Catatan Domba Betina: Remember #3

Kamis, 12 Desember 2013

Remember #3


“Undangan pernikahan siapa tuh?” Tanyanya yang mengejutkanku
“Bella.” Jawabku sambil menunjukan undangan tersebut
“Aku juga diundang kok. Dateng bareng mau gak?”
“Boleh. Kebetulan aku juga gak ada barengannya nih.”
“Nanti sore aku jemput ya ke rumah.”
“Oke.”
                                                            ***

            Terdengar suara pintu diketuk berkali-kali. Aku pun membukakan pintu tersebut dan terkejut.
“Loh? Kamu kok udah dateng aja. Aku belum rapi.”
“Kan tadi aku bilang sore aku jemput kamu.”
“Tapi kan biasanya kamu kalo mau berangkat kesini ngabarin aku.”
“Iya aku lupa charge hp. Hp-ku mati pas mau kabarin kamu dijalan tadi.”
“Yaudah aku dandan dulu ya sebentar.”
“Jangan lama ya.”
“Hehehe. Gak kok sebentar.”
“Eh iya ini buat kamu.” Dia memberikan sekotak cokelat
“Loh dalam rangka apa nih kasih cokelat segala?”
“Gak dalam rangka apa-apa, Cuma mau kasih kamu aja.”
“Makasih ya. Kamu tunggu sini dulu ya aku ganti baju dulu. Kamu bisa charge hp kamu dulu.”
“Oke.”
            Aku masuk kamar dengan membawa cokelat yang ia berikan sore itu. Baik sekali laki-laki itu. Aku segera berganti pakaian dan memoles wajahku dengan make-up sedikit. Berkali aku bercermin apakah make-up ku berlebihan atau tidak. Hape ku berdering tanda sms masuk, “ternyata begini ya nunggu perempuan dandan.” Itulah isi sms dari dia yang menungguku di ruang depan. Aku membalasnya dengan segera “Lama ya? Maaf ya. Bentar lagi keluar nih.” Memang kebiasaan tiap wanita selalu seperti itu menghabiskan banyak waktu hanya untuk berdandan dan berdiri di depan cermin. Aku semprotkan parfum favoritku lalu berjalan keluar kamar menemui dirinya yang telah lama menunggu.
“Selesai. Maaf ya lama.” Kataku sambil senyum kikuk, dia menoleh dan aku merasakan dia menatapku lama.
“Kamu kok bengong?” Tanyaku segera
“Gapapa.” Dia tersenyum
“Aku kemenoran ya?”
“Kamu cantik. Aku gak pernah liat kamu pake make-up sebelumnya.”
“Jadi kemarin aku jelek?” Aku sedikit bercanda
“Kemarin, hari ini sampai besok dan seterusnya kamu tetap cantik.”
“Ah, gombal aja. Yaudah yuk berangkat sekarang.”
“Yuk.”
“Tapi aku gak aneh kan?”
“Aneh kenapa sih? Gak kok.”
“Baju aku?”
“Long dress kamu bangus, cantik.” Ia memujiku sekali lagi.
                                                            ***
            Masih dalam perjalanan menuju gedung tempat pernikahan, kami terus berbicara.
“Emangnya kamu belum pernah nunggu cewek dandan?”
“Belum pernah. Baru sekali itu, nunggu kamu.”
“Lama ya?”
“Lumayan. Tapi hasilnya memuaskan” Katanya sambil tersenyum membuat rona di pipiku.
“Nah itu gedungnya.”
“Oke, kita sampai.”
            Aku dan dia berjalan bergandeng tangan menuju gedung tempat acara pernikahan dilangsungkan.
“Kok kamu nunduk sih jalannya?”
“Aku malu. Orang-orang kok ngeliat aku begitu banget sih. Aku aneh ya?”
“Itu karena kamu cantik. Udah jangan malu gitu, ada aku kan.” Akhirnya aku sedikit lebih percaya diri setelah genggaman tangan kita berdua ia eratkan.
            Suasana di pesta pernikahan itu cukup ramai tamu. Tak banyak berbicara lama dengan pengantin karena antrian tamu yang ingin memberi selamat kepada kedua mempelai
“Silahkan dinikmati makanannya ya.” Itu kata-kata sang pengantin setelah kami memberi ucapan selamat. Aku dan dia memutuskan untuk duduk di sudut ruangan gedung itu sambil menikmati hidangan.
“Kamu mau gak es krim?”
“Gak mau. Kamu aja.”
“Cobain dulu enak loh.” Dia menyuapiku es krim di acara itu
“Iya enak.”
“Ini adat padang ya konsepnya?” Kata dia yang terus berlanjut menyuapiku es krim itu
“Iya. Bagus ya taman pelaminannya.” Kami terdiam sejenak. Entah apa yang kami pikirkan berdua saat itu, tapi jujur aku memikirkan jika aku yang berdiri di atas pelaminan tersebut entah dengan siapa pengantin prianya. Semua orang pasti ingin merasakan hari bahagia itu.
“Kalo kita nikah mau pakai adat apa?” Pertanyaan dia membuyarkan lamunanku
“Kamu nanyanya?”
“Iya aku tanya aja. Berandai gapapa kan?”’
“Ya adat apa aja. Asal janji sehidup sematinya gak dilanggar itu aja.”
“Karena pernikahan itu janji dengan Tuhan.” Ia melanjutkan kalimatku dan menggengam erat tanganku.
“Kamu cantik banget hari ini.” Ia menutup kalimatnya

-eishafitri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar