Catatan Domba Betina: Danau Tertinggi di Pulau Jawa Bagian III

Jumat, 16 Mei 2014

Danau Tertinggi di Pulau Jawa Bagian III


Di tengah malam entah pukul berapa terdengar suara Nova menggigil kedinginan dan terdengar pula suara Feby. Feby mungkin terbangun dan dengan sabar mengurus Nova yang kedinginan saat itu. Aku ingin sekali bangun tapi aku juga tak kuat untuk bangun karena tubuhku sendiri juga merasakan dingin sekali. Aku hanya berkomentar dengan mata yang terpejam “Kasih teh atau air anget Feb.” . Ya, Feby sepertinya malam itu membuatkan Nova teh agar tubuh Nova hangat. Feby terus mengajak Nova ngobrol agar Nova tidak terkena hiportemia (dingin yang berlebih dan bisa menyebabkan kematian). Aku terus memejamkan mata tak tidur pulas karena memang udara dingin begitu sangat menusuk tubuh. Hingga aku terbangun tak ada lagi suara Feby dan Nova yang sebelumnya sedang mengobrol, mungkin mereka sudah tertidur. Akupun melanjutkan tidur kembali. Pukul 04.00 Ervan dan Feby terbangun, mereka berdua terdengar mengobrol dan Ervan mengajak Feby untuk buang air kecil. Keluarlah mereka berdua dari tenda dan mencari tempat buang air kecil. Tak berapa lama mereka kembali dengan seruan “Aiih, dingin bangeet!!” . Aku sudah tersadar saat itu, “pipis dimana lu berdua?” tanyaku
“di rerumputan di ujung sana.” Kata Feby
“Dingiiiin banget is asli deh.” Kata Ervan dan kembali tiduran
“Nova semalem kenapa Feb?” Tanyaku pada Feby
“Iya dia kedinginan hebat. Gue buatin air anget trus gue elus-elus sama gue ajak ngobrol.”
“Sorry ya gue gak bantuin semalem, gue juga menggigil banget.”
“Dia kayak di film Titanic deh. Pas si Rose manggil ‘Jack...Jack..’. haha”
Aku tertawa mendengarnya, dasar Feby. Tak berapa lama Nova terbangun dan ingin pipis juga, aku pun begitu. Akhirnya aku dan Nova keluar merasakan dinginnya udara Ranu Kumbolo pagi itu. Aku pun pipis di balik bukit dan menutupnya dengan sarung, pertama kali dalam hidupku seperti itu. Aku dan Nova kembali ke tenda, Nova kembali melanjutkan tidurnya. Aku, Feby dan Irwan duduk di luar tenda menikmati udara pagi pertama di Ranu Kumbolo.
Pagi itu berbeda dari pagi-pagi lain yang pernah aku lewati sebelumnya. Pagi itu udara sangat dingin, pagi pertamaku di Ranu Kumbolo memang tidak melihat indahnya matahari terbit karena lelah menyelimutiku dan teman lainnya jadi tidak ada yang bangun pagi untuk melihat matahari terbit. Kicauan burung, suara air danau, lukisan alam yang begitu luar biasa dan orang-orang yang lalu lalang menikmati danau. Aku memasak air dan menyiapkan sarapan untuk kita makan pagi itu. Feby dan Irwan pergi mencari tempat kemah baru, entah kemana perginya. Aku ditinggal sendiri dalam waktu yang cukup lama. Aku memasak air terlebih dahulu, kompor sempat mati namun aku tidak bisa menyalakan kembali, akhirnya aku meminta bantuan dari pendaki lain untuk menyalakan kompor itu. Syukur, kompor kembali menyala. Tak berapa lama Nova terbangun dan keluar menemaniku duduk di depan tenda.
“Lo laper?” Tanyanya
“Iya laper. Mau masak mi gak?”
“Boleh tuh. Nasi yang semalem masih ada kan?”
“Ada kok. Mau?”
“Mau deh. Masih enak gak?”
“Masih tapi dingin.” Kataku sambil membuka bungkus nasi tersebut
Akhirnya aku dan Nova makan nasi dan mi yang kami buat, Feby dan Irwan kembali dengan setengah berlari.
“Darimana lu pada?” Tanyaku penasaran
“Nyari tempat baru.”
“Dapet?”
“Ada kok disana, deket tanjakan cinta.”
“Wah, gue mau naik tanjakan cinta!!”

Sambil berbincang mengenai tempat baru dan tanjakan cinta kami sambil membuat kopi dan roti untuk sarapan. Suara gaduh di luar tenda membuat Ervan bangun dan ikut bergabung bersama kita. Setelah sarapan kami menikmati air danau, kami mendekat ke tepi danau dan menceburkan kaki kami di air danau. Dingin super dingin sekali. Tak lupa kami mengambil foto dengan background Ranu Kumbolo. Kami ingin sekali foto berlima, sulit mendapatkan foto kami berlima, akhirnya kami meminta seorang dari anggota Tim SAR Gunung Semeru untuk mengambil foto kami berlima. Tak lupa kamipun berfoto bersama Tim SAR tersebut.
“Bapak dari puncak?” Tanyaku kepada salah satu anggota Tim SAR
“Dari lereng gunung, 1 orang ada yang hilang.” Mendengar pernyataan tersebut kami berlima sontak kaget dan penasaran
“Hilang?”
“Iya, tapi sudah ketemu kok. Saya ingatkan ya kalau di gunung itu tidak boleh sombong, harus tetap rendah hati. Jangan terpisah dari rombongan.” Anggota Tim SAR itu memberi nasihat kepada kami. Kami mengangguk paham. Setelah foto dan berbincang sebentar para anggota Tim SAR tersebut melanjutkan perjalanan kembali, tak lupa kami mengucapkan banyak terima kasih karena telah bersedia dimintai tolong. Sekali lagi salah satu dari anggota Tim SAR itu berkata “Ingat! Jangan sombong.” Kalimat itu yang terus teringang dan terus ku pegang selama perjalanan itu

            Sebelum matahari merangkak naik kami pun pindah ke tempat yang baru, ke tempat yang memiliki spot pemandangan yang lebih indah maka dari itu kami membereskan semua peralatan dan melimpat kembali tenda. Setelah semua rapi dan memastikan tidak ada yang tertinggal walau sampah sekalipun, kami melanjutkan perjalanan kami. Berjalan menyusuri pinggiran danau dengan matahari yang cukup terik namun semilir udara masih tetap dingin, banyak batang pohon yang tumbang dan jatuh ke tepian danau tapi itu membuat kelihatan lebih indah bagiku. Tak memakan waktu yang lama kami pun tiba di tempat perkemahan baru, tempatnya tepat di pinggir danau dan tepat di bawah pohon. Aku heran mengapa Irwan memilih tempat itu padahal di sebrang sebelah sana ada tanah luas untuk mendirikan tenda bersama pendaki lain, tapi dia memilih tempat itu dan tak ada tenda lain selain tenda kami di sana. Setelah aku bertanya aku tahu alasannya mengapa, karena menurutnya tempat yang kami tempati itu sangat pas ketika esok hari kami melihat sunrise. Kamipun membuka tenda kembali, membereskan kembali peralatan seperti yang kami lakukan semalam. Aku ingat aku sempat marah pada Irwan karena ia terus menyuruhku ini itu dan itu membuat aku kesal dan beberapa kali cemberut. Sudah aku bilang di awal bahwa temanku Irwan adalah seorang yang dewasa jadi dia mencoba melunak dan dengan halus mengajakku untuk mencuci piring bekas makan bubur kami berlima. Saat sedang mencuci piring di bawah pohon banyak pendaki yang berlalu-lalang mengingatkan kami agar tidak menggunakan cairan sabun mencuci piring ketika mencuci karena takut merusak ekosistem di sana. Disaat yang bersamaan Feby dan Nova bermain air danau sambil menggosok gigi dan ditegur oleh pendaki lain agar tidak menggosok gigi, pendaki lain mengira Feby dan Nova menggunakan pasta gigi padahal kenyataannya Feby dan Nova hanya menggosok-gosok gigi tanpa menggunakan pasta gigi. Memang benar kita harus saling mengingatkan untuk menjaga keasrian lingkungan apalagi alam.
            Tak banyak yang kami lakukan saat itu hanya berfoto mencari spot terbaik siang itu setelah puas dan udara siang itu cukup dingin kami masuk ke tenda. Sedikit merebahkan tubuh dan mencoba memejamkan mata untuk tidur siang. Aku, Feby, Nova dan Ervan tidur dan entah apa yang dikerjakan Irwan di dapur (dapur tempat kami memasak tepat di depan tenda kami). Aku hanya tidur sebentar selebihnya aku hanya memejamkan mata dan menutup mukaku dengan jaket namun Irwan tahu kalau aku tidak tidur, dia memukul kakiku seraya berkata “gue tahu lu gak tidur. Bangun Is, bantuin gue masak.” . Aku-pun bangun dan menggerutu dalam hati dengan lunglai aku keluar tenda membatu Irwan memasak. Siang itu kami memasak nasi, goreng telur dan sayur sop. Aku membantu mengiris sayuran dan Irwan memasak nasi. Makanan sudah hampir jadi Feby, Nova dan Ervan juga bangun dari tidurnya. Aku dan Nova pergi menjauhi tenda berniat ingin mengambil foto lebih banyak lagi, Irwan memanggil mengajak makan tapi aku dan Nova menolak dengan kompak. Sungguh perutku masih kenyang daritadi pagi makan terus. Tapi Irwan terus memaksa agar aku dan Nova makan, aku tetap menolak tapi Ia tetap keras menyuruh makan. “Kalau cuaca dingin itu harus banyak makan biar perut gak kosong, gak masuk angin juga.” Kata Irwan. ‘Dasar batu’ umpatku kesal saat itu. Seperti anak yang menurut pada orang tua, aku dan Nova kembali ke tenda untuk makan bersama. Menu saat itu menggiurkan sekali tapi aku hanya makan sedikit karena memang perutku tak bisa dipaksakan. Ada yang lucu dari makan siang menjelang sore kita itu adalah bahwa nasi yang kami makan belum matang alias aron. Kami tertawa bersama saat makan nasi itu, ingat! Saat di gunung makanan apapun harus dinikmati. Sambil makan kami sambil berbincang dan terus bercanda. Aku penasaran setengah mati ingin ke tanjakan cinta, aku ingin sore itu langsung ke sana. Mereka pun mengiyakan setelah membereskan makanan kami siap menjemput senja dari atas tanjakan cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar