Catatan Domba Betina: 2014

Minggu, 21 Desember 2014

"Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan."
"...."
"Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain."
"...."
"Tiga dikurang tiga berapa?"
"Nol."
"Nah, misal, saya gak kuat agamanya. Lantas saya cari pacar yang kuat agamanya. Pernikahan kami akan habis waktunya dengan si kuat melengkapi yang lemah."
"...."
"Padahal setiap orang sebenarnya wajib menguatkan agama. Terlepas dari siapapun jodohnya."
"...."
"Tiga dikali tiga berapa?"
"Sembilan."
"Find someone compliementary, not supplementary."

Jumat, 07 November 2014

Bertahan atau Mundur???

Pernahkah kamu merasa mencintai seseorang tapi tak sekalipun orang tersebut memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya?
Atau orang tersebut sudah sangat dekat tapi tetap tidak ada komitmen untuk menjalin suatu hubungan. Seseorang itu dekat sekali bahkan selalu ada ketika kita membutuhkannya tapi kejelasan hubungan tak ada. Kita pasti akan bingung, memilih mundur atau bertahan??

Mundur adalah langkah terbaik menurut saya. Jika kita sudah beribu kali mencoba tapi dia tidak sekalipun menanggapi lebih baik mundur. Cari kebahagiaan lain di orang lain. Jangan habiskan waktu untuk orang yang tak menghargai atau tidak membalas kita. Namun, jangan berbuat jahat tetaplah menjaga hubungan baik tetapi dengan batas yang wajar.

Jangan pernah takut kehilangan. Jika kita memiliki rasa percaya diri seharusnya kita tidak takut untuk melepaskan karena kita percaya di luar sana akan ada yang lebih baik untuk kita. Mungkin Tuhan belum menggariskan kita dengan orang tersebut tapi percayalah Tuhan punya jawaban terbaik untuk kita.

Keep Self Upgrade!

Senin, 13 Oktober 2014

Me Time

"Love yourself first"
Mungkin kalimat itu sudah tak asing lagi di telinga kita semua. Cintai dirimu sendiri terlebih dahulu sebelum kamu mencintai orang lain. Mencintai diri sendiri adalah sebuah cinta yang tak terbatas, gak pernah ngalamin sakit hati atau apa yang bikin kita sedih dan galau. Banyak cara untuk mencintai diri sendiri, salah satu yang sering aku lakukan adalah ME TIME. 
Me Time adalah waktu yang dihabiskan oleh diri sendiri. Mungkin kedengarannya aneh menghabiskan waktu sendirian berasa gak punya teman saja. Terkadang kita butuh waktu sendiri loh, gak harus selalu bergantung sama orang lain. Kalau kita keseringan memperhatikan orang lain apa kita sudah memperhatikan diri kita sendiri?? Apa kita sudah memanjakan diri kita sendiri?? 
Aku sudah cukup banyak melakukan Me Time ini, yang baru-baru ini aku lakukan saat akhir pekan ini adalah pergi ke suatu mall, keliling-keliling, lihat-lihat buku lalu beli es krim dan pulang lagi. Hanya sebuah kegiatan singkat yang aku lakukan sendirian tapi membuat efek besar untuk meningkatkan mood aku sendiri.
Kegiatan Me Time sebetulnya banyak sekali, mungkin aku akan mencoba share beberapa kegiatan yang telah aku lakukan untuk diri sendiri
1. Pergi ke mall hanya untuk beli es krim dan cuci mata
2. Pergi ke toko buku dan menghabiskan waktu yang lama di sana
3. Pergi ke salon, memanjakan diri dengan lulur, creambath atau bahkan mencoba potongan rambut terbaru
4. Nonton film bioskop dan makan di resto yang kita idamkan menunya (enak loh!)
5. Belanja-belanja barang yang sudah diincar atau belanja dadakan
6. Atau kalau mau irit dan gak ngeluarin banyak biaya adalah meditasi di kamar, berdiam diri di kamar jangan keluar sama sekali (keluar makan atau ke toilet). Tapi kalau kayak gini baiknya bilang ke orang rumah kalau kita dalam keadaan baik hanya ingin me time saja.
7. Dan masih banyak lagi cara menghabiskan waktu sendiri

Semua kegiatan di atas aku lakukan seorang diri. Apa itu hanya dilakukan oleh seorang jomblo aja? tentu tidak! seseorang yang sudah memiliki kekasih juga bisa melakukan me time. Terkadang kita lupa saat kita sudah memiliki pacar, perhatian kita justru terfokus pada pacar saja. Padahal kita punya kehidupan sendiri yang wajib kita beri perhatian lebih ketimbang pacar. Kalau bagi jomblo sah-sah saja melakukan me time secara jomblo itu bebas, tapi jngan keseringan juga nanti jomblonya makin lama. Hehehe

Tips bagi yang sudah memiliki pasangan ketika hendak melakukan me time yaitu izin satu hari ke pacar untuk tidak menggangu kita hari itu, jelaskan detail ke pacar bahwa kita ingin memanjakan diri sendiri dan katakan bahwa kita dalam keadaan baik bukan hendak lari dari pacar.
Tips bagi yang jomblo, me time adalah salah satu langkah untuk mencintai diri sendiri. Ingat! saat jomblo adalah saat paling baik untuk mencintai diri sendiri, isi kebahagiaanmu sendiri, belajar untuk menghargai diri sendiri, beri hadiah-hadiah kepada diri sendiri. Kenapa? Karena saat kita sudah bisa mencintai diri sendiri kita tidak begitu tergantung pada pacar kita nantinya untuk dibahagiakan, kita tidak menuntut terus menerus untuk dibahagiakan karena kita sudah tahu bagaimana caranya membahagiakan diri sendiri. Satu lagi, dengan mencintai diri sendiri kita tidak bisa membiarkan orang lain menyakiti diri kita karena kita tahu persis diri kita, dan dengan mencintai diri sendiri kita jadi lebih bahagia dan mengundang banyak orang untuk mencintai kita :)

"No one is going to love you if you dont love yourself"
"love yourself first more than anything"

Selasa, 08 Juli 2014

Cinta Monyet

Pagi ini aku menghabiskan waktuku dengan niat awal mengecat kamar tapi entah mengapa tumpukan tas yang tergantung di tembok kamarku terlihat mengganggu pandangan mata.
Aku raih tas-tas yang menggantung yang jumlahnya sudah cukup banyak itu; entah sepuluh atau berapa aku tak menghitungnya.
Aku bersihkan debu yang menempel di tas-tas itu, bahkan ada yang aku cuci karena tak pernah aku pakai padahal kondisinya masih sangat bagus. Sayang sekali.
Pagi ini aku membongkar kamar lebih tepatnya mencari-cari pekerjaan. Sungguh seusai subuh di bulan Ramadan ini membuat aku tak memiliki banyak aktivitas di pagi hari. Tak bisa melanjutkan tidur juga.
Aku membongkar kamarku tanpa sengaja aku menemukan sebuah surat dan catatan kecil. Surat itu aku temukan di dalam catatan kecilku. Catatan itu adalah buku harianku tahun 2006. Ya, itu sudah 8 tahun yang lalu. Aku membuka buku catatan harianku yang lalu itu. Membaca halaman demi halaman. Aku dibuat tersenyum pagi itu. Betapa tidak, tulisanku kala itu amat sangat lucu, polos dan anak-anak sekali. Maklum tahun 2006 aku masih di kelas 2 SMP. Kertas surat itupun sudah lusuh dan agak menguning tapi tulisannya masih jelas terbaca. Ada beberapa surat sebenarnya di dalam catatan harianku itu. Yang membuat aku tersenyum bahagia adalah surat dari sahabat-sahabatku yang saat ini masih tetap jadi sahabatku. Dalam surat itu berbunyi "best friends forever" dan ini sudah berlangsung delapan tahun dan semoga terus selamanya.
Tak hanya itu isi catatan harianku itu berisi nama seorang laki-laki. Saat aku kelas 1 SMP aku menyukai seorang laki-laki, dia adalah kakak kelasku namanya RENDI RISMANTO. Lucu sekali membaca cerita itu lagi. Entah keajaiban datang dari mana waktu dulu itu, aku menyukai kak Rendi dan berhasil dekat dengannya walau kita dekat saat dia sudah lulus dan menjadi anak SMA. Aku tak ingat pasti kapan dan bagaimana kita saling menukar nomor ponsel waktu itu, yang aku ingat saat itu aku masih kelas 2 SMP dan dia sudah kelas 1 SMA. Kita saling bertukar pesan singkat dan telpon kala itu. Ah, lucu sekali jika aku mengingatnya. Dan untuk pertama kalinya aku pergi berdua dengan laki-laki saat kelas 2 SMP! Ah, ini mungkin terlalu terburu-buru sebagai anak remaja. Tapi aku pastikan aku sangat gugup saat mengiyakan ajakan dia pergi. Aku-pun diyakinkan sahabat-sahabatku agar tetap mau dan menjaga diri, sederet nasihat sudah aku terima dari mereka.
Aku masih ingat saat itu aku menunggu dia di depan sekolahku, kemudian dia datang menjemput dengan sepeda motornya. Kami berdua pergi ke Hero Pamulang (saat ini sudah tidak ada) di sana aku di traktir main timezone dan es krim. Oh, Tuhan betapa sangat menyenangkan saat itu walau hanya main games, makan es krim dan lihat buku di gramedia. Hanya sekedar itu setelahnya memang dasar anak remaja yang masih labil jiwanya. Ka Rendi berkali-kali mengucap kata cinta tapi kami tak memutuskan untuk berpacaran karena aku tahu aku masih belum cukup umur, aku hanya kagum saja. Dia suka datang ke sekolahku yang membuat cewek-cewek SMP teriak histeris dan memandang kagum. Aku tak lagi berhubungan dengan dia sampai sekarang.
Gara-gara buku catatan harianku delapan tahun silam itu aku jadi teringat. Apa kabar dia?? Yang aku tahu kabarnya tahun lalu dia sudah menjadi sarjana sastra disalah satu universitas di Bandung dan sudah memiliki kekasih yang serius. Atau mungkin sekarang dia sudah menikah???

@eishafitri

Sabtu, 05 Juli 2014

long time no see

long time no see....
Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan wanita yang satu itu.
Saat ini wanita itu berada di hadapanku dengan keadaan yang sangat menyedihkan.
Aku melihatnya dari kejauhan setelah akhirnya aku menyapanya dengan senyum mengembang. Entahlah mengapa aku melakukan hal seperti itu; menyapanya.
Ia tersenyum kaku ketika aku menyapanya di antara riuh orang lalu-lalang.
'apa kabar?' tanyaku. Dia hanya menjawab 'baik. Kamu apa kabar?' dengan senyum yang bisa aku tebak, senyum yang dipaksakan.
Wanita itu tak berubah selalu memasang topeng baik dihadapanku. Aku bisa melihat senyumnya dipaksakan, aku memang bukan ahli psikologis tapi aku bisa membaca mimik wajahnya sedikit.
Saat aku melihat senyumnya yang dipaksakan itu aku seperti terlempar ke masa lampau. Aku masih mengingatnya dengan baik hingga saat ini.
Dulu saat aku mencintai seseorang laki-laki dan dia menyuruhku untuk kalah.
Di saat aku sangat mencintai laki-laki itu, dia menyuruhku untuk berhenti mencintai dan menyuruhku pergi dari kehidupan laki-laki itu.
Dia berbicara karma terus menerus di telingaku, dia bercerita tentang laki-laki itu dengan bangganya karena dia telah memilikinya lebih dahulu.
Dia mengeluarkan kata-kata yang tak pantas dikeluarkan dari mulut seorang wanita berwajah lugu seperti dia. Meski dia mengeluarkan kata-kata itu di belakangku tapi aku tahu, aku bisa mendengar dan membacanya dengan baik.
Ah, sudahlah kejadian masa lalu itu telah aku kubur rapat. Meski pada awalnya aku harus berjalan tertatih untuk meninggalkan semuanya tapi saat ini aku sudah berada di posisi yang bahagia. Berbanding terbalik dengan wanita itu.

satu cangkir kopi panas tersedia di meja. Akhirnya aku bisa mengajak wanita itu berbincang di salah satu coffee shop. Dia tidak memesan karena dia tidak suka kopi. Ah, payah sekali wanita itu.
Duduk berdua saling berhadapan seperti ini, lagi dan lagi membawaku ke kejadian masa lalu saat aku bersimpuh berjanji padanya untuk meninggalkan laki-laki itu. 'bodoh' dengan reflek aku menggelengkan kepalaku saat mengingat kejadian itu.
Aku tidak bertanya tentang kisahnya dengan laki-laki itu tapi dia yang sedari tadi hanya tertunduk itu mulai bercerita. Bercerita tentang kisah cintanya dengan laki-laki itu kandas. Tak ku sangka dia mengeluarkan air matanya di hadapanku. Air mata yang sama yang aku keluarkan dulu. Air mata dari setiap rasa kecewa dan air mata harapan agar semua kembali seperti semula tapi tak bisa. Aku mengelus punggung lengannya sambil bertanya dalam hati "Mengapa semuanya bisa berbalik menimpamu? ini seperti yang aku alami 3 tahun lalu."
Aku menghela nafas panjang karena aku tak bisa menemui jawabannya, aku hanya bisa mendengar setiap keluh kesah wanita itu dan mengatakan "mungkin sudah jalan Tuhan." . Aku kembali teringat dahulu aku pernah berkata sendiri "Biarkan dia memiliki laki-laki itu, dia akan kehilangan laki-laki itu tetapi aku tidak." Apa ini jawabannya??

Dia terus berkata "Aku sangat mencintai laki-laki itu tapi aku harus menjauh dari kehidupannya karena dia telah memilih wanita yang lain lagi." . Dan pada akhirnya dia berhenti menangis dan bergegas pergi. Di saat keadaannya sangat menyedihkan seperti itu wanita itu masih saja angkuh kepadaku seperti itu. Aku hanya ingin berteman dengannya sejak dulu, sejak kejadian aku berjanji kepadanya untuk meninggalkan laki-laki itu.
Aku menatap cangkir kopiku yang masih penuh karena tak sempat ku minum demi mendengarkan kisah cinta wanita itu. Mataku memandang sebuah buku catatan kecil di meja, mungkin milik wanita itu. Aku melihat ke sekitar apakah wanita itu masih ada atau tidak dan akhirnya aku membuka catatan itu.

Ini seperti buku harian wanita itu. Dia menulis tentang laki-laki itu dan kecintaannya terhadap laki-laki itu. Dia menulis semua kenangan bersama laki-laki itu dan dia menulis betapa hancurnya perasaannya ketika semua kisah cinta itu berakhir. Mataku berkaca-kaca bukan karena tulisan yang ia tulis tapi karena aku mengingat kejadian yang sama yang menimpaku dulu dengan laki-laki yang sama.
Aku menutup catatan kecil milik wanita itu. Sudah hampir 9 bulan mereka berpisah tapi wanita itu masih mengharapkan laki-laki itu. Bodoh sekali. Aku ingin sekali menariknya dan berkata "kamu harus move on dari laki-laki itu. Kejar kebahagiaanmu sendiri." . Ah, mana mungkin untuk berteman denganku saja wanita itu masih sulit menerimaku sebagai teman. "Bertemanlah denganku karena kita berdua adalah korban dari laki-laki itu", ah, kalimatku terlalu kasar. "Would you be my friend??" Hanya itu yang ingin aku ucapkan pada wanita itu sejak lama.

Jumat, 06 Juni 2014

Jika jarak dan waktu sudah memisahkan kita begitu jauh; tapi perasaanmu masih ada dan masih sama untukku, kamu boleh kembali

Senin, 02 Juni 2014

Taylor Swift

Siapa sih yang gak kenal Taylor Swift? Penyanyi cewek berusia 24 tahun (kelahiran tahun 1989) asal Amerika Serikat ini terkenal dengan lagu-lagu bergenre country pop ini yang menurut gue itu easy listening banget. Ada yang mellow abis dan ada juga asik buat sedikit bergoyang. Hehehe
Gue suka sama Taylor Swift alias ngefans tapi gue bukan swifties (fans Taylor Swift) garis keras. Hehehe
Gue pertama kali denger itu sekitar 4tahun yang lalu kalo gak salah ya, gue denger lagu-nya Mine di album Speak Now di laptop sahabat gue Siska. Ternyata Siska lebih gaul dari gue, maksudnya kalo urusan musik enak dia lebih cepat dari gue update-nya (gue tau one direction dan Kpop juga dari Siska). Oke lanjut, setelah gue dengerin gue sempet dicekokin (dibujuk rayu) sama Siska tentang Taylor Swift kalo lagunya enak-enak dan gue wajib denger. Dari situlah gue pertama copas (copy paste) semua lagu Taylor Swift di laptopnya Siska dan mulai dengerin di rumah. Sebenernya sih Siska punya lagunya yang emang nge-hits dan enak didenger.
Setelah gue denger semua lagu yang nge-hits dari laptopnya Siska, gue mulai 'naksir' nih sama Taylor Swift. (Sekali lagi, gue bukan fans garis keras ya. Hehehe). Akhirnya gue datang berkunjung ke mbah google cari tau lebih dalam Taylor Swift itu. Wow cantik juga menurut gue (plis cantik itu relatif. Gue bisa bilang cantik, tapi lo bisa bilang jelek). Jeng-jeng dan mulailah gue mencuri-curi foto-foto dia dari google dan mulai nyimpen di folder laptop atau hape gue. Gue pun mulai download-download gratisan mp3 lagu-lagu dia yang lain. Semakin kesini semakin berkembang dalam kata lain dia mengeluarkan karya-karya lagi. Lagunya semakin enak didenger dalam kondisi apapun.
Dan yang paling gue suka dan tambah suka sama dia adalah ketika dia launching album barunya RED. Kenapa? RED alias merah itu warna favorit gue jadilah gue bersemangat sekali untuk denger lagu-lagunya dia yang baru di album RED, terutama single RED itu sendiri. Terus lirik lagu RED itu beberapa waktu yang lalu sempet gue rasain di kehidupan percintaan gue.HAHAHA (but loving him was RED...
Gue juga punya temen tapi dia laki-laki dan dia ngefans juga sama Taylor Swift tapi kayaknya dia fans garis keras. Daritadi gue bilang garis keras terus ya? Maksud garis keras itu bagi gue adalah fans yang bener-bener ngefans kayak beli album aslinya, selalu ikutin perkembangannya setiap waktu, beli pernak pernik ori dan nonton konser.
Kalo gue sekedar denger lagunya aja, ngikutin fan page di facebook, follow twitter atau instagramnya. Tapi gue gak nonton konsernya. Taylor Swift mau dateng ke Jakarta 4 Juni 2014. Gue sih tadinya mau nonton tapi gue urungkan niat gue karena tiket paling murah itu harganya 800ribu. Gue gak bisa menghamburkan uang sebanyak itu (sebenernya sih gue gak ada uang buat beli.hehe). Gue gak pernah nonton konser yang berbayar sampe ratusan gitu kalo nonton perform artis ya yang murah atau gratis masih pernah lah ya. (kayak Jakcloth yang baru-baru ini gue datengin).
Back to Taylor Swift. Hal yang gue suka dari dia adalah dia menciptakan lagu sendiri. Hebaaat! Sumpah kalo kalian tau itu ada cerita sendiri di masing-masing lagu yang dia tulis. (Gue gak cerita kisah dibalik lagu-lagu yang dia tulis, kalo mau tau liat blog sebelah ya.) . Dan kalian tau kan kalo Taylor Swift itu pernah pacaran sama Harry Styles personil One Direction. Nah, kisah mereka kan akhirnya kandas di tengah jalan dan yang paling gue suka dari Taylor Swift adalah ketika dia menang award best female Taylor Swift - I Knew Were Trouble di VMA. Taylor Swift naik ke atas panggung dan menerima penghargaan itu dan dia sempet little speech gitu dan dia ngomong gini (ini gue terjemahin pake bahasa Indonesia aja) "Terima kasih untuk orang yang menginspirasiku untuk menciptakan lagu ini. Aku tau dia pasti ngerti maksudku, karena kamu aku MENANG." dan setelah itu kamera nyorot ke Harry Sytles yang pada saat itu One Direction juga hadir di acara tersebut. It was amazing bagi gue sih, mungkin maksudnya Taylor Swift tuh mau nunjukin kalo dia bisa move on dari mantannya itu, dia bisa sukses sendiri dan bisa nunjukin ke mantannya juga. Cool!
Apalagi ya yang mau gue bahas tentang cewek keren satu ini. Hmm, mungkin konser dia bertajuk RED TOUR ini kan disponsori sama salah satu brand ice cream terkenal jadi untuk edisi kali ini ice cream tersebut ngeluarin produk ice cream limited edition RED - Taylor Swift dan bikin semua orang pada kerajingan buat beli itu es krim. Gue juga salah satu yang beli juga karena ada tulisan RED dan gambar Taylor Swiftnya sih. Hehehe. Rasanya juga enak yang strawberry.
Untuk lagu-lagu Taylor Swift buat recommended apa ya. Gue kasih yang paling sering gue dengerin aja deh ya
  1. RED
  2. Everything Has Changed
  3. We Are Never Ever Getting Back Together (kasih nih lagu buat mantan kalian.)
  4. I Knew You Were Trouble
  5. 22
  6. Mine
  7. Back To December (lagu wajib kalo karokean)
  8. Love Story (Romantis banget)
  9. All to Well
  10. Crazier
  11. Dll


Minggu, 01 Juni 2014

Di mana tempat yang bisa aku sebut "RUMAH"??

Rumah bukan hanya sebuah bangunan yang bisa melindungi kita dari panas atau hujan. Tapi rumah adalah tempat kita kembali dari lelahnya dan kerasnya dunia luar, rumah yang bisa memberikan keamanan dan kenyamanan bagi kita. Setiap kita pulang kita bisa melupakan sejenak keriuhan dunia luar karena di dalam rumah ada orang-orang tersayang yang menyambut kedatangan kita, ada telinga-telinga yang siap akan cerita tentang kejamnya dunia luar.
Aku hanya ingin dapatkan itu di rumah. Sebuah kenyamanan bukan sebuah tekanan dari mereka.



Sabtu, 31 Mei 2014

Seeing how happy you are now with her, make me realize i can never get back what i regretfully let go
you know that you're in love when the hardest thing to do is saying goodbye

Jumat, 30 Mei 2014

Melepasmu adalah hal yang paling sulit aku lakukan, tetapi bertahan mencintaimu justru akan jauh lebih menyakitkan.

Kamis, 29 Mei 2014

Tentang Aku dan Keinginanku Menjadi Wanita Feminin

Aku terlahir sebagai seorang wanita tapi entah mengapa aku terbilang anak yang tomboy seperti anak laki-laki.
Ketika aku kecil aku lebih sering bermain mainan anak laki-laki seperti gangsing, mobil atau robot. Itulah mengapa aku tidak pernah bisa bermain lompat karet atau bola bekel sampai sekarang. Aku ingat aku punya kaos baja hitam (salah satu superhero di masa itu), aku punya robot-robotan yang bisa berjalan dan bersuara. Aku tidak bisa diberi perhiasan seperti anting-anting, kalung, cincin atau gelang. Karena setiap aku memakainya aku selalu saja menghilangkannya.
Aku punya riwayat penyakit yang entah darimana datangnya hingga hinggap di tubuhku ini. Dulu saat aku kecil aku tidak boleh capek sedikit, aku tidak boleh dibentak kasar, aku tidak boleh banyak pikiran berlebih; karena itu akan menyebabkan aku sakit. Ada cerita yang cukup menggelitik jika aku mengingatnya sekarang. Jadi, dulu saat aku duduk di bangku SD setiap akan diadakan ujian semester aku selalu sakit dan selalu saja mengikuti ujian susulan di ruang guru. Itulah salah satu stres berlebihku dulu. Tapi di balik lemahnya tubuhku dulu aku termasuk anak yang banyak teman di sekolah. Aku termasuk anak yang dominan di kelas, ibaratnya aku dan teman-teman ditakuti oleh teman-teman lain entah apa sebabnya. Aku pernah berkelahi dengan anak laki-laki dari SD sebelah. 
Tapi setelah lulus SD aku masuk MTs, sejajar dengan SMP tetapi itu sekolah Islam yang mewajibkan muridnya mengenakan jilbab. Aku sedikit berubah saat SMP karena aku mengenakan jilbab dan rok panjang mungkin, tapi aku tidak meninggalkan hobi sepak bola ku. Aku suka sekali sepak bola dari tahun 2002, atlit sepak bola yang sudah kukagumi 14 tahun lamanya yaitu Iker Casillas Fernandez. Karena hobi sepak bolaku ini kebanyakan temanku di SMP adalah anak laki-laki. Kami (aku dan teman laki-laki yang hobi sepak bola) sering sekali berkumpul di koridor depan kelas, jadwalnya setiap pagi dan tak lupa membawa koran olah raga lalu kami gelar rame-rame di depan kelas. Seru sekali jika aku mengingatnya lagi. Oh ya, saat aku SMP aku adalah ketua kelas perempuan satu-satunya di angkatanku. Ada 10 kelas; 9 orang ketua kelas laki-laki dan aku perempuan sendiri. Itulah setiap kali rapat ketua kelas aku merasa teristimewa. Selain itu jika ada class meeting aku pernah ikut lomba futsal antar kelas, tidak sering tapi aku pernah beberapa kali. Di SMP aku sudah mengenal 'cowok' dalam artian cinta-cintaan. Aku pernah nge-date dengan kakak kelas yang aku incar, Rendi. Ya, dia mengajakku pergi dan makan saat kami libur sekolah. Sekarang Ka Rendi sudah jadi Sarjana Sastra di Bandung. Selebihnya aku mengenal beberapa laki-laki lain; kakak kelas atau teman seangkatanku. Aku tidak berpacaran, aku hanya berteman.
Di penghujung kelulusan SMP, aku dekat dengan laki-laki seangkatanku di SMP, ya dia pacar pertamaku di SMA. Aku sekolah di SMK dan (mantan) kekasihku itu di STM yang tidak jauh dari sekolahku. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk putus, sudah kurang lebih 4 tahun berlalu. Dulu, aku anti berteman dengan dia tapi sekarang aku sudah berteman dan dia masih sangat baik padaku (kebaikan yang baru-baru ini dia membeli sepatu gunung baru untuk aku kenakan saat aku mendaki papandayan dan dia meminjami aku alat gunung selalu.)
di SMK aku pun mengenakan jilbab saat sekolah jadi aku tidak terlalu tomboy. Aku kenal dengan teman SMA-ku dia lebih tomboy penampilannya laki sekali. Saat ini dia sudah menikah (kalah gue kalah). Dulu aku belum berjilbab kemana-mana masih dengan rambut yang aku pajang kemana-mana. Tiap kali aku main aku kenakan celana jeans robek-robek, kemeja atau kaos gelap, sepatu kets. Aku membeli sepatu sneakers harga 250ribu. Aku mendengarkan musik metal, aku pergi menonton band metal yang kerap kali rusuh. Itu terjadi hingga aku semester 2 di kampus. Hanya saja setelah lulus SMA aku memutuskan kemana-mana mengenakan jilbab tapi pakaianku, selera musikku dan sepak bolaku tidak aku tinggalkan. Aku hanya meninggalkan celana robek-robekku.
Kuliah semester 1 dan 2 pakaianku tak karuan, kemeja atau kaos dan sneakers yang sering aku gunakan. Aku masih mendengar musik metal dan membuat kaget teman-teman laki-laki yang baru mengenalku. Hingga semester 3 aku mulai sedikit merubah penampilanku lebih ke perempuan. Aku kini meninggalkan sepatu sneakersku dan menggantinya dengan flat shoes. Aku mulai mengganti musikku dengan musik pop dan k-pop. Ini yang membuat teman laki-lakiku tertawa saat tahu aku beralih ke k-pop.
Saat ini teman laki-laki ku banyak sekali, entah mengapa berteman dengan laki-laki lebih seru dan tidak banyak mau. Hobi laki-laki yang aku senangi sekarang adalah naik gunung, entah mengapa aku suka membawa beban berat di punggungku, berjalan di tengah hutan. Anehnya penyakitku tidak kambuh saat ini, tidak seperti dulu. 

Tapi ketahuilah dibalik kesenanganku yang agak maskulin sesungguhnya aku ingin sekali menjadi wanita feminin. Aku ingin terlihat cantik, aku ingin dipuji cantik bukan diledek "emang lo cewek?" . Mungkin niat untuk menjadi berubah seperti itu. Aku pernah berniat mempercantik diriku tapi hanya berlangsung satu hari atau beberapa minggu saja selebihnya aku tinggalkan karena terlalu bertele-tele dan makan waktu.
Saat ini aku memang sedang mengeluh, bukannya aku tidak bersyukur tapi aku ingin menjadi apa yang sudah Tuhan kodratkan. Aku normal masih menyukai laki-laki tapi aku tidak seperti wanita kebanyakan yang senang bersolek. Ini aku yang cuek dengan penampilan fisik dan keinginan terpendamku ingin menjadi wanita feminin.

Jangan Cintai Aku Apa Adanya

Tak sulit mendapatkanmu, karena sejak lama kau pun mengincarku
Tak perlu lama-lama, tak perlu banyak tenaga.
Ini terasa mudah.
Kau terima semua kurangku
Kau tak pernah marah bilaku salah
Kau selalu memuji apapun hasil tanganku yang tidak jarang payah
Jangan cintai aku apa adanya, jangan.
Tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan

Sabtu, 17 Mei 2014

Ku teringat dalam lamunan rasa sentuhan jemari tanganmu
Ku teringat walau telah pudar suara tawamu sungguhku rindu
Tanpamu langit tak berbintang
Tanpamu hampa yang ku rasa
Seandainya jarak tiada berarti, akan ku arungi ruang dan waktu dalam sekejap saja
Seandainya sang waktu dapat mengerti tak akan ada rindu yang terus mengganggu
Kau akan kembali bersamaku
Terbit dan tenggelamnya mentari membawamu lebih dekat
Denganmu langitku berbintang
Denganmu sempurna ku rasa.....


Jumat, 16 Mei 2014

Danau Tertinggi di Pulau Jawa Bagian III


Di tengah malam entah pukul berapa terdengar suara Nova menggigil kedinginan dan terdengar pula suara Feby. Feby mungkin terbangun dan dengan sabar mengurus Nova yang kedinginan saat itu. Aku ingin sekali bangun tapi aku juga tak kuat untuk bangun karena tubuhku sendiri juga merasakan dingin sekali. Aku hanya berkomentar dengan mata yang terpejam “Kasih teh atau air anget Feb.” . Ya, Feby sepertinya malam itu membuatkan Nova teh agar tubuh Nova hangat. Feby terus mengajak Nova ngobrol agar Nova tidak terkena hiportemia (dingin yang berlebih dan bisa menyebabkan kematian). Aku terus memejamkan mata tak tidur pulas karena memang udara dingin begitu sangat menusuk tubuh. Hingga aku terbangun tak ada lagi suara Feby dan Nova yang sebelumnya sedang mengobrol, mungkin mereka sudah tertidur. Akupun melanjutkan tidur kembali. Pukul 04.00 Ervan dan Feby terbangun, mereka berdua terdengar mengobrol dan Ervan mengajak Feby untuk buang air kecil. Keluarlah mereka berdua dari tenda dan mencari tempat buang air kecil. Tak berapa lama mereka kembali dengan seruan “Aiih, dingin bangeet!!” . Aku sudah tersadar saat itu, “pipis dimana lu berdua?” tanyaku
“di rerumputan di ujung sana.” Kata Feby
“Dingiiiin banget is asli deh.” Kata Ervan dan kembali tiduran
“Nova semalem kenapa Feb?” Tanyaku pada Feby
“Iya dia kedinginan hebat. Gue buatin air anget trus gue elus-elus sama gue ajak ngobrol.”
“Sorry ya gue gak bantuin semalem, gue juga menggigil banget.”
“Dia kayak di film Titanic deh. Pas si Rose manggil ‘Jack...Jack..’. haha”
Aku tertawa mendengarnya, dasar Feby. Tak berapa lama Nova terbangun dan ingin pipis juga, aku pun begitu. Akhirnya aku dan Nova keluar merasakan dinginnya udara Ranu Kumbolo pagi itu. Aku pun pipis di balik bukit dan menutupnya dengan sarung, pertama kali dalam hidupku seperti itu. Aku dan Nova kembali ke tenda, Nova kembali melanjutkan tidurnya. Aku, Feby dan Irwan duduk di luar tenda menikmati udara pagi pertama di Ranu Kumbolo.
Pagi itu berbeda dari pagi-pagi lain yang pernah aku lewati sebelumnya. Pagi itu udara sangat dingin, pagi pertamaku di Ranu Kumbolo memang tidak melihat indahnya matahari terbit karena lelah menyelimutiku dan teman lainnya jadi tidak ada yang bangun pagi untuk melihat matahari terbit. Kicauan burung, suara air danau, lukisan alam yang begitu luar biasa dan orang-orang yang lalu lalang menikmati danau. Aku memasak air dan menyiapkan sarapan untuk kita makan pagi itu. Feby dan Irwan pergi mencari tempat kemah baru, entah kemana perginya. Aku ditinggal sendiri dalam waktu yang cukup lama. Aku memasak air terlebih dahulu, kompor sempat mati namun aku tidak bisa menyalakan kembali, akhirnya aku meminta bantuan dari pendaki lain untuk menyalakan kompor itu. Syukur, kompor kembali menyala. Tak berapa lama Nova terbangun dan keluar menemaniku duduk di depan tenda.
“Lo laper?” Tanyanya
“Iya laper. Mau masak mi gak?”
“Boleh tuh. Nasi yang semalem masih ada kan?”
“Ada kok. Mau?”
“Mau deh. Masih enak gak?”
“Masih tapi dingin.” Kataku sambil membuka bungkus nasi tersebut
Akhirnya aku dan Nova makan nasi dan mi yang kami buat, Feby dan Irwan kembali dengan setengah berlari.
“Darimana lu pada?” Tanyaku penasaran
“Nyari tempat baru.”
“Dapet?”
“Ada kok disana, deket tanjakan cinta.”
“Wah, gue mau naik tanjakan cinta!!”

Sambil berbincang mengenai tempat baru dan tanjakan cinta kami sambil membuat kopi dan roti untuk sarapan. Suara gaduh di luar tenda membuat Ervan bangun dan ikut bergabung bersama kita. Setelah sarapan kami menikmati air danau, kami mendekat ke tepi danau dan menceburkan kaki kami di air danau. Dingin super dingin sekali. Tak lupa kami mengambil foto dengan background Ranu Kumbolo. Kami ingin sekali foto berlima, sulit mendapatkan foto kami berlima, akhirnya kami meminta seorang dari anggota Tim SAR Gunung Semeru untuk mengambil foto kami berlima. Tak lupa kamipun berfoto bersama Tim SAR tersebut.
“Bapak dari puncak?” Tanyaku kepada salah satu anggota Tim SAR
“Dari lereng gunung, 1 orang ada yang hilang.” Mendengar pernyataan tersebut kami berlima sontak kaget dan penasaran
“Hilang?”
“Iya, tapi sudah ketemu kok. Saya ingatkan ya kalau di gunung itu tidak boleh sombong, harus tetap rendah hati. Jangan terpisah dari rombongan.” Anggota Tim SAR itu memberi nasihat kepada kami. Kami mengangguk paham. Setelah foto dan berbincang sebentar para anggota Tim SAR tersebut melanjutkan perjalanan kembali, tak lupa kami mengucapkan banyak terima kasih karena telah bersedia dimintai tolong. Sekali lagi salah satu dari anggota Tim SAR itu berkata “Ingat! Jangan sombong.” Kalimat itu yang terus teringang dan terus ku pegang selama perjalanan itu

            Sebelum matahari merangkak naik kami pun pindah ke tempat yang baru, ke tempat yang memiliki spot pemandangan yang lebih indah maka dari itu kami membereskan semua peralatan dan melimpat kembali tenda. Setelah semua rapi dan memastikan tidak ada yang tertinggal walau sampah sekalipun, kami melanjutkan perjalanan kami. Berjalan menyusuri pinggiran danau dengan matahari yang cukup terik namun semilir udara masih tetap dingin, banyak batang pohon yang tumbang dan jatuh ke tepian danau tapi itu membuat kelihatan lebih indah bagiku. Tak memakan waktu yang lama kami pun tiba di tempat perkemahan baru, tempatnya tepat di pinggir danau dan tepat di bawah pohon. Aku heran mengapa Irwan memilih tempat itu padahal di sebrang sebelah sana ada tanah luas untuk mendirikan tenda bersama pendaki lain, tapi dia memilih tempat itu dan tak ada tenda lain selain tenda kami di sana. Setelah aku bertanya aku tahu alasannya mengapa, karena menurutnya tempat yang kami tempati itu sangat pas ketika esok hari kami melihat sunrise. Kamipun membuka tenda kembali, membereskan kembali peralatan seperti yang kami lakukan semalam. Aku ingat aku sempat marah pada Irwan karena ia terus menyuruhku ini itu dan itu membuat aku kesal dan beberapa kali cemberut. Sudah aku bilang di awal bahwa temanku Irwan adalah seorang yang dewasa jadi dia mencoba melunak dan dengan halus mengajakku untuk mencuci piring bekas makan bubur kami berlima. Saat sedang mencuci piring di bawah pohon banyak pendaki yang berlalu-lalang mengingatkan kami agar tidak menggunakan cairan sabun mencuci piring ketika mencuci karena takut merusak ekosistem di sana. Disaat yang bersamaan Feby dan Nova bermain air danau sambil menggosok gigi dan ditegur oleh pendaki lain agar tidak menggosok gigi, pendaki lain mengira Feby dan Nova menggunakan pasta gigi padahal kenyataannya Feby dan Nova hanya menggosok-gosok gigi tanpa menggunakan pasta gigi. Memang benar kita harus saling mengingatkan untuk menjaga keasrian lingkungan apalagi alam.
            Tak banyak yang kami lakukan saat itu hanya berfoto mencari spot terbaik siang itu setelah puas dan udara siang itu cukup dingin kami masuk ke tenda. Sedikit merebahkan tubuh dan mencoba memejamkan mata untuk tidur siang. Aku, Feby, Nova dan Ervan tidur dan entah apa yang dikerjakan Irwan di dapur (dapur tempat kami memasak tepat di depan tenda kami). Aku hanya tidur sebentar selebihnya aku hanya memejamkan mata dan menutup mukaku dengan jaket namun Irwan tahu kalau aku tidak tidur, dia memukul kakiku seraya berkata “gue tahu lu gak tidur. Bangun Is, bantuin gue masak.” . Aku-pun bangun dan menggerutu dalam hati dengan lunglai aku keluar tenda membatu Irwan memasak. Siang itu kami memasak nasi, goreng telur dan sayur sop. Aku membantu mengiris sayuran dan Irwan memasak nasi. Makanan sudah hampir jadi Feby, Nova dan Ervan juga bangun dari tidurnya. Aku dan Nova pergi menjauhi tenda berniat ingin mengambil foto lebih banyak lagi, Irwan memanggil mengajak makan tapi aku dan Nova menolak dengan kompak. Sungguh perutku masih kenyang daritadi pagi makan terus. Tapi Irwan terus memaksa agar aku dan Nova makan, aku tetap menolak tapi Ia tetap keras menyuruh makan. “Kalau cuaca dingin itu harus banyak makan biar perut gak kosong, gak masuk angin juga.” Kata Irwan. ‘Dasar batu’ umpatku kesal saat itu. Seperti anak yang menurut pada orang tua, aku dan Nova kembali ke tenda untuk makan bersama. Menu saat itu menggiurkan sekali tapi aku hanya makan sedikit karena memang perutku tak bisa dipaksakan. Ada yang lucu dari makan siang menjelang sore kita itu adalah bahwa nasi yang kami makan belum matang alias aron. Kami tertawa bersama saat makan nasi itu, ingat! Saat di gunung makanan apapun harus dinikmati. Sambil makan kami sambil berbincang dan terus bercanda. Aku penasaran setengah mati ingin ke tanjakan cinta, aku ingin sore itu langsung ke sana. Mereka pun mengiyakan setelah membereskan makanan kami siap menjemput senja dari atas tanjakan cinta.

Kamis, 15 Mei 2014

Danau Tertinggi di Pulau Jawa Bagian II


Sore itu kami mulai melangkahkan kaki melewati pohon-pohon dan jalan setapak. Menuju pos 1 rute-nya tidak begitu sulit, jalan landai dan masih cukup bagus. Beberapa kali kami berhenti karena kelelahan berjalan. Maklum kami belum terbiasa berjalan sejauh ini. Hari semakin lama semakin gelap namun perjalanan masih teramat jauh. Barulah sampai di pos 2 pukul 17.00 yang saat itu sudah gelap dan angin berhembus dingin sekali. Kami memutuskan berhenti di pos 2. Tak hanya kami yang beristirahat disana, ada beberapa pendaki lain yang sedang beristirahat pula. Berbincang dengan pendaki lain dan beberapa pendaki yang ingin turun. Menurut informasi yang didapat bahwa dari pos 2 menuju pos 3 adalah rute yang paling panjang dan rute menanjak sekitar 60 derajat. Dengan rute perjalanan seperti itu dan langitpun sudah mulai gelap menjadi tantangan bagi kami saat itu. Tak ingin membuang waktu banyak kami mempersiapkan peralatan lighting, dari senter hingga headlamp. Mengganti batre yang baru agar cahaya yang dihasilkan terang sehingga tidak menggangu perjalanan kami saat itu. Setelah alat penerangan dibagikan satu persatu kami siap untuk berjalan menuju pos 3. Aku sendiri memakai headlamp dan senter yang aku genggam.
“Semangat mas dan mba.” Para pendaki lain memberi semangat kepada kami.
            Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang penuh dengan pasir dan bebatuan besar. Terkadang kami menemui batang pohon yang tumbang yang memaksa kami harus melangkah lebih ekstra hati-hati. Fokus pada jalan karena suasana pada saat itu sangat gelap, angin malam berhembus dingin sekali sampai menembus tulang namun kami harus tetap terus bergerak agar tidak kedinginan. Benar apa yang dikatakan orang-orang tentang trek menuju pos 3 sangat curam, tak jarang kami harus saling berpegangan tangan untuk membantu memanjat di trek yang sangat curam. Sering kali aku merangkak untuk menanjak atau jika trek turunan aku kerap kali jongkok meraba permukaan tanah berpasir dengan kakiku. Tak ada pemandangan yang indah saat itu, aku tak melihat apapun selain jalan setapak dan pohon-pohon di samping kananku, ranting pohon yang berserakan, di samping kiri ku terdapat jurang, bebatuan di samping kananku. Pencahayaan pun harus tetap menyala dengan baik untuk membantu perjalanan kami malam itu.
“Astagfirullah.” Aku berteriak begitu keras dan refleks. Aku terjatuh karena tak melihat ada batu. Untung saja aku tak terperosok ke dalam jurang yang saat itu mulut jurang sudah berada di ujung kakiku.
“Kenapa lo is?” “Are you okay?” Teriakan mereka hampir bersamaan melihat aku yang sudah jatuh duduk di bawah.
“Gapapa kok.” Kataku sambil mencoba berdiri dibantu uluran tangan temanku.
“Hati-hati yaa guys. Fokus. Konsentrasi. Kalau capek bilang.” Kata Irwan memberi instruksi kepada kami.
“Ayo. Udah bisa lanjut lagi kan?” Tanya Irwan padaku
“Sip.” Aku meyakinkan
“Udah pake senter 2 masih aja jatuh.” Lanjut Irwan meledek
“Hahaha. Iya ilang fokus tadi.” Aku menjawab sambil tertawa kecil
            Setelah insiden jatuhnya aku kami melanjutkan perjalanan kembali dengan lebih berhati-hati. Tapi memang perjalanan menuju pos 3 sungguh sangat banyak tantangannya. Kejadian jatuhnya aku kembali terulang, tak hanya aku namun semua juga merasakan jatuh entah karena tersandung batu atau ranting pohon. Kondisi kami saat itu sudah sangat lelah dan kondisi jalan yang sangat gelap. Tak berapa lama setelah puluhan kali menanjak terlihat samar pos 3. Selter pos 3 sudah tidak berbentuk bangunan, karena pos 3 sudah ambruk. Hanya atap yang terbuat dari seng yang masih ada disana. Kami tak beristirahat disana selain kondisi pos yang tidak memungkinkan untuk kami beristirahat dan sudah hampir malam. Kami takut banyak menghabiskan waktu di jalan karena angin malam saat itu berhembus sangat kencang. Langkah demi langkah kami tapaki kembali malam itu namun tempat tujuan belum juga muncul dipelupuk mata kami. Berkali kami beristirahat karena terlalu lelah berjalan, tak ada pemandangan indah, tak ada awan-awan cumulus yang menyambut, semua gelap pekat hanya cahaya dari senter dan suara-suara anjing hutan dan jangkrik yang terdengar. Kami memutuskan untuk berhenti untuk menyeduh teh dan memasak mi gelas, itu kami lakukan dipinggir jalan jalur pendakian yang memang agak luas. Membongkar dan menyalakan kompor lalu kami duduk melingkar saling menghangatkan diri. Beberapa pendaki melewati kami dan berkata
“Semangat kalian. Sudah dekat dengan pos 4.” Mereka yang lewat selalu saling memberi semangat. Adapula yang bertanya mengapa kami membuat mi di tengah perjalanan seperti itu, apa boleh buat ini kami lakukan karena perut kami kompak meminta diberi makan.
“Dingiiiin.” Kata Nova tangannya bergetar kedinginan.
“Ini minum kuah mi-nya biar anget.”
“Kita gak bisa banyak diam kayak gini, makin dingin.” Kataku yang terus menggerak-gerakan jemari tangan yang sudah mulai agak mati rasa.
“Please genggam tangan gue.” Kata Nova kepadaku, aku menggenggamnya erat.
“Kita pelukan yuk, Nov.” Kataku meminta
“Lo kedinginan juga?”
“Bangeeeeeet.” Tak perlu menunggu waktu kami berdua berpelukan. Sementara Irwan merapikan peralatan masak kembali, karena makanan kami sudah dengan cepat kami lahap.
            Kami melanjutkan perjalanan kembali dengan tenaga yang baru kami isi seadanya. Iya benar apa kata pendaki lain pos 4 memang tak begitu jauh dari tempat kami beristirahat.
“Denger gak?” Kataku berseru yang saat itu memang posisi aku berjalan diurutan kedua dari depan.
“Denger apa?” Ada yang menjawab
“Suara air. Kayaknya Ranu Kumbolo udah deket nih!.” Mereka dengan kompak diam dan mencoba mendengar suara air yang terkena angin.
“Semangaaaat guys! Ini kita udah turun menuju ranu kumbolo.” Lagi Irwan memberi semangat kepada kami semua
“Ranu Kumbolo kami datang.” Ervan setengah berteriak. Aku mengucap syukur berkali dalam hati. Jalur trek menuju pos 4 memang tak terjal saat menuju pos 3. Masih ada jalan menanjak tapi tak terlalu tajam, lebih banyak jalan menurun dan itu membutuhkan keseimbangan.
“Nah ini pos 4.” Kata Feby yang saat itu berada dibarisan depan
“Itu banyak tenda camp dibawah.” Kataku berseru sambil menunjuk ke arah perkemahan.
“Iya tapi kita lewat mana nih? Kanan atau kiri?” Kami ragu dan tak ada rombongan pendaki dibelakang kami.
“Udah kanan aja.” Kata Irwan memberi saran
“Tapi ini terjal loh.”
“Udah gapapa, pelan-pelan. Ini kita ngejar waktu udah malam banget ini.” Kata Irwan lagi
            Feby dan Ervan berjalan mendahului karena bertugas mencari tempat dan memasang tenda. Aku berjalan sendiri menyusuri jalan menurun yang begitu sangat terjal. Nova dan Irwan dibelakang, Irwan membimbing Nova turun. Aku mau menangis rasanya saat itu, hatiku sesak, kesal. Mungkin efek dari lelah, kakiku sudah tak kuat menopang badanku padahal saat itu sangat dibutuhkan keseimbangan. Feby dan Ervan sudah jauh dibawahku, sedangkan Nova dan Irwan masih jauh diatasku. Aku berkali teriak memanggil nama Feby namun ia hanya menoleh dan berkata “Ayo lu bisa!” . Aku hampir mengeluarkan air mata saat itu, aku lelah, aku tak kuat lagi berjalan. Aku ingin menyerah saja disitu namun mereka terus memberiku semangat dan akhirnya aku sampai di bawah dengan selamat. Kami segera mencari lahan untuk mendirikan tenda. Aku dan Nova tak mencari aku langsung duduk menghadap danau Ranu Kumbolo yang malam itu tak begitu terlihat indah namun aku bisa merasakan suara air yang disebabkan oleh angin malam yang berhembus. Aku lirik jam tanganku tepat pukul 22.00 kami sampai di Ranu Kumbolo. Nova menghampiri dan langsung duduk disebelahku.
“Tiduran yuk, Mus.” Panggilnya dengan panggilan akrabku ‘Mus’
“Ayo.” Kami tak peduli alas apa yang kami tiduri saat itu, kami hanya butuh istirahat dan sedikit rebahan.
“Kita sampe juga Mus.” Ucapnya
“Iya. Subhanallah ya langitnya.”
“Iya bagus banget. Sumpah!”
            Ratusan bahkan jutaan bintang malam itu menyambut kedatangan kami di Ranu Kumbolo. Aku merasakan merinding luar biasa saat itu, bukan karena dingin atau apa. Namun aku takjub melihat pemandangan langit malam itu. Jutaan bintang bertebaran dilangit yang pekat, begitu terang. Aku merasakan dekat sekali dengan langit sepertinya bintang itu bisa aku raih dengan jemari tanganku ini. Berkali aku ucap syukur dan memuji Sang Maha Kuasa atas segala ciptaanNya yang begitu sangat luar biasa.
“Kita sampe juga. Alhamdulillah.” Kataku yang saat itu masih tiduran diatas pasir dan rumput kering sambil berpegangan tangan dengan Nova dan menatap langit.
“Iya, Gue gak nyangka kita bisa sampe sini. Lo pengen nangis gak?”
“Gue udah nangis nih, gue takjub banget sama semuanya. Sama perjuangan kita dan terutama sama ini pemandangan yang kita liat sekarang.” Jujur aku menangis saat itu, air mataku deras mengalir.
“Kemarin banyak yang ngeremehin gue. Kalo gue gak kuat naik gunung. Tapi sekarang gue bisa tunjukin ke mereka kalo gue bisa. Gue sampe Ranu Kumbolo.”
“Iya bener banget. Banyak yang bilang gue gak kuat karena gue ashma, gue diremehin banget. Tapi sekarang gue disini, di danau tertinggi di pulau Jawa.” Kataku terisak. Aku memang punya riwayat penyakit ashma, bahkan pada saat pemeriksaan sebelum berangkat mendaki-pun aku sempat diragukan oleh dokter yang memeriksaku. Namun kali ini aku bisa membuktikan pada mereka semua yang sempat meremehkanku sebelum aku berangkat.
“Ini indah banget, sumpah demi apapun.”
“Ini pengalaman luar biasa yang bisa kita ceritain ke suami, anak dan cucu kita nanti.”
“Iya bener banget lo. Gue mau ceritain ini ke semuanya. Ke anak-anak gue, ke cucu-cucu gue. Semuanya.”
Air mata terus mengalir tak henti pula terus berucap syukur kepada Sang Pencipta alam semesta ini
“Nov, bintang jatuh!” Kataku berseru sambil menunjuk ke arah bintang jatuh.
“Iya, gue liat. Make a wish!” Dengan segera kami make a wish. Tak begitu percaya dengan mitos yang satu itu ‘ketika bintang jatuh ucapkanlah permohonanmu. Niscaya akan terkabul’ . Entah darimana mitos itu berasal tapi kami masih saja melakukan. Berharap dikabulkan seperti bunyi mitos itu. Aku dan Nova masih terbaring diatas rumput kering tak peduli angin malam yang semakin kencang berhembus. Bercerita banyak dan meluapkan kebahagiaan yang kami rasakan saat itu.
“Hoy, cewek-cewek. Bisa bantu kita masak air hangat?” Kata Feby. Aku dan Nova segera beranjak dan menoleh, ternyata tenda sudah berdiri. Barang-barang masih berserakan diluar. Ervan bertugas merapikan dalam tenda. Aku dan Nova memasak air untuk kami minum. Sementara Irwan dan Feby membereskan perlengkapan yang diluar. Angin malam semakin terasa kencang dan dingin.
“Gue dingin gak kuat!” Kataku
“Udah buruan deketin aja tangannya ke kompor biar anget.” Kata Irwan
Aku dan Nova mendekatkan telapak tangan ke pinggir-pinggir kompor mini yang kami bawa saat itu. Sungguh itu tidak ada efek yang berarti. Aku masih saja kedinginan.
“Tendanya udah rapi belum. Mau masuk please, gak kuat lagi.” Kata Nova dan aku menyetujuinya dengan anggukan.
“Udah. Yaudah cewek-cewek dulu yang masuk ganti pakaian kalian semua. Pake jaket atau apapun yang bisa menghangatkan tubuh kalian.” Irwan kembali memberi instruksi. Irwan memang paling dewasa diantara kami dan dia juga sedikit banyak memiliki pengalaman naik gunung meskipun semeru belum ia jamahi tapi ia sudah tahu caranya naik gunung, jadilah ia sebagai pemimpin dari perjalanan kami. Aku dan Nova segera masuk ke dalam tenda mengganti pakaian kami yang basah karena keringat setelah ± 8jam berjalan kaki. Perlu diketahui mendaki sampai Ranu Kumbolo jika dilakukan oleh mereka-mereka yang telah terbiasa mendaki hanya menghabiskan waktu 5-6 jam. Tak apa kami sedikit lambat karena ini pengalaman pertama kami. Jaket berlapis kami kenakan tak lupa kaos kaki dan sarung tangan tebal. Setelah selesai aku dan Nova kembali keluar bergantian dengan laki-laki yang berganti baju. Kembali aku dan Nova memasak air untuk kebutuhan minum kami. Setelah mereka selesai berganti pakaian hangat bersamaan dengan air yang sudah mendidih yang segera dimasukan ke dalam termos kecil yang kami bawa. Kami berlima segera masuk ke tenda, duduk melingkar dan mulai kami membuka makanan yang kami beli di Ranu Pani sore tadi. Nasi dan sayur kari yang sudah dingin itu tidak lagi menarik di mataku dan di mata mereka.
“Ya ampun nasinya.” Salah satu dari kami mengeluh melihat kondisi nasi yang sudah lembek dan dingin ketika dibuka bungkusnya. Sungguh aku pun mengeluh di dalam hati melihat nasi yang sudah seperti itu.
“Udah dimakan aja biar gak masuk angin. Nikmatin.” Kata Irwan
“Iya dimakan aja. Lagi pula kita kan belum makan nasi. Terakhir makan nasi pagi di warung pelangi di Tumpang.” Aku kembali mengingatkan. Jika harus memilih mungkin aku tidak memilih makan tapi apa daya perut sudah memanggil minta diisi nasi. Orang Indonesia wajar harus bertemu nasi dulu baru dianggap sebagai makan.
“Iya belum basi ini ayo kita makan!” Nova berseru
            Malam itu kita duduk melingkar menikmati makanan yang sudah dingin bersama teh hangat. Udara dingin semakin malam semakin menusuk, angin semakin kencang seakan menggoyangkan tenda kami. Suara riuh jangkring dan serangga tonggeret bersahutan dan suara deru air danau terdengar jelas. Langkah kaki dan suara-suara manusia terdengar semakin dekat, ya mereka para pendaki yang baru sampai dan mendirikan tenda di sebelah tenda kami.
“Mungkin itu para pendaki lain baru sampai.” Kata Feby dan sedikit melihat keluar tenda
            Setelah merapikan makanan dan minuman kami mengatur kembali tata letak tas dan peralatan lainnya agar tenda kami nyaman untuk ditiduri. Membersihkan alas dan mengeluarkan sleeping bag. Kami hanya membawa 2 sleeping bag maka itu kami harus saling berbagi. Malam kian semakin larut kami sudah membagi posisi tidur masing-masing. Irwan, aku, Ervan, Nova dan Feby. Begitulah urutan kami tidur di malam pertama di Ranu Kumbolo. Lampu tenda sudah dimatikan dan saatnya memejamkan mata. Di dalam tenda kami sudah gelap namun suara ramai di luar masih terdengar jelas. Diantara kami tidak ada yang langsung tidur pulas kecuali Ervan. Meskipun sudah berada di posisi tidur masing-masing tapi kami masih sibuk ngobrol berempat hingga rasa lelah dan kantuk menggerogoti mata kami dan kami tidur malam itu ditemani udara dingin.