Aku
tak pernah percaya pada cinta lagi. Tidak. Kegagalan demi kegagalan telah aku
alami. Perih yang tak pernah pudar ini masih membekas di hati. Aku selalu gagal
dalam hubungan percintaan, aku selalu sakit karenanya. Satu tahun aku sendiri,
tidak berani untuk berkomitmen lagi. Entah sampai kapan aku seperti ini.
Melihat teman dan sahabat berbahagia dengan pasangannya masing-masing terkadang
timbul rasa iri di hati ini. Kapan aku temui sosok laki-laki seperti itu yang
bisa membahagiakan dan terus bersama hingga pada hari bahagia yaitu pernikahan.
Sore di hari Sabtu ini lagi dan lagi
aku habiskan di cafe tak jauh dari tempat kuliahku. Sebuah cafe yang tidak
terlalu besar dan tidak terlalu gaduh suara pengunjung lain. Interiornya amat
membuat aku jatuh cinta, bernuansa kayu. Aku senang menghabiskan waktu
berjam-jam di cafe itu entah hanya untuk minum kopi sambil membaca novel atau
sambil menulis. Ya, aku sangat gemar membaca dan menulis sebuah cerita pendek.
“Imajinasi-mu terlalu tinggi” kata seseorang yang pernah mengisi hari-hari
indahku dulu. Dia memang terkadang tak bisa menerima dunia imajinasiku ini.
Handphone ku berdering tanda telpon masuk, aku lihat nama yang sedang
berkedip-kedip di layar handphone-ku “Citra” . Citra adalah sahabat baikku
sejak aku SMA. Saat ini aku dan dia tidak satu kampus tapi kami sering
menghabiskan waktu bersama. Meskipun dia memiliki kekasih tapi dia tidak
seperti orang kebanyakan. Ketika memiliki kekasih terkadang teman diabaikan.
Citra tidak seperti itu, dia masih mempunyai waktu untuk bersamaku, sahabatnya
ini.
“Haloo,
Encit.” Begitulah aku memanggil Citra
“Lo
dimana?”
“Tempat
biasa.”
“Oh.”
Citra sungguh sudah hafal tempat dimana aku berada sekarang
“Ada
apa?”
“Inget
gak janji gue minggu lalu? Yang mau kenalin lo ke seseorang.”
“Hmmm..”
“Datar
banget sih jawaban lo. Hey, lo udah terlalu lama sendiri. Gue khawatir sama
lo.”
“Gue
masih normal kok. Gak ada yang perlu dikhawatirkan.” Kataku
“Please,
sekali ini aja. Dia baik kok.”
“Encit,
gue masih belum siap berkomitmen.”
“Gue gak
nyuruh lo buat pacaran. Temenan aja dulu.”
“Tapi
tetep aja ada tujuannya buat jadi calon pacar.”
“Batu
deh.”
“Yaudah
kapan?”
“Malam
ini.”
“Gak
bisa.”
“Gak
bisa? Lo tiap malam minggu Cuma ngabisin waktu depan novel-novel ya mending
ketemu sama Raka.”
“Raka?”
“Iya
namanya R-A-K-A. Raka.”
“Pokoknya
jangan malam ini deh. Lo atur lagi kapan.”
“Oke.
Minggu siang. Gak boleh nolak lagi. Titik.”
“Tapi....”
belum selesai aku berbicara telpon disebrang sana sudah ditutup. Citra selalu
seperti itu setiap kali apa yang diinginkan harus dituruti. Ya, sejauh ini sih
aku menurutinya dengan senang hati tapi tidak untuk yang satu ini. Raka?
Terdengar familiar nama itu.
***
Keesokan harinya di sebuah mall di
Jakarta Selatan.
“Lo
dimana?” Suara Citra terdengar cempreng di ujung telpon.
“Gue di
lantai 2 nih. Lo dimana?”
“Yaudah
lo ke lantai 3 ya.”
“Oke.”
Klik. Telpon dimatikan. Aku berjalan dengan santai menuju lantai 3. Pengunjung
cukup ramai karena ini adalah hari libur.
“Naya!”
Suara Citra terdengar sambil melambaikan tangan
“Hey.”
Aku membalas lambaian tangan Citra
“Lama
banget sih.”
“Sorry.”
“Yuk.”
“Kemana?”
“Masuk
kesana. Raka udah nunggu disana.” Citra menunjuk coffee shop ternama itu.
“Bayu gak
ikut?” Aku bertanya soal kekasih Citra
“Gak. Dia
lagi ada urusan, tapi nanti dia jemput gue kok.” Kata Citra sambil menggiringku
masuk ke coffee shop itu.
“Ka. Ini
Naya.” Kata Citra menghampiri sebuah meja di pojok ruangan. Laki-laki dengan
potongan rambut yang rapi mengenakan polo shirt berwarna hitam, dengan jam
tangan yang melingkar di tangan kirinya, menggunakan celana jeans dan sepatu
kets. Parfumnya sungguh sangat kuat harumnya, Aigner Black Man. Laki-laki itu menoleh lalu berdiri mengulurkan
tangannya kepadaku seraya tersenyum.“Raka.” Dia menyebutkan namanya, aku membalas
uluran tangannya dan mengenalkan diriku “Naya.”
“Duduk
silakan.” Raka mempersilakan aku dan Citra duduk.
“Makasih.”
Kataku pelan
“Nay.
Raka ini satu fakultas sama lo.” Kata Citra membuka pembicaraan
“Masa
sih?”
“Iya. Aku
satu fakultas sama kamu.”
“Kok gue
gatau ya?” Tanyaku pada Citra sedikit berbisik
“Karena
lo gak pernah memperhatikan ke sekitar lo.” Citra menjawab agak keras sehingga
Raka sedikit tertawa kecil.
“Yah,
Bayu udah jemput nih di bawah. Gue harus cabut sekarang. Sorry ya.” Kata Citra
sambil mengecek isi tas-nya apa ada yang tertinggal atau tidak.
“Cit, lo
gak lagi ngerjain gue kan kayak di sinetron-sinetron FTV?” kataku kembali
berbisik ke Citra
“Gak Nay.
Serius. Ini emang Bayu udah jemput.” Citra menjawab dengan berbisik pula
“Have fun
ya kalian berdua. Sorry gak bisa lama.” Kata Citra berlalu pergi setelah
cipika-cipiki dengan ku dan bersalaman dengan Raka. Akhirnya aku dan Raka
ditinggal berdua oleh Citra. Awalnya sedikit canggung karena harus berkenalan
dan mengobrol hanya berdua. Namun Raka termasuk orang yang enak diajak ngobrol.
Kami membicarakan apa saja dari kampus, hoby bahkan sampai keluarga. Entahlah
kenapa aku bisa langsung bisa sedekat ini dengan orang yang baru aku kenal
beberapa jam yang lalu. Mungkin karena Raka memiliki hoby yang sama dengan ku
atau dia memang enak dijadikan teman sharing. Ya, hanya teman. Aku tak ingin
lebih dari itu.
***
“Jadi
Raka gimana Nay?” kembali Citra yang bersemangat tentang aku dan Raka
“Baik,
asyik diajak ngobrolnya. Ya gitu deh.”
“Trus?”
“Apanya
yang terus?”
“Ya,
kelanjutannya.”
“Just
friend. No more.”
“Selalu
gitu deh.” Kata Citra menghela nafas panjang tanda kecewa.
Setelah 2 bulan berkenalan pada
Minggu siang itu aku dan Raka memang dekat. Raka satu fakultas denganku, jadi
kami sering bertemu di kampus. Dia sering mengantarku pulang atau setiap
weekend jika tidak ada kegiatan dia mengajakku pergi. Dia perhatian sekali dari
hal-hal kecil sampai hal-hal yang besar. Dia selalu ada untukku. Aku jadi ingat
Citra pernah berkata padaku “Udah sebaik dan seperhatian itu lo masih anggap
dia teman? Dia sayang sama lo Nay, pegang omongan gue.” . Sekarang kalimat yang
pernah Citra lontarkan itu terus berkeliaran dipikiranku. Aku belum siap untuk
berkomitmen. Aku takut untuk memulai, aku takut luka ini kembali perih kembali
meskipun bukan dengan orang yang sama tapi aku yakin rasanya sama, perih.
“Mau sampai kapan nunggu lo siap? Lo gak akan tau
kalo lo gak coba. Ya kalo lo mau nunggu sampai lo siap, lo berdo’a aja semoga
Raka juga masih ada saat lo siap.”
Lagi dan lagi kata-kata Citra selalu membuat aku berpikir kembali.
“Loh kok
bengong? Jadi pergi gak nih?” Tanya Raka membuyarkan lamunanku
“Jadi kok
Ka. Mau kemana?”
“Ada
tempat makan enak deket sini.”
“Oke.”
Perjalanan malam itu tidak terlalu
lama karena jalanan juga tidak begitu macet. Raka memarkirkan mobilnya. Aku
melihat ke sekelilingku bertanya dalam hati dimana ini. Sebuah tempat makan
yang amat romantis menurut ku. Aku dan Raka keluar dari mobil lalu masuk ke
dalam restaurant itu disambut oleh seorang pelayan dan ternyata Raka telah
booked tempat terlebih dahulu. Niat sekali laki-laki ini. Tak salah dugaanku
dari luar sudah terlihat romantis sekali tempat ini dan ternyata di dalamnya
pun begitu. Untung aku tidak salah kostum malam ini. Raka amat sangat laki-laki
bukan seperti cowok-cowok abege lain. Dia sangat dewasa dan dia tahu bagaimana
memperlakukan seorang wanita. Dia menarikan kursi dan mempersilakan aku duduk.
