Catatan Domba Betina

Jumat, 06 Juni 2014

Jika jarak dan waktu sudah memisahkan kita begitu jauh; tapi perasaanmu masih ada dan masih sama untukku, kamu boleh kembali

Senin, 02 Juni 2014

Taylor Swift

Siapa sih yang gak kenal Taylor Swift? Penyanyi cewek berusia 24 tahun (kelahiran tahun 1989) asal Amerika Serikat ini terkenal dengan lagu-lagu bergenre country pop ini yang menurut gue itu easy listening banget. Ada yang mellow abis dan ada juga asik buat sedikit bergoyang. Hehehe
Gue suka sama Taylor Swift alias ngefans tapi gue bukan swifties (fans Taylor Swift) garis keras. Hehehe
Gue pertama kali denger itu sekitar 4tahun yang lalu kalo gak salah ya, gue denger lagu-nya Mine di album Speak Now di laptop sahabat gue Siska. Ternyata Siska lebih gaul dari gue, maksudnya kalo urusan musik enak dia lebih cepat dari gue update-nya (gue tau one direction dan Kpop juga dari Siska). Oke lanjut, setelah gue dengerin gue sempet dicekokin (dibujuk rayu) sama Siska tentang Taylor Swift kalo lagunya enak-enak dan gue wajib denger. Dari situlah gue pertama copas (copy paste) semua lagu Taylor Swift di laptopnya Siska dan mulai dengerin di rumah. Sebenernya sih Siska punya lagunya yang emang nge-hits dan enak didenger.
Setelah gue denger semua lagu yang nge-hits dari laptopnya Siska, gue mulai 'naksir' nih sama Taylor Swift. (Sekali lagi, gue bukan fans garis keras ya. Hehehe). Akhirnya gue datang berkunjung ke mbah google cari tau lebih dalam Taylor Swift itu. Wow cantik juga menurut gue (plis cantik itu relatif. Gue bisa bilang cantik, tapi lo bisa bilang jelek). Jeng-jeng dan mulailah gue mencuri-curi foto-foto dia dari google dan mulai nyimpen di folder laptop atau hape gue. Gue pun mulai download-download gratisan mp3 lagu-lagu dia yang lain. Semakin kesini semakin berkembang dalam kata lain dia mengeluarkan karya-karya lagi. Lagunya semakin enak didenger dalam kondisi apapun.
Dan yang paling gue suka dan tambah suka sama dia adalah ketika dia launching album barunya RED. Kenapa? RED alias merah itu warna favorit gue jadilah gue bersemangat sekali untuk denger lagu-lagunya dia yang baru di album RED, terutama single RED itu sendiri. Terus lirik lagu RED itu beberapa waktu yang lalu sempet gue rasain di kehidupan percintaan gue.HAHAHA (but loving him was RED...
Gue juga punya temen tapi dia laki-laki dan dia ngefans juga sama Taylor Swift tapi kayaknya dia fans garis keras. Daritadi gue bilang garis keras terus ya? Maksud garis keras itu bagi gue adalah fans yang bener-bener ngefans kayak beli album aslinya, selalu ikutin perkembangannya setiap waktu, beli pernak pernik ori dan nonton konser.
Kalo gue sekedar denger lagunya aja, ngikutin fan page di facebook, follow twitter atau instagramnya. Tapi gue gak nonton konsernya. Taylor Swift mau dateng ke Jakarta 4 Juni 2014. Gue sih tadinya mau nonton tapi gue urungkan niat gue karena tiket paling murah itu harganya 800ribu. Gue gak bisa menghamburkan uang sebanyak itu (sebenernya sih gue gak ada uang buat beli.hehe). Gue gak pernah nonton konser yang berbayar sampe ratusan gitu kalo nonton perform artis ya yang murah atau gratis masih pernah lah ya. (kayak Jakcloth yang baru-baru ini gue datengin).
Back to Taylor Swift. Hal yang gue suka dari dia adalah dia menciptakan lagu sendiri. Hebaaat! Sumpah kalo kalian tau itu ada cerita sendiri di masing-masing lagu yang dia tulis. (Gue gak cerita kisah dibalik lagu-lagu yang dia tulis, kalo mau tau liat blog sebelah ya.) . Dan kalian tau kan kalo Taylor Swift itu pernah pacaran sama Harry Styles personil One Direction. Nah, kisah mereka kan akhirnya kandas di tengah jalan dan yang paling gue suka dari Taylor Swift adalah ketika dia menang award best female Taylor Swift - I Knew Were Trouble di VMA. Taylor Swift naik ke atas panggung dan menerima penghargaan itu dan dia sempet little speech gitu dan dia ngomong gini (ini gue terjemahin pake bahasa Indonesia aja) "Terima kasih untuk orang yang menginspirasiku untuk menciptakan lagu ini. Aku tau dia pasti ngerti maksudku, karena kamu aku MENANG." dan setelah itu kamera nyorot ke Harry Sytles yang pada saat itu One Direction juga hadir di acara tersebut. It was amazing bagi gue sih, mungkin maksudnya Taylor Swift tuh mau nunjukin kalo dia bisa move on dari mantannya itu, dia bisa sukses sendiri dan bisa nunjukin ke mantannya juga. Cool!
Apalagi ya yang mau gue bahas tentang cewek keren satu ini. Hmm, mungkin konser dia bertajuk RED TOUR ini kan disponsori sama salah satu brand ice cream terkenal jadi untuk edisi kali ini ice cream tersebut ngeluarin produk ice cream limited edition RED - Taylor Swift dan bikin semua orang pada kerajingan buat beli itu es krim. Gue juga salah satu yang beli juga karena ada tulisan RED dan gambar Taylor Swiftnya sih. Hehehe. Rasanya juga enak yang strawberry.
Untuk lagu-lagu Taylor Swift buat recommended apa ya. Gue kasih yang paling sering gue dengerin aja deh ya
  1. RED
  2. Everything Has Changed
  3. We Are Never Ever Getting Back Together (kasih nih lagu buat mantan kalian.)
  4. I Knew You Were Trouble
  5. 22
  6. Mine
  7. Back To December (lagu wajib kalo karokean)
  8. Love Story (Romantis banget)
  9. All to Well
  10. Crazier
  11. Dll


Minggu, 01 Juni 2014

Di mana tempat yang bisa aku sebut "RUMAH"??

Rumah bukan hanya sebuah bangunan yang bisa melindungi kita dari panas atau hujan. Tapi rumah adalah tempat kita kembali dari lelahnya dan kerasnya dunia luar, rumah yang bisa memberikan keamanan dan kenyamanan bagi kita. Setiap kita pulang kita bisa melupakan sejenak keriuhan dunia luar karena di dalam rumah ada orang-orang tersayang yang menyambut kedatangan kita, ada telinga-telinga yang siap akan cerita tentang kejamnya dunia luar.
Aku hanya ingin dapatkan itu di rumah. Sebuah kenyamanan bukan sebuah tekanan dari mereka.



Sabtu, 31 Mei 2014

Seeing how happy you are now with her, make me realize i can never get back what i regretfully let go
you know that you're in love when the hardest thing to do is saying goodbye

Jumat, 30 Mei 2014

Melepasmu adalah hal yang paling sulit aku lakukan, tetapi bertahan mencintaimu justru akan jauh lebih menyakitkan.

Kamis, 29 Mei 2014

Tentang Aku dan Keinginanku Menjadi Wanita Feminin

Aku terlahir sebagai seorang wanita tapi entah mengapa aku terbilang anak yang tomboy seperti anak laki-laki.
Ketika aku kecil aku lebih sering bermain mainan anak laki-laki seperti gangsing, mobil atau robot. Itulah mengapa aku tidak pernah bisa bermain lompat karet atau bola bekel sampai sekarang. Aku ingat aku punya kaos baja hitam (salah satu superhero di masa itu), aku punya robot-robotan yang bisa berjalan dan bersuara. Aku tidak bisa diberi perhiasan seperti anting-anting, kalung, cincin atau gelang. Karena setiap aku memakainya aku selalu saja menghilangkannya.
Aku punya riwayat penyakit yang entah darimana datangnya hingga hinggap di tubuhku ini. Dulu saat aku kecil aku tidak boleh capek sedikit, aku tidak boleh dibentak kasar, aku tidak boleh banyak pikiran berlebih; karena itu akan menyebabkan aku sakit. Ada cerita yang cukup menggelitik jika aku mengingatnya sekarang. Jadi, dulu saat aku duduk di bangku SD setiap akan diadakan ujian semester aku selalu sakit dan selalu saja mengikuti ujian susulan di ruang guru. Itulah salah satu stres berlebihku dulu. Tapi di balik lemahnya tubuhku dulu aku termasuk anak yang banyak teman di sekolah. Aku termasuk anak yang dominan di kelas, ibaratnya aku dan teman-teman ditakuti oleh teman-teman lain entah apa sebabnya. Aku pernah berkelahi dengan anak laki-laki dari SD sebelah. 
Tapi setelah lulus SD aku masuk MTs, sejajar dengan SMP tetapi itu sekolah Islam yang mewajibkan muridnya mengenakan jilbab. Aku sedikit berubah saat SMP karena aku mengenakan jilbab dan rok panjang mungkin, tapi aku tidak meninggalkan hobi sepak bola ku. Aku suka sekali sepak bola dari tahun 2002, atlit sepak bola yang sudah kukagumi 14 tahun lamanya yaitu Iker Casillas Fernandez. Karena hobi sepak bolaku ini kebanyakan temanku di SMP adalah anak laki-laki. Kami (aku dan teman laki-laki yang hobi sepak bola) sering sekali berkumpul di koridor depan kelas, jadwalnya setiap pagi dan tak lupa membawa koran olah raga lalu kami gelar rame-rame di depan kelas. Seru sekali jika aku mengingatnya lagi. Oh ya, saat aku SMP aku adalah ketua kelas perempuan satu-satunya di angkatanku. Ada 10 kelas; 9 orang ketua kelas laki-laki dan aku perempuan sendiri. Itulah setiap kali rapat ketua kelas aku merasa teristimewa. Selain itu jika ada class meeting aku pernah ikut lomba futsal antar kelas, tidak sering tapi aku pernah beberapa kali. Di SMP aku sudah mengenal 'cowok' dalam artian cinta-cintaan. Aku pernah nge-date dengan kakak kelas yang aku incar, Rendi. Ya, dia mengajakku pergi dan makan saat kami libur sekolah. Sekarang Ka Rendi sudah jadi Sarjana Sastra di Bandung. Selebihnya aku mengenal beberapa laki-laki lain; kakak kelas atau teman seangkatanku. Aku tidak berpacaran, aku hanya berteman.
Di penghujung kelulusan SMP, aku dekat dengan laki-laki seangkatanku di SMP, ya dia pacar pertamaku di SMA. Aku sekolah di SMK dan (mantan) kekasihku itu di STM yang tidak jauh dari sekolahku. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk putus, sudah kurang lebih 4 tahun berlalu. Dulu, aku anti berteman dengan dia tapi sekarang aku sudah berteman dan dia masih sangat baik padaku (kebaikan yang baru-baru ini dia membeli sepatu gunung baru untuk aku kenakan saat aku mendaki papandayan dan dia meminjami aku alat gunung selalu.)
di SMK aku pun mengenakan jilbab saat sekolah jadi aku tidak terlalu tomboy. Aku kenal dengan teman SMA-ku dia lebih tomboy penampilannya laki sekali. Saat ini dia sudah menikah (kalah gue kalah). Dulu aku belum berjilbab kemana-mana masih dengan rambut yang aku pajang kemana-mana. Tiap kali aku main aku kenakan celana jeans robek-robek, kemeja atau kaos gelap, sepatu kets. Aku membeli sepatu sneakers harga 250ribu. Aku mendengarkan musik metal, aku pergi menonton band metal yang kerap kali rusuh. Itu terjadi hingga aku semester 2 di kampus. Hanya saja setelah lulus SMA aku memutuskan kemana-mana mengenakan jilbab tapi pakaianku, selera musikku dan sepak bolaku tidak aku tinggalkan. Aku hanya meninggalkan celana robek-robekku.
Kuliah semester 1 dan 2 pakaianku tak karuan, kemeja atau kaos dan sneakers yang sering aku gunakan. Aku masih mendengar musik metal dan membuat kaget teman-teman laki-laki yang baru mengenalku. Hingga semester 3 aku mulai sedikit merubah penampilanku lebih ke perempuan. Aku kini meninggalkan sepatu sneakersku dan menggantinya dengan flat shoes. Aku mulai mengganti musikku dengan musik pop dan k-pop. Ini yang membuat teman laki-lakiku tertawa saat tahu aku beralih ke k-pop.
Saat ini teman laki-laki ku banyak sekali, entah mengapa berteman dengan laki-laki lebih seru dan tidak banyak mau. Hobi laki-laki yang aku senangi sekarang adalah naik gunung, entah mengapa aku suka membawa beban berat di punggungku, berjalan di tengah hutan. Anehnya penyakitku tidak kambuh saat ini, tidak seperti dulu. 

Tapi ketahuilah dibalik kesenanganku yang agak maskulin sesungguhnya aku ingin sekali menjadi wanita feminin. Aku ingin terlihat cantik, aku ingin dipuji cantik bukan diledek "emang lo cewek?" . Mungkin niat untuk menjadi berubah seperti itu. Aku pernah berniat mempercantik diriku tapi hanya berlangsung satu hari atau beberapa minggu saja selebihnya aku tinggalkan karena terlalu bertele-tele dan makan waktu.
Saat ini aku memang sedang mengeluh, bukannya aku tidak bersyukur tapi aku ingin menjadi apa yang sudah Tuhan kodratkan. Aku normal masih menyukai laki-laki tapi aku tidak seperti wanita kebanyakan yang senang bersolek. Ini aku yang cuek dengan penampilan fisik dan keinginan terpendamku ingin menjadi wanita feminin.

Jangan Cintai Aku Apa Adanya

Tak sulit mendapatkanmu, karena sejak lama kau pun mengincarku
Tak perlu lama-lama, tak perlu banyak tenaga.
Ini terasa mudah.
Kau terima semua kurangku
Kau tak pernah marah bilaku salah
Kau selalu memuji apapun hasil tanganku yang tidak jarang payah
Jangan cintai aku apa adanya, jangan.
Tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan

Sabtu, 17 Mei 2014

Ku teringat dalam lamunan rasa sentuhan jemari tanganmu
Ku teringat walau telah pudar suara tawamu sungguhku rindu
Tanpamu langit tak berbintang
Tanpamu hampa yang ku rasa
Seandainya jarak tiada berarti, akan ku arungi ruang dan waktu dalam sekejap saja
Seandainya sang waktu dapat mengerti tak akan ada rindu yang terus mengganggu
Kau akan kembali bersamaku
Terbit dan tenggelamnya mentari membawamu lebih dekat
Denganmu langitku berbintang
Denganmu sempurna ku rasa.....


Jumat, 16 Mei 2014

Danau Tertinggi di Pulau Jawa Bagian III


Di tengah malam entah pukul berapa terdengar suara Nova menggigil kedinginan dan terdengar pula suara Feby. Feby mungkin terbangun dan dengan sabar mengurus Nova yang kedinginan saat itu. Aku ingin sekali bangun tapi aku juga tak kuat untuk bangun karena tubuhku sendiri juga merasakan dingin sekali. Aku hanya berkomentar dengan mata yang terpejam “Kasih teh atau air anget Feb.” . Ya, Feby sepertinya malam itu membuatkan Nova teh agar tubuh Nova hangat. Feby terus mengajak Nova ngobrol agar Nova tidak terkena hiportemia (dingin yang berlebih dan bisa menyebabkan kematian). Aku terus memejamkan mata tak tidur pulas karena memang udara dingin begitu sangat menusuk tubuh. Hingga aku terbangun tak ada lagi suara Feby dan Nova yang sebelumnya sedang mengobrol, mungkin mereka sudah tertidur. Akupun melanjutkan tidur kembali. Pukul 04.00 Ervan dan Feby terbangun, mereka berdua terdengar mengobrol dan Ervan mengajak Feby untuk buang air kecil. Keluarlah mereka berdua dari tenda dan mencari tempat buang air kecil. Tak berapa lama mereka kembali dengan seruan “Aiih, dingin bangeet!!” . Aku sudah tersadar saat itu, “pipis dimana lu berdua?” tanyaku
“di rerumputan di ujung sana.” Kata Feby
“Dingiiiin banget is asli deh.” Kata Ervan dan kembali tiduran
“Nova semalem kenapa Feb?” Tanyaku pada Feby
“Iya dia kedinginan hebat. Gue buatin air anget trus gue elus-elus sama gue ajak ngobrol.”
“Sorry ya gue gak bantuin semalem, gue juga menggigil banget.”
“Dia kayak di film Titanic deh. Pas si Rose manggil ‘Jack...Jack..’. haha”
Aku tertawa mendengarnya, dasar Feby. Tak berapa lama Nova terbangun dan ingin pipis juga, aku pun begitu. Akhirnya aku dan Nova keluar merasakan dinginnya udara Ranu Kumbolo pagi itu. Aku pun pipis di balik bukit dan menutupnya dengan sarung, pertama kali dalam hidupku seperti itu. Aku dan Nova kembali ke tenda, Nova kembali melanjutkan tidurnya. Aku, Feby dan Irwan duduk di luar tenda menikmati udara pagi pertama di Ranu Kumbolo.
Pagi itu berbeda dari pagi-pagi lain yang pernah aku lewati sebelumnya. Pagi itu udara sangat dingin, pagi pertamaku di Ranu Kumbolo memang tidak melihat indahnya matahari terbit karena lelah menyelimutiku dan teman lainnya jadi tidak ada yang bangun pagi untuk melihat matahari terbit. Kicauan burung, suara air danau, lukisan alam yang begitu luar biasa dan orang-orang yang lalu lalang menikmati danau. Aku memasak air dan menyiapkan sarapan untuk kita makan pagi itu. Feby dan Irwan pergi mencari tempat kemah baru, entah kemana perginya. Aku ditinggal sendiri dalam waktu yang cukup lama. Aku memasak air terlebih dahulu, kompor sempat mati namun aku tidak bisa menyalakan kembali, akhirnya aku meminta bantuan dari pendaki lain untuk menyalakan kompor itu. Syukur, kompor kembali menyala. Tak berapa lama Nova terbangun dan keluar menemaniku duduk di depan tenda.
“Lo laper?” Tanyanya
“Iya laper. Mau masak mi gak?”
“Boleh tuh. Nasi yang semalem masih ada kan?”
“Ada kok. Mau?”
“Mau deh. Masih enak gak?”
“Masih tapi dingin.” Kataku sambil membuka bungkus nasi tersebut
Akhirnya aku dan Nova makan nasi dan mi yang kami buat, Feby dan Irwan kembali dengan setengah berlari.
“Darimana lu pada?” Tanyaku penasaran
“Nyari tempat baru.”
“Dapet?”
“Ada kok disana, deket tanjakan cinta.”
“Wah, gue mau naik tanjakan cinta!!”

Sambil berbincang mengenai tempat baru dan tanjakan cinta kami sambil membuat kopi dan roti untuk sarapan. Suara gaduh di luar tenda membuat Ervan bangun dan ikut bergabung bersama kita. Setelah sarapan kami menikmati air danau, kami mendekat ke tepi danau dan menceburkan kaki kami di air danau. Dingin super dingin sekali. Tak lupa kami mengambil foto dengan background Ranu Kumbolo. Kami ingin sekali foto berlima, sulit mendapatkan foto kami berlima, akhirnya kami meminta seorang dari anggota Tim SAR Gunung Semeru untuk mengambil foto kami berlima. Tak lupa kamipun berfoto bersama Tim SAR tersebut.
“Bapak dari puncak?” Tanyaku kepada salah satu anggota Tim SAR
“Dari lereng gunung, 1 orang ada yang hilang.” Mendengar pernyataan tersebut kami berlima sontak kaget dan penasaran
“Hilang?”
“Iya, tapi sudah ketemu kok. Saya ingatkan ya kalau di gunung itu tidak boleh sombong, harus tetap rendah hati. Jangan terpisah dari rombongan.” Anggota Tim SAR itu memberi nasihat kepada kami. Kami mengangguk paham. Setelah foto dan berbincang sebentar para anggota Tim SAR tersebut melanjutkan perjalanan kembali, tak lupa kami mengucapkan banyak terima kasih karena telah bersedia dimintai tolong. Sekali lagi salah satu dari anggota Tim SAR itu berkata “Ingat! Jangan sombong.” Kalimat itu yang terus teringang dan terus ku pegang selama perjalanan itu

            Sebelum matahari merangkak naik kami pun pindah ke tempat yang baru, ke tempat yang memiliki spot pemandangan yang lebih indah maka dari itu kami membereskan semua peralatan dan melimpat kembali tenda. Setelah semua rapi dan memastikan tidak ada yang tertinggal walau sampah sekalipun, kami melanjutkan perjalanan kami. Berjalan menyusuri pinggiran danau dengan matahari yang cukup terik namun semilir udara masih tetap dingin, banyak batang pohon yang tumbang dan jatuh ke tepian danau tapi itu membuat kelihatan lebih indah bagiku. Tak memakan waktu yang lama kami pun tiba di tempat perkemahan baru, tempatnya tepat di pinggir danau dan tepat di bawah pohon. Aku heran mengapa Irwan memilih tempat itu padahal di sebrang sebelah sana ada tanah luas untuk mendirikan tenda bersama pendaki lain, tapi dia memilih tempat itu dan tak ada tenda lain selain tenda kami di sana. Setelah aku bertanya aku tahu alasannya mengapa, karena menurutnya tempat yang kami tempati itu sangat pas ketika esok hari kami melihat sunrise. Kamipun membuka tenda kembali, membereskan kembali peralatan seperti yang kami lakukan semalam. Aku ingat aku sempat marah pada Irwan karena ia terus menyuruhku ini itu dan itu membuat aku kesal dan beberapa kali cemberut. Sudah aku bilang di awal bahwa temanku Irwan adalah seorang yang dewasa jadi dia mencoba melunak dan dengan halus mengajakku untuk mencuci piring bekas makan bubur kami berlima. Saat sedang mencuci piring di bawah pohon banyak pendaki yang berlalu-lalang mengingatkan kami agar tidak menggunakan cairan sabun mencuci piring ketika mencuci karena takut merusak ekosistem di sana. Disaat yang bersamaan Feby dan Nova bermain air danau sambil menggosok gigi dan ditegur oleh pendaki lain agar tidak menggosok gigi, pendaki lain mengira Feby dan Nova menggunakan pasta gigi padahal kenyataannya Feby dan Nova hanya menggosok-gosok gigi tanpa menggunakan pasta gigi. Memang benar kita harus saling mengingatkan untuk menjaga keasrian lingkungan apalagi alam.
            Tak banyak yang kami lakukan saat itu hanya berfoto mencari spot terbaik siang itu setelah puas dan udara siang itu cukup dingin kami masuk ke tenda. Sedikit merebahkan tubuh dan mencoba memejamkan mata untuk tidur siang. Aku, Feby, Nova dan Ervan tidur dan entah apa yang dikerjakan Irwan di dapur (dapur tempat kami memasak tepat di depan tenda kami). Aku hanya tidur sebentar selebihnya aku hanya memejamkan mata dan menutup mukaku dengan jaket namun Irwan tahu kalau aku tidak tidur, dia memukul kakiku seraya berkata “gue tahu lu gak tidur. Bangun Is, bantuin gue masak.” . Aku-pun bangun dan menggerutu dalam hati dengan lunglai aku keluar tenda membatu Irwan memasak. Siang itu kami memasak nasi, goreng telur dan sayur sop. Aku membantu mengiris sayuran dan Irwan memasak nasi. Makanan sudah hampir jadi Feby, Nova dan Ervan juga bangun dari tidurnya. Aku dan Nova pergi menjauhi tenda berniat ingin mengambil foto lebih banyak lagi, Irwan memanggil mengajak makan tapi aku dan Nova menolak dengan kompak. Sungguh perutku masih kenyang daritadi pagi makan terus. Tapi Irwan terus memaksa agar aku dan Nova makan, aku tetap menolak tapi Ia tetap keras menyuruh makan. “Kalau cuaca dingin itu harus banyak makan biar perut gak kosong, gak masuk angin juga.” Kata Irwan. ‘Dasar batu’ umpatku kesal saat itu. Seperti anak yang menurut pada orang tua, aku dan Nova kembali ke tenda untuk makan bersama. Menu saat itu menggiurkan sekali tapi aku hanya makan sedikit karena memang perutku tak bisa dipaksakan. Ada yang lucu dari makan siang menjelang sore kita itu adalah bahwa nasi yang kami makan belum matang alias aron. Kami tertawa bersama saat makan nasi itu, ingat! Saat di gunung makanan apapun harus dinikmati. Sambil makan kami sambil berbincang dan terus bercanda. Aku penasaran setengah mati ingin ke tanjakan cinta, aku ingin sore itu langsung ke sana. Mereka pun mengiyakan setelah membereskan makanan kami siap menjemput senja dari atas tanjakan cinta.