Catatan Domba Betina: Maret 2014

Jumat, 28 Maret 2014

Cinta Bisa Kadaluarsa


Ini yang gue gak suka dari hubungan pacaran atau relationship yaitu PERTENGKARAN.
Entah kenapa gue tidak suka bertengkar, gue tidak suka berdebat hingga urat naik dan akhir dari bertengkar adalah menangis. Gue benci, gue gak suka itu. Gue sudah terlalu banyak melihat orang bertengkar. Dari nyokap gue bertengkar dengan bokap, teman gue sendiri bertengkar dengan pacarnya atau bahkan gue melihat orang yang gak gue kenal bertengkar dengan pacarnya di jalan. Kebanyakan orang mengatakan bahwa pertengkaran wajar adanya dalam setiap hubungan. Mungkin gue bisa mengamini pernyataan tadi tapi tetap saja gue tidak suka betengkar.

Gue paling tidak bisa dibentak sedikitpun. Gue sensitif? Iya, gue terlalu perasa untuk hal-hal itu. Gue ingin pasangan gue bisa mengerti gue, gue egois memang tapi setidaknya dia bisa tau cara memberitahu yang baik sesuai keinginan gue tanpa harus membuat air mata gue keluar.
Gue tidak menganggap diri gue benar, menganggap diri gue tidak melakukan kesalahan apapun. Gue manusia biasa, gue bukan dewa, gue kerap kali membuat kesalahan yang kecil atau yang besar. Mungkin adanya pertengkaran karena kedua belah pihak melihat masalah tersebut dari sisi yang berbeda jadilah kesalahpahaman yang tidak berujung. Menurut gue benar tapi menurut dia salah, begitu juga sebaliknya.
Bulan pertama pacaran semua manis tapi masuk bulan selanjutnya manisnya ilang jadi asem.
Mungkin benar yang dikatakan Raditya Dika bahwa cinta bisa kadaluarsa. Awalnya kita menganggap dia beda dari yang lain. Dia bisa membuat hari-hari gue manis penuh cinta tapi setelah dijalani akhirnya bertengkar juga dan PUTUS. Itulah yang dimaksud dengan cinta bisa kadaluarsa. Entah dapat ilham darimana Raditya Dika bisa mengemukakan teori seperti itu dan menurut gue bener sih. Gue capek kayak gini terus. Apa gue yang salah cara mencintainya atau gue belum siap berkomitemn? Mungkin gue belum cukup dewasa dan gue egois. IYA.

Terima kasih.

Senin, 10 Maret 2014

entah seberapa rumit kenangan bisa kau buat sebelum aku lupa bagaimana caranya mengingat.
aku tak bisa lagi melafalkan luka semenjak kau hapus seluruh langkah di dadaku yang telah sedemikian dalam terpahat.
tak ada yang begitu rahasia dan membingungkan dari tiap rasa kecewa sebab kita sudah bersepakat akan membunuh harapan masing-masing. dari yang terkecil. dari yang paling samar.
entah seberapa sederhana perpisahan bisa aku jelaskan setelah kau ingat bagaimana caranya melupakan.
kau begitu fasih mengeja setiap kesalahan semenjak kita bertemu untuk mempelajari apa saja yang pernah kutulis di hatimu.
selalu ada yang tersembunyi dan terlewat dari tiap perbincangan sebab kita tak pernah berjanji untuk memahami masa lalu dan sejarah pilu masing-masing. dari yang pernah terucap. dari yang masih tersimpan.
mari bertaruh luka di meja ini dan lihat siapa yang menang.
sebab bayangan masa depan terlalu buram sementara masa lalu di matamu begitu terang.
tak ada peluk yang cukup hangat untuk meredakan amarahku dan tak ada cium yang begitu erat untuk mengikatmu.
sementara masih terlampau jauh untuk sebuah genggam.
sementara masih terlampau jauh untuk sebuah cinta.
sementara masih terlampau jauh untuk sebuah rindu.
sementara sudah terlampau luka untuk menyebut kita.

Kamis, 06 Maret 2014

di tempat biasa kita bertemu, ada yang tertinggal dari setiap sesap minuman hangat, seperti ampas kopi yang pahit dan pekat, seperti bayangan luka yang begitu dekat

di tempat biasa kita bertemu, samar suaramu masih terdengar, seperti ingatan yang perlahan pudar, seperti kenangan yang menyembunyikan memar

di tempat biasa kita bertemu, ada yang tersisa dari setiap sayup suara, ada yang terlupa untuk dibawa, ada yang luput dari perhatian kita

di tempat biasa kita bertemu, ada yang belum terangkum dalam kalimatku, samar suaraku tak sampai lagi kepadamu
ada kerut kenangan terukir di dasar cangkir mengundang bibirmu yang memang bersikeras mencium ampas, sementara masa lalu tak patut lagi kita gali dan percakapan perlahan menjadi mahal.
di depanmu aku menyusun kemungkinan tapi kau membuang semua kepastian.
tak ada jarak terjauh antara dua luka kecuali perasaan tak ingin mempertahankan.
dalam hening ruang dengan dua cangkir minuman di depan kita sunyi telah mengubah diri menjadi lebam di masing-masing dada.
di depanku kau menyusun kebohongan dan aku terlalu lihai untuk tak percaya.
ada aroma kenangan di permukaan cangkir yang belum kau minum tapi wajahmu telah menolak mengingat apapun.
sebab yang sudah tak perlu kembali.
sebab yang luka tak perlu lagi.
sebab dirimu tak ingin pergi.
di permukaan mataku kau menuliskan luka, lalu memaksa bibirku yang sedang kau lumat dengan ucapan perpisahan membacanya kata demi kata.
kita begitu fasih menghancurkan pilihan dan tak pernah tahu bagaimana cara mengembalikan.
sementara airmata sibuk mencari jalan pulang, takdir melingkar tenang di jarimu serupa kegagalan yang memaksa untuk diingat.
aku tak mampu menulis di tanganmu sebab sebuah genggam tak cukup menahan puluhan rencana kepergian. kita begitu hapal cara saling menemukan tapi tak pernah paham bagaimana cara bertahan.
di dadamu ada tulisan yang tak pernah selesai. tentang rindu yang lumpuh di tengah jalan dan cinta yang mekar di tempat lain.
jauh dari yang tak akan kembali. jauh dari yang tak pernah terjadi.
tak ada yang berubah meski kenangan sudah berhasil kau kemas dan luka tak lagi membuatmu cemas. Sebab kepergian selalu terasa nyata dan kesepian selalu mencari teman.
Di depan cermin ada sejarah yang mengulang-ulang dirinya, memanggilmu dari kejauhan.
aku bersembunyi di sudut lain membiarkanmu menatap wajah yang selama ini bertarung dengan ragu: benarkah sejauh ini pernah ada kita di situ?

tak ada yang terganti meski ingatan tergulung rapi dan kau sudah menyediakan ruang yang lain lagi.
sebab raung yang kau peram selalu memantulkan diri setiap kali kau mulai meraba pipi: di depan cermin kau membayangkan tanganku mengusap lagi wajahmu, menyentuh kembali kenangan itu.
ada yang mengalir di pipimu tapi bukan airmata. seperti ingatan yang mencair dan mencari rumah. rindu yang pergi dan pulang ingin sekali rebah.

tak ada rumah yang kau ingat di balik cermin itu. sebab tak pernah ada kau dan aku.
bukan basah hujan begitu menakutkan, kekasih
tapi dingin kenangan betapa jauh sudah ia angkut

bukan basah hujan begitu meresahkan, kekasih
tapi rintik luka betapa ramai kini ia demikian deras

bukan basah hujan begitu memilukan, kekasih
tapi ingatan telah mengendap dan terbuka dalam setiap
tempias