Catatan Domba Betina

Minggu, 03 Juni 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (19)

Seperti yang kamu katakan di grup bahwa aku melakukan persiapan untuk mendaki gunung itu benar karena akhir bulan April 2017 kembali komunitas pecinta alam mengadakan open trip pendakian gunung Gede untuk merayakan anniversary ke-empat komunitas pecinta alam tersebut. Tentu saja kita sudah mendaftarkan diri untuk ikut open trip kali ini dan merupakan pendakian kedua kita.

28 April 2017 hari itu adalah hari Jum'at, semua persiapan mendaki sudah aku siapkan dari minggu lalu karena aku tidak punya waktu menyiapkan di hari biasa karena bentrok dengan pekerjaanku. Aku terburu-buru mengejar waktu selepas pulang kerja aku langsung bersiap. Double check dengan mengingat-ingat apa saja yang sudah dan apa saja yang takut tertinggal. Setelah semua dirasa sudah tidak ada yang tertinggal aku pamit meminta izin dan do'a Mama. Aku kemudian berangkat naik ojek ke basecamp pecinta alam. Sesampainya di sana peserta lain sudah berkumpul, mungkin saat itu aku yang paling akhir datang. Kamu pun sudah ada di sana.
"Ah, Ayra lama nih. Tinggal juga nih." Kata salah seorang panitia peserta
"Duuh, maaf yaa baru pulang kerja. Ini juga keburu-buru belum makan." keluhku.
"Yah yaudah makan dulu, mobilnya belum dateng kok." aku bernafas lega. Sebelum pergi ke warung pecel lele di depan gang, aku berkenalan dengan peserta lain karena memang kali ini banyak sekali peserta yang belum aku kenal sebelumnya.

Mobil travel tiba sekitar pukul 21.00 malam, seluruh peserta pendakian memasuki mobil. Aku duduk di kursi kedua dari belakang, kamu duduk tepat di belakangku. Aku duduk dengan teman perempuanku, hanya aku dan dia yang menjadi peserta perempuan di pendakian kali ini.
"Hey, gue duduk sini ya?" Pinta salah satu peserta lain yang melihat kursi di sebelahku kosong
"Iya, silakan." dan kemudian kami bercakap bertanya pertanyaan mendasar 'rumah di mana?','kuliah di mana?'. Aku mudah akrab dengan orang lain, hingga tak terasa aku asyik ngobrol kemudian kamu menggangu dengan mecolek-colek kepalaku.
"Apa siiih?" aku menoleh
"Minuuum." katamu
"Niiih." aku memberikan botol berisi air putih. Dan kemudian aku, teman perempuanku dan kamu mengobrol. Lampu mobil dimatikan, mobil terus melaju menuju Puncak Bogor. Aku sudah lelah bercerita.
"Ka, aku tidur ya." kataku kepada teman perempuanku
"Iya tidur aja silakan." kemudian aku mengenakan headset dan mencoba memejamkan mata, tapi aku tahu saat kamu menyentuh pipiku dari sela-sela kursi. Kamu menyentuh pipiku dan bergumam "Yah beneran tidur yaa.", saat itu aku merasakan sentuhan tanganmu dan mendengar ucapanmu.
Saat sudah sebentar lagi sampai Puncak Bogor aku terbangun karena kaget ponselku jatuh ke kolong kursi, aku mencoba mengambilnya dan membangunkan teman di samping kanan kiri ku.
"Kenapa Ra?"
"Handphone jatuh ka ke bawah. Maaf yaa." Aku mencari namun tidak ada.
"Cari apa?" tanya kamu sambil menyembulkan kepalamu dari kursi belakang
"handphone."
"gak ada handpone."
"masa gak ada? jelas-jelas jatuh tadi aku denger, nih copot headset-nya."
"cari yang bener." katamu sambil senyum-senyum dan aku mulai curiga
"kamu pasti kan yang ngumpetin."
"ngumpetin gimana sih? aku daritadi tidur."
"bohong, ayo mana hp aku." kataku sambil berdiri dari kursiku menghadap kursimu
"gak ada tuh, gak ada. cari aja nih di tas aku." aku merebut tas pinggangmu dan mencarinya dan tidak ada.
"cari dulu yang bener. Lihat kanan-kiri" katamu dan aku melihat ponsel ku ada di selipan atas kursi
"Nah ini dia, Ih, masa jatuhnya di bawah tiba-tiba ada di atas. Gak masuk akal. Pasti kamu." Aku menyerangmu dengan cubitan kecil di perut dan lenganmu, malam itu aku membuat keributan di kursi mobil belakang.

Hampir tengah malam kami semua tiba di basecamp pendakian, udara dingin menusuk tulangku.
"Semua tidur ya. Benar-benar tidur karena besok pagi kita semua harus mendaki, kita butuh tenaga ekstra untuk besok."
Di ruangan yang cukup luas beralas karpet hijau aku merebahkan diri setelah makan. Untuk kali pertama kamu tidur tepat di sebelahku. Aku mengenakan jaket serta kaos kaki lengkap dengan sarung tangan karena udara dini hari itu sangat dingin dan tidur hanya beralaskan karpet tipis. Beberapa kali kaki kita beradu, beberapa kali kakiku menindih kakimu. toe to toe
"Kamu dingin ya?"
"Iya."
"Nih, jaketnya pake aja." katamu menyerahkan jaketmu
"kamu gak pake?"
"Gak usah." Akhirnya aku tertidur dan ternyata ada yang menyelimutiku lagi entah siapa yang jelas aku merasakan saat kain menutupi sebagian tubuhku.

***

Adzan subuh berkumandang, aku melaksanakan dua rakaat. Aku melepaskan jaket dan kembali mengembalikannya padamu, kamu masih tertidur. Aku menatap dirimu yang sedang tertidur pulas di sebelahku. Aku sudah segar karena sudah cuci muka dan gosok gigi.
"Hey, bangun sholat subuh dulu." kataku sambil mengguncang pelan tubuhmu
"Hmmmm." kamu menjawab sambil mengubah posisi tidurmu, kemudian memunggungiku
"Yee, susah banget disuruh sholatnya." Aku masih duduk di sebelahmu merapikan tasku
Setelah 10 menit kamu kembali mengubah posisi tidurmu kembali menghadapku.
"Jam berapa?" tanyamu
"6." jawabku singkat
"aku belum sholat."
"daritadi dibangunin 'hmmm','hmmm' doang." kemudian kamu beranjak dan melaksanakan sholat di waktu yang sudah agak telat.

***

Pendakian di mulai pukul 6.30 pagi, setelah sarapan pagi di warung nasi basecamp pendakian kami semua mulai melangkah menyusuri hutan. Pendakian kedua kita dimulai sekarang. Kamu membawa kamera mirrorlens yang mudah untuk dibawa. Pendakian awal tentu saja kita terpisah, aku di depan, kamu tertinggal di belakang hanya pada saat-saat break saja kita bertemu.
"Sakit nih." keluhmu saat kita sedang beristirahat sejenak
"Apanya yang sakit?" Tanyaku
"Kaki aku."
"kenapa emang?"
"kemarin malam kan aku main futsal trus ya gitu."
"seperti yang udah-udah?"
"iya. baru berasa sekarang." Seperti yang sudah aku ketahui sebelum-sebelumnya kamu memang senang berolah raga, futsal salah satunya dan cidera saat futsal kerap kali kamu alami. Sebelum melakukan pendakian kamu memang bilang sedang futsal namun aku tidak tahu kalau kamu cidera.
"Itu bahu kamu kenapa?" aku melihat perban di bahu kananmu.
"Gapapa ini mah. luka kecil doang."
"hmmm." kemudian kita kembali meneruskan perjalanan. Saat itu kita sudah mulai kembali berjalan beriringan, seperti layaknya sebuah perjalanan nampaknya tidak lengkap jika tidak berfoto bersama. Kita mengambil foto bersama dan kali kedua kamu merangkul pundakku. Beberapa kali mengambil foto selfi berdua.
Berjalan beriiringan berdua, bahkan kita tidak tahu rombongan kita ada di mana, di jalur pendakian hanya ada aku dan kamu, hanya kita. Aku berjalan pelan-pelan mengimbangi kakimu yang sakit. Aku tahu kakimu pasti sangat nyeri saat itu, tapi kamu menahannya.

***

Saat mendaki kita hanya berdua, entah rombongan yang lain di mana. Aku dan kamu beberapa kali ambil waktu untuk beristirahat sejenak. Kamu melihat cincin di jariku.
"Dari siapa itu cincin?" tanyamu agak ketus
"Beli sendiri ini."
"Kirain tunangan."
"Hahahaha."
"Aku baru ada uang 30 juta tapi sama temenku belum dibalikin, kalau udah dibalikin udah cukup untuk ngelamar kamu mah." Aku diam mendengar pernyataanmu dan aku yakin tidak salah mendengar karena suasana hutan siang itu tidak ramai.
"Aamiin. Biar cincinnya pindah nih ke jari manis." kataku sambil menunjukan jari manisku
"Kok jari manis?"
"Kan orang lamaran cincinnya di jari manis."
"Gak mau aku mah, aku maunya di jempol. Jadi pas nanti kita foto jempolnya yang bentuk 'oke' gitu."
"Hahahaha. kamu ada-ada aja." aku tertawa mendengar alasanmu
"Yaudah ayuk lanjut lagi nanti keburu sore." ajakmu sembari meraih tanganku untuk melanjutkan pendakian.

Aku sepanjang jalan dengan sabar menuntunmu berjalan karena kerap kali kamu mengeluh sakit, setiap pijakan yang agak tinggi aku berusaha untuk menopang tubuhmu.
"Aku pingin pipis." katamu
"Hah? Pipis?" kataku kaget,karena aku hanya berdua dengan kamu tidak mungkin sekali aku mengantarmu mencari semak untuk pipis
"iya. Di atas sana kali ya?" katamu sambil menunjuk pepohonan.
"Nah iya coba kamu naik ke atas sana, aku tunggu sini ya. Hati-hati, numpang-numpang." dengan langkah yang tertatih kamu naik menuju pepohonan yang agak rindang yang jarang dilalui oleh pendaki. Ini adalah momen pertamaku menunggui laki-laki pipis dan di hutan. Aneh sekali rasanya.
"Sudah selesai?" tanyaku setelah melihatmu kembali turun menujuku, kamu mengangguk sembari hati-hati menuruni akar-akar pohon. Aku mengulurkan tanganku karena terlalu tinggi untukmu turun dan hampir saja aku dan kamu jatuh berdua kalau saja aku tidak seimbang dan memelukmu.
Kabut turun dan gerimis mengikuti, kamu bersigap untuk menyuruhku memakai jas hujan, kamu pun memakainya juga. Kita sudah siap dengan jas hujan yang telah dikenakan baru beberapa langkah seorang panitia memanggil kita berdua.
"Ayra, Sakha." kita berdua menoleh berbarengan
"Hey, Bang Tirta."
"Yang lain mana?"
"Gatau bang, daritadi kita berdua doang belum lihat yang lain." jawabku
"Ini udah jam makan siang, lu berdua harus makan dan ini dua bungkus nasi buat kalian."
"Makasih bang." kataku sambil menerima nasi bungkus dari Bang Tirta
"Mau makan sekarang?" tanyamu
"Nanti aja ya, jalan dulu aja.. Kita daritadi berhenti terus." jawabku
"Bang, kita lanjut jalan lagi ya." pamitmu kepada Bang Tirta
"Iya, jalannya agak cepet ya udah mau ujan nih soalnya. Gue nungguin yang lain dulu masih banyak yang di bawah."
"Oke deh, kita duluan ya Bang." kita pun pamit dan melanjutkan pendakian.

***
Tenaga mulai habis dan perlu diisi oleh nasi. Aku dan kamu akhirnya memutuskan untuk membuka nasi bungkus dari Bang Tirta. Dipinggir jalur pendakian aku dan kamu makan siang, pendaki lalu lalang melihat kita, sesekali menyapa dan berbasa-basi menawari makan.
Membuka nasi bungkus, memakannya di bawah gerimis di jalur pendakian bersama kamu. Setelah selesai makan, sampah nasi bungkus kami simpan kembali di tas dan kembali mendaki yang tinggal sedikit lagi sampai di tempat camp.

Tempat camp sudah semakin dekat, kita sudah memasuki lahan luas penuh dengan bunga abadi, edelweis. Ah, senang sekali rasanya melihat lahan luas membentang dengan udara sejuk. Kamu mengambil gambar dengan kameramu, aku sibuk dengan kamera ponselku. Kamu mengajak selfie kembali, mengambil banyak gambar berdua. Ternyata di sana rombongan kami sebagian sudah sampai. Ada yang beristirahat, ada yang lanjut menuju tenda, ada yang sibuk mengabadikan pemandangan. Aku dan kamu sibuk berdua, bergantian minta difoto.

Surya kencana memang luas sekali, dari tempat aku berfoto ke tenda tempat kami semua bermalam cukup jauh. Angin berhembus kencang, keringat di baju sudah basah, aku ingin segera berganti pakaian agar tidak masuk angin. Aku dan kamu memutuskan untuk menuju tenda, lagi dan lagi kita berjalan berdua beriiringan sambil sesekali berfoto.
Saat berjalan itu kamu menatap mataku, dalam dan lama. Aku pun membalas tatapan itu, dalam dan agak lama karena jujur saja aku tidak mampu kalau bertatapan lama denganmu.
Kamu tersenyum setelah menatap dalam mataku, aku menunduk kemudian tersipu.

***

Ada yang berdesir saat kamu menggengam tanganku saat itu.
Ada yang hangat saat kamu menatap dalam mataku
Hatiku.. Hatiku yang merasakan itu semua.

Sabtu, 02 Juni 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (18)

Hari ini adalah hari minggu tanggal 23 April 2017 tapi aku sepagian ini sudah berada di kereta menuju Universitas Indonesia. Bukan untuk olah raga pagi atau sekedar jalan-jalan melainkan untuk bekerja. Iya, bekerja di hari minggu karena kantorku sedang ada event dengan komunitas pecinta buku di sana, awal ditawari untuk lembur dengan project event seperti itu sungguh aku tidak menolak, dengan senang hati aku lakukan walau di hari Minggu seperti ini.

Hampir seharian aku di sana dan tentu saja aku selalu berkabar dengan kamu. Seperti biasa perbincangan kita selalu ke sana ke mari apa saja tentu dibahas. Sampai akhirnya aku dan kamu membahas kaos, saat itu sudah pukul 15.00 aku sudah berada di kereta menuju rumah. Chat kamu mengejutkanku, kamu bertanya "Sayang gak?", karena kita sedang membahas kaos maka itu aku kira kamu masih membahas kaos tapi kamu membalas lagi
"Sayang gue gak?" Aku diam saat membaca pesanmu itu
"Sayang gue gak?" aku membalas hanya copy paste dari chat kamu
"Kok dibalikin?" kamu membalas lagi
"Pengen nanya aja." Aku kembali bertanya, malah jadi aku yang bertanya.
"Sayanglah." kamu membalas
"Tapi...?" aku membalas kembali memastikan
"Gak ada tapinya." kamu membalas, yang membuat aku diam. Suasana kereta sore itu ramai tapi saat aku membaca pesanmu itu aku seperti berada di ruang kosong kedap suara, hening, hanya ada aku, pikiranku dan gawai-ku.
"Yakin?" aku membalas lagi, aku tak tahu harus membalas apa
"Yakin. Belah aja dada aku." Kamu membalas, aku tertawa.
"Coba sini aku belah. Mau aku pastiin. Hahaha."
"Pusing."
"Kenapa kamu sakit?" aku membalas
"Pusing pokoknya. Nanti aja kalau udah serius, aku bilang."
"Bilang apa? Kapan seriusnya?" sungguh aku tak mengerti maksud kamu, aku pun membalas dengan kalimat sebisaku.
"Bilang kalau  pacarannya jangan lama-lama abis itu nikah aja. Kapan ya seriusnya? Nah itu dia."
"Abis kuliah, selesaiin dulu kuliah kamu." balasku.
"Gak juga. Lihat kemauan Bunda dulu. Liat kondisi keluarga juga."
"Emang Bunda maunya gimana?"
"Gak tahu, belum diomongin sama Bunda."
"Berani ngomonginnya?"
"Berani. Emang kenapa?"
"Gapapa."


Untuk kali pertama kita berbicara serius meskipun singkat. Kamu adalah laki-laki yang tidak cukup pandai mengungkapkan sesuatu. Tapi, itu sudah lebih dari cukup bagiku.
I don't know should I happy or doubt

Kamu selalu hadir dalam setiap do'aku
Di setiap sholat wajib atau sholat sunnah atau bahkan ketika aku tidak sedang melakukan apa-apa tapi hatiku berdo'a.
Ada namamu yang aku titipkan kepada pemilik alam semesta, Allah SWT.
"Ya Allah, jika dia memang sesuai dengan ketetapan dan ridho Engkau, ku mohonkan untuk dipertemukan dalam bingkai yang halal, mohon untuk gerakan  hatinya, ringankan langkahnya untuk segera menujuku dan mudahkanlah segalanya."

Entah kapan, karena kamu pun belum bisa menjanjikan.
- Dari aku yang selalu berdo'a untuk setiap usaha yang kita jalani.

Sabtu, 14 April 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (17)

SEPATU || Selalu bersama tak bisa bersatu
8 April 2017 saat itu komunitas pecinta alam mengadakan acara syukuran hari jadi yang ke empat tahun. Aku masih bimbang akan datang atau tidak karena aku ada acara lain.
"Bukunya sudah aku bawa." kamu mengirimi aku pesan, aku memang ingin meminjam bukumu dan karena belum sempat bertemu kali ini adalah saat yang tepat untuk bertemu di acara syukuran.
"Aku usahain dateng, tapi aku telat kayaknya." benar saja aku telat, aku datang saat acara resmi sudah selesai tinggal obrolan-obrolan santai.
"Sini deh." panggilmu menggiringku untuk masuk ke dalam. Kamu mengambil tasmu dan mengeluarkan buku yang ingin aku pinjam. 
Aku duduk berhadapan denganmu, kamu memberikan dua buku.
"Nah ini." kataku senang dengan mata berbinar memegang buku itu.
"Bentar ada lagi satu lagi."
"Emang ada ada tiga? kayaknya cuma dua seri."
"Yang ini beda." kamu memberikan satu novel dengan sampul biru
"The Pilot's Woman; Tinggallah di hatiku selamanya." aku membacakan judul novel tersebut sambil tersenyum dan menjawab dalam hati 'aku akan.'
"Aku kan gak minjam ini?" lagi-lagi apa yang aku ucapkan selalu tidak sesuai dengan apa yang aku katakan di hatiku
"Ya gapapa, dibaca aja ya."
"Oke. Kamu punya juga novel beginian."
"Punya satu. Bentar-bentar, aku belum tanda tangani buku-buku aku." kemudian kamu menggoreskan tanda tanganmu ke buku-bukumu.
"Aku pinjam dulu ya." kataku sambil tersenyum
"Iya, bawa aja."
"Nanti pulang sama siapa?"
"Gak tau, ojek paling." aku paling tidak bisa meminta atau merengek kepada siapapun untuk minta diantar, aku merasa tidak enak hati.
"Nanti bareng aku saja."
"Oke. Udah ah keluar, gak enak yang lain pada ngumpul di luar semua." kemudian aku keluar lebih dulu

***
Nampaknya tidak bisa jika datang ke basecamp jika pulang cepat pasti tengah malam baru pulang
"Ayra pulang diantar Sakha kan?" tanya salah seorang
"Gak tau. Hehehe." kataku sambil nyengir
"Sakha, lu balik sama Ayra. Anter dia sampai rumahnya. Oke." pinta salah seorang itu
"Hmmm, gimana yaa?" katamu bercanda. 

