Kisah
ini dimulai lagi dengan sejuta perubahan terjadi di hidupku. “Hidup itu memang suatu perubahan dan pasti
penuh dengan kejutan.” . Memasuki dunia baru di semester baru bertemu
dengan orang baru dengan karakter baru. Dimana kelas ini memberikan aku
kenyamanan karena mereka itu seru, asik, rame. Gak perlu panjang lebar
nyeritain gimana setiap kejadian yang seru di kelas dan sebagainya karena bukan
itu inti yang ingin aku bagi.
Saat
pertengahan semester. Siang itu cuaca labil banget tiba-tiba hujan turun saat
aku dan Mia berada di tukang photo copy kampus. Mia tengah sibuk dengan tugasnya
sementara aku asyik duduk termenung melihat hujan. Disebelah ku ada seorang
cowok yang juga lagi duduk dan disinilah perkenalan aku dan dia dimulai.
Namanya
Arif dia anak semester 8 dan lagi nyiapin skripsi, dia mengajak ku ngobrol dan
aku tercengang saat tahu dia itu bisa membaca pikiranku. Awalnya aku biasa
saja, tapi kok lama-lama saat dia baca karakter dalam diriku itu hampir
keseluruhan benar, hanya senyum kecil yang aku lakukan saat itu dan mengatakan “shit” dalam hati. Bukan hanya karakter
dalam diriku yang dibaca sama dia tapi dia juga mulai memprediksi apa yang akan
terjadi dengan aku kedepannya terutama masalah percintaan.
“lo itu susah buka hati ya?”
“iya...”
“trauma kan?” aku hanya mengangguk pelan
sebagai jawaban
“tenang aja kok, santai aja. Ada yang
suka sama lo temen sekelas lu juga.” Dia melanjutkan prediksinya
“Hah?? Masa sih?” kata ku kaget, dia
hanya mengangguk tanda mengiyakan
“kayanya gak ada deh, di kelas semua
cowoknya biasa aja ke gue. Gak ada yang deket.”
“ya pokoknya ada nanti akhir semester 3
atau semester 4 lu tau orangnya siapa.”
“oh oke..” kata ku masih tak percaya..
“ya cuma mau kasih tau aja sih, gak ada
yang bisa melebihi Tuhan kan?” kata senior itu.
Yap, aku suka kata-kata terakhir dia “gak ada yang bisa melebihi Tuhan, manusia
Cuma bisa berencana atau prediksi toh pada akhirnya Tuhan juga yang
menentukan.”
Aku telan perkataan senior itu
dalam-dalam dan tak ada niatan untuk bercerita kepada siapapun pada saat itu.
***
Waktu berjalan
begitu cepat semester tiga sudah berada dipenghujung. Semakin hari perkataan
senior itu mulai terbukti, ku dapati seseorang dikelas gerak-geriknya sangat
membuat diriku bingung. “Apa dia yang
jatuh cinta dengan gue?” pertanyaan-pertanyaan kecil itu sering
muncul dibenakku namun semua aku tapis dengan kalimat “mungkin gue hanya kePDan”. Sampai akhirnya aku tak bisa
menyembunyikan apa yang aku rasa dari sikap aneh cowok itu hingga akhirnya
aku bercerita ke salah satu teman
dekatku dikelas namanya Tiara.
Waktu itu aku makan siang dengan
Tiara di salah satu restoran cepat saji dekat kampus. Awalnya aku ragu untuk
menceritakan itu pada Tiara, sambil mengaduk-aduk minuman bersoda aku mencoba
memulai menceritakan apa yang menjadi beban pikiranku selama ini.
“Tiara, gue mau
cerita sama lo deh” kata ku memulai bercerita
“cerita apa??”
“gue aneh deh
sama sikap Robby akhir-akhir ini.” Ya, cowok yang aku curigai menyimpan rasa
sama aku itu namanya Robby.
“what’s wrong
with him?”
“gue ngerasa
akhir-akhir ini sikap dia ke gue berubah.. hmm, maksud gue perhatian, sok manis
dan ya gitu deh.”
“ciyeeee...terus..terusss??”
Tiara mulai ngeledek
“oke ra, gue
rasa ini gue kePDan atau entahlah apapun itu tapi gue ngerasa ya kaya gitu.”
“yaudah gapapa
sih kalo nanti pada akhirnya kalo emang bener si Robby ada hati sama lo.. cocok
kok.” Aku hening sesaat dan akhirnya aku menceritakan pertemuanku dangan senior
beberapa waktu lalu ke Tiara, menceritakan tiap poin yang diprediksi oleh
senior itu.
“okelah, liat
aja ke depannya yaa gue gak mau terlalu terpaku sama apa yang dikatakan senior
itu.” Kata ku menarik kesimpulan.
“entah
begitu mudah menilai seseorang saat jatuh cinta, kelakuannya begitu aneh tak
terlihat seperti biasanya.”