Catatan Domba Betina

Jumat, 16 Mei 2014

Danau Tertinggi di Pulau Jawa Bagian III


Di tengah malam entah pukul berapa terdengar suara Nova menggigil kedinginan dan terdengar pula suara Feby. Feby mungkin terbangun dan dengan sabar mengurus Nova yang kedinginan saat itu. Aku ingin sekali bangun tapi aku juga tak kuat untuk bangun karena tubuhku sendiri juga merasakan dingin sekali. Aku hanya berkomentar dengan mata yang terpejam “Kasih teh atau air anget Feb.” . Ya, Feby sepertinya malam itu membuatkan Nova teh agar tubuh Nova hangat. Feby terus mengajak Nova ngobrol agar Nova tidak terkena hiportemia (dingin yang berlebih dan bisa menyebabkan kematian). Aku terus memejamkan mata tak tidur pulas karena memang udara dingin begitu sangat menusuk tubuh. Hingga aku terbangun tak ada lagi suara Feby dan Nova yang sebelumnya sedang mengobrol, mungkin mereka sudah tertidur. Akupun melanjutkan tidur kembali. Pukul 04.00 Ervan dan Feby terbangun, mereka berdua terdengar mengobrol dan Ervan mengajak Feby untuk buang air kecil. Keluarlah mereka berdua dari tenda dan mencari tempat buang air kecil. Tak berapa lama mereka kembali dengan seruan “Aiih, dingin bangeet!!” . Aku sudah tersadar saat itu, “pipis dimana lu berdua?” tanyaku
“di rerumputan di ujung sana.” Kata Feby
“Dingiiiin banget is asli deh.” Kata Ervan dan kembali tiduran
“Nova semalem kenapa Feb?” Tanyaku pada Feby
“Iya dia kedinginan hebat. Gue buatin air anget trus gue elus-elus sama gue ajak ngobrol.”
“Sorry ya gue gak bantuin semalem, gue juga menggigil banget.”
“Dia kayak di film Titanic deh. Pas si Rose manggil ‘Jack...Jack..’. haha”
Aku tertawa mendengarnya, dasar Feby. Tak berapa lama Nova terbangun dan ingin pipis juga, aku pun begitu. Akhirnya aku dan Nova keluar merasakan dinginnya udara Ranu Kumbolo pagi itu. Aku pun pipis di balik bukit dan menutupnya dengan sarung, pertama kali dalam hidupku seperti itu. Aku dan Nova kembali ke tenda, Nova kembali melanjutkan tidurnya. Aku, Feby dan Irwan duduk di luar tenda menikmati udara pagi pertama di Ranu Kumbolo.
Pagi itu berbeda dari pagi-pagi lain yang pernah aku lewati sebelumnya. Pagi itu udara sangat dingin, pagi pertamaku di Ranu Kumbolo memang tidak melihat indahnya matahari terbit karena lelah menyelimutiku dan teman lainnya jadi tidak ada yang bangun pagi untuk melihat matahari terbit. Kicauan burung, suara air danau, lukisan alam yang begitu luar biasa dan orang-orang yang lalu lalang menikmati danau. Aku memasak air dan menyiapkan sarapan untuk kita makan pagi itu. Feby dan Irwan pergi mencari tempat kemah baru, entah kemana perginya. Aku ditinggal sendiri dalam waktu yang cukup lama. Aku memasak air terlebih dahulu, kompor sempat mati namun aku tidak bisa menyalakan kembali, akhirnya aku meminta bantuan dari pendaki lain untuk menyalakan kompor itu. Syukur, kompor kembali menyala. Tak berapa lama Nova terbangun dan keluar menemaniku duduk di depan tenda.
“Lo laper?” Tanyanya
“Iya laper. Mau masak mi gak?”
“Boleh tuh. Nasi yang semalem masih ada kan?”
“Ada kok. Mau?”
“Mau deh. Masih enak gak?”
“Masih tapi dingin.” Kataku sambil membuka bungkus nasi tersebut
Akhirnya aku dan Nova makan nasi dan mi yang kami buat, Feby dan Irwan kembali dengan setengah berlari.
“Darimana lu pada?” Tanyaku penasaran
“Nyari tempat baru.”
“Dapet?”
“Ada kok disana, deket tanjakan cinta.”
“Wah, gue mau naik tanjakan cinta!!”

Sambil berbincang mengenai tempat baru dan tanjakan cinta kami sambil membuat kopi dan roti untuk sarapan. Suara gaduh di luar tenda membuat Ervan bangun dan ikut bergabung bersama kita. Setelah sarapan kami menikmati air danau, kami mendekat ke tepi danau dan menceburkan kaki kami di air danau. Dingin super dingin sekali. Tak lupa kami mengambil foto dengan background Ranu Kumbolo. Kami ingin sekali foto berlima, sulit mendapatkan foto kami berlima, akhirnya kami meminta seorang dari anggota Tim SAR Gunung Semeru untuk mengambil foto kami berlima. Tak lupa kamipun berfoto bersama Tim SAR tersebut.
“Bapak dari puncak?” Tanyaku kepada salah satu anggota Tim SAR
“Dari lereng gunung, 1 orang ada yang hilang.” Mendengar pernyataan tersebut kami berlima sontak kaget dan penasaran
“Hilang?”
“Iya, tapi sudah ketemu kok. Saya ingatkan ya kalau di gunung itu tidak boleh sombong, harus tetap rendah hati. Jangan terpisah dari rombongan.” Anggota Tim SAR itu memberi nasihat kepada kami. Kami mengangguk paham. Setelah foto dan berbincang sebentar para anggota Tim SAR tersebut melanjutkan perjalanan kembali, tak lupa kami mengucapkan banyak terima kasih karena telah bersedia dimintai tolong. Sekali lagi salah satu dari anggota Tim SAR itu berkata “Ingat! Jangan sombong.” Kalimat itu yang terus teringang dan terus ku pegang selama perjalanan itu

            Sebelum matahari merangkak naik kami pun pindah ke tempat yang baru, ke tempat yang memiliki spot pemandangan yang lebih indah maka dari itu kami membereskan semua peralatan dan melimpat kembali tenda. Setelah semua rapi dan memastikan tidak ada yang tertinggal walau sampah sekalipun, kami melanjutkan perjalanan kami. Berjalan menyusuri pinggiran danau dengan matahari yang cukup terik namun semilir udara masih tetap dingin, banyak batang pohon yang tumbang dan jatuh ke tepian danau tapi itu membuat kelihatan lebih indah bagiku. Tak memakan waktu yang lama kami pun tiba di tempat perkemahan baru, tempatnya tepat di pinggir danau dan tepat di bawah pohon. Aku heran mengapa Irwan memilih tempat itu padahal di sebrang sebelah sana ada tanah luas untuk mendirikan tenda bersama pendaki lain, tapi dia memilih tempat itu dan tak ada tenda lain selain tenda kami di sana. Setelah aku bertanya aku tahu alasannya mengapa, karena menurutnya tempat yang kami tempati itu sangat pas ketika esok hari kami melihat sunrise. Kamipun membuka tenda kembali, membereskan kembali peralatan seperti yang kami lakukan semalam. Aku ingat aku sempat marah pada Irwan karena ia terus menyuruhku ini itu dan itu membuat aku kesal dan beberapa kali cemberut. Sudah aku bilang di awal bahwa temanku Irwan adalah seorang yang dewasa jadi dia mencoba melunak dan dengan halus mengajakku untuk mencuci piring bekas makan bubur kami berlima. Saat sedang mencuci piring di bawah pohon banyak pendaki yang berlalu-lalang mengingatkan kami agar tidak menggunakan cairan sabun mencuci piring ketika mencuci karena takut merusak ekosistem di sana. Disaat yang bersamaan Feby dan Nova bermain air danau sambil menggosok gigi dan ditegur oleh pendaki lain agar tidak menggosok gigi, pendaki lain mengira Feby dan Nova menggunakan pasta gigi padahal kenyataannya Feby dan Nova hanya menggosok-gosok gigi tanpa menggunakan pasta gigi. Memang benar kita harus saling mengingatkan untuk menjaga keasrian lingkungan apalagi alam.
            Tak banyak yang kami lakukan saat itu hanya berfoto mencari spot terbaik siang itu setelah puas dan udara siang itu cukup dingin kami masuk ke tenda. Sedikit merebahkan tubuh dan mencoba memejamkan mata untuk tidur siang. Aku, Feby, Nova dan Ervan tidur dan entah apa yang dikerjakan Irwan di dapur (dapur tempat kami memasak tepat di depan tenda kami). Aku hanya tidur sebentar selebihnya aku hanya memejamkan mata dan menutup mukaku dengan jaket namun Irwan tahu kalau aku tidak tidur, dia memukul kakiku seraya berkata “gue tahu lu gak tidur. Bangun Is, bantuin gue masak.” . Aku-pun bangun dan menggerutu dalam hati dengan lunglai aku keluar tenda membatu Irwan memasak. Siang itu kami memasak nasi, goreng telur dan sayur sop. Aku membantu mengiris sayuran dan Irwan memasak nasi. Makanan sudah hampir jadi Feby, Nova dan Ervan juga bangun dari tidurnya. Aku dan Nova pergi menjauhi tenda berniat ingin mengambil foto lebih banyak lagi, Irwan memanggil mengajak makan tapi aku dan Nova menolak dengan kompak. Sungguh perutku masih kenyang daritadi pagi makan terus. Tapi Irwan terus memaksa agar aku dan Nova makan, aku tetap menolak tapi Ia tetap keras menyuruh makan. “Kalau cuaca dingin itu harus banyak makan biar perut gak kosong, gak masuk angin juga.” Kata Irwan. ‘Dasar batu’ umpatku kesal saat itu. Seperti anak yang menurut pada orang tua, aku dan Nova kembali ke tenda untuk makan bersama. Menu saat itu menggiurkan sekali tapi aku hanya makan sedikit karena memang perutku tak bisa dipaksakan. Ada yang lucu dari makan siang menjelang sore kita itu adalah bahwa nasi yang kami makan belum matang alias aron. Kami tertawa bersama saat makan nasi itu, ingat! Saat di gunung makanan apapun harus dinikmati. Sambil makan kami sambil berbincang dan terus bercanda. Aku penasaran setengah mati ingin ke tanjakan cinta, aku ingin sore itu langsung ke sana. Mereka pun mengiyakan setelah membereskan makanan kami siap menjemput senja dari atas tanjakan cinta.

Kamis, 15 Mei 2014

Danau Tertinggi di Pulau Jawa Bagian II


Sore itu kami mulai melangkahkan kaki melewati pohon-pohon dan jalan setapak. Menuju pos 1 rute-nya tidak begitu sulit, jalan landai dan masih cukup bagus. Beberapa kali kami berhenti karena kelelahan berjalan. Maklum kami belum terbiasa berjalan sejauh ini. Hari semakin lama semakin gelap namun perjalanan masih teramat jauh. Barulah sampai di pos 2 pukul 17.00 yang saat itu sudah gelap dan angin berhembus dingin sekali. Kami memutuskan berhenti di pos 2. Tak hanya kami yang beristirahat disana, ada beberapa pendaki lain yang sedang beristirahat pula. Berbincang dengan pendaki lain dan beberapa pendaki yang ingin turun. Menurut informasi yang didapat bahwa dari pos 2 menuju pos 3 adalah rute yang paling panjang dan rute menanjak sekitar 60 derajat. Dengan rute perjalanan seperti itu dan langitpun sudah mulai gelap menjadi tantangan bagi kami saat itu. Tak ingin membuang waktu banyak kami mempersiapkan peralatan lighting, dari senter hingga headlamp. Mengganti batre yang baru agar cahaya yang dihasilkan terang sehingga tidak menggangu perjalanan kami saat itu. Setelah alat penerangan dibagikan satu persatu kami siap untuk berjalan menuju pos 3. Aku sendiri memakai headlamp dan senter yang aku genggam.
“Semangat mas dan mba.” Para pendaki lain memberi semangat kepada kami.
            Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang penuh dengan pasir dan bebatuan besar. Terkadang kami menemui batang pohon yang tumbang yang memaksa kami harus melangkah lebih ekstra hati-hati. Fokus pada jalan karena suasana pada saat itu sangat gelap, angin malam berhembus dingin sekali sampai menembus tulang namun kami harus tetap terus bergerak agar tidak kedinginan. Benar apa yang dikatakan orang-orang tentang trek menuju pos 3 sangat curam, tak jarang kami harus saling berpegangan tangan untuk membantu memanjat di trek yang sangat curam. Sering kali aku merangkak untuk menanjak atau jika trek turunan aku kerap kali jongkok meraba permukaan tanah berpasir dengan kakiku. Tak ada pemandangan yang indah saat itu, aku tak melihat apapun selain jalan setapak dan pohon-pohon di samping kananku, ranting pohon yang berserakan, di samping kiri ku terdapat jurang, bebatuan di samping kananku. Pencahayaan pun harus tetap menyala dengan baik untuk membantu perjalanan kami malam itu.
“Astagfirullah.” Aku berteriak begitu keras dan refleks. Aku terjatuh karena tak melihat ada batu. Untung saja aku tak terperosok ke dalam jurang yang saat itu mulut jurang sudah berada di ujung kakiku.
“Kenapa lo is?” “Are you okay?” Teriakan mereka hampir bersamaan melihat aku yang sudah jatuh duduk di bawah.
“Gapapa kok.” Kataku sambil mencoba berdiri dibantu uluran tangan temanku.
“Hati-hati yaa guys. Fokus. Konsentrasi. Kalau capek bilang.” Kata Irwan memberi instruksi kepada kami.
“Ayo. Udah bisa lanjut lagi kan?” Tanya Irwan padaku
“Sip.” Aku meyakinkan
“Udah pake senter 2 masih aja jatuh.” Lanjut Irwan meledek
“Hahaha. Iya ilang fokus tadi.” Aku menjawab sambil tertawa kecil
            Setelah insiden jatuhnya aku kami melanjutkan perjalanan kembali dengan lebih berhati-hati. Tapi memang perjalanan menuju pos 3 sungguh sangat banyak tantangannya. Kejadian jatuhnya aku kembali terulang, tak hanya aku namun semua juga merasakan jatuh entah karena tersandung batu atau ranting pohon. Kondisi kami saat itu sudah sangat lelah dan kondisi jalan yang sangat gelap. Tak berapa lama setelah puluhan kali menanjak terlihat samar pos 3. Selter pos 3 sudah tidak berbentuk bangunan, karena pos 3 sudah ambruk. Hanya atap yang terbuat dari seng yang masih ada disana. Kami tak beristirahat disana selain kondisi pos yang tidak memungkinkan untuk kami beristirahat dan sudah hampir malam. Kami takut banyak menghabiskan waktu di jalan karena angin malam saat itu berhembus sangat kencang. Langkah demi langkah kami tapaki kembali malam itu namun tempat tujuan belum juga muncul dipelupuk mata kami. Berkali kami beristirahat karena terlalu lelah berjalan, tak ada pemandangan indah, tak ada awan-awan cumulus yang menyambut, semua gelap pekat hanya cahaya dari senter dan suara-suara anjing hutan dan jangkrik yang terdengar. Kami memutuskan untuk berhenti untuk menyeduh teh dan memasak mi gelas, itu kami lakukan dipinggir jalan jalur pendakian yang memang agak luas. Membongkar dan menyalakan kompor lalu kami duduk melingkar saling menghangatkan diri. Beberapa pendaki melewati kami dan berkata
“Semangat kalian. Sudah dekat dengan pos 4.” Mereka yang lewat selalu saling memberi semangat. Adapula yang bertanya mengapa kami membuat mi di tengah perjalanan seperti itu, apa boleh buat ini kami lakukan karena perut kami kompak meminta diberi makan.
“Dingiiiin.” Kata Nova tangannya bergetar kedinginan.
“Ini minum kuah mi-nya biar anget.”
“Kita gak bisa banyak diam kayak gini, makin dingin.” Kataku yang terus menggerak-gerakan jemari tangan yang sudah mulai agak mati rasa.
“Please genggam tangan gue.” Kata Nova kepadaku, aku menggenggamnya erat.
“Kita pelukan yuk, Nov.” Kataku meminta
“Lo kedinginan juga?”
“Bangeeeeeet.” Tak perlu menunggu waktu kami berdua berpelukan. Sementara Irwan merapikan peralatan masak kembali, karena makanan kami sudah dengan cepat kami lahap.
            Kami melanjutkan perjalanan kembali dengan tenaga yang baru kami isi seadanya. Iya benar apa kata pendaki lain pos 4 memang tak begitu jauh dari tempat kami beristirahat.
“Denger gak?” Kataku berseru yang saat itu memang posisi aku berjalan diurutan kedua dari depan.
“Denger apa?” Ada yang menjawab
“Suara air. Kayaknya Ranu Kumbolo udah deket nih!.” Mereka dengan kompak diam dan mencoba mendengar suara air yang terkena angin.
“Semangaaaat guys! Ini kita udah turun menuju ranu kumbolo.” Lagi Irwan memberi semangat kepada kami semua
“Ranu Kumbolo kami datang.” Ervan setengah berteriak. Aku mengucap syukur berkali dalam hati. Jalur trek menuju pos 4 memang tak terjal saat menuju pos 3. Masih ada jalan menanjak tapi tak terlalu tajam, lebih banyak jalan menurun dan itu membutuhkan keseimbangan.
“Nah ini pos 4.” Kata Feby yang saat itu berada dibarisan depan
“Itu banyak tenda camp dibawah.” Kataku berseru sambil menunjuk ke arah perkemahan.
“Iya tapi kita lewat mana nih? Kanan atau kiri?” Kami ragu dan tak ada rombongan pendaki dibelakang kami.
“Udah kanan aja.” Kata Irwan memberi saran
“Tapi ini terjal loh.”
“Udah gapapa, pelan-pelan. Ini kita ngejar waktu udah malam banget ini.” Kata Irwan lagi
            Feby dan Ervan berjalan mendahului karena bertugas mencari tempat dan memasang tenda. Aku berjalan sendiri menyusuri jalan menurun yang begitu sangat terjal. Nova dan Irwan dibelakang, Irwan membimbing Nova turun. Aku mau menangis rasanya saat itu, hatiku sesak, kesal. Mungkin efek dari lelah, kakiku sudah tak kuat menopang badanku padahal saat itu sangat dibutuhkan keseimbangan. Feby dan Ervan sudah jauh dibawahku, sedangkan Nova dan Irwan masih jauh diatasku. Aku berkali teriak memanggil nama Feby namun ia hanya menoleh dan berkata “Ayo lu bisa!” . Aku hampir mengeluarkan air mata saat itu, aku lelah, aku tak kuat lagi berjalan. Aku ingin menyerah saja disitu namun mereka terus memberiku semangat dan akhirnya aku sampai di bawah dengan selamat. Kami segera mencari lahan untuk mendirikan tenda. Aku dan Nova tak mencari aku langsung duduk menghadap danau Ranu Kumbolo yang malam itu tak begitu terlihat indah namun aku bisa merasakan suara air yang disebabkan oleh angin malam yang berhembus. Aku lirik jam tanganku tepat pukul 22.00 kami sampai di Ranu Kumbolo. Nova menghampiri dan langsung duduk disebelahku.