"ayo pulang yuk, sudah jam 12 malam. aku nanti berubah jadi labu." pintaku sambil berbicara pelan
"Hayuuk." kemudian kamu beranjak dan mengenakan jaket birumu.

Tengah malam angin malam berhembus kencang sekencang pertanyaan-pertanyaan teman-teman yang bertanya tentang hubungan kita, tentang kita, tentang sejauh apa kita dekat.
Aku sudah pernah bertanya padamu mengenai hal ini, bahwa aku sering sekali mendapati pertanyaan dari teman-teman kita. Namun saat itu kamu hanya menjawab "sudah tidak usah dibahas." bodohnya aku mengiyakan. Dua kali aku bertanya dan kamu pun menjawab dengan jawaban yang sama.

***
Sejak malam itu pertanyaan kembali bermunculan.
Kalian pacaran?
Kalian deket banget deh.
Kalian menjalin hubungan apa sih?
Aku selalu menjawab tidak ada perasaan atau hubungan apa-apa. Maaf aku berbohong masalah perasaan. Tapi aku juga bingung mau menjawab apa tentang hubungan ini.

Hari ini aku tersadar, mungkin memang tidak ada aku di hatimu.
Mungkin memang perasaanku  ini tak berbalas,
Mungkin memang aku tidak pernah nampak di matamu,
Aku sadar kini bahwa aku akan mundur. 
Perlahan mundur, perlahan hilang.
Berat meninggalkan sesuatu yang memang sudah terbiasa ada.
Tapi aku harus bisa.

20 April 2017
Dari aku yang sedang berupaya membiasakan diri tanpa kamu.

Jumat, 13 April 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (16)

Malam minggu kali ini aku habiskan berkumpul di kedai kopi bersama teman-teman kampusku. Efek kafein membuat mataku masih tetap segar walau jam sudah menunjukan hampir pukul 12 malam. Layar ponselku masih menyala, kita masih balas membalas chat. Kamu mengatakan ingin lari pagi besok dan kemudian kita bersepakat akan melakukan lari pagi esok hari. Olah raga bersama sudah menjadi wacana lama yang sering kita bicarakan namu tidak pernah terwujud.

Akhirnya 5 Maret 2017, aku bangun pagi sekali tidak mandi hanya cuci muka dan gosok gigi, aku mengganti pakaian, ku kenakan kaos berwarna merah marun dan celana training, ku kenakan sepatu lariku kemudian aku minta tolong diantar Mama ke tempat lari di mana ternyata kamu sudah sampai terlebih dahulu pagi itu. Aku diantar Mama melalui pintu belakang sedangkan kamu sudah menunggu di parkiran depan. Kamu mengirimi aku pesan berkata "buruan","lama banget","aku di parkiran sendirian nih." . Aku jadi ingat pertemuan kita saat di kantin kampus waktu itu, kamu juga menghujaniku dengan pesan yang bernada serupa. Kamu tidak senang menunggu, ya?
Untuk sampai di parkiran pintu depan, aku harus berjalan kira-kira 1km. Saat itu aku sudah berjalan cepat namun kamu terus menerus menghujani aku pesan, sudah 500m lagi aku sampai di parkiran depan.
"Iya, sebentar lagi aku tiba." balasku singkat dari sekian banyak pesanmu
"Aku hitung 1 menit dari sekarang." balasmu, aku hanya membaca. kemudian benar saja kamu menghitung 
"60"
"59"
"58" aku membaca pesanmu dan langsung berlari sekencang mungkin untuk sampai di parkira depan. Baru kali itu aku berlari kencang sekali dengan perasaan berbunga, seperti sedang mengejar sesuatu yang menyenangkan. Kamu. Dan benar saja aku tiba sebelum satu menit hitunganmu berakhir, dengan keringat yang sudah mengucur aku menemuimu.
"Ah, belum apa-apa udah keringetan duluan. Gara-gara kamu nih. Aku lari tahu."
"Gapapa, pemanasan."
"Yaudah yuk lari lagi."
"Tunggu, anter ke motor dulu."
"Ngapain lagi?"
"Naro jaket." Aku pun membuntuti mu hingga ke parkiran.
"Kamu hadap sana dulu."
"Mau ngapain sih?"
"Buka jaket."
"Yaelah, ntar juga keliatan-keliatan juga."
"Hahahaha.. Iya sih." kamu tertawa, kamu pun membuka jaketmu. Aku tertegun melihatmu, tertegun melihat otot lenganmu, pagi itu kamu mengenakan kaos basket tanpa lengan. Ternyata kita mengenakan warna baju yang senada, yang bahkan kita tidak janjian sebelumnya.
"Ayooo kita lari, lewat jalur yang mana dulu nih?" katamu membuyarkan lamunanku.
"Lewat sini aja." kataku gagap.

Jika kebanyakan orang yang aku lihat jika olah raga berdua, mereka kerap kali bukan lari justru berjalan sambil ngobrol santai atau bermanja-manja atau bermanis-manis ria atau berpegangan tangan. Lain halnya dengan kita, kita betul-betul berolah raga.
"kamu duluan deh larinya."
"Oke."
"Ntar juga kesusul sama aku." aku sudah melesat maju. Bensar saja, aku didahului kamu. Kamu sudah jauh melesat di depan. Satu puteran di tempat kita olah raga jaraknya 5km. Kamu lebih dahulu sampai finish, aku masih jauh tertinggal di belakang.
"Aku udah sampai tempat finish yaa."
"kamu cepet banget sih."
"Aku tunggu kamu di tempat tadi ya." Pesanmu tak aku balas, aku meneruskan lariku yang tertinggal jauh di belakang. Kamu kembali mengirimi aku pesan "masih jauh?"
Tak berapa lama aku tiba di finish, ada kamu sedang pedinginan.
"Lama banget sih kamu. Aku udah abis makan lontong sayur 2 piring."
"Masa? Ya wajar aku lama. Aku kan 6km, kamu 5km."
"6km dari mana?"
"Aku kan lewat jalur yang itu dua kali, pas pergi sebelum nyamper kamu aku udah lari 1km."
"Hahahahaha. alasan. Yaudah nyari minum yuk."
Akhirnya setelah berlari kita memutuskan untuk duduk di pinggiran danau sambil makan bubur kacang hijau. Kamu memotretku diam-diam kemudian dikirim ke grup dengan caption "persiapan untuk nanjak bulan depan".
"kamu kirim fotoku ke grup?"
"Iya, kenapa emang?"
"Gapapa sih. Itu kan keringetan banget fotonya."
"Hahahaha."

Pagi itu selain menghabiskan semangkuk bubur kacang hijau, kita habiskan waktu untuk bertukar cerita, bercanda dan berfoto. Setelahnya kamu mengantar aku pulang, tentu tidak sampai rumah. Hanya sampai depan gang, aku selalu meminta demikian.

"lari-mu cepat sekali seperti orang yang ingin mengambil doorprize" -Dari aku yang selalu menyukai matamu.

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (15)

Seperti harapanku pada malam itu yag tidak ingin malam berakhir, ternyata kita kembali dekat sejak pertemuan acara talkshow yang lalu itu. Komunikasi kita kembali membaik. Banyak hal yang sudah kita bagi, banyak hal yang ternyata memiliki kesamaan salah satunya adalah selera musik. Ada beberapa band dan penyanyi yang ternyata sama-sama kita favorit kan. Musik adalah bahasa yang universal, kita bisa membahas musik dengan siapa saja, menjadi pembuka obrolan pun bisa.
Ada salah satu grup musik Indonesia yang menjadi favorit aku dan baru aku tahu juga ternyata kamu pun menyukai grup musik tersebut. Hari itu kamu mengirimi aku sebuah video musik grup tersebut.
"Itu siapa yang nonton? Aduh, itu pemain gitarnya keren banget." Aku bertanya penuh semangat
"maukah kau tuk menjadi pilihanku, menjadi yang terakhir dalam hidupku. Maukah kau tuk menjadi yang pertama yang selalu ada di saat ku membuka mata." kamu tidak menjawab pertanyaanku, kamu justru mengirim lirik lagu grup musik yang kita suka.
'jika itu sebuah pertanyaan maka aku akan menjawab "ya", namun jika itu hanya sebuah pernyataan aku pun aka tetap menjawab "ya". Selama itu denganmu, aku pun mau.' jawabku dalam hati saat menerima pesanmu. Namun, sungguh tidak aku ungkapkan seperti itu. Aku hanya membalas dengan melanjutkan lirik lagu tersebut.

Tahun sudah berganti, tahun kedua aku mengenal kamu. Sudah satu tahun ternyata.
Januari 2017 aku pergi berlibur ke Lombok. Liburanku kali ini ditemani oleh kamu, ditemani melalui chat.
"Besok aku berangkat ke Lombok." kataku
"Mau ikuuuut." katamu
"Ayoo, ikut. Jalan-jalan."
"Mau jalan-jalan yang jauh."
"Eh, jangan deh. Nanti diomelin bunda." kataku meledek.
Hari pertama jadwal ku di Lombok cukup banyak, sore hari aku mengunjungi pantai. Aku iseng mnegirimimu foto aku sedang di pantai. Perbedaan jam antara Lombok - Jakarta adalah 1 jam dan aku tahu pasti jam segini kamu masih di kantor.
"gak terasa yaa, kamu udah kemana-mana, aku masih kerja aja." balasmu.
Hari-hari berikutnya selama aku di Lombok kita terus berkabar. Aku bercerita tentang salah satu budaya Lombok, tentang tradisi menculik sebelum menikah.
"Jadi di sini kalau mau nikah, perempuannya harus diculik dulu semalam atau beberapa hari. Terus kalau sudah menikah, diarak keliling kampung pakai baju pengantin."
"Diculik dulu?" tanyamu heran.
"Iya."
"Kamu mau gak aku culik?" tanyamu. Ah, lagi-lagi aku tidak membalas serius meski hatiku ingin.`.
Kamu juga sering mengirimi aku chat dengan hanya berkata "Pulang".
'Sejauh apapun aku pergi, kamu adalah rumah.' batinku.
Setelah landing pesawat tiba di Jakarta, lagi kamu mengirimi aku pesan "sudah sampai belum?","sudah di rumah?" . Aku menjawab "sudah landing, lagi nunggu koper isinya oleh-oleh buat kamu."
Bagaimana tidak aku mengirimimu oleh-oleh khas Lombok, kalau perjalananku selalu ada kamu yang aku kabari. Aku meminta alamat kantormu untuk untuk aku kirim paket oleh-oleh. Aku memberikan sarung, kali pertama aku membelikan laki-laki sarung sebagai hadiah. Dan ada beberapa oleh-oleh kecil lain yang aku selipkan. Semoga sarung itu bisa menemani ibadahmu.

Senin, 26 Maret 2018

Pertanyaan yang Akan Aku Tanyakan Setelah Kamu Pergi

1. Apa kamu masih mencintaiku?
2. Adakah lagu yang mengingatkanmu tentang aku?
3. Apa kamu masih ingat kapan pertama kali kamu mengenalku dan atau pertama kali aku mengenalmu?
4. Apa kamu masih ingat kapan dan dimana dan bagaimana aku dan kamu pertama kali bertemu?
5. Apa kamu merasakan perasaan yang sama dengan apa yang aku rasakan saat menjelang kita berjumpa pertama kali?
6. Apa kamu merasakan perasaan yang sama dengan yang aku rasakan di setiap pertemuan-pertemuan kita selanjutnya? Apakah dadamu berdebar?
7. Apakah tidak apa-apa jika aku bertanya tentang apakah kau ingat ini dan apakah kau ingat itu, tentang kita?
8. Apa kamu masih menyimpan semua pemberian dariku?
9. Apa kamu bahagia denganku?
10. Apa kamu masih sering merindukanku?
11. Atau sekedar memikirkanku?
12. Apakah ada yang salah dari caraku mencintaimu?
13. Apakah kamu pernah sekedar membayangkan bagaimana seandainya aku dan kamu menikah?
14. Jika aku dan kamu menikah, apakah anak-anak kita akan lebih mirip denganku atau denganmu?
15.  Apa di waktu mendatang aku dan kamu masih dapat bertemu?
16.  Jika aku sudah mendapatkan kita yang baru, apakah kamu akan cemburu?
17.  Jika kamu sudah menjadi kita yang lain, apakah kamu akan mencintai dia lebih dari kamu mencintai aku?
18.  Apakah hatimu terluka saat ini?
19.  Jika kamu pergi ke tempat-tempat yang pernah aku dan kamu datangi bersama, apakah kamu akan teringat kepadaku?
20.  Apakah kamu masih memimpikanku?
21.  Apakah kamu masih mengharap pesan singkat di sepanjang hari dariku atau telpon?
22.  Apakah kamu masih menyimpan dengan rapi ingatan tentang aku?
23.  Apa yang kamu rasakan saat ini?
24.  Apa kamu masih mencariku?
25.  Jika aku tidak menghubungimu, apakah kamu akan gusar lalu menghubungiku lebih dulu?
26.  Apakah kamu akan menceritakan kepada anakmu yang lucu-lucu nanti, cerita tentang aku dan kamu?
27.  Jika aku dan kamu menikah, apakah aku akan menjadi istri yang baik?
28.  Apakah aku akan jadi istri yang baik untuk pasanganku yang bukan kamu?
29.  Apakah aku akan mendapatkan kamu yang lebih baik atau sama atau bahkan tidak lebih baik dari kamu?
30.  Apa kamu akan membantuku mendapatkan kita yang baru untuk aku sebaik kita yang dulu?
31. Apa kamu masih menginginkanku?
32. Apa kamu masih ingat hal-hal kecil tentang aku?
33. Apa kamu masih dan akan masih menyimpan foto-foto kita?
34. Apakah kamu masih akan membaca tulisan-tulisanku tentang kamu?
35. Apakah kamu mengizinkan aku menulis tentangmu?
36. Apakah kamu mengenang aku seperti aku mengenang kamu?
37. Apakah kamu menikmati waktu denganku seperti aku menikmati waktu denganmu?
38. Apakah kamu segera melupakan aku?
39. Apakah kamu menyesal bertemu denganku?
40. Apakah kamu akan merindukan kita?
41. Apakah kamu ingat saat kita berjalan di bawah hujan dengan payung yang sama?
42. Apakah saat ini aku terlintas dalam pikiranmu?
43. Apakah kamu sudah makan?
44. Apakah kamu tidur larut malam lagi?
45. Apakah kamu akan bersepeda ke rumahku lagi?
46. Apakah kamu ingat kamu pernah berkata "kalau uangnya ada, ini cukup untuk melamar kamu."
47. Kamu tidak bisa mengatakan sesuatu perihal perasaan secara langsung Kamu merasa bersalah saat itu, apa kamu ingat?
48. Apakah kamu ingat kita pernah tertidur bersebelahan dan kaki kita sering bertemu karena dingin?
49. Apakah kamu ingat kita pernah saling menggenggam tangan?
50. Apakah kamu masih ingat semuanya?
52. Apakah kamu masih ingat lagu yang kita nyanyikan berdua?
53. Apakah kamu pernah merasa cemburu tiap aku dekat dengan laki-laki lain? Karena terkadang aku merasa cemburu tiap kali kamu dekat dengan perempuan lain.



:')

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (14)

10 Desember 2016 menjadi pertemuan kita setelah sekian lama kita tak bertukar kabar. Malam minggu kali ini basah oleh hujan dan masih meyisakan gerimis tipis. Kamu menyalakan motormu dan aku sudah duduk di belakangmu. Kita menyusuri jalanan Lenteng Agung malam ini.
"Kamu gak pegangan?" Katamu saat sudah beberapa menit kita menyusuri jalan.
"Pegangan? Oke." Aku memegang pundakmu. 
"Nih aku udah pegangan." kataku sambil tertawa.
"Ya, gak di pundak juga."
"Baiklah." Aku melingkarkan lenganku pada pinggangmu dengan gerakan ragu. "Haruskah aku melakukannya?" pikirku.
Ternyata saat perjalanan pulang itu suasana lebih cair dari saat kamu datang pertama ke acara talkshow itu, saat perjalanan pulang aku lebih bisa mengatur ritme detak jantungku.
Banyak obrolan tercipta saat perjalanan pulang tersebut. Apapun menjadi pembahasaan. Bahkan aku sering mendengar tawamu. Aku rindu itu.
"Speedo meter motormu mati?" kataku
"Iya nih mati. Kenapa? Aku terlalu ngebut ya?"
"Iya tadi agak kenceng. Tapi gapapa sih."
"Pegangan makanya."
"Iya, ini juga pegangan."

"kamu nanti mau nikah sama siapa?" kamu bertanya tiba-tiba, jika saja aku memiliki keberanian lebih dan sedikit menyingkarkan gengsiku aku akan menjawab "kamu." sayangnya aku terlalu pengecut untuk mengatakan itu.
"Gak tau, belum kelihatan jodohnya." aku menjawab demikian, jawaban yang tidak sesuai dengan kata hatiku.

"Aku mau beli mobil ah." kamu terlalu banyak pernyataan atau pertanyaan random malam itu
"Ngapain beli mobil?"
"Biar gak kena gerimisan kayak gini."
"Daripada beli mobil mending beli rumah."
"Iya sih, tapi aku juga mau punya mobil." Dan saat motor sudah memasuki wilayah dekat rumahmu jalanan agak padat oleh kendaraan.
"Yah macet." keluhmu
"Nah, gak usah beli mobil makanya nanti kamu nambah-nambahin bikin macet jalanan."
"Iya yaa? Yaudah gak jadi deh ntar makin macet."
"Iya gak usah."

Ternyata gerimis semakin deras.
"Kamu kebasahan gak?" tanyamu
"Gak. Kan kehalangan kamu. Makasih yaa udah menghalangi hujan jadi badan aku gak basah."
"Mana coba aku pegang, beneran gak basah." Tanganmu kemudian memegang kepalaku, mengelusnya.
"Basah dikit."
"Basah kamu itu. Aku gak bawa jas hujan. Gak bawa helm juga."
"Gapapa ini mah gak deras banget kok."
"Aku nih basah banget. Pegang deh." kemudian tanganku menyentuh bagian depan tubuhmu.
"Iya basah banget. Lepek."

Kita berhenti karena lampu merah. Perempatan jalan yang sudah dekat dengan tempat tujuan. Kamu bersandar ke belakang dengan lengan di paha kiri-ku.
"Yah, udah mau sampe. Cepet banget sih sampenya." katamu
"Iya, cepet banget ya."
"Padahal aku tahu kamu masih kangen aku kan?"
"Iya, aku masih kangen kamu." Akhirnya kalimat itu meluncur dari mulutku
"Sudah ratusan purnama kita gak ketemu." tambahku
"Hahahaha." kamu tertawa
"Bisa dijadiin FTV nih kisah kita malam ini."
"Kira-kira apa judulnya?"
"Apa ya? Malam minggu di bawah gerimis berdua."
"Kepanjangan."
"Hahahaha. Oh ya, berhenti di warung makaroni dulu ya. Aku mau jajan."
"Oke." kemudian motormu memasuki pelataran parkir warung makaroni.
Aku memesan makaroni dan aku tidak tahu kamu diam-diam memotretku kemudian kamu share di grup komunitas pecinta alam dengan caption "Mau ke basecamp tapi nganter Ayra beli ini dulu.", banyak yang berkomentar "Anter sampai rumah yaaa."

Aku tidak langsung pulang malam itu, aku ada janji untuk berkumpul dengan teman-teman kampus. Aku memintamu untuk mengantar hanya sampai kampus. Temanku belum datang,
"Aku tunggu sampai temanmu datang menjemput kamu.", aku menawari kamu untuk ikut berkumpul tapi kamu memilih untuk ke basecamp makan durian. hehehe
Kamu banyak menatap mataku saat itu, aku dibuat salah tingkah oleh tatapan itu. Tak berapa lama temanku datang menjemput dan aku pamit denganmu.

Rasanya aku ingin malam itu tidak pernah berakhir.

Minggu, 25 Maret 2018

Aku Beruntung Pernah .......

1. Aku beruntung akhirnya bisa merasakan lagi cinta yang dalam setelah luka masa lalu, cinta kepadamu
2. Aku beruntung pernah dipikirkanmu
3. Aku beruntung pernah berbincang ditelpon denganmu
4. Aku beruntung pernah mendapatkan "aku kangen kamu" darimu
5. Aku beruntung pernah menjadi orang yang paling kamu tunggu kabarnya
6. Aku beruntung pernah menjadi orang terdekat dalam hidupmu selain keluargamu
7. Aku beruntung pernah menjadi penampung untuk inspirasi yang muncul dari kehadiranmu
8. Aku beruntung pernah menjadi keseharianmu
9. Aku beruntung pernah menjadi tujuanmu menempuh jarak yang begitu jauh
10. Aku beeruntung pernah berpergian jauh berdua denganmu
11. Aku beruntung pernah menjadi orang yang membuatmu berkata "Iya, aku bahagia"
12. Aku beruntung pernah menjadi tujuanmu saat kamu sedang sedih
13. Aku beruntung pernah menggenggam tanganmu
14. Aku beruntung pernah menjadi orang yang kamu mimpikan
15. Aku beruntung pernah mendapat kalimat rindu dan sayang darimu
16. Aku beruntung pernah melihat dirimu tertidur dan terbangun di sebelahku
17. Aku beruntung pernah merasakan pelukan
18. Aku beruntung pernah memiliki waktumu
19. Aku beruntung pernah menikmati matahari terbit dan terbenam berdua denganmu
20. Aku beruntung pernah menikmati sinar bulan dan bintang berdua denganmu
21. Aku beruntung pernah berjalan di bawah gerimis dengamu
22. Aku beruntung pernah menikmati hujan berdua denganmu dengan buku bacaan masing-masing
23.Aku beruntung pernah berbagi headset berdua dengamu menikmati lagu bersama
24. Aku beruntung pernah memelukmu di atas motor
25. Aku beruntung pernah ditatap sedalam itu denganmu, walau pada akhirnya aku yang kalah karena tidak kuat melihat matamu
26. Aku beruntung pernah lari pagi berdua denganmu, itu kali pertama aku berolah raga berdua dengan laki-laki yang aku sukai
27. Aku beruntung pernah dihujani chat yang hanya berisi hitungan detik 1,2,3 dst karena aku lambat berlari.
28. Aku beruntung pernah diantar jemput olehmu
29. Meskipun semuanya kini hanya menjelma menjadi kata "PERNAH", aku tetap merasa beruntung.



Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (13)

Satu bulan lebih aku menjalani pengobatan untuk kesembuhanku, berkali aku bolak-balik rumah sakit untuk kontrol jahitan dan lainnya. Satu bulan pula kamu tidak pernah bertanya bagaimana keadaanku dan aku tidak terlalu memikirkan itu, aku kepikiran namun ah sudahlah kesehatanku sendiri jauh lebih penting, walalu aku juga butuh dukungan dari orang-orang terdekat.

Setelah keadaanku sudah lebih baik kamu sempat mengirimiku pesan sekali berkata, "Makanya cepet sembuh nanti kita makan bareng." Aku hanya mengamininya.

Bulan Desember 2016 keadaanku sudah jauh lebih baik, aku sudah berani keluar, berani main, sudah normal kembali. Aku diundang ke acara Talkshow di salah satu kampung swasta di Jakarta Selatan, aku menjadi perwakilan dari komunitas pecinta alam untuk hadir di acara tersebut, karena beberapa anggota komunitas pecinta alam berhalangan hadir. Aku datang bertiga dengan Mba Dewi, Bang Musa dan aku. Ternyata di sana sudah ada Ka Tika juga turut hadir, jadi kami berempat. Acara talkshow ini ternyata seharian penuh. Mba Dewi dan Bang Musa kemudian pamit pulang pukul 12.00 karena harus bekerja. Jadilah aku dan Ka Tika berdua saja. Tak lama setelah session kedua dibuka handphone-ku berbunyi chat masuk dan itu ternyata kamu.
"Share location dong. Aku mau nyusul ke sana. Telat gak?"
"Gak sih, pembicara intinya belum keluar kok."
"Yaudah nanti nyusul, masih di kantor soalnya."
"Oke."

Sekitar 45 menit dari chat terakhir itu, kamu mengirimi aku pesan kembali.
"Udah sampai nih, di mana?"
"Masuk aja. Dari pintu masuk ke kiri."
"Nengok deh ke belakang."
Aku menoleh mencari kamu di antara banyaknya peserta talkshow hari itu, ternyata kamu sudah berdiri di barisan kursiku. Kamu mengambil kursi di sebelah Ka Tika karena memang hanya di sana yang kosong.

"Hai." Sapamu padaku sambil tersenyum.
Sudah lama aku yakinkan hatiku sendiri bahwa aku telah melupakan kamu, tetapi begitu kamu muncul, aku menyangkal semua pernyataan itu di dalam hati. Aku masih menyayangimu.
Suara itu, aku merindukannya. Aku ingin menangis haru tapi aku tahan. Kamu menatapku, seakan menunggu jawaban, tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Aku sibuk mengatur degup jantungku sendiri.
Kamu mengenakan kemeja jeans biru, celana bahan hitam dan jam tangan hitam di lengan kirimu.
Mata itu masih sama, masih membuat aku jatuh hati.
Aku tak banyak berbicara, aku sibuk mendengar para pembicara berbicara topik pembahasaan atau lebih tepanya aku pura-pura sibuk mendengar. Karena jujur saja aku canggung sekali.
Kamu berkali mengajak aku berbicara, menepuk kakiku agar aku menoleh padamu, karena suaramu dan suara mikrofon beradu aku harus mencondongkan badanku ketika berbicara padamu. Kamu mengeluarkan sekotak kue bolu kemudian menarik tas-ku mencoba memasukkannya di sana tetapi tidak muat. Kamu terus saja mengajak aku berbicara, menepuk-nepuk kaki-ku agar aku kembali menoleh, bertanya pertanyaan yang menurutku tidak penting "Tas baru? Beli berapa harganya?". Mungkin Ka Tika yang berada di tengah agak terganggu melihat kita.
"Tadi ke sini naik apa?" kamu bertanya setelah kembali menepuk kakiku
"Gojek. Kenapa?"
"Gapapa, nanti pulang sama siapa?"
"Gak tau. Ya, gojek lagi."
"Bareng elo aja." Sahut ka Tika padamu.
"Dia suruh order dulu." kamu menjawab.
"Iya, aku naik gojek aja." kamu dan ka Tika tertawa karena apa yang aku jawab tidak nyambung, yang aku dengar adalah "Dia suruh order gojek aja."
"Hahahaha, bukan gitu. Maksudnya kamu suruh order ke Sakha dulu kalau mau bareng dia." Ka Tika menjelaskan.
"Oh gitu.. Yaudah aku order via apa nih? Whatsapp atau BBM?"
"Whatsapp aja." kamu menjawab dengan senyum


Acara talkshow itu selesai pukul 17.00 aku, kamu dan Ka Tika memutuskan untuk makan bakso dulu di depan kampus tersebut. Ada warung bakso dan mie ayam, kami mengambil kursi agak belakang. Aku memesan bakso, kamu memesan mie ayam kalau tidak salah. Kamu duduk di depanku, Ka Tika di samping kiriku. Banyak obrolan yang terjadi saat makan itu, aku menceritakan tentang kejadia kecelakaanku, aku menceritakan tentang pekerjaan. Banyak sekali cerita yang kami bagikan bertiga. Kamu terkadang sibuk dengan ponselmu, entah pesan siapa yang kamu balas, aku tidak ingin tahu. Aku mengambil fotomu diam-diam dari tempatku duduk. Hari sudah malam dan kami memutuskan untuk pulang. Kamu beranjak terlebih dahulu untuk membayar meninggalkan tas-mu di meja. Aku bergegas dan melihat tas-mu masih tergeletak maka aku berniat membawanya. Aku bawa tas-mu kemudian kamu sadar aku membawa tas-mu,
"Eh iya tas. Duh. Berat kan tas-nya?"
"Agak berat tapi gak berat banget."
Aku dan kamu keluar menuju motormu, Ka Tika menuju motonya sendiri.
"Tas aku digendong kamu ya di belakang."
"Iya, sini gapapa." Aku mengulurkan tangan untuk mengambil tas kamu, tapi kamu malah memakaikannya untukku.
"Berat gak?"
"Gak kok."
"Pakai peci dulu biar berkah." Katamu memulai ritual sebelum mengenakan helm adalah memakai peci. Aku tertawa.


Langit malam minggu di Selatan Jakarta saat itu gerimis tipis. Tidak membuat basah namun menambah kehangatan pertemuan kita. Setelah sekian lama, ternyata perasaan itu masih sama untuk kamu.
Dengan sedikit ragu, aku beranikan diri untuk berpegangan denganmu di atas motor di bawah gerimis langit Selatan Jakarta.

Kamis, 08 Maret 2018

Untukmu yang Tidak Ingin Ku Sebutkan Namanya Di Sini (12)

Pada hari di mana aku memilih mundur.
Aku tiada lagi bisa berbicara apa saja denganmu,
Aku tiada lagi bisa mendengar segala cerita hidupmu,
Aku tiada lagi bisa melihat teduh matamu; sepasang mata yang begitu aku sukai.
Pada hari di mana aku memilih mundur,
rindu-rindu kian menumpuk di celah hatiku yang kosong tanpa dirimu.
Pada hari di mana aku memilih mundur,
Aku hanya membohongi diri sendiri. Sebab, hingga saat ini
aku masih saja mencintaimu.

24 September 2016
Di rumah saat hujan turun. Untukmu. 


Satu minggu setelah aku benar-benar ingin mundur tetapi masih ada peperangan di hati, aku mengalami kecelakan hebat. Hebat, karena aku tidak pernah mengalami kecelakan sampai seperti itu. Aku mendapatkan 13 jahitan di kening kananku, gigiku patah, tulang lunak dekat hidungku patah, saraf di pipiku putus. Aku baru tersadar ketika sudah berada di rumah sakit setelah pingsan dan ditolong orang ke rumah sakit. Cahaya lampu rumah sakit yang pertama kali ku lihat saat membuka mata saat itu, ku lihat bayang-bayang orang tuaku di pinggir kasur, aku belum bisa melihat jelas saat itu. Kamar rumah sakit saat itu penuh dan aku tidak mendapatkan kamar, oleh karena itu aku hanya rawat jalan dengan setiap minggu aku kontrol ke rumah sakit.
Satu bulan aku bed rest, tidak masuk kerja. Jangan bekerja, untuk membalikan badan saja aku tidak bisa, untuk urusan makan dan ke toilet aku meminta bantuan orang tuaku. Itu adalah hari paling down dalam hidupku. Aku sempat berpikir apakah akan lama aku hidup?
Namun aku bersyukur, banyak teman-teman datang menjengukku. Setiap hari rumahku ramai banyak yang datang menjenguk.
Sampai komunitas pecinta alam itu datang beramai-ramai dengan anggota lainnya. Dengan keadaan yang belum begitu baik aku melihat kesekelilingku dan tidak mendapati kamu. Kamu tidak datang dengan mereka. Kamu kemana?? Aku rindu. Tahukah kamu mengenai keadaanku? Kamu kemana? Aku rindu.