“Suka gak
tempatnya?” Kata Raka yang telah duduk tepat dihadapanku
“Suka
banget. Bagus dan romantis.” Kataku sedikit tersipu saat mengucapkan kata
terakhir
Lalu aku
dan Raka mulai memesan makanan dan minuman sambil menunggu pesanan datang aku
dan Raka terlibat percakapan ringan.
“Silakan
dinimkati” Seorang pramusaji menghidangkan makanan dan minuman yang kami pesan
“Terima
kasih.” Kataku dengan senyum kepada pramusaji itu
Selagi
menyantap hidangan makan malam itupun aku dan Raka tak habis-habisnya bercerita
sampai makanan di piring aku dan Raka habis.
“Nay.”
Panggil Raka lembut setelah makanan di piring kami habis
“Kenapa?
Kamu mau minta nambah?” Kataku sedikit bercanda
“Kamu
nih.” Dia tersenyum kecil namun tak berapa lama wajahnya kembali serius
“Kenapa?”
Aku bertanya dengan serius
“Nay, aku
suka kamu saat pertama kali aku lihat kamu di kampus. Aku sudah lama
memperhatikan kamu. Aku mencari tahu sedikit banyak tentang kamu. Sampai
akhirnya aku memberanikan diri untuk menemui sahabatmu Citra. Kamu gak usah
heran kenapa aku bisa kenal Citra dan mengapa aku tahu kalau Citra itu sahabat
dekatmu, nanti akan aku jelaskan. Setelah perkenalan aku dan kamu beberapa
waktu lalu aku akui rasa ini semakin bertumbuh. Aku mungkin bukan lak-laki yang
pemberani karena aku meminta dikenalkan bukan mencoba berani sendiri untuk
berkenalan dengan kamu, tapi itu karena aku ingin tahu lebih jauh kamu seperti
apa. Saat ini yang terpenting adalah aku sayang kamu Nay. Aku ingin terus
berada disisimu saat kamu senang ataupun sedih. Would you be mine?”
Aku hanya
terdiam menatap Raka tak percaya. Raka menggenggam tanganku lembut
“Jawab
Nay.” Pernyataan Raka membuyarkan lamunanku
“Raka aku
gak nyangka ternyata kamu selama ini merhatiin aku, maaf aku gak pernah
merhatiin orang disekitarku. Maaf Raka tapi aku gak bisa, aku belum bisa
memulai untuk berkomitmen.” Kataku yang melepaskan genggaman lembut tangan Raka
“Kenapa?
Kisah masa lalu mu?”
“Kamu
tahu?”
“Iya aku
tahu semua Nay. Maaf bahkan sebelum kamu cerita padaku aku sudah tahu.”
“Hatiku pernah
terluka dulu bahkan lukanya masih terasa nyeri bila aku mengingatnya lagi. Aku
belum siap untuk berkomitmen. Aku takut menyakiti diriku lagi ataupun menyakiti
pasanganku. Aku belum bisa membuka hatiku. Aku tahu kamu sangat baik, aku masih
normal, aku masih bisa menilai bahwa kamu adalah laki-laki yang baik tapi untuk
saat ini maaf sekali lagi aku belum bisa.” Aku tertunduk air mataku mengembang
siap jatuh. Aku memang bodoh menolak laki-laki sebaik Raka, secerdas Raka,
setampan Raka hanya karena luka masa lalu yang masih terasa begitu menyakitkan.
“Nay, aku
gak maksa kalau memang kamu belum siap sekarang tidak apa-apa. Aku akan
menunggu sampai kamu siap berkomitmen denganku. Asal kamu izinkan aku untuk
terus berada disisi mu kapanpun itu, biar aku tunjukkan kepadamu bahwa tak
semua laki-laki sama seperti masa lalu mu Nay. Aku sayang sama kamu tulus dan
aku gak mau menyakiti hati orang yang aku sayang.” Raka beranjak dari kursinya
dan menghampiriku dan memeluk tubuhku. Orang-orang melihat kejadian malam itu dan
menatap dengan heran. Namun kami tak menghiraukan. Raka berbisik sekali lagi “aku sayang kamu Naya Ramadina.” . Aku
beranikan diri untu mengucap walau dengan sedikit terisak
“Aku
ingin belajar menyayangimu, bantu aku.”
“Pasti.”
Raka semakin mempererat pelukannya.
***
“Setiap orang pasti memiliki luka masa lalu. Luka
itu tidak pernah benar-benar mengering karena setiap kita mengingatnya luka itu
akan terasa perih lagi.”
“Jangan sia-siakan orang yang dengan tulus mencintai
kita hanya karena kita memiliki luka masa lalu yang amat perih. Siapa tahu
orang yang mencintai kita itu datang untuk menyembuhkan luka.”