Catatan Domba Betina: Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (21)

Kamis, 23 Agustus 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (21)

Ada satu keingina dalam hidup yang ingin sekali aku dapatkan yaitu punya medali hasil lari maraton. Aku sekarang ini lagi gila-gilanya olah raga lari, tak ayal aku pun ingin sekali memiliki medali dari hasil keringat olah ragaku.

Siang itu aku dapati notifikasi dari grup pecinta alam yang ternyata kamu mengirimkan info tentang olah raga marathon 5K yang bertema Happy Run. Aku pun mendaftar sesuai dengan infromasi dari diberikan. Tak lama kamu pun mengirimi aku pesan pribadi yang isinya sama seperti di grup whatsapp iu.
"Aku udah daftar." Balasku
"Sama doong. Aku juga."
"Horeeee, nanti ramean yaa."
"Iyaaa, ini si Yudi juga ikutan."
"Ohya? Bang Yudi ikutan? Yess rame."

Pengambilan racepack dilakukan 3 hari, namun aku memutuskan untuk mengambilnya pada hari Sabtu 6 Mei 2017.
"Nanti ngambil racepack yaa jangan lupa." katamu di whatsapp
"Bertiga kan sama Bang Yudi?"
"Iya berangkat bertiga nanti kita naik busway aja."
"Oke deh sip."

Setelah agak siangan kamu mengirimi pesan lagi
"Si Yudi gak jadi ikut, dia mau nganter istrinya."
"Trus kita berdua doang?"
"Iya. Yudi nitip aja katanya."
Deg! Aku kaget begitu tahu bahwa kita hanya akan pergi berdua.

Siang itu aku dan kamu bersepakat untuk bertemu di pull busway jurusan Kota.
"Gak usah dijemput ya?" katamu
"Iya gak usah, muter-muter kamunya. Langsung ketemu di pull aja."
Aku diantar ojek online, aku mengenakan celana merah dan cardigan abu. Aku tak melihat kamu saat itu, entah sudah datang atau belum kamu. Aku kembali mengirimi chat
"Aku udah sampai. Kamu dimana?"
"Aku udah sampai juga. Di belakang parkir motor."
"Aku tunggu di haltenya yaa."
Dan kamu pun menghampiri. Kamu mengenakan kaos hitam, celana hitam, tas punggung, tak lupa jam tangan hitam yang selalu melekat di lengan kirimu. Rambutmu selalu terlihat rapi.
"Udah daritadi?"
"Gak baru aja." Aku menjawab singkat, jujur saja entah kenapa kamu selalu membuat jantungku memiliki ritme yang lebih cepat dari biasanya.
"Rapi banget sih?" protesmu
"Rapi apa sih? Kayak gini doang dibilang rapi." jawabku penuh pembelaan.

Setelah bertanya pada petugas akhirnya kita masuk ke dalam bus jurusan Kota. Kita duduk bersebelahan dan banyak bercerita saat itu. Dan saat di tengah perjalanan ada seorang wanita baru naik dan berdiri di depan kita, lalu kamu berdiri memberikan tempat dudukmu untuk wanita itu. Aku tersenyum saat melihat sikapmu, aku senang sekali melihat pemandangan seperti itu. Kamu pun sadar bahwa aku tersenyum untukmu, kamu pun membalas senyumanku dan berdiri di depanku, sempat aku tawarkan agar tas-mu aku yang pegang saja agar tidak berat namun kamu menolak. "Tidak apa-apa." katamu.

Setelah wanita itu turun kemudian kamu kembali duduk di sebelahku, seperti biasa kita bertukar cerita tentang apa saja dan bahkan berbagi headset berdua mendengarkan salah satu acara radio favorit kita di setiap hari Sabtu.
Sore itu Jakarta mendung dan hujan rintik-rintik sudah mulai turun.
"Dikit lagi sampe nih. Dua halte lagi" kataku
"Kamu hapal banget."
"Ya gimana yaa, tiap hari lewat sini."
 Kita turun di halte Gelora Bung Karno kemudian setelah itu kita harus mencari tempat pengambilan race packk yang jujur saja kita tidak tahu tempatnya. Akhirnya kita masuk dari pintu 4 di samping FX Sudirman. Setelah masuk lewat pintu 4, saat itu sepi sekali dan tidak banyak lampu yang menyala namun masih ada petugas parkir yang berjaga.
"Tunggu sini dulu, aku tanya sama tukang parkir." kamu pun meyebrang menuju pos jaga parkir. tak sampai dua menit kamu kembali
"Bisa kok lewat sini, tinggal lurus aja tapi agak lumayan jaraknya. Gapapa?"
"Gapapa."
Akhirnya kita menyusuri komplek GBK malam itu.
"Aku pengen pipis." katamu
"Hah? Pipis?" tanyaku agak terkejut.
"Iya, gak tahan nih."
"ah, aku gak tahu toilet di sini di mana."
"Kamu tunggu sini yaa, aku pipis di pohon situ aja."
"Serius?" memang saat itu agak gelap di sebelah kanan jalan dan banyak pepohonan., setelah aku mengiyakan kamu pun pergi. Ah, kenapa sih kamu selalu kebelet pipis saat bersamaku dan ini kedua kalinya aku menungguimu pipis di pohon.

Dan kita pun sampai di tempat pengambilan race pack, setelah agak lama mengantri kita mendapatkan satu buah tas yang berisi kaos dan nomor BIB. Niat hati ingin segera pulang namun hujan turun dengan deras saat itu, kita mengurungkan niat untuk pulang dan memilih menunggu hujan reda. Hanya ada satu bangku kosong di sana yang kemudian kamu menyilakan aku duduk di sana.
"Duduk deh di situ dulu." katamu
"Kamu duduk di mana?" tanyaku
"Gampang." Kemudian aku duduk di kursi merah itu dan kamu duduk di lantai. Kamu mengeluarkan buku bacaan dari dalam tas-mu.
"Lupa, aku lagi baca ini sekarang." kamu menunjukan salah satu buku yang sedang kamu baca.
"Aku lagi baca ini." aku pun membawa buku bacaan di dalam tas-ku dan menunjukannya padamu.
Akhirnya malam itu kita larut dalam buku bacaan masing-masing dengan suara hujan sebagai musik latarnya. Sesekali kamu menunjukan kalimat-kalimat bagus yang kamu baca kepadaku.

Hari sudah semakin malam dan hujan belum berhenti juga.
"Aku bawa payung di tas." kataku
"Mau pulang sekarang?"
"Iya, udah gak terlalu deras kayak tadi."
"Yaudah, mana payungnya? buka aja sekarang, kita terobos aja hujannya."
Aku mengeluarkan payung berwarna pink dari tas-ku
"Haduuh, warnanya pink lagi." katamu
"Kenapa? malu?"
"Gapapa.. hahaha"

Kamu pun memegang payungku dan kita mulai keluar dari tempat racepack menuju halte Gelora Bung Karno. Berjalan berdua denganmu dengan payung di tangan kananmu dan tangan ku melingkar di tangan kirimu, berjalan beriringan menghindari genangan-genangan air sambil berbicara apa saja, bercanda dan bernyanyi.
Kamu berhenti melangkah, aku pun. Di bawah pohon rindang kamu menatapku, lampu jalan menyala seadanya tak begitu terang, orang lalu lalang pun tak ada, kemudian kamu menyingkirkan payung dari atas kepala kita.
"Kenapa?" tanyaku bingung
"Udah gak ujan ya." tanganmu sambil menadah ke langit merasakan air hujan, aku melihat ke langit memastikan apakah benar hujan sudah berhenti. Secepat kilat kamu menendang batang pohon dengan keras sehingga air hujan yang menggantung di rantingnya bergoyang dan jatuh ke kepalaku, kemudian kamu berlari sambil tertawa.
"Ihhhh, reseeeee." teriakku sambil mengejar kamu.
"Hahahaha.."
"Jahat. Basah tauuu."
"Hahahaha.. iseeeeng." aku mencubit perutmu beberapa kali.

Kita melanjutkan perjalanan kembali menuju halte
"Gak ada yang kayak kita nih." katamu
"Kayak kita gimana?"
"Iyaa, jalan ujan-ujan pake payung berdua di malam minggu."
"Hahaha, iya gak ada." jawabku sambil nengok kanan kiri karena memang komplek GBK malam itu tidak ramai orang.
Kamu kembali menghentikan langkah, aku pun.
"Kamu lihat deh gedung-gedung perkantoran itu." katamu sambil menunjuk gedung-gedung tinggi penghias kota Jakarta.
"Iya, kenapa?"
"Dulu kamu pernah bilang pas masih kuliah kalau kamu ingin sekali bekerja di gedung tinggi, kerja di kantoran"
"Hahaha iyaa." aku sambil tersenyum malu karena mengingat salah satu mimpi itu.
"Mimpimu sudah terwujud. Kamu udah berhasil kerja di gedung itu."
"Iya, alhamdulillah." betapa percakapan itu mulai menyentuhku, betapa kita harus percaya akan mimpi kita, apapun itu.
Kita kembali melanjutkan langkah menuju halte.

Malam itu malam minggu dan hujan rintik masih turun di langit Jakarta. Halte GBK masih ramai penumpang yang menunggu bis-nya datang. Kita pun menunggu di antrian. Kamu menyuruhku untuk membaca buku di halte sambil menunggu bus tiba, aku menggeleng tidak mau membaca. Kita berdiri sambil berhadapan dan kamu membetulkan jilbab ku yang berantakan.
"Dada kamu kelihatan." ucapmu sambil menutupi dadaku dengan hijabku. Aku buru-buru membetulkannya sendiri sambil berucap terima kasih.
Wanita selalu terkesan dengan hal kecil dan sederhana seperti itu.

Setelah menunggu agak lama akhirnya bus kita datang. Penuh. Tak ada kursi kosong malam itu, mau tidak mau kita berdiri selama perjalanan.
Kembali aku mengeluarkan ponsel dan mulai menyalakan radio untuk menghilangkan rasa bosan. Berbagi headset berdua denganmu sambil mendengarkan acara radio favorit kita yang memang terus mengudara sepanjang hari Sabtu.
Sang penyiar berkata malam itu "Kalau ada cewek yang suka denger lagu-lagu genre rock atau hardcore gini tuh keren yaa. She's the one pokoknya." dan kamu menatapku yang berdiri di sebelahmu dan berbisik "you're the one, special." . Aku tersenyum karena paham apa maksud ucapanmu karena acara radio yang kita dengarkan adalah acara musik rock dan sejenisnya.
Kemudian penyiar radio tersebut memutar lagu Only One - Yellowcard. Tanpa aku sadari aku menyanyikannya dengan suara pelan dan kamu pun. Ternyata kita hapal lagu itu. Akhirnya kita bernyanyi bersama di tengah macetnya Jakarta, beberapa orang melihat kita yang mendadak duet di TransJakarta. Hahahaha.

Kamu menggantungkan kedua tanganmu di pegangan bus sambil menghadapku, menatapku dalam tanpa berkata apapun. Aku selalu saja kalah kalau harus beradu tatap denganmu.
Bus malam itu semakin ramai penumpang yang naik, memaksa kita untuk terus bergeser ke arah belakang bus, sebelah tanganmu di belakang ku mencoba untuk melindungiku dan tubuhku dengan aman bersandar di dadamu.
Setelah beberapa lama ada satu bangku kosong dan kamu menyuruhku untuk duduk lebih dulu, kamu masih tetap berdiri. Kemudian ada bangku kosong lagi yang agak jauh dariku, aku buru-buru memberi tahumu agar kamu duduk di sana. Kamu pun akhirnya duduk di sana.
Perjalanan semakin dekat sampai di tujuan, bangku di sebelahmu kosong dan kamu menyuruhku untuk pindah di sebelahmu, aku menggeleng tanda tidak mau. Namun, akhirnya aku pindah juga ke sebelahmu.
"Sana, di sana aja. Tadi gak mau pindah."
"Hahaha.. Enggak ah. Di sini aja." jawabku.

Sudah hampir tengah malam ketika kita tiba di halte tujuan akhir.
"Aku ambil motor dulu, kamu tunggu sini ya." katamu dan berlalu mengambil motor di parkiran belakang.
"Ayooo." ajakmu setelah mengambil motor.
"Kita makan dulu yaa, aku laper banget." kataku sambil naik ke motormu.
"Iya, mau makan apa?"
"Makan apa aja yang penting nasi. Pinggir jalan aja seketemunya."

Setelah berputar-putar mencari tempat makan karena kamu beberapa kali menolak beberapa tempat yang aku tunjuk dan hari sudah semakin malam akhirnya kita memutuskan untuk makan pecel ayam di dekat rumahku.
Tak ada yang makan di tempat malam itu hanya ada aku dan kamu yang makan. Karena lapar makanan yang disajikan tak lama untuk dihabiskan.
"Yaudah yuk. Udah setengah 12 malam nanti kamu dicariin. Aku bayar dulu." Katamu sambil menuju penjual dan membayar makan malam itu.

Kamu mengantarku sampai depan gang rumah, seperti biasa seusai permintaanku.
"Kamu hati-hati yaa, nanti kabarin kalau udah sampai rumah. Makasih udah dianter." kataku dan kamu mengiyakan kemudian berlalu pulang.


you're my only one
there's just no one like you do
you're my only one....
there's just no one, no one like you
you're my only one...

-yellowcard

Tidak ada komentar:

Posting Komentar