Jumat sore saya mendapat chat dari seorang teman yang mengajak saya untuk melihat Festival Seba Baduy di alun-alun kota Serang pada hari Sabtu, 21 April 2018. Tanpa banyak berfikir saya pun mengiyakan ajakan teman saya tersebut karena ini adalah salah satu kesempatan luar biasa untuk mengetahui tentang budaya dari suku baduy.
Setelah saling berkomunikasi tentang di mana dan pukul berapa kami bertemu akhirnya kami memutuskan untuk bertemu di Stasiun Tigaraksa. Teman saya ini bernama Rahmat dan kebetulan dia tinggal di Balaraja, jadilah kami memutuskan untuk bertemu di Stasiun Tigaraksa.
Sabtu, 21 April 2018
Pagi-pagi sekali saya sudah bersiap untuk berangkat ke Stasiun Jurangmangu untuk mengejar kereta jurusan Stasiun Rangkasbitung jam 06.00 pagi. Saya meminta izin untuk pergi Serang pagi itu dan minta tolong untuk diantar ke Stasiun pagi itu. Seperti biasa yang rela mengantar saya ke Stasiun pagi-pagi adalah Mama. Namun dalam perjalanan menuju Stasiun Jurangmangu Mama berubah pikiran, Mama minta ikut ke Serang pagi itu. Saya tak sanggup menolak maka saya iyakan permintaan Mama, tak lupa saya mengabari Rahmat bertanya apakah tidak keberatan jika Mama saya ikut ke Serang dan teman saya itu pun tak masalah dengan itu.
Saya dan Mama membeli tiket PP St.Jurangmangu - St. Rangkasbitung, menunggu di peron 2 untuk kedatangan KRL Rangkasbitung. Suasana stasiun pagi itu sudah cukup ramai.
| Stasiun Jurangmangu pada pagi hari |
Saat KRL sudah mendekati Stasiun Tigaraksa saya mengabari Rahmat agar naik segera ke KRL yang akan tiba tak lupa saya memberi tahu di gerbong berapa saya dan Mama berada. Setelah melalui drama main cari-carian akhirnya kami bertemu. Perjalanan kali ini saya, Mama, Rahmat dan satu temannya, Erry namanya.
Pukul 09.00 kami tiba di Stasiun Rangkasbitung, untuk menuju Serang kami harus berganti ke kereta api ekonomi KA. Merak dengan tiket Rp 3.000,-/orang kami kemudian menuju St. Serang. Mama mengaku bahwa ini adalah perjalanan pertama menaiki kereta api.
Sebelum adzan dhuzur berkumandang kami sudah tiba di Stasiun Serang dengan bermodal bertanya dengan penduduk setempat kami akhirnya naik angkutan umum menuju pendopo dengan ongkos Rp 4.000,-/orang. Di pendopo ratusan masyarakat dari suku baduy sudah berkumpul dan baru saya tahu ternyata acaranya belum dimulai.
Sebelum adzan dhuzur berkumandang kami sudah tiba di Stasiun Serang dengan bermodal bertanya dengan penduduk setempat kami akhirnya naik angkutan umum menuju pendopo dengan ongkos Rp 4.000,-/orang. Di pendopo ratusan masyarakat dari suku baduy sudah berkumpul dan baru saya tahu ternyata acaranya belum dimulai.
Mungkin belum banyak yang mengetahui apa itu Seba Baduy.
Ternyata acara baru dimulai setelah dzuhur, maka itu kami berjalan berkeliling di Alun-Alun Serang. Serang hari itu panas sekali atau mungkin lokasi dekat dengan pantai, entah.
Di halaman Alun-Alun Serang banyak yang sedang melakukan gladi bersih untuk acara nanti, selain itu berdiri stand-stand makanan & minuman, stand kerajinan khas suku baduy dan pameran foto tentang keindahan Banten. Sudah pukul 1 siang namun acara belum tampak dimulai, kami memutuskan untuk makan siang di warung pinggir jalan.
Setelah makan siang kami kembali lagi ke Alun-Alun dan nampaknya acara pawai pun akan segera dimulai. Pawai ini terdiri dari marching band, tari-tarian khas Banten, pakaian yang mencerminkan kekayaan Banten dan juga sekaligus menyambut kedatangan puluhan ribu masyarakat Baduy yang akan tiba di Serang.
Namun sangat disayangkan acara molor hingga dua jam lebih lamanya. Saya melihat para peserta pawai sudah kelelahan menunggu dan bersiap, masyarakat Baduy pun sudah banyak berdatangan, hanya karena pejabat terkait belum datang maka acara pawai belum dimulai.
Saya agak kesal saat itu karena saya pribadi pun mengejar waktu untuk pulang, tadinya kami sudah ingin menyerah dan pulang saja tapi kami masih bersabar kalau 30 menit kemudian acara pawai belum dimulai juga kami memutuskan untuk pulang.
Dan ternyata Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kami untuk melihat pawai tersebut, tak berapa lama acara pun akhirnya dimulai. Saya bersiap dengan kamera dan berdiri dipinggir jalan.
Pawai diawali oleh kumpulan motor-motor antik kemudian disusul oleh para penari dan pawai kostum, yang terakhir dan bikin merinding adalah masyarakat baduy yang begitu banyak berdatangan, berjalan tanpa alas kaki. Mereka semua berjalan menuju Alun-Alun Serang.
Setelah acara pawai selesai kami memutuskan untuk pulang. Kereta Api KA Merak dijadwakan tiba di Stasiun Serang pukul 4 sore dan KRL Rangkasbitung - Jurangmangu dijadwalkan pukul 6.30 malam.
Walau tidak bisa menyaksikan acara puncak Seba Baduy tapi hati ini merasa bahagia sudah punya kesempatan untuk melihat pawai seba baduy secara langsung. Indonesia begitu kaya akan budaya :)
"Saling berbagi adala wujud rasa syukur terbaik."
| Marching Band |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar