“Undangan pernikahan siapa tuh?” Tanyanya yang
mengejutkanku
“Bella.” Jawabku sambil menunjukan undangan tersebut
“Aku juga diundang kok. Dateng bareng mau gak?”
“Boleh. Kebetulan aku juga gak ada barengannya nih.”
“Nanti sore aku jemput ya ke rumah.”
“Oke.”
***
Terdengar
suara pintu diketuk berkali-kali. Aku pun membukakan pintu tersebut dan
terkejut.
“Loh? Kamu kok udah dateng aja. Aku belum rapi.”
“Kan tadi aku bilang sore aku jemput kamu.”
“Tapi kan biasanya kamu kalo mau berangkat kesini
ngabarin aku.”
“Iya aku lupa charge hp. Hp-ku mati pas mau kabarin
kamu dijalan tadi.”
“Yaudah aku dandan dulu ya sebentar.”
“Jangan lama ya.”
“Hehehe. Gak kok sebentar.”
“Eh iya ini buat kamu.” Dia memberikan sekotak
cokelat
“Loh dalam rangka apa nih kasih cokelat segala?”
“Gak dalam rangka apa-apa, Cuma mau kasih kamu aja.”
“Makasih ya. Kamu tunggu sini dulu ya aku ganti baju
dulu. Kamu bisa charge hp kamu dulu.”
“Oke.”
Aku
masuk kamar dengan membawa cokelat yang ia berikan sore itu. Baik sekali
laki-laki itu. Aku segera berganti pakaian dan memoles wajahku dengan make-up
sedikit. Berkali aku bercermin apakah make-up ku berlebihan atau tidak. Hape ku
berdering tanda sms masuk, “ternyata begini ya nunggu perempuan dandan.” Itulah
isi sms dari dia yang menungguku di ruang depan. Aku membalasnya dengan segera
“Lama ya? Maaf ya. Bentar lagi keluar nih.” Memang kebiasaan tiap wanita selalu
seperti itu menghabiskan banyak waktu hanya untuk berdandan dan berdiri di
depan cermin. Aku semprotkan parfum favoritku lalu berjalan keluar kamar
menemui dirinya yang telah lama menunggu.
“Selesai. Maaf ya lama.” Kataku sambil senyum kikuk,
dia menoleh dan aku merasakan dia menatapku lama.
“Kamu kok bengong?” Tanyaku segera
“Gapapa.” Dia tersenyum
“Aku kemenoran ya?”
“Kamu cantik. Aku gak pernah liat kamu pake make-up
sebelumnya.”
“Jadi kemarin aku jelek?” Aku sedikit bercanda
“Kemarin, hari ini sampai besok dan seterusnya kamu
tetap cantik.”
“Ah, gombal aja. Yaudah yuk berangkat sekarang.”
“Yuk.”
“Tapi aku gak aneh kan?”
“Aneh kenapa sih? Gak kok.”
“Baju aku?”
“Long dress kamu bangus, cantik.” Ia memujiku sekali
lagi.
***
Masih
dalam perjalanan menuju gedung tempat pernikahan, kami terus berbicara.
“Emangnya kamu belum pernah nunggu cewek dandan?”
“Belum pernah. Baru sekali itu, nunggu kamu.”
“Lama ya?”
“Lumayan. Tapi hasilnya memuaskan” Katanya sambil
tersenyum membuat rona di pipiku.
“Nah itu gedungnya.”
“Oke, kita sampai.”
Aku
dan dia berjalan bergandeng tangan menuju gedung tempat acara pernikahan
dilangsungkan.
“Kok kamu nunduk sih jalannya?”
“Aku malu. Orang-orang kok ngeliat aku begitu banget
sih. Aku aneh ya?”
“Itu karena kamu cantik. Udah jangan malu gitu, ada
aku kan.” Akhirnya aku sedikit lebih percaya diri setelah genggaman tangan kita
berdua ia eratkan.
Suasana
di pesta pernikahan itu cukup ramai tamu. Tak banyak berbicara lama dengan
pengantin karena antrian tamu yang ingin memberi selamat kepada kedua mempelai
“Silahkan dinikmati makanannya ya.” Itu kata-kata
sang pengantin setelah kami memberi ucapan selamat. Aku dan dia memutuskan
untuk duduk di sudut ruangan gedung itu sambil menikmati hidangan.
“Kamu mau gak es krim?”
“Gak mau. Kamu aja.”
“Cobain dulu enak loh.” Dia menyuapiku es krim di
acara itu
“Iya enak.”
“Ini adat padang ya konsepnya?” Kata dia yang terus
berlanjut menyuapiku es krim itu
“Iya. Bagus ya taman pelaminannya.” Kami terdiam
sejenak. Entah apa yang kami pikirkan berdua saat itu, tapi jujur aku
memikirkan jika aku yang berdiri di atas pelaminan tersebut entah dengan siapa
pengantin prianya. Semua orang pasti ingin merasakan hari bahagia itu.
“Kalo kita nikah mau pakai adat apa?” Pertanyaan dia
membuyarkan lamunanku
“Kamu nanyanya?”
“Iya aku tanya aja. Berandai gapapa kan?”’
“Ya adat apa aja. Asal janji sehidup sematinya gak
dilanggar itu aja.”
“Karena pernikahan itu janji dengan Tuhan.” Ia
melanjutkan kalimatku dan menggengam erat tanganku.
“Kamu cantik banget hari ini.” Ia menutup kalimatnya
-eishafitri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar