Kalo gue gak kuat naik gunung. Tapi sekarang gue bisa tunjukin ke mereka kalo gue bisa. Gue sampe Ranu Kumbolo.”
“Iya bener banget. Banyak yang bilang gue gak kuat karena gue ashma, gue diremehin banget. Tapi sekarang gue disini, di danau tertinggi di pulau Jawa.” Kataku terisak. Aku memang punya riwayat penyakit ashma, bahkan pada saat pemeriksaan sebelum berangkat mendaki-pun aku sempat diragukan oleh dokter yang memeriksaku. Namun kali ini aku bisa membuktikan pada mereka semua yang sempat meremehkanku sebelum aku berangkat.
“Ini indah banget, sumpah demi apapun.”
“Ini pengalaman luar biasa yang bisa kita ceritain ke suami, anak dan cucu kita nanti.”
“Iya bener banget lo. Gue mau ceritain ini ke semuanya. Ke anak-anak gue, ke cucu-cucu gue. Semuanya.”
Air mata terus mengalir tak henti pula terus berucap syukur kepada Sang Pencipta alam semesta ini
“Nov, bintang jatuh!” Kataku berseru sambil menunjuk ke arah bintang jatuh.
“Iya, gue liat. Make a wish!” Dengan segera kami make a wish. Tak begitu percaya dengan mitos yang satu itu ‘ketika bintang jatuh ucapkanlah permohonanmu. Niscaya akan terkabul’ . Entah darimana mitos itu berasal tapi kami masih saja melakukan. Berharap dikabulkan seperti bunyi mitos itu. Aku dan Nova masih terbaring diatas rumput kering tak peduli angin malam yang semakin kencang berhembus. Bercerita banyak dan meluapkan kebahagiaan yang kami rasakan saat itu.
“Hoy, cewek-cewek. Bisa bantu kita masak air hangat?” Kata Feby. Aku dan Nova segera beranjak dan menoleh, ternyata tenda sudah berdiri. Barang-barang masih berserakan diluar. Ervan bertugas merapikan dalam tenda. Aku dan Nova memasak air untuk kami minum. Sementara Irwan dan Feby membereskan perlengkapan yang diluar. Angin malam semakin terasa kencang dan dingin.
“Gue dingin gak kuat!” Kataku
“Udah buruan deketin aja tangannya ke kompor biar anget.” Kata Irwan
Aku dan Nova mendekatkan telapak tangan ke pinggir-pinggir kompor mini yang kami bawa saat itu. Sungguh itu tidak ada efek yang berarti. Aku masih saja kedinginan.
“Tendanya udah rapi belum. Mau masuk please, gak kuat lagi.” Kata Nova dan aku menyetujuinya dengan anggukan.
“Udah. Yaudah cewek-cewek dulu yang masuk ganti pakaian kalian semua. Pake jaket atau apapun yang bisa menghangatkan tubuh kalian.” Irwan kembali memberi instruksi. Irwan memang paling dewasa diantara kami dan dia juga sedikit banyak memiliki pengalaman naik gunung meskipun semeru belum ia jamahi tapi ia sudah tahu caranya naik gunung, jadilah ia sebagai pemimpin dari perjalanan kami. Aku dan Nova segera masuk ke dalam tenda mengganti pakaian kami yang basah karena keringat setelah ± 8jam berjalan kaki. Perlu diketahui mendaki sampai Ranu Kumbolo jika dilakukan oleh mereka-mereka yang telah terbiasa mendaki hanya menghabiskan waktu 5-6 jam. Tak apa kami sedikit lambat karena ini pengalaman pertama kami. Jaket berlapis kami kenakan tak lupa kaos kaki dan sarung tangan tebal. Setelah selesai aku dan Nova kembali keluar bergantian dengan laki-laki yang berganti baju. Kembali aku dan Nova memasak air untuk kebutuhan minum kami. Setelah mereka selesai berganti pakaian hangat bersamaan dengan air yang sudah mendidih yang segera dimasukan ke dalam termos kecil yang kami bawa. Kami berlima segera masuk ke tenda, duduk melingkar dan mulai kami membuka makanan yang kami beli di Ranu Pani sore tadi. Nasi dan sayur kari yang sudah dingin itu tidak lagi menarik di mataku dan di mata mereka.
“Ya ampun nasinya.” Salah satu dari kami mengeluh melihat kondisi nasi yang sudah lembek dan dingin ketika dibuka bungkusnya. Sungguh aku pun mengeluh di dalam hati melihat nasi yang sudah seperti itu.
“Udah dimakan aja biar gak masuk angin. Nikmatin.” Kata Irwan
“Iya dimakan aja. Lagi pula kita kan belum makan nasi. Terakhir makan nasi pagi di warung pelangi di Tumpang.” Aku kembali mengingatkan. Jika harus memilih mungkin aku tidak memilih makan tapi apa daya perut sudah memanggil minta diisi nasi. Orang Indonesia wajar harus bertemu nasi dulu baru dianggap sebagai makan.
“Iya belum basi ini ayo kita makan!” Nova berseru
            Malam itu kita duduk melingkar menikmati makanan yang sudah dingin bersama teh hangat. Udara dingin semakin malam semakin menusuk, angin semakin kencang seakan menggoyangkan tenda kami. Suara riuh jangkring dan serangga tonggeret bersahutan dan suara deru air danau terdengar jelas. Langkah kaki dan suara-suara manusia terdengar semakin dekat, ya mereka para pendaki yang baru sampai dan mendirikan tenda di sebelah tenda kami.
“Mungkin itu para pendaki lain baru sampai.” Kata Feby dan sedikit melihat keluar tenda
            Setelah merapikan makanan dan minuman kami mengatur kembali tata letak tas dan peralatan lainnya agar tenda kami nyaman untuk ditiduri. Membersihkan alas dan mengeluarkan sleeping bag. Kami hanya membawa 2 sleeping bag maka itu kami harus saling berbagi. Malam kian semakin larut kami sudah membagi posisi tidur masing-masing. Irwan, aku, Ervan, Nova dan Feby. Begitulah urutan kami tidur di malam pertama di Ranu Kumbolo. Lampu tenda sudah dimatikan dan saatnya memejamkan mata. Di dalam tenda kami sudah gelap namun suara ramai di luar masih terdengar jelas. Diantara kami tidak ada yang langsung tidur pulas kecuali Ervan. Meskipun sudah berada di posisi tidur masing-masing tapi kami masih sibuk ngobrol berempat hingga rasa lelah dan kantuk menggerogoti mata kami dan kami tidur malam itu ditemani udara dingin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar