Catatan Domba Betina: Sebuah Prediksi dan Kebenarannya

Sabtu, 23 Maret 2013

Sebuah Prediksi dan Kebenarannya


           Kisah ini dimulai lagi dengan sejuta perubahan terjadi di hidupku. “Hidup itu memang suatu perubahan dan pasti penuh dengan kejutan.” . Memasuki dunia baru di semester baru bertemu dengan orang baru dengan karakter baru. Dimana kelas ini memberikan aku kenyamanan karena mereka itu seru, asik, rame. Gak perlu panjang lebar nyeritain gimana setiap kejadian yang seru di kelas dan sebagainya karena bukan itu inti yang ingin aku bagi.
            Saat pertengahan semester. Siang itu cuaca labil banget tiba-tiba hujan turun saat aku dan Mia berada di tukang photo copy kampus. Mia tengah sibuk dengan tugasnya sementara aku asyik duduk termenung melihat hujan. Disebelah ku ada seorang cowok yang juga lagi duduk dan disinilah perkenalan aku dan dia dimulai.
            Namanya Arif dia anak semester 8 dan lagi nyiapin skripsi, dia mengajak ku ngobrol dan aku tercengang saat tahu dia itu bisa membaca pikiranku. Awalnya aku biasa saja, tapi kok lama-lama saat dia baca karakter dalam diriku itu hampir keseluruhan benar, hanya senyum kecil yang aku lakukan saat itu dan mengatakan “shit” dalam hati. Bukan hanya karakter dalam diriku yang dibaca sama dia tapi dia juga mulai memprediksi apa yang akan terjadi dengan aku kedepannya terutama masalah percintaan.
“lo itu susah buka hati ya?”
“iya...”
“trauma kan?” aku hanya mengangguk pelan sebagai jawaban
“tenang aja kok, santai aja. Ada yang suka sama lo temen sekelas lu juga.” Dia melanjutkan prediksinya
“Hah?? Masa sih?” kata ku kaget, dia hanya mengangguk tanda mengiyakan
“kayanya gak ada deh, di kelas semua cowoknya biasa aja ke gue. Gak ada yang deket.”
“ya pokoknya ada nanti akhir semester 3 atau semester 4 lu tau orangnya siapa.”
“oh oke..” kata ku masih tak percaya..
“ya cuma mau kasih tau aja sih, gak ada yang bisa melebihi Tuhan kan?” kata senior itu.
Yap, aku suka kata-kata terakhir dia “gak ada yang bisa melebihi Tuhan, manusia Cuma bisa berencana atau prediksi toh pada akhirnya Tuhan juga yang menentukan.”
Aku telan perkataan senior itu dalam-dalam dan tak ada niatan untuk bercerita kepada siapapun pada saat itu.

***


Waktu berjalan begitu cepat semester tiga sudah berada dipenghujung. Semakin hari perkataan senior itu mulai terbukti, ku dapati seseorang dikelas gerak-geriknya sangat membuat diriku bingung. “Apa dia yang jatuh cinta dengan gue?” pertanyaan-pertanyaan kecil itu sering muncul dibenakku namun semua aku tapis dengan kalimat mungkin gue hanya kePDan”. Sampai akhirnya aku tak bisa menyembunyikan apa yang aku rasa dari sikap aneh cowok itu hingga akhirnya aku  bercerita ke salah satu teman dekatku dikelas namanya Tiara.
            Waktu itu aku makan siang dengan Tiara di salah satu restoran cepat saji dekat kampus. Awalnya aku ragu untuk menceritakan itu pada Tiara, sambil mengaduk-aduk minuman bersoda aku mencoba memulai menceritakan apa yang menjadi beban pikiranku selama ini.
“Tiara, gue mau cerita sama lo deh” kata ku memulai bercerita
“cerita apa??”
“gue aneh deh sama sikap Robby akhir-akhir ini.” Ya, cowok yang aku curigai menyimpan rasa sama aku itu namanya Robby.
“what’s wrong with him?”
“gue ngerasa akhir-akhir ini sikap dia ke gue berubah.. hmm, maksud gue perhatian, sok manis dan ya gitu deh.”
“ciyeeee...terus..terusss??” Tiara mulai ngeledek
“oke ra, gue rasa ini gue kePDan atau entahlah apapun itu tapi gue ngerasa ya kaya gitu.”
“yaudah gapapa sih kalo nanti pada akhirnya kalo emang bener si Robby ada hati sama lo.. cocok kok.” Aku hening sesaat dan akhirnya aku menceritakan pertemuanku dangan senior beberapa waktu lalu ke Tiara, menceritakan tiap poin yang diprediksi oleh senior itu.
“okelah, liat aja ke depannya yaa gue gak mau terlalu terpaku sama apa yang dikatakan senior itu.” Kata ku menarik kesimpulan.
“entah begitu mudah menilai seseorang saat jatuh cinta, kelakuannya begitu aneh tak terlihat seperti biasanya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar