Kisah
ini dimulai lagi dengan sejuta perubahan terjadi di hidupku. “Hidup itu memang suatu perubahan dan pasti
penuh dengan kejutan.”. Memasuki dunia baru di semester baru bertemu dengan
orang baru dengan karakter baru. Disisi lain dikelas itu memang ada seorang
laki-laki yang cukup dekat denganku sebut saja namanya Bayu. Awalnya aku hanya
menganggap biasa perlakuan yang Bayu berikan padaku. Tapi lambat laun perhatian
dia amat sangat berbeda, dia mulai meruntuhkan dinding pertahanan hati ku yang
kuat itu. Bayu salah satu anak yang jenius dikelas, otaknya kritis dan dia
mempunyai kelebihan disemua panca indranya, Ia bisa melihat kejadian yang belum
terjadi atau disembunyikan oleh orang lain. Untuk menaruh hati padanya amat sangat
mudah karena kepribadiannya yang sangat welcome
kepada siapapun. Mungkin awalnya perasaan aku ke Bayu hanya kecelakaan kecil,
karena aku sungguh tidak bisa membedakan mana yang namanya gombal atau
keseriusan. Aku telan habis semua perkataan manis Bayu, perhatian manis dia
hingga akhirnya aku merasakan desir-desir berbeda dihati.
Aku
saat itu tahu bahwa Bayu sudah memiliki kekasih. Aku masih bisa menahan saat
dia mencoba meluncurkan kalimat gombalnya ku alihkan menjadi sebuah candaan
memecahkan suasana. Namun entah mengapa Ia tak juga menjauh semakin lama
semakin dekat, semakin lama semakin manis saja yang aku tengguk darinya.
Posisinya saat itu aku sudah lama sendiri kurang lebih setengah tahun tidak
dihujani perhatian sedalam itu maka ku telan habis semua perkataan manis dia
dan mulai salah mengartikan perhatiannya yang aku rasakan cinta. Saat aku
melihat Bayu dan kekasihnya berdua rasanya seperti teriris, mungkin ini yang
disebut cinta dan inilah rasanya cemburu.
Berkali aku coba mengartikan apa perasaan
ini dan dapat aku tarik kesimpulan bahwa ini bukan rasa yang biasa, ini cinta. Ia
tak pernah absen untuk menghubungi ku setiap harinya, aku dibuat nyaman
berjam-jam bercerita dengannya melalui telpon. Hingga akhirnya dia menguak
semua perasaan yang Ia rasakan, diluar dugaan dia memiliki rasa yang sama
dengan apa yang aku rasakan padanya. Ia kerap kali cemburu melihat aku dengan
teman laki-lakiku, Ia kerap kali terdiam karena menahan rasa cemburunya. Aku
dan dia memutuskan untuk menjalani diluar norma yang berlaku, saat dia memiliki
kekasih dan kami menjalaninya pula, menjalani dengan segala kerahasian.
“Cinta memang bisa datang kapan
saja, cinta datang karena terbiasa.”
Entahlah mengapa hati ini tertarik dengan hati yang sudah dimiliki orang lain.
Aku merasa nyaman dengannya dan buruknya aku mulai terbiasa dengan
perhatiannya. Aku merasa takut kehilangan meski jelas-jelas aku tak dapat
memilikinya. Aku mencari suaranya ketika hari dimana dia tidak meneleponku, aku
mencari-cari messagenya ketika ia tidak mengirimi aku pesan teks. “Cinta bisa membuat dirimu bodoh didepan
orang yang kau sukai.” Aku terlalu bodoh untuk dia yang sudah dimiliki
wanita lain namun aku tak bisa mengabaikan jutaan perhatian yang Ia berikan. “Cinta membuat akal sehatmu tak berguna,
melumpuhkan logika.”
Aku
dan Bayu sering menghabiskan waktu berjam-jam ditelpon mengumbar kata cinta,
tak berhenti mengetik pesan teks yang berisi panggilan sayang, berbagi cerita
segalanya. Logika ku menyatakan bahwa itu salah namun hatiku tak bisa mengendalikan
perasaan aku terhadap Bayu, aku terlalu naif jika mengabaikan Bayu. Berkali aku
berpikir keras, aku temui jawabannya bahwa apa yang aku jalani dengan Bayu akan
berakhir sia-sia, bahwa apa yang aku jalani dengan Bayu pada akhirnya akan
melukai diriku sendiri, bahwa pada akhirnya aku yang harus mundur dari hidup
Bayu, bahwa pada akhirnya jika semua terbongkar semua mencerca diriku. Namun ku
ikuti kata hati, aku tetap berjalan seperti air mengalir.
***
Aku
dan Bayu banyak menghabiskan waktu berdua, bercanda, bercerita seperti sepasang
kekasih lainnya. Ia sering datang ke rumah ku untuk sekadar bertemu dan
bercerita, dia mengajak keluar rumah saat malam dimana kebanyakan sepasang
kekasih pergi, ya malam minggu. Sudah lama aku tak merasakannya pergi berdua
dibawah langit malam bergandeng tangan menikmati lampu kota dan makan makanan
kaki lima. Oh, indahnya malam mingu pertama ku dengan dia. Tak berhenti dimalam
itu perjalanan cinta ku dan Bayu terus berlanjut di hari-hari berikutnya.
Sampai dimana ada ide yang sangat briliant Ia menuangkan ide menggambar di
tembok kamarku dan terciptalah sebuah menara Eiffel berdiri tegak di dinding
kamarku dipadukan dengan warna warni yang menyala, sungguh indahnya. Salah satu
mimpiku Ia wujudkan. Aku tak dapat menggambarkan apa yang aku rasa saat itu,
jika ada kata yang melebihi bahagia mungkin akan aku ucapkan, aku teriakan. Tak
pernah aku merasa sebahagia ini, merasa senyaman ini dengan seorang lelaki.
***
Waktu terus
berputar, hari berganti perasaan ragu sering kali menghampiri. Setiap kali kami
bertemu diujung pertemuan selalu terlontar kalimat “sampai kapan kita seperti
ini?”. Berkali aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini dan berkali pula
aku berpikir betapa aku harus membiasakan diri nantinya tanpa Bayu, betapa aku
harus mengubah ritme hatiku terhadap Bayu nantinya. Namun aku dan Bayu tak
pernah benar-benar berakhir, hubungan aku dan Bayu kembali membaik lagi. “aku terlalu naif untuk mengabikanmu. I’m stuck
on you..”
“it’s like reading a book over and over again when
you already know how it ends.”
Hari-hari
penuh cinta kembali mendera diriku. Hingga saat dimana Bayu datang ke rumahku
dengan membawa setangkai mawar putih. He
is so romantic person. Ia menepati janjinya. Aku langsung memeluk Bayu erat
mengucapkan beribu terima kasih padanya. Begitu seterusnya kita menjalin kasih.
Kita
bisa terbang bebas bersama tak melihat keadaan sekitar namun ada kalanya saat
kita benar-benar diatas kita dipaksa turun ke bawah atau bahkan langsung jatuh
ke bawah. Berkali-kali kita jatuh
berkali-kali kita saling membantu untuk bangun dan berjalan kembali. SAKIT!
Hubungan ini diibaratkan seperti “memiliki
sebuah baju baru namun disimpan terus dalam lemari.” Cinta yang penuh perjuangan.
***
Setiap hari aku harus bersikap
tegar, bersikap tak merasakan apa-apa padahal aku cemburu. Dihadapan kekasihnya
aku bersikap seperti teman biasa namun dalam hatiku menumpuk rasa cemburu yang
sudah teramat perih. Aku, Bayu, kekasihnya dan beberapa teman lain menghabiskan
waktu pergi menonton bioskop, makan siang bersama dan aktivitas lainnya dimana
aku melihat dengan jelas Bayu dan kekasihnya bermesraan tepat dihadapanku.
Mereka tak tau tentang hubungan aku dan Bayu, mereka tak tahu betapa sakit yang
aku rasakan.
“Jadilah selingkuhan maka kamu akan belajar caranya
bersabar” –Raditya Dika via Twitter-
Lelah
yang aku rasakan semakin hari aku semakin mencintai Bayu, semakin sakit pula
yang aku rasakan. Aku tak ingin membuat orang lain sakit karena cinta yang
salah ini, aku bertekad untuk menyudahinya. Sungguh.
Bayu
masih tak mempercayai kata-kataku, namun aku masih tetap pada pendirianku. Bayu
akhirnya mau menyudahi, Ia hanya mengatakan “Aku sayang kamu. Maaf telah
membuatmu seperti ini.”
Sungguh
aku berat meninggalkan Bayu yang selama ini telah mengisi tiap lembar diary ku,
buku harianku diisi oleh spidol warna-warni semenjak Bayu datang. Kini dan
tentunya nanti buku diary ku diisi oleh tinta hitam lagi, tanpa cerita Bayu
didalamnya. Aku tak ingin menyakiti siapapun, terutama menyakiti diriku
sendiri. Biarlah aku merasakan sakitnya sekarang sebelum semuanya semakin sakit
dan aku semakin tak kuasa menahan rasa sakit itu.
“orang besar itu adalah orang yang bertanggung jawab
mengakui kesalahannya dan meminta maaf...”
Aku
merasa sangat bersalah pada kekasih Bayu, kekasih Bayu pun sudah menyimpan
curiga diantara cinta aku dan Bayu. Maka hari ini aku temui kekasih Bayu, aku
melakukan hal gila. Namun tak apalah aku ingin segala masalah ini tuntas hingga
bersih. Aku bertemu kekasih Bayu di suatu tempat dimana ada ketenangan disana,
tak ada orang lain selain aku dan kekasih Bayu. Aku mulai memperkenalkan diriku
secara resmi dengan kekasihnya. Kami duduk berhadapan, saling menatap mata
layaknya 2 orang dewasa sedang menyelesaikan masalah. Ku tarik nafas panjang
menenangkan diriku sendiri dan mulailah aku membuka percakapan siang itu. Aku
meminta maaf kepadanya dengan tulusku. Padahal menurut salah satu penulis
favoritku, Bernard Batubara pernah membahas sedikit tentang novelnya “CINTA.”
Bahwa dalam kebanyakan orang menganggap bahwa dalam sebuah perselingkuhan, si
selingkuhan adalah satu-satunya pihak yang patut disalahkan. Seolah-olah si
pelaku selingkuh tidak bersalah karena ia sedang khilaf. Dan yang diselingkuhi
sama sekali suci karena ia adalah korban. Semua pihak sama-sama bisa
disalahkan.
Tak
apa aku meminta maaf lebih dulu karena “Apologizing
doesnt mean always mean you are wrong and the other person right. It just means
you value relationship more than ego.” –Andrei Aksana-
“aku
selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan pacarmu...” Kata-kata terakhir aku
diujung kisahku dengan Bayu. Menyakitkan. Sampai saat ini aku masih berteman
baik dan sedang mencoba untuk menghilangkan rasa cintaku kepada Bayu. Do’akan J