Catatan Domba Betina

Sabtu, 23 Maret 2013

The Wrong Way......


            Sebuah pagi yang berbeda, pagi yang ku temui di wilayah yang sangat asing.  Semalaman ku habiskan dengan berkumpul bersama teman-teman. Aku ingat kejadian semalam saat bersama teman-teman mendendangankan berbagai lagu aku tersadar ada 2 tangan yang berbeda menggenggam tangan kanan dan kiri ku. Ada dua jiwa yang menggenggam hatiku meskipun hatiku belum sepenuhnya terbuka..
“Cinta memang bisa datang kapan saja, cinta datang karena terbiasa.” Entahlah mengapa hati ini tertarik dengan hati yang sudah dimiliki orang lain padahal disisi lain ada laki-laki yang hatinya belum dimiliki oleh siapapun dan rela memberikan hatinya untukku.
Awalnya aku tidak menyukai kedua laki-laki itu, aku terlalu sibuk memperhatikan laki-laki lain yang kusukai sejak pertemuan pertama, hingga waktu memberikan jawaban bahwa aku tidak pantas mendapatkan laki-laki yang kusukai sejak pertemuan pertama itu. Hingga waktu memberikan jawaban lagi bahwa laki-laki yang hatinya termiliki oleh orang lain itu sedikit mulai mencoba meruntuhkan dinding pertahananku. Yap, dia Bayu. Aku merasa nyaman dengannya dan buruknya aku mulai terbiasa dengan perhatiannya. Aku merasa takut kehilangan meski jelas-jelas aku tak dapat memilikinya. Aku mencari suaranya ketika hari dimana dia tidak meneleponku, aku mencari-cari messagenya ketika ia tidak mengirimi aku pesan teks. “Cinta bisa membuat dirimu bodoh didepan orang yang kau sukai.” Aku terlalu bodoh untuk dia yang sudah dimiliki wanita lain namun aku tak bisa mengabaikan jutaan perhatian yang Ia berikan. “Cinta membuat akal sehatmu tak berguna, melumpuhkan logika.”
Di lain sisi ada laki-laki yang juga mencintaiku namun tanpa perhatian terhadapku, hatinya belum dimiliki siapapun namun sikapnya yang entahlah aku tak mengerti. Dia robby dengan segala sikap cueknya, aku tak suka...
                                                          ***

Sejuta Perhatian...


            Bagaimana dengan Robby? Robby adalah tipikal cowok yang amat sangat cuek, aku sulit membuktikan apa dia benar-benar menyimpan rasa terhadapku. Akhirnya apa yang menjadi praduga aku selama ini benar-benar menjadi kenyataan, Robby benar menaruh hati padaku. Aku dengar dari kesaksian beberapa orang dikelas.
            Beberapa pekan sebelum akhirnya aku dan Bayu memutuskan untuk menyatukan hati ada sebuah kejadian di Hari Minggu acara kelas di rumah Willy, aku memutuskan untuk pergi dengan Bayu karena pada saat itu kami berdua sudah cukup amat sangat dekat. Mungkin ini yang menjadi timbulnya sebuah pertanyan-pertanyaan kecil dipikiran teman sekelas. Saat itu Robby juga hadir dan Ia sudah menunjukan sikap beraninya mendekatiku. Aggresive maybe..
            Semalam suntuk kami menghabiskan waktu berpesta barbeque di halaman rumah Willy. Tertawa, bercanda, bernyanyi bersama, bermain PS dan segala hal dilakukan untuk menciptakan suasana meriah. Aku duduk sendiri melihat percikan api yang berasal dari panggangan datanglah Robby membawa satu tusuk sosis bakar dan duduk disebelahku Ia menyuapiku sosis yang Ia bakar tadi.
“mau gak?” Dia memberikan tusukan lidi yang berisi sosis bakar
“woow, mau doong!” kataku berseru sambil mencoba meraih sosis yang ada digenggamannya
“biar gue yang suapin.” Robby sambil menyodorkan makanan itu dan aku membuka mulut mencicipi sedikit..
“gimana enak gak?? Gue yang bakar looh.. bumbunya pas gak?” Kata Robby bertanya sambil menunggu komentarku
“enak kok, enak bangeet.. makasih yaa by.” Kataku sambil mengunyah dan disambut senyum sumringah Robby
“yaudah gue mau lanjut bakar dulu yaa..” pamit Robby..
            Saat itu Bayu berada di ruang tamu sedang asik main Play Station dengan teman yang lain. Tak lama Bayu keluar dan bergabung membantu pemanggangan di halaman rumah Willy. Aku masih betah duduk di tempat yang sama melihat percikan bara api dan mendengarkan lagu yang dinyanyikan teman lainnya. Diluar dugaanku Bayu datang menghampiri membawa satu tusuk sosis bakar dan Ia menawariku sama persis dengan apa yang dilakukan Robby beberapa menit lalu.
“kamu mau gak??” Bayu menawariku belum sempat aku jawab Ia sudah menyodorkannya kepadaku menyuapiku.. Aku cicipi sedikit sama seperti tadi dan diiringi senyum manisnya. Aku dan Bayu memang memanggil satu sama lain dengan sebutan “aku-kamu” saat kami terlibat percakapan berdua, namun di depan teman-teman lainnya kami seperti biasa “lo-gue”
“main PS yuuk..” dengan cepat Bayu meraih tanganku dan mengajakku ke ruang tamu untuk beradu Play Station. Aku yakin Robby tidak melihat adegan ketika Bayu menyuapiku dan meraih tanganku. Semoga saja karena aku sangat menjaga perasaannya meskipun aku belum dengar langsung perasaan Robby terhadapku.
“ohh, jadi gitu gue-nya diduain..” kata Robby setengah berteriak mengejutkan aku dan Bayu yang sedang asik bertarung Play Station.
“eh, apaan sih lo By.. orang lagi main PS gue sama si Bayu.” Kata ku sedikit salah tingkah dan Bayu hanya tesenyum kecil.
            Saat acara di rumah Willy itu sejujurnya aku dan Bayu sudah merasa nyaman satu sama lain namun untuk menjaga perasaan Robby aku dan Bayu memilih biasa saja di depan teman-teman bukan hanya perasaan Robby saja termasuk perasaan kekasihnya Bayu maka dari itu kami berdua memilih bungkam, membiarkan hati kami yang berbicara satu sama lain.

                                                                        ***

Ku Telan Habis Semua Ucapan Manismu


            Disisi lain dikelas itu memang ada seorang cowok yang cukup dekat denganku namanya Bayu. Keperibadian cowok itu memang cukup bersahabat atau lebih tepatnya terlalu bersahabat. Dia sering melontarkan kalimat-kalimat gombalnya entah untuk siapapun itu salah satunya aku. Ya, he is!
            Awalnya aku hanya menganggap biasa perlakuan yang Bayu berikan padaku, karena selama ini Bayu juga seperti itu ke cewek-cewek lain mungkin sudah habit dia seperti itu. Tapi lambat laun perhatian dia amat sangat berbeda, dia mulai meruntuhkan dinding pertahanan hati ku yang kuat itu. Bayu salah satu anak yang jenius dikelas, otaknya kritis dan dia mempunyai kelebihan disemua panca indranya, Ia bisa melihat kejadian yang belum terjadi atau disembunyikan oleh orang lain. Untuk menaruh hati padanya amat sangat mudah karena kepribadiannya yang sangat welcome kepada siapapun. Mungkin awalnya perasaan aku ke Bayu hanya kecelakaan kecil, karena aku sungguh tidak bisa membedakan mana yang namanya gombal atau keseriusan. Aku telan habis semua perkataan manis Bayu, perhatian manis dia hingga akhirnya aku merasakan desir-desir berbeda dihati. Hingga desiran hatiku terdengar sampai ke telinga Bayu.
            Aku saat itu tahu bahwa Bayu sudah memiliki kekasih. Aku masih bisa menahan saat dia mencoba meluncurkan kalimat gombalnya ku alihkan menjadi sebuah candaan memecahkan suasana. Namun entah mengapa Ia tak juga menjauh semakin lama semakin dekat, semakin lama semakin manis saja yang aku tengguk darinya. Posisinya saat itu aku sudah lama sendiri kurang lebih setengah tahun tidak dihujani perhatian sedalam itu maka ku telan habis semua perkataan manis dia dan mulai salah mengartikan perhatiannya yang aku rasakan cinta. Saat aku melihat Bayu dan kekasihnya berdua rasanya seperti teriris, mungkin ini yang disebut cinta dan inilah rasanya cemburu.
            Berkali aku coba mengartikan apa perasaan ini dan dapat aku tarik kesimpulan bahwa ini bukan rasa yang biasa ini cinta... Ia tak pernah absen untuk menghubungi ku setiap harinya, aku dibuat nyaman berjam-jam bercerita dengannya melalui telpon. Hingga akhirnya dia menguak semua perasaan yang Ia rasakan, diluar dugaan dia memiliki rasa yang sama dengan apa yang aku rasakan padanya. Ia kerap kali cemburu melihat aku dengan teman laki-lakiku, Ia kerap kali terdiam karena menahan rasa cemburunya. Aku dan dia memutuskan untuk menjalani diluar norma yang berlaku, saat dia memiliki kekasih dan kami menjalaninya pula, menjalani dengan segala kerahasian.
                                                                        ***

Sebuah Prediksi dan Kebenarannya


           Kisah ini dimulai lagi dengan sejuta perubahan terjadi di hidupku. “Hidup itu memang suatu perubahan dan pasti penuh dengan kejutan.” . Memasuki dunia baru di semester baru bertemu dengan orang baru dengan karakter baru. Dimana kelas ini memberikan aku kenyamanan karena mereka itu seru, asik, rame. Gak perlu panjang lebar nyeritain gimana setiap kejadian yang seru di kelas dan sebagainya karena bukan itu inti yang ingin aku bagi.
            Saat pertengahan semester. Siang itu cuaca labil banget tiba-tiba hujan turun saat aku dan Mia berada di tukang photo copy kampus. Mia tengah sibuk dengan tugasnya sementara aku asyik duduk termenung melihat hujan. Disebelah ku ada seorang cowok yang juga lagi duduk dan disinilah perkenalan aku dan dia dimulai.
            Namanya Arif dia anak semester 8 dan lagi nyiapin skripsi, dia mengajak ku ngobrol dan aku tercengang saat tahu dia itu bisa membaca pikiranku. Awalnya aku biasa saja, tapi kok lama-lama saat dia baca karakter dalam diriku itu hampir keseluruhan benar, hanya senyum kecil yang aku lakukan saat itu dan mengatakan “shit” dalam hati. Bukan hanya karakter dalam diriku yang dibaca sama dia tapi dia juga mulai memprediksi apa yang akan terjadi dengan aku kedepannya terutama masalah percintaan.
“lo itu susah buka hati ya?”
“iya...”
“trauma kan?” aku hanya mengangguk pelan sebagai jawaban
“tenang aja kok, santai aja. Ada yang suka sama lo temen sekelas lu juga.” Dia melanjutkan prediksinya
“Hah?? Masa sih?” kata ku kaget, dia hanya mengangguk tanda mengiyakan
“kayanya gak ada deh, di kelas semua cowoknya biasa aja ke gue. Gak ada yang deket.”
“ya pokoknya ada nanti akhir semester 3 atau semester 4 lu tau orangnya siapa.”
“oh oke..” kata ku masih tak percaya..
“ya cuma mau kasih tau aja sih, gak ada yang bisa melebihi Tuhan kan?” kata senior itu.
Yap, aku suka kata-kata terakhir dia “gak ada yang bisa melebihi Tuhan, manusia Cuma bisa berencana atau prediksi toh pada akhirnya Tuhan juga yang menentukan.”
Aku telan perkataan senior itu dalam-dalam dan tak ada niatan untuk bercerita kepada siapapun pada saat itu.

***


Waktu berjalan begitu cepat semester tiga sudah berada dipenghujung. Semakin hari perkataan senior itu mulai terbukti, ku dapati seseorang dikelas gerak-geriknya sangat membuat diriku bingung. “Apa dia yang jatuh cinta dengan gue?” pertanyaan-pertanyaan kecil itu sering muncul dibenakku namun semua aku tapis dengan kalimat mungkin gue hanya kePDan”. Sampai akhirnya aku tak bisa menyembunyikan apa yang aku rasa dari sikap aneh cowok itu hingga akhirnya aku  bercerita ke salah satu teman dekatku dikelas namanya Tiara.
            Waktu itu aku makan siang dengan Tiara di salah satu restoran cepat saji dekat kampus. Awalnya aku ragu untuk menceritakan itu pada Tiara, sambil mengaduk-aduk minuman bersoda aku mencoba memulai menceritakan apa yang menjadi beban pikiranku selama ini.
“Tiara, gue mau cerita sama lo deh” kata ku memulai bercerita
“cerita apa??”
“gue aneh deh sama sikap Robby akhir-akhir ini.” Ya, cowok yang aku curigai menyimpan rasa sama aku itu namanya Robby.
“what’s wrong with him?”
“gue ngerasa akhir-akhir ini sikap dia ke gue berubah.. hmm, maksud gue perhatian, sok manis dan ya gitu deh.”
“ciyeeee...terus..terusss??” Tiara mulai ngeledek
“oke ra, gue rasa ini gue kePDan atau entahlah apapun itu tapi gue ngerasa ya kaya gitu.”
“yaudah gapapa sih kalo nanti pada akhirnya kalo emang bener si Robby ada hati sama lo.. cocok kok.” Aku hening sesaat dan akhirnya aku menceritakan pertemuanku dangan senior beberapa waktu lalu ke Tiara, menceritakan tiap poin yang diprediksi oleh senior itu.
“okelah, liat aja ke depannya yaa gue gak mau terlalu terpaku sama apa yang dikatakan senior itu.” Kata ku menarik kesimpulan.
“entah begitu mudah menilai seseorang saat jatuh cinta, kelakuannya begitu aneh tak terlihat seperti biasanya.”