Catatan Domba Betina

Rabu, 30 Oktober 2013

Perbedaan yang membuat kita SATU II


Dua hari setelah acara marathon film di rumah Lala, Tian mengirimi aku pesan teks yang berisi bahwa ia mengajakku makan malam bersama keluarganya. Aku sangat terkejut membaca pesan itu, apa yang harus aku persiapkan untuk bertemu kedua orang tua dan adiknya. Tian berkata waktu itu “apa adanya dirimu saja. Cukup.”
Sesuai dengan janji yang ia katakan di pesan teks tersebut bahwa ia akan menjemputku pukul 18.30 setelah magrib. Usai melaksanakan ibadah 3 rakaat aku bersiap karena Tian sudah dalam perjalanan menjemputku. Tepat waktu, ya dia salah satu laki-laki yang selalu tepat waktu. Aku dan dia tak membuang waktu banyak langsung menuju rumah Tian, karena makan malam yang dijanjikan pukul 19.30. Syukur tidak terlambat malam itu. Ibu Tian yang membukakan pintu malam itu diiringi senyum manisnya, mungkin beliau agak terkejut karena aku datang mengenakan jilbab. Tak berapa lama ayah Tian keluar mempersilahkan aku masuk dan duduk di ruangan keluarga, ruangan dimana mereka menghabiskan waktu menonton televisi bersama. Adiknya Tian pun ikut bersama disana, seperti biasa seorang adik terkadang bersikap dingin terhadap orang baru yang masuk dalam keluarganya. Aku merasakan hal itu, adik Tian bersikap agak dingin.
Seperti biasa pertemuan pertama pasti diawali dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar lalu diteruskan dengan pertanyaan agak mengintrogasi. Selalu seperti itu. Malam itu kedua orang tua Tian memang banyak bertanya namun suasana yang diciptakan tidak membuat tegang, jadi aku masih dengan santai namun sopan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.
“Ayo kebanyakan ngobrol kapan kita makannya nih.” Ibu Tian berkata
“Oh, iya. Papa sampe keasyikan ngobrol.”
“Ayo! Kita ke meja makan. Kita makan malam bersama.”
            Aku duduk di sebelah Tian, di depanku ibu Tian dan di depan Tian adiknya. Ayah Tian sebagai kepala keluarga memimpin makan malam. Mereka berdo’a dengan cara mereka dan aku berdo’a dengan caraku.
“Ian ini.....” aku berkata kepada Tian dengan berbisik namun belum sempat aku meneruskan kalimatku Tian sudah menjawab seakan tahu apa yang ingin aku katakan
“halal kok.” Bisiknya di telingaku
Tidak sekali atau dua kali aku diajak makan bersama keluarganya, entah lah ini sudah kali keberapa aku makan bersama keluarga Tian. Namun malam ini berbeda dari malam pertama aku makan malam bersama keluarganya. Seperti biasa setelah makan dan membersihkan meja makan aku duduk di ruang tamu, orang tua Tian sudah izin untuk naik ke atas, sementara Tian masih berada di ruang tengah bersama adiknya. Aku sedikit mendengar apa yang Tian bicarakan dengan adiknya, karena ruangan depan dan ruang tengah tak begitu jauh jaraknya ditambah suara adiknya agak keras.
“Ka, lo yakin mau serius sama cewek itu?” Tanya adiknya
“Kenapa nanya gitu?”
“Ka, dia beda sama kita.”
“Kalau beda kenapa? Salah?” Tian tahu dengan pasti yangdikatakan adiknya itu tentang perbedaan agama
“Ka, agama kita kuat. Lo gak boleh ninggalin agama lo demi dia.”
“Hey, siapa yang mau ninggalin agama kita. Gue bilang jangan bahas ini saat ada dia. Mama Papa juga gak pernah bahas kok.”
“Iya awalnya Mama Papa setuju tapi gue yakin mereka juga gak akan setuju pada akhirnya.”
“Ah, ngomong apa sih lo dek!”
“Gue gak suka ka lo pacaran sama gadis berjilbab itu.”
“Ssstt... Jangan kenceng-kenceng kalo dia denger gimana.”
“Biar aja. Kalopun dia mau lepas jilbabnya dan masuk agama kita gara-gara cinta sama lo. Gue yakin ketika dia udah gak cinta sama lo, lo bakal ditinggalin gitu aja. Agama aja bisa dia tinggalin, gimana lo ka yang Cuma manusia biasa.”
“Tutup mulut lo dek!” Suara Tian meninggi. Aku mendengar semua percakapan Tian dan adiknya. Aku sakit sekali mendengarnya. Mataku berkaca sungguh sulit menahan bulir air yang akan keluar dari sudut mataku. Dadaku sesak. Aku segera mengambil tas dan beranjak menuju pintu dan keluar rumah Tian tanpa pamit. Tuhan, mengapa masih ada orang yang tidak bisa menerima perbedaan ini. Aku terus berjalan di halaman menuju pagar rumah Tian tak peduli gerimis turun, Tian setelah percakapan dengan adiknya langsung pergi ke ruang depan  dan mendapatkan aku tak ada di ruang depan. Dia berlari ke halaman depan melihatku keluar dengan tergesa, dia terus mengejarku hingga akhirnya ia meraih tanganku. Aku tak sempat menyeka air mataku karena tanganku sudah ia genggam. Aku tak menoleh ke arahnya, aku hanya menunduk. Dia menarik bahuku halus hingga kami saling berhadapan namun aku tetap menunduk.
“Maafin ucapan adikku. Aku tahu kamu denger semua makanya kamu langsung pergi.”
“......” Aku masih menunduk dan menangis, dia masih memegangi kedua bahu ku
“Lihat mataku, aku mohon.” Akhirnya aku menatap matanya
“Aku gak suka lihat kamu nangis.” Dia melanjutkan kalimatnya sambil menghapus air mataku
“Kita beda Ian.” Aku membuka suara dengan lirih
“Kita sama.”
“Beda. Kata-kata adikmu menyadarkan aku bahwa kita memang benar-benar beda.”
“Denger aku. Tuhan Cuma ada satu di dunia ini. Cuma cara kita menyembah saja yang beda. Kita sama-sama makhluk ciptaan Tuhan. Gak ada yang beda.”
“Ian, agama itu sesuatu yang sakral. Bagi keluargamu agamamu itu penting, begitu juga bagi keluargaku agama yang aku percaya itu penting. Bahkan untuk menikah di negara ini saja sulit jika kita beda agama. Aku gak bisa deket lagi sama kamu.”
“Aku sayang kamu. No matter what.” Dia langsung memelukku. Pelukan hangat yang tak pernah aku rasakan sebelumnya dari dia.
“Kamu tahu magnet kan?” Tanya dia sambil melepaskan pelukannya
“Tahu. Apa hubungannya dengan kita?” Kataku heran
“Magnet punya 2 buah kutub yang berbeda. Jika didekatkan kutub yang berbeda mereka baru bisa nempel. Sama kayak kita karena kita beda makanya kita dekat. Ngerti yang aku bilang?”
Aku menggangguk pasti. Dia tersenyum sambil mengelus lembut kepalaku.
“Kita jalani apa yang kita yakini.” Gerimis malam ini menjadi saksi betapa perbedaan jangan dijadikan alasan sebuah perpisahan.


-@eishafitri-

Minggu, 13 Oktober 2013

Perbedaan yang Membuat Kita SATU


Aku punya teman dekat laki-laki (lagi) . Ya, hanya sebatas teman saja tak lebih. Dia laki-laki yang sangat berbeda, bukan dari agama tapi maksudku ia berbeda dari laki-laki lain, ia tak seperti laki-laki lain yang pernah aku kenal sebelumnya. Dia sangat menghormatiku, dia sangat memperhatikanku, dia sangat melindungiku, aku mulai merasa nyaman di dekatnya. Aku dan dia memang berbeda agama, Tuhan hanya satu tapi hanya saja aku dan dia percaya kepada kepercayaan yang berbeda.
Ia menggenggam rosario merapalkan do’a dihadapan Tuhannya, aku melihatnya dari pintu salah satu gereja di Jakarta. Menunggu dia berdo’a hingga selesai, sejak aku mengenalnya itu bukan salah satu hal yang tabu lagi. Terkadang dia juga menemaniku beribadah di masjid, melihatku sujud dihadapan Tuhanku. Sebuah toleransi agama yang indah. Aku menggenggam tasbih dan dia menggenggam rosario.
Siang itu aku menemaninya berdo’a di gereja seperti biasa, tak terasa kumandang adzan dzuhur memanggilku yang sedang duduk sambil membaca novel terbaru di halaman gereja. Suara adzan memang terdengar samar namun aku masih bisa mendengar, aku lirik sekitarku dan melihat jam tangan “sudah waktunya sholat.” Ucapku. Tapi dia nampaknya belum selesai berdo’a, aku menutup novelku dan beranjak dari kursi di taman itu. Aku berjalan keluar taman gereja itu menuju masjid yang letaknya tak jauh dari gereja tempat dimana dia berdo’a tanpa memberi dia kabar, sungguh aku tak mau mengganggu ibadahnya.
Aku tunaikan ibadah sholat dzuhur ku di masjid  indah itu, ornamen yang sangat indah, catnya putih bersih dan banyak kaligrafi yang sungguh membuat aku selalu berucap “subhanallah. Maha Suci Allah.” . 4 rakaat telah aku kerjakan, lalu aku menengadahkan kedua tanganku lalu berdoa. Terasa seperti ada yang memperhatikan gerak-gerikku, aku menoleh ke belakang. Dia, laki-laki itu sedang duduk di halaman depan masjid memperhatikan ke arahku seraya tersenyum. Aku rapikan jilbabku, lalu keluar menghampirinya.
“Kamu udah selesai?” tanya ku
“Udah dong, kalo belum aku gak disini. Berdo’a apa kamu? Serius banget kayaknya.”
“hehehe. Ada deh.”
“Do’ain aku gak?”
“Aku berdo’a yang baik-baik.”
“sama dong! Aku juga tadi berdoa yang baik-baik.”
“kamu ikutin aja. Yuk, ah.” Kataku sambil berjalan keluar dari halaman masjid.
“Kok kamu tau aku di masjid?”
“Iya, tadi aku nanya satpam yang di depan gereja katanya kamu tadi sempat nanya dia ya letak masjid dimana. Kamu udah makan?”
“belum.”
“Kita makan siang dulu yuk.”
                                                            ***

“Rambutmu kelihatan tuh.” Sambil menunjuk beberapa helai rambut poni yang keluar dari jilbabku
“Ah, iya. Makasih.” Kataku sambil membetulkannya dengan jari tanganku.
“Ini rumahnya kan?” tanyanya dia padaku, yang siang itu kami berdua membuat janji dengan teman-teman lain untuk berkumpul menonton dvd bersama.
“Iya bener ini kok alamatnya.”
“Tapi kok sepi ya?”
“Ya mungkin anak-anak yang lain belum datang, maklum Indonesia.”
“Telat?? Kenapa hal buruk seperti telat dibudayakan sih.”
“hahaha. Yaudah kita coba tekan bel-nya aja.”
“oke.”
            Aku memencet bel 2 kali dan akhirnya dibukakan.
“Cari siapa ya?” tanya pekerja rumah tangga di rumah itu
“Kita cari Lala mba. Ada?” Dia menjawab
“Oh temennya mba Lala. Sudah ditunggu, silahkan masuk.”
“Terima kasih mba.”
“Motornya dimasukin garasi saja mas-nya disini.”
“Iya Mba.” Dia menjawab lagi.
           Aku menunggu dia sampai selesai parkir motornya di garasi. Sebelum akhirnya masuk bersama ke rumah Lala.
“Langsung ke atas saja mas dan mbak-nya.” Ucap pekerja rumah tangga itu
“Iya mba.” Jawabnya
            Aku dan dia menaiki anak tangga
“La, ini gue Tian udah sampe nih.” Katanya sambil setengah berteriak
“Hussh, kamu di rumah orang teriak-teriak.” Kataku
“Abis, tamu dateng gak disambut.” Gerutunya
“Hei, kalian berdua sampe juga di rumah gue.” Sapa Lala dengan mengejutkan. Panjang umur sekali, abis diomongin muncul tiba-tiba.
“Hai La..” Sapaku sambil cipika-cipiki
“Halo, Lala..” Dia menyapa sambil melambaikan tangan
“Susah gak cari rumah gue?” tanya Lala
“Ah, daerah sini gue paham kok La.” Dia menjawab
“Anak-anak belum dateng?” Tanyaku
“Bentar lagi kok. Lagi pada di mini market depan komplek.”
“Ngapain? Emang gak ada snack disini?” Tanyanya cuek, aku sedikit menyenggol lengannya
“Hahahaha. Ada kok Tian snack. Cuma gak ada soft drinknya, gue lupa beli. Makanya gue titip anak-anak.” Tawa Lala pecah.
            Aku dan Dia duduk di sofa tepat didepan tv beserta home theather di lantai 2 rumah Lala. Tak lama teman lain sampai dan sebelum acara “marathon film” dimulai diawali dengan acara basa-basi alias menanyakan pertanyaan-pertanyaan dasar. “udah lama sampe?” dan sebagainya.
“Jangan ditempatin ya.” Kataku sebelum meninggalkan tempat duduk
“Iya nyonya Christian.” Celetuk salah seorang teman. Suara ramai ledekan pun pecah.
“Udah, udah. Kita mau nonton apa nih?” Tanyanya mencoba mengalihkan pembicaraan
“Film romance aja ya.” Pinta salah satu teman perempuan. Setelah meminta film romance terdengar beberapa suara beda pendapat. Antara romance, komedi dan horor. Sebuah hal yang biasa setiap kali ingin menonton film bersama. Setiap orang punya selera masing-masing, dan kita gak bisa memaksakan selera orang lain untuk selalu sama dengan selera kita. Saat itu aku tak ikut berdebat, aku hanya mendengarkan karena aku membantu Lala menyiapkan minuman di meja yang tak jauh dari tempat dimana kita semua akan menonton. Bagiku film apa saja tak masalah dan akhirnya suara perdebatan itu mulai hilang. Ya, akhirnya memutuskan untuk mengawali film pertama dengan film drama romance. Bukankah kita harus menghormati pendapat atau selera orang lain? sebuah toleransi yang luar biasa.
            Suara film telah dimulai sudah terdengar, aku dan Lala membawa beberapa toples snack ringan menunju sofa empuk dan mulai bergabung.
“Aku udah nonton film ini belum sih?” Tanya Tian padaku
“500 days of summer??” Iya film yang diputar sekarang 500 days of summer. Film keluaran beberapa tahun silam
“Belum.” Jawabku kemudian
“Yakin??” Tanyanya lagi
“Iya, belum.” Jawabku memastikan
“Ian, kok lo nanya udah nonton film ini apa belum sih?” Tanya Hadi, salah seorang teman
“Iya soalnya setiap film gue tonton selalu bareng sama dia.” Kata Tian sambil melirik dan menyenggol lenganku.
“wuuuuuuu..” Teriakan-teriakan seperti anak SMA muncul lagi.
“Udah, silent please. Filmnya udah mulai.” Kataku sambil meletakan jari telunjuk di ujung bibir.
                                                            ***

            3 judul film sudah kami tonton semua. Teman laki-laki semuanya tertidur di sofa, bekas makanan berantakan dimana-mana. Aku beranjak dari sofa, namun Tian tertidur di bahu ku, aku angkat kepalanya dengan hati-hati mengambil bantal, mencoba mengganti bahuku dengan sebuah bantal. Aku mulai membereskan bekas makanan yang berantakan dan gelas-gelas yang sudah kosong isinya.
“Udah biar si mbak aja yang beresin.” Ucap Lala
“Gak usah La, biar kita-kita aja. Kasihan pembantu lu udah dapet kerjaan banyak.” Jawab teman perempuanku yang lain. Aku setuju namun hanya menganggukan kepala.
            Pekerjaan akan terasa ringan apabila dikerjakan bersama-sama. Pepatah kuno itu memang benar adanya.
“Lu udah jadian ya sama Tian?” Tanya teman perempuanku saat kami sedang asyik mencuci gelas dan pirin kosong di dapur rumah Lala
“......” Aku tak menjawab hanya tersenyum
“Cieeee, dia beneran udah nembak lu?”
“Nembak??”
“Iya nembak, ‘mau jadi pacar gue?’ kayak gitu.”
“Gak.”
“Loh??”
 “Hmm, gini ya. Menurut gue pacaran orang dewasa itu gak pake tembak menembak segala. Kayak anak SMP deh lo.”
“Loh, gimana caranya kita bisa tau kalo dia beneran suka, eh maksud gue sayang sama kita?”
“Lo kan udah dewasa, lo tau pasti cara bedain orang yang perhatian sama kita. Tuhan juga udah kasih kita hati supaya kita juga bisa merasakan hal seperti cinta.”
“Maksudnya?”
“Misalnya dia tiap hari anter jemput lo, nganter kesana kemari, telponin lo tiap waktu karena khawatir, sms-sms romantis, jalan bareng, berbagi cerita, dsb.”
“Dan lo ngerespon itu?”
“Iya gue respon. Karena ya gue sayang juga sama dia.”
“Dia bilang sayang sama lo?”
“He said everything. Love, miss, and a thousand sweet words.”
“Kalo Cuma kata-kata sih gampang. Lo gak takut di PHP-in?”
“Gak sama sekali. Karena gue sayang makanya gue yakin. Lagipula kata-kata yang dia ucapkan sesuai kok sama perilaku yang dia buat ke gue.”
“Tapi kan dia gak nembak lu.”
“Kenapa harus nunggu ada yang nembak dulu sih? Kalo sama-sama cocok ya jalanin aja. Ngalir aja.”’
“Berarti itu HTS.”
“HTS itu suka dipake sama oknum playboy, jadi kalo lagi ke gap jalan sama cewek lain bilangnya ‘gak ada hubungan apa-apa.”
“Oh, TTM?”
“Bukan. TTM itu semacan ada komitmen diawal kalo kita tetap teman tapi masih bisa pacaran sama orang lain. Gak jauh dari HTS-lah.”
“Kalo nanti lo digantungin gimana?”
“Kalau sudah saling menyadari sama-sama sayang, gue rasa gak ada istilah gantung-menggantung. Ini kan soal hati bukan jemuran.”
“Hahaha. Bisa aja lo. Kalo tiba-tiba Tian ninggalin lo gimana?”
“Semua pasti ada resikonya. Orang pacaran juga pasti ada potensi buat putus kan? Dan cara putusnya macem-macem. Ada yang ditinggalin gitu aja, ada yang baik-baik, ada yang ngilang. Ya intinya kalo gak mau patah hati ya gak usah jatuh cinta.”
“Gilaaaaa. Kata-kata lo kebanyakan baca novel. Tapi gue setuju sih. Trus kalian kan gak pake ritual nembak. Gimana cara ngitung anniversary-nya? Udah berapa tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, detik?
“Hahahahaha... Lo mau pacaran atau mau jualan kalender. Masih pacaran mah gak usah itung kuantitas waktu yang penting tuh kualitas hubungan. Kalo mau itung anniv sih nanti aja pas lo udah nikah, jelas kan tanggalnya?”
“Hahahaha... bener juga kata-kata lo. Duh, lo lucu banget deh. Jadi kalian jalanin dulu nih?”
“Iya, jalanin dulu. Sejauh ini sih cocok-cocok aja. Ya, seperti yang gue bilang tadi semua pasti ada resikonya.”
“Goodluck ya. Gue do’ain yang terbaik untuk lo berdua.”
“Amin.”
            Sungguh yang aku takutkan bukan Tian tidak mengungkapkan perasaannya, sungguh aku sangat yakin Tian menyayangiku dengan tulusnya. Namun yang aku ragukan adalah tentang perbedaan agama aku dan dia. Itu saja.
                        


-bersambung.....
@eishafitri

Jumat, 27 September 2013

and now you're mine. Rest with your dream in my dream
love and pain and work should all sleep, now
the night turns on its invisible wheels,
and you are pure beside me as a sleeping amber

No one else, love, will sleep in my dreams. You will go,
we will go together, over the waters of time.
no one else will travel through the shadows with me,
only you, evergreen, ever sun, ever moon.

Your hands have already opened their delicate fists
and let their soft drifting signs drop away,
your eyes closed like two gray
wings and i move

Pada Paragraf yang Begitu Singkat

pada paragraf yang begitu singkat, kau sempat menulis bekas luka.
disana kau dan aku dahulu dengan tabah menyusun huruf demi huruf sambil belajar membuat narasi yang bahagia.
padahal akhir cerita tak bersahabat dengan waktu dan sisa rindu di sela kata terlalu lemah untuk patuh kepada air matamu.
tak ada jeda untuk kau tinggal disini.
biarkan aku membiarkanmu pergi....

biarkan aku membiarkanmu pergi....

pada paragraf yang begitu singkat ada ingatan yang berkarat
disana, aku dan kau terperangkap dalam kalimat pasif yang tak paham bagaimana cara menunggu.
sedangkan cintamu telah luput di titik terdekat dan langkahku telah lumpuh di tanda tanya terjauh.
tak ada celah untukku pergi dari sini..
biarkan aku membiarkanmu kembali.....
i love you without knowing how, or when, or from where
i love you simply, without problems or pride
i love you in this way because i don’t know any other way of loving but this
in which there is no i or you,
So intimate that your hand upon my chest is my hand,
so intimate that when i fall asleep your eyes close.


puisi : Pablo Neruda

Senin, 23 September 2013

Pertemuan

Dia sangat menghormatiku sebagai wanita muslim.
Aku bertemu laki-laki berkaus putih, memiliki kulit sawo matang, bertubuh tinggi dan tegap, rambutnya rapi, tubuhnya harum parfum itulah yang aku tangkap dari indera penciumanku sebuah aroma parfum bvlgari extreme, salah satu parfum favoritku. Ya, aku seorang wanita namun aku suka parfum yang memiliki aroma kuat seperti bvlgari.

Siang itu disebuah acara keorganisasian non profit bercakap dengan sesama anggota, bertukar cerita apa saja. Pengalaman, alamat rumah, pekerjaan, hobi dan apapun itu. Aku berkeliling untuk saling bertukar nama dan sapa, hingga sampai di barisan belakang. Lelah, ya tapi menyenangkan. Ingat semua nama dalam organisasi itu? Jelas tidak. Sungguh anggota yang hadir siang itu sangat banyak dan kelemahan ku adalah mengingat banyak nama dan mengingatnya sesuai dengan wajah mereka, sungguh sulit.

Aku berdiri dipojok barisan belakang melihat suasana ruangan yang super crowded, riuh suara terdengar jelas. Datanglah seorang laki-laki itu menghampiriku dengan senyum manisnya.
"Halo." Sapanya pertama kali saat itu
"Halo juga." balasku dengan senyum. Tidak, ia tidak mengulurkan tangannya.
"Boleh kenalan kan?" balasnya lagi
"Tentu saja." Kataku kemudian. Tidak, ia tidak mengulurkan tangannya
"Aku Christian. Kamu?" Ia hanya mengantupkan kedua tangannya sambil tersenyum sambil sedikit membungkukkan badannya.

Ia tak menyentuhku, ia sangat menghormati jilbab yang aku kenakan. Ia tau aku wanita muslim dan ia tak ingin sembarangan menyentuhku. Ya, ia katakan itu setelah kami bercerita panjang setelah perkenalan itu. Setelah perkenalan itu kami bertukar nomor telpon dan banyak berbagi cerita.
Ia seorang kristian, agamanya sangat kuat. Ia rajin ke gereja setiap hari minggu, tidak hanya datang untuk berdoa saja ia juga aktif dalam kegiatan kegerejaan.


@eishafitri

Little Things - One Direction

Your hand fits in mine like it's made just for me 
But bear this in mind, It was meant to be and I'm joining up the dots with the freckles on your cheeks 
And it all makes sense to me
  
I know you've never loved
The crinkles by your eyes when you smile you've never loved
Your stomach or your thighs 
The dimples in your back at the bottom of your spine
But I'll love them endlessly

I won't let these little things slip out of my mouth
But if I do, It's you, it's you 
They add up to, I'm in love with you nnd all these little things

You can't go to bed without a cup of tea 
And maybe that's the reason why you talk in your sleep 
And all those conversations are the secrets that I keep though it makes no sense to me

I know you've never loved the sound of your voice on tape 
You never want to know how much you weigh
You still have to squeeze into your jeans but you're perfect to me

You'll never love yourself half as much as I love you 
You'll never treat yourself right darlin' but I want you to 
If I let you know I'm here for you 
Maybe you'll love yourself like I love you

Kamis, 19 September 2013

When I was Your Man

Same bed but it feels just a little bit bigger now 
Our song on the radio but it don't sound the same 
When our friends talk about you, all it does is just tear me down 
Cause my heart breaks a little when I hear your name
It all just sounds like oooooh… 
Mmm, too young, too dumb to realize 
That I should have bought you flowers 
And held your hand 
Should have gave you all my hours when I had the chance 
Take you to every party cause all you wanted to do was dance
Now my baby's dancingBut she's dancing with another man

My pride, my ego, my needs, and my selfish ways 
Caused a good strong woman like you to walk out my life 
Now I never, never get to clean up the mess I made 
And it haunts me every time I close my eyes

Although it hurts 
I'll be the first to say that I was wrong 
I know I'm probably much too late to try and apologize for my mistakes 
But I just want you to know
I hope he buys you flowers 
I hope he holds your hand 
Give you all his hours when he has the chance 
Take you to every party cause I remember how much you loved to dance 
Do all the things I should have done 
When I was your man


"Enak yaa kalo ada yang bilang gitu, rada nyesel-nyesel gimana gitu..."

Selasa, 13 Agustus 2013

One Day

Tadinya saya mau cerita tentang film One Day ini di twitter tapi karena hanya berkapasitas 140 karakter jadi saya putuskan untuk ceritanyanya di blog pribadi saya. Beberapa hari yang lalu saya nonton film One Day tentang drama romance gitu. Oke gue akan cerita sedikit tentang isi filmnya.


Emma seorang gadis yang smart, dia bersahabat sama laki-laki bernama Dexter. Persahabatan mereka dimulai sejak di bangku perkuliahan, sejak wisuda mereka berdua berjanji akan terus bersama menjadi seorang sahabat dan setiap tanggal 15 Juli mereka bertemu berdua. Mereka menghabiskan waktu berdua, berlibur atau hanya sekedar telpon untuk sharing. Dexter termasuk tipikal cowok yang popular dan tampan, ia kerap kali berganti pasangan. Sedangkan Emma tidak, ia hanya berpacaran dengan rekan kerjanya. Meski keduanya saling memiliki kekasih masing-masing, tiap tanggal 15 Juli mereka selalu menyempatkan bertemu.
Keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing dan sibuk dengan kekasihnya masing-masing. Dexter menjadi seorang presenter TV dan Emma bercita-cita menjadi seorang penulis.
20 tahun persahabatan mereka. Dexter memutuskan untuk menikah dengan kekasihnya dan saat itu Emma telah putus dengan kekasihnya. Namun, pernikahan Dexter tidak berlangsung lama, istrinya berselingkuh dengan pria lain. Mereka berdua pun bercerai dan mereka memiliki 1 orang anak perempuan.
Hidup Dexter kacau setelah perceraian dengan istrinya, ia memutuskan untuk bertemu Emma dan Emma saat itu telah memiliki kekasih lagi seorang pianis. Namun, lagi hubungan Emma dan kekasihnya tak berlangsung lama, Emma saat itu telah menjadi seorang penulis. Kemudian setelah 20 tahun persahabatan mereka berdua Emma dan Dexter menyadari bahwa keduanya saling mencintai, hingga akhirnya mereka berdua menikah. Anak Dexter juga sering dititipkan  oleh istrinya dikediaman Emma dan Dexter.
Hingga suatu pagi mereka berdua bertengkar (Emma dan Dexter), Emma ingin sekali memiliki anak dari orang yang ia cintai tapi ia tak kunjung hamil. Emma hampir putus asa tapi Dexter terus menguatkan. Emma pergi ke tempat berenang dan disanalah ia sadar telah kasar pada Dexter pagi itu, ia mengirimi pesan suara kepada Dexter meminta maaf dan mengatakan bahwa ia sangan mencintainya. Saat perjalanan makan siang di suatu restoran, dimana Dexter telah menunggu terlebih dahulu disana, Emma tertabrak mobil saat mengendarai sepedanya dan meninggal. Dexter sangat terpuruk dan kacau balau hidupnya, ia kehilangan orang yang sangat dicintainya. :( Ia tidak menikah lagi semenjak Emma pergi dan Ia mengajak anak prempuannya ke tempat dimana ia dan Emma pernah datangi bersama.

Quotes :
"Whatever happens tomorrow, We've had today. And if we should bump into each other sometime in the future, well that's fine too, we'll be friends." -Emma
"I love you Dexter, so much. I just don't like you anymore." -Emma
"She made you decent and in return you made her so happy." -Ian, kekasih Emma. Saat bicara sama Dexter
"Whatever happens tomorrow, we had today. I'll always remember it." -Emma
" I'm so much better when you're around." -Dexter
"I'm alone not lonely." -Emma
" I love you Dex, I really do. I just don't like you anymore." -Emma