“Tiduran yuk, Mus.” Panggilnya dengan panggilan akrabku ‘Mus’
“Ayo.” Kami tak peduli alas apa yang kami tiduri saat itu, kami hanya butuh istirahat dan sedikit rebahan.
“Kita sampe juga Mus.” Ucapnya
“Iya. Subhanallah ya langitnya.”
“Iya bagus banget. Sumpah!”
            Ratusan bahkan jutaan bintang malam itu menyambut kedatangan kami di Ranu Kumbolo. Aku merasakan merinding luar biasa saat itu, bukan karena dingin atau apa. Namun aku takjub melihat pemandangan langit malam itu. Jutaan bintang bertebaran dilangit yang pekat, begitu terang. Aku merasakan dekat sekali dengan langit sepertinya bintang itu bisa aku raih dengan jemari tanganku ini. Berkali aku ucap syukur dan memuji Sang Maha Kuasa atas segala ciptaanNya yang begitu sangat luar biasa.
“Kita sampe juga. Alhamdulillah.” Kataku yang saat itu masih tiduran diatas pasir dan rumput kering sambil berpegangan tangan dengan Nova dan menatap langit.
“Iya, Gue gak nyangka kita bisa sampe sini. Lo pengen nangis gak?”
“Gue udah nangis nih, gue takjub banget sama semuanya. Sama perjuangan kita dan terutama sama ini pemandangan yang kita liat sekarang.” Jujur aku menangis saat itu, air mataku deras mengalir.
“Kemarin banyak yang ngeremehin gue. Kalo gue gak kuat naik gunung. Tapi sekarang gue bisa tunjukin ke mereka kalo gue bisa. Gue sampe Ranu Kumbolo.”
“Iya bener banget. Banyak yang bilang gue gak kuat karena gue ashma, gue diremehin banget. Tapi sekarang gue disini, di danau tertinggi di pulau Jawa.” Kataku terisak. Aku memang punya riwayat penyakit ashma, bahkan pada saat pemeriksaan sebelum berangkat mendaki-pun aku sempat diragukan oleh dokter yang memeriksaku. Namun kali ini aku bisa membuktikan pada mereka semua yang sempat meremehkanku sebelum aku berangkat.
“Ini indah banget, sumpah demi apapun.”
“Ini pengalaman luar biasa yang bisa kita ceritain ke suami, anak dan cucu kita nanti.”
“Iya bener banget lo. Gue mau ceritain ini ke semuanya. Ke anak-anak gue, ke cucu-cucu gue. Semuanya.”
Air mata terus mengalir tak henti pula terus berucap syukur kepada Sang Pencipta alam semesta ini
“Nov, bintang jatuh!” Kataku berseru sambil menunjuk ke arah bintang jatuh.
“Iya, gue liat. Make a wish!” Dengan segera kami make a wish. Tak begitu percaya dengan mitos yang satu itu ‘ketika bintang jatuh ucapkanlah permohonanmu. Niscaya akan terkabul’ . Entah darimana mitos itu berasal tapi kami masih saja melakukan. Berharap dikabulkan seperti bunyi mitos itu. Aku dan Nova masih terbaring diatas rumput kering tak peduli angin malam yang semakin kencang berhembus. Bercerita banyak dan meluapkan kebahagiaan yang kami rasakan saat itu.
“Hoy, cewek-cewek. Bisa bantu kita masak air hangat?” Kata Feby. Aku dan Nova segera beranjak dan menoleh, ternyata tenda sudah berdiri. Barang-barang masih berserakan diluar. Ervan bertugas merapikan dalam tenda. Aku dan Nova memasak air untuk kami minum. Sementara Irwan dan Feby membereskan perlengkapan yang diluar. Angin malam semakin terasa kencang dan dingin.
“Gue dingin gak kuat!” Kataku
“Udah buruan deketin aja tangannya ke kompor biar anget.” Kata Irwan
Aku dan Nova mendekatkan telapak tangan ke pinggir-pinggir kompor mini yang kami bawa saat itu. Sungguh itu tidak ada efek yang berarti. Aku masih saja kedinginan.
“Tendanya udah rapi belum. Mau masuk please, gak kuat lagi.” Kata Nova dan aku menyetujuinya dengan anggukan.
“Udah. Yaudah cewek-cewek dulu yang masuk ganti pakaian kalian semua. Pake jaket atau apapun yang bisa menghangatkan tubuh kalian.” Irwan kembali memberi instruksi. Irwan memang paling dewasa diantara kami dan dia juga sedikit banyak memiliki pengalaman naik gunung meskipun semeru belum ia jamahi tapi ia sudah tahu caranya naik gunung, jadilah ia sebagai pemimpin dari perjalanan kami. Aku dan Nova segera masuk ke dalam tenda mengganti pakaian kami yang basah karena keringat setelah ± 8jam berjalan kaki. Perlu diketahui mendaki sampai Ranu Kumbolo jika dilakukan oleh mereka-mereka yang telah terbiasa mendaki hanya menghabiskan waktu 5-6 jam. Tak apa kami sedikit lambat karena ini pengalaman pertama kami. Jaket berlapis kami kenakan tak lupa kaos kaki dan sarung tangan tebal. Setelah selesai aku dan Nova kembali keluar bergantian dengan laki-laki yang berganti baju. Kembali aku dan Nova memasak air untuk kebutuhan minum kami. Setelah mereka selesai berganti pakaian hangat bersamaan dengan air yang sudah mendidih yang segera dimasukan ke dalam termos kecil yang kami bawa. Kami berlima segera masuk ke tenda, duduk melingkar dan mulai kami membuka makanan yang kami beli di Ranu Pani sore tadi. Nasi dan sayur kari yang sudah dingin itu tidak lagi menarik di mataku dan di mata mereka.
“Ya ampun nasinya.” Salah satu dari kami mengeluh melihat kondisi nasi yang sudah lembek dan dingin ketika dibuka bungkusnya. Sungguh aku pun mengeluh di dalam hati melihat nasi yang sudah seperti itu.
“Udah dimakan aja biar gak masuk angin. Nikmatin.” Kata Irwan
“Iya dimakan aja. Lagi pula kita kan belum makan nasi. Terakhir makan nasi pagi di warung pelangi di Tumpang.” Aku kembali mengingatkan. Jika harus memilih mungkin aku tidak memilih makan tapi apa daya perut sudah memanggil minta diisi nasi. Orang Indonesia wajar harus bertemu nasi dulu baru dianggap sebagai makan.
“Iya belum basi ini ayo kita makan!” Nova berseru
            Malam itu kita duduk melingkar menikmati makanan yang sudah dingin bersama teh hangat. Udara dingin semakin malam semakin menusuk, angin semakin kencang seakan menggoyangkan tenda kami. Suara riuh jangkring dan serangga tonggeret bersahutan dan suara deru air danau terdengar jelas. Langkah kaki dan suara-suara manusia terdengar semakin dekat, ya mereka para pendaki yang baru sampai dan mendirikan tenda di sebelah tenda kami.
“Mungkin itu para pendaki lain baru sampai.” Kata Feby dan sedikit melihat keluar tenda
            Setelah merapikan makanan dan minuman kami mengatur kembali tata letak tas dan peralatan lainnya agar tenda kami nyaman untuk ditiduri. Membersihkan alas dan mengeluarkan sleeping bag. Kami hanya membawa 2 sleeping bag maka itu kami harus saling berbagi. Malam kian semakin larut kami sudah membagi posisi tidur masing-masing. Irwan, aku, Ervan, Nova dan Feby. Begitulah urutan kami tidur di malam pertama di Ranu Kumbolo. Lampu tenda sudah dimatikan dan saatnya memejamkan mata. Di dalam tenda kami sudah gelap namun suara ramai di luar masih terdengar jelas. Diantara kami tidak ada yang langsung tidur pulas kecuali Ervan. Meskipun sudah berada di posisi tidur masing-masing tapi kami masih sibuk ngobrol berempat hingga rasa lelah dan kantuk menggerogoti mata kami dan kami tidur malam itu ditemani udara dingin.

Rabu, 14 Mei 2014

Danau Tertinggi di Pulau Jawa bagian I


Hari ini 3 Oktober 2013 pukul 09.00 WIB aku dan keempat orang temanku telah bersiap melakukan sebuah perjalanan ke Jawa Timur. Setelah selesai sarapan dan mengecek ke dalam bagasi mobil perlengkapan dirasa sudah sempurna saatnya menuju Stasiun Senen. Pagi itu kami diantar Kak Fikar, dia kakak dari temanku Feby. Begitu bersemangat menuju Stasiun Senen padahal tiket online belum ditukar dengan tiket asli. Awalnya perjalanan menuju Stasiun Senen lancar namun jam sudah semakin mepet dengan jadwal penukaran sementara jalanan macet total. Air muka seketika berubah panik dan hati senantiasa berdo’a. Syukurlah Tuhan masih mengizinkan kita berangkat ke Malang, Jawa Timur. Ka Fikar tak mengantar sampai dalam stasiun, kami turun dekat stasiun dan masih harus menyebrang jalan. Setelah pamit dengan Ka Fikar dan meminta do’a agar diberi keselamatan, kami semua membawa tas masing-masing. Berat tas laki-laki kira-kira sampai 15kg sedangkan perempuan 6kg. Berjalan menuju stasiun dengan tas gunung menarik banyak perhatian orang. Dengan tergesa kami segera menukarkan tiket. Feby dan Ervan bertugas mengantri, sementara aku, Nova dan Irwan menunggu di luar. Tak berapa lama Feby dan Ervan keluar dari kerumunan orang yang mengantri tiket dengan senyum yang sumringah. Tiket asli sudah ditangan dan aku bertugas memegang tiket PP (pulang pergi) semua temanku. Aku memimpin jalan menuju pintu masuk peron menyerahkan 5 tiket beserta KTP asli teman-temanku, setelah menjalani proses pengecekan petugas akhirnya kami masuk dan masih harus menunggu kereta Matarmaja jurusan Jakarta – Malang yang dijadwalkan berangkat pukul 13.40. Kami masih punya waktu untuk membeli makanan untuk di dalam kereta nanti, saat ini giliran Irwan dan Feby yang membeli makanan di minimarket terdekat. Orang berlalu lalang tiada henti dan ada sebagian orang yang memakai tas gunung seperti kami juga. Kami saling bertukar senyum dan sapa dengan mereka. Karena di tiket tertera bahwa kami berada di gerbong satu maka dari itu kami pindah tempat untuk menunggu agar lebih mudah naik ketika kereta sudah datang. Tak berapa lama kami menunggu di tempat tersebut kereta matarmaja datang, seluruh penumpang bersiap mendekati pintu masuk padahal kereta belum berhenti. Cukup membutuhkan perjuangan untuk masuk ke dalam kereta tersebut karena begitu sesaknya penumpang yang ingin naik. Kami berlima tidak duduk saling berhadapan, kursi kami terpisah. Aku duduk berdua Nova dan di depan kami rombongan ibu-ibu dari sebuah instansi yang akan berlibur ke Blitar. Sangat bersyukur duduk dengan rombongan ibu-ibu itu makanan tak henti diberikan kepada kami, sampai aku membaginya lagi ke 3 teman laki-laki ku yang kebetulan duduk di belakang kursiku. Sementara 3 teman laki-lakiku duduk berhadapan dengan sepasang suami istri yang akan berlibur ke Bromo.
            Tak berapa lama kereta mulai jalan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku melakukan perjalanan dengan kereta api dan untuk pertama kalinya pula ke daerah Timur Jawa. 18 jam perjalanan dari Jakarta – Malang cukup membuat pinggang ku sakit karena kursi di kereta kelas ekonomi itu sangat tegak membuat posisi untuk tidur tak nyaman. Tak apa aku nikmati perjalanan ini. Bertemu dengan banyak orang di kereta, sedikit bertukar cerita dan makanan. Pedagang tak henti berlalu lalang meski jam menunjukan pukul 02.00 dini hari. Tak banyak yang bisa aku lakukan selain ngobrol dengan Nova atau ibu-ibu rombongan depanku. Melihat ke kursi belakang dimana 3 teman laki-laki ku sedang asyiknya bermain kartu. Mulai mencoba memejamkan mata sekali lagi sambil menunggu pagi. Cahaya matahari yang masuk dari jendela kereta membuat tidurku terganggu, suara gaduh ibu-ibu rombongan itu yang hendak turun mulai terdengar. Ya, aku memang harus benar-benar bangun.
“Dek, Ibu duluan ya. Selamat liburan ya kalian.” Ibu-ibu rombongan mengucap salam perpisahan kepadaku dan teman-temanku.
“Iya bu. Hati-hati ya. Terima kasih makanannya ya bu dan selamat liburan.” Kataku dengan mata yang masih belum segar. Well, 3 kursi di depan ku kosong dan dengan cepat 3 temanku pindah ke depanku dan Nova.
“Berapa jam lagi kita sampai?” Kataku sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangan kiriku
“2 jam lagi sesuai jadwal.” Feby menjawab
Tak banyak hal yang kami lakukan selama 2 jam perjalanan itu. Hanya memandang ke luar jendela dan takjub dengan pemandangan di luar. Hamparan sawah yang hijau menyambut pagi pertama kami di Jawa Timur di tambah matahari pagi yang begitu cerahnya.
“Rapi-rapi yuk guys. 1 stasiun lagi kita akan turun.” Irwan mengajak kami untuk segera membereskan tas karena saat itu kami sudah tiba di Stasiun Malang Kota Lama itu berarti 1 stasiun lagi menuju Stasiun Malang Kota Baru. Memastikan semua barang tak ada yang tertinggal di kereta barulah kami turun di Stasiun Malang Kota Baru
“Akhirnya menginjakan kaki di Malang.” Kataku berseru setelah turun dari kereta. Kami berjalan keluar stasiun. Banyak orang yang menjemput dan ada pula supir-supir angkutan umum yang memang sudah siap mencari penumpang. Kami keluar pintu stasiun dengan tas besar dan kemudian dihampiri oleh salah seorang supir angkutan umum. Laki-laki yang belum cukup tua itu mengenakan setelan kemeja kotak-kotak merah dan celana jeans dengan topi cokelat muda bernegosiasi harga dengan kami dan kemudian deal dengan harga tersebut. Pak Nur namanya yang akhirnya mengantarkan kami ke desa tumpang. Pak Nur baik sekali mengantar kami ke mini market untuk membeli logistik yang kurang dan beliau pula yang mengantar kami ke salah satu rumah yang menyewa mobil jeep untuk transportasi kami selanjutnya menuju desa Ranu Pani. Namun sayang si pemilik mobil jeep tidak ada di rumahnya dan kami memutuskan untuk sarapan sambil menunggu si pemilik mobil jeep datang. Lagi, Pak Nur lah yang mengantar kami sarapan mencari warung nasi terdekat. 1 porsi nasi kare dan teh manis hangat cukup membuat perut kenyang. Pak Nur berkata kalau si pemilik jeep sudah tiba di rumahnya. Setelah membayar makanan kami segera pergi ke rumah si pemilik jeep. Karena diantara kami berlima yang bisa bahasa jawa hanya Irwan jadilah Irwan yang terus bernegosiasi harga. Seperti Ibu-ibu di pasar Irwan pintar sekali dalam hal tawar menawar. Deal dengan harga lebih murah yang sungguh diluar dugaan kami. Setelah tawar menawar selesai Pak Nur pamit dan kami untuk sementara istirahat di rumah si pemilik jeep. Setelah mengucapkan terima kasih ke Pak Nur kami memutuskan untuk mandi dan beristirahat sebentar di rumah itu sambil menunggu jeep datang. Irwan dan Feby pergi ke pasar untuk membeli sayuran untuk bahan makanan di atas gunung nanti, pergi ke pasar diberi pinjam sepeda motor dari pemilik rumah.
            Sesuai yang dijanjikan jeep datang pukul 11.00 dan kami sudah siap berangkat menuju desa Ranu Pani. Jeep-nya warna merah, warna favoritku semakin bersemangatlah aku untuk perjalanan hari ini. Pak Rusianto atau Pak Rus yang mengantarkan kami menuju desa Ranu Pani, pintu gerbang menuju Gunung Semeru. Di tengah perjalanan yang siang itu sangat cerah Pak Rus memberi tahu bahwa akses jalan menuju desa Ranu Pani sedang ada perbaikan. Ya, jalan menuju desa itu memang sudah rusak, batu-batu besar dan jalan berlubang menjadi tantangan perjalanan kami siang itu. Karena akses jalan menuju desa tersebut sedang diperbaiki maka Pak Rus tidak bisa mengantar sampai ke tempat perizinan untuk para pendaki. Namun Pak Rus sangat baik hati beliau memberi solusi agar kami naik ojek dan beliau pula yang menelepon tukang ojek setempat agar bisa langsung membawa kami ke desa tersebut. Mobil jeep berhenti dan kami disuguhi pemandangan yang luar biasa. Padang Savana dan Gunung Bromo terlihat dari atas, tak ingin melewatkan moment itu kami langsung mengambil foto dengan background pemandangan yang luar biasa itu.
“Bapak ndak bisa anter sampai Ranu Pane, mobil hanya bisa sampai sini.” Kata Pak Rus dengan logat jawanya. Kami menurunkan tas dengan bantuan Pak Rus.
“Dimana pak tukang ojeknya?” Kataku heran karena sepenglihatan aku tak ada pangkalan ojek ditempat kita berhenti itu.
“Kalian harus jalan dulu nanti diujung jalan ada tukang ojek cari yang namanya Mas Tris.”
“Mas Tris?”
“Iya, Mas Sutrisno. Tris.”
“Jadi kita jalan kesana pak?”
“Iya, ikuti saja jalan besar ini.” Maklum ini perjalanan kami pertama kali ke desa tersebut jadi banyak tanya.
“Terima kasih pak. Nanti Senin jemput ya pak.”
“Iya kabari kalau sudah turun mendaki ya.” Ucap Pak Rus. Dan kami mengangguk sambil berjabat tangan dan mulai berjalan. Awalnya aku kira perjalanan menuju desa dari tempat kami turun dari mobil dekat namun kami membutuhkan waktu ± 1 jam dengan berjalan kaki. Berkali kami berhenti karena kelelahan berjalan. Ini baru permulaan tapi kaki rasanya sangat lelah untuk melangkah. Namun kami saling memberi motivasi dan akhirnya pukul 13.30 kami sampai di pangkalan ojek dan langsung mencari Mas Tris. Maks Tris sudah siap dengan teman-temannya untuk mengangkut kami menuju desa Ranu Pani. Aku naik dengan seorang mas ojek dengan ciri khas kain sarung melingkar di tubuhnya. Ciri khas orang sana yang disebut Suku Tengger memang seperti itu tidak lepas dari kain sarung mungkin efek udara dingin.
“Neng ndi mba?” Tanya tukang ojek tersebut kepadaku.
“Apa?”
“Neng ndi mba?”
“Apa mas?”
“Darimana mba-nya?” Jawab tukang ojek itu dengan bahasa Indonesia, mungkin dia paham aku tidak mengerti bahasa Jawa.
“Saya dari Tangerang mas.”
“Mau naik semeru?”
“Iya, mas.”
“Sampai puncak?”
“Ndak mas. Sampai Ranu Kumbolo.” Kataku yang mendadak berlogat Jawa
“Kenapa ndak sampai puncak? Bagus loh mba.”
“Mas sudah pernah?”
“Sudah 4 kali saya muncak.”
“Saya belum siap fisik dan mental mas kalau sampai puncak.” Kataku dengan logat biasa
“Kalau naik gunung itu kuncinya niat. Jangan dibawa serius, santai saja dan yakin pasti bisa.”
“Iya Mas.”
“Saya do’a kan nanti semoga bisa sampai puncak. Indah mba kalau muncak rasanya beda.” Tak terasa aku sudah sampai di desa Ranu Pani.
“Sudah sampai mba.” Aku turun dan membayar ongkos ojek tak lupa mengucapkan terima kasih kepada tukang ojek yang sudah berbagi sedikit pengalamannya. Sayang aku lupa bertanya nama waktu itu.
            Kami berjalan sedikit menuju tempat perizinan pendakian. Saat itu sudah pukul 14.00 banyak para pendaki yang berkumpul. Ada yang mau naik, ada pula yang baru turun. Semua bergabung tak kenal usia, jenis kelamin, agama, suku, ras atau apapun. Semua menjadi satu berbagi cerita suka duka mendaki gunung tertinggi di pulau Jawa itu. Kami dengan segera mendaftar ke loket pendaftaran, mengisi syarat-syarat yang telah ditentukan dan menunggu perizinan keluar. Sambil menunggu sebagian dari kami membeli nasi untuk perbekalan mendaki. Tak berapa lama perizinan sudah ditangan, membaca peraturan yang tertera dan siap untuk mendaki sore itu. Kami berjalan menuju gapura yang bertuliskan “Selamat Datang Para Pendaki Gunung Semeru” saat membaca tulisan tersebut aku merinding tak percaya sebentar lagi aku akan menapaki jejak disini. Kami berdo’a bersama sebelum mulai perjalanan, aku sempat melirik jam tangan dan pukul 14.30 petualangan ini kami mulai.
“Kalau ada yang capek bilang ya.” Ucap Irwan yang saat itu menjadi pembuka jalan.
“Siap.” Kami menjawab kompak.
           
*ini udah jadi draft lama banget hampir 6 bulan dari perjalanan aku dan 4 orang sahabatku dan ini masih bersambung......*




Minggu, 11 Mei 2014

Curug Nangka

Liburan long weekend kali ini aku diajak berlibur oleh saudara sepupuku. Awalnya aku menolak karena aku tidak punya uang untuk pergi. Tetapi sepupuku mengatakan tak usah khawatir masalah uang. Akhirnya akupun mengiyakan ajakannya.
Kami pergi hari minggu pagi. Aku, sepupuku, pacarnya, tante, om, anaknya dan teman kerja om.
Kami berenam meluncur ke daerah Bogor. Karena sempat lupa jalan menuju curug nangka beberapa kali kami bertanya dengan penduduk sekitar. Kami pergi ke curug nangka atas usulan dari om dan tanteku yang sudah pernah kesana sebelumnya.
Akhirnya pukul 12.00 siang kami sampai di curug nangka. Tak seperti yang ada dibayanganku. Aku berpikir bahwa kami akan menginap di villa atau hostel atau semacamnya. Tempat wisata siang itu cukup ramai pengunjung. Banyak warung-warung yang menjual makanan. Curug nagka adalah tempat wisata air terjun di daerah Bogor.
Kami pun menuju salah satu warung dimana om dan tante ku sudah mengenal dengan si pemilik warung. Bisa ditebak kami akan menginap di warung tersebut. Sungguh di luar dugaanku sebelumnya. Kami masuk ke warung tersebut dan bertemu dengan pemilik warung yang biasa dipanggil "emak" itu. Ternyata pemilik warung itu sudah tua sekali, seorang nenek yang sudah lanjut usia menjaga warung seorang diri. Keadaan warungpun jauh dari kata mewah bahkan jauh dari kata nyaman. Hanya bilik-bilik bambu dan tanah, tidak ada tembok, tidak ada ubin, tidak ada kamar mandi yang layak. Sedih sekali rasanya membayangkan si emak sendirian tidak ada yang membantu.
Kami duduk di bale bambu luar karena saat itu ada yang menginap tapi akan pulang sore itu. Barang-barang kami sudah dinaikan ke kamar atas. Jangan membayangkan sebuah kamar mewah. Tangga yang terbuat dari bambu dan di atas pun dari bambu, tidak ada kasur empuk hanya sprei sebagai alas dan banyak debu yang menempel. Karena cuaca cukup bagus siang itu setelah istirahat sebentar melepas lelah kami pun memutuskan untuk naik ke atas air terjun. Ternyata lumayan jauh juga menuju air terjunnya, beda dari curug-curug lain di gunung bunder yang jaraknya lebih mudah dan dekat. Di sini Jalannya pun bebatuan dan satu arah, jadi harus bergantian antara yang naik dan yang turun. Suara serangga tonggeret menemani perjalannku membuat aku rindu akan perjalananku menapaki kaki gunung semeru enam bulan silam. Setelah sampai di atas banyak pengunjung yang mandi di bawah air terjun. Awalnya aku tidak ingin basah-basahan tapi akhirnya aku mandi di bawah air terjun. Dingiiiiin~
Hari semakin sore dan badan semakin menggigil akhirnya kami turun ke bawah menuju warung emak untuk mandi dan berganti pakaian. Jujur aku tidak mandi karena kamar mandinya hanya bilik-bilik bambu dan kucuran air gunung, aku tidak bisa mandi dengan tenang jika keadaannya seperti itu. Aku hanya berganti pakaian, mencuci muka dan gosok gigi. Sepupu ku pun sama.
Di warung emak juga masak dan kita bebas mengambil apa saja asal jangan lupa dicatat di kertas apa saja yang kita makan. Kami tidak tega menyuruh emak ini itu untuk makan kami, jika ingin makan mi kami memasak sendiri atau minum kopi kami membuatnya sendiri. Kami membiarkan emak istirahat. Tapi emak kerap kali menolak, ia ingin tetap melayani kami. 
Ternyata di curug nangka banyak juga yang camping mendirikan tenda. Suasana malam, suara serangga dan melihat tenda-tenda berdiri dengan lampu temaram di dalamnya lagi-lagi mengingatkanku pada perjalanan luar biasa ke surganya gunung semeru, aku rindu.
Angin malam semakin kencang berhembus, mata kantuk setengah mati tapi tidak bisa tidur dengan nyaman. Aku beberapa kali pindah, aku bingung ingin tidur dimana. Di atas aku tidak betah, di kamar belakang aku tidak betah juga. Akhirnya aku tidur di bale tengah dengan emak, tante dan sepupuku. Laki-laki di bale depan. Tidurpun aku tidak nyenyak, terdengar suara air yang berasal dari gunung itu, suara-suara binatang malam lainnya. Oh iya saat kami disana ada satu orang agak stres kata emak, itu juga bikin kami semua takut dengan orang itu, karena orang itu juga tidur di warung emak. Aku tidur dengan menggunakan headset mendengarkan lagu sekencang mungkin agar bisa tidur dan berharap waktu segera cepat berputar agar cepat datang pagi.
Pagi pun tiba, kami sudah bangun semua. Udara sejuk menyambut pagi kami, nyanyian merdu dari burung-burung yang berkicau serta suara air yang begitu membuat suasana menjadi sangat alami.
Kami hanya makan gorengan sebagai sarapan pagi setelah itu kami memutuskan untuk naik ke atas lagi untuk mandi di bawah air terjun lagi.
Setelah menikmati dinginnya air terjun dan banyak sekali monyet di sana dan perutpun sudah mulai lapar meminta diisi nasi akhirnya kami memutuskan untuk turun. Setelah mandi kami pun sarapan atau lebih tepatnya menggabungkan makan pagi dengan makan siang, karena saat itu hari sudah siang.
Kami memutuskan pulang pukul 16.00 . Sambil menunggu sore kami habiskan di warung emak sambil membersekan barang-barang kami dan tak lupa menghitung apa saja yang kami beli di warung emak. Saat kami bersiap pulang wajah emak tampak begitu sedih, mungkin emak merasa kesepian lagi. Sedih melihat orang tua yang sudah renta seperti itu hidup sendiri mengurus warungnya, emak pernah cerita bahwa ia pernah ditipu oleh pelanggannya sampai 700ribu. Miris sekali mendengarnya.
Kami pun pulang pukul 16.00 ditemani rintik hujan. Semoga emak panjang umur dan selalu. Aamiin

