Setelah pernyataanmu tentang kita bahwa kita hanya sebatas teman, komunikasi kita tidak selancar dulu, kita sudah jarang bertukar kabar atau lebih tepatnya aku yang menarik diri. Aku menahan diriku untuk tidak mengabarimu dan kamu pun juga tidak berusaha mencariku. Postingan-postinganmu pun sudah semakin terbuka perihal perempuan lain, kamu posting dinner berdua, kamu posting hadiah cokelat saat kamu lulus sidang skripsi dan banyak lagi postinganmu tentang perempuan yang belum aku ketahui siapa. Jadi aku juga semakin menarik diri dan tahu diri. Aku tahu, aku sadar bahwa aku tidak ada di sana; di hatimu.
Komunikasi kita memang berantakan tapi kita tidak benar-benar kehilangan kontak, kita masih memberi kabar namun seadanya, sepentingnya saja. Selama satu bulan komunikasi kita seperti itu. Hingga kamu memberi tahuku perihal acara wisuda kamu yang akan sebentar lagi dilaksanakan. Aku langsung mengatur jadwalku untuk menghadiri wisudamu, aku mengambil izin kerja dari kantor.
28 April 2016 hari ini kamu di wisuda, sebelumnya kamu bingung membawa orang tuamu gimana, siapa saja yang turut serta kamu ajak walau pada akhirnya hanya Bunda dan Ayah yang kamu ajak. Siang itu cukup cerah, aku membalas pesanmu saat kamu bertanya aku sudah sampai kampus atau belum. Aku menjawab bahwa aku sudah di kampus menunggumu di luar karena saat itu prosesi pemindahan tali toga belum selesai. Aku tidak menyiapkan apapun, aku hanya membawa tiga tangkai bunga mawar untukmu. Sebelum adzan dzuhur berkumandang acara hari itu selesai, seluruh wisudawan keluar dari auditorium, keadaan di sana penuh sesak. Aku putuskan untuk jalan memutar dan dengan radarku aku bertemu kamu di depan lift. Pertemuan yang tanpa harus bertanya "di mana". Aku langsung mengulurkan tanganku memberi ucapan selamat dan memberi mawar merah itu untukmu. Kamu menyambut tanganku dengan senyum lebar dan mata sipitmu itu. Kamu langsung bercerita tentang prosesi di dalam tadi dan menggiringku keluar untuk berfoto. Aku tak melihat Bunda - Ayah mu saat itu, katamu sudah duluan pulang. Kamu bersemangat sekali hari itu, aku gugup sekali. Debar-debar jantungku tak karuan. Setelah di luar ternyata tidak ada yang bisa dimintai bantuan untuk mengambil foto kita. Kamu memutuskan untuk wefie saja mengenakan ponselmu. Saat kita asyik wefie ada temanmu yang datang menghampiri memberi ucapan selamat, kamu menyambutnya antusias namun setelah itu kamu justru meminta bantuan dia untuk mengambil foto kita berdua. Saat foto itu diambil kamu berdiri di sebelah kiriku, aku dengan sadar kamu merangkulku untuk pertama kali. Dengan sentuhan yang ragu-ragu kamu merangkulku, aku merasakannya yang menbuat jantungku semakin berdebar kencang dan untuk kali pertama itu foto berdua kita di moment bahagiamu. Setelah puas berfoto kamu berdiri di depanku saling berhadapan di pikuknya orang lalu-lalang, kamu dengan lembut menyentuh pipiku berusaha menyingkirkan kotoran di pipiku. Kedua mata kita bertemu, ada hening seketika, ada rasa hangat di hatiku. Aku bahagia hari itu, sebahagia kamu yang sudah menjadi sarjana.
Hari itu aku bangga sekali melihatmu. Aku tahu perjuangamu menyelesaikan pendidikanmu. Tidak mudah memang menyelesaikan kuliah dengan sembari bekerja. Aku bangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar