Empat bulan berlalu, begitu banyak pertanyaan-pertanyaan dalam benakku yang menggantung belum menemukan jawaban.
Empat bulan berlalu, aku pun mulai ingin bercerita ke sana dan ke sini mengenai pertanyaan-pertanyaan yang dengan liar terus ada dalam benakkku. Walau aku tahu jawabannya harus aku yang menemukan tapi aku ingin solusi dari seorang teman.
Aku tipikal orang yang jarang sekali bercerita apalagi kalau sudah urusan asmara, aku lebih banyak mendengarkan orang bercerita ketimbang aku yang bercerita. Namun kali ini aku putuskan untuk bercerita kepada seorang sahabat yang ku percaya.
"Jadi lu udah deket selama 4 bulanan nih?" tanya sahabatku, aku mengangguk lesu.
"Selama 4 bulan ini dia intens ngabarin lu?"
"Iya."
"Pertemanan kalian udah gak wajar."
"Nah itu yang gue maksud. Gue kayaknya udah keburu baper deh sama dia."
"Kalo gue jadi lu, gue juga baper kali. Dia udah nyaman sama lu, buktinya dia intens ngabarin lu."
"Terus?"
"Temen cowok lu kan banyak, ada yang seintens dia ngabarin lu?"
"Gak ada, cuma dia doang. Temen cowok gue emang sejibun tapi ya emang temen biasa doang."
"Lu ngasih-ngasih perhatian ke dia?"
"Ya ngasih sih, abisnya gue gimana yaaa jelasinnya."
"Iya gue paham, trus dia ngasih perhatian balik?"
"Jarang. Gue pernah ngasih perhatian terus dia bilang 'jangan segitunya, aku gak biasa.' . Jleb gak sih lu."
"Aneh juga ya, susah ditebak. Mending lu tanya deh kalian menjalin apa sebenernya."
"Gue nanya duluan?"
"Iyaaaaa."
"Gilaaa, gak lah tengsin gue. Kalau jawabannya enak sih gapapa, kalau jawabannya 'just friend' bisa nangis bombay."
"Lebih cepat lebih baik lu tau perasaan dia ke lu gimana."
"Gue pertimbangkan deh buat tanya."
"Daripada lu bingung sendiri apa jawabannya, jawabannya bukan di gue tapi ada di dia."
Duh, itu solusi yang paling berat yang harus aku jalanin. Aku terus berfikir untuk apakah aku bertanya atau sebaiknya tidak.
Aku pernah melaksanakan shalat istikharah untuk memilih kamu daripada laki-laki yang sedang dekat denganku juga, Allah kemudian memberi jawaban. Allah jauhkan laki-laki lain itu dan kemudian mendekatkan kamu. Saat ini aku kembali bimbang, Allah harus menjadi tujuanku kembali untuk menemukan kamu.
Hal yang membuat aku penasaran setengah mati adalah postingan-postingan di akun sosial media kamu yang berisi "with you", "with KAMU" . Entah siapa itu. Aku penasaran dan itu menguatkanku untuk bertanya.
"Mie Aceh di sana enak loh." Katamu di chat saat kita sedang membicarakan tentang kuliner
"Iya, kata temen-temenku enak di sana. Aku belum pernah."
"Yaudah nanti kita makan mie aceh itu yaaa."
"Oke."
Percakapan itu hanya wacana. Aku melihat postinganmu di Path update lokasi di warung mie aceh yang kita bicarakan di chat, tentu dengan -KAMU- . Beberapa jam setelah aku lihat postinganmu itu aku mengirimimu chat. "Curang udah ke sana duluan.","Gak kok itu cuma lewat aja ngecek buka atau tutup." katamu memberi penjelasan.
Aku menemukan "KAMU" yang lain lagi di postingan-mu saat check-in di Pizza Hut. Namun kamu bilang kamu tidak ke Pizza Hut, kamu hanya delivery order ke kantormu.
Aku kembali menemukan "KAMU" saat kamu pergi ke Bogor. Lagi kamu bilang "Itu hanya fake biar Path aku rame. Aku emang ke Bogor tapi aku pergi rame-rame sama temen-temen."
Aku iyakan semua pernyataan kamu, karena aku tidak berhak untuk mencemburuimu, tidak berhak untuk mencurigaimu. Sampai suatu hari kamu mengirimi aku pesan yang cukup serius. Ini adalah percakapan serius pertama kita.
"Apa kamu masih ngarepin aku?" Kamu bertanya serius, meskipun hanya melalui chat tapi aku tahu kamu sedang serius.
"Kita biasa aja kan? Tapi kamu beda." Kamu melanjutkan kalimatmu. Aku tahu kemana percakapan ini mengarah.
"Iya maaf mungkin aku terlalu berlebihan. Iya kita biasa saja." Aku membalas, hingga akhirnya kamu berkata "Just friend. Kita sahabatan. Aku masih tahapan seleksi, pilihanku banyak"
Sebuah pernyataan yang sungguh membuat aku sedih dan lega dalam waktu yang bersamaan. Ternyata selama ini perasaan itu hanya tumbuh di satu sisi, hanya di sisiku. Harapan aku yang menyakitiku. Jadi mulai sekarang aku harus pergi membawa semua perasaan yang sudah muncul perlahan dan sudah mulai berkembang. Kamu memberi jawaban sebelum aku berikan pertanyaan.
Aku salah, aku malu, aku ingin pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar