Aku izin pamit ke teman-teman
untuk mengambil sepatu, karena sebenarnya sepatu itu aku simpan di kosan
temanku. Aku dan kamu untuk pertama kali berjalan beriringan di koridor kampus
yang dipenuhi sesak oleh mahasiswa-mahasiswa dengan berbagai macam urusannya masing-masing.
Sesampainya di lobby kampus, kamu bertemu dengan entah siapa; mungkin teman
lama. Lalu kamu mengobrol dengan temanmu itu, aku menjaga jarak dengan mengambil
duduk yang tidak erlalu jauh dari mereka mengobrol. Beberapa teman yang aku kenal
berlalu-lalang sambil basa-basi bertanya sedang apa duduk sendirian, aku hanya menjawab
“Nunggu itu” sambil menunjuk ke arahmu.
“Yuk!” Ajakanmu mebuyarkan
lamunanku, aku pun segera berdiri dan kembali berjalan menuju kosan temanku.
Malam itu langit mendung dan gerimis mulai turun.
“Kosan temennya di mana?” Kamu bertanya
“Di belakang sana. Mau pakai
motor atau jalan kaki?”
“Jalan kaki saja.”. Akhirnya kita
berjalan kaki menuju kosan temanku.
Kamu berjalan begitu cepat, aku
sulit mengimbanginya.
“Kamu jalannya cepet banget
siiiihhh.” Keluhku pada akhirnya
“Latihan buat mendaki besok.”
“Yah, kalau begini aku
ketinggalan terus nih nanti di gunung.”
Kamu pun menghentikan langkahmu
dan mencoba menyamakan langkah denganku. 15 menit berjalan kita sampai di kosan
temanku, aku membuka pintu. Hanya ada aku dan kamu di kosan malam itu, aku
biarkan pintu terbuka lebar. “Pintunya dibuka aja ya, Gak enak sama tetangga.”
, “Oke.” Kamu menjawab.
Aku dan kamu duduk di depan pintu,
kamu melihat skripsiku. Saat itu aku sudah lulus sidang skripsi & skripsiku
sudah jadi di hard cover. Kamu banyak bertanya soal penyusunan skripsi, saat
itu kamu masih menyusun skripsimu. Aku membagi ceritaku seputar penyusunan
skripsi & sidang. Aku suka caramu mendengarkanku berbicara, aku suka cara
kamu menatapku karena mendengar ceritaku.
Malam itu sudah banyak yang kita bercerita
seputar apa saja. “Kamu gak dicariin temen-temenmu? Kamu ninggalin mereka
karena aku.”, “Gapapa kok. Tadi kan udah bilang mau ambil sepatu buat kamu.”, “Sepatunya
pinjem dulu ya.”, “Iya, pakai aja.”
Setelahnya aku dan kamu kembali
ke kampus tetapi gerimis semakin deras.
“Skripsimu gimana nih? Aku simpan
di tasku aja ya biar gak basah.” Kamu langsung memasukan skripsiku ke dalam
tasmu karena memang malam itu aku tidak membawa toote bag.
“Iya, tolong yaa jagain.
Hehehehe.” Jawabku
“Iya, skripsinya aja dijagain
apalagi yang punya.” Katamu
“Apa??” Aku pura-pura tak dengar kamu mengucap itu.
“Gapapa. Hehehe.” Katamu sambil
tersenyum yang membuat matamu hilang ke entah kemana.
Malam itu pertemuan ketiga kita
dan untuk pertama kali kita berjalan di bawah gerimis. Kamu seseorang yang
mulai menyentuh hatiku. Kamu yang saat itu sudah mulai membuat aku jatuh hati
dan ingin lebih mengenalmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar