Catatan Domba Betina: Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (10)

Minggu, 04 Maret 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (10)

Selama satu minggu itu aku tak bertukar kabar denganmu, beberapa bulan ke belakang komunikasi kita memang berantakan. Aku selalu berusaha menyibukan diri, aku selalu berusaha untuk tidak terpaku padamu, aku selalu berusaha untuk membunuh perasaan-perasaan itu. Senin - Jum'at aku habiskan untuk bekerja, sementara Sabtu aku menyibukkan diri dengan mengambil kelas kursus bahasa Inggris di belakang kampusku. Aku pernah mengatakannya padamu bahwa aku mengambil kursus, kebetulan saat itu kita sedang bertukar kabar seadanya.

28 Mei 2016 seperti biasa aku sudah berangkat dari rumah menuju tempat kursus mengenakan baju cokelat terusan dengan aksen garis-garis horizontal. Hari itu aku memenuhi janji bertemu dengan seorang teman, kebetulan dia adalah junior di kampus namun usia kita sama. Dia ingin meminjam buku puisi karya Aan Mansyur, saat itu film AADC2 sedang booming sekali. Buku puisi itu sudah ku masukan ke dalam tas sebelum aku berangkat kursus hari ini. Saat kelas sudah 15 menit lagi selesai ponselku berdering tanda pesan masuk, ternyata itu dari Dio.
"Ayra, udah selesai belum kelasnya? Gue udah di kampus nih." Aku dan Dio kenal sejak aku di semester 5 dan Dio di semester 3. Dari pertemuan yang gak disengaja akhirnya kita berteman.
"Gue 15 menit lagi kelar, Di. Bentar ya. Lu tunggu di mana?"
"Gue masih di warung depan sih. Biar gue yang nyamperin lu nanti. Kabarin kalau udah kelar ya."
"Oke."

Ponselku berdering kembali tanda pesan masuk, aku kira Dio ternyata kamu.
"Lagi di mana?" Kamu bertanya di chat
"Kursus."
"Udah selesai?"
"Belum. 15 menitan lagi selesai. Kenapa?"
"Aku lagi di kampus nih, temenin dong. Lagi urus-urus administrasi."
"Yaudah ntar aku ke sana."
"Buruan yaa."
"Ya nanti belum selesai kelasnya."
"Oke, aku tunggu."

Kelas akhirnya bubar tepat sesuai perkiraanku. Aku langsung memberi kabar Dio bahwa aku sudah selesai, aku memintanya untuk menunggu di swalayan sebelah kampus. Aku berjalan kaki menuju swalayan dan ternyata Dio sudah berdiri di samping motor gedenya. Aku dan Dio mengobrol di swalayan itu, aku asyik mengobrol dengan Dio ponsel ku kembali berdering, kamu menghujaniku dengan pesan-pesan.
"Di mana?","Lama banget.","Buruan.","Aku sendirian nih di kantin."
Aku membalas "Iya sebentar plis sebetar 10 menit lagi. Aku ketemu temen ini."
"Buruan, temennya aja sekalian ajak ke sini." Tak ku balas lagi karena aku tidak enak Dio terus menerus mengajak ngobrol. Aku memberikan buku puisi itu pada Dio, Dio dengan sigap membukanya kemudian membacakan sebait puisi itu
"Bandara dan Udara memisahkan New York dan Jakarta......." Dio membacakan puisi itu, aku hanya tersenyum kaku sambil bergumam di dalam hati 'Aduh Dioooo, gue lagi buru-buru ini ditungguin'.

Kamu mengirimi ku pesan singkat lagi, dengan nomor yang lain.
"Hape aku yang satu lowbat. Ke sini aja. Buruan kamu. Aku di kantin sendirian."

"Lu langsung pulang Ra?" Tanya Dio setelah membaca sebait puisi Aan Mansyur tadi.
"Gak, gue mau ketemu temen gue di kantin. Ikut yuk, ngobrol di dalem aja." aku menawari
"Mau sih, tapi gue pake celana pendek malu kalau ke dalem kampus begini."
"Cuek aja sih. Hehehe."
"Lu kayaknya buru-buru ya? Ditungguin? Yaudah. Bukunya gue pinjem dulu ya. Nanti gue kabarin kalau sudah selesai."
"Okeeee. Gue duluan yaa. Bye." Aku langsung berlari ke arah kampus tak sempat menunggui Dio menyalakan motor gedenya.

Aku berlari menuju kantin sambil mengetik "Masih di kantin?", kamu hanya membalas "Masih. Buruan." Betapa aku sangat bersemangat sekali untuk bertemu kamu hari itu. Walau sore itu kantin ramai sekali oleh mahasiswa-mahasiswa aku dengan mudah mengenalimu, kamu duduk membelakangi dari arah datangku. Aku langsung duduk di kursi di depanmu. Kamu terkejut dengan kehadiranku yang tanpa suara menyapa atau menepuk bahu.
"Maaf telat. Lama yaaa? tadi ketemu temen dulu di luar." kataku membuka percakapan
"Lamaaaa banget. Mana temennya?"
"Pulang, dia pakai celana pendek masa masuk kampus. Kamu belum pesan apa-apa dari tadi?"
"Belum, nungguin kamu. Temenin aku makan, aku yang traktir hari ini."
"Yesss. Kamu pesen apa?"
"Aku pesen mie soto aja pakai telur sama jus alpukat. Kamu pesan apa?"
"Aku pesen minum aja."
"Gak makan?"
"Gak, aku masih kenyang tadi makan dulu sebelum kursus. Yaudah aku pesenin dulu ya."

Hari itu kamu mengenakan kemeja kotak-kotak hijau tosca dengan merk terkenal yang aku baca di saku kemejamu, kamu terlihat bagus mengenakan kemeja itu. Kamu memakai celana bahan dan sepatu fantofel. Jam tangan hitam melingkar dengan beberapa gelang di lengan kirimu. Rambutmu agak sedikit gondrong, mungkin kamu tidak sempat mencukurnya. Mata itu, masih sama masih membuat aku jatuh cinta. Suara beratmu, suara tawamu. Kamu duduk tepat di hadapanku, kita hanya dipisahkan dua gelas minuman dan satu mangkuk mie instan.

"Mau gak?" kamu memecakan lamunanku, bukan lamunan tapi memecah perhatianku yang sedang dengan saksama memperhatikanmu. Kamu mengeluarkan bubuk putih dari toples kecil yang kamu bawa.
"Itu apa?"
"Vitamin." Kamu kemudian mencampuri bubuk putih itu ke dalam jus alpukatmu.
"Biar apa?"
"Biar sehat. Namanya kreatin. Orang yang fitness minum ini." kamu menjelaskan.
"Apa rasanya?" Aku penasaran
"Gak ada." Kemudian kamu menyodorkannya padaku, aku coba minumanmu yang sudah dicampur.
"Iya gak ada rasanya."
Kamu bercerita tentang keperluan yang kamu lakukan di kampus hari itu, kamu mengurusi segala adminitrasi mengenai kelulusanmu, ijazah dsb. Kemudian kamu mengeluarkan satu map yang berisi formulir untuk melanjutkan kuliah S-2.
"Kamu mau daftar S-2?" Aku bertanya sambil membolak-balikan formulir itu.
"Niatnya sih tapi gak tau. Ya, ambil aja dulu formulirnya."
"Bagus-bagus. Aku juga mau tapi belum nih."
"Yaudah bareng aja."
"Target S-2 aku tahun 2017. Jadi nanti aja. Hahahaha."
  
Di antara riuhnya kantin sore itu aku masih bisa mendengar suara renyah tawamu. Menikmati matamu yang mulai menghilang ketika sedang tertawa.
"Kamu tadi naik apa pas berangkat?"
"Angkot. Naik apa lagi. Hehehe"
"Udah sore nih. Pulang yuk. Temen-temen kuliahku pada ngajak ngumpul di coffee shop."
"Ikut dong." Kataku iseng
"Jangan ah, langsung pulang aja."
"Oke. Aku nebeng sampai depan gerbang ya."
 Kemudian kita berdua berjalan menuju parkiran namun adzan magrib berkumandang.
"Mending sholat dulu." Aku memberi saran, kemudian kita menuju mushola di dekat parkiran. Saat itu aku sedang berhalangan. Aku menunggumu di luar sambil membaca buku. Setelah kamu selesai melaksanakan kewajibanmu, kamu menghampiriku yang sedang larut dengan buku bacaanku. Kamu sampai menarik bukuku karena aku tidak mengetahui kedatanganmu.

Kita pun kembali ke parkiran menuju motormu, kamu menyalakan mesin motormu dan kemudian aku duduk di belakangmu. Di depan gerbang aku minta turun karena tadi aku hanya minta diantar hanya sampai gerbang, namun kamu menolak.
"Kita ngumpul sama teman-temanku dulu.", aku terkejut mendengar pernyataanmu namun aku turut senang. Karena lokasinya tidak jauh dari kampus jadilah kita menjadi orang pertama yang datang di sana. Kamu memesan kopi hitam, aku memesan es cokelat. Kali ini kita hanya dipisahkan oleh dua cangkir minuman, malam itu malam minggu cukup cerah. Kamu duduk di hadapanku kemudian seperti kebiasaanmu, kamu menyodorkan sebelah headsetmu untuk kita dengarkan lagu favoritmu bersama. Kamu bilang bahwa kamu sedang menyukai lagu itu. Kadang jemari kita bertemu saling bersentuhan. Oh, bahagia sekali aku malam itu. Sampai akhirnya teman-temanmu mulai berdatangan satu persatu. Ada tiga orang temanmu yang datang malam itu, teman-temanmu menyenangkan. Lucu. Aku suka sekali mendengar kalian ketika bercanda. Ada temanmu yang bertanya padaku "Pacarnya Ebi?", Aku menggeleng halus namun tersenyum malu-malu. "Jangan mau sama Ebi, pacarnya banyak." kemudian tawa mereka pecah.

"Pulang yuk. Udah jam 9 nanti dicariin. Kan dari siang." Kamu mengajakku pulang
"Baru jam 9." kataku keceplosan malam itu. Kemudian suara teman-temanmu menyaut ramai "Tuuuh ditantangin baru jam 9 katanya."
"Oke, kalau ditantangin." Kamu menjawab. Aku hanya tertawa.
Pukul 23.00 kami semua memutuskan untuk pulang. Aku sudah duduk di atas motormu dan temanmu memberi pesan "Jangan mau kalau diajak belok lagi yaa." . Aku tertawa dan mengiyakan.
Hari itu, aku bahagia bisa bertemu dan mengenal teman-teman kampusmu. Aku sepertinya tidak bisa menghilangkan perasaan ini. Aku kembali jatuh, jatuh padamu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar