Catatan Domba Betina

Minggu, 04 Maret 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (10)

Selama satu minggu itu aku tak bertukar kabar denganmu, beberapa bulan ke belakang komunikasi kita memang berantakan. Aku selalu berusaha menyibukan diri, aku selalu berusaha untuk tidak terpaku padamu, aku selalu berusaha untuk membunuh perasaan-perasaan itu. Senin - Jum'at aku habiskan untuk bekerja, sementara Sabtu aku menyibukkan diri dengan mengambil kelas kursus bahasa Inggris di belakang kampusku. Aku pernah mengatakannya padamu bahwa aku mengambil kursus, kebetulan saat itu kita sedang bertukar kabar seadanya.

28 Mei 2016 seperti biasa aku sudah berangkat dari rumah menuju tempat kursus mengenakan baju cokelat terusan dengan aksen garis-garis horizontal. Hari itu aku memenuhi janji bertemu dengan seorang teman, kebetulan dia adalah junior di kampus namun usia kita sama. Dia ingin meminjam buku puisi karya Aan Mansyur, saat itu film AADC2 sedang booming sekali. Buku puisi itu sudah ku masukan ke dalam tas sebelum aku berangkat kursus hari ini. Saat kelas sudah 15 menit lagi selesai ponselku berdering tanda pesan masuk, ternyata itu dari Dio.
"Ayra, udah selesai belum kelasnya? Gue udah di kampus nih." Aku dan Dio kenal sejak aku di semester 5 dan Dio di semester 3. Dari pertemuan yang gak disengaja akhirnya kita berteman.
"Gue 15 menit lagi kelar, Di. Bentar ya. Lu tunggu di mana?"
"Gue masih di warung depan sih. Biar gue yang nyamperin lu nanti. Kabarin kalau udah kelar ya."
"Oke."

Ponselku berdering kembali tanda pesan masuk, aku kira Dio ternyata kamu.
"Lagi di mana?" Kamu bertanya di chat
"Kursus."
"Udah selesai?"
"Belum. 15 menitan lagi selesai. Kenapa?"
"Aku lagi di kampus nih, temenin dong. Lagi urus-urus administrasi."
"Yaudah ntar aku ke sana."
"Buruan yaa."
"Ya nanti belum selesai kelasnya."
"Oke, aku tunggu."

Kelas akhirnya bubar tepat sesuai perkiraanku. Aku langsung memberi kabar Dio bahwa aku sudah selesai, aku memintanya untuk menunggu di swalayan sebelah kampus. Aku berjalan kaki menuju swalayan dan ternyata Dio sudah berdiri di samping motor gedenya. Aku dan Dio mengobrol di swalayan itu, aku asyik mengobrol dengan Dio ponsel ku kembali berdering, kamu menghujaniku dengan pesan-pesan.
"Di mana?","Lama banget.","Buruan.","Aku sendirian nih di kantin."
Aku membalas "Iya sebentar plis sebetar 10 menit lagi. Aku ketemu temen ini."
"Buruan, temennya aja sekalian ajak ke sini." Tak ku balas lagi karena aku tidak enak Dio terus menerus mengajak ngobrol. Aku memberikan buku puisi itu pada Dio, Dio dengan sigap membukanya kemudian membacakan sebait puisi itu
"Bandara dan Udara memisahkan New York dan Jakarta......." Dio membacakan puisi itu, aku hanya tersenyum kaku sambil bergumam di dalam hati 'Aduh Dioooo, gue lagi buru-buru ini ditungguin'.

Kamu mengirimi ku pesan singkat lagi, dengan nomor yang lain.
"Hape aku yang satu lowbat. Ke sini aja. Buruan kamu. Aku di kantin sendirian."

"Lu langsung pulang Ra?" Tanya Dio setelah membaca sebait puisi Aan Mansyur tadi.
"Gak, gue mau ketemu temen gue di kantin. Ikut yuk, ngobrol di dalem aja." aku menawari
"Mau sih, tapi gue pake celana pendek malu kalau ke dalem kampus begini."
"Cuek aja sih. Hehehe."
"Lu kayaknya buru-buru ya? Ditungguin? Yaudah. Bukunya gue pinjem dulu ya. Nanti gue kabarin kalau sudah selesai."
"Okeeee. Gue duluan yaa. Bye." Aku langsung berlari ke arah kampus tak sempat menunggui Dio menyalakan motor gedenya.

Aku berlari menuju kantin sambil mengetik "Masih di kantin?", kamu hanya membalas "Masih. Buruan." Betapa aku sangat bersemangat sekali untuk bertemu kamu hari itu. Walau sore itu kantin ramai sekali oleh mahasiswa-mahasiswa aku dengan mudah mengenalimu, kamu duduk membelakangi dari arah datangku. Aku langsung duduk di kursi di depanmu. Kamu terkejut dengan kehadiranku yang tanpa suara menyapa atau menepuk bahu.
"Maaf telat. Lama yaaa? tadi ketemu temen dulu di luar." kataku membuka percakapan
"Lamaaaa banget. Mana temennya?"
"Pulang, dia pakai celana pendek masa masuk kampus. Kamu belum pesan apa-apa dari tadi?"
"Belum, nungguin kamu. Temenin aku makan, aku yang traktir hari ini."
"Yesss. Kamu pesen apa?"
"Aku pesen mie soto aja pakai telur sama jus alpukat. Kamu pesan apa?"
"Aku pesen minum aja."
"Gak makan?"
"Gak, aku masih kenyang tadi makan dulu sebelum kursus. Yaudah aku pesenin dulu ya."

Hari itu kamu mengenakan kemeja kotak-kotak hijau tosca dengan merk terkenal yang aku baca di saku kemejamu, kamu terlihat bagus mengenakan kemeja itu. Kamu memakai celana bahan dan sepatu fantofel. Jam tangan hitam melingkar dengan beberapa gelang di lengan kirimu. Rambutmu agak sedikit gondrong, mungkin kamu tidak sempat mencukurnya. Mata itu, masih sama masih membuat aku jatuh cinta. Suara beratmu, suara tawamu. Kamu duduk tepat di hadapanku, kita hanya dipisahkan dua gelas minuman dan satu mangkuk mie instan.

"Mau gak?" kamu memecakan lamunanku, bukan lamunan tapi memecah perhatianku yang sedang dengan saksama memperhatikanmu. Kamu mengeluarkan bubuk putih dari toples kecil yang kamu bawa.
"Itu apa?"
"Vitamin." Kamu kemudian mencampuri bubuk putih itu ke dalam jus alpukatmu.
"Biar apa?"
"Biar sehat. Namanya kreatin. Orang yang fitness minum ini." kamu menjelaskan.
"Apa rasanya?" Aku penasaran
"Gak ada." Kemudian kamu menyodorkannya padaku, aku coba minumanmu yang sudah dicampur.
"Iya gak ada rasanya."
Kamu bercerita tentang keperluan yang kamu lakukan di kampus hari itu, kamu mengurusi segala adminitrasi mengenai kelulusanmu, ijazah dsb. Kemudian kamu mengeluarkan satu map yang berisi formulir untuk melanjutkan kuliah S-2.
"Kamu mau daftar S-2?" Aku bertanya sambil membolak-balikan formulir itu.
"Niatnya sih tapi gak tau. Ya, ambil aja dulu formulirnya."
"Bagus-bagus. Aku juga mau tapi belum nih."
"Yaudah bareng aja."
"Target S-2 aku tahun 2017. Jadi nanti aja. Hahahaha."
  
Di antara riuhnya kantin sore itu aku masih bisa mendengar suara renyah tawamu. Menikmati matamu yang mulai menghilang ketika sedang tertawa.
"Kamu tadi naik apa pas berangkat?"
"Angkot. Naik apa lagi. Hehehe"
"Udah sore nih. Pulang yuk. Temen-temen kuliahku pada ngajak ngumpul di coffee shop."
"Ikut dong." Kataku iseng
"Jangan ah, langsung pulang aja."
"Oke. Aku nebeng sampai depan gerbang ya."
 Kemudian kita berdua berjalan menuju parkiran namun adzan magrib berkumandang.
"Mending sholat dulu." Aku memberi saran, kemudian kita menuju mushola di dekat parkiran. Saat itu aku sedang berhalangan. Aku menunggumu di luar sambil membaca buku. Setelah kamu selesai melaksanakan kewajibanmu, kamu menghampiriku yang sedang larut dengan buku bacaanku. Kamu sampai menarik bukuku karena aku tidak mengetahui kedatanganmu.

Kita pun kembali ke parkiran menuju motormu, kamu menyalakan mesin motormu dan kemudian aku duduk di belakangmu. Di depan gerbang aku minta turun karena tadi aku hanya minta diantar hanya sampai gerbang, namun kamu menolak.
"Kita ngumpul sama teman-temanku dulu.", aku terkejut mendengar pernyataanmu namun aku turut senang. Karena lokasinya tidak jauh dari kampus jadilah kita menjadi orang pertama yang datang di sana. Kamu memesan kopi hitam, aku memesan es cokelat. Kali ini kita hanya dipisahkan oleh dua cangkir minuman, malam itu malam minggu cukup cerah. Kamu duduk di hadapanku kemudian seperti kebiasaanmu, kamu menyodorkan sebelah headsetmu untuk kita dengarkan lagu favoritmu bersama. Kamu bilang bahwa kamu sedang menyukai lagu itu. Kadang jemari kita bertemu saling bersentuhan. Oh, bahagia sekali aku malam itu. Sampai akhirnya teman-temanmu mulai berdatangan satu persatu. Ada tiga orang temanmu yang datang malam itu, teman-temanmu menyenangkan. Lucu. Aku suka sekali mendengar kalian ketika bercanda. Ada temanmu yang bertanya padaku "Pacarnya Ebi?", Aku menggeleng halus namun tersenyum malu-malu. "Jangan mau sama Ebi, pacarnya banyak." kemudian tawa mereka pecah.

"Pulang yuk. Udah jam 9 nanti dicariin. Kan dari siang." Kamu mengajakku pulang
"Baru jam 9." kataku keceplosan malam itu. Kemudian suara teman-temanmu menyaut ramai "Tuuuh ditantangin baru jam 9 katanya."
"Oke, kalau ditantangin." Kamu menjawab. Aku hanya tertawa.
Pukul 23.00 kami semua memutuskan untuk pulang. Aku sudah duduk di atas motormu dan temanmu memberi pesan "Jangan mau kalau diajak belok lagi yaa." . Aku tertawa dan mengiyakan.
Hari itu, aku bahagia bisa bertemu dan mengenal teman-teman kampusmu. Aku sepertinya tidak bisa menghilangkan perasaan ini. Aku kembali jatuh, jatuh padamu.


Sabtu, 03 Maret 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (9)

Benar saja moment wisudamu kemarin membuat aku baper sampai saat ini. Sudah dua hari berlalu namun aku masih dibuat senyum, aku masih merasa bahagia. Berkali aku melihat foto-foto kita berdua saat wisuda kemarin itu, dengan noraknya aku pun memposting foto-foto kita berdua ke semua aku media sosialku, aku ingin mereka tahu bahwa aku bahagia dan begitu banyak orang yang beranggapan bahwa aku dan kamu sedang menjalin hubungan. Namun kebahagiaanku tidak bersambut, kamu tidak memposting sama sekali foto kita berdua di akun sosial mediamu, kamu hanya mengirim foto kita berdua di grup pecinta alam. Kamu justru memposting foto-foto dengan teman-temanmu, kamu mengganti foto profil dengan teman-teman perempuanmu, tak sekalipun aku nampak di akun media sosialmu. Di saat itulah aku merasa postinga foto-foto berdua yang aku unggah ke semua akun media sosial ku itu berlebihan.
"Dia aja gak update, gue semangat banget update sana-sini." pikirku begitu. Karena pikiran itu aku hapus postingan-postingan foto kita berdua di akun sosial mediaku. Ingat saja pernyataan dia beberapa waktu lalu "Just friend, oke?"
Hari ini juga kamu memberi kabar bahwa kamu akan berlibur katamu tunggu saja fotonya nanti. Kamu tidak memberi tahu dengan detail kemana dan dengan siapa? Ah, aku ini berhak apa untuk mengetahui semuanya. Namun aku juga dirundung rasa penasaran.

Sejak kamu memberi tahuku tentang liburan itu, pesanku hanya menggantung tanpa balasan. Genap satu minggu kita tak bertukar kabar sama sekali. Jika ada yang mengatakan bahwa seorang yang jatuh cinta itu adalah peneliti yang mahir itu benar adanya. Rasa penasaran itu terjawab, dugaanku benar aku tahu dari sosial media kalau kamu benar berlibur dengan seorang perempuan. Dari sosial media juga aku tahu nama wanita itu, aku tahu wanita itu lulusan universitas mana, aku tahu hobi wanita itu, aku tahu. Kalian berlibur ke kepulauan seribu. Aku tahu kamu menyukai wanita itu, aku tahu dengan jelas dari setiap psotinganmu. Dari sosial media juga aku tahu perempuan itu sudah memiliki kekasih, tapi aku tidak tahu sudah sejauh mana hubungan perempuan itu dengan kekasihnya dan sejauh mana hubungan kalian berdua.

Seminggu itu aku tak mengatakan apa-apa, aku hanya simpan semua sendiri, aku tak berniat untuk bertanya kepadamu. Seminggu tak berkabar membuat aku rindu kamu. Aku seperti kehilangan sesuatu dalam diriku, aku rindu bertukar kabar denganmu. Ingin aku memulai lebih dahulu dengan mengirimimu pesan, namun aku takut pesannku tak dibalas hanya dibaca seperti seminggu lalu. Aku terlalu pengecut.

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (8)

Setelah pernyataanmu tentang kita bahwa kita hanya sebatas teman, komunikasi kita tidak selancar dulu, kita sudah jarang bertukar kabar atau lebih tepatnya aku yang menarik diri. Aku menahan diriku untuk tidak mengabarimu dan kamu pun juga tidak berusaha mencariku. Postingan-postinganmu pun sudah semakin terbuka perihal perempuan lain, kamu posting dinner berdua, kamu posting hadiah cokelat saat kamu lulus sidang skripsi dan banyak lagi postinganmu tentang perempuan yang belum aku ketahui siapa. Jadi aku juga semakin menarik diri dan tahu diri. Aku tahu, aku sadar bahwa aku tidak ada di sana; di hatimu.

Komunikasi kita memang berantakan tapi kita tidak benar-benar kehilangan kontak, kita masih memberi kabar namun seadanya, sepentingnya saja. Selama satu bulan komunikasi kita seperti itu. Hingga kamu memberi tahuku perihal acara wisuda kamu yang akan sebentar lagi dilaksanakan. Aku langsung mengatur jadwalku untuk menghadiri wisudamu, aku mengambil izin kerja dari kantor.

28 April 2016 hari ini kamu di wisuda, sebelumnya kamu bingung membawa orang tuamu gimana, siapa saja yang turut serta kamu ajak walau pada akhirnya hanya Bunda dan Ayah yang kamu ajak. Siang itu cukup cerah, aku membalas pesanmu saat kamu bertanya aku sudah sampai kampus atau belum. Aku menjawab bahwa aku sudah di kampus menunggumu di luar karena saat itu prosesi pemindahan tali toga belum selesai. Aku tidak menyiapkan apapun, aku hanya membawa tiga tangkai bunga mawar untukmu. Sebelum adzan dzuhur berkumandang acara hari itu selesai, seluruh wisudawan keluar dari auditorium, keadaan di sana penuh sesak. Aku putuskan untuk jalan memutar dan dengan radarku aku bertemu kamu di depan lift. Pertemuan yang tanpa harus bertanya "di mana". Aku langsung mengulurkan tanganku memberi ucapan selamat dan memberi mawar merah itu untukmu. Kamu menyambut tanganku dengan senyum lebar dan mata sipitmu itu. Kamu langsung bercerita tentang prosesi di dalam tadi dan menggiringku keluar untuk berfoto. Aku tak melihat Bunda - Ayah mu saat itu, katamu sudah duluan pulang. Kamu bersemangat sekali hari itu, aku gugup sekali. Debar-debar jantungku tak karuan. Setelah di luar ternyata tidak ada yang bisa dimintai bantuan untuk mengambil foto kita. Kamu memutuskan untuk wefie saja mengenakan ponselmu. Saat kita asyik wefie ada temanmu yang datang menghampiri memberi ucapan selamat, kamu menyambutnya antusias namun setelah itu kamu justru meminta bantuan dia untuk mengambil foto kita berdua. Saat foto itu diambil kamu berdiri di sebelah kiriku, aku dengan sadar kamu merangkulku untuk pertama kali. Dengan sentuhan yang ragu-ragu kamu merangkulku, aku merasakannya yang menbuat jantungku semakin berdebar kencang dan untuk kali pertama itu foto berdua kita di moment bahagiamu. Setelah puas berfoto kamu berdiri di depanku saling berhadapan di pikuknya orang lalu-lalang, kamu dengan lembut menyentuh pipiku berusaha menyingkirkan kotoran di pipiku. Kedua mata kita bertemu, ada hening seketika, ada rasa hangat di hatiku. Aku bahagia hari itu, sebahagia kamu yang sudah menjadi sarjana.

Hari itu aku bangga sekali melihatmu. Aku tahu perjuangamu menyelesaikan pendidikanmu. Tidak mudah memang menyelesaikan kuliah dengan sembari bekerja. Aku bangga.

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (7)

Empat bulan berlalu, begitu banyak pertanyaan-pertanyaan dalam benakku yang menggantung belum menemukan jawaban.
Empat bulan berlalu, aku pun mulai ingin bercerita ke sana dan ke sini mengenai pertanyaan-pertanyaan yang dengan liar terus ada dalam benakkku. Walau aku tahu jawabannya harus aku yang menemukan tapi aku ingin solusi dari seorang teman.
Aku tipikal orang yang jarang sekali bercerita apalagi kalau sudah urusan asmara, aku lebih banyak mendengarkan orang bercerita ketimbang aku yang bercerita. Namun kali ini aku putuskan untuk bercerita kepada seorang sahabat yang ku percaya.
"Jadi lu udah deket selama 4 bulanan nih?" tanya sahabatku, aku mengangguk lesu.
"Selama 4 bulan ini dia intens ngabarin lu?"
"Iya."
"Pertemanan kalian udah gak wajar."
"Nah itu yang gue maksud. Gue kayaknya udah keburu baper deh sama dia."
"Kalo gue jadi lu, gue juga baper kali. Dia udah nyaman sama lu, buktinya dia intens ngabarin lu."
"Terus?"
"Temen cowok lu kan banyak, ada yang seintens dia ngabarin lu?"
"Gak ada, cuma dia doang. Temen cowok gue emang sejibun tapi ya emang temen biasa doang."
"Lu ngasih-ngasih perhatian ke dia?"
"Ya ngasih sih, abisnya gue gimana yaaa jelasinnya."
"Iya gue paham, trus dia ngasih perhatian balik?"
"Jarang. Gue pernah ngasih perhatian terus dia bilang 'jangan segitunya, aku gak biasa.' . Jleb gak sih lu."
"Aneh juga ya, susah ditebak. Mending lu tanya deh kalian menjalin apa sebenernya."
"Gue nanya duluan?"
"Iyaaaaa."
"Gilaaa, gak lah tengsin gue. Kalau jawabannya enak sih gapapa, kalau jawabannya 'just friend' bisa nangis bombay."
"Lebih cepat lebih baik lu tau perasaan dia ke lu gimana."
"Gue pertimbangkan deh buat tanya."
"Daripada lu bingung sendiri apa jawabannya, jawabannya bukan di gue tapi ada di dia."

Duh, itu solusi yang paling berat yang harus aku jalanin. Aku terus berfikir untuk apakah aku bertanya atau sebaiknya tidak. 
Aku pernah melaksanakan shalat istikharah untuk memilih kamu daripada laki-laki yang sedang dekat denganku juga, Allah kemudian memberi jawaban. Allah jauhkan laki-laki lain itu dan kemudian mendekatkan kamu. Saat ini aku kembali bimbang, Allah harus menjadi tujuanku kembali untuk menemukan kamu.

Hal yang membuat aku penasaran setengah mati adalah postingan-postingan di akun sosial media kamu yang berisi "with you", "with KAMU" . Entah siapa itu. Aku penasaran dan itu menguatkanku untuk bertanya.

"Mie Aceh di sana enak loh." Katamu di chat saat kita sedang membicarakan tentang kuliner
"Iya, kata temen-temenku enak di sana. Aku belum pernah."
"Yaudah nanti kita makan mie aceh itu yaaa."
"Oke."

Percakapan itu hanya wacana. Aku melihat postinganmu di Path update lokasi di warung mie aceh yang kita bicarakan di chat, tentu dengan -KAMU- . Beberapa jam setelah aku lihat postinganmu itu aku mengirimimu chat. "Curang udah ke sana duluan.","Gak kok itu cuma lewat aja ngecek buka atau tutup." katamu memberi penjelasan.

Aku menemukan "KAMU" yang lain lagi di postingan-mu saat check-in di Pizza Hut. Namun kamu bilang kamu tidak ke Pizza Hut, kamu hanya delivery order ke kantormu.

Aku kembali menemukan "KAMU" saat kamu pergi ke Bogor. Lagi kamu bilang "Itu hanya fake biar Path aku rame. Aku emang ke Bogor tapi aku pergi rame-rame sama temen-temen."

Aku iyakan semua pernyataan kamu, karena aku tidak berhak untuk mencemburuimu, tidak berhak untuk mencurigaimu. Sampai suatu hari kamu mengirimi aku pesan yang cukup serius. Ini adalah percakapan serius pertama kita.
"Apa kamu masih ngarepin aku?" Kamu bertanya serius, meskipun hanya melalui chat tapi aku tahu kamu sedang serius.
"Kita biasa aja kan? Tapi kamu beda." Kamu melanjutkan kalimatmu. Aku tahu kemana percakapan ini mengarah.
"Iya maaf mungkin aku terlalu berlebihan. Iya kita biasa saja." Aku membalas, hingga akhirnya kamu berkata "Just friend. Kita sahabatan. Aku masih tahapan seleksi, pilihanku banyak"
Sebuah pernyataan yang sungguh membuat aku sedih dan lega dalam waktu yang bersamaan. Ternyata selama ini perasaan itu hanya tumbuh di satu sisi, hanya di sisiku. Harapan aku yang menyakitiku. Jadi mulai sekarang aku harus pergi membawa semua perasaan yang sudah muncul perlahan dan sudah mulai berkembang. Kamu memberi jawaban sebelum aku berikan pertanyaan.
Aku salah, aku malu, aku ingin pergi.

Kamis, 01 Maret 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (6)

Aku kira komunikasi atau kedekatanku dengan kamu berakhir seiring selesainya open trip ke Gunung Pangrango, ternyata dugaanku salah. Kita (maaf aku menyebut aku dan kamu sebagai kita) masih tetap bertukar kabar melalui chat, walau kita tidak bertemu tapi kita bertemu di chat setiap hari tanpa terputus. Apa saja dibicarakan musik, acara tv atau pertanyaan mendasar seperti "sedang apa","sudah pulang?". Kamu memang suka lama dalam membalas chat, mungkin karena kamu memang sibuk bekerja, tapi selama apapun kamu dipastikan membalas. Setelah tahu kebiasaan kamu yang lama membalas saat sedang bekerja, aku pun mengerjakan hal lain tidak melulu menunggu. Toh, kamu saat senggang atau tidak sibuk membalas pesanku dengan cepat.

Karena kelancaram komunikasi kita, maka perhatian-perhatian kecil sudah mulai agak sering dilontarkan. Dan kamu sudah masuk tahap menggodaku dengan memanggil 'sayang', walau aku tahu itu hanya bercanda tapi aku cukup senang membacanya namun aku belum begitu yakin makanya aku menanggapinya biasa saja. Sampai suatu hari kamu mengirimiku pesan bertanya tentang laki-laki yang sedang dekat denganku. Aku memang sedang dekat dengan laki-laki lain tapi hatiku justru tergerak kepadamu.
"Kenapa emang?" tanyaku saat kamu bertanya tentang laki-laki lain
"Ya gapapa sih, kepo namanya kepengen tahu. Kalau gue tau kan, gue bisa berhenti berharap sama lu." Balasmu ditambahi dengan emoticon sedih. 

Aku kira kamu akan menjauh karena aku menanggapinya biasa saja waktu itu tapi ternyata tidak. Januari, Februari, Maret kita masih terus bertukar kabar. Aku mulai menggunakan hati, aku mulai memberi perhatian. Kamu sering mengirimiku foto di mana kamu berada, foto makanan yang kamu makan, foto apapun. Seolah-olah aku harus turut merasakan walau hanya melalui foto. Salah satu contohnya saat kamu menghadiri undangan pernikahan temanmu, kamu mengirimi aku foto dengan caption "Cowok semua kan?" padahal saat itu aku tidak bertanya, aku tidak mencurigainya pergi bersama wanita.
Perempua mana yang tidak terbawa perasaannya saat ada laki-laki yang begitu detail memberi kabar. Apakah teman seperti itu?

7 Maret 2016 salah satu anggota komunitas PA menikah, pada tanggal ini juga kita bertemu kembali setelah 4 bulan tidak bertemu hanya didekatkan oleh chat. Aku telat datang siang itu dan aku sempat diledek oleh teman-teman karena itu kali pertama mereka melihat aku menggunakan make-up. Kamu tersenyum melihatku, aku malah berfikir 'apa aneh aku berdandan seperti ini?'.
"Diantar siapa?" kamu bertanya
"Diantar Mama tadi." aku menjawab sambil menunduk, kelemahanku adalah tidak bisa mengatur degup jantungku sendiri ketika berhadapan denganmu..
Hari itu kamu beberapa kali mengambil gambarku dengan ponselmu atau dengan ponselku. Disadari atau tidak kita lebih asik berdua, ngobrol ataupun bercanda.

Sudah 4 bulan kita dekat, sudah 4 bulan kita saling berbagi cerita, setelah 4 bulan kita bertemu kembali. Setelah 4 bulan pula begitu banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu, namun belum pernah sampai ke telingaku hanya sampai diujung bibirku. Tertahan.

Rabu, 28 Februari 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (5)

Tiba di bulan November, tepatnya pada tanggal 7-8 November 2015 pendakian Gunung Pangrango dimulai. Ini pendakian pertamaku dengan kamu. Perjalanan menuju Cibodas dari basecamp pecinta alam dilakukan malam hari. Sayang sekali aku tidak duduk bersama kamu, kamu memilih duduk di kursi depan sedangkan aku duduk di kursi belakang. Sesampainya di Cibodas kami semua seluruh peserta open trip beristirahat di salah satu warung di sana, sebuah warung yang begitu nyaman dijadikan tempat beristirahat untuk para pendaki.

Tengah malam pada tanggal 7 November 2015 kami semua memulai pendakian. Angin malam berhembus dingin, seperti biasa sebelum memulai mendaki kami semua terlebih dahulu berdo'a. Kamu sempat membeli scraft untuk menghangatkan tubuhmu. Kami semua mulai menapaki jalur pendakian Gunung Pangrango, trek pendakian via Cibodas bebatuan, kalau menurutku itu sangat melelahkan dan menyakitkan. Pelan-pelan aku tapaki trek bebatuan dengan hanya penerangan headlamp, kamu tentu di sebelahku karena memang kita berua satu grup. Menjelang subuh kami beristirahat di Pos, setelah sarapan pagi dan shalat subuh kami semua melanjutkan perjalanan yang masih cukup jauh. Karena fisikku yang lemah dan lelah aku tertinggal dari kamu. Tapi entah kenapa aku lupa, kita kembali beriringan.
Ini pendakian pertamaku bersamamu. Aku tak melihat teman lain lagi, saat itu di jalur pendakian hanya ada aku dan kamu. Untuk kali pertama kamu menggengam tanganku dan aku tak memiliki kekuatan untuk menolaknya. Aku dan kamu bergandeng tangan di sepanjang jalur pendakian. Ada rasa bahagia saat pertama kali kamu menggenggam tanganku. Ada rasa bahagia saat kamu dengan sabar menuntunku di jalur pendakian.
Saat lelah berjalan kita beristirahat sejenak. Duduk dengan beralas akar pohon dan bersandar di pohon, terkadang kamu menyodorkan sebelah headset-mu ke telingaku agar aku mendengarkan musik yang sedang kamu dengar. Rasanya seperti apa ya, berdua di jalur pendakian dengan pemandangan alam yang indah, berdua dengan seorang laki-laki yang menggenggam tangan dan mendengarkan musik berdua. Jika ada kata yang melebihi kata "BAHAGIA" akan aku tuliskan di sini.

Malam itu kami semua bermalam di Kandang Badak karena cuaca tidak memungkinkan untuk langsung ke puncak. Tendaku dan tendamu bersebelahan, malam itu hanya gerimis kecil aku memutuskan untuk main ke tendamu. Di sana ada enam orang termasuk aku di dalamnya, kami menyeduh kopi dan makan cemilan sembari berbicara tentang apa saja. Dari obrolan langsung malam itu aku semakin terkesan dengan kamu. Kamu pintar, itu yang aku simpulkan dari obrolan di tenda malam itu. Kamu ingin tahu banyak tentang apa saja. Aku suka.

Begitulah singkat cerita pendakian pertamaku dengan kamu. Ada sesuatu kesan yang indah yang tertinggal diingataknku sampai saat ini.

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (4)

Ahmad Sakha itulah nama lengkapmu. Namun, kamu sering dipanggil "Ebi". Aku pernah bertanya kenapa Ebi? Kenapa jauh sekali panggilan pendek itu dari nama aslimu? Kamu hanya bilang bahwa Ebi adalah panggilan sayang sejak kecil. Kamu lahir di Jakarta, usiamu dua tahun lebih muda dari usiaku, tapi kamu selalu lebih dewasa dari aku. Kamu anak pertama dari dua bersaudara. Ibu-mu berasal dari Jawa Tengah dan Ayahmu asli orang Jakarta. Kamu memiliki mata yang sipit, padahal kamu bukan keturunan cina atau korea. Hehehe. Mata yang yang hilang ketika kamu tertawa. Aku suka mendengar suara tawamu, aku suka dada bidangmu, aku suka kamu selalu terlihat rapi, aku suka melihatmu mengenakan jam tangan hitam di lengan kirimu, aku suka melihat rambutmu yang rapi, aku suka ketika kamu banyak berbicara di-chat karena kamu itu termasuk orang yang malas bercerita melalui chat. Aku suka ternyata kamu suka membaca, aku suka karena kamu penggila olah raga, aku suka kamu itu tipe pekerja keras, aku suka kamu itu tipe pemikir, aku suka kamu itu cerdas. Aku suka kamu.

Sejak aku disatukan di dalam grup yang sama denganmu komunikasi kita menjadi intens, obrolan apa saja mengalir begitu mudahnya. Dari urusan persiapan naik gunung, kuliah, musik, olah raga dan lainnya terasa begitu mudah nyambung berbicara apa saja. Akhir tahun 2015 ini ada satu game yang sedang naik daun yaitu Duel Otak. Game yang berisi pertanyaan-pertanyaan seputar ilmu pengetahuan. Kita saling menantang dan saling mengejek jika salah menjawab. Dalam game tersebut terdapat menu chat, di mana pemain bisa saling chat. Lucunya saat itu aku ditantang olehmu untuk menjawab pertanyaan seputar olah raga, namun aku salah menjawab. Kamu itu laki-laki yang gila olah raga menurutku, bagimu kesehatan itu adalah investasi masa depan yang penting. Kamu juga bukan seorang perokok. Ah, aku suka sekali laki-laki yang menyukai olah raga dan mejadi nilai plus karena bukan seorang perokok.
Karena aku salah menjawab pertanyaan nama otot, aku diejek olehmu. Kamu giat fitness jadi kamu tahu betul nama-nama otot.
"Trisep itu lengan ya. Bukan paha." Kamu chat-ku di game itu
"Iya, kok gue jawab paha yaa. Haha"
"Untung gue fitness."
"Cieee fitness. Hati-hati 'belok', Bi. hahaha." Aku meledek
"Gue masih suka lu kooo."
"Kirain belok gara-gara fitness."
"Gak koo."
Aku seketika freeze saat kamu bilang "masih suka lu ko." . Katanya permepuan itu memiliki kepekaan. Perempuan bisa dengan sadar kalau ada laki-laki yang berusaha mendekatinya, begitu pula denganku. Entah aku yang GR atau apa tapi aku merasa kamu sudah mulai flirting padaku.

Komunikasi kita begitu lancar bahkan tak pernah putus setiap harinya, akan selalu ada saja yang dibicarakan.

Selasa, 27 Februari 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (3)


Entah apa, sepertinya ada yang menarik hatiku untuk terus mengetahui tentang kamu. Lagi dan lagi obrolan kita dibuka oleh percakapan persiapan naik gunung, saling mengingatkan perlengkapan apa saja yang sudah ada dan belum ada. Ternyata kamu belum ada sepatu untuk mendaki dan kebetulan aku punya sepatu gunung dua pasang, satu pasang sesuai dengan ukuran kaki kamu. Akhirya aku dan kamu kembali memutuskan untuk bertemu kembali, kali ini kita janjian di kampus. Aku lupa malam itu kamu ada kelas atau kamu langsung dari kantor. Tapi seingatku kamu baru pulang dari kantor. Saat itu tanggal 2 November 2015 bertepataan dengan sidang teman-temanku, aku yang sudah dari siang di kampus untuk memberi semangat kepada mereka hingga malam bertahan di kampus. Malam setelah magrib tak lama kamu mengirimiku pesan bahwa kamu sudah tiba di kampus untuk mengambil sepatu gunung, aku beri tahu bahwa aku berada di lantai 5, kamu pun kemudian naik ke lantai 5 dengan membawa kantong plastik putih, aku menghampirimu dan kamu mengeluarkan isi dari kantong plastik itu yang ternyata isinya minuman kemudian menyodorkan satu untukku. Aku mengambil minuman dingin itu, tersenyum seraya berkata “Terima kasih.”. Aku sudah mulai tersentuh malam itu.
Aku izin pamit ke teman-teman untuk mengambil sepatu, karena sebenarnya sepatu itu aku simpan di kosan temanku. Aku dan kamu untuk pertama kali berjalan beriringan di koridor kampus yang dipenuhi sesak oleh mahasiswa-mahasiswa dengan berbagai macam urusannya masing-masing. Sesampainya di lobby kampus, kamu bertemu dengan entah siapa; mungkin teman lama. Lalu kamu mengobrol dengan temanmu itu, aku menjaga jarak dengan mengambil duduk yang tidak erlalu jauh dari mereka mengobrol. Beberapa teman yang aku kenal berlalu-lalang sambil basa-basi bertanya sedang apa duduk sendirian, aku hanya menjawab “Nunggu itu” sambil menunjuk ke arahmu.
“Yuk!” Ajakanmu mebuyarkan lamunanku, aku pun segera berdiri dan kembali berjalan menuju kosan temanku. Malam itu langit mendung dan gerimis mulai turun.
“Kosan temennya di mana?” Kamu bertanya
“Di belakang sana. Mau pakai motor atau jalan kaki?”
“Jalan kaki saja.”. Akhirnya kita berjalan kaki menuju kosan temanku.
Kamu berjalan begitu cepat, aku sulit mengimbanginya.
“Kamu jalannya cepet banget siiiihhh.” Keluhku pada akhirnya
“Latihan buat mendaki besok.”
“Yah, kalau begini aku ketinggalan terus nih nanti di gunung.”
Kamu pun menghentikan langkahmu dan mencoba menyamakan langkah denganku. 15 menit berjalan kita sampai di kosan temanku, aku membuka pintu. Hanya ada aku dan kamu di kosan malam itu, aku biarkan pintu terbuka lebar. “Pintunya dibuka aja ya, Gak enak sama tetangga.” , “Oke.” Kamu menjawab.

Aku dan kamu duduk di depan pintu, kamu melihat skripsiku. Saat itu aku sudah lulus sidang skripsi & skripsiku sudah jadi di hard cover. Kamu banyak bertanya soal penyusunan skripsi, saat itu kamu masih menyusun skripsimu. Aku membagi ceritaku seputar penyusunan skripsi & sidang. Aku suka caramu mendengarkanku berbicara, aku suka cara kamu menatapku karena mendengar ceritaku.

Malam itu sudah banyak yang kita bercerita seputar apa saja. “Kamu gak dicariin temen-temenmu? Kamu ninggalin mereka karena aku.”, “Gapapa kok. Tadi kan udah bilang mau ambil sepatu buat kamu.”, “Sepatunya pinjem dulu ya.”, “Iya, pakai aja.”
Setelahnya aku dan kamu kembali ke kampus tetapi gerimis semakin deras.
“Skripsimu gimana nih? Aku simpan di tasku aja ya biar gak basah.” Kamu langsung memasukan skripsiku ke dalam tasmu karena memang malam itu aku tidak membawa toote bag.
“Iya, tolong yaa jagain. Hehehehe.” Jawabku
“Iya, skripsinya aja dijagain apalagi yang punya.” Katamu
“Apa??” Aku pura-pura tak dengar kamu mengucap itu.
“Gapapa. Hehehe.” Katamu sambil tersenyum yang membuat matamu hilang ke entah kemana.

Malam itu pertemuan ketiga kita dan untuk pertama kali kita berjalan di bawah gerimis. Kamu seseorang yang mulai menyentuh hatiku. Kamu yang saat itu sudah mulai membuat aku jatuh hati dan ingin lebih mengenalmu.

Untukmu Yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (2)

Pertemuan pertama aku dan kamu terasa begitu cepat dan tak berkesan manis karena aku sendiri tidak banyak berekspetasi malam itu, hanya sekedar perkenalan biasa. Aku pun bisa menduga bahwa kamu pun merasakan hal yang sama. Namun setelahnya memang Tuhan punya jalan cerita lain.

Pendakianku bersama teman-teman kampus ku sukses luar biasa, aku sangat menikmati walau kaki cenat-cenut tapi perasaan rindu masuk hutan terbayar. Aku menjalani hari-hariku seperti biasa; kuliah, main dengan teman-teman lain, dan kemudian satu pemberitahuan masuk di Whatsapp-ku bahwa aku dimasukan ke dalam grup Whatsapp Komunitas Pecinta Alam itu. Sebagai anak baru aku pun mencoba muncul di grup tersebut dengan perkenalan diri dan banyak yang memberikan respon baik dengan kehadiranku di grup tersebut. Ternyata anggota grup itu banyak sekali, aku lihat nama grup list tak banyak yang aku kenal paling sekitar lima orang, hingga akhirnya aku menemukan namamu di grup list "Ahmad Shaka". Aku langsung ingat pertemuan pertama kita malam itu, tak banyak berfikir aku langsung menyimpan nomormu. Kamu tidak banyak muncul di grup untuk berkomentar dan aku pun. Ada beberapa anggota grup itu yang mengirimiku pesan pribadi, lagi sebagai anak baru aku pikir harus menyambut baik. Ada salah satu yang mengirimiku pesan, aku menanggapinya biasa saja tapi entah kenapa itu terus berlanjut.

Pada bulan September 2015 komunitas pecinta alam tersebut memberi pengumuman bahwa akan diadakan open trip ke Gunung Pangrango via Cibodas, tanpa banyak berpikir dan saat itu adalah saat di mana aku sangat menyukai kegiatan naik gunung, aku pun mendaftar untuk ikut. Tema open trip kali ini berkelompok, kalau biasanya peserta open trip terima beres semuanya lain hal untuk open trip kali ini.  Open trip kali ini dibuat berkelompok, sesuai dengan keputusan panitia aku masuk ke grup 2 (dua) yang terdiri dari aku, Bang Ridho, Mas Baim dan Kamu "Ahmad Shaka". Karena open trip kali ini bersifat kelompok maka akan lebih banyak untuk berdiskusi kelompok maka dari sinilah aku dan kamu mulai sering aktif berkomunikasi. Aku mulai menginvite BBM-mu untuk mempermudah berkomunikasi di grup obrolan BBM. Dari obrolan BBM ini aku dan kamu sudah mulai aktif berkomunikasi melalui obrolan pribadi bukan obrolan grup, dari BBM juga aku dan kamu sudah saling menambahkan teman di LINE, Path dan saling follow Instagram. Aku ingat kamu yang lebih dahulu follow aku Instagramku, setelah tahu bahwa itu kamu langsung aku follow back.

Banyak obrolan-obrolan di chat yang sering kita bicarakan walau lebih banyak obrolan seputar pendakian nanti, bahkan aku dan kamu membuat janji untuk bertemu untuk membahas persiapan kelompok dua nanti, saat itu Bang Ridho & Mas Baim berhalangan hadir jadilah hanya aku dan kamu yang bertemu untuk membahas persiapan. Namun, aku telat datang karena sebelum memenuhi janji diskusi kita hari itu, aku pergi dengan salah satu anggota komunitas itu, aku hanya tak enak hati jika menolak ajakan perginya hari itu. Aku setengah berlari ketika sampai di Basecamp namun kamu sudah menyalakan motormu, aku menghampirimu mengucapkan maaf namun kamu bersikap seperti kecewa, aku makin merasa bersalah, kamu hanya bilang "Telaaaaat." dan berulang kali aku mengucap maaf. Basecamp saat itu agak ramai. Salah satu dari mereka ada yang berteriak "Ayooo, jalan-jalan.". Aku agak bingung mau kemana semuanya lalu kemudian tanpa bertanya aku pun ikut mereka semua yang setelahnya aku tahu untuk menghadiri undangan kopi darat dari komunitas pecinta alam lainnya di danau yang tak jauh dari rumahku.

Malam itu di bawah langit malam yang cerah dan suara air danau yang tertiup angin, kamu duduk di sebelahku. Aku adalah orang yang cukup mudah akrab dengan orang lain terlebih jika orang itu menyenangkan. Kamu itu menyenangkan dan ini adalah pertemuan kedua kita. Dengan suara pelan aku menjelaskan apa-apa saja yang perlu saat pendakian nanti. Kamu menyimak dengan seksama dan sesekali memberi masukan. Aku sudah bisa menilai malam itu bahwa kamu orang yang enak untuk diajak diskusi. 

Semakin hari aku semakin ingin mengetahui banyak tentang dirimu. Dan dari obrolan yang belum lama ini, aku baru tahu bahwa kamu berkuliah di tempat yang sama denganku, namun kamu mengambil kelas malam dan konsentrasi jurusan yang berbeda denganku. Entah apa ada yang menarik hatiku untuk terus mengetahui segalanya tentang kamu.

Jumat, 06 Oktober 2017

Catatan Perjalanan : Kembali ke Jogya

Sebetulnya ini bukan kali pertama gue ke Jogya, sepuluh tahun lalu gue pernah ke sini acara study tour sekolah, tepatnya tahun 2007. Dan setelah sepuluh tahun gue memutuskan untuk berlibur lagi ke Jogya, yang sudah pasti Jogya berubah dari sepuluh tahun itu, kalau pas zaman sekolah gue tinggal duduk manis di bus, kali ini gue harus menjelajah Jogya sendiri.
Perjalanan kali ini gue bersama satu orang teman kuliah, dia ini salah satu teman seperjuangan di kampus dulu. Suka duka tugas kuliah, pusingnya nyusun skripsi dan wisuda kita barengan bahkan duduk deketan. Makanya setelah lulus kuliah ini kita berdua udah saling sibuk sama kerjaan masing-masing dan untuk terus mempererat persahabatan kita memutuskan untuk liburan bareng. Dan yang terlintas di otak kita saat itu adalah Jogya. Selain gue yang rindu dengan suasana Jogya, teman gue ini belum pernah ke Jogya. Btw, teman gue ini namanya Lutfiah.
Kebayang kan liburan ke Jogya berdua doang dengan pengetahuan seadanya. Kalau ini dibilang nekat kayaknya gak, kita udah prepare dua bulan sebelum berangkat. Bahkan sampai ada technical meeting di taman Bintaro Xchange.
Pada saat technical meeting waktu itu kita berdua matengin banget dari pesan tiket kereta PP, penginapan sampai tujuan mana saja yang kita tuju dan transportasinya. Untuk tiket kereta kita pesan di PegiPegi, kita pesan tiket pergi untuk tanggal 29 September 2017 KA. Bengawan tujuan Stasiun Pasar Senen - Lempuyangan harganya Rp.74.000/orang. Untuk tiket pulang untuk tanggal 1 Oktober 2017 KA. Gaya Baru Malam Selatan tujuan Lempuyangan - Pasar Senen harganya Rp. 104.000/orang.

Jumat, 29 September 2017
Pagi ini nampak cukup cerah, cukup dag dig dug sih karena beberapa hari ini hujan kerap datang. Pagi ini pukul 07.00 gue sudah siap menuju Stasiun Jurangmangu. Hari ini hari Jum'at dan sepagi ini pasti KRL penuh sesak dengan karyawan berangkat kerja. Pukul 07.30 gue sudah sampai di Stasiun Jurangmangu menunggu di peron 1 tujuan tanah abang. Gue whatsapp Lutfiah menanyakan keberadaan dia, karena kita janji bertemu di Stasiun Tanah Abang. Gue melewati dua kereta begitu saja karena sudah penuh dengan para pekerja itu, sedangkan gue bawa tas yang cukup besar dan tas kamera. Hampir jam 8 pagi tapi stasiun belum menunjukan tanda-tanda akan sepi, kalau gak naik-naik nanti bisa telat sampai Stasiun Senen. Akhirnya gue putuskan untuk naik kereta selanjutnya. Agak padat tapi ya lumayan masih bisa kirim chat ke Lutfiah, ternyata Lutfiah berada di kereta yang sama. Berarti tiba di Stasiun Tanah Abang barengan. Akhirnya gue dan Lutfiah ketemu di Stasiun Tanah Abang, kita langsung pindah peron ke peron 2 nunggu kereta Jatinegara. Dari Stasiun Tanah Abang naik jurusan Stasiun Jatinegara terus turun di Gang Sentiong, dari Gang Sentiong pindah peron naik yang jurusan Bogor tapi turun di Stasiun Senen. Kenapa gak langsung ke Stasiun Senen? Karena kereta Jatinegara gak berhenti di Stasiun Senen jadi kita mesti muter dulu. Sesampainya di Stasiun Senen kita langsung ke Counter cetak tiket, karena boardingnya masih lama kita memutuskan untuk beli cemilan dan makanan untuk di kereta nanti. Hmmm, Minimarket di sini cukup mahal ya. Hahaha. Pintu tiket sudah terbuka, walau masih satu jam lagi kita akhirnya nunggu di ruang tunggu di peron. Pukul 11.20 kereta mulai bergerak menuju Lempuyangan. Di depan kursi gue sama Fiah juga ada dua orang perempuan yang hendak liburan ke Jogya juga. Akhirnya sedikit banyak ngobrol bareng mereka. Karena ini kereta ekonomi, taulah pasti yaa kursinya tegaknya 45 derajat.



Sesuai jadwal pukul 19.45 KA Bengawan tiba di Stasiun Lempuyangan. Alhamdulillah bisa menginjakan kaki di Jogya lagi. Kita pun keluar dari Stasiun Lempuyangan dengan tujuan pertama ke Jl. Malioboro. Kita gak tahu harus berjalan ke arah mana untuk menuju ke sana dan akhirnya kita memutuskan untuk memesan Go-Car ke Malioboro, tarif Go-Car dari Stasiun Lempuyangan ke Malioboro Rp. 12.000 karena memang jaraknya tidak terlalu jauh tapi tentu saja kita harus berjalan dan menunggu driver agak jauh dari Stasiun Lempuyangan.
Nama drivernya Mas Adi, Mas Adi ini baik banget ngasih tau kalo mau makan malam baiknya kita tanya dulu harganya karena ditakutkan ada yang nembak harga, kita banyak tanya sama Mas Adi ini karena memang kita buta banget malam itu. Sampai Mas Adi bertanya mau turun di Malioboronya sebelah mana, kita pun bingung jawabnya.Hahaha. Akhirya Mas Adi nurunin kita di depan Mall Malioboro. Malam itu malam Sabtu, Malioboro ramai sekali, banyak pengamen nyanyi di pinggir jalan, tempat makan yang penuh dengan orang, para pngunjung yang hilir mudik entah mau kemana. Kita memutuskan untuk berjalan mencari angkringan. Akhirnya setelah berjalan cukup lumayan jauh kita memutuskan untuk makan malam di Angkringan Kopi Joss Pak Agus. Lokasinya lurus aja dari Malioboro arah Tugu Jogya. Makan malam berdua Rp. 44.000 dengan lauk pauk yang sudah sangat membuat kenyang, gak lupa buat nyobain kopi jossnya.



 Setelah perut keisi penuh dan sudah pukul 10 malam namun Jogya masih ramai sekali, kita memutuskan untuk check in ke penginapan yang kita sudah booking dari jauh hari. Yang jadi tantangan selanjutnya adalah dari Kopi Joss Pak Agus ke Penginapan seberapa jauh & naik apa. Kita memutuskan untuk buka Maps dan berujung kembali pada Go-Jek. Akhirnya kita order gojek ke Penginapan. Setelah agak drama dengan driver Gojek karena Lutfiah sempet nyasar sama drivernya akhirnya kita samapi di Deep Purple Home Stay. Penginapan ini rekomendasi dari Google, maksudnya kita nemu penginapan ini karena hasil googling.
Malam itu kita check in, face to face sama yang punya homestay dijelasin peraturannya dan fasilitasnya. Peraturannya gak susah banget kok cuma kalo keluar kamar, AC & Perangkat listriknya harus dalam keadaan mati. Nginep di sini murah banget cuma Rp. 75.000/malam dengan fasilitas Double Bed, AC, TV, Lemari, Wifi. Kamar mandi di luar tapi bersih koook.



Sabtu, 30 September 2017

Setelah semalam tidur nyenyak karena kelelahan selama perjalanan 8 jam di kereta, pagi ini energi telah terkumpul berkat sarapan pagi yang sangat murah di depan Homestay. Gue makan nasi dengan lauk lengkap cuma Rp.8.000. Fisik oke, perut kenyang saatnya menunggu jemputan Pak Bertus. Pak Bertus ini adalah Bapak yang mengantar kita untuk seharian ini, kita sewa mobil Pak Bertus dengan harga Rp. 500.000 sudah include BBM+Tip (exclude Biaya Parkir & Tiket Masuk Wisata yaah). Jam 07.00 Pak Bertus sudah menjemput di penginapan kita dengan Mobil Honda Brio putihnya.
Pak Bertus melaju mobilnya ke Wisata Alam Kalibiru, ini adalah destinasi pertama. Jalan menuju Kalibiru memakan waktu sekitar 30 menit, jalannya cukup menanjak dan masih banyak pepohonan yang bikin udaranya sejuk. Tiket masuk ke Wisata Alam Kalibiru yaitu Rp. 20.000/orang. Wisata Kalibiru ini adalah wisata foto, banyak spot-spot foto yang keren di sini, kita tinggal milih aja mau yang mana. Akhirnya kita memutuskan untuk foto di spot 2. Untuk foto di spot-spot tersebut kita dikenakan biaya Rp.15.000/orang. Setelah mengantre akhirnya kita dipakaikan pengaman dan mulai naik ke spot fotonya. Sudah ada fotograper yang standby mengarahkan gaya untuk mengambil foto kita. Setelah selesai kita harus nebus foto-foto itu dengan harga Rp.5.000/foto dan kita harus mengambil minimal 5foto. Akhirnya kita nebus 20 foto jadi Rp 100.000.
Setelah berpuas melihat pemandangan dan foto di Kalibiru kita melanjutkan perjalanan ke Magelang. Rasanya gak afdol kalo ke Jogya gak wisata Candi. Akhirnya mobil melaju ke Magelang menuju Candi Borobudur. Sekitar 1 jam perjalanan akhirnya kita sampai di Candi Borobudur. Harga tiket untuk wisatawan lokal yaitu Rp.40.000/orang & biaya parkir untuk mobil Rp. 10.000.
Jangan lupa siapain body lotion atau sunblock kalo ke sananya tengah hari kayak kita, karena kita di sana jam 11 siang - 1 siang. Tapi kalo masih takut matahari jangan khawatir banyak penjual topi atau penyewa payung. Setelah sampai di pucuk candi, berpuas dengan foto-foto dan cuci mata karena banyak bule tampan, kita memutuskan untuk kembali menuju tujuan wisata selanjutnya. Kalau dari Candi Borobudur jalur keluarnya kita akan diarahin ke tempat-tempat banyak pedagang jualan oleh-oleh khas jogya; dari mulai baju, celana, daster, celana, tas pokoknya macem-macem deh. Tahan dompet kalo lewat sini, karena masih ada hari esok di Jogya. Hehehehe.

Tujuan wisata yang ketiga adalah Bukit Rhema atau Gereja Ayam. Pasti tau doong ya itu adalah salah satu tempat syuting film AADC2. Perjalanan dari Magelang ke Bukit Rhema memakan waktu sekitar 45 menitan kalo gak salah. Setelah parkir mobil dengan biaya parkir Rp 10.000 lalu kita ditawari naik Jeep untuk sampai ke Bukit Rhema. Kita memilih untuk jalan kaki aja, karena menghemat pengeluaran. Hahaha. Ternyata jalannya gak terlalu jauh cuma agak terjal. Ohya, tiket masuk ke Bukit Rhema sebesar Rp 15.000/orang + Free Singkong Rebus. Akhirnya kita mencoba naik ke atas kepala ayamnya biar berasa kayak Cinta di film AADC. Kita gak lama di sini & gak tuker free singkongnya karena gerimis sudah mulai turun dan kita masih harus ke tujuan wisata yang lain.

Tujuan wisata yang keempat adalah Candi Prambanan tapi cuma sampe luarnya aja karena kesorean dan kita mau mengejar sunset di Candi Ratu Boko. Candi Prambanan ini dari kejauhan saja sudah kelihatan cantikknya. Jadi tujuan wisata keempat yaitu Candi Ratu Boko yang letaknya gak jauh dari Candi Prambanan. Katanya ada shuttle bus dari Candi Prambanan ke Candi Ratu Boko tapi kuran tahu harganya. Tiket masuk ke Candi Ratu Boko sama kayak masuk Candi Borobudur yaitu Rp 40.000 & tiket parkir mobil Rp 10.000.
Candi Ratu Boko ini juga salah dua (karena satunya adalah Bukit Rhema) tempat syuting AADC2. Ketika sore hari pengunjung di sini rame banget karena ini tempatnya oke banget untuk nikmatin matahari terbenam, pas di foto tuh siluet gitu. Sayang seribu sayang, kamera DSLR gue habis batre di sini. Jadi gue cuma bisa abadiin pake kamera HP gue yang gak seberapa itu. Sempet unmood sih tapi gapapa lah, toh kenangan yang diliat pake mata & direkam oleh otak sendiri bukankah lebih indah? :))

Dan waktu sudah sore menjelang malam, tubuh sudah bau keringat karena seharian wara-wiri tapi Pak Bertus mengajak ke tujuan wisata selanjutnya yang lagi hits katanya yaitu Tebing Breksi. Tiket parkir di sini Rp 5.000 & tiket masuknya adalah seikhlasnya! Kita tiba di sana pas magrib, di sana itu wisata tebing kayak tebing tinggi. Banyak anak tangga agar kita bisa tiba di atas & nikmatin Jogya dari atas kayak semacam bukit bintang. Bagus banget kelap kelip lampunya apalagi kelap kelip lampu dari Bandara Adi Sucipto. Kita gak terlalu lama di sana karena batre HP kita pun sudah hampir mati & badan rasanya sudah lelah sekali.

Weitss, ternyata masih ada tempat keenam yang harus kita kunjungi yang menurut Pak Bertus tempat tersebut juga sedang Hits di media sosial yaitu Taman Pinus Pengger. Kita tiba di sana sekita pukul 7 malam & tempat tersbut masih ramai. Taman Pinus ini sama seperti taman pinus lainnya namun di sini ada ukiran kayu atau rotan yang diberi lampu kelip sebagai background foto. Jujur aja kita gak terlalu bersemangat pas sampai karena kita gak bisa foto karena batre habis & merasa badan udah gak ada energi. Akhirnya kita memutuskan untuk makan jagung bakar & bakso bakar di warung di sekitaran tempat wisata pinus tersebut.

Ah, capek tapi menyenangkan satu hari bisa mengunjungi 6 tempat wisata sekaligus. Pak Bertus mengantar kita ke penginapan & menawari kita untuk berkeliling di sekitaran Maliobro atau Alun-Alun namun kita menolak karena badan rasanya sudah ingin mandi & beristirahat saja. Terima kasih Pak Bertus sudah mengantar seharian di Jogya :))

Minggu, 1 Oktober 2017
Setelah melaksanakan kewajiban dua rakaat subuh kita bersiap untuk menikmati Jogya pagi hari. Niat awal mencari sarapan pagi, tanpa mandi & berganti pakaian kita keluar penginapan dengan jalan kaki menuju jalan raya. Rasanya kok ingin naik becak ke Alun-Alun, akhirnya kita naik becak Rp 15.000 dari gang penginapan ke Alun-Alun. Ternyata Alun-Alun Selatan ini ramai sekali di minggu pagi, banyak yang berolah raga, banyak yang berdagang juga. Seneng banget kita jadi bisa jajan di sana, gue beli pecel sayur cuma Rp 3.000. Murah banget kaan. Terus udah bosen di Alun-Alun kita memutuskan untuk ke Kraton Jogya dengan jalan kaki. Jaraknya cukup lumayan kurang lebih 4km, kita pake google maps & nanya orang. Dari perjalanan kaki kita itu, kita melewati taman sari, tapi taman sari belum buka karena waktu itu masih terlalu pagi. Setelah berjalan cukup jauh melewati ini itu akhirnya kita sampai di Kraton Jogya dan belum buka. Kita nunggu sekitar 20 menit sampai tiket masuk dibuka, sempet minder liat orang-orang ke sana pakai baju bagus & make up, lah kita mandi aja belum malah masih pakai baju tidur yang ditutupi pakai outer doang, muka gak karuan pakai bedak aja gak. Hahaha. Harga tiket masuk Kraton Jogya sebesar Rp 7.500/orang & jika kita bawa kamera baik HP atau kamera lainnya dikenakan biaya tambahan Rp 1.000.
Puas berkeliling Kraton Jogya kita langsung ke Pasar Beringharjo untuk cari oleh-oleh. Dari Kraton Jogya kita gak sanggup untuk jalan kaki, jadi kita memutuskan untuk naik becak Rp 15.000. Berulang kali diingetin untuk hati-hati kalau berbelanja di Pasar Beringharjo karena banyak copet katanya. Oke setlah sampai & masuk ke dalam pasar kita lebih waspada sama HP & dompet yang kita bawa. Puas berkeliling di Pasar Beringharjo kita lanjut jalan kaki lurus menuju Jl. Malioboro. Hari itu Jogya panas banget, belum mandi makin keringetan. Hahaha. Akhirnya sampai di Jl. Malioboro sempet makan siang di sana lalu berfoto di Icon jalan Malioboro. Setelah itu kita segera kembali ke penginapan untuk bersiap karena kereta pulang hari ini jam 4 sore.

Mandi & packing segalanya sudah dirasa siap kita izin check out dan menuju stasiun lempuyangan dengan GoCar. Menukar boarding pass lalu menunggu kereta Gaya Baru Malam Selatan Datang. Selesai sudah liburan kali ini. Jogya selalu meninggalkan kesan di hati. Suatu saat kita akan kembali entah dengan siapa dan entah kapan tapi pasti kembali. :)))