Seeing how happy you are now with her, make me realize i can never get back what i regretfully let go
Jumat, 30 Mei 2014
Kamis, 29 Mei 2014
Tentang Aku dan Keinginanku Menjadi Wanita Feminin
Aku terlahir sebagai seorang wanita tapi entah mengapa aku terbilang anak yang tomboy seperti anak laki-laki.
Ketika aku kecil aku lebih sering bermain mainan anak laki-laki seperti gangsing, mobil atau robot. Itulah mengapa aku tidak pernah bisa bermain lompat karet atau bola bekel sampai sekarang. Aku ingat aku punya kaos baja hitam (salah satu superhero di masa itu), aku punya robot-robotan yang bisa berjalan dan bersuara. Aku tidak bisa diberi perhiasan seperti anting-anting, kalung, cincin atau gelang. Karena setiap aku memakainya aku selalu saja menghilangkannya.
Aku punya riwayat penyakit yang entah darimana datangnya hingga hinggap di tubuhku ini. Dulu saat aku kecil aku tidak boleh capek sedikit, aku tidak boleh dibentak kasar, aku tidak boleh banyak pikiran berlebih; karena itu akan menyebabkan aku sakit. Ada cerita yang cukup menggelitik jika aku mengingatnya sekarang. Jadi, dulu saat aku duduk di bangku SD setiap akan diadakan ujian semester aku selalu sakit dan selalu saja mengikuti ujian susulan di ruang guru. Itulah salah satu stres berlebihku dulu. Tapi di balik lemahnya tubuhku dulu aku termasuk anak yang banyak teman di sekolah. Aku termasuk anak yang dominan di kelas, ibaratnya aku dan teman-teman ditakuti oleh teman-teman lain entah apa sebabnya. Aku pernah berkelahi dengan anak laki-laki dari SD sebelah.
Tapi setelah lulus SD aku masuk MTs, sejajar dengan SMP tetapi itu sekolah Islam yang mewajibkan muridnya mengenakan jilbab. Aku sedikit berubah saat SMP karena aku mengenakan jilbab dan rok panjang mungkin, tapi aku tidak meninggalkan hobi sepak bola ku. Aku suka sekali sepak bola dari tahun 2002, atlit sepak bola yang sudah kukagumi 14 tahun lamanya yaitu Iker Casillas Fernandez. Karena hobi sepak bolaku ini kebanyakan temanku di SMP adalah anak laki-laki. Kami (aku dan teman laki-laki yang hobi sepak bola) sering sekali berkumpul di koridor depan kelas, jadwalnya setiap pagi dan tak lupa membawa koran olah raga lalu kami gelar rame-rame di depan kelas. Seru sekali jika aku mengingatnya lagi. Oh ya, saat aku SMP aku adalah ketua kelas perempuan satu-satunya di angkatanku. Ada 10 kelas; 9 orang ketua kelas laki-laki dan aku perempuan sendiri. Itulah setiap kali rapat ketua kelas aku merasa teristimewa. Selain itu jika ada class meeting aku pernah ikut lomba futsal antar kelas, tidak sering tapi aku pernah beberapa kali. Di SMP aku sudah mengenal 'cowok' dalam artian cinta-cintaan. Aku pernah nge-date dengan kakak kelas yang aku incar, Rendi. Ya, dia mengajakku pergi dan makan saat kami libur sekolah. Sekarang Ka Rendi sudah jadi Sarjana Sastra di Bandung. Selebihnya aku mengenal beberapa laki-laki lain; kakak kelas atau teman seangkatanku. Aku tidak berpacaran, aku hanya berteman.
Di penghujung kelulusan SMP, aku dekat dengan laki-laki seangkatanku di SMP, ya dia pacar pertamaku di SMA. Aku sekolah di SMK dan (mantan) kekasihku itu di STM yang tidak jauh dari sekolahku. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk putus, sudah kurang lebih 4 tahun berlalu. Dulu, aku anti berteman dengan dia tapi sekarang aku sudah berteman dan dia masih sangat baik padaku (kebaikan yang baru-baru ini dia membeli sepatu gunung baru untuk aku kenakan saat aku mendaki papandayan dan dia meminjami aku alat gunung selalu.)
di SMK aku pun mengenakan jilbab saat sekolah jadi aku tidak terlalu tomboy. Aku kenal dengan teman SMA-ku dia lebih tomboy penampilannya laki sekali. Saat ini dia sudah menikah (kalah gue kalah). Dulu aku belum berjilbab kemana-mana masih dengan rambut yang aku pajang kemana-mana. Tiap kali aku main aku kenakan celana jeans robek-robek, kemeja atau kaos gelap, sepatu kets. Aku membeli sepatu sneakers harga 250ribu. Aku mendengarkan musik metal, aku pergi menonton band metal yang kerap kali rusuh. Itu terjadi hingga aku semester 2 di kampus. Hanya saja setelah lulus SMA aku memutuskan kemana-mana mengenakan jilbab tapi pakaianku, selera musikku dan sepak bolaku tidak aku tinggalkan. Aku hanya meninggalkan celana robek-robekku.
Kuliah semester 1 dan 2 pakaianku tak karuan, kemeja atau kaos dan sneakers yang sering aku gunakan. Aku masih mendengar musik metal dan membuat kaget teman-teman laki-laki yang baru mengenalku. Hingga semester 3 aku mulai sedikit merubah penampilanku lebih ke perempuan. Aku kini meninggalkan sepatu sneakersku dan menggantinya dengan flat shoes. Aku mulai mengganti musikku dengan musik pop dan k-pop. Ini yang membuat teman laki-lakiku tertawa saat tahu aku beralih ke k-pop.
Saat ini teman laki-laki ku banyak sekali, entah mengapa berteman dengan laki-laki lebih seru dan tidak banyak mau. Hobi laki-laki yang aku senangi sekarang adalah naik gunung, entah mengapa aku suka membawa beban berat di punggungku, berjalan di tengah hutan. Anehnya penyakitku tidak kambuh saat ini, tidak seperti dulu.
Tapi ketahuilah dibalik kesenanganku yang agak maskulin sesungguhnya aku ingin sekali menjadi wanita feminin. Aku ingin terlihat cantik, aku ingin dipuji cantik bukan diledek "emang lo cewek?" . Mungkin niat untuk menjadi berubah seperti itu. Aku pernah berniat mempercantik diriku tapi hanya berlangsung satu hari atau beberapa minggu saja selebihnya aku tinggalkan karena terlalu bertele-tele dan makan waktu.
Saat ini aku memang sedang mengeluh, bukannya aku tidak bersyukur tapi aku ingin menjadi apa yang sudah Tuhan kodratkan. Aku normal masih menyukai laki-laki tapi aku tidak seperti wanita kebanyakan yang senang bersolek. Ini aku yang cuek dengan penampilan fisik dan keinginan terpendamku ingin menjadi wanita feminin.
Jangan Cintai Aku Apa Adanya
Tak sulit mendapatkanmu, karena sejak lama kau pun mengincarku
Tak perlu lama-lama, tak perlu banyak tenaga.
Ini terasa mudah.
Kau terima semua kurangku
Kau tak pernah marah bilaku salah
Kau selalu memuji apapun hasil tanganku yang tidak jarang payah
Jangan cintai aku apa adanya, jangan.
Tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan
Tak perlu lama-lama, tak perlu banyak tenaga.
Ini terasa mudah.
Kau terima semua kurangku
Kau tak pernah marah bilaku salah
Kau selalu memuji apapun hasil tanganku yang tidak jarang payah
Jangan cintai aku apa adanya, jangan.
Tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan
Sabtu, 17 Mei 2014
Ku teringat dalam lamunan rasa sentuhan jemari tanganmu
Ku teringat walau telah pudar suara tawamu sungguhku rindu
Tanpamu langit tak berbintang
Tanpamu hampa yang ku rasa
Seandainya jarak tiada berarti, akan ku arungi ruang dan waktu dalam sekejap saja
Seandainya sang waktu dapat mengerti tak akan ada rindu yang terus mengganggu
Kau akan kembali bersamaku
Terbit dan tenggelamnya mentari membawamu lebih dekat
Denganmu langitku berbintang
Denganmu sempurna ku rasa.....
Jumat, 16 Mei 2014
Danau Tertinggi di Pulau Jawa Bagian III
Di tengah malam entah pukul berapa terdengar suara
Nova menggigil kedinginan dan terdengar pula suara Feby. Feby mungkin terbangun
dan dengan sabar mengurus Nova yang kedinginan saat itu. Aku ingin sekali
bangun tapi aku juga tak kuat untuk bangun karena tubuhku sendiri juga
merasakan dingin sekali. Aku hanya berkomentar dengan mata yang terpejam “Kasih
teh atau air anget Feb.” . Ya, Feby sepertinya malam itu membuatkan Nova teh
agar tubuh Nova hangat. Feby terus mengajak Nova ngobrol agar Nova tidak
terkena hiportemia (dingin yang berlebih dan bisa menyebabkan kematian). Aku
terus memejamkan mata tak tidur pulas karena memang udara dingin begitu sangat
menusuk tubuh. Hingga aku terbangun tak ada lagi suara Feby dan Nova yang
sebelumnya sedang mengobrol, mungkin mereka sudah tertidur. Akupun melanjutkan
tidur kembali. Pukul 04.00 Ervan dan Feby terbangun, mereka berdua terdengar
mengobrol dan Ervan mengajak Feby untuk buang air kecil. Keluarlah mereka
berdua dari tenda dan mencari tempat buang air kecil. Tak berapa lama mereka
kembali dengan seruan “Aiih, dingin bangeet!!” . Aku sudah tersadar saat itu,
“pipis dimana lu berdua?” tanyaku
“di rerumputan di ujung sana.” Kata Feby
“Dingiiiin banget is asli deh.” Kata Ervan dan
kembali tiduran
“Nova semalem kenapa Feb?” Tanyaku pada Feby
“Iya dia kedinginan hebat. Gue buatin air anget trus
gue elus-elus sama gue ajak ngobrol.”
“Sorry ya gue gak bantuin semalem, gue juga
menggigil banget.”
“Dia kayak di film Titanic deh. Pas si Rose manggil
‘Jack...Jack..’. haha”
Aku tertawa mendengarnya, dasar Feby. Tak berapa
lama Nova terbangun dan ingin pipis juga, aku pun begitu. Akhirnya aku dan Nova
keluar merasakan dinginnya udara Ranu Kumbolo pagi itu. Aku pun pipis di balik
bukit dan menutupnya dengan sarung, pertama kali dalam hidupku seperti itu. Aku
dan Nova kembali ke tenda, Nova kembali melanjutkan tidurnya. Aku, Feby dan
Irwan duduk di luar tenda menikmati udara pagi pertama di Ranu Kumbolo.
Pagi itu berbeda dari pagi-pagi lain yang pernah aku
lewati sebelumnya. Pagi itu udara sangat dingin, pagi pertamaku di Ranu Kumbolo
memang tidak melihat indahnya matahari terbit karena lelah menyelimutiku dan
teman lainnya jadi tidak ada yang bangun pagi untuk melihat matahari terbit.
Kicauan burung, suara air danau, lukisan alam yang begitu luar biasa dan
orang-orang yang lalu lalang menikmati danau. Aku memasak air dan menyiapkan
sarapan untuk kita makan pagi itu. Feby dan Irwan pergi mencari tempat kemah
baru, entah kemana perginya. Aku ditinggal sendiri dalam waktu yang cukup lama.
Aku memasak air terlebih dahulu, kompor sempat mati namun aku tidak bisa
menyalakan kembali, akhirnya aku meminta bantuan dari pendaki lain untuk
menyalakan kompor itu. Syukur, kompor kembali menyala. Tak berapa lama Nova
terbangun dan keluar menemaniku duduk di depan tenda.
“Lo laper?” Tanyanya
“Iya laper. Mau masak mi gak?”
“Boleh tuh. Nasi yang semalem masih ada kan?”
“Ada kok. Mau?”
“Mau deh. Masih enak gak?”
“Masih tapi dingin.” Kataku sambil membuka bungkus
nasi tersebut
Akhirnya aku dan Nova makan nasi dan mi yang kami
buat, Feby dan Irwan kembali dengan setengah berlari.
“Darimana lu pada?” Tanyaku penasaran
“Nyari tempat baru.”
“Dapet?”
“Ada kok disana, deket tanjakan cinta.”
“Wah, gue mau naik tanjakan cinta!!”
Sambil berbincang mengenai tempat baru dan tanjakan
cinta kami sambil membuat kopi dan roti untuk sarapan. Suara gaduh di luar
tenda membuat Ervan bangun dan ikut bergabung bersama kita. Setelah sarapan
kami menikmati air danau, kami mendekat ke tepi danau dan menceburkan kaki kami
di air danau. Dingin super dingin sekali. Tak lupa kami mengambil foto dengan
background Ranu Kumbolo. Kami ingin sekali foto berlima, sulit mendapatkan foto
kami berlima, akhirnya kami meminta seorang dari anggota Tim SAR Gunung Semeru
untuk mengambil foto kami berlima. Tak lupa kamipun berfoto bersama Tim SAR
tersebut.
“Bapak dari puncak?” Tanyaku kepada salah satu
anggota Tim SAR
“Dari lereng gunung, 1 orang ada yang hilang.”
Mendengar pernyataan tersebut kami berlima sontak kaget dan penasaran
“Hilang?”
“Iya, tapi sudah ketemu
kok. Saya ingatkan ya kalau di gunung itu tidak boleh sombong, harus tetap
rendah hati. Jangan terpisah dari rombongan.” Anggota Tim SAR itu memberi
nasihat kepada kami. Kami mengangguk paham. Setelah foto dan berbincang
sebentar para anggota Tim SAR tersebut melanjutkan perjalanan kembali, tak lupa
kami mengucapkan banyak terima kasih karena telah bersedia dimintai tolong.
Sekali lagi salah satu dari anggota Tim SAR itu berkata “Ingat! Jangan
sombong.” Kalimat itu yang terus teringang dan terus ku pegang selama
perjalanan itu
Sebelum
matahari merangkak naik kami pun pindah ke tempat yang baru, ke tempat yang
memiliki spot pemandangan yang lebih indah maka dari itu kami membereskan semua
peralatan dan melimpat kembali tenda. Setelah semua rapi dan memastikan tidak
ada yang tertinggal walau sampah sekalipun, kami melanjutkan perjalanan kami. Berjalan menyusuri pinggiran danau dengan matahari yang
cukup terik namun semilir udara masih tetap dingin, banyak batang pohon yang
tumbang dan jatuh ke tepian danau tapi itu membuat kelihatan lebih indah
bagiku. Tak memakan waktu yang lama kami pun tiba di tempat perkemahan baru, tempatnya
tepat di pinggir danau dan tepat di bawah pohon. Aku heran mengapa Irwan
memilih tempat itu padahal di sebrang sebelah sana ada tanah luas untuk
mendirikan tenda bersama pendaki lain, tapi dia memilih tempat itu dan tak ada
tenda lain selain tenda kami di sana. Setelah aku bertanya aku tahu alasannya
mengapa, karena menurutnya tempat yang kami tempati itu sangat pas ketika esok
hari kami melihat sunrise. Kamipun membuka tenda kembali, membereskan kembali
peralatan seperti yang kami lakukan semalam. Aku ingat aku sempat marah pada
Irwan karena ia terus menyuruhku ini itu dan itu membuat aku kesal dan beberapa
kali cemberut. Sudah aku bilang di awal bahwa temanku Irwan adalah seorang yang
dewasa jadi dia mencoba melunak dan dengan halus mengajakku untuk mencuci
piring bekas makan bubur kami berlima. Saat sedang mencuci piring di bawah
pohon banyak pendaki yang berlalu-lalang mengingatkan kami agar tidak
menggunakan cairan sabun mencuci piring ketika mencuci karena takut merusak
ekosistem di sana. Disaat yang bersamaan Feby dan Nova bermain air danau sambil
menggosok gigi dan ditegur oleh pendaki lain agar tidak menggosok gigi, pendaki
lain mengira Feby dan Nova menggunakan pasta gigi padahal kenyataannya Feby dan
Nova hanya menggosok-gosok gigi tanpa menggunakan pasta gigi. Memang benar kita
harus saling mengingatkan untuk menjaga keasrian lingkungan apalagi alam.
Tak
banyak yang kami lakukan saat itu hanya berfoto mencari spot terbaik siang itu
setelah puas dan udara siang itu cukup dingin kami masuk ke tenda. Sedikit
merebahkan tubuh dan mencoba memejamkan mata untuk tidur siang. Aku, Feby, Nova
dan Ervan tidur dan entah apa yang dikerjakan Irwan di dapur (dapur tempat kami
memasak tepat di depan tenda kami). Aku hanya tidur sebentar selebihnya aku
hanya memejamkan mata dan menutup mukaku dengan jaket namun Irwan tahu kalau
aku tidak tidur, dia memukul kakiku seraya berkata “gue tahu lu gak tidur.
Bangun Is, bantuin gue masak.” . Aku-pun bangun dan menggerutu dalam hati
dengan lunglai aku keluar tenda membatu Irwan memasak. Siang itu kami memasak
nasi, goreng telur dan sayur sop. Aku membantu mengiris sayuran dan Irwan
memasak nasi. Makanan sudah hampir jadi Feby, Nova dan Ervan juga bangun dari
tidurnya. Aku dan Nova pergi menjauhi tenda berniat ingin mengambil foto lebih
banyak lagi, Irwan memanggil mengajak makan tapi aku dan Nova menolak dengan
kompak. Sungguh perutku masih kenyang daritadi pagi makan terus. Tapi Irwan
terus memaksa agar aku dan Nova makan, aku tetap menolak tapi Ia tetap keras
menyuruh makan. “Kalau cuaca dingin itu harus banyak makan biar perut gak
kosong, gak masuk angin juga.” Kata Irwan. ‘Dasar batu’ umpatku kesal saat itu.
Seperti anak yang menurut pada orang tua, aku dan Nova kembali ke tenda untuk
makan bersama. Menu saat itu menggiurkan sekali tapi aku hanya makan sedikit
karena memang perutku tak bisa dipaksakan. Ada yang lucu dari makan siang
menjelang sore kita itu adalah bahwa nasi yang kami makan belum matang alias
aron. Kami tertawa bersama saat makan nasi itu, ingat! Saat di gunung makanan
apapun harus dinikmati. Sambil makan kami sambil berbincang dan terus bercanda.
Aku penasaran setengah mati ingin ke tanjakan cinta, aku ingin sore itu
langsung ke sana. Mereka pun mengiyakan setelah membereskan makanan kami siap
menjemput senja dari atas tanjakan cinta.
Kamis, 15 Mei 2014
Danau Tertinggi di Pulau Jawa Bagian II
Sore itu kami mulai melangkahkan kaki melewati
pohon-pohon dan jalan setapak. Menuju pos 1 rute-nya tidak begitu sulit, jalan
landai dan masih cukup bagus. Beberapa kali kami berhenti karena kelelahan
berjalan. Maklum kami belum terbiasa berjalan sejauh ini. Hari semakin lama
semakin gelap namun perjalanan masih teramat jauh. Barulah sampai di pos 2
pukul 17.00 yang saat itu sudah gelap dan angin berhembus dingin sekali. Kami
memutuskan berhenti di pos 2. Tak hanya kami yang beristirahat disana, ada
beberapa pendaki lain yang sedang beristirahat pula. Berbincang dengan pendaki
lain dan beberapa pendaki yang ingin turun. Menurut informasi yang didapat
bahwa dari pos 2 menuju pos 3 adalah rute yang paling panjang dan rute menanjak
sekitar 60 derajat. Dengan rute perjalanan seperti itu dan langitpun sudah
mulai gelap menjadi tantangan bagi kami saat itu. Tak ingin membuang waktu
banyak kami mempersiapkan peralatan lighting, dari senter hingga headlamp.
Mengganti batre yang baru agar cahaya yang dihasilkan terang sehingga tidak
menggangu perjalanan kami saat itu. Setelah alat penerangan dibagikan satu
persatu kami siap untuk berjalan menuju pos 3. Aku sendiri memakai headlamp dan
senter yang aku genggam.
“Semangat mas dan mba.” Para pendaki lain memberi
semangat kepada kami.
Kami
berjalan menyusuri jalan setapak yang penuh dengan pasir dan bebatuan besar.
Terkadang kami menemui batang pohon yang tumbang yang memaksa kami harus
melangkah lebih ekstra hati-hati. Fokus pada jalan karena suasana pada saat itu
sangat gelap, angin malam berhembus dingin sekali sampai menembus tulang namun kami
harus tetap terus bergerak agar tidak kedinginan. Benar apa yang dikatakan
orang-orang tentang trek menuju pos 3 sangat curam, tak jarang kami harus
saling berpegangan tangan untuk membantu memanjat di trek yang sangat curam.
Sering kali aku merangkak untuk menanjak atau jika trek turunan aku kerap kali
jongkok meraba permukaan tanah berpasir dengan kakiku. Tak ada pemandangan yang
indah saat itu, aku tak melihat apapun selain jalan setapak dan pohon-pohon di
samping kananku, ranting pohon yang berserakan, di samping kiri ku terdapat
jurang, bebatuan di samping kananku. Pencahayaan pun harus tetap menyala dengan
baik untuk membantu perjalanan kami malam itu.
“Astagfirullah.” Aku berteriak begitu keras dan
refleks. Aku terjatuh karena tak melihat ada batu. Untung saja aku tak
terperosok ke dalam jurang yang saat itu mulut jurang sudah berada di ujung
kakiku.
“Kenapa lo is?” “Are you okay?” Teriakan mereka
hampir bersamaan melihat aku yang sudah jatuh duduk di bawah.
“Gapapa kok.” Kataku sambil mencoba berdiri dibantu
uluran tangan temanku.
“Hati-hati yaa guys. Fokus. Konsentrasi. Kalau capek
bilang.” Kata Irwan memberi instruksi kepada kami.
“Ayo. Udah bisa lanjut lagi kan?” Tanya Irwan padaku
“Sip.” Aku meyakinkan
“Udah pake senter 2 masih aja jatuh.” Lanjut Irwan
meledek
“Hahaha. Iya ilang fokus tadi.” Aku menjawab sambil
tertawa kecil
Setelah
insiden jatuhnya aku kami melanjutkan perjalanan kembali dengan lebih
berhati-hati. Tapi memang perjalanan menuju pos 3 sungguh sangat banyak
tantangannya. Kejadian jatuhnya aku kembali terulang, tak hanya aku namun semua
juga merasakan jatuh entah karena tersandung batu atau ranting pohon. Kondisi
kami saat itu sudah sangat lelah dan kondisi jalan yang sangat gelap. Tak
berapa lama setelah puluhan kali menanjak terlihat samar pos 3. Selter pos 3
sudah tidak berbentuk bangunan, karena pos 3 sudah ambruk. Hanya atap yang
terbuat dari seng yang masih ada disana. Kami tak beristirahat disana selain
kondisi pos yang tidak memungkinkan untuk kami beristirahat dan sudah hampir
malam. Kami takut banyak menghabiskan waktu di jalan karena angin malam saat
itu berhembus sangat kencang. Langkah demi langkah kami tapaki kembali malam
itu namun tempat tujuan belum juga muncul dipelupuk mata kami. Berkali kami
beristirahat karena terlalu lelah berjalan, tak ada pemandangan indah, tak ada
awan-awan cumulus yang menyambut, semua gelap pekat hanya cahaya dari senter
dan suara-suara anjing hutan dan jangkrik yang terdengar. Kami memutuskan untuk
berhenti untuk menyeduh teh dan memasak mi gelas, itu kami lakukan dipinggir
jalan jalur pendakian yang memang agak luas. Membongkar dan menyalakan kompor
lalu kami duduk melingkar saling menghangatkan diri. Beberapa pendaki melewati
kami dan berkata
“Semangat kalian. Sudah dekat dengan pos 4.” Mereka
yang lewat selalu saling memberi semangat. Adapula yang bertanya mengapa kami
membuat mi di tengah perjalanan seperti itu, apa boleh buat ini kami lakukan
karena perut kami kompak meminta diberi makan.
“Dingiiiin.” Kata Nova tangannya bergetar kedinginan.
“Ini minum kuah mi-nya biar anget.”
“Kita gak bisa banyak diam kayak gini, makin
dingin.” Kataku yang terus menggerak-gerakan jemari tangan yang sudah mulai
agak mati rasa.
“Please genggam tangan gue.” Kata Nova kepadaku, aku
menggenggamnya erat.
“Kita pelukan yuk, Nov.” Kataku meminta
“Lo kedinginan juga?”
“Bangeeeeeet.” Tak perlu menunggu waktu kami berdua
berpelukan. Sementara Irwan merapikan peralatan masak kembali, karena makanan
kami sudah dengan cepat kami lahap.
Kami
melanjutkan perjalanan kembali dengan tenaga yang baru kami isi seadanya. Iya
benar apa kata pendaki lain pos 4 memang tak begitu jauh dari tempat kami
beristirahat.
“Denger gak?” Kataku berseru yang saat itu memang
posisi aku berjalan diurutan kedua dari depan.
“Denger apa?” Ada yang menjawab
“Suara air. Kayaknya Ranu Kumbolo udah deket nih!.”
Mereka dengan kompak diam dan mencoba mendengar suara air yang terkena angin.
“Semangaaaat guys! Ini kita udah turun menuju ranu
kumbolo.” Lagi Irwan memberi semangat kepada kami semua
“Ranu Kumbolo kami datang.” Ervan setengah
berteriak. Aku mengucap syukur berkali dalam hati. Jalur trek menuju pos 4
memang tak terjal saat menuju pos 3. Masih ada jalan menanjak tapi tak terlalu
tajam, lebih banyak jalan menurun dan itu membutuhkan keseimbangan.
“Nah ini pos 4.” Kata Feby yang saat itu berada
dibarisan depan
“Itu banyak tenda camp dibawah.” Kataku berseru
sambil menunjuk ke arah perkemahan.
“Iya tapi kita lewat mana nih? Kanan atau kiri?”
Kami ragu dan tak ada rombongan pendaki dibelakang kami.
“Udah kanan aja.” Kata Irwan memberi saran
“Tapi ini terjal loh.”
“Udah gapapa, pelan-pelan. Ini kita ngejar waktu
udah malam banget ini.” Kata Irwan lagi
Feby
dan Ervan berjalan mendahului karena bertugas mencari tempat dan memasang
tenda. Aku berjalan sendiri menyusuri jalan menurun yang begitu sangat terjal.
Nova dan Irwan dibelakang, Irwan membimbing Nova turun. Aku mau menangis
rasanya saat itu, hatiku sesak, kesal. Mungkin efek dari lelah, kakiku sudah
tak kuat menopang badanku padahal saat itu sangat dibutuhkan keseimbangan. Feby
dan Ervan sudah jauh dibawahku, sedangkan Nova dan Irwan masih jauh diatasku.
Aku berkali teriak memanggil nama Feby namun ia hanya menoleh dan berkata “Ayo
lu bisa!” . Aku hampir mengeluarkan air mata saat itu, aku lelah, aku tak kuat
lagi berjalan. Aku ingin menyerah saja disitu namun mereka terus memberiku
semangat dan akhirnya aku sampai di bawah dengan selamat. Kami segera mencari
lahan untuk mendirikan tenda. Aku dan Nova tak mencari aku langsung duduk
menghadap danau Ranu Kumbolo yang malam itu tak begitu terlihat indah namun aku
bisa merasakan suara air yang disebabkan oleh angin malam yang berhembus. Aku
lirik jam tanganku tepat pukul 22.00 kami sampai di Ranu Kumbolo. Nova
menghampiri dan langsung duduk disebelahku.
“Tiduran yuk, Mus.” Panggilnya dengan panggilan
akrabku ‘Mus’
“Ayo.” Kami tak peduli alas apa yang kami tiduri
saat itu, kami hanya butuh istirahat dan sedikit rebahan.
“Kita sampe juga Mus.” Ucapnya
“Iya. Subhanallah ya langitnya.”
“Iya bagus banget. Sumpah!”
Ratusan
bahkan jutaan bintang malam itu menyambut kedatangan kami di Ranu Kumbolo. Aku
merasakan merinding luar biasa saat itu, bukan karena dingin atau apa. Namun
aku takjub melihat pemandangan langit malam itu. Jutaan bintang bertebaran dilangit
yang pekat, begitu terang. Aku merasakan dekat sekali dengan langit sepertinya
bintang itu bisa aku raih dengan jemari tanganku ini. Berkali aku ucap syukur
dan memuji Sang Maha Kuasa atas segala ciptaanNya yang begitu sangat luar
biasa.
“Kita sampe juga. Alhamdulillah.” Kataku yang saat
itu masih tiduran diatas pasir dan rumput kering sambil berpegangan tangan
dengan Nova dan menatap langit.
“Iya, Gue gak nyangka kita bisa sampe sini. Lo
pengen nangis gak?”
“Gue udah nangis nih, gue takjub banget sama
semuanya. Sama perjuangan kita dan terutama sama ini pemandangan yang kita liat
sekarang.” Jujur aku menangis saat itu, air mataku deras mengalir.
“Kemarin banyak yang ngeremehin gue. Kalo gue gak
kuat naik gunung. Tapi sekarang gue bisa tunjukin ke mereka kalo gue bisa. Gue
sampe Ranu Kumbolo.”
“Iya bener banget. Banyak yang bilang gue gak kuat
karena gue ashma, gue diremehin banget. Tapi sekarang gue disini, di danau
tertinggi di pulau Jawa.” Kataku terisak. Aku memang punya riwayat penyakit
ashma, bahkan pada saat pemeriksaan sebelum berangkat mendaki-pun aku sempat
diragukan oleh dokter yang memeriksaku. Namun kali ini aku bisa membuktikan
pada mereka semua yang sempat meremehkanku sebelum aku berangkat.
“Ini indah banget, sumpah demi apapun.”
“Ini pengalaman luar biasa yang bisa kita ceritain
ke suami, anak dan cucu kita nanti.”
“Iya bener banget lo. Gue mau ceritain ini ke
semuanya. Ke anak-anak gue, ke cucu-cucu gue. Semuanya.”
Air mata terus mengalir tak henti pula terus berucap
syukur kepada Sang Pencipta alam semesta ini
“Nov, bintang jatuh!” Kataku berseru sambil menunjuk
ke arah bintang jatuh.
“Iya, gue liat. Make a wish!” Dengan segera kami
make a wish. Tak begitu percaya dengan mitos yang satu itu ‘ketika bintang
jatuh ucapkanlah permohonanmu. Niscaya akan terkabul’ . Entah darimana mitos
itu berasal tapi kami masih saja melakukan. Berharap dikabulkan seperti bunyi
mitos itu. Aku dan Nova masih terbaring diatas rumput kering tak peduli angin
malam yang semakin kencang berhembus. Bercerita banyak dan meluapkan
kebahagiaan yang kami rasakan saat itu.
“Hoy, cewek-cewek. Bisa bantu kita masak air
hangat?” Kata Feby. Aku dan Nova segera beranjak dan menoleh, ternyata tenda
sudah berdiri. Barang-barang masih berserakan diluar. Ervan bertugas merapikan
dalam tenda. Aku dan Nova memasak air untuk kami minum. Sementara Irwan dan
Feby membereskan perlengkapan yang diluar. Angin malam semakin terasa kencang
dan dingin.
“Gue dingin gak kuat!” Kataku
“Udah buruan deketin aja tangannya ke kompor biar
anget.” Kata Irwan
Aku dan Nova mendekatkan telapak tangan ke
pinggir-pinggir kompor mini yang kami bawa saat itu. Sungguh itu tidak ada efek
yang berarti. Aku masih saja kedinginan.
“Tendanya udah rapi belum. Mau masuk please, gak
kuat lagi.” Kata Nova dan aku menyetujuinya dengan anggukan.
“Udah. Yaudah cewek-cewek dulu yang masuk ganti
pakaian kalian semua. Pake jaket atau apapun yang bisa menghangatkan tubuh
kalian.” Irwan kembali memberi instruksi. Irwan memang paling dewasa diantara
kami dan dia juga sedikit banyak memiliki pengalaman naik gunung meskipun
semeru belum ia jamahi tapi ia sudah tahu caranya naik gunung, jadilah ia
sebagai pemimpin dari perjalanan kami. Aku dan Nova segera masuk ke dalam tenda
mengganti pakaian kami yang basah karena keringat setelah ± 8jam berjalan kaki.
Perlu diketahui mendaki sampai Ranu Kumbolo jika dilakukan oleh mereka-mereka
yang telah terbiasa mendaki hanya menghabiskan waktu 5-6 jam. Tak apa kami
sedikit lambat karena ini pengalaman pertama kami. Jaket berlapis kami kenakan
tak lupa kaos kaki dan sarung tangan tebal. Setelah selesai aku dan Nova
kembali keluar bergantian dengan laki-laki yang berganti baju. Kembali aku dan
Nova memasak air untuk kebutuhan minum kami. Setelah mereka selesai berganti
pakaian hangat bersamaan dengan air yang sudah mendidih yang segera dimasukan
ke dalam termos kecil yang kami bawa. Kami berlima segera masuk ke tenda, duduk
melingkar dan mulai kami membuka makanan yang kami beli di Ranu Pani sore tadi.
Nasi dan sayur kari yang sudah dingin itu tidak lagi menarik di mataku dan di
mata mereka.
“Ya ampun nasinya.” Salah satu dari kami mengeluh
melihat kondisi nasi yang sudah lembek dan dingin ketika dibuka bungkusnya.
Sungguh aku pun mengeluh di dalam hati melihat nasi yang sudah seperti itu.
“Udah dimakan aja biar gak masuk angin. Nikmatin.”
Kata Irwan
“Iya dimakan aja. Lagi pula kita kan belum makan
nasi. Terakhir makan nasi pagi di warung pelangi di Tumpang.” Aku kembali
mengingatkan. Jika harus memilih mungkin aku tidak memilih makan tapi apa daya
perut sudah memanggil minta diisi nasi. Orang Indonesia wajar harus bertemu
nasi dulu baru dianggap sebagai makan.
“Iya belum basi ini ayo kita makan!” Nova berseru
Malam
itu kita duduk melingkar menikmati makanan yang sudah dingin bersama teh
hangat. Udara dingin semakin malam semakin menusuk, angin semakin kencang
seakan menggoyangkan tenda kami. Suara riuh jangkring dan serangga tonggeret bersahutan
dan suara deru air danau terdengar jelas. Langkah kaki dan suara-suara manusia
terdengar semakin dekat, ya mereka para pendaki yang baru sampai dan mendirikan
tenda di sebelah tenda kami.
“Mungkin itu para pendaki lain baru sampai.” Kata
Feby dan sedikit melihat keluar tenda
Setelah
merapikan makanan dan minuman kami mengatur kembali tata letak tas dan peralatan
lainnya agar tenda kami nyaman untuk ditiduri. Membersihkan alas dan
mengeluarkan sleeping bag. Kami hanya
membawa 2 sleeping bag maka itu kami
harus saling berbagi. Malam kian semakin larut kami sudah membagi posisi tidur
masing-masing. Irwan, aku, Ervan, Nova dan Feby. Begitulah urutan kami tidur di
malam pertama di Ranu Kumbolo. Lampu tenda sudah dimatikan dan saatnya
memejamkan mata. Di dalam tenda kami sudah gelap namun suara ramai di luar
masih terdengar jelas. Diantara kami tidak ada yang langsung tidur pulas
kecuali Ervan. Meskipun sudah berada di posisi tidur masing-masing tapi kami
masih sibuk ngobrol berempat hingga rasa lelah dan kantuk menggerogoti mata
kami dan kami tidur malam itu ditemani udara dingin.
Rabu, 14 Mei 2014
Danau Tertinggi di Pulau Jawa bagian I
Hari ini 3 Oktober 2013 pukul 09.00 WIB aku dan
keempat orang temanku telah bersiap melakukan sebuah perjalanan ke Jawa Timur.
Setelah selesai sarapan dan mengecek ke dalam bagasi mobil perlengkapan dirasa
sudah sempurna saatnya menuju Stasiun Senen. Pagi itu kami diantar Kak Fikar,
dia kakak dari temanku Feby. Begitu bersemangat menuju Stasiun Senen padahal
tiket online belum ditukar dengan tiket asli. Awalnya perjalanan menuju Stasiun
Senen lancar namun jam sudah semakin mepet dengan jadwal penukaran sementara
jalanan macet total. Air muka seketika berubah panik dan hati senantiasa
berdo’a. Syukurlah Tuhan masih mengizinkan kita berangkat ke Malang, Jawa
Timur. Ka Fikar tak mengantar sampai dalam stasiun, kami turun dekat stasiun
dan masih harus menyebrang jalan. Setelah pamit dengan Ka Fikar dan meminta do’a
agar diberi keselamatan, kami semua membawa tas masing-masing. Berat tas
laki-laki kira-kira sampai 15kg sedangkan perempuan 6kg. Berjalan menuju
stasiun dengan tas gunung menarik banyak perhatian orang. Dengan tergesa kami
segera menukarkan tiket. Feby dan Ervan bertugas mengantri, sementara aku, Nova
dan Irwan menunggu di luar. Tak berapa lama Feby dan Ervan keluar dari
kerumunan orang yang mengantri tiket dengan senyum yang sumringah. Tiket asli
sudah ditangan dan aku bertugas memegang tiket PP (pulang pergi) semua temanku.
Aku memimpin jalan menuju pintu masuk peron menyerahkan 5 tiket beserta KTP
asli teman-temanku, setelah menjalani proses pengecekan petugas akhirnya kami
masuk dan masih harus menunggu kereta Matarmaja jurusan Jakarta – Malang yang
dijadwalkan berangkat pukul 13.40. Kami masih punya waktu untuk membeli makanan
untuk di dalam kereta nanti, saat ini giliran Irwan dan Feby yang membeli makanan
di minimarket terdekat. Orang berlalu lalang tiada henti dan ada sebagian orang
yang memakai tas gunung seperti kami juga. Kami saling bertukar senyum dan sapa
dengan mereka. Karena di tiket tertera bahwa kami berada di gerbong satu maka
dari itu kami pindah tempat untuk menunggu agar lebih mudah naik ketika kereta
sudah datang. Tak berapa lama kami menunggu di tempat tersebut kereta matarmaja
datang, seluruh penumpang bersiap mendekati pintu masuk padahal kereta belum
berhenti. Cukup membutuhkan perjuangan untuk masuk ke dalam kereta tersebut
karena begitu sesaknya penumpang yang ingin naik. Kami berlima tidak duduk
saling berhadapan, kursi kami terpisah. Aku duduk berdua Nova dan di depan kami
rombongan ibu-ibu dari sebuah instansi yang akan berlibur ke Blitar. Sangat
bersyukur duduk dengan rombongan ibu-ibu itu makanan tak henti diberikan kepada
kami, sampai aku membaginya lagi ke 3 teman laki-laki ku yang kebetulan duduk
di belakang kursiku. Sementara 3 teman laki-lakiku duduk berhadapan dengan
sepasang suami istri yang akan berlibur ke Bromo.
Tak
berapa lama kereta mulai jalan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku melakukan
perjalanan dengan kereta api dan untuk pertama kalinya pula ke daerah Timur
Jawa. 18 jam perjalanan dari Jakarta – Malang cukup membuat pinggang ku sakit
karena kursi di kereta kelas ekonomi itu sangat tegak membuat posisi untuk
tidur tak nyaman. Tak apa aku nikmati perjalanan ini. Bertemu dengan banyak
orang di kereta, sedikit bertukar cerita dan makanan. Pedagang tak henti
berlalu lalang meski jam menunjukan pukul 02.00 dini hari. Tak banyak yang bisa
aku lakukan selain ngobrol dengan Nova atau ibu-ibu rombongan depanku. Melihat
ke kursi belakang dimana 3 teman laki-laki ku sedang asyiknya bermain kartu.
Mulai mencoba memejamkan mata sekali lagi sambil menunggu pagi. Cahaya matahari
yang masuk dari jendela kereta membuat tidurku terganggu, suara gaduh ibu-ibu
rombongan itu yang hendak turun mulai terdengar. Ya, aku memang harus
benar-benar bangun.
“Dek, Ibu duluan ya. Selamat liburan ya kalian.”
Ibu-ibu rombongan mengucap salam perpisahan kepadaku dan teman-temanku.
“Iya bu. Hati-hati ya. Terima kasih makanannya ya bu
dan selamat liburan.” Kataku dengan mata yang masih belum segar. Well, 3 kursi
di depan ku kosong dan dengan cepat 3 temanku pindah ke depanku dan Nova.
“Berapa jam lagi kita sampai?” Kataku sambil melihat
jam tangan yang melingkar di tangan kiriku
“2 jam lagi sesuai jadwal.” Feby menjawab
Tak banyak hal yang kami lakukan selama 2 jam
perjalanan itu. Hanya memandang ke luar jendela dan takjub dengan pemandangan
di luar. Hamparan sawah yang hijau menyambut pagi pertama kami di Jawa Timur di
tambah matahari pagi yang begitu cerahnya.
“Rapi-rapi yuk guys. 1 stasiun lagi kita akan
turun.” Irwan mengajak kami untuk segera membereskan tas karena saat itu kami
sudah tiba di Stasiun Malang Kota Lama itu berarti 1 stasiun lagi menuju Stasiun
Malang Kota Baru. Memastikan semua barang tak ada yang tertinggal di kereta
barulah kami turun di Stasiun Malang Kota Baru
“Akhirnya menginjakan kaki di Malang.” Kataku
berseru setelah turun dari kereta. Kami berjalan keluar stasiun. Banyak orang
yang menjemput dan ada pula supir-supir angkutan umum yang memang sudah siap
mencari penumpang. Kami keluar pintu stasiun dengan tas besar dan kemudian
dihampiri oleh salah seorang supir angkutan umum. Laki-laki yang belum cukup
tua itu mengenakan setelan kemeja kotak-kotak merah dan celana jeans dengan
topi cokelat muda bernegosiasi harga dengan kami dan kemudian deal dengan harga
tersebut. Pak Nur namanya yang akhirnya mengantarkan kami ke desa tumpang. Pak
Nur baik sekali mengantar kami ke mini market untuk membeli logistik yang
kurang dan beliau pula yang mengantar kami ke salah satu rumah yang menyewa
mobil jeep untuk transportasi kami selanjutnya menuju desa Ranu Pani. Namun
sayang si pemilik mobil jeep tidak ada di rumahnya dan kami memutuskan untuk
sarapan sambil menunggu si pemilik mobil jeep datang. Lagi, Pak Nur lah yang
mengantar kami sarapan mencari warung nasi terdekat. 1 porsi nasi kare dan teh
manis hangat cukup membuat perut kenyang. Pak Nur berkata kalau si pemilik jeep
sudah tiba di rumahnya. Setelah membayar makanan kami segera pergi ke rumah si
pemilik jeep. Karena diantara kami berlima yang bisa bahasa jawa hanya Irwan
jadilah Irwan yang terus bernegosiasi harga. Seperti Ibu-ibu di pasar Irwan
pintar sekali dalam hal tawar menawar. Deal dengan harga lebih murah yang
sungguh diluar dugaan kami. Setelah tawar menawar selesai Pak Nur pamit dan
kami untuk sementara istirahat di rumah si pemilik jeep. Setelah mengucapkan
terima kasih ke Pak Nur kami memutuskan untuk mandi dan beristirahat sebentar
di rumah itu sambil menunggu jeep datang. Irwan dan Feby pergi ke pasar untuk
membeli sayuran untuk bahan makanan di atas gunung nanti, pergi ke pasar diberi
pinjam sepeda motor dari pemilik rumah.
Sesuai
yang dijanjikan jeep datang pukul 11.00 dan kami sudah siap berangkat menuju
desa Ranu Pani. Jeep-nya warna merah, warna favoritku semakin bersemangatlah
aku untuk perjalanan hari ini. Pak Rusianto atau Pak Rus yang mengantarkan kami
menuju desa Ranu Pani, pintu gerbang menuju Gunung Semeru. Di tengah perjalanan
yang siang itu sangat cerah Pak Rus memberi tahu bahwa akses jalan menuju desa
Ranu Pani sedang ada perbaikan. Ya, jalan menuju desa itu memang sudah rusak,
batu-batu besar dan jalan berlubang menjadi tantangan perjalanan kami siang
itu. Karena akses jalan menuju desa tersebut sedang diperbaiki maka Pak Rus
tidak bisa mengantar sampai ke tempat perizinan untuk para pendaki. Namun Pak
Rus sangat baik hati beliau memberi solusi agar kami naik ojek dan beliau pula
yang menelepon tukang ojek setempat agar bisa langsung membawa kami ke desa
tersebut. Mobil jeep berhenti dan kami disuguhi pemandangan yang luar biasa.
Padang Savana dan Gunung Bromo terlihat dari atas, tak ingin melewatkan moment
itu kami langsung mengambil foto dengan background pemandangan yang luar biasa
itu.
“Bapak ndak bisa anter sampai Ranu Pane, mobil hanya
bisa sampai sini.” Kata Pak Rus dengan logat jawanya. Kami menurunkan tas
dengan bantuan Pak Rus.
“Dimana pak tukang ojeknya?” Kataku heran karena
sepenglihatan aku tak ada pangkalan ojek ditempat kita berhenti itu.
“Kalian harus jalan dulu nanti diujung jalan ada
tukang ojek cari yang namanya Mas Tris.”
“Mas Tris?”
“Iya, Mas Sutrisno. Tris.”
“Jadi kita jalan kesana pak?”
“Iya, ikuti saja jalan besar ini.” Maklum ini
perjalanan kami pertama kali ke desa tersebut jadi banyak tanya.
“Terima kasih pak. Nanti Senin jemput ya pak.”
“Iya kabari kalau sudah turun mendaki ya.” Ucap Pak
Rus. Dan kami mengangguk sambil berjabat tangan dan mulai berjalan. Awalnya aku
kira perjalanan menuju desa dari tempat kami turun dari mobil dekat namun kami
membutuhkan waktu ± 1 jam dengan berjalan kaki. Berkali kami berhenti karena kelelahan
berjalan. Ini baru permulaan tapi kaki rasanya sangat lelah untuk melangkah.
Namun kami saling memberi motivasi dan akhirnya pukul 13.30 kami sampai di
pangkalan ojek dan langsung mencari Mas Tris. Maks Tris sudah siap dengan
teman-temannya untuk mengangkut kami menuju desa Ranu Pani. Aku naik dengan
seorang mas ojek dengan ciri khas kain sarung melingkar di tubuhnya. Ciri khas
orang sana yang disebut Suku Tengger memang seperti itu tidak lepas dari kain
sarung mungkin efek udara dingin.
“Neng ndi mba?” Tanya tukang ojek tersebut kepadaku.
“Apa?”
“Neng ndi mba?”
“Apa mas?”
“Darimana mba-nya?” Jawab tukang ojek itu dengan
bahasa Indonesia, mungkin dia paham aku tidak mengerti bahasa Jawa.
“Saya dari Tangerang mas.”
“Mau naik semeru?”
“Iya, mas.”
“Sampai puncak?”
“Ndak mas. Sampai Ranu Kumbolo.” Kataku yang
mendadak berlogat Jawa
“Kenapa ndak sampai puncak? Bagus loh mba.”
“Mas sudah pernah?”
“Sudah 4 kali saya muncak.”
“Saya belum siap fisik dan mental mas kalau sampai
puncak.” Kataku dengan logat biasa
“Kalau naik gunung itu kuncinya niat. Jangan dibawa
serius, santai saja dan yakin pasti bisa.”
“Iya Mas.”
“Saya do’a kan nanti semoga bisa sampai puncak.
Indah mba kalau muncak rasanya beda.” Tak terasa aku sudah sampai di desa Ranu
Pani.
“Sudah sampai mba.” Aku turun dan membayar ongkos
ojek tak lupa mengucapkan terima kasih kepada tukang ojek yang sudah berbagi
sedikit pengalamannya. Sayang aku lupa bertanya nama waktu itu.
Kami
berjalan sedikit menuju tempat perizinan pendakian. Saat itu sudah pukul 14.00
banyak para pendaki yang berkumpul. Ada yang mau naik, ada pula yang baru
turun. Semua bergabung tak kenal usia, jenis kelamin, agama, suku, ras atau
apapun. Semua menjadi satu berbagi cerita suka duka mendaki gunung tertinggi di
pulau Jawa itu. Kami dengan segera mendaftar ke loket pendaftaran, mengisi
syarat-syarat yang telah ditentukan dan menunggu perizinan keluar. Sambil
menunggu sebagian dari kami membeli nasi untuk perbekalan mendaki. Tak berapa
lama perizinan sudah ditangan, membaca peraturan yang tertera dan siap untuk
mendaki sore itu. Kami berjalan menuju gapura yang bertuliskan “Selamat Datang
Para Pendaki Gunung Semeru” saat membaca tulisan tersebut aku merinding tak
percaya sebentar lagi aku akan menapaki jejak disini. Kami berdo’a bersama
sebelum mulai perjalanan, aku sempat melirik jam tangan dan pukul 14.30
petualangan ini kami mulai.
“Kalau ada yang capek bilang ya.” Ucap Irwan yang
saat itu menjadi pembuka jalan.
“Siap.” Kami menjawab kompak.
Langganan:
Postingan (Atom)