Sebuah perjalanan jauh dari kata mewah mengajarkan begitu banyak arti hidup bagiku
- Belajar bersyukur apapun keadaan kita
- Semangat hidup tidak boleh pudar. Emak yang tua renta saja masih begitu semangat untuk hidup
- Jangan selalu melihat ke atas, lihatlah ke bawah dan mulailah untuk berbagi kepada sesama


-@eishafitri-

Senin, 05 Mei 2014

Faktabahasa Jakarta Selatan Cultural Festival (FJCF)

Jadi sudah hampir setahun saya bergabung di dalam satu komunitas bahasa yaitu Faktabahasa . Komunitas ini khusus untuk muda mudi yang mencintai bahasa dan budaya dari dalam maupun luar negeri. Nah, komunitas ini sudah cukup berkembang di Indonesia, sudah terdapat beberapa region. Saya sendiri bagian dari Faktabahasa region Jakarta Selatan (Jaksel). Setiap hari Minggu kita tuh belajar bahasa, saya ambil klub bahasa Spanyol. Di Faba Jaksel sendiri ada 7 bahasa yang dipelajari (Prancis, Jerman, Russia, Spanyol, Arab, Mandarin, English Conv.) .

Nah saya gak akan cerita tentang clubbing (kegiatan belajar bahasa tiap minggunya) tapi saya akan cerita tentang event cultural festival jaksel. Jadi event ini pertama kali diadakan di @Faba_Jaksel . Acara ini bertujuan untuk meningkatkan rasa persaudaraan sesama anggota dan menambah ilmu juga pastinya.
Acara dimulai pukul 13.00 bertempat di Sawita daerah Pejaten. Ruangan yang biasa jadi luar biasa karena didekor dengan ciamik oleh panitia. Saat itu dibuka oleh MC yaitu Narita (Tutor English Conv.) dan Fahri atau Pay (Lupa dia darimana asalnya) lalu sambutan singkat dari ketua acara Amita (Tutor bahasa Jerman), Tisa (Ibu ketua Faba Jaksel) dan Erlangga (Presiden atau pendiri Faktabahasa Nasional) . Setelah itu Fadli akustikan bawain lagu bahasa Jerman. Judulnya Du intinya tentang KAMU :') . Setelah itu ada Hilda baca puisi pake bahasa Russia. Keren kan??
Nah trus semua yang hadir dikasih makanan satu orang satu piring dan di piring itu ada 7 makanan dari 7 negara! Wooow!! Awalnya disuruh tebak-tebakan nama makanannya apa dan asalnya darimana. Jadi disitu ada Curros (makanan khas Spanyol), roti baguette (dari Prancis), tempura (Jepang), mantau (sejenis bakpau dari Tiongkok), Pancake, Sosis dan French Fries. Disini Ka Amjad (tutor Spanyol) jelasin semua makanan ini dan asal usulnya dari negara mana. Mantap!
Setelah itu ada penampilan dari Friska (klub Spanyol) dan Fadli (klub Jerman) bawain lagu berbahasa Spanyol judulnya No Me Ames. Jangan cintai aku lagi :p . Suaranya Friska bagus~
Nah terus dilanjut games eat bulaga. Per-klub bahasa wajib maju sampe ketua faba Jaksel dan Pak Pres pun ikutan main. Seru abis acara mulai pecah. Kata-kata yang ditebak-pun gak jauh dari bahasa dan budaya.
Sepertinya kalau saya tidak salah yang menang adalah Bremi.
Setelah game selesai giliran Amita yang nyanyi bawain lagu Try - P!NK . Ini juga suaranya enak bangeeet!!
Abis itu ada games lagi jadi dikasih satu benda dan kita harus berimajinasi sama benda itu. Gilaaaa! Saya udah kayak stand-up comedy yang lain duduk dan saya berdiri di depan sambil berimajinasi. Benda pertama yang dikasih adalah sedotan aqua dan benda kedua adalah sponge cuci piring. Ya lumayan deh respon yang lain ketawa ngakak.haha. Menurut saya yang paling gila imajinasinya Ka Andi (Tutor Mandarin) gila bangeeet dia bikin suasana tambah pecah. Setelah itu acara ramah tamah alias makan-makan. Ada pasta, ada nachos, ada martabak, ada kwetiau, ada capcay, pokoknya ada banyak. Dan acara terakhir adalah sesi foto di photobooth dan menulis wish di pohon harapan. Keseruan berakhir pukul 17.30.
Wow sebuah keseruan yang luar biasa terjadi di weekend ini :') Semoga tetap selalu bersama yaa, makin kompak @Faba_Jaksel #FabaJakselCulFest #FabaJakselFAMILY #WeProudToBeSouth #KhanMaen

Note : foto-fotonya belum ada nanti menyusul~