Seperti yang kamu katakan di grup bahwa aku melakukan persiapan untuk mendaki gunung itu benar karena akhir bulan April 2017 kembali komunitas pecinta alam mengadakan open trip pendakian gunung Gede untuk merayakan anniversary ke-empat komunitas pecinta alam tersebut. Tentu saja kita sudah mendaftarkan diri untuk ikut open trip kali ini dan merupakan pendakian kedua kita.
28 April 2017 hari itu adalah hari Jum'at, semua persiapan mendaki sudah aku siapkan dari minggu lalu karena aku tidak punya waktu menyiapkan di hari biasa karena bentrok dengan pekerjaanku. Aku terburu-buru mengejar waktu selepas pulang kerja aku langsung bersiap. Double check dengan mengingat-ingat apa saja yang sudah dan apa saja yang takut tertinggal. Setelah semua dirasa sudah tidak ada yang tertinggal aku pamit meminta izin dan do'a Mama. Aku kemudian berangkat naik ojek ke basecamp pecinta alam. Sesampainya di sana peserta lain sudah berkumpul, mungkin saat itu aku yang paling akhir datang. Kamu pun sudah ada di sana.
"Ah, Ayra lama nih. Tinggal juga nih." Kata salah seorang panitia peserta
"Duuh, maaf yaa baru pulang kerja. Ini juga keburu-buru belum makan." keluhku.
"Yah yaudah makan dulu, mobilnya belum dateng kok." aku bernafas lega. Sebelum pergi ke warung pecel lele di depan gang, aku berkenalan dengan peserta lain karena memang kali ini banyak sekali peserta yang belum aku kenal sebelumnya.
Mobil travel tiba sekitar pukul 21.00 malam, seluruh peserta pendakian memasuki mobil. Aku duduk di kursi kedua dari belakang, kamu duduk tepat di belakangku. Aku duduk dengan teman perempuanku, hanya aku dan dia yang menjadi peserta perempuan di pendakian kali ini.
"Hey, gue duduk sini ya?" Pinta salah satu peserta lain yang melihat kursi di sebelahku kosong
"Iya, silakan." dan kemudian kami bercakap bertanya pertanyaan mendasar 'rumah di mana?','kuliah di mana?'. Aku mudah akrab dengan orang lain, hingga tak terasa aku asyik ngobrol kemudian kamu menggangu dengan mecolek-colek kepalaku.
"Apa siiih?" aku menoleh
"Minuuum." katamu
"Niiih." aku memberikan botol berisi air putih. Dan kemudian aku, teman perempuanku dan kamu mengobrol. Lampu mobil dimatikan, mobil terus melaju menuju Puncak Bogor. Aku sudah lelah bercerita.
"Ka, aku tidur ya." kataku kepada teman perempuanku
"Iya tidur aja silakan." kemudian aku mengenakan headset dan mencoba memejamkan mata, tapi aku tahu saat kamu menyentuh pipiku dari sela-sela kursi. Kamu menyentuh pipiku dan bergumam "Yah beneran tidur yaa.", saat itu aku merasakan sentuhan tanganmu dan mendengar ucapanmu.
Saat sudah sebentar lagi sampai Puncak Bogor aku terbangun karena kaget ponselku jatuh ke kolong kursi, aku mencoba mengambilnya dan membangunkan teman di samping kanan kiri ku.
"Kenapa Ra?"
"Handphone jatuh ka ke bawah. Maaf yaa." Aku mencari namun tidak ada.
"Cari apa?" tanya kamu sambil menyembulkan kepalamu dari kursi belakang
"handphone."
"gak ada handpone."
"masa gak ada? jelas-jelas jatuh tadi aku denger, nih copot headset-nya."
"cari yang bener." katamu sambil senyum-senyum dan aku mulai curiga
"kamu pasti kan yang ngumpetin."
"ngumpetin gimana sih? aku daritadi tidur."
"bohong, ayo mana hp aku." kataku sambil berdiri dari kursiku menghadap kursimu
"gak ada tuh, gak ada. cari aja nih di tas aku." aku merebut tas pinggangmu dan mencarinya dan tidak ada.
"cari dulu yang bener. Lihat kanan-kiri" katamu dan aku melihat ponsel ku ada di selipan atas kursi
"Nah ini dia, Ih, masa jatuhnya di bawah tiba-tiba ada di atas. Gak masuk akal. Pasti kamu." Aku menyerangmu dengan cubitan kecil di perut dan lenganmu, malam itu aku membuat keributan di kursi mobil belakang.
Hampir tengah malam kami semua tiba di basecamp pendakian, udara dingin menusuk tulangku.
"Semua tidur ya. Benar-benar tidur karena besok pagi kita semua harus mendaki, kita butuh tenaga ekstra untuk besok."
Di ruangan yang cukup luas beralas karpet hijau aku merebahkan diri setelah makan. Untuk kali pertama kamu tidur tepat di sebelahku. Aku mengenakan jaket serta kaos kaki lengkap dengan sarung tangan karena udara dini hari itu sangat dingin dan tidur hanya beralaskan karpet tipis. Beberapa kali kaki kita beradu, beberapa kali kakiku menindih kakimu. toe to toe
"Kamu dingin ya?"
"Iya."
"Nih, jaketnya pake aja." katamu menyerahkan jaketmu
"kamu gak pake?"
"Gak usah." Akhirnya aku tertidur dan ternyata ada yang menyelimutiku lagi entah siapa yang jelas aku merasakan saat kain menutupi sebagian tubuhku.
***
Adzan subuh berkumandang, aku melaksanakan dua rakaat. Aku melepaskan jaket dan kembali mengembalikannya padamu, kamu masih tertidur. Aku menatap dirimu yang sedang tertidur pulas di sebelahku. Aku sudah segar karena sudah cuci muka dan gosok gigi.
"Hey, bangun sholat subuh dulu." kataku sambil mengguncang pelan tubuhmu
"Hmmmm." kamu menjawab sambil mengubah posisi tidurmu, kemudian memunggungiku
"Yee, susah banget disuruh sholatnya." Aku masih duduk di sebelahmu merapikan tasku
Setelah 10 menit kamu kembali mengubah posisi tidurmu kembali menghadapku.
"Jam berapa?" tanyamu
"6." jawabku singkat
"aku belum sholat."
"daritadi dibangunin 'hmmm','hmmm' doang." kemudian kamu beranjak dan melaksanakan sholat di waktu yang sudah agak telat.
***
Pendakian di mulai pukul 6.30 pagi, setelah sarapan pagi di warung nasi basecamp pendakian kami semua mulai melangkah menyusuri hutan. Pendakian kedua kita dimulai sekarang. Kamu membawa kamera mirrorlens yang mudah untuk dibawa. Pendakian awal tentu saja kita terpisah, aku di depan, kamu tertinggal di belakang hanya pada saat-saat break saja kita bertemu.
"Sakit nih." keluhmu saat kita sedang beristirahat sejenak
"Apanya yang sakit?" Tanyaku
"Kaki aku."
"kenapa emang?"
"kemarin malam kan aku main futsal trus ya gitu."
"seperti yang udah-udah?"
"iya. baru berasa sekarang." Seperti yang sudah aku ketahui sebelum-sebelumnya kamu memang senang berolah raga, futsal salah satunya dan cidera saat futsal kerap kali kamu alami. Sebelum melakukan pendakian kamu memang bilang sedang futsal namun aku tidak tahu kalau kamu cidera.
"Itu bahu kamu kenapa?" aku melihat perban di bahu kananmu.
"Gapapa ini mah. luka kecil doang."
"hmmm." kemudian kita kembali meneruskan perjalanan. Saat itu kita sudah mulai kembali berjalan beriringan, seperti layaknya sebuah perjalanan nampaknya tidak lengkap jika tidak berfoto bersama. Kita mengambil foto bersama dan kali kedua kamu merangkul pundakku. Beberapa kali mengambil foto selfi berdua.
Berjalan beriiringan berdua, bahkan kita tidak tahu rombongan kita ada di mana, di jalur pendakian hanya ada aku dan kamu, hanya kita. Aku berjalan pelan-pelan mengimbangi kakimu yang sakit. Aku tahu kakimu pasti sangat nyeri saat itu, tapi kamu menahannya.
***
Saat mendaki kita hanya berdua, entah rombongan yang lain di mana. Aku dan kamu beberapa kali ambil waktu untuk beristirahat sejenak. Kamu melihat cincin di jariku.
"Dari siapa itu cincin?" tanyamu agak ketus
"Beli sendiri ini."
"Kirain tunangan."
"Hahahaha."
"Aku baru ada uang 30 juta tapi sama temenku belum dibalikin, kalau udah dibalikin udah cukup untuk ngelamar kamu mah." Aku diam mendengar pernyataanmu dan aku yakin tidak salah mendengar karena suasana hutan siang itu tidak ramai.
"Aamiin. Biar cincinnya pindah nih ke jari manis." kataku sambil menunjukan jari manisku
"Kok jari manis?"
"Kan orang lamaran cincinnya di jari manis."
"Gak mau aku mah, aku maunya di jempol. Jadi pas nanti kita foto jempolnya yang bentuk 'oke' gitu."
"Hahahaha. kamu ada-ada aja." aku tertawa mendengar alasanmu
"Yaudah ayuk lanjut lagi nanti keburu sore." ajakmu sembari meraih tanganku untuk melanjutkan pendakian.
Aku sepanjang jalan dengan sabar menuntunmu berjalan karena kerap kali kamu mengeluh sakit, setiap pijakan yang agak tinggi aku berusaha untuk menopang tubuhmu.
"Aku pingin pipis." katamu
"Hah? Pipis?" kataku kaget,karena aku hanya berdua dengan kamu tidak mungkin sekali aku mengantarmu mencari semak untuk pipis
"iya. Di atas sana kali ya?" katamu sambil menunjuk pepohonan.
"Nah iya coba kamu naik ke atas sana, aku tunggu sini ya. Hati-hati, numpang-numpang." dengan langkah yang tertatih kamu naik menuju pepohonan yang agak rindang yang jarang dilalui oleh pendaki. Ini adalah momen pertamaku menunggui laki-laki pipis dan di hutan. Aneh sekali rasanya.
"Sudah selesai?" tanyaku setelah melihatmu kembali turun menujuku, kamu mengangguk sembari hati-hati menuruni akar-akar pohon. Aku mengulurkan tanganku karena terlalu tinggi untukmu turun dan hampir saja aku dan kamu jatuh berdua kalau saja aku tidak seimbang dan memelukmu.
Kabut turun dan gerimis mengikuti, kamu bersigap untuk menyuruhku memakai jas hujan, kamu pun memakainya juga. Kita sudah siap dengan jas hujan yang telah dikenakan baru beberapa langkah seorang panitia memanggil kita berdua.
"Ayra, Sakha." kita berdua menoleh berbarengan
"Hey, Bang Tirta."
"Yang lain mana?"
"Gatau bang, daritadi kita berdua doang belum lihat yang lain." jawabku
"Ini udah jam makan siang, lu berdua harus makan dan ini dua bungkus nasi buat kalian."
"Makasih bang." kataku sambil menerima nasi bungkus dari Bang Tirta
"Mau makan sekarang?" tanyamu
"Nanti aja ya, jalan dulu aja.. Kita daritadi berhenti terus." jawabku
"Bang, kita lanjut jalan lagi ya." pamitmu kepada Bang Tirta
"Iya, jalannya agak cepet ya udah mau ujan nih soalnya. Gue nungguin yang lain dulu masih banyak yang di bawah."
"Oke deh, kita duluan ya Bang." kita pun pamit dan melanjutkan pendakian.
***
Tenaga mulai habis dan perlu diisi oleh nasi. Aku dan kamu akhirnya memutuskan untuk membuka nasi bungkus dari Bang Tirta. Dipinggir jalur pendakian aku dan kamu makan siang, pendaki lalu lalang melihat kita, sesekali menyapa dan berbasa-basi menawari makan.
Membuka nasi bungkus, memakannya di bawah gerimis di jalur pendakian bersama kamu. Setelah selesai makan, sampah nasi bungkus kami simpan kembali di tas dan kembali mendaki yang tinggal sedikit lagi sampai di tempat camp.
Tempat camp sudah semakin dekat, kita sudah memasuki lahan luas penuh dengan bunga abadi, edelweis. Ah, senang sekali rasanya melihat lahan luas membentang dengan udara sejuk. Kamu mengambil gambar dengan kameramu, aku sibuk dengan kamera ponselku. Kamu mengajak selfie kembali, mengambil banyak gambar berdua. Ternyata di sana rombongan kami sebagian sudah sampai. Ada yang beristirahat, ada yang lanjut menuju tenda, ada yang sibuk mengabadikan pemandangan. Aku dan kamu sibuk berdua, bergantian minta difoto.
Surya kencana memang luas sekali, dari tempat aku berfoto ke tenda tempat kami semua bermalam cukup jauh. Angin berhembus kencang, keringat di baju sudah basah, aku ingin segera berganti pakaian agar tidak masuk angin. Aku dan kamu memutuskan untuk menuju tenda, lagi dan lagi kita berjalan berdua beriiringan sambil sesekali berfoto.
Saat berjalan itu kamu menatap mataku, dalam dan lama. Aku pun membalas tatapan itu, dalam dan agak lama karena jujur saja aku tidak mampu kalau bertatapan lama denganmu.
Kamu tersenyum setelah menatap dalam mataku, aku menunduk kemudian tersipu.
***
Ada yang berdesir saat kamu menggengam tanganku saat itu.
Ada yang hangat saat kamu menatap dalam mataku
Hatiku.. Hatiku yang merasakan itu semua.
***
Saat mendaki kita hanya berdua, entah rombongan yang lain di mana. Aku dan kamu beberapa kali ambil waktu untuk beristirahat sejenak. Kamu melihat cincin di jariku.
"Dari siapa itu cincin?" tanyamu agak ketus
"Beli sendiri ini."
"Kirain tunangan."
"Hahahaha."
"Aku baru ada uang 30 juta tapi sama temenku belum dibalikin, kalau udah dibalikin udah cukup untuk ngelamar kamu mah." Aku diam mendengar pernyataanmu dan aku yakin tidak salah mendengar karena suasana hutan siang itu tidak ramai.
"Aamiin. Biar cincinnya pindah nih ke jari manis." kataku sambil menunjukan jari manisku
"Kok jari manis?"
"Kan orang lamaran cincinnya di jari manis."
"Gak mau aku mah, aku maunya di jempol. Jadi pas nanti kita foto jempolnya yang bentuk 'oke' gitu."
"Hahahaha. kamu ada-ada aja." aku tertawa mendengar alasanmu
"Yaudah ayuk lanjut lagi nanti keburu sore." ajakmu sembari meraih tanganku untuk melanjutkan pendakian.
Aku sepanjang jalan dengan sabar menuntunmu berjalan karena kerap kali kamu mengeluh sakit, setiap pijakan yang agak tinggi aku berusaha untuk menopang tubuhmu.
"Aku pingin pipis." katamu
"Hah? Pipis?" kataku kaget,karena aku hanya berdua dengan kamu tidak mungkin sekali aku mengantarmu mencari semak untuk pipis
"iya. Di atas sana kali ya?" katamu sambil menunjuk pepohonan.
"Nah iya coba kamu naik ke atas sana, aku tunggu sini ya. Hati-hati, numpang-numpang." dengan langkah yang tertatih kamu naik menuju pepohonan yang agak rindang yang jarang dilalui oleh pendaki. Ini adalah momen pertamaku menunggui laki-laki pipis dan di hutan. Aneh sekali rasanya.
"Sudah selesai?" tanyaku setelah melihatmu kembali turun menujuku, kamu mengangguk sembari hati-hati menuruni akar-akar pohon. Aku mengulurkan tanganku karena terlalu tinggi untukmu turun dan hampir saja aku dan kamu jatuh berdua kalau saja aku tidak seimbang dan memelukmu.
Kabut turun dan gerimis mengikuti, kamu bersigap untuk menyuruhku memakai jas hujan, kamu pun memakainya juga. Kita sudah siap dengan jas hujan yang telah dikenakan baru beberapa langkah seorang panitia memanggil kita berdua.
"Ayra, Sakha." kita berdua menoleh berbarengan
"Hey, Bang Tirta."
"Yang lain mana?"
"Gatau bang, daritadi kita berdua doang belum lihat yang lain." jawabku
"Ini udah jam makan siang, lu berdua harus makan dan ini dua bungkus nasi buat kalian."
"Makasih bang." kataku sambil menerima nasi bungkus dari Bang Tirta
"Mau makan sekarang?" tanyamu
"Nanti aja ya, jalan dulu aja.. Kita daritadi berhenti terus." jawabku
"Bang, kita lanjut jalan lagi ya." pamitmu kepada Bang Tirta
"Iya, jalannya agak cepet ya udah mau ujan nih soalnya. Gue nungguin yang lain dulu masih banyak yang di bawah."
"Oke deh, kita duluan ya Bang." kita pun pamit dan melanjutkan pendakian.
***
Tenaga mulai habis dan perlu diisi oleh nasi. Aku dan kamu akhirnya memutuskan untuk membuka nasi bungkus dari Bang Tirta. Dipinggir jalur pendakian aku dan kamu makan siang, pendaki lalu lalang melihat kita, sesekali menyapa dan berbasa-basi menawari makan.
Membuka nasi bungkus, memakannya di bawah gerimis di jalur pendakian bersama kamu. Setelah selesai makan, sampah nasi bungkus kami simpan kembali di tas dan kembali mendaki yang tinggal sedikit lagi sampai di tempat camp.
Tempat camp sudah semakin dekat, kita sudah memasuki lahan luas penuh dengan bunga abadi, edelweis. Ah, senang sekali rasanya melihat lahan luas membentang dengan udara sejuk. Kamu mengambil gambar dengan kameramu, aku sibuk dengan kamera ponselku. Kamu mengajak selfie kembali, mengambil banyak gambar berdua. Ternyata di sana rombongan kami sebagian sudah sampai. Ada yang beristirahat, ada yang lanjut menuju tenda, ada yang sibuk mengabadikan pemandangan. Aku dan kamu sibuk berdua, bergantian minta difoto.
Surya kencana memang luas sekali, dari tempat aku berfoto ke tenda tempat kami semua bermalam cukup jauh. Angin berhembus kencang, keringat di baju sudah basah, aku ingin segera berganti pakaian agar tidak masuk angin. Aku dan kamu memutuskan untuk menuju tenda, lagi dan lagi kita berjalan berdua beriiringan sambil sesekali berfoto.
Saat berjalan itu kamu menatap mataku, dalam dan lama. Aku pun membalas tatapan itu, dalam dan agak lama karena jujur saja aku tidak mampu kalau bertatapan lama denganmu.
Kamu tersenyum setelah menatap dalam mataku, aku menunduk kemudian tersipu.
***
Ada yang berdesir saat kamu menggengam tanganku saat itu.
Ada yang hangat saat kamu menatap dalam mataku
Hatiku.. Hatiku yang merasakan itu semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar