Hari ini 3 Oktober 2013 pukul 09.00 WIB aku dan
keempat orang temanku telah bersiap melakukan sebuah perjalanan ke Jawa Timur.
Setelah selesai sarapan dan mengecek ke dalam bagasi mobil perlengkapan dirasa
sudah sempurna saatnya menuju Stasiun Senen. Pagi itu kami diantar Kak Fikar,
dia kakak dari temanku Feby. Begitu bersemangat menuju Stasiun Senen padahal
tiket online belum ditukar dengan tiket asli. Awalnya perjalanan menuju Stasiun
Senen lancar namun jam sudah semakin mepet dengan jadwal penukaran sementara
jalanan macet total. Air muka seketika berubah panik dan hati senantiasa
berdo’a. Syukurlah Tuhan masih mengizinkan kita berangkat ke Malang, Jawa
Timur. Ka Fikar tak mengantar sampai dalam stasiun, kami turun dekat stasiun
dan masih harus menyebrang jalan. Setelah pamit dengan Ka Fikar dan meminta do’a
agar diberi keselamatan, kami semua membawa tas masing-masing. Berat tas
laki-laki kira-kira sampai 15kg sedangkan perempuan 6kg. Berjalan menuju
stasiun dengan tas gunung menarik banyak perhatian orang. Dengan tergesa kami
segera menukarkan tiket. Feby dan Ervan bertugas mengantri, sementara aku, Nova
dan Irwan menunggu di luar. Tak berapa lama Feby dan Ervan keluar dari
kerumunan orang yang mengantri tiket dengan senyum yang sumringah. Tiket asli
sudah ditangan dan aku bertugas memegang tiket PP (pulang pergi) semua temanku.
Aku memimpin jalan menuju pintu masuk peron menyerahkan 5 tiket beserta KTP
asli teman-temanku, setelah menjalani proses pengecekan petugas akhirnya kami
masuk dan masih harus menunggu kereta Matarmaja jurusan Jakarta – Malang yang
dijadwalkan berangkat pukul 13.40. Kami masih punya waktu untuk membeli makanan
untuk di dalam kereta nanti, saat ini giliran Irwan dan Feby yang membeli makanan
di minimarket terdekat. Orang berlalu lalang tiada henti dan ada sebagian orang
yang memakai tas gunung seperti kami juga. Kami saling bertukar senyum dan sapa
dengan mereka. Karena di tiket tertera bahwa kami berada di gerbong satu maka
dari itu kami pindah tempat untuk menunggu agar lebih mudah naik ketika kereta
sudah datang. Tak berapa lama kami menunggu di tempat tersebut kereta matarmaja
datang, seluruh penumpang bersiap mendekati pintu masuk padahal kereta belum
berhenti. Cukup membutuhkan perjuangan untuk masuk ke dalam kereta tersebut
karena begitu sesaknya penumpang yang ingin naik. Kami berlima tidak duduk
saling berhadapan, kursi kami terpisah. Aku duduk berdua Nova dan di depan kami
rombongan ibu-ibu dari sebuah instansi yang akan berlibur ke Blitar. Sangat
bersyukur duduk dengan rombongan ibu-ibu itu makanan tak henti diberikan kepada
kami, sampai aku membaginya lagi ke 3 teman laki-laki ku yang kebetulan duduk
di belakang kursiku. Sementara 3 teman laki-lakiku duduk berhadapan dengan
sepasang suami istri yang akan berlibur ke Bromo.
Tak
berapa lama kereta mulai jalan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku melakukan
perjalanan dengan kereta api dan untuk pertama kalinya pula ke daerah Timur
Jawa. 18 jam perjalanan dari Jakarta – Malang cukup membuat pinggang ku sakit
karena kursi di kereta kelas ekonomi itu sangat tegak membuat posisi untuk
tidur tak nyaman. Tak apa aku nikmati perjalanan ini. Bertemu dengan banyak
orang di kereta, sedikit bertukar cerita dan makanan. Pedagang tak henti
berlalu lalang meski jam menunjukan pukul 02.00 dini hari. Tak banyak yang bisa
aku lakukan selain ngobrol dengan Nova atau ibu-ibu rombongan depanku. Melihat
ke kursi belakang dimana 3 teman laki-laki ku sedang asyiknya bermain kartu.
Mulai mencoba memejamkan mata sekali lagi sambil menunggu pagi. Cahaya matahari
yang masuk dari jendela kereta membuat tidurku terganggu, suara gaduh ibu-ibu
rombongan itu yang hendak turun mulai terdengar. Ya, aku memang harus
benar-benar bangun.
“Dek, Ibu duluan ya. Selamat liburan ya kalian.”
Ibu-ibu rombongan mengucap salam perpisahan kepadaku dan teman-temanku.
“Iya bu. Hati-hati ya. Terima kasih makanannya ya bu
dan selamat liburan.” Kataku dengan mata yang masih belum segar. Well, 3 kursi
di depan ku kosong dan dengan cepat 3 temanku pindah ke depanku dan Nova.
“Berapa jam lagi kita sampai?” Kataku sambil melihat
jam tangan yang melingkar di tangan kiriku
“2 jam lagi sesuai jadwal.” Feby menjawab
Tak banyak hal yang kami lakukan selama 2 jam
perjalanan itu. Hanya memandang ke luar jendela dan takjub dengan pemandangan
di luar. Hamparan sawah yang hijau menyambut pagi pertama kami di Jawa Timur di
tambah matahari pagi yang begitu cerahnya.
“Rapi-rapi yuk guys. 1 stasiun lagi kita akan
turun.” Irwan mengajak kami untuk segera membereskan tas karena saat itu kami
sudah tiba di Stasiun Malang Kota Lama itu berarti 1 stasiun lagi menuju Stasiun
Malang Kota Baru. Memastikan semua barang tak ada yang tertinggal di kereta
barulah kami turun di Stasiun Malang Kota Baru
“Akhirnya menginjakan kaki di Malang.” Kataku
berseru setelah turun dari kereta. Kami berjalan keluar stasiun. Banyak orang
yang menjemput dan ada pula supir-supir angkutan umum yang memang sudah siap
mencari penumpang. Kami keluar pintu stasiun dengan tas besar dan kemudian
dihampiri oleh salah seorang supir angkutan umum. Laki-laki yang belum cukup
tua itu mengenakan setelan kemeja kotak-kotak merah dan celana jeans dengan
topi cokelat muda bernegosiasi harga dengan kami dan kemudian deal dengan harga
tersebut. Pak Nur namanya yang akhirnya mengantarkan kami ke desa tumpang. Pak
Nur baik sekali mengantar kami ke mini market untuk membeli logistik yang
kurang dan beliau pula yang mengantar kami ke salah satu rumah yang menyewa
mobil jeep untuk transportasi kami selanjutnya menuju desa Ranu Pani. Namun
sayang si pemilik mobil jeep tidak ada di rumahnya dan kami memutuskan untuk
sarapan sambil menunggu si pemilik mobil jeep datang. Lagi, Pak Nur lah yang
mengantar kami sarapan mencari warung nasi terdekat. 1 porsi nasi kare dan teh
manis hangat cukup membuat perut kenyang. Pak Nur berkata kalau si pemilik jeep
sudah tiba di rumahnya. Setelah membayar makanan kami segera pergi ke rumah si
pemilik jeep. Karena diantara kami berlima yang bisa bahasa jawa hanya Irwan
jadilah Irwan yang terus bernegosiasi harga. Seperti Ibu-ibu di pasar Irwan
pintar sekali dalam hal tawar menawar. Deal dengan harga lebih murah yang
sungguh diluar dugaan kami. Setelah tawar menawar selesai Pak Nur pamit dan
kami untuk sementara istirahat di rumah si pemilik jeep. Setelah mengucapkan
terima kasih ke Pak Nur kami memutuskan untuk mandi dan beristirahat sebentar
di rumah itu sambil menunggu jeep datang. Irwan dan Feby pergi ke pasar untuk
membeli sayuran untuk bahan makanan di atas gunung nanti, pergi ke pasar diberi
pinjam sepeda motor dari pemilik rumah.
Sesuai
yang dijanjikan jeep datang pukul 11.00 dan kami sudah siap berangkat menuju
desa Ranu Pani. Jeep-nya warna merah, warna favoritku semakin bersemangatlah
aku untuk perjalanan hari ini. Pak Rusianto atau Pak Rus yang mengantarkan kami
menuju desa Ranu Pani, pintu gerbang menuju Gunung Semeru. Di tengah perjalanan
yang siang itu sangat cerah Pak Rus memberi tahu bahwa akses jalan menuju desa
Ranu Pani sedang ada perbaikan. Ya, jalan menuju desa itu memang sudah rusak,
batu-batu besar dan jalan berlubang menjadi tantangan perjalanan kami siang
itu. Karena akses jalan menuju desa tersebut sedang diperbaiki maka Pak Rus
tidak bisa mengantar sampai ke tempat perizinan untuk para pendaki. Namun Pak
Rus sangat baik hati beliau memberi solusi agar kami naik ojek dan beliau pula
yang menelepon tukang ojek setempat agar bisa langsung membawa kami ke desa
tersebut. Mobil jeep berhenti dan kami disuguhi pemandangan yang luar biasa.
Padang Savana dan Gunung Bromo terlihat dari atas, tak ingin melewatkan moment
itu kami langsung mengambil foto dengan background pemandangan yang luar biasa
itu.
“Bapak ndak bisa anter sampai Ranu Pane, mobil hanya
bisa sampai sini.” Kata Pak Rus dengan logat jawanya. Kami menurunkan tas
dengan bantuan Pak Rus.
“Dimana pak tukang ojeknya?” Kataku heran karena
sepenglihatan aku tak ada pangkalan ojek ditempat kita berhenti itu.
“Kalian harus jalan dulu nanti diujung jalan ada
tukang ojek cari yang namanya Mas Tris.”
“Mas Tris?”
“Iya, Mas Sutrisno. Tris.”
“Jadi kita jalan kesana pak?”
“Iya, ikuti saja jalan besar ini.” Maklum ini
perjalanan kami pertama kali ke desa tersebut jadi banyak tanya.
“Terima kasih pak. Nanti Senin jemput ya pak.”
“Iya kabari kalau sudah turun mendaki ya.” Ucap Pak
Rus. Dan kami mengangguk sambil berjabat tangan dan mulai berjalan. Awalnya aku
kira perjalanan menuju desa dari tempat kami turun dari mobil dekat namun kami
membutuhkan waktu ± 1 jam dengan berjalan kaki. Berkali kami berhenti karena kelelahan
berjalan. Ini baru permulaan tapi kaki rasanya sangat lelah untuk melangkah.
Namun kami saling memberi motivasi dan akhirnya pukul 13.30 kami sampai di
pangkalan ojek dan langsung mencari Mas Tris. Maks Tris sudah siap dengan
teman-temannya untuk mengangkut kami menuju desa Ranu Pani. Aku naik dengan
seorang mas ojek dengan ciri khas kain sarung melingkar di tubuhnya. Ciri khas
orang sana yang disebut Suku Tengger memang seperti itu tidak lepas dari kain
sarung mungkin efek udara dingin.
“Neng ndi mba?” Tanya tukang ojek tersebut kepadaku.
“Apa?”
“Neng ndi mba?”
“Apa mas?”
“Darimana mba-nya?” Jawab tukang ojek itu dengan
bahasa Indonesia, mungkin dia paham aku tidak mengerti bahasa Jawa.
“Saya dari Tangerang mas.”
“Mau naik semeru?”
“Iya, mas.”
“Sampai puncak?”
“Ndak mas. Sampai Ranu Kumbolo.” Kataku yang
mendadak berlogat Jawa
“Kenapa ndak sampai puncak? Bagus loh mba.”
“Mas sudah pernah?”
“Sudah 4 kali saya muncak.”
“Saya belum siap fisik dan mental mas kalau sampai
puncak.” Kataku dengan logat biasa
“Kalau naik gunung itu kuncinya niat. Jangan dibawa
serius, santai saja dan yakin pasti bisa.”
“Iya Mas.”
“Saya do’a kan nanti semoga bisa sampai puncak.
Indah mba kalau muncak rasanya beda.” Tak terasa aku sudah sampai di desa Ranu
Pani.
“Sudah sampai mba.” Aku turun dan membayar ongkos
ojek tak lupa mengucapkan terima kasih kepada tukang ojek yang sudah berbagi
sedikit pengalamannya. Sayang aku lupa bertanya nama waktu itu.
Kami
berjalan sedikit menuju tempat perizinan pendakian. Saat itu sudah pukul 14.00
banyak para pendaki yang berkumpul. Ada yang mau naik, ada pula yang baru
turun. Semua bergabung tak kenal usia, jenis kelamin, agama, suku, ras atau
apapun. Semua menjadi satu berbagi cerita suka duka mendaki gunung tertinggi di
pulau Jawa itu. Kami dengan segera mendaftar ke loket pendaftaran, mengisi
syarat-syarat yang telah ditentukan dan menunggu perizinan keluar. Sambil
menunggu sebagian dari kami membeli nasi untuk perbekalan mendaki. Tak berapa
lama perizinan sudah ditangan, membaca peraturan yang tertera dan siap untuk
mendaki sore itu. Kami berjalan menuju gapura yang bertuliskan “Selamat Datang
Para Pendaki Gunung Semeru” saat membaca tulisan tersebut aku merinding tak
percaya sebentar lagi aku akan menapaki jejak disini. Kami berdo’a bersama
sebelum mulai perjalanan, aku sempat melirik jam tangan dan pukul 14.30
petualangan ini kami mulai.
“Kalau ada yang capek bilang ya.” Ucap Irwan yang
saat itu menjadi pembuka jalan.
“Siap.” Kami menjawab kompak.

