Sejak kejadian di rumah
Willy aku dan Bayu semakin dekat, begitu dekat. Menghabiskan waktu berjam-jam
ditelpon mengumbar kata cinta, tak berhenti mengetik pesan teks yang berisi
panggilan sayang, berbagi cerita segalanya. Aku dan dia menjalani diluar norma
percintaan saat Ia memiliki kekasih dan aku berada didalamnya.
Logika ku menyatakan
bahwa itu salah namun hatiku tak bisa mengendalikan perasaan aku terhadap Bayu,
aku terlalu naif jika mengabaikan Bayu. Berkali aku berpikir keras, aku temui
jawabannya bahwa apa yang aku jalani dengan Bayu akan berakhir sia-sia, bahwa
apa yang aku jalani dengan Bayu pada akhirnya akan melukai diriku sendiri, bahwa
pada akhirnya aku yang harus mundur dari hidup Bayu, bahwa pada akhirnya jika
semua terbongkar semua mencerca diriku. Namun ku ikuti kata hati, aku tetap
berjalan seperti air mengalir.
Aku dan Bayu banyak
menghabiskan waktu berdua, bercanda, bercerita seperti sepasang kekasih
lainnya. Ia sering datang ke rumah ku untuk sekadar bertemu dan bercerita, dia
mengajak keluar rumah saat malam dimana kebanyakan sepasang kekasih pergi, ya
malam minggu. Sudah lama aku tak merasakannya pergi berdua dibawah langit malam
bergandeng tangan menikmati lampu kota dan makan makanan kaki lima. Oh,
indahnya malam mingu pertama ku dengan dia.
Tak berhenti dimalam
itu perjalanan cinta ku dan Bayu terus berlanjut di hari-hari berikutnya.
Sampai dimana ada ide yang sangat briliant aku meminta Ia menuangkan ide
menggambar di tembok kamarku dan terciptalah sebuah menara Eiffel berdiri tegak
di dinding kamarku dipadukan dengan warna warni yang menyala, sungguh indahnya.
Salah satu mimpiku Ia wujudkan. Aku tak dapat menggambarkan apa yang aku rasa
saat itu, jika ada kata yang melebihi bahagia mungkin akan aku ucapkan, aku
teriakan. Tak pernah aku merasa sebahagia ini, merasa senyaman ini dengan
seorang lelaki.
Waktu terus berputar,
hari berganti perasaan ragu sering kali menghampiri. Setiap kali kami bertemu
diujung pertemuan selalu terlontar kalimat “sampai kapan kita seperti ini?”.
Aku hanya tertunduk lesu, air mukaku bisa seketika berubah tiap kali aku
mendengar kalimat itu. “Aku takut kehilangan”
hanya itu yang terlintas dalam pikiranku. Mungkin Bayu termasuk cowok yang peka
terhadap perasaan wanita, termasuk aku. Aku tau betapa Bayu memahami apa yang
aku rasakan tiap kali mendengar kalimat itu. Dia selalu mengalihkan ketika air
mukaku sudah berubah lesu. Bukan, itu bukan senjataku untuk mempertahankan
Bayu. Itu aku rasakan benar-benar dari hati, aku rasakan hatiku perih tiap
mendengarnya.
Setiap mengucapkan
kalimat itu esok harinya aku dan Bayu kembali membaik, merajut benang-benang
kecil, mencari kebahagian-kebahagian kecil. Hingga satu hari dimana aku
menghabiskan waktuku bersama Bayu berkeliling kota hingga lelah meyelimuti dan
beristirahat di rumah Bayu. Menikmati kepulangan sang mentari dengan sinar
berwarna oranye yang begitu indah di atap rumah Bayu, duduk berdua termenung,
tak ada kata namun kami saling merengkuh dalam do’a. Indahnya...
Terkadang
kebahagian selalu beriringan dengan kesedihan datangnya..
“adikku sms-an sama
pacarku..” Bayu membuka percakapan yang membuat sekujur tubuhku kaku dan
dingin.
“serius kamu?” aku bertanya
penuh dengan terkejutan namun tetap perlahan tenang
“iya dia nanya siapa
yang main ke rumah.” Dia mencoba menjelaskan
“trus adik kamu bilang
siapa?” aku menimpali perlahan
“iya, adik ku kan gak tau kamu dia cuma
sekilas kasih tau ciri-cirimu.” Belum lama Bayu menyelesaikan kalimatnya,
adiknya naik ke atas. Aku terdiam hanya Bayu dan adiknya yang melakukan
aktivitas pembicaraan kepentingan mereka. Adiknya berlalu pergi, aku masih saja
terdiam mencoba mengatur ritme jantungku yang sejak pembicaraanku dengan Bayu
detaknya tak beraturan.
“Dia nangis terus akhir-akhir ini.” Bayu
meneruskan pembicaraan yang tadi sempat terhenti
“pacarmu?” aku bertanya mencoba
memastikan
“iya, tiap kali aku telpon dia suaranya
beda kaya orang habis nangis.” Jleb! Seperti ada sesuatu yang menusuk jantung
hatiku entahlah benda tajam atau benda tumpul tapi rasanya sangat sakit, naluri
ku sebagai wanita begitu terasa. Aku merasa bersalah sangat bersalah saat itu,
tak terasa bulir-bulir air keluar dari sudut mataku dengan sigap aku meyekanya
dengan punggung tanganku berharap dia tak melihat air mataku.
“aku minta maaf..” kataku sedikit
terbata
“aku tau aku salah sudah berada diantara
kalian berdua, aku salah telah masuk ke dalam hidupmu, membuat pilihan berat
dalam hidupmu seperti ini. Aku sadar kalau yang kita jalani ini akan berujung
seperti ini tapi aku tetap paksakan menjalaninya. Bodoh sekali aku, lebih bodoh
dari keledai...” aku melanjutkan kalimatku dengan suara yang sedikit berubah
menjadi lirih, air mataku sudah berada disudut mataku namun aku paksa tahan
agar tak keluar.
“Aku sadar aku bodoh tapi aku tak pernah
mau berhenti mencintai kamu. Aku pantasnya disebut apa??” klimaksnya aku tak
dapat membendung lagi air mata, air mata ku keluar dan ku palingkan wajahku
dari Bayu berharap Bayu tak melihat air mataku, namun aku gagal Bayu telah
terlebih dulu melihat aku menangis. Ia menarikku dan memelukku.
“Kita gak bisa terus menerus seperti
ini, tiap kali aku lihat kamu aku ingat dia. Tiap kali aku lihat dia aku ingat
kamu. Aku gak mau menyakiti kamu, menyakiti dia.” Bayu berkata perlahan dan aku
terisak.
“Baiklah, sudah saatnya kita akhiri
semuanya Bay. Kita gak mungkin terus seperti ini. Aku juga wanita aku tau
perasaan dia seperti apa.” Aku melepaskan pelukan Bayu dan aku mencoba
menguatkan diriku sendiri
“Tapi aku tau kamu gak bisa, aku tau
kamu gak sekuat sekarang...”
“Kamu tenang aja Bay, aku bisa kok. Aku
kuat...” kataku seraya tersenyum tak sesuai dengan keadaan hatiku.
“Kamu harus cari pengganti aku dulu,
biar aku yang sakit liat kamu sama yang lain. Aku gak mau kalo ninggalin kamu
dalam keadaan seperti ini.”
“Iyaa, masalah cari pengganti kamu
gampang Bay. Aku gapapa, aku bisa tanpa kamu..”
Bayu hanya diam...
“Kita teman yah sekarang??” kataku yang
masih saja membohongi hatiku
Bayu masih saja terdiam, termangu memandangiku,
aku ulurkan jari kelingkingku tanda persahabatan. Bayu tak menggubrisnya..
“Please Bay.. kita gak bisa
terus-terusan seperti ini..” dan akhirnya Bayu meraih tanganku menyematkan jari
kelingkingnya pada jari kelingkingku. Seketika aku seperti kehilangan tulang,
aku lemas. Aku harus benar-benar menerima kenyataan menjauh dari hidup Bayu.
Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 8
malam. Langit sudah berganti warna, pendaran cahaya di langit bertabur begitu indahnya.
Bayu beranjak dari duduknya, berdiri menatap langit.
“kamu sini deh, bulannya bagus banget..”
Kata Bayu seraya menarik lembut tanganku, Aku pun beranjak dari dudukku
mengikuti Bayu berdiri menatap langit.
“wah iya.. Bulannya indah banget yah,
sinarnya terang banget..” kataku
“liat deh bintangnya juga banyak
banget..” Bayu berkata sambil menunjuk ke arah benda langit itu, aku hanya
tersenyum dan mataku melihat kemana jari telunjuk Bayu mengarahkan ke langit.
“oke, udah malam juga nih. Aku harus
anter kamu pulang nanti takutnya kemaleman sampe rumah kamu..”
“oke..”
“yaudah, jangan nangis lagi yaah kamu..”
Kata Bayu memberikan senyum terbaiknya sambil mengelus lembut pipiku.
Selama perjalanan pulang aku dan Bayu
hanya terdiam, tak ada kata yang terucap. Bayu sibuk mengendarai sepeda
motornya dan aku sibuk mendengarkan musik dengan hati yang tak ditempatnya.
Bayu beberapa kali melontarkan pertanyaan, aku hanya menjawab sekenanya saja.
Hingga akhirnya sampai di depan rumahku, aku hanya tertunduk lesu menyembunyikan
air mukaku.
“Makasih ya Bay buat hari ini, aku
seneng banget pergi seharian sama kamu.”
“Aku yang harusnya bilang terima kasih
kamu udah mau anter aku kesana-kemari.”
“Iya sama-sama kalo begitu...” kataku
sambil tersenyum
“Yaudah aku pamit duluan ya. Aku gak mau
liat kamu sedih ah..”
“Iya gak kok Bay..” kataku sambil
tersenyum dan itulah akhir pertemuanku dengan Bayu hari itu tak begitu banyak
bicara di akhir pertemuan kami.
***
Menjelang tengah malam aku masih saja
terjaga dari tidurku memikirkan keputusan yang aku dan Bayu ambil tadi sore.
Betapa aku harus membiasakan diri nantinya tanpa Bayu, betapa aku harus
mengubah ritme hatiku terhadap Bayu nantinya.
Aku melirik ponselku dan tak ada
pemberitahuan sama sekali di ponselku. Sepi...
“biasanya
Bayu kasih kabar kalo udah sampe rumah. Ini gak sama sekali..”
pikirku. Aku menghela napas panjang, aku harus terbiasa tanpa dia mulai
sekarang. Namun, sebelum benar-benar menjauh dari Bayu aku ingin mengirimi Ia
pesan teks. Aku mainkan jemariku di atas keypad ponselku.
“Terima
kasih ya kamu udah mengisi hari-hari aku, hidupku jadi berwarna semenjak ada
kamu, aku tak pernah merasa kesepian lagi semenjak ada kamu. Terima kasih untuk
waktu yang kamu berikan padaku, terima kasih untuk segalanya waktu, materi,
tenaga, cinta dan kasih yang kamu berikan padaku selama ini. Aku bahagia sekali
bisa berada dekat dengamu. Maaf kalau aku telah masuk dalam hidupmu, maaf aku
telah masuk dalam hubungan percintaanmu berada di dalamnya. Maaf aku sudah
mencintai kamu di waktu yang salah. Maaf aku telah membuat pilihan berat dalam
hidupmu. Tolong cerita kita selama ini hanya kita saja yang tau dan tolong
perbaiki hubunganmu dan kekasihmu.. Kita teman yaa
sekarang :) ”
Tak terasa saat aku mengetik pipiku
basah karena air mataku sendiri. Aku menangis sedu dibalik bantal, aku semakin
menangis hebat setelah hampir satu jam sms ku tak dibalas Bayu. Mungkin ini
sudah saatnya aku harus benar-benar menerima kenyataan bahwa aku harus
kehilangan orang yang aku sayang.
Tak berapa lama ponselku berbunyi tanda
sms masuk. “mungkin Bayu..” pikirku
dengan segera aku seka air mataku, aku raih ponselku aku buka pesan masuk itu
dan ternyata itu dari Robby.
From
: Robby Surya
Lagi
apa??
Robby datang melalui pesan teks saat aku
benar-benar sedang terpukul sedih. Mungkin aku terbawa suasana aku membalasnya
hanya dengan emote “:`( “ {read:sedih} .
Tak berapa lama Robby membalas
Robby
: kok sedih?? Kamu kenapa??
Me : gapapa kok
Robby:
sedih karena kangen aku ya?? Gara-gara liburan kita gak bisa ketemu nih.hehehe
Me :hahaha... bisa aja deh :D mau tidur
duluan ya maaf sudah tengah malem juga nih
Entah mengapa sikap Robby malam itu manis
manja sekali. Aku tak begitu menanggapi karena aku sendiri tak bisa berpikir
jernih, aku masih fokus terhadap satu nama yaitu Bayu. Tak berapa lama ponselku
kembali berdering tanda sms masuk. Ku lihat layar ponselku sebuah sms dari
Robby. Ku hela nafas panjang “mungkin ini balasan dia yang terakhir di malam ini.”
Pikirku
Robby : oke.. goodnight yaa..
love you....
Jegeer!! Sebuah pernyataan yang
mencengangkan yang aku baca... Sekali lagi aku tak bisa berpikir jernih, aku
hanya ingin sendiri saat ini itu saja. Dengan cepat aku membalas tanpa berpikir
lagi.
Me : apaan sih love you?? Emang kita
pacaran?
Robby:
oke, aku sayang sama kamu.. Sayang gak berarti kita harus pacaran kan?
Pacaran
akan membuat kita pisah nantinya dan aku gak mau itu.
Me : oh begitu.. oke.. makasih ya udah
sayang sama aku..
Robby:
iya.. aku takut kalo kita pacaran aku takut nyakitin kamu dan aku gak mau
Me : iyaa by, aku ngerti kok... boleh aku
izin tidur sekarang??
Robby:
boleh kok... goodnight baby :*
Alasanku untuk tidur sedikit tertunda
karena pernyataan Robby yang membuat membelalakan mata saat membacanya. Aku tak
menyangka Robby telah berani mengungkapkan perasaannya kepadaku. Otakku semakin
tak menentu arah berpikirnya. Aku masih menanti Bayu, sedangkan di arah lain
ada sosok Robby yang telah menawarkan hatinya untuk aku berjalan didalamnya.
Apa seperti ini tangan Tuhan bekerja?? Begitu cepat saat yang satu pergi
datanglah yang lain menghampiri. Berkali ku berpikir hingga akhirnya ku
terlelap bersama pikiran-pikiran yang belum ku temui jawabannya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar