Hari ini adalah hari minggu tanggal 23 April 2017 tapi aku sepagian ini sudah berada di kereta menuju Universitas Indonesia. Bukan untuk olah raga pagi atau sekedar jalan-jalan melainkan untuk bekerja. Iya, bekerja di hari minggu karena kantorku sedang ada event dengan komunitas pecinta buku di sana, awal ditawari untuk lembur dengan project event seperti itu sungguh aku tidak menolak, dengan senang hati aku lakukan walau di hari Minggu seperti ini.
Hampir seharian aku di sana dan tentu saja aku selalu berkabar dengan kamu. Seperti biasa perbincangan kita selalu ke sana ke mari apa saja tentu dibahas. Sampai akhirnya aku dan kamu membahas kaos, saat itu sudah pukul 15.00 aku sudah berada di kereta menuju rumah. Chat kamu mengejutkanku, kamu bertanya "Sayang gak?", karena kita sedang membahas kaos maka itu aku kira kamu masih membahas kaos tapi kamu membalas lagi
"Sayang gue gak?" Aku diam saat membaca pesanmu itu
"Sayang gue gak?" aku membalas hanya copy paste dari chat kamu
"Kok dibalikin?" kamu membalas lagi
"Pengen nanya aja." Aku kembali bertanya, malah jadi aku yang bertanya.
"Sayanglah." kamu membalas
"Tapi...?" aku membalas kembali memastikan
"Gak ada tapinya." kamu membalas, yang membuat aku diam. Suasana kereta sore itu ramai tapi saat aku membaca pesanmu itu aku seperti berada di ruang kosong kedap suara, hening, hanya ada aku, pikiranku dan gawai-ku.
"Yakin?" aku membalas lagi, aku tak tahu harus membalas apa
"Yakin. Belah aja dada aku." Kamu membalas, aku tertawa.
"Coba sini aku belah. Mau aku pastiin. Hahaha."
"Pusing."
"Kenapa kamu sakit?" aku membalas
"Pusing pokoknya. Nanti aja kalau udah serius, aku bilang."
"Bilang apa? Kapan seriusnya?" sungguh aku tak mengerti maksud kamu, aku pun membalas dengan kalimat sebisaku.
"Bilang kalau pacarannya jangan lama-lama abis itu nikah aja. Kapan ya seriusnya? Nah itu dia."
"Abis kuliah, selesaiin dulu kuliah kamu." balasku.
"Gak juga. Lihat kemauan Bunda dulu. Liat kondisi keluarga juga."
"Emang Bunda maunya gimana?"
"Gak tahu, belum diomongin sama Bunda."
"Berani ngomonginnya?"
"Berani. Emang kenapa?"
"Gapapa."
Untuk kali pertama kita berbicara serius meskipun singkat. Kamu adalah laki-laki yang tidak cukup pandai mengungkapkan sesuatu. Tapi, itu sudah lebih dari cukup bagiku.
I don't know should I happy or doubt
Kamu selalu hadir dalam setiap do'aku
Di setiap sholat wajib atau sholat sunnah atau bahkan ketika aku tidak sedang melakukan apa-apa tapi hatiku berdo'a.
Ada namamu yang aku titipkan kepada pemilik alam semesta, Allah SWT.
"Ya Allah, jika dia memang sesuai dengan ketetapan dan ridho Engkau, ku mohonkan untuk dipertemukan dalam bingkai yang halal, mohon untuk gerakan hatinya, ringankan langkahnya untuk segera menujuku dan mudahkanlah segalanya."
Entah kapan, karena kamu pun belum bisa menjanjikan.
- Dari aku yang selalu berdo'a untuk setiap usaha yang kita jalani.
Hampir seharian aku di sana dan tentu saja aku selalu berkabar dengan kamu. Seperti biasa perbincangan kita selalu ke sana ke mari apa saja tentu dibahas. Sampai akhirnya aku dan kamu membahas kaos, saat itu sudah pukul 15.00 aku sudah berada di kereta menuju rumah. Chat kamu mengejutkanku, kamu bertanya "Sayang gak?", karena kita sedang membahas kaos maka itu aku kira kamu masih membahas kaos tapi kamu membalas lagi
"Sayang gue gak?" Aku diam saat membaca pesanmu itu
"Sayang gue gak?" aku membalas hanya copy paste dari chat kamu
"Kok dibalikin?" kamu membalas lagi
"Pengen nanya aja." Aku kembali bertanya, malah jadi aku yang bertanya.
"Sayanglah." kamu membalas
"Tapi...?" aku membalas kembali memastikan
"Gak ada tapinya." kamu membalas, yang membuat aku diam. Suasana kereta sore itu ramai tapi saat aku membaca pesanmu itu aku seperti berada di ruang kosong kedap suara, hening, hanya ada aku, pikiranku dan gawai-ku.
"Yakin?" aku membalas lagi, aku tak tahu harus membalas apa
"Yakin. Belah aja dada aku." Kamu membalas, aku tertawa.
"Coba sini aku belah. Mau aku pastiin. Hahaha."
"Pusing."
"Kenapa kamu sakit?" aku membalas
"Pusing pokoknya. Nanti aja kalau udah serius, aku bilang."
"Bilang apa? Kapan seriusnya?" sungguh aku tak mengerti maksud kamu, aku pun membalas dengan kalimat sebisaku.
"Bilang kalau pacarannya jangan lama-lama abis itu nikah aja. Kapan ya seriusnya? Nah itu dia."
"Abis kuliah, selesaiin dulu kuliah kamu." balasku.
"Gak juga. Lihat kemauan Bunda dulu. Liat kondisi keluarga juga."
"Emang Bunda maunya gimana?"
"Gak tahu, belum diomongin sama Bunda."
"Berani ngomonginnya?"
"Berani. Emang kenapa?"
"Gapapa."
Untuk kali pertama kita berbicara serius meskipun singkat. Kamu adalah laki-laki yang tidak cukup pandai mengungkapkan sesuatu. Tapi, itu sudah lebih dari cukup bagiku.
I don't know should I happy or doubt
Kamu selalu hadir dalam setiap do'aku
Di setiap sholat wajib atau sholat sunnah atau bahkan ketika aku tidak sedang melakukan apa-apa tapi hatiku berdo'a.
Ada namamu yang aku titipkan kepada pemilik alam semesta, Allah SWT.
"Ya Allah, jika dia memang sesuai dengan ketetapan dan ridho Engkau, ku mohonkan untuk dipertemukan dalam bingkai yang halal, mohon untuk gerakan hatinya, ringankan langkahnya untuk segera menujuku dan mudahkanlah segalanya."
Entah kapan, karena kamu pun belum bisa menjanjikan.
- Dari aku yang selalu berdo'a untuk setiap usaha yang kita jalani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar