Catatan Domba Betina: Cerita Perjalanan : Pengalaman Tak Terlupakan Naik Kapal Pesiar di Bali

Sabtu, 29 Desember 2018

Cerita Perjalanan : Pengalaman Tak Terlupakan Naik Kapal Pesiar di Bali

Selamat pagi Bali. Ini adalah hari kedua gue berada di Bali.
Setelah beristirahat cukup puas tadi malam pagi ini gue awali dengan sarapan di resto hotel. Di Hotel J Boutique ini terdapat Warung Koffie Batavia yang merupakan tempat sarapan gue pagi itu. Sarapan pagi ini bersifat buffet, jadi ya bisa ambil sepuasnya sekenyangnya. Hehehe.
Menu yang ditawarkan beragam seperti sarapan hotel pada umumnya sih seperti bubur ayam, roti, nasi, sereal dan lainnya.

Perut sudah terisi kegiatan selanjutnya adalah bersiap untuk pergi ke tujuan di hari kedua ini yaitu naik kapal pesiar. Man! udah kayak titanic belum kebacanya? Tapi, ini bukan kayak kapal titanic yang segede gaban itu.
Agen perjalanan gue memberitahu apa saja yang harus dibawa, karena hari kedua ini adalah wisata air maka yang utama dibawa adalah pakaian ganti.

Lobby J Boutique Hotel, Bali

Dijemput dengan bus travel gue segera menuju Tanjung Benoa. Di perjalanan menuju Tanjung Benoa gue dibuat takjub oleh tol laut Bali, asli ini gue serius norak dan tercengang sih. Baru kali ini gue liat tol di atas laut. Indah banget sumpah ditambah dengan cuaca Bali hari itu sangat cerah. Thank God.


Setibanya di Tanjung Benoa, gue dan rombongan tergesa karena kapal yang akan gue naiki akan segera melepaskan jangkarnya. Setengah berlari gue menuju Quicksilver Cruise yang akan segera diberangkatkan oleh nahkodanya.
Quicksilver Cruise ini merupakan nama kapal pesiar yang akan menemani hari kedua gue di Bali. Kapal yang memuat sekitar 500 penumpang ini berlayar menuju Pantoon. Pantoon adalah titik di tengah laut antara Nusa Penida yang terdapat banyak sekali wisata air.


Karena naik kapal ini menggunakan tiket dan ditiket tersebut sudah ada nomor kursi jadi kami semua harus duduk sesuai nomor kursi yang sudah ditentukan di tiket. Satu jam perjalanan menuju Pantoon Nusa Penida membuat gue mabuk laut. Rasa pusing dan mual menjadi satu, biasanya gue gak pernah naik kapal seperti ini, kalaupun main ke laut pasti naik kapal biasa seperti perahu nelayan. Berbahagialah ternyata bukan hanya gue yang mabuk laut, banyak penumpang lain pun mabuk laut dan adik gue ikutan mabuk laut lebih parah dari gue. Pelajaran nih kalau mau wisata laut baiknya minum obat anti mabuk perjalanan lebih dulu.
Satu jam menahan rasa mual dan pusing akhirnya gue tiba di Pantoon. Semua penumpang kapal keluar menuju tempat yang telah disediakan tentu sesuai dengan nomor kursi yang berada di tiket tadi.
Gambar di atas adalah tempat gue stay satu hari itu. Dari mulai makan, berwisata air, ibadah, hingga mandi semua dilakukan di Pantoon. Pantoon terdapat dua lantai yang diisi oleh bangku-bangku panjang tempat para pengujung istirahat, ibaratnya ini tuh seperti saungnya.
Ohya di sini kita bisa melakukan beberapa aktivitas air dan semua gratis dan sepuasnya kecuali untuk belajar kilat diving dikenakan biaya tambahan sekitar Rp. 400.000,- . Tentu saja gue memilih yang gratisan saja yaitu snorkling. Hahaha.
Ini adalah kali kedua gue snorkling, karena dulu pas pertama kali itu di Pulau Pramuka. Sebelumnya sempet ke Belitong dan Lombok tapi gue menyia-nyiakan kesempatan menikmati bawah laut karena takut. Ya, walaupun sekarang gak terlalu berani tapi setidaknya gue sudah bisa melihat keindahan bawah laut. Lumayan puas snorkling di Bali dan ternyata olah raga air itu bikin perut lapar yang memang kebetulan sudah jam makan siang.
Gue suka pas makan siang karena all you can eat, gue bisa bolak-balik ngambil makanan sampe kenyang. Yang bikin tambah happy adalah makanannya enak, lauknya beragam tapi lebih banyak hidangan laut. Lengkap pokoknya sampai makanan penutup disediain. Ya, tapi harus hati-hati sih untuk menu makanan yang non halal, jadi sebelum makan baiknya dibaca dulu menu yang tertera di depan makanan yang disajikan.



Ada pengalaman unik serta pelajaran buat gue pribadi, ada dua turis Jepang yang pas makan benar-benar bersih banget. Bekas piring mereka makan dibawa ke meja petugas, jadi mereka gak ninggalin sampah di meja mereka. Keren kaaan. Kita kadang numpuk piring di tengah habis makan aja males banget. Patut dicontoh ini.

Setelah perut kenyang, rasanya males banget mau nyebur lagi jadi langsung mandi dan ganti baju kemudian sholat. Baru ini ngerasain sholat di atas kapal. Hehehe.
Ada salah satu fasilitas lagi nih yang harus dicoba yaitu naik kapal selam. Whoaaah, gue dan rombongan naik perahu lagi ke tempat kapal selam alias mini submarine, untuk kali pertama gue masuk kapal selam dan lihat keindahan laut dengan cara yang belum pernah gue lakukan.

Hari sudah semakin sore dan sudah waktunya untuk kembali ke Tanjung Benoa. Kembali semua masuk ke kapal pesiar yang akan membawa kami ke Tanjung Benoa, kali ini aku memilih duduk di luar merasakan angin dan suara debur ombak. Sore itu matahari terbenam sungguh indah dan terasa dekat sekali. Aku menyukainya.

Seharian berada di tengah laut, malam harinya gue dan rombongan menuju Pantai Jimbaran untuk menyantap makan malam di pinggir pantai. Ini adalah kali kedua gue merasakan makan malam di pinggir pantai dengan lilin, diiringi suara debur ombak dan diselimuti oleh angin laut. Mungkin atmosfirnya akan berbeda kali yaa kalau gue menikmati makan malam di pinggir pantai ini bareng lelaki masa depan gue. Hahahaha.

Makan Malam di Pantai Jimbaran, Bali

Hari ini ditutup dengan makan malam yang indah dan mengenyangkan. Pelayanan agen perjalanan hari ini TOP, lebih baik dari hari pertama. Hehehehe.
Terima kasih, gue tidur nyenyak!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar