Catatan Domba Betina: when you already know how it ends...

Sabtu, 23 Maret 2013

when you already know how it ends...


Pagi ini aku terbangun dengan mata sembab, mungkin akibat menangis semalam. Ku raih ponselku dengan segera. Ada pesan masuk.. Aku dengan sigap membuka dan membacanya ternyata dari Bayu. Isinya tak begitu beda dari apa yang aku tulis pesan teks untuknya. Aku menghela nafas panjang.
Hari ini tak banyak aktivitas yang aku lakukan, aku hanya mengurung diri di kamar. Aku dengan sekuat tenaga tak ingin menghubungi Bayu hari ini. Sebisa mungkin aku tahan, selama mungkin aku tak ingin menghubungi Bayu.
Matahari mulai merangkak naik aku masih saja berada di atas kasur. Kasur terasa lebih indah saat ini. Membenamkan wajah di bantal, mendengarkan lagu-lagu patah hati, sesekali ku tatap layar ponselku. Sepi...
“bagaimana mungkin desrian yang aku rasa selama ini harus aku ubah ritmenya atau bahkan aku hilangkan??”
Tak berapa lama Bayu mengirimi aku pesan teks, isinya menanyakan pertanyaan-pertanyaan standar. Aku hanya membacanya tak ku balas pesannya, tanganku gatal ingin membalas namun ku tahan. Menjelang malam aku mulai tak kuat dengan cobaan seharian ini, aku rindu Bayu. Akhirnya aku membalas pesan Bayu yang semenjak tadi siang aku abaikan, Bayu ternyata sudah hampir down karena pesannya tak ku balas. Yap lagi, hubungan aku dan Bayu membaik lagi. “aku terlalu naif untuk mengabikanmu. I’m stuck on you..”
Ada sebuah kutipan yang pernah aku baca dari salah satu akun cukup terkenal di jejaring sosial “it’s like reading a book over and over again when you already know how it ends.” Yap dari sebuah kutipan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa aku dan Bayu menjalani kembali hubungan kami meskipun kita tahu akhirnya akan seperti apa. Like a fool!
                                                                        ***
Hari-hari penuh cinta kembali mendera diriku. Hingga saat dimana Bayu datang ke rumahku dengan membawa setangkai mawar putih. He is so romantic person. Ia menepati janjinya. Aku langsung memeluk Bayu erat mengucapkan beribu terima kasih padanya. Begitu seterusnya kita menjalin kasih.
Kita bisa terbang bebas bersama tak melihat keadaan sekitar namun ada kalanya saat kita benar-benar diatas kita dipaksa turun ke bawah atau bahkan langsung jatuh ke bawah.  Berkali-kali kita jatuh berkali-kali kita saling membantu untuk bangun dan berjalan kembali. SAKIT! Hubungan ini diibaratkan seperti “memiliki sebuah baju baru namun disimpan terus dalam lemari.”
Cinta yang penuh perjuangan...
                                                                        ***

Aku tak bisa menutupi segala sesuatu dari Bayu, apapun itu akan aku bagi ceritanya dengan dia termasuk mengenai Robby.
Sore ini aku dan Bayu untuk kesekian kalinya terlibat percakapan serius. Entah mengapa saat matahari pulang keperaduannya kami sering terlibat percakapan serius seperti ini..
“Kalo seandainya aku sudah ada pengganti kamu kita masih bisa temenan? Maksudnya dekat seperti sahabat?” kataku bertanya dengan sangat hati-hati. Ia terdiam beberapa saat
“kok nanyanya begitu??” Kata dia sambil menyeruput minumannya
“ya gapapa sih, aku mau tanya aja.”
“Ada yg mau kamu ceritain yah?”
“Iyaaa, makanya kamu jawab dulu pertanyaan aku.”
“Iya kita tetap dekat seperti sahabat..”
“pinky swear??”
“iyaa pinky swear..” Kita melakukan ritual menyematkan jari kelingking
“Ummm,, Robby 2 hari yang lalu bilang sayang ke aku. Tapi kita gak pacaran. Dia Cuma ungkapin perasaan dia aja.”
Seketika air muka Bayu berubah, Ia dengan segera menjaga jarak denganku. Aku mulai risih dengan sikapnya. Aku tarik lembut lengannya namun Ia tetap ingin menjaga jarak denganku
“Maaf aku cerita seperti ini, kalo tau kamu bakal seperti ini aku gak akan cerita.”
“tapi aku lebih seneng dari kamu dengernya.. Kita sepertinya gak bisa temenan deh..” Ia mengatakannya denga nada yang begitu dingin
“loh?? Kenapa??” kan kamu udah janji tadi..”
“Robby itu temen aku, kita sering nongkrong bareng. Gak enaklah kalo aku terus ada didekat kamu kaya gini. Aku gak enak..”
“Tapi aku kan sama Robby gak pacaran, dia Cuma ungkapin perasaan dia aja.”
“Iya aku ngerti, tapi maaf aku gak bisa.. Biar aku yang menjauh dari kamu.”
“Aku gak mau.. Aku mau kita tetap jadi teman.” Ia tetap dengan keputusannya untuk tak berteman denganku. Akhirnya lagi dan lagi kita memutuskan untuk saling menjauh satu sama lain, namun sebelum itu kita saling membuat kenangan terakhir. Ia menggambar lagi di tembok kamarku, gambarnya memiliki arti khusus ia dengan telaten menjelaskan arti gambar tersebut. Sedangkan aku membuat sebuah video yang berisi kumpulan kenangan-kenangan yang selama ini telah kita buat. Mungkin itu kedekatanku dengannya yang terakhir..                                             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar