Catatan Domba Betina: Tepian Daun

Kamis, 12 Desember 2013

Tepian Daun

Kau tahu aku mencintaimu. Karena itu aku mengikhlaskanmu.

Aku ingat, aku begitu hangat waktu itu. Entah karena demam atau hanya sedang cemburu. Mungkin juga patah hati. Aku juga tidak tahu mengapa aku layak untuk patah hati. Padahal aku dan matahari tidak pernah menjalin janji apa-apa. Hubungan kami pun sebatas dua benda yang saling memberi kabar dari jauh. Kami berbicara tentang apa saja. Namun, dia, matahari yang membuatku jatuh cinta, tidak pernah bercerita apa-apa.

Ia berkata, ia dilahirkan hanya untuk menyinari. Itu saja. Selebihnya, aku tidak tahu hal lain tentang dia. Tapi aku mencintainya. Dan seseorang yang sedang jatuh cinta adalah peneliti yang mahir, bukan?
Maka, semenjak aku tahu bahwa aku jatuh hati kepada matahari yang lahir hanya untuk menyinari, aku mencari tahu tentangnya. Apapun tentang dia. Asal-usulnya, sanak familinya, kerabat-kerabatnya, teman dan sahabatnya, musuhnya. Bahkan aku mencari tahu tentang sekolahnya, kampusnya, tempat kerjanya, tempat ia menghabiskan waktunya saat istirahat dan seterusnya. Sudah ku bilang tadi, orang yang sedang jatuh cinta punya rasa penasaran yang bahkan bisa membunuh seekor harimau bengali.

Tetapi aku tidak menemukan apapun tentangnya. Tidak satupun, selain apa yang sudah ia beritahukan kepadaku. Bahwa ia matahari dan ia lahir hanya untuk menyinari.

Lalu aku mulai curiga.
Kau tahu apa yang ada dipikiranku, di pikiran setiap orang, ketika pagi berganti siang, siang menjadi sore, sore berubah petang, petang menjelma malam, dan matahari kemudian menghilang? Kemana lantas ia pergi?
Aku tidak pernah tahu ini. Dan dia membuatku penasaran setengah mati.
Sejak itu, aku mengenl bulan. Ia mirip matahari, namun tidak seterang matahari. Tentu saja. Tidak ada yang bisa mengalahkan sinar matahari yang membuat aku jatuh cinta. Tidak ada yang bisa menyainginya, meski seluruh cahaya dari alam lain berkumpul dan bersatu untuk menundukkan ia. Aku tidak bisa menemukan matahariku dimanapun, sebab aku hanya tepian daun. Aku hanya menunggu dia setiap pagi, menanti lembut sinarnya yang merayap di sekujur tubuhku. Ia tidak pernah gagal membuatku merasa nyaman dan hadir untuk menjadi teman.
Oh iya, teman. Begitu pada akhirnya ia berkata kepadaku.
"Aku hanya menganggapmu sebagai teman," salah satu dari beratus-ratus sulur cahayanya berbisik di telinga ku. "Maaf aku tidak pernah memberitahumu selama ini, tapi aku jatuh cinta kepada bulan."
Sejak itu, cahayanya, cahaya matahari yang sempat membuatku jatuh cinta, tidak lagi terasa sama. Tidak pernah terasa sama.

Aku tidak menyukai bulan. Sebab setiap ia ada, matahariku menjadi tidak ada.

Kemudian pada suatu pagi yang lain, saat aku tidak lagi menunggu matahari dan berharap tidak pernah lagi ada pagi.

-Benzbara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar