Liburan
telah usai seiring dengan berakhirnya hubungan aku dan Bayu kemarin sore.
Segudang aktifitas kembali mengisi hari-hariku. Kesibukan kuliah merenggut
waktuku.
Hari
ini mata kuliah pertama, hari pertama juga aku dan Bayu dipertemukan lagi di
kampus. Saat mata kuliah berlangsung Bayu tak jauh duduknya dari tempat ku
duduk hanya berseling 4 orang saja. Tak ada percakapan diantara kami, tak ada
tatapan mata yang hangat, semua begitu dingin dan pasif. Aku lebih banyak diam
saat mata kuliah berlangsung sedangkan Bayu memang karakter dia aktif Ia sering
membuat celotehan-celotehan yang membuat seluruh penghuni kelas tertawa,
kecuali aku. Aku diam.
Tak
beberapa lama ponselku berdering, pesan masuk. Ponsel memang ku letakan di atas
meja. Aku tau itu pesan itu dari Bayu tanpa harus aku baca, tak perlu aku baca
langsung ponselku ku masukan ke dalam tas. Bayu kecewa melihat tingkahku saat itu,
aku paham sekali. Hingga mata kuliah berakhirpun aku masih saja diam. Aku, Wily
dan Bayu berjalan beriringan keluar kelas. Sesekali Bayu dan Willy
bercakap-cakap, aku hanya mendengarkan. Namun ku lihat diujung lorong kelas ku
dapati kekasih Bayu ingin menghampiri, aku tarik Wily untuk berjalan mundur
beberapa langkah, mungkin saat itu Willy curiga atas sikapku. Ah, aku tak
peduli. Aku cemburu melihat mereka berdua, ini pertama kalinya setelah sekian
lama aku tak pernah melihat mereka berdua lagi.
Langkahku
terhenti, Willy juga menghentikan langkahnya. Bayu menghampiri kekasihnya,
mereka terlibat percakapan. Aku mencoba menstabilkan suasana, mencoba untuk
tidak runtuh saat itu, aku berbicara apa saja ke Willy bertanya pertanyaan yang
tak penting untuk ditanya, untuk dijadikan obrolan. Muka Willy mengguratkan
keheranan yang luar biasa, namun Ia tak bertanya mengapa. Telah ku dapati
kekasih Bayu telah menjauh, Bayu menoleh seraya berseru “Ayolah.. makan
siang..” Setelah mendapat kode seperti itu aku dan Willy melanjutkan langkah. “Dalam keadaan seperti tadi apa Bayu mikirin
perasaan aku?? Kenapa dia tampak begitu tenang?? Sedangkan aku hampir mati
lemas melihat mereka.. Andai aku bisa membaca pikirannya.” Kataku dalam
hati
Hari
ini aku tak banyak bicara, aku lebih banyak diam. Di satu sisi aku cemburu
namun di sisi lain aku merasa bersalah. Yap, aku masih normal. Pikiran aku
masih berjalan dengan baik aku masih bisa membedakan mana yang baik dan mana
yang salah seperti saat ini.
Berkali
aku ingin menceritakan kisah ini kepada orang-orang yang aku percaya namun aku
urungkan niatku.. Namun aku juga beban sendiri, aku tak bisa memendam semuanya
seorang diri, aku butuh seseorang yang bisa menyadarkanku. Aku memutuskan untuk
bercerita ke Reni sahabatku sejak SMP, namun Ia tak mendengarkan ceritaku aku
diabaikannya. Tuhan cobaan apa lagi ini. Aku mulai berlari pada Rendi
sahabatku, namun Ia mengatakan “gue udah bilangin ya sejak awal, jauhin itu
cowok. Lo malah gak jauh juga. Capek gue sama lo. Udah ah, gue bingung yang
jelas gue udah kasih tau lo sejak awal.” Aku mati lemas dibuatnya. Aku bingung
kemana aku harus bersandar.. “Ketika tak
ada lagi yang menyediakan telinganya semenjak perkataan mereka ku anggap
sampah.” Aku menanggung beban ini sendirian, ya seorang diri. Berusaha
keluar sendiri dari lingkaran hitam ini namun aku tak mampu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar