Catatan Domba Betina

Senin, 05 Mei 2014

Faktabahasa Jakarta Selatan Cultural Festival (FJCF)

Jadi sudah hampir setahun saya bergabung di dalam satu komunitas bahasa yaitu Faktabahasa . Komunitas ini khusus untuk muda mudi yang mencintai bahasa dan budaya dari dalam maupun luar negeri. Nah, komunitas ini sudah cukup berkembang di Indonesia, sudah terdapat beberapa region. Saya sendiri bagian dari Faktabahasa region Jakarta Selatan (Jaksel). Setiap hari Minggu kita tuh belajar bahasa, saya ambil klub bahasa Spanyol. Di Faba Jaksel sendiri ada 7 bahasa yang dipelajari (Prancis, Jerman, Russia, Spanyol, Arab, Mandarin, English Conv.) .

Nah saya gak akan cerita tentang clubbing (kegiatan belajar bahasa tiap minggunya) tapi saya akan cerita tentang event cultural festival jaksel. Jadi event ini pertama kali diadakan di @Faba_Jaksel . Acara ini bertujuan untuk meningkatkan rasa persaudaraan sesama anggota dan menambah ilmu juga pastinya.
Acara dimulai pukul 13.00 bertempat di Sawita daerah Pejaten. Ruangan yang biasa jadi luar biasa karena didekor dengan ciamik oleh panitia. Saat itu dibuka oleh MC yaitu Narita (Tutor English Conv.) dan Fahri atau Pay (Lupa dia darimana asalnya) lalu sambutan singkat dari ketua acara Amita (Tutor bahasa Jerman), Tisa (Ibu ketua Faba Jaksel) dan Erlangga (Presiden atau pendiri Faktabahasa Nasional) . Setelah itu Fadli akustikan bawain lagu bahasa Jerman. Judulnya Du intinya tentang KAMU :') . Setelah itu ada Hilda baca puisi pake bahasa Russia. Keren kan??
Nah trus semua yang hadir dikasih makanan satu orang satu piring dan di piring itu ada 7 makanan dari 7 negara! Wooow!! Awalnya disuruh tebak-tebakan nama makanannya apa dan asalnya darimana. Jadi disitu ada Curros (makanan khas Spanyol), roti baguette (dari Prancis), tempura (Jepang), mantau (sejenis bakpau dari Tiongkok), Pancake, Sosis dan French Fries. Disini Ka Amjad (tutor Spanyol) jelasin semua makanan ini dan asal usulnya dari negara mana. Mantap!
Setelah itu ada penampilan dari Friska (klub Spanyol) dan Fadli (klub Jerman) bawain lagu berbahasa Spanyol judulnya No Me Ames. Jangan cintai aku lagi :p . Suaranya Friska bagus~
Nah terus dilanjut games eat bulaga. Per-klub bahasa wajib maju sampe ketua faba Jaksel dan Pak Pres pun ikutan main. Seru abis acara mulai pecah. Kata-kata yang ditebak-pun gak jauh dari bahasa dan budaya.
Sepertinya kalau saya tidak salah yang menang adalah Bremi.
Setelah game selesai giliran Amita yang nyanyi bawain lagu Try - P!NK . Ini juga suaranya enak bangeeet!!
Abis itu ada games lagi jadi dikasih satu benda dan kita harus berimajinasi sama benda itu. Gilaaaa! Saya udah kayak stand-up comedy yang lain duduk dan saya berdiri di depan sambil berimajinasi. Benda pertama yang dikasih adalah sedotan aqua dan benda kedua adalah sponge cuci piring. Ya lumayan deh respon yang lain ketawa ngakak.haha. Menurut saya yang paling gila imajinasinya Ka Andi (Tutor Mandarin) gila bangeeet dia bikin suasana tambah pecah. Setelah itu acara ramah tamah alias makan-makan. Ada pasta, ada nachos, ada martabak, ada kwetiau, ada capcay, pokoknya ada banyak. Dan acara terakhir adalah sesi foto di photobooth dan menulis wish di pohon harapan. Keseruan berakhir pukul 17.30.
Wow sebuah keseruan yang luar biasa terjadi di weekend ini :') Semoga tetap selalu bersama yaa, makin kompak @Faba_Jaksel #FabaJakselCulFest #FabaJakselFAMILY #WeProudToBeSouth #KhanMaen

Note : foto-fotonya belum ada nanti menyusul~


Senin, 28 April 2014

"masalah jangan dicari nanti juga datang sendiri."

Saya setuju banget dengan kata-kata tersebut, ngapain cari masalah sama orang lain toh nanti masalah datang dengan sendirinya. Ya kan??
Saya gak paham sama orang yang suka cari masalah dengan orang lain, padahal orang lain itu tidak pernah menyenggol orang yang cari masalah tersebut. Mungkin hidup orang itu sepi jadi harus cari masalah dengan orang lain. poor you!
Saya sih lebih baik tidak mencari masalah jika memang orang lain tidak memulai terlebih dulu dengan saya. Permasalahan mungkin memang ada dengan sesama teman tapi saya selalu diajarkan untuk bertanggung jawab, jika saya salah ya saya minta maaf. Urusan dimaafkan atau tidak itu urusan orang yang saya mintai maaf. Yang jelas ketika saya sudah meminta maaf, saya dengan sadar akan kesalahan-kesalahan saya dan mencoba untuk tidak mengulang kembali dan mencoba untuk memulai kembali tanpa harus mengungkit kesalahan saya yang lalu.
Kalo masih ada yang ungkit gimana? Dia pendendam.
Kok gitu? Apa dia tidak diajarkan untuk memaafkan kesalahan orang lain?
Kalau kesalahan yg dilakukan itu fatal dan melukai hati gimana? Ya maafin aja. Meminta maaf itu bukan perkara mudah, mengakui kesalahan itu adalah hal terberat apalagi harus memberanikan diri untuk meminta maaf. Minta maaf tuh jangan lewat pesan tapi secara langsung tatap mata yang lagi dimintai maaf. Itu juara!
Tapi kan sulit?? Ya, ambil simple aja "Dimaafkan tapi tidak dilupakan."
Berarti masih nyimpen dendam dong? Kalau dendam itu ada niatan untuk membalas dan mendoakan yang buruk. Kalau tidak dilupakan itu kita harus belajar dari pengalaman lalu.

Postingan saya tidak nyambung. Disela-sela nulis makalah tugas kuliah -,-
Untuk ke depannya saya akan bercerita tentang mereka. Mereka yang sering curhat ke saya. Oke makin random

Senin, 14 April 2014

Mengganti Nama Blog

Aku kepikiran untuk mengganti nama blog-ku ini menjadi dombabetina.blogspot.com
Aku ingin sekali merubahnya dengan nama yang unik seperti itu.
Mengapa domba betina?
1. Karena kambing jantan sudah milik Raditya Dika. Hehehe
2. Karena domba itu lambang zodiak aku Aries dan aku seorang perempuan jadi betina.
3. Karena di kamarku ada lukisan domba betina
4. Karena domba itu shaun the sheep
Oke alasanku makin ngaco. Pokoknya kalau alamat blog ini (eishafitri.blogspot.com) tidak bisa ditemukan ITU BERARTI AKU MENGGANTI ALAMAT BLOG-KU .

dombabetina.blogspot.com
dombabetina.blogspot.com
dombabetina.blogspot.com

bloknot

Siang ini aku merapikan tumpukan novel dan kertas-kertas yang telah lama tidak aku perhatikan. Dari tumpukan itu aku menemukan sebuah bloknot. Bloknot itu semacam buku catatan kecil.
Bloknot atau notes itu aku sudah isi dengan beberapa tulisan tanganku atau cerita sehari-hariku. Entah dapat dorongan darimana tiba-tiba aku ingin kembali menulis di buku itu. Tulisan yang ditulis dengan tangan itu lebih terasa menyenangkan daripada harus secara digital seperti ini. Aku jadi ingin kembali bercerita di buku itu saja meskipun saat ini teknologi canggih. Sebenarnya aku bisa bercerita di blog, twitter atau media sosial lainnya tapi entah mengapa aku ingin kembali menulis ceritaku di buku itu. Agar lebih pribadi.
Bloknot ini tidak dijual dimana-mana, aku membuatnya sendiri dengan desain-ku sendiri. Kalau ada yang pernah menonton film Perahu Kertas ada buku dongeng yang dibuat Kugy, nah itu wujudnya seperti itu. Tapi tidak sebesar milik Kugy. Makanya sayang sekali jika aku tidak pakai sama sekali bloknot ini.
Aku akan tetap menulis blog tapi untuk urusan hati aku menulisnya di bloknot. Setiap manusia punya rahasianya masing-masing bukan? Ya, mulai sekarang bloknot ini akan menjadi sahabat baru ku, akan aku bawa dan berbagi cerita disana tapi tidak ku biarkan orang lain membacanya.hehehe


Kamis, 10 April 2014

senangnya berlapis

Hari ini kuliah seperti biasa masuk jam 09.00 . Gue termasuk mahasiswi yang jarang sekali telat. Tapi entah mengapa hari ini ada yang berbeda di kelas. Ketika gue masuk kelas, temen-temen kelas gue yang cewek-cewek sudah pada duduk manis berjejer. Biasanya gue yang datang terlebih dulu dari mereka. Ada apa nih?
Oke, mata kuliah berlangsung seperti biasa hingga pukul 12.00 siang. Bubar kelas gue ditahan untuk tidak keluar dari kelas, mereka beralasan agar mengerjakan tugas kuliah bersama. 10 orang temen cewek gue di kelas, 2 orang pergi katanya mau pulang. Tapi setengah jam di kelas gak ada yang ngeluarin buku satu pun, malah asyik ngobrol dan selfie. Gue pun mulai bosan di kelas, akhirnya gue memutuskan untuk pergi ke toilet. Entahlah mengapa saat bosan toilet menjadi tujuan utama gue. Saat berjalan di lorong kelas menuju toilet, gue melihat 4 orang laki-laki sedang asyik bercanda. Dari belakang gue lihat seperti Hanafi dan ya benar sekali dugaan gue. Gue iseng manggil dia "Hanafi" tapi gue terus berjalan. Dia pun menoleh dan sedikit mengejar gue
"Hey is. Lo udah kelar kelas?"
"Hay... udah. lo udah?"
"Udah juga." Teman-temannya saat itu masih di samping dia. Dia lagi-lagi membahas tentang hiking dan berkata ke temannya "ini yang gue ceritain pernah naik gunung" temennya pun akhirnya sedikit ngobrol.
"Lo pacarnya Hanafi ya?" tiba-tiba dua orang temannya kompak berkata kayak gitu, dengan sigap gue berkata bukan dan Hanafi memberi kode yang artinya "jangan bertanya seperti itu." oke saat itu lagi dan lagi gue ngobrol bareng dia sambil berdiri dan akhirnya dia izin pergi untuk menunaikan ibadah sholat dzuhur. Pertemuan kami akhirnya berhenti disitu. Oke gue hampir lupa untuk ke toilet gara-gara ketemu dia.

Sekembalinya gue dari toilet, di kelas temen-temen gue gak ngerjain apa-apa. Bosen. Akhirnya gue berdiri di depan pintu dan ketemu sahabat gue Feby. Ya, salah satu agen rangers. Entah kenapa ini jadi hal menyenangkan gue hari ini. Udah lama gak ketemu Feby dan akhirnya hari ini bisa ngobrol-ngobrol bareng. Ya, lumayan ngobrol bareng cerita tentang naik gunung, cerita tentang agen rangers dll. Dan satu lagi dia ngucapin ulang tahun langsung. hehehe
Ngobrol bareng Feby kelar karena cukup lama juga dan Feby mau pulang. Akhirnya pertemuan gue dan Feby berakhir disitu.
Udah ngobrol bareng 2 orang dan di kelas masih gak ada tanda-tanda mau ngerjain tugas bareng. Terlalu.

Gue bosen dan akhirnya ketemu sama anak pemasaran. Gue sih manggilnya 'Mas' karena dia lebih tua dan lebih banyak pengalaman dari gue. Dia supervisior di salah satu brand minuman yang lagi naik daun di mall-mall gede. Gue kenal dari semester 3 karena dulu kita sekelas dan sekarang masih terus saling sapa dan berbagi cerita. Akhirnya gue memutuskan untuk ngobrol bareng dia. Banyak pelajaran yang diambil tiap kali ngobrol bareng si mas. Dia udah mengimplementasikan ilmu yang diterima di dunia kerja jadi gue nanya-nya enak. Dia berbagi pengalamannya dari nol sampe sekarang. Gue seneng ngobrol bareng dia karena gue jadi termotivasi juga untuk maju.
Kelar ngobrol bareng si Mas Sugi karena dia masih ada kelas BLKL. Gue pun kembali masuk kelas dan tidak ngerjain tugas kelompok. Gue mau pulang tapi gak boleh. Sungguh aneh luar biasa.

Gue pun akhirnya menuruti mereka untuk foto-foto saat itu gue pun berbalik badan dan ternyata kue ulang tahun dengan lilin menyala udah ada dihadapan gue. Woow!!! gue kaget bukan main. Temen-temen pun bernyanyi "happy birthday" bersama . Seneng banget bisa diasih surprise padahal umur gue udah tua gini.hehehe. Seperti ritual-ritual layaknya ulang tahun gue-pun make a wish, tiup lilin dan potong kue. Makasih banyak loh ya buat gengges pe'a (Resty, Sita, Ayse, Sri, Aini, Rani, Annisa, Ka Lina dan Ifa) . i love you all :* keinginan gue ingin dilancarkan kuliah dan terus berada bersama kalian teman-teman tercinta :*


"Berbuat baiklah maka engkau akan dipertemukan dengan orang-orang yang baik."
"Belajar bisa dimana saja salah satunya dari pengalaman orang lain."
"Jagalah persahabatan karena persahabatan itu berada tepat di bawah keluarga."
mungkin itu yang bisa gue simpulkan dari cerita gue hari ini :)


-@eishafitri-

Rabu, 09 April 2014

Senaaaaaangggg

Akhir-akhir ini gue ngerasa cuaca kalo siang panas banget. Ya hari ini pun begitu.
Mata kuliah hari ini full sampai jam 4 sore. Tapi tepat pukul 12.00 istirahat makan. Males keluar kelas karena cuaca yang super duper panas, lebih betah di kelas ber-AC sambil bergosip ria bareng teman-teman cewek lainnya. Tapi apa daya kekuatan suara perut lebih kuat akhirnya gue memutuskan untuk keluar kelas dan turun ke lantai 2 untuk membeli makan. Ternyata di luar lebih panas dari apa yang gue bayangkan di kelas tadi, akhirnya gue tidak makan cuma membeli es krim edisi Taylor Swift - RED yang katanya limited edtion itu. Setelah berjuang melawan pancaran sinar matahari akhirnya gue kembali ke kampus dari mini market sebelah kampus. Akses utamanya yang lebih dekat hanya pintu lobby dari gedung A.
Gue dan kedua teman gue lewat jalan itu. Tak lama memasuki gedung A yang ramai dengan mahasiswa lain tiba-tiba ada yang manggil-manggil nama gue. Gue mendengar sekali namun gue abaikan, gue tak terlalu memperhatikan sekitar. Sekali lagi suara laki-laki setengah berteriak kembali memanggil nama gue. Kini gue lihat posisi laki-laki yang sedaritadi memanggil nama gue. Laki-laki itu melambaikan tangan, gue melihatnya samar. Gue pikir ia teman semester 1, maka gue hanya tersenyum dan berlalu pergi. Gue tak melihat dengan jelas karena gue tidak memakai kaca mata. Tak berapa lama gue berniat melangkah terus melanjutkan perjalanan gue ke kelas tanpa memperdulikan siapa laki-laki itu. Laki-laki itu beranjak dari tempatnya dengan sigap dan segera menghampiri gue.
"Hey is.." Sapanya dengan senyum khasnya dan lesung di pipinya.
"Eh, hay. Hanafi." Kata gue sambil menunjuk. Ia mengulurkan tangannya. Ini baru kali ini ketemu lagi setelah lama gak ketemu dan kita hanya berkabar lewat bbm
"Gue kira lo lupa sama gue. Apa kabar?"
"Hmm, inget kok. Gue baik. Lo apa kabar?" Kata gue sambil berjabat tangan dengannya . Saat itu kedua teman gue menunggu sekitar 10 langkah dari tempat gue dan Hanafi berbincang
"Ada apa?" Kata gue bingung
"Gak ada apa-apa sih. Eh iya lo gabung di komunitas bahasa itu ya?"
"Yap.. kenapa?"
"Gapapa. Eh iya btw, gue mau belajar bahasa inggris nih." Oke perbincangan kita siang itu mengenai bahasa. Teman gue memanggil dan bertanya apakah gue masih lama berbincang dan gue hanya memberi kode agar mereka lebih dahulu pergi dan tinggalkan saja gue berdua.
"Temen lo nungguin atau lo mau buru-buru?" Kata dia sambil melihat teman gue
"Gak kok. santai aja."
Gue berbincang di depan mading tepat di depan ruang dosen. Banyak banget yang dibicarain dari tetang keinginan dia mau belajar bahasa inggris.
"Lo suka hiking?" Dia pun bertanya tentang hobi yang lagi gue sukai
"Iya.. ikut yuk."
"Kapan?"
"Mei. insya allah ke papandayan."
"Tapi gue belum pernah naik gunung tapi gue mau."
"Ya ayo. gue juga masih pemula."
"oh iya, kalo ada acara tentang kebudayaan gitu ajak gue juga dong. Kabar-kabarin lewat bbm."
"Siaaap"
Gue pun ngobrol cukup lama sambil berdiri tapi berasa enak aja ya. haha

Gak ngerti siang yang terik panas matahari itu jadi berasa adem pas tatap muka dan ngobrol bareng dia. Senyumannya bikin adem, tutur katanya kayak angin sepoi, matanya kayak air yang bening. Setelah obrolan siang sama dia, gue pun menuju kelas dengan senyum-senyum. Sampai di lift tuh semua gue senyumin sampai dosen yang gak gue kenal gue senyumin sampai akhirnya ngobrol di lift sama dosen.
Di lorong kelas gue masih senyum-senyum rasanya tuh es krim lebih manis dari biasanya. Di kelas pun gue senyum ramah ke semua.

Entah kenapa ketika suasana hati kita saat sedang dalam mood yang enak semua jadi kena efek-nya. Kayak dikasih senyum, dikasih sapaan dan pujian. Gitu juga sebaliknya ketika mood lagi berantakan semua kena imbasnya. Dijutekin, didiemin, dimarah-marahin. Ini yang gak baik. Seharusnya jika keadaan hati kita lagi gak enak jangan dilimpahin ke orang yang gak tau apa-apa. Ya, kita semua harus belajar seperti itu. Termasuk gue pribadi. :)

Minggu, 06 April 2014

Luka Masa Lalu


Aku tak pernah percaya pada cinta lagi. Tidak. Kegagalan demi kegagalan telah aku alami. Perih yang tak pernah pudar ini masih membekas di hati. Aku selalu gagal dalam hubungan percintaan, aku selalu sakit karenanya. Satu tahun aku sendiri, tidak berani untuk berkomitmen lagi. Entah sampai kapan aku seperti ini. Melihat teman dan sahabat berbahagia dengan pasangannya masing-masing terkadang timbul rasa iri di hati ini. Kapan aku temui sosok laki-laki seperti itu yang bisa membahagiakan dan terus bersama hingga pada hari bahagia yaitu pernikahan.
            Sore di hari Sabtu ini lagi dan lagi aku habiskan di cafe tak jauh dari tempat kuliahku. Sebuah cafe yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu gaduh suara pengunjung lain. Interiornya amat membuat aku jatuh cinta, bernuansa kayu. Aku senang menghabiskan waktu berjam-jam di cafe itu entah hanya untuk minum kopi sambil membaca novel atau sambil menulis. Ya, aku sangat gemar membaca dan menulis sebuah cerita pendek. “Imajinasi-mu terlalu tinggi” kata seseorang yang pernah mengisi hari-hari indahku dulu. Dia memang terkadang tak bisa menerima dunia imajinasiku ini. Handphone ku berdering tanda telpon masuk, aku lihat nama yang sedang berkedip-kedip di layar handphone-ku “Citra” . Citra adalah sahabat baikku sejak aku SMA. Saat ini aku dan dia tidak satu kampus tapi kami sering menghabiskan waktu bersama. Meskipun dia memiliki kekasih tapi dia tidak seperti orang kebanyakan. Ketika memiliki kekasih terkadang teman diabaikan. Citra tidak seperti itu, dia masih mempunyai waktu untuk bersamaku, sahabatnya ini.
“Haloo, Encit.” Begitulah aku memanggil Citra
“Lo dimana?”
“Tempat biasa.”
“Oh.” Citra sungguh sudah hafal tempat dimana aku berada sekarang
“Ada apa?”
“Inget gak janji gue minggu lalu? Yang mau kenalin lo ke seseorang.”
“Hmmm..”
“Datar banget sih jawaban lo. Hey, lo udah terlalu lama sendiri. Gue khawatir sama lo.”
“Gue masih normal kok. Gak ada yang perlu dikhawatirkan.” Kataku
“Please, sekali ini aja. Dia baik kok.”
“Encit, gue masih belum siap berkomitmen.”
“Gue gak nyuruh lo buat pacaran. Temenan aja dulu.”
“Tapi tetep aja ada tujuannya buat jadi calon pacar.”
“Batu deh.”
“Yaudah kapan?”
“Malam ini.”
“Gak bisa.”
“Gak bisa? Lo tiap malam minggu Cuma ngabisin waktu depan novel-novel ya mending ketemu sama Raka.”
“Raka?”
“Iya namanya R-A-K-A. Raka.”
“Pokoknya jangan malam ini deh. Lo atur lagi kapan.”
“Oke. Minggu siang. Gak boleh nolak lagi. Titik.”
“Tapi....” belum selesai aku berbicara telpon disebrang sana sudah ditutup. Citra selalu seperti itu setiap kali apa yang diinginkan harus dituruti. Ya, sejauh ini sih aku menurutinya dengan senang hati tapi tidak untuk yang satu ini. Raka? Terdengar familiar nama itu.
                                                            ***
            Keesokan harinya di sebuah mall di Jakarta Selatan.
“Lo dimana?” Suara Citra terdengar cempreng di ujung telpon.
“Gue di lantai 2 nih. Lo dimana?”
“Yaudah lo ke lantai 3 ya.”
“Oke.” Klik. Telpon dimatikan. Aku berjalan dengan santai menuju lantai 3. Pengunjung cukup ramai karena ini adalah hari libur.
“Naya!” Suara Citra terdengar sambil melambaikan tangan
“Hey.” Aku membalas lambaian tangan Citra
“Lama banget sih.”
“Sorry.”
“Yuk.”
“Kemana?”
“Masuk kesana. Raka udah nunggu disana.” Citra menunjuk coffee shop ternama itu.
“Bayu gak ikut?” Aku bertanya soal kekasih Citra
“Gak. Dia lagi ada urusan, tapi nanti dia jemput gue kok.” Kata Citra sambil menggiringku masuk ke coffee shop itu.
“Ka. Ini Naya.” Kata Citra menghampiri sebuah meja di pojok ruangan. Laki-laki dengan potongan rambut yang rapi mengenakan polo shirt berwarna hitam, dengan jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, menggunakan celana jeans dan sepatu kets. Parfumnya sungguh sangat kuat harumnya, Aigner Black Man. Laki-laki itu menoleh lalu berdiri mengulurkan tangannya kepadaku seraya tersenyum.“Raka.” Dia menyebutkan namanya, aku membalas uluran tangannya dan mengenalkan diriku “Naya.”
“Duduk silakan.” Raka mempersilakan aku dan Citra duduk.
“Makasih.” Kataku pelan
“Nay. Raka ini satu fakultas sama lo.” Kata Citra membuka pembicaraan
“Masa sih?”
“Iya. Aku satu fakultas sama kamu.”
“Kok gue gatau ya?” Tanyaku pada Citra sedikit berbisik
“Karena lo gak pernah memperhatikan ke sekitar lo.” Citra menjawab agak keras sehingga Raka sedikit tertawa kecil.
“Yah, Bayu udah jemput nih di bawah. Gue harus cabut sekarang. Sorry ya.” Kata Citra sambil mengecek isi tas-nya apa ada yang tertinggal atau tidak.
“Cit, lo gak lagi ngerjain gue kan kayak di sinetron-sinetron FTV?” kataku kembali berbisik ke Citra
“Gak Nay. Serius. Ini emang Bayu udah jemput.” Citra menjawab dengan berbisik pula
“Have fun ya kalian berdua. Sorry gak bisa lama.” Kata Citra berlalu pergi setelah cipika-cipiki dengan ku dan bersalaman dengan Raka. Akhirnya aku dan Raka ditinggal berdua oleh Citra. Awalnya sedikit canggung karena harus berkenalan dan mengobrol hanya berdua. Namun Raka termasuk orang yang enak diajak ngobrol. Kami membicarakan apa saja dari kampus, hoby bahkan sampai keluarga. Entahlah kenapa aku bisa langsung bisa sedekat ini dengan orang yang baru aku kenal beberapa jam yang lalu. Mungkin karena Raka memiliki hoby yang sama dengan ku atau dia memang enak dijadikan teman sharing. Ya, hanya teman. Aku tak ingin lebih dari itu.
                                                            ***
“Jadi Raka gimana Nay?” kembali Citra yang bersemangat tentang aku dan Raka
“Baik, asyik diajak ngobrolnya. Ya gitu deh.”
“Trus?”
“Apanya yang terus?”
“Ya, kelanjutannya.”
“Just friend. No more.”
“Selalu gitu deh.” Kata Citra menghela nafas panjang tanda kecewa.
            Setelah 2 bulan berkenalan pada Minggu siang itu aku dan Raka memang dekat. Raka satu fakultas denganku, jadi kami sering bertemu di kampus. Dia sering mengantarku pulang atau setiap weekend jika tidak ada kegiatan dia mengajakku pergi. Dia perhatian sekali dari hal-hal kecil sampai hal-hal yang besar. Dia selalu ada untukku. Aku jadi ingat Citra pernah berkata padaku “Udah sebaik dan seperhatian itu lo masih anggap dia teman? Dia sayang sama lo Nay, pegang omongan gue.” . Sekarang kalimat yang pernah Citra lontarkan itu terus berkeliaran dipikiranku. Aku belum siap untuk berkomitmen. Aku takut untuk memulai, aku takut luka ini kembali perih kembali meskipun bukan dengan orang yang sama tapi aku yakin rasanya sama, perih.
“Mau sampai kapan nunggu lo siap? Lo gak akan tau kalo lo gak coba. Ya kalo lo mau nunggu sampai lo siap, lo berdo’a aja semoga Raka juga masih ada saat lo siap.” Lagi dan lagi kata-kata Citra selalu membuat aku berpikir kembali.

“Loh kok bengong? Jadi pergi gak nih?” Tanya Raka membuyarkan lamunanku
“Jadi kok Ka. Mau kemana?”
“Ada tempat makan enak deket sini.”
“Oke.”
            Perjalanan malam itu tidak terlalu lama karena jalanan juga tidak begitu macet. Raka memarkirkan mobilnya. Aku melihat ke sekelilingku bertanya dalam hati dimana ini. Sebuah tempat makan yang amat romantis menurut ku. Aku dan Raka keluar dari mobil lalu masuk ke dalam restaurant itu disambut oleh seorang pelayan dan ternyata Raka telah booked tempat terlebih dahulu. Niat sekali laki-laki ini. Tak salah dugaanku dari luar sudah terlihat romantis sekali tempat ini dan ternyata di dalamnya pun begitu. Untung aku tidak salah kostum malam ini. Raka amat sangat laki-laki bukan seperti cowok-cowok abege lain. Dia sangat dewasa dan dia tahu bagaimana memperlakukan seorang wanita. Dia menarikan kursi dan mempersilakan aku duduk.
“Suka gak tempatnya?” Kata Raka yang telah duduk tepat dihadapanku
“Suka banget. Bagus dan romantis.” Kataku sedikit tersipu saat mengucapkan kata terakhir
Lalu aku dan Raka mulai memesan makanan dan minuman sambil menunggu pesanan datang aku dan Raka terlibat percakapan ringan.
“Silakan dinimkati” Seorang pramusaji menghidangkan makanan dan minuman yang kami pesan
“Terima kasih.” Kataku dengan senyum kepada pramusaji itu
Selagi menyantap hidangan makan malam itupun aku dan Raka tak habis-habisnya bercerita sampai makanan di piring aku dan Raka habis.
“Nay.” Panggil Raka lembut setelah makanan di piring kami habis
“Kenapa? Kamu mau minta nambah?” Kataku sedikit bercanda
“Kamu nih.” Dia tersenyum kecil namun tak berapa lama wajahnya kembali serius
“Kenapa?” Aku bertanya dengan serius
“Nay, aku suka kamu saat pertama kali aku lihat kamu di kampus. Aku sudah lama memperhatikan kamu. Aku mencari tahu sedikit banyak tentang kamu. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk menemui sahabatmu Citra. Kamu gak usah heran kenapa aku bisa kenal Citra dan mengapa aku tahu kalau Citra itu sahabat dekatmu, nanti akan aku jelaskan. Setelah perkenalan aku dan kamu beberapa waktu lalu aku akui rasa ini semakin bertumbuh. Aku mungkin bukan lak-laki yang pemberani karena aku meminta dikenalkan bukan mencoba berani sendiri untuk berkenalan dengan kamu, tapi itu karena aku ingin tahu lebih jauh kamu seperti apa. Saat ini yang terpenting adalah aku sayang kamu Nay. Aku ingin terus berada disisimu saat kamu senang ataupun sedih. Would you be mine?”
Aku hanya terdiam menatap Raka tak percaya. Raka menggenggam tanganku lembut
“Jawab Nay.” Pernyataan Raka membuyarkan lamunanku
“Raka aku gak nyangka ternyata kamu selama ini merhatiin aku, maaf aku gak pernah merhatiin orang disekitarku. Maaf Raka tapi aku gak bisa, aku belum bisa memulai untuk berkomitmen.” Kataku yang melepaskan genggaman lembut tangan Raka
“Kenapa? Kisah masa lalu mu?”
“Kamu tahu?”
“Iya aku tahu semua Nay. Maaf bahkan sebelum kamu cerita padaku aku sudah tahu.”
“Hatiku pernah terluka dulu bahkan lukanya masih terasa nyeri bila aku mengingatnya lagi. Aku belum siap untuk berkomitmen. Aku takut menyakiti diriku lagi ataupun menyakiti pasanganku. Aku belum bisa membuka hatiku. Aku tahu kamu sangat baik, aku masih normal, aku masih bisa menilai bahwa kamu adalah laki-laki yang baik tapi untuk saat ini maaf sekali lagi aku belum bisa.” Aku tertunduk air mataku mengembang siap jatuh. Aku memang bodoh menolak laki-laki sebaik Raka, secerdas Raka, setampan Raka hanya karena luka masa lalu yang masih terasa begitu menyakitkan.
“Nay, aku gak maksa kalau memang kamu belum siap sekarang tidak apa-apa. Aku akan menunggu sampai kamu siap berkomitmen denganku. Asal kamu izinkan aku untuk terus berada disisi mu kapanpun itu, biar aku tunjukkan kepadamu bahwa tak semua laki-laki sama seperti masa lalu mu Nay. Aku sayang sama kamu tulus dan aku gak mau menyakiti hati orang yang aku sayang.” Raka beranjak dari kursinya dan menghampiriku dan memeluk tubuhku. Orang-orang melihat kejadian malam itu dan menatap dengan heran. Namun kami tak menghiraukan. Raka berbisik sekali lagi “aku sayang kamu Naya Ramadina.” . Aku beranikan diri untu mengucap walau dengan sedikit terisak
“Aku ingin belajar menyayangimu, bantu aku.”
“Pasti.” Raka semakin mempererat pelukannya.
                                                            ***

“Setiap orang pasti memiliki luka masa lalu. Luka itu tidak pernah benar-benar mengering karena setiap kita mengingatnya luka itu akan terasa perih lagi.”
“Jangan sia-siakan orang yang dengan tulus mencintai kita hanya karena kita memiliki luka masa lalu yang amat perih. Siapa tahu orang yang mencintai kita itu datang untuk menyembuhkan luka.”

Jumat, 28 Maret 2014

Cinta Bisa Kadaluarsa


Ini yang gue gak suka dari hubungan pacaran atau relationship yaitu PERTENGKARAN.
Entah kenapa gue tidak suka bertengkar, gue tidak suka berdebat hingga urat naik dan akhir dari bertengkar adalah menangis. Gue benci, gue gak suka itu. Gue sudah terlalu banyak melihat orang bertengkar. Dari nyokap gue bertengkar dengan bokap, teman gue sendiri bertengkar dengan pacarnya atau bahkan gue melihat orang yang gak gue kenal bertengkar dengan pacarnya di jalan. Kebanyakan orang mengatakan bahwa pertengkaran wajar adanya dalam setiap hubungan. Mungkin gue bisa mengamini pernyataan tadi tapi tetap saja gue tidak suka betengkar.

Gue paling tidak bisa dibentak sedikitpun. Gue sensitif? Iya, gue terlalu perasa untuk hal-hal itu. Gue ingin pasangan gue bisa mengerti gue, gue egois memang tapi setidaknya dia bisa tau cara memberitahu yang baik sesuai keinginan gue tanpa harus membuat air mata gue keluar.
Gue tidak menganggap diri gue benar, menganggap diri gue tidak melakukan kesalahan apapun. Gue manusia biasa, gue bukan dewa, gue kerap kali membuat kesalahan yang kecil atau yang besar. Mungkin adanya pertengkaran karena kedua belah pihak melihat masalah tersebut dari sisi yang berbeda jadilah kesalahpahaman yang tidak berujung. Menurut gue benar tapi menurut dia salah, begitu juga sebaliknya.
Bulan pertama pacaran semua manis tapi masuk bulan selanjutnya manisnya ilang jadi asem.
Mungkin benar yang dikatakan Raditya Dika bahwa cinta bisa kadaluarsa. Awalnya kita menganggap dia beda dari yang lain. Dia bisa membuat hari-hari gue manis penuh cinta tapi setelah dijalani akhirnya bertengkar juga dan PUTUS. Itulah yang dimaksud dengan cinta bisa kadaluarsa. Entah dapat ilham darimana Raditya Dika bisa mengemukakan teori seperti itu dan menurut gue bener sih. Gue capek kayak gini terus. Apa gue yang salah cara mencintainya atau gue belum siap berkomitemn? Mungkin gue belum cukup dewasa dan gue egois. IYA.

Terima kasih.

Senin, 10 Maret 2014

entah seberapa rumit kenangan bisa kau buat sebelum aku lupa bagaimana caranya mengingat.
aku tak bisa lagi melafalkan luka semenjak kau hapus seluruh langkah di dadaku yang telah sedemikian dalam terpahat.
tak ada yang begitu rahasia dan membingungkan dari tiap rasa kecewa sebab kita sudah bersepakat akan membunuh harapan masing-masing. dari yang terkecil. dari yang paling samar.
entah seberapa sederhana perpisahan bisa aku jelaskan setelah kau ingat bagaimana caranya melupakan.
kau begitu fasih mengeja setiap kesalahan semenjak kita bertemu untuk mempelajari apa saja yang pernah kutulis di hatimu.
selalu ada yang tersembunyi dan terlewat dari tiap perbincangan sebab kita tak pernah berjanji untuk memahami masa lalu dan sejarah pilu masing-masing. dari yang pernah terucap. dari yang masih tersimpan.
mari bertaruh luka di meja ini dan lihat siapa yang menang.
sebab bayangan masa depan terlalu buram sementara masa lalu di matamu begitu terang.
tak ada peluk yang cukup hangat untuk meredakan amarahku dan tak ada cium yang begitu erat untuk mengikatmu.
sementara masih terlampau jauh untuk sebuah genggam.
sementara masih terlampau jauh untuk sebuah cinta.
sementara masih terlampau jauh untuk sebuah rindu.
sementara sudah terlampau luka untuk menyebut kita.