10 Desember 2016 menjadi pertemuan kita setelah sekian lama kita tak bertukar kabar. Malam minggu kali ini basah oleh hujan dan masih meyisakan gerimis tipis. Kamu menyalakan motormu dan aku sudah duduk di belakangmu. Kita menyusuri jalanan Lenteng Agung malam ini.
"Kamu gak pegangan?" Katamu saat sudah beberapa menit kita menyusuri jalan.
"Pegangan? Oke." Aku memegang pundakmu.
"Nih aku udah pegangan." kataku sambil tertawa.
"Ya, gak di pundak juga."
"Baiklah." Aku melingkarkan lenganku pada pinggangmu dengan gerakan ragu. "Haruskah aku melakukannya?" pikirku.
Ternyata saat perjalanan pulang itu suasana lebih cair dari saat kamu datang pertama ke acara talkshow itu, saat perjalanan pulang aku lebih bisa mengatur ritme detak jantungku.
Banyak obrolan tercipta saat perjalanan pulang tersebut. Apapun menjadi pembahasaan. Bahkan aku sering mendengar tawamu. Aku rindu itu.
"Speedo meter motormu mati?" kataku
"Iya nih mati. Kenapa? Aku terlalu ngebut ya?"
"Iya tadi agak kenceng. Tapi gapapa sih."
"Pegangan makanya."
"Iya, ini juga pegangan."
"kamu nanti mau nikah sama siapa?" kamu bertanya tiba-tiba, jika saja aku memiliki keberanian lebih dan sedikit menyingkarkan gengsiku aku akan menjawab "kamu." sayangnya aku terlalu pengecut untuk mengatakan itu.
"Gak tau, belum kelihatan jodohnya." aku menjawab demikian, jawaban yang tidak sesuai dengan kata hatiku.
"Aku mau beli mobil ah." kamu terlalu banyak pernyataan atau pertanyaan random malam itu
"Ngapain beli mobil?"
"Biar gak kena gerimisan kayak gini."
"Daripada beli mobil mending beli rumah."
"Iya sih, tapi aku juga mau punya mobil." Dan saat motor sudah memasuki wilayah dekat rumahmu jalanan agak padat oleh kendaraan.
"Yah macet." keluhmu
"Nah, gak usah beli mobil makanya nanti kamu nambah-nambahin bikin macet jalanan."
"Iya yaa? Yaudah gak jadi deh ntar makin macet."
"Iya gak usah."
Ternyata gerimis semakin deras.
"Kamu kebasahan gak?" tanyamu
"Gak. Kan kehalangan kamu. Makasih yaa udah menghalangi hujan jadi badan aku gak basah."
"Mana coba aku pegang, beneran gak basah." Tanganmu kemudian memegang kepalaku, mengelusnya.
"Basah dikit."
"Basah kamu itu. Aku gak bawa jas hujan. Gak bawa helm juga."
"Gapapa ini mah gak deras banget kok."
"Aku nih basah banget. Pegang deh." kemudian tanganku menyentuh bagian depan tubuhmu.
"Iya basah banget. Lepek."
Kita berhenti karena lampu merah. Perempatan jalan yang sudah dekat dengan tempat tujuan. Kamu bersandar ke belakang dengan lengan di paha kiri-ku.
"Yah, udah mau sampe. Cepet banget sih sampenya." katamu
"Iya, cepet banget ya."
"Padahal aku tahu kamu masih kangen aku kan?"
"Iya, aku masih kangen kamu." Akhirnya kalimat itu meluncur dari mulutku
"Sudah ratusan purnama kita gak ketemu." tambahku
"Hahahaha." kamu tertawa
"Bisa dijadiin FTV nih kisah kita malam ini."
"Kira-kira apa judulnya?"
"Apa ya? Malam minggu di bawah gerimis berdua."
"Kepanjangan."
"Hahahaha. Oh ya, berhenti di warung makaroni dulu ya. Aku mau jajan."
"Oke." kemudian motormu memasuki pelataran parkir warung makaroni.
Aku memesan makaroni dan aku tidak tahu kamu diam-diam memotretku kemudian kamu share di grup komunitas pecinta alam dengan caption "Mau ke basecamp tapi nganter Ayra beli ini dulu.", banyak yang berkomentar "Anter sampai rumah yaaa."
Aku tidak langsung pulang malam itu, aku ada janji untuk berkumpul dengan teman-teman kampus. Aku memintamu untuk mengantar hanya sampai kampus. Temanku belum datang,
"Aku tunggu sampai temanmu datang menjemput kamu.", aku menawari kamu untuk ikut berkumpul tapi kamu memilih untuk ke basecamp makan durian. hehehe
Kamu banyak menatap mataku saat itu, aku dibuat salah tingkah oleh tatapan itu. Tak berapa lama temanku datang menjemput dan aku pamit denganmu.
Rasanya aku ingin malam itu tidak pernah berakhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar